SESAWI Article Histori: JURNAL TEOLOGI DAN PENDIDIKAN KRISTEN VOLUME 6. NO 2 JUNI 2025 Availble at: http://sttsabdaagung. Submited Reviewed Acepted Published : 11/05/2025 : 27/00/2025 : 17/06/2025 : 27/06/2025 TANGGAPAN ETIKA KRISTEN TERHADAP PELANGGARAN MORAL DALAM 1 KORINTUS: IMPLIKASI BAGI KEHIDUPAN GEREJA MODERN Robin Stefanus Zalukhu1 Riste Tioma Silaen2 Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta zalukhurobin@gmail. Abstract This research examines the application of Christian ethics in addressing moral failures within the church, focusing on the Corinthian case during Paul's ministry and its contemporary relevance. Problems including infidelity and immoral conduct by church leaders remain prevalent today. Through qualitative literature analysis of biblical texts, theological sources, and academic journals, this study explores Paul's approach to moral failure and Christian ethics' contribution to modern church contexts. The findings reveal Paul's implementation of key ethical principles: love as the foundation for action, restorative forgiveness, edifying spiritual discipline, moral renewal. Christ's example, and Holy Spirit dependence. These principles provide guidelines for churches to handle similar cases with wisdom, balancing firmness against sin with compassion toward offenders. The church is encouraged to establish pastoral systems emphasizing restoration over punishment while creating supportive communities that facilitate repentance and renewal. Christian ethics can thus shape churches that are holy, loving, and relevant when confronting contemporary moral challenges. Keywords: Discipline. Ethics. Corinthians. Moral. Recovery Abstrak Penelitian ini mengkaji penerapan etika Kristen dalam menangani kegagalan moral jemaat, dengan menyoroti kasus jemaat Korintus pada masa Rasul Paulus dan relevansinya bagi gereja masa kini. Masalah seperti perselingkuhan, perilaku seksual menyimpang, dan tindakan amoral pemimpin gereja masih kerap terjadi. Melalui pendekatan kualitatif berbasis studi literatur, penelitian ini menganalisis teks Alkitab, literatur teologis, dan jurnal terkait untuk memahami pendekatan Paulus terhadap kegagalan moral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Paulus menerapkan prinsip-prinsip etika seperti kasih sebagai dasar tindakan, pengampunan yang memulihkan, disiplin rohani yang mendidik, pembaruan moral, teladan Kristus, dan ketergantungan pada Roh Kudus. Prinsip-prinsip ini menjadi pedoman bagi gereja dalam menangani kasus serupa secara bijaksana dan seimbang, menggabungkan ketegasan terhadap dosa dengan belas kasih terhadap pelaku. Gereja didorong membangun sistem pastoral yang menekankan pemulihan, bukan hanya hukuman, serta menciptakan komunitas yang mendukung pertobatan. Dengan demikian, etika Kristen dapat membentuk gereja yang kudus, penuh kasih, dan relevan dalam menghadapi tantangan moral kontemporer. Kata Kunci: Disiplin. Etika. Korintus. Moral. Pemulihan. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. PENDAHULUAN Kegagalan Moral merupakan permasalahan yang terus-menerus dihadapi oleh gereja sepanjang sejarahnya. Baik pada masa gereja mula-mula maupun dalam kehidupan gereja masa kini, pelanggaran terhadap etika dan integritas pribadi kerap menjadi tantangan serius yang dapat menghambat pertumbuhan rohani jemaat. Salah satu gambaran nyata dalam Alkitab dapat ditemukan pada jemaat di Korintus, yang bergumul dengan berbagai persoalan moral seperti perpecahan internal, perilaku seksual yang menyimpang, serta tindakan tidak etis dalam kehidupan sosial maupun ibadah. Jemaat korintus dikenal dengan kejahatan jalanan, praktik keagamaan sinkretistik, dan terutama imoralitas seksual. Bahkan, dalam budaya saat itu, ungkapan Aubertindak seperti orang KorintusAy sudah menjadi istilah umum yang berarti berperilaku tidak bermoral. Ini menunjukkan betapa kuatnya citra negatif Jemaat Korintus terkait dengan dekadensi moral. 1 Situasi tersebut mendorong Rasul Paulus untuk memberikan teguran serta bimbingan etis yang tegas, sebagai wujud tanggung jawab pastoral dan komitmen teologisnya terhadap pertumbuhan dan pemulihan Meskipun jemaat Korintus berada dalam latar budaya yang berbeda beda namun memiliki kemiripan dengan tantangan Gereja masa kini. Kita dapat menemukan kemiripan antara kondisi jemaat Korintus dan situasi gereja masa kini. Beberapa tantangan serius yang dihadapi gereja masa kini adalah kerusakan moral yang memengaruhi berbagai lapisan jemaat, khususnya generasi muda yang rentan terhadap pengaruh seks di luar nikah. 2 Selain itu, masih sering dijumpai kasus perselingkuhan antar sesama anggota jemaat yang merusak relasi komunitas dan mencederai kesaksian gereja. 3 Tantangan yang tidak kalah memprihatinkan adalah tindakan amoral yang dilakukan oleh sebagian pemimpin rohani, seperti pendeta, yang terlibat dalam percabulan terhadap anggota jemaat, yang mencerminkan penyalahgunaan kuasa spiritual dan mengakibatkan krisis kepercayaan terhadap institusi gereja. 4 Meski demikian, gereja harus tetap teguh menyatakan bahwa pelanggaran terhadap ketetapan Allah mengenai perilaku seksual sejatinya merupakan pelanggaran terhadap martabat kemanusiaan dari setiap pribadi yang terlibat di dalamnya. Oleh kerena itu Gereja tidak boleh terjebak dalam arus toleransi yang menyesatkan yang mengaburkan batas antara kasih dan kebenaran, apabila gereja membiarkan dosa tanpa teguran maka gereja turut menimbulkan hubungan yang renggang antara Allah dan 6 Dalam hal ini Hutahaean menandaskan bahwa Gereja adalah Pelayan Tuhan di tengah masyarakat, dimana insan gereja harus menjadi pelaku FirmanNya. P V c. Kesatuan Dalam Kepelbagaian (BPK Gunung Mulia, n. ), 2. Alfons Renaldo Tampenawas. AuShamayim : Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani Tinjauan Etis Kristen Terhadap Seksualitas Di Kalangan Pemuda-Pemudi GerejaAy 1, no. : 1Ae13. Febrian Mulyadi Angsemin. AuIntervensi Gereja Katolik Dalam Menyelesaikan Kasus Perselingkuhan : Studi Kontekstual Di ManggaraiAy . : 120Ae126. Afreiza Octaguna A et al. Au23-Moderasi-0101-464 . Ay . : 1Ae17. R Stedman. Petualangan Menjelajahi Perjanjian Baru - Ray Stedman. Petualangan Menjelajahi (PT DUTA HARAPAN DUNIA, 2. , 130. Baca. Hasahatan Hutahaean. Pelayan Tuhan Di Gereja Dan Masyarakat (Luwuk: Pustaka StarAs Lub, 2. , accessed August 11, 2021, https://drive. com/file/d/1sNM4wcas_qSPACG2X7aMe8kN0UmjBWas/view?usp=sharing. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Salah satu elemen kunci dalam Etika Kristen terkait kegagalan moral adalah pendekatan yang menitikberatkan pada pemulihan, bukan semata-mata penghukuman. Etika ini tidak membenarkan perbuatan dosa, tetapi tetap menjunjung tinggi kasih karunia. Dalam 2 Korintus 2:6Ae8. Paulus mendorong jemaat untuk mengampuni dan menguatkan seorang anggota yang telah menjalani disiplin gereja, agar ia tidak terpuruk dalam kesedihan yang mendalam. Hal ini menegaskan bahwa sasaran utama dari etika Kristen adalah pemulihan hubungan antara individu yang bersalah, komunitas gereja, dan Allah. Dengan pendekatan demikian, etika Kristen menawarkan keseimbangan dalam merespons kegagalan moral, menegakkan kebenaran dan keadilan, namun tetap berlandaskan kasih serta harapan, dengan kasih itulah gereja membangun interaksi dan relasi di antara sesama Lebih dari itu, kasih Kristus seharusnya menjadi dasar yang menjadikan gereja sebagai komunitas yang idealnya hidup tanpa konflik atau pertentangan. 7 Hal ini sangat berbeda dengan pendekatan duniawi yang sering kali bersifat ekstrem baik terlalu permisif terhadap kesalahan maupun terlalu keras dalam menjatuhkan hukuman tanpa belas kasihan. Tantangan yang dihadapi oleh jemaat korintus sangat nyata, karena mereka tidak hanya harus meninggalkan dosa pribadi, tetapi juga menolak norma-norma sosial yang selama ini dianggap biasa. Gereja di Korintus adalah cerminan pergumulan manusia yang nyata antara iman yang baru dan gaya hidup lama yang belum sepenuhnya ditinggalkan. Melalui surat-suratnya. Paulus mengajak jemaat Korintus untuk bertobat dan bertumbuh dalam kasih, kebenaran, dan kesatuan sebagai satu tubuh Kristus. Meskipun latar belakang kota ini begitu kelam, kasih karunia Allah tetap dinyatakan di tengah-tengahnya. Korintus, dengan segala kerumitan sosial dan moralnya, menjadi bukti bahwa Injil Kristus mampu masuk dan mengubah hati manusia bahkan di tempat yang paling tidak mungkin sekalipun. Surat Paulus kepada jemaat Korintus mencerminkan kesedihan dan keprihatinannya akan hal ini. Ia menegur jemaat karena beberapa dari mereka masih hidup dalam dosa yang terang-terangan, termasuk percabulan dan kesombongan rohani, seakan tidak ada perubahan nyata dalam hidup mereka. Selain itu juga jemaat Korintus tidak lepas dari pengaruh lingkungan sekitar, khususnya keberadaan kuil dewi Aphrodite. Kuil ini dikenal memiliki sekitar seribu wanita yang menjalankan praktik pelayan kuil melalui aktivitas seksual, yang dianggap bagian dari ritual keagamaan saat itu. Hal ini turut membentuk citra Korintus sebagai kota yang lekat dengan gaya hidup seksual yang menyimpang dan tidak Paulus menulis surat nya melalui kitab Korintus dengan maksud untuk membentuk ulang pemahaman jemaat tentang identitas mereka sebagai orang percaya. Ia mengingatkan bahwa panggilan mereka adalah untuk hidup kudus, berbeda dari dunia di sekitar mereka. Paulus menggunakan perumpamaan bahwa orang percaya adalah bagian dari tubuh Kristus untuk menekankan pentingnya hidup dalam kekudusan. Melalui gambaran ini, ia ingin menunjukkan bahwa jemaat merupakan anggota dari tubuh Kristus itu sendiri. Karena itu, seseorang yang telah menjadi milik Kristus tidak seharusnya memisahkan diri dari persekutuan dengan memilih untuk hidup dalam kenajisan, seperti menyerahkan diri Adi Putra. AuStrategi Manajemen Konflik Yang Diterapkan Paulus Di Jemaat Korintus Berdasarkan Teks 1 Korintus 3:1-17,Ay Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi 5, no. : 247Ae263. Alfons Tampenawas. AuProblematika Moralitas Seksual Postmodern Menurut Perspektif 1 Korintus 6:12-20,Ay PASCA : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 16, no. : 103Ae120. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. kepada percabulan . Korintus 6:. 9 Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menggali Bagaimana kontribusi etika Kristen terhadap penanganan kegagalan moral dalam jemaat Korintus dan apa implikasinya bagi gereja masa kini dalam menghadapi kasus yang serupa di tengah tantangan zaman saat ini. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Harif Patasik dalam penelitian yang berjudul AuKajian Teologis Etika dan Prinsip Pelayanan Paulus Berdasarkan 1 Korintus 9:16 dan Implementasinya bagi Pelayanan Gerejawi di Era ModernAy yang menekankan pada prinsip etika pelayanan paulus dapat diimplementasikan dalam pelayanan gereja masa kini. 10 Penelitian ini menawarkan pendekatan alternatif yang belum banyak dijelaskan dalam penelitian sebelumnya dengan memberikan kontribusi penerapan etika kristen secara konkret dalam menghadapi isu kegagalan moral Jemaat Korintus serta mengeksplorasi relevansi etika tersebut untuk pembinaan disiplin dan rekonsiliasi dalam konteks gereja masa kini. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur . ibrary researc. melalui analisis teks Alkitab, literatur teologis, jurnal teologi dan sumber relevan lainnya. Pendekatan kualitatif dipilih karena sesuai dengan karakteristik penelitian teologis yang bersifat interpretatif dan bertujuan untuk memahami makna mendalam dari teks-teks alkitabiah serta aplikasinya dalam konteks kehidupan gereja. Metode studi literatur memungkinkan peneliti untuk melakukan eksplorasi komprehensif terhadap berbagai perspektif teologis mengenai etika Kristen dan penanganan kegagalan moral dalam komunitas iman. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah Alkitab, khususnya teks-teks dalam Surat Paulus kepada jemaat Korintus . dan 2 Korintu. yang memuat ajaran etika Kristen dan penanganan masalah moral dalam gereja mula-mula. Sedangkan sumber data sekunder meliputi literatur klasik dan kontemporer, jurnal-jurnal teologi yang telah melalui peer-review, buku-buku teologi sistematis, hermeneutik, etika Kristen, serta karya-karya patristik yang relevan dengan topik penelitian. Sumber sekunder juga mencakup kommentari Alkitab dari berbagai tradisi denominasi untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif dan seimbang mengenai interpretasi teks-teks kunci. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis isi . ontent analysi. dan analisis hermeneutik untuk menginterpretasikan teks-teks alkitabiah dalam konteks historis, literatur, dan teologisnya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami kontribusi etika Kristen dalam penanganan kegagalan moral dalam jemaat Korintus serta implikasinya bagi gereja masa kini. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan panduan bagi gereja-gereja modern dalam menangani kegagalan moral berdasarkan prinsip etika Kristen yang alkitabiah dan relevan. Dengan metodologi ini, penelitian akan memberikan kontribusi teologis dan praktis dalam memahami peran etika Kristen dalam membentuk respons gereja terhadap isu-isu moral kontemporer. N Anggraito. Sabda Tersingkap: Jemaat Tuhan Dan Panggilannya (CV. Lumina Media, 2. , 58. Harif Patasik. AuParamathetes : Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani Kajian Teologis Etika Dan Prinsip Pelayanan Paulus Berdasarkan 1 Korintus 9 : 16 Dan Implementasinya Bagi Pelayanan Gerejawi Di Era ModernAy 2, no. : 16Ae20. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. HASIL DAN PEMBAHASAN Setelah mengidentifikasi berbagai manifestasi kegagalan moral yang terjadi dalam jemaat Korintus, penting untuk memahami bagaimana Rasul Paulus merespons situasi tersebut melalui pendekatan pastoral yang komprehensif. Analisis terhadap surat-surat Paulus kepada jemaat Korintus menunjukkan bahwa respons apostolik tidak hanya bersifat korektif, tetapi juga konstruktif dalam membangun kembali fondasi moral dan spiritual Dalam konteks ini, beberapa indikator kunci dapat diidentifikasi untuk memahami Strategi paulus dalam mengatasi krisis moral yang melanda komunitas Kristen awal di korintus. Prinsip prinsip etika Kristen dalam menangani kegagalan moral dan Bagaimana implikasi etika Kristen bagi Gereja masa kini dalam menghadapi kegagalan moral Kegagalan Moral Dalam Jemaat Korintus Dan Repons Paulus Kegagalan dalam Bidang Seksualitas Kasus Inses merupakan permasalahan moral yang paling mencolok dalam jemaat Korintus. Terjadi hubungan tidak wajar antara seorang anggota jemaat dengan istri ayahnya, suatu tindakan yang bahkan dianggap tidak pantas dalam masyarakat non-Kristen Kasus ini menunjukkan degradasi moral yang ekstrem di tengah komunitas yang seharusnya hidup dalam kekudusan. Paulus menyinggung kasus ini untuk menekankan bahwa perbuatan tersebut bahkan tidak ditemukan "di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah" . Korintus 5:. Praktik Pelacuran juga menjadi permasalahan serius ketika sebagian jemaat masih mengunjungi pelacur. Hal ini mencerminkan kuatnya pengaruh nilai-nilai duniawi Korintus yang hedonistik terhadap komunitas Kristen. Praktik ini secara fundamental bertentangan dengan konsep kesatuan dalam Kristus dan menunjukkan bahwa beberapa anggota jemaat belum sepenuhnya melepaskan diri dari pola hidup lama mereka sebelum mengenal Kristus. Di tengah budaya dan kehidupan beragama masyarakat Korintus, praktik pelacuran bukanlah hal yang asing atau dianggap tabu. Bahkan, dalam konteks keagamaan, pelacuran memiliki tempat tersendiri karena dianggap sebagai bagian dari penghormatan kepada dewi Afrodite. Kepercayaan ini begitu kuat, sehingga diyakini bahwa di kuil Afrodite terdapat sekitar seribu pelacur bakti yang melayani sebagai bentuk ibadah kepada sang dewi. Selain unsur religius, pelacuran juga memiliki nilai ekonomi yang penting bagi kota Korintus. Kota ini dikenal sebagai pusat perdagangan dan budaya, yang menarik banyak pendatang baik pedagang maupun penonton festival olahraga Isthmus. Para pengunjung ini membutuhkan penginapan dan hiburan selama berada di Korintus, termasuk layanan dari para pelacur. Dalam konteks seperti ini, pelacuran menjadi sesuatu yang lumrah dan bahkan diterima secara sosial. Maka tak heran, masyarakat Korintus tidak menganggapnya sebagai perbuatan yang salah secara moral atau dosa yang serius. Marudut Sitohang. AuMakna Teologis Dari Satan Dalam Konteks ASeorang Yang Tidur Dengan Istri AyahnyaA Dalam 1 Konrintus 5:1-13,Ay Jurnal Teologi Anugerah Vi, no. : 1Ae13. Sri Binar and Michael Lianto. AuMakna Kata eae (Bahasa Lida. Menurut 1 Korintus 14:2,Ay Kaluteros Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen 6, no. : 75Ae86. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Perilaku Seksual Menyimpang Lainnya turut mewarnai kehidupan jemaat Korintus. Dalam tulisannya. Paulus menyejajarkan para pelaku tindakan cabul dengan penyembah berhala, pezina, banci, dan pelaku hubungan sesama jenis . Korintus 6:. Kategorisasi ini menunjukkan spektrum kegagalan moral yang luas dalam bidang seksualitas, di mana berbagai bentuk penyimpangan terjadi secara bersamaan dalam satu komunitas jemaat. Pada masa pelayanan Rasul Paulus, kota Korintus dikenal sebagai tempat yang dipenuhi berbagai bentuk penyimpangan seksual. Kota ini bukan hanya memaklumi, tetapi bahkan melegalkan praktik-praktik seperti prostitusi laki-laki dan hubungan sesama jenis yang umum dilakukan dalam budaya Greco-Roman. Bagi Paulus, gaya hidup seperti ini mencerminkan keadaan moral yang rusak. Ia menyebut para pelaku tindakan tersebut dengan istilah Yunani adikoi, yang berarti orang-orang yang tidak benar atau fasik mereka yang hidup tanpa rasa hormat terhadap kebenaran dan kekudusan Allah. Kegagalan dalam Kehidupan Sosial Sengketa Hukum antar anggota jemaat menjadi masalah yang memalukan bagi komunitas Kristen di Korintus. Para anggota jemaat menggugat sesama orang percaya di pengadilan sipil, menunjukkan ketidakmampuan mereka menyelesaikan konflik internal secara bijaksana dan Kristiani. Rasul Paulus menegur keras jemaat di Korintus karena kebiasaan mereka saling membawa masalah ke ranah hukum. Bagi Paulus, tindakan ini bukan hanya mencerminkan ketidakdewasaan rohani, tetapi juga merupakan tanda kekalahan jemaat itu sendiri. Alih-alih menyelesaikan konflik secara kasih dan bijaksana di antara sesama orang percaya, mereka justru mempermalukan kesaksian iman mereka di hadapan orang luar. Tindakan ini tidak hanya merusak hubungan persaudaraan dalam jemaat, tetapi juga merusak kesaksian mereka di hadapan masyarakat luas yang nonKristen. 14 Partisipasi dalam Penyembahan Berhala mencerminkan kebingungan teologis yang mendalam. Beberapa anggota jemaat turut serta dalam perjamuan yang berkaitan dengan penyembahan berhala, seringkali dengan dalih penyalahgunaan kebebasan Kristen, terutama dalam konteks konsumsi daging yang telah dipersembahkan kepada berhala. Mereka merasa memiliki hak untuk melakukannya tanpa mempertimbangkan dampak negatifnya terhadap saudara seiman yang masih lemah dalam iman, sehingga mengabaikan prinsip kasih yang seharusnya menjadi landasan kehidupan komunitas. Pada era Paulus, kota Korintus merupakan pusat perdagangan dan kebudayaan yang penting di wilayah Romawi, dikenal karena kemakmurannya serta gaya hidup masyarakatnya yang cenderung hedonistik dan pluralistik secara agama. Sebagai kota pelabuhan strategis. Korintus menjadi tempat pertemuan berbagai kelompok etnis dan kelas sosial, mulai dari para pedagang kaya hingga kaum budak. Keberadaan Kuil Aphrodite, yang dipersembahkan bagi dewi cinta dan kesuburan, mencerminkan norma seksual yang longgar di masyarakat Korintus. Selain itu, keberagaman bentuk pemujaan terhadap dewadewi Yunani-Romawi serta kehadiran komunitas Yahudi menambah kompleksitas religius di kota tersebut. Itulah alasan mengapa kota ini dinamakan Korintus, yang berasal dari Ibid. Alan Grace Jefri Andri Saputra. Harri Prie. AuKritik HistorisAy 13, no. : 1Ae9. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. istilah korinthiazesthai. Kata ini kemudian masuk ke dalam kosakata bahasa Yunani dengan makna menjalani hidup seperti orang Korintus, yaitu hidup dalam pesta pora, mabukmabukan, dan perilaku amoral yang tidak terkendali. Istilah korinthiazesthai menggambarkan gaya hidup yang dipenuhi dengan kemabukan dan tindakan tidak senonoh atau penuh percabulan. Kesalahpahaman terhadap makna kebebasan dalam Kristus juga turut menjadi faktor penyebab merosotnya moralitas jemaat di Korintus. Banyak anggota jemaat menafsirkan secara keliru ajaran mengenai keselamatan oleh anugerah dan kebebasan dari hukum Taurat, seolah-olah itu merupakan izin untuk menjalani hidup semaunya. Ungkapan "segala sesuatu diperbolehkan bagiku" yang disanggah oleh Paulus mencerminkan penyimpangan pemahaman tersebut, di mana kebebasan Kristen dijadikan dalih untuk perilaku yang tidak etis, seperti mengunjungi pelacur, menggugat sesama orang percaya di pengadilan, serta turut dalam perjamuan yang berkaitan dengan penyembahan berhala. 16 Di samping itu, lemahnya kepemimpinan rohani yang berkelanjutan juga memperburuk keadaan di tengah jemaat Korintus. Setelah kepergian Paulus, jemaat terpengaruh oleh berbagai pengajar yang membawa pengajaran yang berbeda-beda, sehingga muncul kelompok-kelompok yang saling bersaing dan menyatakan loyalitas kepada tokoh-tokoh tertentu seperti Paulus. Apolos, atau Kefas dan Kristus. 17 Perpecahan ini meruntuhkan otoritas moral di dalam jemaat dan menimbulkan kebingungan terkait prinsip etika Kristen yang seharusnya dijunjung, sehingga membuka celah bagi berkembangnya perilaku immoral di tengah komunitas percaya tersebut. Respons Paulus Terhadap Kegagalan Bidang Seksualitas dan Sosial Melihat permasalahan yang ada di Korintus, jemaat masa kini dapat mempelajari lankah Paulus dalam menghadapi fenomena loss ethics dan social control yang mendalam. Dengan memberikan perhatian danupaya yang maksimal. Paulus secara perlahan memperbaiki kebobrokan seksualitas dan ketidakberesan bidang sosial. Realitanya, di jemaat Korintus tidak terdapat empat kelompok, melainkan hanya dua golongan utama. Golongan pertama adalah kaum Gnostik yang mengklaim memiliki hubungan langsung dengan Kristus, sementara golongan kedua terdiri dari orang-orang Kristen yang masih sangat terikat pada pengajaran guru-guru rohani mereka. Kaum Gnostik ini cenderung meremehkan mereka yang beriman melalui perantara para pemimpin rohani, bahkan berusaha mendominasi mereka. Situasi inilah yang mendorong Paulus untuk menanggapi kesombongan yang mulai berkembang di tengah jemaat dengan menampilkan dirinya sebagai sosok yang lemah, rendah hati, lapar, dan haus. Dengan pendekatan ini. Paulus berharap dapat mengembalikan perhatian jemaat Korintus kepada inti Injil yang sejati. Jonar T. Situmorang. TAFSIR SURAT-SURAT PAULUS: Hidup Dalam Kristus Dan Menjadi Saksi-Nya (Penerbit Andi, 2. Pancha W Yahya. AuTUBUH ADALAH BAGI TUHAN : SEBUAH TINJAUANAy 2, no. Oktober . : 233Ae251. Darmianus Harefa and Lekris Anugrah Hizkia Laurika. AuPola Kepemimpinan Paulus Di Korintus Sebagai Refleksi Gereja Masa Kini,Ay JMPK: Jurnal Manajemen Pendidikan Kristen 2, no. : 114Ae132. Willi Marxsen. Pengantar Perjanjian Baru Pendekatan Kritis Terhadap Masalah Masalahnya, ed. Willi Marxsen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 79. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Beberapa langkah yang dapat dirangkum memperjelas bagi pembaca Alkitab dan Gereja masa kini untuk menghadapi situasi yang sama. Tegas dan Pastoral Dalam surat 1 Korintus. Paulus menyampaikan respons terhadap berbagai persoalan moral yang mengemuka di tengah jemaat. Salah satu kasus yang paling mencolok adalah hubungan inses antara seorang anggota jemaat dengan istri ayahnya, sebuah tindakan yang bahkan dianggap tidak pantas dalam masyarakat non-Kristen sekalipun. Paulus hanya menyinggung satu kasus inses ini, kemungkinan untuk menekankan bahwa perbuatan tersebut bahkan tidak ditemukan Audi antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal AllahAy . Korintus 5:. Dalam tulisannya, pelaku tindakan cabul disejajarkan dengan para penyembah berhala, pezina, banci, dan pelaku hubungan sesama jenis . Korintus 6:. Praktik pelacuran yang dilakukan oleh sebagian jemaat menunjukkan sejauh mana nilainilai duniawi Korintus telah memengaruhi komunitas Kristen. Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan duniawi yang berlawanan dengan semangat kesatuan dalam Kristus. samping itu, muncul pula isu mengenai penyalahgunaan kebebasan Kristen, terutama dalam konteks konsumsi daging yang telah dipersembahkan kepada berhala. Beberapa anggota jemaat merasa memiliki hak untuk melakukannya tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap saudara seiman yang masih lemah dalam iman. Integrasi Seimbang: Kedisiplinan. Kekudusan dan Kasih Paulus menanggapi berbagai permasalahan ini dengan pendekatan yang tegas namun tetap pastoral. Ia mengecam keras sikap permisif jemaat terhadap dosa yang serius seperti perzinahan, dan memerintahkan agar pelakunya dikeluarkan dari persekutuan jemaat agar ia menyadari kesalahannya dan bertobat. Selain itu. Paulus menekankan pentingnya hidup dalam kekudusan, mengingatkan bahwa para jemaat telah dikuduskan dalam Kristus dan tidak seharusnya kembali kepada pola hidup lama mereka. Dalam hal kebebasan Kristen. Paulus mengimbau agar prinsip kasih menjadi landasan utama. Ia mengajarkan bahwa sekalipun secara teologis seseorang bebas melakukan sesuatu, pertimbangan terhadap keberlangsungan iman orang lain harus menjadi prioritas. Dengan demikian, surat 1 Korintus tidak hanya menggambarkan tantangan moral yang dihadapi gereja mula-mula, tetapi juga memperlihatkan model penanganan masalah jemaat yang mengintegrasikan kedisiplinan, kekudusan, dan kasih secara seimbang. Prinsip Prinsip Etika Krsiten Dalam Menangani Kegagalan Moral Etika kristen memandang kegagalan moral sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kondisi manusia yang telah jatuh dalam dosa, namun menawarkan jalan pemulihan melalui kasih karunia dan pengampunan. Dalam tradisi Kristen. Kemerosotan moral ini bukan sekadar hilangnya nilai-nilai ilahi, tetapi juga mencerminkan terputusnya relasi antara manusia dan Tuhan, yang berdampak pada aspek spiritual, cara berpikir, serta fungsi kehidupan manusia secara menyeluruh. 20 Kondisi ini menunjukkan bahwa kegagalan moral menyentuh inti eksistensi manusia, bukan hanya permukaan tindakan. Meski demikian. Albertus Purnomo. Taurat Tuhan Sempurna: Kumpulan Esai Tentang Taurat (PT Kanisius, n. ), 466. Mosaic Law. AuINTEGRASI HUKUM TAURAT DALAM KERANGKA TOTAL DEPRAVITY : PERSPEKTIF TEOLOGI KOVENAN TERHADAP PEMAHAMAN DOSA DAN ANUGERAHAy 1, no. : 1Ae18. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. etika Kristen tidak berhenti pada pengenalan akan dosa, melainkan juga mengarahkan pada harapan pemulihan. Melalui kasih karunia dan pengampunan yang ditawarkan Allah melalui karya penebusan Kristus, manusia memperoleh kesempatan untuk dipulihkan secara utuh baik dalam relasi spiritual maupun dalam integritas moralnya sebagai makhluk ciptaan Allah. Karena itu peneliti akan memaparkan empat indikasi tindakan Paulus sehingga dapat menjadi pelajaran dan contoh bagi gereja masa kini. Berakar Pada Ajaran Kristus Dalam menghadapi kasus kegagalan moral dalam jemaat. Paulus menerapkan prinsip-prinsip etika Kristen yang berakar kuat pada ajaran Kristus. Ia tidak sekadar mengutuk perilaku menyimpang, melainkan membimbing jemaat untuk memahami pentingnya hidup dalam kekudusan dan kesetiaan kepada Allah. Pendekatan Paulus bersifat pastoral dan penuh kasih, jauh dari kesan legalistik, dengan menekankan pemulihan alihalih penghukuman. Hal ini menunjukkan bahwa dalam etika Kristen, aspek relasional dan pemulihan lebih diutamakan daripada penghakiman semata. Salah satu prinsip sentral dalam etika yang diajarkan Paulus adalah kasih. Bagi dia, kasih bukan hanya emosi, tetapi tindakan nyata yang membangun kehidupan jemaat. Dalam surat-suratnya, khususnya kepada jemaat Korintus. Paulus menegaskan bahwa segala bentuk teguran atau koreksi terhadap dosa harus lahir dari kasih yang tulus. Kasih seperti ini tidak menoleransi dosa, namun juga tidak mempermalukan pelakunya secara kejam. Ia menjadi kekuatan yang mendorong terjadinya pertobatan dan rekonsiliasi. Memberikan Pengampunan Bagi Jemaat Selaras dengan kasih, prinsip pengampunan juga menjadi elemen penting dalam pendekatan etis Paulus. Ia mengajarkan bahwa pengampunan bukanlah pilihan opsional, melainkan keharusan dalam kehidupan orang percaya. Bila seseorang menunjukkan pertobatan yang sungguh-sungguh, maka jemaat dipanggil untuk mengampuni dan menerima kembali orang tersebut dalam persekutuan. Paulus menekankan bahwa sekalipun masalah yang terjadi tidak perlu dibesar-besarkan, orang yang bersalah tetap perlu menerima pengampunan dan dipulihkan dalam persekutuan dengan jemaat. adalah menjaga kesatuan gereja dan menghindari konflik yang lebih luas. 22 Pengampunan ini bukan hanya tindakan horizontal antar sesama, tetapi juga manifestasi dari kasih karunia Allah yang mengalir melalui tubuh Kristus. Maka, pengampunan menjadi jembatan bagi pemulihan dan penyembuhan relasi yang rusak. Tuntunan Pada Kedisiplinan Rohani Selain kasih dan pengampunan. Paulus juga memberikan tempat penting bagi disiplin rohani. Ia tidak segan memberikan instruksi tegas, termasuk menjauhkan diri dari mereka yang dengan sengaja hidup dalam dosa tanpa penyesalan. Namun, tujuan dari disiplin ini bukan untuk menghukum, melainkan untuk membangkitkan kesadaran moral dan menuntun pada pertobatan agar menjalani kehidupan dalam relasi dengan Allah, menjalin persekutuan erat dengan Kristus 23, dan mengalami transformasi hidup melalui Patasik. AuParamathetes : Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani Kajian Teologis Etika Dan Prinsip Pelayanan Paulus Berdasarkan 1 Korintus 9 : 16 Dan Implementasinya Bagi Pelayanan Gerejawi Di Era Modern. Ay Vincent Kalvin Wenno. AuVincent Kalvin WennoAy 11, no. : 197Ae221. Band. Bostang Berton Hamonangan Silaban and Hasahatan Hutahaean. AuModel Pembinaan Remaja Di Era Pandemik Dengan Pendalaman Alkitab BGA,Ay Jurnal PKM Setiadharma 1, no. : 58. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. kuasa Allah. Disiplin yang dimaksud Paulus merupakan wujud kasih yang mendidik, bukan sikap menghakimi yang menghancurkan. Dengan begitu, tindakan koreksi ditempatkan dalam kerangka kasih yang bertujuan membangun kembali kehidupan rohani. 24 Kembali pada kehidupan rohani yang segar, kuat dan sigap dalam Kristus adalah situasi yang diharapkan oleh Allah. Pembaruan moral menjadi sasaran akhir dari setiap prinsip etika Kristen yang diajarkan Paulus. Ia mendorong setiap anggota jemaat untuk meninggalkan pola hidup lama dan mengenakan manusia baru yang sesuai dengan kehendak Allah. Transformasi ini tidak hanya mencakup perubahan perilaku eksternal, melainkan juga pembaruan batiniah yang mencakup hati dan pikiran. Dalam konteks komunitas iman, hal ini mengarah pada terbentuknya budaya hidup yang mencerminkan nilai-nilai kerajaan Allah, seperti kejujuran, kemurnian, tanggung jawab, dan saling membangun dalam kasih. Teladan Kristus menjadi dasar utama dari seluruh prinsip etis yang diuraikan Paulus. Kristus adalah contoh sempurna dari kasih yang rela berkorban, pengampunan tanpa batas, dan komitmen pada kebenaran. Dalam menangani pelanggaran moral. Paulus mengajak jemaat untuk mengikuti sikap Kristus, yang tidak membiarkan dosa tanpa koreksi, namun juga tidak menolak orang berdosa yang bertobat. Dengan meneladani Kristus, jemaat dapat bersikap adil tanpa kehilangan belas kasih, dan tegas tanpa kehilangan kelembutan. Mengajar Bersandar Pada Roh Kudus Paulus juga menekankan peran Roh Kudus dalam keseluruhan proses ini. Roh Kudus berperan membukakan kebenaran, menegur hati nurani, serta menumbuhkan buah pertobatan dalam kehidupan orang percaya. Tanpa kehadiran dan karya Roh Kudus, pembaruan moral hanya akan menjadi perubahan permukaan tanpa daya transformatif Karena itu, hidup yang dipimpin oleh Roh menjadi syarat mutlak untuk mewujudkan etika Kristen yang sejati dalam jemaat. Keseluruhan prinsip etika Kristen yang dikembangkan Paulus dalam menanggapi kegagalan moral yakni kasih, pengampunan, disiplin rohani, pembaruan moral, teladan Kristus, dan karya Roh Kudus membentuk sebuah pendekatan yang menyeluruh dan terpadu. Pendekatan ini tidak hanya diarahkan untuk memulihkan individu yang jatuh, tetapi juga untuk membangun komunitas yang kudus, sehat secara spiritual, dan mampu bertahan menghadapi tantangan moral dalam setiap zaman. Dengan demikian, etika Kristen yang Paulus ajarkan tetap relevan dan inspiratif bagi gereja masa kini dalam membentuk respons yang penuh kasih dan kebenaran terhadap berbagai bentuk kegagalan moral. Implementasi Nilai Nilai Etika Kristen Bagi Gereja Masa Kini Dalam Menghadapi Kegagalan Moral Pada bagian ini peneliti akan memberikan enam butir implementasi bagi Gereja masa kini dalam menghadapi kegagalan moral. Indikasi yang dimaksud yakni. Minggus Dilla. AuPentingnya Disiplin Rohani Berdasarkan Surat 1 Korintus 9:24-27,Ay Manna Rafflesia 1, no. : 72Ae91. Erlina Zai and Elisua Hulu. AuImplikasi Frasa ATurutilah TeladankuA Dalam 1 Korintus 4:16 Bagi Pembentukan,Ay Jurnal Missio Cristo 2, no. : 162Ae183. Tirza Manaroinsong et al. AuAnalisis Peran Roh Kudus Dalam Eksistensi. Pelayanan Dan Pertumbuhan Gereja,Ay Asian Journal of Philosophy and Religion 1, no. : 15Ae28. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Gereja masa kini harus mengembangkan sistem disiplin yang seimbang sebagai cerminan etika Paulus. Indikator ini menuntut gereja untuk tidak bersikap permisif terhadap pelanggaran moral yang terang-terangan, namun tetap mengakar dalam kasih, bukan semangat penghakiman. Pemimpin gereja dituntut memiliki keberanian mengambil tindakan korektif sesuai tingkat pelanggaran melalui mekanisme teguran yang jelas dan bertahap, mulai dari teguran pribadi, pembinaan pastoral, hingga tindakan formal gerejawi. Namun yang terpenting, setiap tindakan disipliner harus memiliki jalur pemulihan bagi mereka yang menunjukkan pertobatan sejati, sehingga proses disiplin tidak berhenti pada penghukuman tetapi berlanjut pada pendampingan yang memulihkan. Gereja perlu menumbuhkan budaya jemaat yang mendukung pemulihan. Indikator ini mengharuskan jemaat memiliki pemahaman etis yang matang, di mana komunitas memahami bahwa tindakan disipliner adalah ekspresi kasih, bukan kebencian. Etika Kristen harus ditanamkan secara berkelanjutan melalui pengajaran dan pembinaan agar jemaat memiliki sikap dewasa dalam menghadapi kasus kegagalan moral. Selain itu, sikap komunitas yang membangun menjadi kunci, di mana jemaat tidak menjadi batu sandungan melalui gosip atau penolakan sosial, melainkan aktif mendoakan dan mendukung proses pemulihan dengan tersedianya sistem dukungan dari sesama jemaat yang rendah hati dan penuh pengertian. Kepemimpinan pastoral yang efektif menjadi indikator penting dalam menghadapi kegagalan moral. Para pemimpin harus menunjukkan keseimbangan antara ketegasan terhadap dosa dan kelembutan kepada orang berdosa yang bertobat, dengan kemampuan membedakan antara penolakan terhadap dosa dan kasih terhadap pribadi pelaku. kasih harus menjadi dasar dari segala tindakan etis. Dalam 1 Korintus 13, kasih digambarkan sebagai unsur yang mendasari seluruh kehidupan Kristen. Ini berarti bahwa setiap tindakan gereja dalam menangani kegagalan moral harus berakar dalam kasih, bukan dalam semangat penghakiman atau kebencian. Mereka harus menghindari pendekatan yang terlalu keras yang dapat menghancurkan jiwa, maupun terlalu lunak yang membiarkan dosa Kompetensi penanganan kasus menjadi prasyarat, di mana pemimpin harus terlatih dalam menangani kasus moral secara bijaksana, memiliki sistem konseling pastoral yang terstruktur, dan mampu memberikan bimbingan spiritual yang tepat sesuai konteks. Etni Grace Andi Yusuf. Suhadi Suhadi, and Yonatan Alex Arifianto. AuMemaknai Ulang Panca Tugas Pemimpin Menurut 2 Timotius 4:1-5 Sebagai Pedoman Bagi Kepemimpinan Kristen Masa Kini,Ay EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership 3, no. : 216Ae225. MandiA Evriyani Lambang. AuImplementasi Keteladanan Kepemimpinan Rasul Paulus Bagi Kepemimpinan Pemimpin Gereja Masa Kini Pendeta,Ay Jurnal Ilmiah Mahasisiwa . : 7. S Elkana. AuNilai-Nilai Pendidikan Karakter Kristiani Dalam 1 Korintus 13: 1-13. ,Ay REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani, 5, no. : 124Ae140. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Program pemulihan yang komprehensif harus menjadi bagian integral dari sistem gereja. Indikator ini mencakup pembentukan tim pendamping khusus yang berfokus pada penyembuhan, bukan sekadar pemberian sanksi, serta pengembangan program pemulihan spiritual yang terencana dan berkelanjutan. Gereja juga harus memiliki mekanisme rekonsiliasi dengan pihak yang terluka atau dirugikan sebagai bagian dari proses Proses reintegrasi menjadi tahap lanjutan yang tidak kalah penting, dengan tahapan pemulihan bertahap yang jelas dan terukur, pemberian kesempatan kedua bagi mereka yang menunjukkan pertobatan, serta dukungan jangka panjang untuk mencegah Bagi Paulus, gereja dipahami sebagai tubuh Kristus yang kudus. menegaskan bahwa setiap orang percaya menjadi bagian dari Kristus sejak mereka mengalami pertobatan. Kekudusan komunitas yang terjaga tetap menjadi prioritas dalam penerapan etika Kristen Indikator ini mengharuskan gereja menerapkan standar kekudusan yang tidak berkompromi dengan kesadaran bahwa toleransi berlebihan terhadap dosa dapat merusak seluruh komunitas. Gereja harus memahami identitasnya sebagai tubuh Kristus yang kudus, sehingga setiap anggota bertanggung jawab menjaga kekudusan bersama. 31 Pencegahan dan pembinaan menjadi aspek proaktif yang meliputi program pembinaan karakter, sistem akuntabilitas antar anggota jemaat, dan penciptaan lingkungan yang mendukung pertumbuhan spiritual yang sehat. Tujuan teguran dan koreksi yang diberikan hendaknya berasal dari kasih terhadap pribadi yang bersangkutan dan penolakan terhadap dosa itu sendiri, dengan maksud membangun kembali dan memulihkan, bukan untuk menjatuhkan atau menghancurkan. Implementasi praktis dari seluruh indikator di atas memerlukan sistem operasional yang Gereja harus memiliki prosedur standar dalam menangani kegagalan moral, menyelenggarakan pelatihan berkala bagi pemimpin jemaat dalam penanganan kasus, serta melakukan dokumentasi dan evaluasi proses pemulihan. Sarana pendukung juga harus tersedia, termasuk fasilitas konseling dan pembinaan yang memadai, kelompok dukungan untuk pemulihan, dan sumber daya manusia yang kompeten dalam bidang pastoral care. Tanggung jawab dalam menghadapi kegagalan moral bukan hanya terletak pada pemimpin gereja, tetapi juga pada komunitas secara keseluruhan. Jemaat diajak untuk tidak menjadi batu sandungan atau memperbesar luka melalui gosip, penolakan sosial, atau sikap Sebaliknya, jemaat harus belajar menjadi rekan seiman yang menguatkan, mendoakan, dan mendukung proses pemulihan dengan rendah hati dan penuh pengertian. Amsal Simarmata. Sekolah Tinggi, and Teologia Trinity. AuI l l u m i n a t eAy 6, no. : 12Ae26. Hasahatan Hutahaean et al. AuTeologi Bimbingan Orang Tua Kristen Dan Komunikasi Interpersonal Guru Untuk Memotivasi Belajar Anak,Ay Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi 4, no. Matthew Henry. Tafsiran Matthew Henry Surat Roma, 1&2 Korintus, ed. dan Stevy W. Tilar Johnny Tjia. Barry Van der Schoot (Surabaya, 2. Irvan Nixon Grosman. Heldy Rogahang, and Deflita Lumi. AuStrategi Penatalayanan Gereja Bagi Pertumbuhan Jemaat,Ay Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan 7, no. : 168Ae175. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. KESIMPULAN Kegagalan moral dalam jemaat Korintus yang disebabkan oleh pengaruh budaya sekular dan lemahnya kepemimpinan rohani menunjukkan perlunya pendekatan etika Kristen yang seimbang. Rasul Paulus berhasil mengatasi krisis moral tersebut dengan menerapkan prinsip-prinsip yang mengintegrasikan kebenaran dan kasih karunia, di mana disiplin gereja difungsikan sebagai sarana pemulihan ketimbang penghukuman. Pendekatan ini menekankan kasih sebagai fondasi, pengampunan sebagai jalan pemulihan, dan transformasi moral sebagai tujuan akhir yang dipandu oleh teladan Kristus dan kuasa Roh Kudus. Tantangan moral yang dihadapi gereja kontemporer memiliki kemiripan dengan persoalan jemaat Korintus, sehingga prinsip-prinsip etika Kristen yang diterapkan Paulus tetap relevan hingga kini. Gereja masa kini perlu membangun sistem pendampingan pastoral dan mekanisme disiplin yang holistik, yang tidak hanya menjaga kekudusan komunitas tetapi juga memberi ruang bagi pertobatan dan penyembuhan. Etika Kristen menawarkan jalan integratif di mana kekudusan dan kasih saling memperkuat, memungkinkan gereja menjadi saksi hidup Injil Kristus di tengah masyarakat yang mengalami krisis moral. Penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk mengeksplorasi implementasi praktis prinsip-prinsip etika Paulus dalam konteks gereja multikultural masa kini, khususnya dalam menghadapi tantangan moral yang muncul dari perkembangan teknologi dan media sosial. Selain itu, diperlukan kajian komparatif tentang efektivitas berbagai model pendampingan pastoral dan sistem disiplin gereja dalam berbagai denominasi, serta analisis mendalam tentang peran komunitas jemaat dalam proses pemulihan moral anggota yang mengalami kegagalan etis. DAFTAR PUSTAKA