Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Original Article Analysis Of Risk Factors Affecting The Incidence Of Hypertension In The Working Area Of The Talang Ratu Palembang Health Center Analisis Faktor Risiko yang Mempengaruhi Kejadian Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Talang Ratu Palembang Muhammad Baharul Iman1. Akhmad Dwi Priyatno2. Muhammad Prima Cakra Randana3. Arie Wahyudi4. Lisna Dwi Rahma5 1,2,3,4,5 Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bina Husada Palembang *Corresponding Author: Muhammad Baharul Iman Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bina Husada Palembang Email: baharuliman@gmail. Keyword: Hypertension. Risk Factors. Age. Public Health Center Kata Kunci: Hipertensi. Faktor Risiko. Usia. Puskesmas AThe Author. 2025 Abstract Hypertension is one of the non-communicable diseases whose prevalence continues to rise both globally and nationally, including in the working area of Talang Ratu Public Health Center. Palembang City. The risk factors for hypertension are classified into modifiable and non-modifiable factors. This study is an observational analytic research with a crosectional design. The sample consisted of 241 respondents selected using consecutive sampling from patients visiting the Talang Ratu Health Center in February 2025. Data were collected through interviews using questionnaires and direct measurement tools. Analysis was conducted using univariate, bivariate (Chi-squar. , and multivariate . ultiple logistic regressio. The results showed that variables significantly associated with hypertension were age . = 0. , obesity . = 0. , physical activity . = 0. , fast food consumption . = 0. , stress . = 0. , and family history of hypertension . = Non-significant variables included gender . = 0. and smoking habits . = The most dominant factor was age (OR = 6. It is concluded that age is the main risk factor for hypertension. Promotive and preventive efforts targeting modifiable risk factors should focus on high-risk age groups. Abstrak Article Info: Received : June 6, 2025 Revised : July 21, 2025 Accepted : August 26, 2025 Cendekia Medika: Jurnal STIKes AlMaAoarif Baturaja e-ISSN : 2620-5424 p-ISSN : 2503-1392 This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Commons AttributionNonCommercial 4. 0 International License. Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular . on-communicable diseas. yang prevalensinya terus meningkat secara global maupun nasional, termasuk di wilayah kerja Puskesmas Talang Ratu Kota Palembang. Faktor risiko hipertensi terbagi menjadi faktor yang dapat dimodifikasi dan tidak dapat dimodifikasi. Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 241 responden yang diambil menggunakan metode consecutive sampling dari pasien yang berkunjung ke Puskesmas Talang Ratu pada Februari 2025. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner dan pengukuran langsung dengan alat ukur. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat (Chi-squar. , dan multivariat . egresi logistik bergand. Hasil penelitian menunjukkan variabel yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian hipertensi, yaitu usia . = 0,. , kegemukan . = 0,. , aktivitas fisik . = 0,. , konsumsi makanan cepat saji . = 0,. , stres . = 0,. , dan riwayat hipertensi keluarga . = 0,. Variabel yang tidak signifikan adalah jenis kelamin . = 0,. dan kebiasaan merokok . = 0,. Faktor paling dominan adalah usia (OR = 6,. Disimpulkan bahwa usia merupakan faktor risiko utama hipertensi. Upaya promotif dan preventif terhadap faktor risko yang dapat dimodifikasi sebaiknya difokuskan pada kelompok usia berisiko PENDAHULUAN Hipertensi adalah kondisi dimana tekanan darah sistolik diatas atau sama dengan 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik diatas atau sama dengan 90 mmHg. Hipertensi adalah penyakit tidak menular (PTM) yang terjadi akibat gangguan keseimbangan hemodinamik dalam sistem kardiovaskular dan dipengaruhi oleh berbagai faktor penyebab . Secara umum, faktor risiko hipertensi terbagi menjadi dua jenis, yakni faktor yang dapat dimodifikasi dan faktor yang tidak dapat dimodifikasi. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi konsumsi makanan cepat saji, dan stres. Sedangkan yang tidak dapat dimodifikasi yaitu jenis kelamin, usia, dan genetik atau Bahaya utama hipertensi yang https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 menyebabkan komplikasi seperti stroke, penyakit jantung koroner, dan gagal ginjal. Hal ini diperparah oleh banyaknya individu yang tidak menyadari bahwa mereka Pengendalian hipertensi melalui jalan non farmakologis berupa modifikasi gaya hidup dan farmakologis yaitu dengan obat-obatan diperlukan untuk menurunkan kejadian komplikasi dari hipertensi . Prevalensi meningkat, menurut laporan World Health Organization (WHO), diperkirakan 1,28 miliar orang dewasa di dunia menderita hipertensi pada tahun 2021, dengan prevalensi tertinggi ditemukan di negara berpenghasilan rendah dan menengah . Data dari Survei Kesehatan Indonesia menunjukkan prevalensi hipertensi di Indonesia tahun 2023 mencapai 30. 8% di kalangan orang dewasa. Sedangkan di sumatera selatan, prevalensi hipertensi mencapai 26,5%. Ibukota sumsel. Palembang, memiliki prevalensi hipertensi di angka 29,79% merupakan tertinggi di sumsel . Selain itu, sebuah studi di Palembang juga melaporkan prevalensi hipertensi di kalangan remaja mencapai 8%, dengan 7% di antaranya mengalami hipertensi derajat I dan 1% hipertensi derajat II. Hal ini menunjukkan bahwa hipertensi menjadi salah satu tantangan bagi negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, di mana faktor risiko seperti kurangnya aktivitas fisik dan pola makan tidak sehat berperan dalam peningkatan prevalensi hipertensi . Oleh karena itu, diperlukan strategi kesehatan yang berfokus pada langkahlangkah promotif dan preventif guna mencegah terjadinya hipertensi. Hal tersebut merupakan tanggung jawab utama puskesmas yang melakukan deteksi dini dan manajemen hipertensi. Penelitian berhubungan erat dengan komplikasi kesehatan yang serius seperti penyakit kardiovaskular dan stroke. Maka dari itu, puskesmas berfungsi sebagai titik pertama dalam identifikasi dan perawatan pasien hipertensi . Ae. Berdasarkan data profil hipertensi menduduki peringkat tertinggi penyakit di puskesmas Talang Ratu sejak tahun 2020 dengan jumlah 2180 pasien. Kemudian, pada tahun 2021, jumlah kasus meningkat menjadi 2. Tren kenaikan ini berlanjut pada tahun 2022, dengan total kasus mencapai 3. Per tahun 2023, kasus hipertensi meningkat drastis di angka 4460 pasien. Lalu pada tahun 2024 terjadi penurunan tajam kasus yakni 3498 pasien, dan kembali meningkat pada tahun 2025 dengan estimasi 3510 pasien berdasarkan data sasaran dari dinas kesehatan kota Palembang. Hal tersebut menjadi perhatian utama karena biaya untuk pengobatan penyakit kronis sangat besar, oleh karena itu upaya promotif dan preventif sangat penting untuk mengendalikan peningkatan kasus penyakit kronis . Berdasarkan latar belakang tersebut,maka penelitian yang berjudul AuAnalisis Faktor Risiko yang Mempengaruhi Kejadian Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Talang Ratu Palembang Tahun 2025Ay. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor risiko yang mempengaruhi kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Talang Ratu Kota Palembang tahun 2025 METODE Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik observasional dengan desain cross Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis bagaimana hubungan setiap faktor risiko hipertensi dengan kejadian hipertensi di Puskesmas Talang Ratu Kota Palembang tahun 2025. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penduduk di wilayah kerja Puskesmas Talang Ratu Kota Palembang yang berkunjung pada bulan februari 2025 di poli umum dan lansia yakni sejumlah 602 orang. Penelitian ini https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 menggunakan teknik consecutive sampling sebagai metode pengambilan sampel. Teknik ini dipilih karena praktis dan sesuai dengan kondisi lapangan, di mana sampel diambil dari pasien Puskesmas Talang Ratu yang berkunjung dan memenuhi kriteria inklusi serta eksklusi. Setiap pasien yang datang selama periode penelitian dibulan diikutsertakan secara berturut-turut hingga jumlah sampel yang ditargetkan terpenuhi. Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang dirancang untuk mengukur berbagai aspek terkait faktor risiko seperti kegemukan, kebiasaan merokok, kurangnya berlemak, stres, usia, jenis kelamin, dan riwayat hipertensi keluarga, serta data terkait kejadian hipertensi. Variabel dependentnya adalah kejadian hipertensi dengan hasil ukur tidak hipertensi dan hipertensi sedangkan yang menjadi variabel independent jenis kelamin . ria dan wanit. , usia dengan kategori 18-59 tahun . dan Ou 60 tahun . , kegemukan (IMT) dengan kategori tidak Obesitas bila IMT O 25 dan Obesitas bila IMT >25, kebiasaan merokok dengan kategori tidak merokok dan merokok . , aktivitas fisik dengan kategori tidak berisiko (< . dan berisiko (Ou . , konsumsi makanan cepat saji dengan kategori tidak berisiko (< . dan berisiko (Ou . , stress dengan kategori tidak stres (O. dan stres (>. , serta variabel yang terakhir adalah riwayat hipertensi dengan kategori tidak ada dan ada. Analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa univariat, bivariat dengan uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Chi-square, dikarenakan data Penentuan hubungan dianggap signifikan jika nilai p O 0,05, yang menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara faktor risiko dan hipertensi. Sebaliknya, jika p > 0,05, maka tidak ditemukan hubungan Kemudian multivariate pengujian statistik dalam penelitian ini menggunakan metode regresi logistik berganda. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden di Wilayah Kerja Puskesmas Talang Ratu Palembang Variabel Kejadian Hipertensi Tidak Hipertensi Hipertensi Jenis Kelamin Pria Wanita Usia Dewasa . Ae 59 Lansia (Ou60 tahu. Kegemukan Tidak obesitas Obesitas Kebiasan Merokok Tidak Merokok Merokok Aktifitas Fisik Tidak beresiko Beresiko Konsumsi Makanan Cepat Saji Tidak beresiko Beresiko Jumlah . Presentasi (%) https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Stres Tidak Stres Stres Riwayat Hipertensi Keluarga Tidak ada Ada Berdasarkan distribusi variabel kejadian hipertensi di Puskesmas Talang Ratu Kota Palembang tahun 2025 didapatkan sebanyak 129 responden mengalami hipertensi . ,5%) dan 112 responden tidak mengalami hipertensi . ,5%). Variabel jenis kelamin di Puskesmas Puskesmas Talang Ratu Kota Palembang tahun 2025 didapatkan sebanyak 188 responden tidak merokok . %) dan 53 responden merokok . %). aktivitas fisik di Puskesmas Talang Ratu Kota Palembang tahun 2025 didapatkan sebanyak 94 responden tidak berisiko . %) dan 147 responden berisiko . %). variabel konsumsi makanan cepat saji di Puskesmas Talang Ratu Kota Palembang tahun 2025 didapatkan sebanyak 82 responden tidak berisiko . %) dan 159 responden berisiko . %). variabel stres di Puskesmas Talang Ratu Kota Palembang tahun 2025 didapatkan sebanyak 148 responden tidak stres . ,4%) dan 93 responden stres . ,6%). variabel riwayat hipertensi keluarga di Puskesmas Talang Ratu Kota Palembang tahun 2025 didapatkan sebanyak 117 responden tidak ada . ,5%) dan 124 responden ada . ,5%). Talang Ratu Kota Palembang tahun 2025 didapatkan sebanyak 92 responden pria . ,2%) dan 149 responden wanita . ,8%). Berdasarkan distribusi variabel usia di Puskesmas Talang Ratu Kota Palembang tahun 2025 didapatkan sebanyak 160 responden dewasa . ,4%) dan 81 responden lansia . ,6%). Variabel kegemukan di Puskesmas Talang Ratu Kota Palembang tahun 2025 didapatkan sebanyak 139 responden tidak obesitas . ,7%) dan 102 responden obesitas . ,3%). Variabel kebiasaan merokok di Tabel 2. Analisa Kejadian Hipertensi di Puskesmas Talang Ratu Kota Palembang Tahun Variabel Kejadian weight faltering Tidak Jumlah P value Jenis Kelamin Pria Wanita Dewasa Lansia 0,126 Usia Kegemukan Tidak Obesitas Obesitas Kebiasaan Merokok 0,000 10,894 5,344 Ae 22,207 0,000 3,731 2,158 Ae 6,452 https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Tidak Merokok Merokok Aktifitas Fisik Tidak Berisiko Berisiko Makanan Cepat Saji Tidak Berisiko Berisiko Stres Tidak Stres Stres 0,669 0,003 2,227 1,314 Ae 3,774 0,007 2,096 1,219 Ae 3,602 0,000 8,885 4,706 Ae 16,774 0,000 2,908 1,721 Ae 4,912 Riwayat Hipertensi Keluarga Tidak Ada Ada Dari tabel 2. hasil analisis hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian hipertensi diperoleh bahwa proporsi responden yang mengalami kejadian hipertensi lebih banyak pada kelompok responden yang memiliki jenis kelamin wanita yaitu 30,7% dibandingkan dengan jenis kelamin pria yaitu 22,8%. Hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,126, maka dapat disimpulkan bahwa secara statistik pada alpha 5% tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan kejadian hipertensi. Hubungan antara usia dengan kejadian hipertensi diperoleh bahwa proporsi responden yang mengalami kejadian hipertensi lebih banyak pada kelompok responden yang lansia yaitu 43,4 % dibandingkan dengan dewasa yaitu 24,5 %. Hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0,000, maka dapat disimpulkan bahwa secara statistik pada alpha 5a hubungan yang signifikan antara usia dengan kejadian hipertensi, diperoleh pula nilai OR : 10,894 artinya responden lansia memiliki risiko 10,894 kali lebih besar untuk terkena hipertensidi bandingkan dengan dewasa. Analisis hubungan antara kegemukan dengan kejadian hipertensi diperoleh bahwa proporsi responden yang mengalami kejadian hipertensi lebih banyak pada kelompok responden obesitas yaitu 30,3% dibandingkan dengan yang tidak obesitas yaitu 23,2 %. Hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0,000, maka dapat disimpulkan bahwa secara statistik pada alpha 5% ada hubungan yang signifikan antara kegemukan dengan kejadian hipertensi, diperoleh pula nilai OR : 3,731 artinya responden obesitas memiliki risiko 3,731 kali lebih besar untuk terkena hipertensidi bandingkan dengan yang tidak Hubungan antara kebiasaan merokok dengan kejadian hipertensi diperoleh bahwa proporsi responden yang mengalami kejadian hipertensi lebih banyak pada kelompok responden tidak merokok yaitu 42,3% dibandingkan dengan yang merokok yaitu 11,2 %. Namunhasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0,669, maka dapat disimpulkan bahwa secara statistik pada alpha 5% tidak ada hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok dengan kejadian hipertensi. Hasil analisis hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi diperoleh bahwa proporsi responden yang mengalami kejadian hipertensi lebih banyak pada kelompok responden berisiko yaitu 37,3% dibandingkan dengan yang tidak berisiko yaitu 16,2 %. Hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0,003, maka dapat disimpulkan bahwa secara statistik pada alpha 5a hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi, diperoleh pula nilai OR : 2,227 artinya responden dengan aktivitas fisik https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 yang berisiko memiliki risiko 2,227 kali lebih besar untuk terkena hipertensi dibandingkan dengan yang tidak berisiko Hasil analisis hubungan antara makanan cepat saji dengan kejadian hipertensi diperoleh bahwa proporsi responden yang mengalami kejadian hipertensi lebih banyak pada kelompok responden berisiko yaitu 39,4% dibandingkan dengan yang tidak berisiko yaitu 14,1%. Hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0,007, maka dapat disimpulkan bahwa secara statistik pada alpha 5% ada hubungan yang signifikan antara konsumsi makanan cepat saji dengan kejadian hipertensi, diperoleh pula nilai OR : 2,096 artinya responden dengan konsumsi makanan cepat saji yang berisiko memiliki risiko 2,096 kali lebih besar untuk terkena hipertensi dibandingkan dengan yang tidak Hasil analisis hubungan antara stres dengan kejadian hipertensi diperoleh bahwa proporsi responden yang mengalami kejadian hipertensi lebih banyak pada kelompok responden stres yaitu 49,8% dibandingkan dengan yang tidak stres yaitu 21,6%. Hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0,000, maka dapat disimpulkan bahwa secara statistik pada alpha 5% ada hubungan yang signifikan antara stres dengan kejadian hipertensi, diperoleh pula nilai OR : 8,885 artinya responden dengan stres memiliki risiko 8,885 kali lebih besar untuk terkena hipertensidibandingkan dengan yang tidak stres. Hasil analisis hubungan antara riwayat hipertensi diperoleh bahwa proporsi responden yang mengalami kejadian hipertensi lebih banyak pada kelompok responden yang ada riwayat hipertensi keluarga yaitu 34,0% dibandingkan dengan yang tidak ada yaitu 19,5%. Hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0,000,maka dapat disimpulkan bahwa secara statistik pada alpha 5a hubungan yang signifikan antara riwayat hipertensi keluarga dengan kejadian hipertensi, diperoleh pula nilai OR : 2,908 artinya responden yang ada riwayat hipertensi keluarga memiliki risiko 2,908 hipertensidibandingkan dengan yang tidak Seleksi multivariat dilakukan dengan cara memasukkan hasil analisis bivariat antara masing-masing variabel yang diduga berhubungan dengan variable kejadian Screening bivariat pada menggunakan uji regresi logistik berganda. Tabel 3 Seleksi Variabel yang Masuk Analisis Multivariat Regresi Logistik Ganda Variabel Jenis Kelamin Usia Kegemukan Kebiasaan Merokok Aktivitas Fisik Konsumsi Makanan Cepat Saji Riwayat Hipertensi Keluarga Stres Model Faktor Penentu Kejadain Hipertensi Terhadap p Value 0,126 0,000 0,000 0,669 0,003 0,007 0,029 0,000 Keterangan Masuk Masuk Masuk Tidak Masuk Masuk Masuk Masuk Masuk dikeluarkan dari model pemodelan selanjutnya. Variabel yang memiliki nilai p-value terbesar yaitu konsumsi makanan cepat saji https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Tabel 4. Pemodelan Awal Multivariat Tahapan Tahapan 1a p Value 95% CI Jenis Kelamin Variabel -0,398 0,279 0,672 Usia 2,201 0,000 9,036 0,327 -1,380 3,978-20,527 Kegemukan 1,050 0,003 2,859 1,429-5,720 Aktivitas Fisik Konsumsi Makanan Cepat Saji Stres Riwayat Hipertensi Keluarga Constant 0,447 0,236 0,216 0,522 1,563 1,267 0,770-3,171 0,615-2,610 1,912 0,897 0,000 0,010 6,765 2,451 3,246-14,099 1,237-4,859 -2,204 0,000 0,110 0,327-1,380 Tabel 5. Pemodelan Akhir Regresi Logistik Berganda Variabel Independen dengan Kejadian Hipertensi di Puskesmas Talang Ratu Kota Palembang Tahun 2025 Tahapan Variabel Tahapan 4a Usia Kegemukan Stres Riwayat Hipertensi Keluarga Constant Berdasarkan Tabel 5. didapatkan variabel usia, kegemukan, stres, dan riwayat hipertensi keluarga berpengaruh signifikan terhadap kejadian hipertensi, dengan variabel usia yang merupakan variabel paling dominan. Dengan demikian model regresi logistik yang didapat adalah : Z=Oe2,042 . ,289yX. ,049yX. ,951yX. ,865yX. Keterangan: X1= Usia . = lansia, 0 = dewas. p Value 95% CI 2,289 1,049 1,951 0,865 0,000 0,003 0,000 0,011 9,861 2,855 7,036 2,375 4,425-21,972 1,442-5,651 3,407-14,533 1,220-4,626 -2,042 0,000 0,130 Berdasarkan model tersebut jika seorang merupakan lansia, obesitas, stres, dan disertai dengan riwayat hipertensi keluarga maka kemungkinan mengalami hipertensi adalah 98,4%. Bedasarkan empat variabel tersebut, variabel usia memiliki pengaruh paling kuat terhadap kejadian hipertensi, dengan nilai odds ratio (OR) sebesar 9,861, yang menunjukkan bahwa individu dengan usia lanjut memiliki kemungkinan 9,86 kali lebih besar untuk mengalami hipertensi dibandingkan dengan individu berusia lebih muda X2= Kegemukan . = obesitas, 0 = tidak obesita. PEMBAHASAN A X3= stres . = stres, 0 = tidak stre. A X4= Riwayat hipertensi keluarga . = ya, 0 = tida. Hubungan Jenis Kelamin Kejadian Hipertensi Z=Oe2,042 . ,289y. ,049y. ,951y1 ) . ,865y. = 4,112 ycE = 1 yce Oeyc = ycE = 1 yce Oe4,112 OO0,984 Hasil analisis univariat penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden adalah perempuan dengan jumlah 149 . ,8%) orang dibandingkan laki-laki dengan jumlah 92 . ,2%) orang. Hasil analisis bivariat menunjukkan perempuan yang mengalami hipertensi yakni 30,7% lebih tinggi dibandingkan laki- https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 laki yakni 22,8% dengan nilai p = 0,126. Artinya, tidak terdapat hubungan signifikan antara jenis kelamin dengan kejadian Hasil analisis multivariat juga menunjukkan tidak adanya hubungan signifikan antara jenis kelamin dengan kejadian hipertensi. Hasil yang didapat dari penelitian ini sama dengan beberapa penelitian lainnya di Indonesia yang mengemukakan tidak adanya korelasi signifikan antara jenis kelamin terhadap insiden hipertensi. Penelitian di Rumkit Tk II Putri Hijau Medan melaporkan tidak menemukan korelasi yang signifikan antara jenis kelamin dengan 0,. , pengaruh dari faktor lain seperti tingkat pemanfaatan layanan kesehatan akibat pendapatan rendah, serta gaya hidup seperti merokok dan minum alkohol yang dapat memicu hipertensi dan mengaburkan peran jenis kelamin secara spesifik dalam sampel penelitian tersebut . Selain itu, penelitian pada lansia di Puskesmas Noemuti juga tidak menemukan korelasi antara jenis kelamin dan hipertensi . = 0,. , dengan penjelasan bahwa pada usia lanjut kedua jenis kelamin mengalami penurunan fungsi fisiologis serupa dan faktor lain seperti kegemukan serta riwayat keluarga lebih memengaruhi . Lebih lanjut, penelitian di Puskesmas Banyudono I melaporkan bahwa jenis kelamin juga tidak berkorelasi dengan insiden hipertensi . = 1,. , hal ini dikarenakan jenis kelamin bukanlah faktor tunggal yang berkontribusi terhadap kejadian hipertensi, dimana beberapa faktor risiko memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap kejadian hipertensi seperti riwayat keluarga, aktifitas fisik, kebiasaan minum kopi, dan obesitas yang memiliki proporsi yang hampir sama pada laki-laki dan perempuan . Walaupun tidak ditemukan korelasi signifikan antara laki-laki dan perempuan terhadap kejadian hipertensi, perempuan dibandingkan laki-laki pada penelitian ini. Faktor utama yang berkontribusi pada peningkatan risiko hipertensi wanita ialah perubahan hormonal selama menopause. Penelitian menunjukkan bahwa setelah menopause, produksi hormon estrogen yang berfungsi sebagai vasodilator yang membantu menjaga fleksibilitas pembuluh darah menurun, sehingga berpotensi meningkatkan tekanan darah . Selain itu, perempuan seringkali melakukan gaya hidup kurang sehat. Seperti mengonsumsi makanan yang tinggi natrium serta lemak, diiringi rendahnya aktifitas fisik yang berkontribusi pada meningkatnya risiko hipertensi pada wanita . Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti berasumsi bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara jenis kelamin dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Talang Ratu Palembang tahun Baik laki-laki maupun perempuan memiliki risiko yang serupa terhadap kejadian hipertensi, namun kecenderungan hipertensi yang lebih tinggi biasanya dialami oleh individu yang memiliki beberapa faktor risiko. Hal tersebut senada dengan teori yang mengatakan hipertensi umumnya tidak disebabkan oleh satu faktor risiko tunggal, melainkan merupakan hasil interaksi beberapa faktor risiko yang saling berkaitan, yang dikenal sebagai common underlying risk factor . Hubungan Hipertensi Usia Kejadian Hasil analisis univariat penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden terdapat pada kelompok usia dewasa . -59 tahu. dengan jumlah 160 . ,4%) orang dibandingkan kelompok lansia (Ou 60 tahu. dengan jumlah 81 . ,6%) orang. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara usia dengan kejadian hipertensi . = 0,. , dimana kelompok lansia yang https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 mengalami hipertensi yakni 43,4% lebih tinggi dibandingkan kelompok dewasa yakni 24,5%. Hasil analisis multivariat juga menunjukkan adanya hubungan signifikan antara usia dengan kejadian hipertensi . = 0,. dengan nilai OR 9,861. Hasil penelitian yang dilakukan ini senada dengan beberapa penelitian di Indonesia dan teori yang mengemukaan adanya korelasi signifikan antara usia terhadap kejadian hipertensi. Dalam penelitian oleh Angrayama et al. di Puskesmas Imbanagara Ciamis melaporkan bahwa individu yang lebih tua menunjukkan derajat keparahan hipertensi yang lebih tinggi, yang diakibatkan oleh penurunan bertambahnya usia . Temuan tersebut juga didukung studi oleh Leonakis et al. yang mengemukakan bahwasannya ketika membahas hipertensi pada populasi lansia, elastisitas pembuluh darah menjadi indikator penting, karena penurunan elastisitas dapat menyebabkan respons vaskular yang kurang baik terhadap stres, termasuk tekanan darah yang lebih tinggi . Beberapa faktor lain yang menyebabkan tingginya kejadian hipertensi pada lansia yaitu gaya hidup yang tidak sehat. Penelitian oleh Siregar et al. melaporkan bahwa proporsi lansia yang mengalami hipertensi meningkat, dengan temuan menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang rendah, obesitas, serta pola makan yang kurang sehat berkontribusi terhadap perkembangan hipertensi di usia lanjut (Siregar et al. , 2. Penelitian oleh Langingi . juga menunjukkan lansia yang mempunyai indeks massa tubuh berlebih akan cenderung lebih tinggi tekanan darahnya dibandingkan dengan indeks massa tubuh kurang atau normal . Disamping itu, penelitian yang dilakukan Sariyanti et al. mengemukakan rendahnya pendapatan yang mengarah pada rendahnya aktifitas fisik berhubungan terhadap peningkatan insiden hipertensi di kelompok lanjut usia . Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti berasumsi bahwa terdapat hubungan antara usia dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Tang Ratu Palembang Tahun Hal sebagaimana teori menjelaskan bahwa usia berhubungan erat dengan munculnya penurunan fungsi fisiologis akibat penuaan serta berbagai faktor gaya hidup yang kurang sehat pada individu lansia. Hubungan Kegemukan dengan Kejadian Hipertensi Hasil analisis univariat penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden terdapat pada kelompok tidak obesitas (IMT O . dengan jumlah 139 . ,7%) orang dibandingkan kelompok obesitas (IMT Ou . dengan jumlah 102 . ,3%) orang. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara kegemukan dengan kejadian hipertensi . = 0,. , dimana kelompok obesitas yang mengalami hipertensi yakni 30,3% lebih tinggi dibandingkan kelompok yang tidak obesitas yakni 23,2%. Hasil analisis multivariat juga menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kegemukan dengan kejadian hipertensi . = 0,. dengan nilai OR 2,855. Hasil yang didapat dari penelitian ini serupa dengan beberapa penelitian di Indonesia dan teori yang mengemukaan adanya korelasi signifikan antara kegemukan terhadap kejadian hipertensi. Penelitian oleh Rumaisyah et al. pada seluruh responden Riskesdas 2018 usia 25-44 tahun, melaporkan bahwa tiga jenis obesitas yaitu general obesity, abdominal obesity, dan combined obesity mempunyai korelasi yang signifikan . = 0,. terhadap kejadian hipertensi pada usia dewasa muda di Indonesia, dimana combined obesity memiliki nilai OR yang tertinggi yaitu 3,503 . Selain itu, penelitian oleh Asari dan Helda . di Medan, tepatnya pada Wilayah Kerja Puskesmas PB Selayang II, melaporkan https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 bahwa kegemukan berkorelasi terhadap hipertensi di usia lanjut dengan risiko 6,0 kali lebih besar daripada golongan usia lanjut yang tidak kegemukan . Obesitas merupakan faktor risiko yang signifikan bagi hipertensi di segala usia, akibat sejumlah mekanisme fisiologis yang Dimana kelebihan lemak, terutama lemak viseral, yang terakumulasi di organ vital seperti ginjal meningkatkan pengurangan aliran tubulus ginjal, dan menaikkan penyerapan ulang natrium di Loop of Henle. Peningkatan penyerapan ulang natrium mengakibatkan pelebaran pembuluh darah, penyaringan berlebih glomerulus, dan deplesi transportasi natrium di makula densa, sehingga merangsang sekresi renin. Selain itu, akumulasi lemak dalam sel adiposa mengaktifkan saraf simpatik melalui mekanisme Hypoxia-Inducible Factor 1Vascular Endothelial Growth Factor (HIF1VEGF) di hipotalamus, yang berkontribusi terhadap hipertensi. Sementara itu, jumlah adiponektin menurun pada obesitas, berdampak pada sensitivitas insulin yang resistensi insulin hipertensi . Resistensi ini mengaktivasi sistem saraf simpatik dan meningkatkan sekresi leptin, serta memicu angiotensin II, menyebabkan vasokonstriksi, meningkatkan tahanan renovaskular, dan menyebabkan penurunan aliran darah ke medula ginjal, sehingga akhirnya meningkatkan tekanan darah . Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti berasumsi bahwa terdapat hubungan antara kegemukan dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Talang Ratu Palembang Tahun 2025. Hal ini sebagaimana teori menjelaskan bahwa kegemukan berhubungan erat dengan kejadian hipertensi, yang melibatkan kombinasi faktor fisiologis, hormonal, dan interaksi jaringan. Hubungan Kebiasaan Merokok dengan Kejadian Hipertensi Hasil analisis univariat penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden terdapat pada kelompok tidak merokok dengan jumlah 188 . %) orang dibandingkan kelompok merokok dengan jumlah 53 . %) orang. Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara merokok dengan kejadian hipertensi, dimana kelompok tidak merokok yang mengalami hipertensi yakni 42,3% lebih tinggi dibandingkan kelompok yang merokok yakni 11,2% dengan nilai p = 0,669 sehingga variabel merokok tidak dapat masuk pemodelan multivariat. Hasil penelitian ini serupa dengan beberapa penelitian lain di Indonesia yang mengemukakan tidak adanya korelasi signifikan merokok terhadap insiden Penelitian oleh Kurnia dan Malinti . bahwasannya tidak ditemukan korelasi signifikan kebiasaan merokok . istolik, p = 242 dan diastolik, p = 0. , jenis rokok . istolik, p = 0. 123 dan diastolik p = 0. dan lama merokok . istolik, p= 0. 139 dan diastolik, p = 0. terhadap tekanan darah . Lebih lanjut, penelitian lainnya menyebutkan, di mana gaya hidup lain, misalnya pola makan serta faktor stres, lebih berpengaruh daripada merokok . istolik, p = 0. 451 dan diastolik, p = 0. Ditambah lagi, penelitian oleh Adnyana et al. pada daerah pesisir Malimbu Lombok Utara, juga melaporkan tidak adanya korelasi signifikan merokok dengan kejadian hipertensi . = . , hal ini kemungkinan disebabkan responden yang merokok hanya 20% dibandingkan 80% responden yang tidak merokok sehingga memengaruhi penelitian . Berdasarkan menyebabkan hipertensi yang melibatkan beberapa proses fisiologis kompleks yang https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Nikotin dalam rokok meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatis, memicu vasokonstriksi & peningkatan detak jantung, sehingga berdampak pada meningkatnya tekanan darah. Merokok juga disinyalir dapat mengakibatkan penurunan kadar HDL dan mengakibatkan peningkatan LDL, aterosklerosis dan kerusakan dinding pembuluh darah. Sejalan dengan itu, asap rokok dengan kandungan gas CO . arbon menyebabkan hipoksia dan meningkatkan viskositas darah, yang berkontribusi pada pembentukan bekuan dan mengganggu regulasi tekanan darah . Stres oksidatif akibat merokok juga memicu pelepasan sitokin dan inflamasi sistemik, merusak integritas endotelium yang berpotensi menyebabkan hipertensi . Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti berasumsi bahwasannya tidak terdapat korelasi signifikan merokok terhadap insiden hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Talang Ratu Palembang tahun Peneliti berasumsi perbedaan hasil penelitian dan teori disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, proporsi responden yang tidak merokok . %) lebih tinggi jika dibandingkan dengan yang merokok . %). Hal tersebut mungkin mengindikasikan bahwa efek kesehatan negatif dari merokok, termasuk hipertensi, tidak begitu terlihat dalam populasi yang didominasi oleh nonperokok, yang dapat menyebabkan hasil yang tidak signifikan. Kedua, variasi dalam tingkat paparan lingkungan terhadap asap rokok juga dapat berkontribusi. Penelitian menunjukkan bahwa paparan pasif terhadap asap rokok dapat memengaruhi tekanan darah, meskipun responden bukan perokok aktif . Selanjutnya. Risiko hipertensi juga dapat dipengaruhi oleh variabel gaya hidup dan kesehatan tambahan, dan mungkin lebih mendominasi hasil dibandingkan dengan kebiasaan Hubungan Aktivitas Kejadian Hipertensi Fisik Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa 147 responden . ,0%) memiliki pola aktivitas fisik yang berisiko terhadap Selanjutnya, berdasarkan analisis bivariat terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Talang Ratu Kota Palembang tahun 2025. Responden yang memiliki pola aktivitas fisik yang berisiko mempunyai risiko 2,227 kali lebih besar untuk terkena hipertensi, dibandingkan dengan responden yang memiliki pola aktivitas fisik yang tidak berisiko. Namun pada analisis multivariat aktivitas fisik dikeluarkan dalam pemodelan dikarenakan p-value>0,05 Pada teorinya, gaya hidup yang kurang akan aktivitas fisik menyebabkan penurunan kesehatan sistem kardiorespirasi, yang berkorelasi positif dengan pengaturan tekanan darah. Olahraga diketahui dapat meningkatkan fungsi jantung dan kesehatan pembuluh darah. Aktivitas fisik yang teratur meningkatkan bioavailabilitas oksida nitrat, dan mengurangi kekakuan arteri, yang semuanya membantu menjaga kadar tekanan darah normal . Sebaliknya, ketidakaktifan fisik merusak mekanisme ini, sehingga membuat individu lebih rentan terhadap hipertensi. Selain itu, telah dibuktikan bahwa latihan dengan intensitas yang lebih tinggi biasanya menghasilkan penurunan tekanan darah lebih banyak dibanding latihan dengan intensitas rendah, yang menyoroti pentingnya intensitas latihan untuk manajemen hipertensi yang efektif . Selain itu, perubahan neurohormonal akibat kurangnya aktivitas fisik secara signifikan memengaruhi pengaturan tekanan darah. Aktivitas fisik bermanfaat, seperti katekolamin dan insulin, yang membantu mengatur tonus pembuluh darah dan tekanan darah . https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Selain itu, mengambil pelajaran dari pandemi COVID-19 yang lalu, tentang bagaimana isolasi sosial dan ketidakaktifan fisik berkontribusi secara negatif pada peningkatan risiko kejadian hipertensi . Penelitian di Puskesmas Bakunase Kupang terhadap wanita pralansia mengemukakan adanya korelasi signifikan rendahnya aktivitas fisik terhadap insiden hipertensi dengan nilai p 0,024 . Penelitian lain di kota Palembang yakni Puskesmas Merdeka juga menemukan hubungan yang sangat signifikan antara aktivitas fisik dan tingkat hipertensi dengan p 0,000 . Disamping itu, penelitian yang baru-baru ini dilakukan juga pada wanita etnis minangkabau di Puskesmas Anak Air Kota Padang juga kembali menemukan hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dan hipertensi dengan nilai p 0,046 . Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti berasumsi bahwa terdapat hubungan antara pola aktivitas fisik dan kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Talang Ratu Kota Palembang tahun 2025. Temuan ini sejalan dengan teori dan berbagai hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa kurangnya aktivitas kardiovaskular, memengaruhi regulasi tekanan darah, dan meningkatkan risiko neurohormonal dan vaskular. Hubungan Konsumsi Makanan Cepat Saji dengan Kejadian Hipertensi Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa 159 responden . ,0%) memiliki pola konsumsi makanan cepat saji yang berisiko terhadap kejadian hipertensi. Selanjutnya, berdasarkan analisis bivariat terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi makanan cepat saji dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Talang Ratu Kota Palembang Responden yang memiliki pola konsumsi makanan cepat saji yang berisiko mempunyai risiko 2,096 kali lebih besar untuk terkena hipertensi, dibandingkan dengan responden yang memiliki pola konsumsi makanan cepat saji yang tidak Namun pada analisis multivariat konsumsi makanan cepat saji dikeluarkan pvalue>0,05 pada regresi logistik berganda. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian lainnya yang baru-baru ini dilaksanakan di Puskesmas Menteng Kota Palangka Raya yang menyatakan terdapat korelasi signifikan konsumsi makanan cepat saji dan penderita hipertensi usia dewasa dengan nilai p 0,000 . Penelitian lain di Puskesmas Kronjo juga menyebutkan bahwasannya ditemukan korelasi signifikan konsumsi makanan cepat saji dan hipertensi pada responden wanita berusia produktif dengan nilai p 0,024 . Penelitian lain yang juga dilaksanakan di kota Palembang, tepatnya di Puskesmas Kampus, juga menyimpulkan adanya korelasi signifikan konsumsi makanan cepat saji dan insiden hipertensi . ilai p 0,. Konsumsi makanan cepat saji telah diidentifikasi sebagai kontributor signifikan terhadap hipertensi, dengan beberapa mekanisme yang saling terkait yang mendasari hubungan ini. Salah satu mekanisme utama adalah kandungan natrium tinggi yang umum ditemukan dalam makanan cepat saji. Peningkatan asupan natrium menyebabkan peningkatan volume darah karena retensi air, yang akibatnya meningkatkan tekanan darah . Makanan cepat saji juga biasanya kaya akan lemak dan gula berlebih, yang berkontribusi terhadap faktor risiko Terutama, asupan lemak jenuh dan gula olahan yang berlebihan, yang umum ditemukan dalam makanan cepat saji, dapat menyebabkan obesitas melalui peningkatan asupan kalori dan penurunan rasa kenyang. Pola makan yang tinggi akan komponen-komponen ini dikaitkan dengan perubahan metabolisme lipid, yang menyebabkan peningkatan trigliserida dan https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 perubahan dalam deposisi lemak . Secara khusus, trans fat yang umumnya ditemui pada makanan hasil olahan dan cepat saji, telah dikaitkan dengan LDL HDL. Ketidakseimbangan ini memperburuk kardiovaskular, termasuk hipertensi . Oleh karena itu, diet tinggi lemak dapat mengganggu fungsi endotel, karena fungsinya yang sangat penting dalam pengaturan tekanan dan tonus pembuluh darah . Selain itu, indeks glikemik yang tinggi pada banyak makanan cepat saji, karena karbohidrat olahan dan gula tambahannya, menyebabkan lonjakan cepat kadar glukosa darah. Hal ini dapat mengakibatkan peningkatan sekresi insulin, yang berkontribusi terhadap resistensi insulin dari waktu ke waktu. Meningkatnya kadar insulin mengakibatkan retensi natrium melalui ginjal, yang berkontribusi terhadap peningkatan volume darah lalu diikuti peningkatan tekanan darah atau hipertensi . Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menduga bahwa terdapat hubungan antara pola konsumsi makanan cepat saji dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Talang Ratu Kota Palembang Temuan ini sejalan dengan teori dan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa konsumsi makanan cepat saji, yang umumnya tinggi natrium, lemak jenuh, gula tambahan, dan indeks glikemik tinggi, dapat memengaruhi tekanan darah melalui berbagai mekanisme metabolik dan vaskular yang kompleks. Hubungan Hipertensi Stres Kejadian Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa hanya 93 responden . ,6%) yang memiliki stres. Kendati sedikit, berdasarkan analisis bivariat terdapat hubungan yang signifikan antara stres dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Talang Ratu Kota Palembang tahun 2025. Responden yang memiliki stres mempunyai risiko 8,885 kali lebih besar untuk terkena hipertensi dibandingkan dengan responden yang tidak stres. Hasil analisis multivariat juga menunjukkan adanya pengaruh stres terhadap kejadian hipertensi . ilai p 0,. dengan OR 7,036. Hasil penelitian ini juga diperkuat oleh perempuan di Puskesmas Baiturrahman Banda Aceh. Berdasarkan penelitian tersebut stres berhubungan signifikan dengan insiden hipertensi dengan nilai p 0,017 dan OR 2,9 . Studi pada usia lanjut di Puskesmas Guntur Kabupaten Garut juga menunjukkan hubungan yang signifikan antara stres dan hipertensi pada lansia . value 0,. Lalu penelitian lain yang dilakukan pada usia produktif didapatkan juga hubungan yang signifikan antara stres dan hipertensi di Puskesmas Kedaton Bandar Lampung dengan p-value 0,005. Beberapa mekanisme yang mungkin mengakibatkan hal tersebut diantaranya, stres akut dapat memicu aktivasi sistem saraf simpatik, yang mengontrol respons "fight or flight". Dalam proses ini, neurotransmitter seperti norepinefrin vasokonstriksi pada pembuluh darah, yang menghasilkan peningkatan tekanan darah. Hormon lain seperti epinefrin dan kortisol juga dilepaskan dalam situasi stres. Kortisol, yang diproduksi oleh kelenjar adrenal, memiliki efek memicu retensi natrium dan air di ginjal, yang mengakibatkan peningkatan volume darah dan tekanan darah . Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara stres dan kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Talang Ratu Kota Palembang tahun 2025. Meskipun proporsi responden yang mengalami stres relatif kecil, stres terbukti meningkatkan risiko hipertensi secara Temuan ini sejalan dengan teori https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 dan berbagai penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa stres berperan dalam peningkatan tekanan darah melalui aktivasi sistem saraf simpatik serta pelepasan epinefrin, dan kortisol, yang berkontribusi pada vasokonstriksi, peningkatan denyut jantung, serta retensi cairan dan natrium. Hubungan Riwayat Hipertensi Keluarga dengan Kejadian Hipertensi Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden yakni 124 responden . ,5%) memiliki riwayat hipertensi pada keluarga. Analisis bivariat menunjukkan hasil adanya hubungan antara riwayat hipertensi keluarga dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Talang Ratu Kota Palembang Responden yang memiliki mempunyai risiko 2,908 kali lebih besar untuk terkena hipertensi dibandingkan dengan responden yang tidak memiliki riwayat hipertensi pada keluarganya. Hasil analisis multivariat juga menunjukkan adanya pengaruh riwayat hipertensi keluarga terhadap kejadian hipertensi . ilai p 0,. dengan OR 2,375. Hal ini senada bahwasannya riwayat hipertensi pada keluarga akan mempengaruhi insiden hipertensi di kemudian hari . Hasil yang didapat dari penelitian ini pun selaras dengan penelitian oleh Novendy et , yang dilakukan di Puskesmas Kronjo terhadap wanita usia produktif . -44 tahu. dengan hasil p-value sebesar 0,024 yang mengindikasikan hubungan signifikan antara riwayat hipertensi dalam keluarga dan kejadian hipertensi . Selain itu Puskesmas Lhoknga kabupaten Aceh Besar mencatat p-value 0,001 untuk riwayat keluarga yang menunjukkan hubungan signifikan dengan kejadian hipertensi pada wanita pra-lansia. Ini mengindikasikan bahwa individu yang memiliki riwayat hipertensi dalam keluarga memiliki risiko yang lebih tinggi untuk tersebut . Penelitian lain yang juga dilakukan di Sumatera Selatan tepatnya pada Puskesmas Sekar Jaya Kabupaten Ogan Komering Ulu menemukan hubungan yang bermakna antara riwayat keluarga dan kejadian hipertensi pada pra-lansia, dengan analisis statistik menunjukkan p-value 0,000, menunjukkan bahwa riwayat keluarga adalah prediktor kuat faktor hipertensi . Proses mekanisme di balik pengaruh riwayat keluarga terhadap hipertensi sering kali melibatkan komponen genetik dan Faktor genetik berperan besar, di mana keseluruhan pola pewarisan genetik dapat memberikan predisposisi individu untuk mengembangkan hipertensi. Penelitian juga menunjukkan bahwa pola hidup yang tidak sehat pada individu yang berasal dari keluarga dengan riwayat kemungkinan terjadinya hipertensi pada generasi berikutnya. Hal tersebut dapat diakibatkan, individu dengan riwayat hipertensi dalam keluarga cenderung mengadopsi pola hidup yang lebih tidak sehat, termasuk kurangnya aktivitas fisik dan pola makan yang buruk, yang memperparah risiko hipertensi . Namun demikian, menurut penelitian salah satu gen yang paling menonjol terkait dengan hipertensi adalah gen AngiotensinConverting Enzyme (ACE), khususnya polimorfisme I/D (Insertion/Deletio. Individu hipertensi yang membawa alel D dari gen ACE memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami hipertensi dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki riwayat keluarga hipertensi. Kehadiran alel ini dapat menyebabkan kadar angiotensin II yang lebih tinggi, yaitu vasokonstriktor yang kuat, sehingga meningkatkan tekanan darah . Selain gen ACE, gen ADD1 . juga telah dikaitkan dengan hipertensi, khususnya melalui polimorfisme https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 yang dikenal sebagai Gly460Trp. Varian ini telah dikaitkan dengan peningkatan risiko hipertensi esensial, khususnya pada hipertensi . Dari temuan di atas, peneliti mencoba menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat hipertensi dalam keluarga dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Talang Ratu Kota Palembang tahun 2025. Responden yang memiliki riwayat hipertensi keluarga memiliki risiko lebih besar untuk mengalami hipertensi. Temuan ini sejalan dengan teori dan sejumlah penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa riwayat hipertensi keluarga merupakan faktor predisposisi penting terhadap hipertensi, baik melalui faktor genetik seperti gen ACE dan ADD1, maupun melalui faktor lingkungan dan gaya hidup yang sering diturunkan dalam keluarga. Usia Sebagai Faktor/Variabel Paling Dominan dengan Kejadian Hipertensi Hasil analisis multivariat menunjukkan jika seorang merupakan lansia, obesitas, stres, dan disertai dengan riwayat hipertensi keluarga maka kemungkinan seseorang tersebut mengalami hipertensi adalah 98,4%. Bedasarkan empat variabel tersebut, variabel usia. = 0,. memiliki pengaruh paling kuat terhadap kejadian hipertensi, dengan nilai odds ratio (OR) sebesar 9,861, yang menunjukkan bahwa individu dengan usia lanjut memiliki kemungkinan 9,86 kali lebih besar untuk mengalami hipertensi dibandingkan dengan individu dewasa. Hasil penelitian ini sejalan dengan teori mengenai hubungan usia dengan kejadian hipertensi dimana risiko hipertensi akan semakin meningkat seiring bertambahnya usia. Hal ini dapat dikaitkan dengan perubahan fisiologis yang terjadi pada sistem kardiovaskular, terutama pada pembuluh darah. Dengan bertambahnya usia, dinding pembuluh darah menjadi kaku dan lumen pembuluh darah menyempit, yang menyebabkan peningkatan tahanan perifer dan pada akhirnya meningkatkan tekanan darah. Selain itu, penurunan elastisitas pembuluh darah dan perubahan dalam komponen matriks ekstraseluler seperti kolagen, baik dari aspek struktur maupun fungsi, berkontribusi pada perkembangan hipertensi . Secara molekular, beberapa mekanisme berperan dalam perkembangan hipertensi terkait usia. Salah satu perubahan utama adalah disfungsi endotel yang terjadi seiring bertambahnya usia. Endotel yang sehat berfungsi dalam pengaturan vasodilatasi melalui produksi molekul seperti nitrogen monoksida (NO), yang membantu menjaga fleksibilitas pembuluh darah. Namun, pada lansia, produksi NO menurun dan terjadi akumulasi reactive oxygen species (ROS), yang berkontribusi terhadap kerusakan endotel dan kekakuan arteri . Proses penuaan juga diiringi oleh inflamasi sistemik yang kronis. Tingkat pro inflamasi yang meningkat akibat faktor-faktor seperti gaya hidup tidak sehat, obesitas, dan polusi bertambahnya usia dapat memicu respon inflamasi dalam pembuluh darah. Aktivasi jalur koagulasi yang terkait dengan perubahan struktural pada dinding pembuluh darah, seperti penebalan dan sklerosis, yang semakin mengakibatkan Inflamasi disfungsi endotel dan meningkatkan permeabilitas vaskular, yang dalam jangka panjang berkontribusi pada perkembangan hipertensi . Hubungan antara penuaan dan hipertensi dipengaruhi oleh berbagai mekanisme molekuler, khususnya peran sitokin proinflamasi. Pada populasi lanjut usia, "inflammaging" menggambarkan keadaan peradangan kronis tingkat rendah yang membuat seseorang rentan terhadap beberapa kondisi kronis. Kondisi ini ditandai dengan https://jurnal. id/index. php/cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 peningkatan kadar berbagai sitokin proinflamasi seperti interleukin-6 (IL-. , interleukin-1 beta (IL-. , dan tumor necrosis factor-alpha (TNF-). Sitokin ini berperan penting dalam memediasi respons inflamasi dan berhubungan dengan patofisiologi hipertensi. Peningkatan kadar sitokin ini pada orang lanjut usia disebabkan oleh disregulasi sistem imun, yang menyebabkan remodeling vaskular dan kekakuan arteri. IL-6, misalnya, telah terbukti terlibat dalam mendorong disfungsi endotel, meningkatkan proliferasi sel otot polos vaskular, dan meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatik yang faktor-faktor terhadap peningkatan tekanan darah. Sitokin pro-inflamasi lain seperti TNF- juga berperan dalam meningkatkan produksi berbagai vasokonstriktor, seperti endothelin-1, dan dapat mengganggu bioavailabilitas oksida nitrat (NO) serta meningkatkan stres oksidatif yang berujung pada terjadinya peningkatan tekanan darah atau hipertensi . Ae. minimal 150 menit per minggu, serta menerapkan pola makan sehat dengan mengurangi konsumsi makanan cepat saji. Selain itu, kemampuan untuk mengelola stres secara adaptif dan kesadaran akan pentingnya mengetahui riwayat hipertensi dalam keluarga perlu ditingkatkan, sehingga dapat mendorong tindakan preventif yang lebih dini. Meskipun kebiasaan merokok tidak teridentifikasi sebagai faktor yang berhubungan langsung dengan hipertensi dalam konteks penelitian ini, masyarakat tetap sangat dianjurkan untuk menghindari kebiasaan merokok demi kesehatan dan kualitas hidup secara Pemanfaatan kesehatan oleh Puskesmas untuk skrining, konsultasi, dan edukasi juga merupakan langkah bijak dalam menjaga kesehatan. DAFTAR PUSTAKA WHO. Hypertension [Interne. ited 2025 Jun . Available from: https://w. int/newsroom/factsheets/detail/hypertension Pradono J. Kusumawardani N. Rika R. Hipertensi: Pembunuh Terselubung Di Indonesia. Indonesia: Badan Penelitian Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. 110 p. Melo P. Miranda D. Santos S. Sousa S. Cardoso T. Pereira A. Nursing Epidemiological Approach Hypertension Management in a Public Health Service from the Northern Region of Portugal. Healthcare. 2021 Jan 8. :59. Kementrian Kesehatan RI. Survei Kesehatan Indonesia. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. Jakarta. 261Ae274 p. KESIMPULAN Dalam penelitian ini didapatkan kesimpulan yaitu tidak ada hubungan antara jenis kelamin, kebiasaan merokok dengan kejadian hipertensi tetapi sebaliknya didapatkan hubungan antara usia, kegemukan, kurangnya aktivitas fisik, konsumsi makanan cepat saji, stres, hipertensi keluarga dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Talang Ratu Kota Palembang Faktor dominan yang paling mempengaruhi kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Talang Ratu Kota Palembang adalah usia SARAN