Pluralitas Orientasi Ideologi Muslim Klepu Sooko Ponorogo Kodifikasia DOI p-ISSN e-ISSN | 103 : Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 : 10. 21154/kodifikasia. : 1907-6371 : 2527-9254 PLURALITAS ORIENTASI IDEOLOGI MUSLIM KLEPU SOOKO PONOROGO Isnatin UlfahA. Luthfi Hadi AminuddinAA Abstract: Klepu, a beautiful village at the eastern tip of Ponorogo Regency, has long been known as a model of harmonization between followers of different religions: Islam and Catholicism. However, if we take a closer and deeper look within the Muslim community itself, it turns out that there is quite severe ideological This research succeeded in capturing this plurality and the reasons behind it. Using a phenomenological approach, this research found that the process of ideological plurality within Klepu Muslims, who initially practiced Javanese Islam and then became diverse ideologies, occurred because of the process of cultural hybridization and diffusion brought by the Indonesian Islamic Da'wah Council (DDII) to the Klepu community. The presence of DDII, which was then followed by other similar preacher groups such as Muhammadiyah, was not value-free. They brought Puritan culture with a spirit of purifying Islam to Klepu. Then, the culture is selected by society so that attitudes of acceptance and rejection emerge to varying degrees. At this stage, the plurality of Klepu Muslim ideology occurred: Some accepted it ultimately, so they became Puritans. Some accept some elements of Puritan culture and reject some, then enter into a dialogue with their culture to produce new cultural entities and ideologies. However, some resist the presence of this new culture and continue to carry out the culture they have been practicing all this time. Keywords: Klepu. Diffusion. Cultural Hybridization. Plurality of Ideology A Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, email: isnatinulfah74@iainponorogo. Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, email: luthfi72@iainpnorogo. Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Isnatin Ulfah. Lutfi Hadi Aminuddin Abstrak: Klepu sebuah desa yang indah di ujung timur Kabupaten Ponorogo selama ini dikenal menjadi model harmonisasi antar pemeluk agama yang berbeda: Islam dan Katolik. Namun jika dioptik lebih dekat dan mendalam, dalam internal komunitas muslim sendiri, ternyata terjadi pluralitas ideologi yang cukup serius. Penelitian ini berhasil memotret adanya pluralitas tersebut berikut hal hal yang melatarbelakanginya. Menggunakan pendekatan fenomenologi, penelitian ini menemukan bahwa proses pluralitas ideologi di internal muslim Klepu yang semula mempraktikkan Islam Jawa kemudian menjadi beragam ideologi, terjadi karena proses hibridasi dan difusi budaya yang dibawa oleh Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) ke masyarakat Klepu. Kehadiran DDII yang kemudian disusul kelompok pendakwah lain sejenis seperti Muhammadiyah tidaklah bebas nilai. Mereka membawa budaya puritan dengan semangat memurnikan Islam di Klepu. Kemudian budaya itu diseleksi oleh masyarakat sehingga muncul sikap menerima dan menolak dengan derajat yang beragam. Pada tahap inilah pluralitas ideologi muslim Klepu terjadi: Ada yang menerima sepenuhnya sehingga mereka menjadi puritan. Ada juga yang menerima sebagian unsur budaya puritan tersebut dan menolak sebagiannya, lalu mendialogkan dengan budaya mereka sendiri sehingga menghasilkan entitas budaya dan ideologi baru. Tetapi ada juga yang resisten dengan kehadiran budaya baru tersebut, dan tetap menjalankan budaya yang sudah mereka praktikkan selama ini. Kata Kunci: Klepu. Difusi. Hibridisasi Budaya. Pluralitas Ideologi. PENDAHULUAN Membincang keragaman keagamaan yang penuh toleransi dan harmoni, sejak tahun 1960an. Klepu menjadi cermin toleransi yang sangat tinggi antara umat Islam dan Katolik. Toleransi itu terwujud karena mereka memiliki identitas yang sama, sama-sama sebagai orang Jawa. Berislam dengan karakter Jawa ini kemudian diidentifikasi oleh masyarakat sebagai Islam abangan yaitu berislam yang banyak bercampur dengan budaya dan ajaran Jawa. Mereka menjalankan syariat Islam tapi hanya kulit luarnya saja, sementara yang mereka praktikkan secara mendalam adalah ajaran Jawa atau kejawaan. 1 Sebagaimana digambarkan Geertz bahwa Islam bagi kalangan ini hanya sebuah kulit luar yang tidak memengaruhi apapun dalam orientasi kesadaran dan hidupnya. Geertz menyebutnya dengan istilah abangan yaitu orang-orang Islam yang lapisan terdalam batinnya adalah ajaran-ajaran Jawa. Clifford Geertz, the Religion of Java (New York: the Free Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Pluralitas Orientasi Ideologi Muslim Klepu Sooko Ponorogo | 105 Tetapi harmoni dan keseimbangan ikatan sosial tersebut saat ini mulai hilang. Jawa yang menjadi faktor penting harmoni tersebut mendapat tantangan dari kelompok pendatang yaitu Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII). Dengan semangat purifikasi. DDII mengedukasi masyarakat Klepu bahwa aktivitas kejawaan mereka tidak sesuai dengan akidah dan hukum Islam. Tidak hanya karakter guyub-rukun di antara pemeluk beda agama yang hilang, kehadiran DDII juga melahirkan ketegangan di antara sesama muslim, antara penganut Islam kejawaan yang tetap setia mempraktikkan selametan, brokohan, dan berbagai ritus popular lainnya dengan umat Islam yang sudah teredukasi ajaran DDII yang menganggap ritus-ritus tersebut sebagai bidAoah yang harus dibersihkan. 2 Tidak hanya itu, pada perkembangannya kehadiran DDII di Klepu juga menyebabkan ketegagangan sesama muslim di Klepu yang berlanjut hingga terjadinya pluralitas orientasi ideologi umat Islam. Pluralitas itu dapat didentifikasi dari aktivitas keagamaan, masjid-masjid yang mereka dirikan, dan organisasi keagamaan yang mereka ikuti. Kajian khusus tentang Klepu Kecamatan Sooko Kabupaten Ponorogo, seringkali mengulas harmoni dan toleransi yang terjalin antara umat Islam dan Katolik. Klepu menjadi model hubungan yang harmonis, inklusif, dan toleran antaraumat beragama. Di antara penelitian yang mengupas hal tersebut adalah penelitian Ahmad Zainul Hamdi,3 Alvi Choiru MurfiAoah,4 Marwan Shalahuddin,5 dan Masduki. 6 Ternyata harmoni tersebut saat ini goyah. Kehidupan sosial yang inklusif tanpa mempersoalkan identitas agama, hari ini sudah berubah. Ada batas antara Islam dan Katolik dalam kehidupan sosial yang semula tidak berbatas, bahkan di intern umat Islam sendiri. Ditengarai, kehadiran pendakwah dari Press, 1. , 5. Hamdi menyebut mereka sebagai Islam marmoyo atau Islam yang tidak Di KTP agama mereka tertulis Islam, tapi syariat dan hukum Islam tidak dijalankan dengan serius. Ahmad Zainul Hamdi. Beragam Agama. Satu Jawa: Ketenangan dan Ketegangan dalam Hubungan Islam Katolik di Klepu Ponorogo (Jurnal IstiqroAo. Vol 08. No 1, 2. , 6. 2 Isnatin Ulfah. Harmoni yang Terusik: Pengalaman Muslim Klepu Menjaga Harmoni dari Ekspansi Fundamentalisme Islam (Ponorogo: STAIN Ponorogo Press, 2. , 62-64. Ahmad Luthfi. AuPraktik-Praktik Kebenaran Agama: Analisis Kontestasi Komunitas Muslim di Hadapan Katolik di Ponorogo,Ay Masyarakat dan Budaya. Vol 1. No. , 18. 3 Ahmad Zainul Hamdi. Beragam Agama. Satu Jawa: Ketenangan dan Ketegangan dalam Hubungan Islam Katolik di Klepu Ponorogo (Jurnal IstiqroAo. Vol 08. No 1, 2. 4 Alvi Choiru MurfiAoah. AuPeran Tokoh Masyarakat dalam Membangun Toleransi Antar Umat Beragama Desa Klepu Kecamatan Sooko Kabupaten Ponorogo,Ay Skripsi (Ponorogo: Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, 2. 5 Marwan Shalahuddin. AuKonservasi Budaya Lokal dalam Pembentukan Harmoni SosialAy. Jurnal Harmoni. Vol 09. No. 6 Masduki. AuToleransi di Masyarakat Plural Berbasis Budaya LokalAy (Studi Kasus di Desa Klepu Kec. Sooko Kab. Ponorog. Jurnal Sosial Budaya. No. No. Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Isnatin Ulfah. Lutfi Hadi Aminuddin luar telah mengusik harmonisasi tersebut. Penelitian tentang Klepu yang mengulas sisi tersebut hanya ditemukan tiga karya yaitu penelitian Ahmad Zainul Hamdi yang mengupas ketegangan dan konflik antara muslim Jawa dan muslim puritan Klepu dan faktor-faktor yang menjadi pemicu konflik tersebut,7 dan karya Isnatin Ulfah yang menyimpulkan pascamasuknya kelompok fundamentalisme Islam di Klepu, muslim Klepu terpecah menjadi Muslim Klepu yang masih setia dengan ajaran Islam Jawa dan muslim Klepu yang berkonversi menjadi puritan. Banyak ketegangan yang terjadi di antara mereka, terutama terkait pelaksanaan ritual ibadah dan ritus-ritus budaya. 8 Selain itu, ditemukan juga penelitian Ahmad Lutfi, yang mengungkap realitas kontestasi antara Muslim dan Katolik di Klepu, hingga di ranah politik. Penelitian Lutfi menyinggung adanya varian Muslim Klepu yang bisa dilihat dari organisasinya yaitu Muhammadiyah. NU. DDII, dan Salafiyah Jaulah. Organisasi-organisasi itu disatukan oleh Forum TaAomir Masjid dalam rangka pemberdayaan umat Islam di hadapan Katolik. Baik penelitian Hamdi. Ulfah, maupun Lutfi menunjukkan sudah terjadi pluralitas orientasi ideologi keagamaan di intern Muslim Klepu, tetapi data-data yang dipaparkan masih sangat awal. Menarik untuk diteliti lebih lanjut tentang proses pluralitas orientasi ideologi keagamaan Muslim Klepu tersebut dan bagaimana pluralitas orientasi ideologi tersebut terjadi, sehingga dapat dipastikan penelitian ini berbeda dengan kajian tentang Klepu yang sudah dilakukan para peneliti sebelumnya. Untuk menjawab persoalan tersebut, penelitian ini didesain menggunakan penelitian lapangan . ield researc. , yang menggunakan jenis penelitian kualitatif. Adapun kerangka teori yang digunakan adalah teori difusi dan hibrida untuk melihat proses penyebaran budaya dari individu ke individu lain maupun masyarakat, dan silang budaya antar individu dan Adapun perangkat analisis yang digunakan adalah pendekatan fenomologi, antropologi, serta kontinuitas dan diskontinuitas. Dua pendekatan pertama dimanfaatkan untuk memotret kehidupan di masyarakat Klepu menurut pandangan mereka. Adapun yang terakhir digunakan untuk menganalisis dinamika keagamaan yang menyebabkan 7 Ahmad Zainul Hamdi. AuTragedi Kabel Mik: Sepenggal Kisah Perseteruan Islam Pribumi dan Islam Puritan di Klepu Ponorogo,Ay dalam Alamsyah. DjaAofar . Agama dan Pergeseran Representasi: Konflik dan Rekonsiliasi di Indonesia (Jakarta: The Wahid Institute, 8 Isnatin Ulfah. Harmoni yang Terusik: Upaya Muslim Klepu Mempertahankan Harmoni dari Penetrasi Fundamentalisme Islam di Klepu Ponorogo. (Ponorogo: STAIN Ponorogo Press, 9 Ahmad Luthfi. AuPraktik-Praktik Kebenaran Agama: Analisis Kontestasi Komunitas Muslim di Hadapan Katolik di Ponorogo,Ay Masyarakat dan Budaya. Vol 1. No. Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Pluralitas Orientasi Ideologi Muslim Klepu Sooko Ponorogo | 107 pluralitas ideologi muslim Klepu. PEMBAHASAN Difusi dan Hibrida: Teori Penyebaran dan Perubahan Budaya Difusi secara definitif adalah proses pada penyebaran unsur budaya dari individu ke individu lainnya, dari masyarakat ke masyarakat lainnya. Dengan difusi, penemuan baru yang diterima oleh masyarakat meniscayakan untuk dapat disebarluaskan kepada masyarakat luas. Proses ini merupakan pendorong tumbuhnya suatu budaya dan memperkaya budaya masyarakat manusia. 10 Dalam difusi, terdapat sebaran berbagai ide dari masyarakat satu ke masyarakat yang lainnya, tetapi hanya sebagian yang diadaptasi oleh mereka. Bagian yang digunakan atau sebaliknya ditolak, bergantung pada potensi, jumlah, serta pengulangannya. Tetapi juga dapat tergantung pada kebutuhan, kepentingan, dan penyerapan sistem yang menerima bagian tersebut. Adapun penolakan anggota masyarakat terhadap unsur-unsur atau bagian-bagian budaya disebabkan penerima merasa tidak cocok dari penetrasi budaya baru tersebut. Sztompka menggambarkan tahapan difusi budaya dan perubahan sosial sebagai berikut: Pada tahap awal, budaya baru yang telah menyebar melalui difusi adalah milik pribadi dan belum jadi milik kolektif yang dikenal secara luas. Tatkala kebudayaan baru itu mulai dikenal secara umum, hal demikian tidak berarti akan segara timbul dampak sosial, melainkan ada penyaringan atas budaya baru tersebut. Dengan kata lain, ada penerimaan maupun penolakan. Sehingga, jika terdapat komunitas yang lebih kuat menerima, maka akan terjadi penyebaran kebudayaan lebih luas serta diikuti proses penyeimbangan budaya baru tersebut. Pada tahap akhir, budaya baru tersebut mendapat legitimasi dari masyarakat secara luas, dengan begitu maka akan terjadi perubahan sosial di masyarakat Sedangkan Rizal menyebutkan terdapat peristiwa penting dalam proses difus, yaitu: . ketika sesorang belajar mengenal budaya baru, . ketika seseorang mulai menerima budaya baru, . ketika seseorang melakukan interaksi bersama orang lain di dalam jaringan sosial. 13 Ketiga 10 Ralph Linton. The Study of Man (New York: Applenton Century Crofts Inc, 1. , 11 Soerjono Soekanto. Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1. , 362. 12 Piotr Sztompka. Sosiologi Perubahan Sosial Budaya, ter. Alimandan (Jakarta: Prenada Media, 2. , 300. 13 Fahrul Rizal. AuPenerapan Teori Difusi Inovasi Perubahan Sosial BudayaAy. Jurnal Hikmah. Vol. VI. No. Januari 2. , 132. Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Isnatin Ulfah. Lutfi Hadi Aminuddin proses difusi tersebut dapat menimbulkan proses perubahan yang lancar, sebab difusi memperkaya dan menambah unsur budaya, yang seringkali menuntut perubahan pranata sosial masyarakat, atau bahkan penggantian pranata sosial lama dengan yang baru. Penelitian ini juga menggunakan teori hibridisasi budaya. Jika difusi budaya merupakan proses penyebaran budaya lama kepada komunitas baru hingga menyebabkan perubahan sosial, maka teori hibridisasi budaya dari Bhabha menjelaskan lahirnya budaya baru, yang lahir dari perkawinan antara budaya yang dibawa oleh colonizer . dan colonized . Kehadiran budaya baru tersebut menguji legitimasi identitas budaya lokal yang sudah mengakar. Bhabha juga menjelaskan bahwa hibridisasi dibangun dalam istilah third space karena adanya cultural adoption yang berdampak pada munculnya pencampuran budaya sebagai budaya baru. Bhabha memandang, postkolonialitaslah yang telah menciptakan kebudayaan melalui praktik hibrid sekaligus menciptakan agenda resistensi serta negosiasi baru yang dimiliki kelompok orang di dalam hubungan sosial dan politiknya. 16 Selain itu, hibriditas juga digunakan sebagai alat di dalam memahami perubahan budaya melalui pemutusan strategis maupun stabilisasi temporer suatu budaya. Keberagamaan Masyarakat Klepu Mengunjungi Klepu, satu dari 307 desa yang ada di Ponorogo, harus melalui jalanan menanjak dan berkelok khas pegunungan sejak meninggalkan Kecamatan Pulung. Sepanjang perjalanan, kita disuguhi hamparan sawah bertingkat, sungai berbatu, jurang di kanan kiri jalan, dan juga hutan pinus. Klepu memang merupakan salah satu wilayah dataran tinggi di Ponorogo yang berada di ketinggian 382 M di atas permukaan laut. Berjarak sekitar 30 KM dari pusat Kota Ponorogo. Klepu secara geografis terletak di ujung timur Kabupaten Ponorogo, berbatasan dengan Kabupaten Trenggalek. Desa ini berada di ujung lereng barat daya pegunungan Wilis, terpencil terkurung lembah perbukitan. Sebagai desa yang berada di wilayah pegunungan. Klepu memiliki sumber daya alam yang indah. Tidak mengherankan jika Klepu menjadi salah satu destinasi wisata Kabupaten Ponorogo. Destinasi yang poluper di Klepu adalah Gua Maria Fatimah, destinasi wisata religi yang terletak di Dusun Klepu Desa Klepu. Gua ini memiliki keunikan di samping karena 14 Ibid. , 363. 15 Dyah Ayu Wiwid Sintowoko. AuHibridisasi Budaya: Studi Kasus Dua Drama Korea Tahun 2018-2020Ay. ProTVF. Volume 5. No. 2, . , 276. 16 Homi Bhabha. The Location of Culture (London and New York: Routledge, 1. Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Pluralitas Orientasi Ideologi Muslim Klepu Sooko Ponorogo | 109 lokasinya sangat indah yang berada di lereng gunung dan hutan pinus, juga terdapat patung Maria setinggi 5 M. Patung ini di bangun di atas kolam bermata air atau sendang yang oleh masyarakat setempat mata air dinamai Sendang Waluyojatiningsih. Oleh karena itu gua tersebut lebih populer dengan nama Gua Maria Fatimah Sendang Waluyojatiningsih. Gua dan patung Maria di Klepu ini merupakan tempat peziarahan terbesar kedua di Jawa Timur setelah Gua Maria di Puhsarang di Kediri. Keberadaan Gua Maria Fatima inilah yang menjadikan Klepu, meskipun desa kecil yang terpencil, dikenal banyak kalangan terutama bagi para peziarah Katolik dari berbagai daerah. Keberadaan Gua Maria di Klepu menunjukkan bahwa di Klepu terdapat komunitas Katolik. Jumlah mereka tidak sedikit. Menurut data statistik Kecamatan Sooko Ponorogo 2018, jumlah umat Katolik di Klepu merupakan yang terbanyak di Kecamatan Sooko. 17 Adapun jumlah penduduk Klepu pada tahun 2019 adalah 2. 939 jiwa dengan penganut agama Islam 1. 931 jiwa . ,8%). Katolik 1. 004 jiwa . ,1%), dan Kristen 4 jiwa . %). 18 Mereka hidup berdampingan dalam satu lingkungan. Bahkan, di Klepu bisa dijumpai satu keluarga yang menganut agama berbeda. Meskipun jumlah keluarga beda agama tersebut tidak banyak, tetapi fenomena tersebut menjadi keunikan dan kekhasan tersendiri di Klepu sehingga Klepu sering diperbincangkan dari sisi kehidupan beragama dan relasi sosial masyarakatnya. Hingga hari ini, membicarakan Klepu tidak bisa dilepaskan dari issue toleransi beragama antara umat Islam. Katolik, dan Kristen. Klepu, desa kecil di ujung timur Ponorogo itu, bahkan menjadi perbincangan internasional terkait upaya warganya mengelola kehidupan yang toleran dan harmonis di tengah perbedaan keyakinan beragama yang mereka anut. Hampir semua penelitan yang menjadikan Klepu sebagai obyek, fokus mereka adalah sisi toleransi dan harmoni. Keberadaan dua agama dengan jumlah pemeluk yang sama-sama besar, menjadi magnet tersendiri bagi para peneliti. Ada rentetan sejarah yang panjang hingga masyarakat Klepu mengenal dan memeluk agama yang berbeda tersebut. Secara historis Ada enam desa di Kematan Sooko yaitu Desa Ngadirejo dengan jumlah penduduk beragama Islam 4. 621 jiwa dan Katolik 1 jiwa. Desa Klepu penduduk beragama Islam 1. 696 jiwa. Katolik 898 jiwa, dan Protestan 5 jiwa. Desa Suru yang beragama Islam 458 jiwa. Katolik 7 jiwa, dan Protestan 4 Jiwa. Desa Sooko yang baragama Islam 3. Katolik 6 jiwa. Protestan 5 Jiwa. Desa Bedoho. Islam 3. 009 jiwa dan Katolik 3 jiwa. Desa Jurug. Islam 6. 383 jiwa. Katolik 45 jiwa, dan Protestan 7 jiwa. Badan Pusat Statistik. Kecamatan Sooko dalam Angka 2019 (Ponorogo: BPS Kabupaten Ponorogo, 2. , 17. 18 Profil Desa Klepu tahun 2019 Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Isnatin Ulfah. Lutfi Hadi Aminuddin perkembangan agama di Klepu dapat dibagi menjadi tiga periode. Pertama, periode sebelum tahun 1965 atau sebelum meletusnya tragedi G30S/PKI. Kedua, periode saat peristiwa G30S/PKI. Ketiga, periode masuknya dakwah Islam hingga hari ini. Agama di Klepu Sebelum Tahun 1965 Sebelum tahun 1965, awalnya penduduk Klepu seratus persen memeluk agama Islam meskipun mereka mayoritas adalah muslim awam atau abangan yaitu mereka yang tidak serius bahkan tidak mengenal ajaran agama Islam dengan benar. 19Abangan juga menggambarkan keberagamaan umat Islam yang hanya di lapisan kulit terluarnya saja, yang ditandai dengan identitas administrasi Kartu Tanda Penduduk, sementara hakikat dan ajaran agamanya mereka tidak faham. Sebagian dari kita menyebut mereka dengan Islam KTP karena keislaman mereka hanya ditandai dengan identitas administratif tersebut, sementara secara syariat dapat dipastikan mereka tidak menjalankannya. Untuk konteks Klepu, mereka sudah dianggap sebagai muslim hanya karena saat masih kanak-kanak mereka disunat . dan saat menikah harus mengucapkan syahadat, meskipun pembacaan syahadat itu harus dituntun oleh penghulu karena mereka tidak hafal. Kondisi abangan tersebut digambarkan oleh Mbah Mustakim, yang merupakan sesepuh dan tokoh Islam utama di Klepu. Mustakim termasuk generasi awal yang menjalankan Islam dengan taat. Menurutnya, saat itu hanya segelintir saja umat Islam yang menjalankan syariat Islam termasuk dirinya. Pada umumnya mereka tidak bisa sholat, juga tidak menjalankan puasa. Karena tidak ada yang bisa sholat, ketika dirinya sholat di masjid menjadi tontonan Sebagian menonton karena ingin mengetahui bagaimana itu tatacara sholat, sebagian nonton orang sholat karena heran lagi nyapo kuwi?Kalau ditanya agamanya apa, mereka menjawab agamanya Islam, tapi yang mereka jalankan ajaran-ajaran Jawa. Kalau Islamnya sendiri malah tidak Hal itu menimbulkan pertanyaan peneliti, apakah saat itu tidak ada dakwah Islam di Klepu? Mendapat pertanyan tersebut Mustakim menyatakan, sebetulnya sudah ada upaya dakwah untuk memperkenalkan dan mengajarkan syariat Islam, tetapi karena tenaga dakwahnya terbatas 19 Lihat Imam Tholkhah. Anatomi Konflik Politik di Indonesia: Belajar dari Ketegangan Politik Varian di Madukoro (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2. , 121. Tholkhah mengkontraskan kelompok ini dengan kelompok Muslim taat, kelompok jamaAoah, atau 20 Mustakim. Wawancara, 29 September 2020. Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Pluralitas Orientasi Ideologi Muslim Klepu Sooko Ponorogo | 111 sehingga hasilnya tidak maksimal. Terkait dakwah Islam di Klepu. Mbah Salam salah satu muslim generasi awal di Klepu sebagaimana Mustakim menuturkan sebetulnya Islam di Klepu mulai tumbuh pada zaman Belanda di Lingkungan Ledok. Dusun Ngapak. Klepu. Di sana ada tokoh Islam yang bernama Mbah Soeleman. Dialah tokoh pertama yang memperkenalkan dan mengajarkan Islam di Ledok. Mbah Soeleman juga membangun masjid di Ledok dan satusatunya di Klepu. Setelah Mbah Soeleman meninggal, upaya menyebarkan Islam dilanjutkan menantunya yaitu Mbah Kurdi. Di masjid peninggalan ayah mertuanya tersebut. Mbah Kurdi menyebarkan ajaran Islam, menjadi imam sholat, mengajar ngaji al-Quran dan tata cara ibadah seperti sholat. Mbah Kurdi juga menguasai bacaan-bacaan tahlil, sehingga kalau ada warga yang meninggal. Mbah Kurdi selalu diminta warga untuk membacakan tahlil untuk keluarganya yang meninggal. Sayangnya, usaha Mbah Kurdi mengajarkan Islam ini tidak terlalu berhasil. Islam tidak mengalami Umat Islam yang benar-benar mau dan bisa menjalankan ajaran Islam tidak pernah bertambah, hanya lima hingga enam orang saja. Hal ini bisa dilihat dari jumlah jamaah yang aktif sholat di masjid. Selebihnya adalah umat Islam yang abangan. Hingga awal tahun 1960an, usaha mengembangankan Islam dilanjutkan oleh Salam dan Mustakim yang merupakan santri-santri Mbah Kurdi. Tentu saja perjuangan mereka sangat berat karena mengembangkan Islam pada tahun-tahun tersebut berhadapan dengan dua tantangan sekaligus, budaya abangan yang kental dan politik perangkat desa yang berafiliasi ke Patai Nasional Indonesia (PNI). PNI pada masa itu tidak suka dengan kegiatan-kegiatan keagamaan yang diadakan komunitas muslim. Berbarengan dengan itu. Partai Komunis Indonesia (PKI) yang secara nasional sedang berjaya, juga mengembangkan sayapnya hingga ke desadesa pelosok. Kaum Abangan inilah yang menjadi sasaran empuk PKI untuk menjadi simpatisannya, tak terkecuali abangan Klepu, sehingga perjuangan mengembangkan Islam di Klepu mendapat tantangan yang tidak ringan, bahkan bisa dikatakan berhenti. Tragedi PKI 1965 dan Perkembangan Agama di Klepu Kondisi berislam masyarakat Klepu sebagaimana digambarkan di atas terus berlangsung hingga pecahnya tragedi G30S/PKI di tahun 1965. Peristiwa kelam tersebut juga meyentuh kehidupan masyarakat Klepu, bahkan mengubah kehidupan beragama mereka. Sebagaimana dijelaskan 21 Ibid. 22 Salam Hayat. Wawancara, 29 Agustus 2020 Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Isnatin Ulfah. Lutfi Hadi Aminuddin sebelumnya, sebelum tahun 1965 masyarakat Klepu dapat dipastikan seratus persen beragama Islam meskipun Islam yang abangan. Nyatanya Islam abangan itulah yang menjadi sasaran empuk PKI mencari dukungan. Sebagian besar dari mereka akhirnya menjadi simpatisan maupun anggota partai komunis tersebut. Kegagalan PKI melakukan kudeta yang diikuti massifnya gerakan antikomunis dalam bentuk pembasmian terhadap para pendukung PKI, memaksa para simpatisan PKI di Klepu menyelamatkan diri. Sebagai upaya menyelamatkan diri, tidak sedikit mereka yang semula PKI kemudian masuk PNI sebuah afiliasi politik yang memang identik dengan kaum abangan. Adalah kepala desa Soemakoen, seorang simpatisan PNI yang berusaha mengajak warganya yang banyak menjadi pengikut PKI untuk beralih ke PNI. Sayangnya, menjadi PNI ternyata belum aman karena PNI dalam banyak keadaan disamakan dengan PKI. Di sisi lain sebagai upaya untuk menekan PKI. Orde Baru pada tahun 1966 mengeluarkan aturan bahwa ateisme dilarang dan mengharuskan setiap warga Indonesia memeluk satu dari lima agama yang diakui pemerintah. Perkembangan politik inilah yang kemudian membuat Soemakoen mengambil keputusan untuk beragama Katolik. Konversi Soemakoen ke dalam agama Katolik kemudian diikuti oleh hampir semua perangkat desa, begitu juga dengan sebagian masyarakat Klepu. Berdasarkan informasi dari berbagai informan, dapat dipetakan ada empat faktor yang menjadi pertimbangan warga Klepu berkonversi ke Katolik. Pertama, faktor politik sebagaimana dipaparkan di atas. Kedua, faktor kesulitan dalam menjalankan syariat Islam. Sementara beribadah secara Katolik bagi mereka sangat mudah, tidak rumit, dan tidak banyak Selain itu ajaran dan peribadatannya dapat dilakukan dengan bahasa mereka sendiri yaitu Bahasa Jawa, bukan Bahasa Arab. 24 Ketiga, faktor ekonomi dan kemiskinan. Sebagaimana dituturkan Soepodo. AuMasyarakat sini pada tahun 1960an akhir orang miskin semua, yang memberi makan dan memberi pekerjaan orang Katolik termasuk kepala 23 Tentang ketakutan umat masyarakat dianggap PKI juga diamini oleh Soepodo, mantan ketua Muhammdiyah Ranting Kuniran Atas. Menurutnya pada tahun 1965, kasus PKI, masyarakat ketakutan dianggap PKI. Karena kepala desanya Katolik, banyak warga yang ikut Katolik karena warga takut kalau tidak mengikuti pamong. Termasuk mbah-mbah saya dulu juga katolik. Soepodo. Wawancara, 13 September 2020. 24 Tarmi. Wawancara, 6 Oktober 2020. Tarmi adalah salah satu pemeluk Katolik di Desa Klepu. Perempuan berusia 75 tahun tersebut mengaku berusia 20an ketika berkonversi dari Islam menjadi Katolik. Dia mengakui alasan dia berkonversi menjadi Katolik karena faktor kemudahan dalam menjalankan ibadah dalam Katolik. Hal yang sama dilakukan oleh keluarganya. Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Pluralitas Orientasi Ideologi Muslim Klepu Sooko Ponorogo | 113 desa Pak Soemakun. Orang miskin diberi pekerjaan, itu yang menyebabkan banyak yang pindah masuk Katolik. Ay25 Keempat citra positif orang Katolik. Gerakan pembersihan terhadap pendukung PKI yang dilakukan dengan cara kekerasan oleh kelompok antikomunis terutama oleh pemuda-pemuda Islam, telah menimbulkan trauma bagi para pendukung PKI terhadap Islam. 26 Di sisi lain, mereka melihat keramahan umat Katolik yang meskipun mereka juga menolak komunis tetapi tidak dilakukan dengan kekerasan. Citra positif yang ditunjukkan orangorang Katolik tersebut, telah berkontribusi terhadap pilihan para pendukung komunis untuk berkonversi ke Katolik, dibanding tetap menjadi Muslim. Pernyataan para informan di atas sangat relevan dengan penelitian Martati Ins. Kumaat yang dikutip oleh Amos Sukamto. Menurut Kumaat terdapat bermacam-macam faktor yang mendorong mereka untuk berkonversi ke Katolik. Pertama, sebagai akibat ketakutan, mereka mencari perlindungan supaya tidak dituduh/diindikasi dengan partai terlarang. Kedua. Karena dipaksa mengaji dalam rangka P3A (Pilot Projek Pembinaan Mental Agam. , karena mereka tidak bisa mengaji. Ketiga, tertarik akan cara hidup orang Kristen atau hasil pendidikan Kristen di sekolahsekolah. Konversi masyarakat Klepu ke Katolik, direspon dengan cepat oleh Paroki St. Cornelius Madiun. Awal tahun 1967. Sebastiano Fornasari salah seorang romo dari Paroki St. Cornelius Madiun, datang ke Klepu untuk menemui kepala desa dan memastikan isu konversi masyarakat Klepu ke Katolik. Selanjutnya bersama kepala desa. Fornasi merintis kegiatan keagamaan seperti belajar agama dan peribadatan Katolik di Klepu, dengan meminjam rumah Parto SentikoAiayah kepala desaAisebagai tempat Ternyata aktivitas tersebut mendapat respon hangat dari masyarakat karena beribadah dalam agama Katolik bagi masyarakat Klepu sangat mudah dipelajari dan diikuti sehingga banyak warga yang tertarik. Tidak butuh waktu lama jumlah penganut Katolik terus bertambah hingga 25 Ibid. 26 Menurut Karsih, pada saat terjadi pembersihan terhadap para pengikut PKI, yang paling keras berhadapan dengan orang-orang PKI adalah pemuda-pemuda KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesi. Untuk menyelamatkan diri dari gerakan pembersihan yang dilakukan KAMMI itu, masyarakat yang abangan ada yang berlindung di masjid. Setiap sholat lima waktu dipenuhi jamaah yang sebetulnya mereka adalah PKI yang menyelamatkan diri. Sebagian lainnya memilih menjadi Katolik. Karsih. Wawancara, 29 Agustus 2020. 27 Amos Sukamto. AuImpacts of the Religious Polices Enacted from 1965 to1980 on Christianity in IndonesiaAy. Mission Studies. Vol. 36 (Juli 2. , 67-68. Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Isnatin Ulfah. Lutfi Hadi Aminuddin rumah Sentiko tidak lagi memadai. Kegiatan keagamaan orang-orang Katolik di Klepu akhirnya dipusatkan di sebuah kapel di Dusun Dalangan Desa Sombro, 3 KM utara Klepu, yang disewa dari rumah Soeran. Perkembangan pengikut Katolik terus meningkat, hanya berselang setahun dari kehadiran Katolik di Klepu, pada tanggal 8 Desember 1968 kapel Dalangan berhasil mengadakan pembatisan massal bagi masyarakat sekecamatan Sooko yang berkonversi ke Katolik. Ada 853 orang yang dibaptis saat itu dan yang menarik, menurut pengakuan Agus Wibowo, separuhnya atau 400an orang yang dibaptis adalah warga Klepu. Merespon antusiasme umat Katolik Klepu, pasca pembaptisan, paroki Madiun mengirim seorang katekisAiguru agamaAi untuk mendakwahkan dan mengajarkan Katolik di Klepu. Sukardi adalah katekis pertama di Klepu, setelah itu dilajutkan oleh Mario Allimin, berikutnya Karmin yang bertugas bersama JE. Sugiyanto, dan seterusnya hingga sekarang. Selain katekis, pelayanan pastoral atau imam dari Madiun juga rutin diberikan. Beberapa imam yang pernah bertugas dalam pengembangan Katolik di Klepu adalah Rm. Sebastiano Fornasi. CM. Rm. Silavano Ponticelli. CM. , dan Untuk memudahkan peribadatan dan aktivitas keagamaan umat di Klepu, pada tahun 1969 paroki Madiun membeli rumah milik Mbah Gandul di Dusun Bedoho Klepu untuk dijadikan kapel. Umat Katolik Klepu terus bertambah sehingga tidak memungkin mereka beribadah dalam sebuah kapel yang kecil. Belum lagi umat Katolik di sekitar Klepu yang juga beribadah di kapel Klepu. Hal itu mendorong para tokoh Katolik Klepu untuk sesegera mungkin mendirikan gereja di Klepu. Dengan dukungan kepala desa beserta aparatnya, setahun kemudian yaitu pada tahun 1970 di atas tanah wakaf kepala desa Soemakoen di Dusun Jogorejo dibangunlah gereja yang diberi nama Sakramen Gereja Maha Kudus. Gereja ini sangat megah untuk ukuran bangunan yang ada di desa karena sanggup menampung kurang lebih seribu jamaat. Sejak itu. Klepu menjadi pusat Katolik di Kecamatan Sooko. Pembangunan gereja di Klepu, menurut penuturan Karsih, selain mendapat dukungan dari seluruh aparat desa, terutama kepala desa yang menyumbangkan tanahnya, juga mendapat sokongan dana dari luar Tanah wakaf kepala desa itu terletak di Dusun Jogorejo Klepu. Pembangunan gereja akhirnya terwujud dengan bantuan Rm. Ponticelli dan Rm. Carlo dari Paroki Madiun, yang dananya langsung dari Vatikan. Dua 28 Agus Wibowo. Wawancara, 6 Oktober 2020 29 Ibid. 30 Ibid. Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Pluralitas Orientasi Ideologi Muslim Klepu Sooko Ponorogo | 115 orang pastor inilah yang membesarkan Katolik di Klepu hingga tahun 26 Berdasarkan tuturan Karsih tersebut dapat disimpulkan bahwa perkembangan Katolik di Klepu tidak bisa dilepaskan dari peran para romo yang pernah ditugaskan di Klepu. Hampir semua romo di awal kehadiran Katolik di Klepu adalah para pastor dari Vatikan, yang merupakan pusatnya Katolik. Tidak mengherankan jika mereka mempunyai strategi yang mumpuni dalam mendakwahkan Katolik bagi masyarakat awam di Klepu, sehingga dalam waktu yang relatif singkat Katolik di desa kecil ujung timur Ponorogo itu berkembang pesat. Selain gereja, yang juga menjadi simbol esistensi dan kebesaran Katolik di Klepu adalah keberadaan Gua Maria Fatima Sendang Waluya Jatiningsih. Sebagaimana dipaparkan sebelumnya, gua ini menjadi destinasi wisata religi di Ponorogo karena selalu dikunjungi para peziarah Katolik dari berbagai daerah. Letaknya yang berada di lereng gunung dan hutan pinus, menjadi daya tarik tersendiri karena keindahannya. Eksisnya Katolik di Klepu juga dibarengi dengan meningkatnya taraf ekonomi dan kehidupan para pemeluknya. Hal itu karena Katolik memiliki lembaga filantropi Dewan Pastoral Paroki (DPP) di Klepu yang membangun dan memberdayakan ekonomi umat Katolik, bahkan masyarakat Klepu yang beragama Islam. Selain itu, di bawah kepemimpinan kepala desa Soemakoen dan hampir seluruh perangkat desa yang Katolik, umat Katolik Klepu mendapat dukungan penuh sehingga tidak mengherankan jika Katolik berkembang sangat pesat. Kondisi Katolik di Klepu yang semakin kuat tidak berbanding dengan kondisi Islam. Pasca tragedi PKI 1965 dan negara diambil alih penguasa Orde Baru, kondisi Muslim Klepu sangat memprihatinkan. Secara ekonomi mereka miskin, secara agama mereka masih abangan, dan secara politik mereka marginal. Gambaran tentang marginalisasi politik umat Islam Klepu secara umum sebetulnya bisa dilihat pada dinamika politik nasional saat itu yang sedang dikuasai Orde Baru. Di awal kepemimpinan Orde Baru, situasi umat Islam tak terkecuali di Klepu sangat sulit karena terkait kebijakan politik Orde Baru yang menjadikan stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi sebagai kata kunci dalam proses bernegara. Salah satu strategi politik yang ditempuh Orde Baru dalam rangka menjaga stabilitas politik adalah menyingkirkan semua ideologi alternatif dan menjadikan Pancasila sebagai ideologi tunggal. Kekuatan riil komunis memang telah dihancurkan pada tahun 1965, tetapi dalam pandangan Orde Baru kekuatan yang menjadi ancaman adalah politik Islam, sehingga umat Islam harus diputus dari keterikatannya pada tujuan-tujuan ideologis partai politik Islam. Strategi yang diambil adalah melemahkan politik Islam dan menjadikan Golkar sebagai kekuatan politik dominan. Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Isnatin Ulfah. Lutfi Hadi Aminuddin Dalam konteks inilah terlihat permusuhan pemerintah terhadap Partai Persatuan Pembangunan . dan kecurigaan yang tidak mendasar pada setiap aktifitas keislaman. Kondisi AupermusuhanAy pemerintah dengan Islam juga terjadi di Klepu. Kepala Desa Soemakoen yang awalnya adalah PNI kemudian beralih ke Golkar. Dia sendiri mendapat julukan bapak pembangunan desa, sebuah julukan yang mengindikasikan kuat bahwa posisi politiknya kompatibel dengan penguasa Orde Baru. Posisi ini tentu sangat menguntungkan bagi perkembangan Katolik di Klepu karena faktanya Soemakoen adalah tokoh utamanya. Sementara. Islam mendapat halangan politik yang cukup serius. Satu-satunya aparat desa yang beragama Islam. Kyai Kurdi dicopot jabatannya sebagai modin karena pada pemilu 1971 diduga memilih p, padahal sebagai perangkat desa seharusnya dia patuh terhadap kepala desa. Sebagai gantinya, kepala desa menunjuk Sukidi yang merupakan keponakannya sebagai modin. Tidak hanya itu, kegiatan-kegiatan Islam juga dibatasi dan dicurigai karena distigma sebagai pengikut p dan tentu saja dianggap mengancam eksistensi Katolik. Tidak ada yang berani mengadakan kegiatan-kegiatan pengajian, bahkan adzanpun tidak ada yang berani menggunakan pengeras suara. Dilabeli p dan Islam, berarti menjadi AumusuhAy perangkat desa. Kebijakan-kebijakan kepala desa banyak menguntungkan umat Katolik. Umat Islam selalu dicurigai dan dianaktirikan. Apa-apa yang berbau Islam tidak boleh, alasannya demi keamanan. Posisi umat Islam sangat terjepit. Tidak ada yang memperhatikan Islam di Klepu. Kondisi ini terus berlangsung hingga tahun 1970an, ketika Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII) mulai masuk ke Klepu untuk berdakwah dan membangkitkan keterpurukan umat Islam Klepu. Masuknya Dakwah Islam di Klepu: Bangkit dan Berkembangnya Islam Klepu Kondisi umat Islam di Klepu sebagaimana digambarkan di atas, sesungguhnya menggelisahkan para tokoh Islam Klepu. Tetapi karena kekuatan mereka yang sangat terbatas mereka tidak bisa berbuat banyak. Modin Sukidi betapapun dia adalah keponakan ipar kepala desa Soemakoen, tapi dia juga merasakan ketidakadilan yang diterima umat Islam atas kepemimpinan Soemakoen. Secara diam-diam. Sukidi mencari bantuan agar umat Islam Klepu bisa bangkit dan tidak mengalami 31 Hamdi. AuBeragam Agama Satu JawaAy. IstiqroAo, 12. 32 Mutaqim. Wawancara, 28 September 2019. 33 Ibid. Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Pluralitas Orientasi Ideologi Muslim Klepu Sooko Ponorogo | 117 marginalisasi terus menerus. Hingga akhirnya nasib Islam di Klepu didengar oleh Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII) Ponorogo. Kisah di balik masuknya DDII untuk berdakwah di Klepu, menurut tuturan Karsih adalah adanya usaha dari modin Sukidi untuk mencari bantuan ke luar Klepu untuk memperjuangkan Islam Klepu. Akhir tahun 70an. Sukidi bertemu dengan Ridhoni Soleh staf KUA Sooko untuk membicarakan nasib umat Islam Klepu. Mendengar keluhan Sukidi tersebut. Ridhoni kemudian memperkenalkan Sukidi dengan Kyai Shoiman dari Pondok Gontor Ponorogo. Ridhoni juga memperkenalkan Sukidi dengan tokoh-tokoh DDII Ponorogo yaitu Kasman dari Kecamatan Jetis dan Muhammad Mansyur dari Kecamatan Ponorogo. Pertemuan Sukidi dengan tokoh-tokoh tersebut menghasilkan keputusan bahwa DDII akan mengirim pendakwah di Klepu. Dalam perbincangan dengan peneliti. Muhammad Mansyur yang pernah menjadi ketua DDII Kabupaten Ponorogo sekaligus Pimpinan Daerah Muhammadiyah Ponorogo menyatakan latar belakang masuknya DDII ke Klepu adalah kristenisasi. Menurutnya. Umat Islam Klepu bertahun-tahun dibuat lemah baik secara ekonomi, akidah, maupun politik, sehingga kristenisasi dengan mudah dilakukan. Atas nama kerukunan, umat Islam dibungkam atas ketidakadilan yang mereka alami. Untuk melawan itu, pertama-tama umat Islam harus dikuatkan dulu akidahnya. Harus dikenalkan dan diajarkan Islam dengan benar, makanya DDII mengirimkan dai-dai terbaiknya ke sana. 35 Dari sinilah kebangkitan Islam Klepu dimulai. Diakui para informan kehadiran pendakwah dari DDII di Klepu, menjadi momentum kebangkitan muslim Klepu dalam melakukan kegiatan-kegiatan keislaman, yang semula nyaris tidak pernah dilakukan. DaAoi pertama yang dikirim DDII ke Klepu adalah Husnul Akib pada akhir tahun 1979. Husnul Akib segera melakukan aktivitas dakwahnya, fokusnya adalah mengajar cara membaca al-QurAoan dan tata cara beribadahAiterutama sholatAi kepada umat Islam Klepu, dua aktivitas ibadah yang belum banyak dikuasai dan diamalkan umat Islam Klepu. Tidak hanya itu, melihat kondisi fasilitas ibadah di Klepu yang memprihatinkan baik kualitas maupun kuantitasnya. Akib berinisiatif mendirikan masjid. Dalam waktu yang relatif singkat yaitu setahun. Akib bersama warga bahu membahu mendirikan masjid baru. Masjid yang diberi nama Baitul Mukminin itu dibangun di atas tanah yang diwakafkan oleh Mbah Sulni di Dusun Sambi pada tahun 1980. Mbah Sulni mewakafkan tanah itu tidak kepada DDII, tapi kepada perangkat desa agar masjid itu 34 Sukarsih. Wawancara, 25 Agustus 2021 35 M. Mansyur. Wawancara, 08 Desember 2020. Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Isnatin Ulfah. Lutfi Hadi Aminuddin dapat digunakan oleh semua masyarakat. Sedangkan dananya mendapat bantuan dari DDII. Meskipun Akib berasal dari pesisir utara Jawa yang agamanya lebih santri dan memiliki karakter dan budaya yang berbeda dengan Klepu yang pegunungan dan abangan, nyatanya dakwah Akib di Klepu dengan cepat mendapat simpati dan diterima umat Islam Klepu. Hal itu karena sebagai pendatang baru di Klepu. Akib melakukan dakwah dengan santun tanpa menimbulkan konflik. Akib masih mengikuti tradisi masyarakat Klepu yang sudah ada seperti slametan, tumpengan, dan berkatan. Begitupun dalam hal peribadatan. Akib tidak melakukan perubahan-perubahan yang Pada tahap awal dakwah. Akib benar-benar hanya fokus dalam pendidikan yaitu mengajarkan sholat dan membaca al-QurAoan. Baginya. Akib belum banyak menyentuh ranah akidah, sehingga dua tahun Akib di Klepu kehidupan keagamaan di Klepu masih berjalan Sebagaimana cita-cita Mbah Sulni agar tanah yang diwakafkan bermanfaat untuk masyarakat, tiga tahun kemudian yaitu pada tahun 1983, di tanah wakaf tersebut, di sebelah masjid Baitul Mukminin juga dibangun sebuah TK Islam. TK itu dibangun oleh Departemen Agama (Depa. Kabupaten Ponorogo yang dikelola oleh Dharma Wanita Depag Ponorogo dan merupakan lembaga pendidikan formal Islam pertama yang ada di Klepu. Lembaga pendidikan anak-anak pra sekolah yang diberinama TK Perwinda tersebut harus diakui merupakan hasil lobi-lobi para tokoh Islam Klepu dan DDII dengan Depag Ponorogo yang mengharapkan di Klepu didirikan lembaga pendidikan Islam, agar anakanak umat Islam tidak menyatu di TK Pancasila milik Katolik. Depag menyetujui pembangunan TK tersebut dan diresmikan pada tahun 1983 oleh Mahmud Suyuti Kepala Depag Ponorogo saat itu. 37 Sejak adanya TK Perwanida inilah mulai terjadi pemisahan pendidikan pra sekolah antara anak-anak Muslim dan Katolik yang sebelumnya menyatu di TK Katolik Pancasila. Pada tahap ini, umat Islam Klepu sudah terlihat mulai memiliki power karena suaranya didengar oleh pemerintah di tingkat kabupaten, dan harus diakui DDII berperan besar dalam hal ini. Setelah berdakwah di Klepu sekitar dua tahun. Akib kemudian digantikan oleh Muhyidin. Setelah Muhyidin, kemudian disusul oleh daAoi DDII lainnya yaitu Muhadi dari Gresik. Tidak banyak informasi tentang 36 Mutakim. Wawancara, 28 September 2019. 37 Soewito. Wawancara, 18 September 2020. Hamdi. AuTragedi Kabel Mik: Sepenggal Kisah Perseteruan Islam Pribumi dan Islam Puritan,Ay 19. Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Pluralitas Orientasi Ideologi Muslim Klepu Sooko Ponorogo | 119 Muhyidin dan Muhadi karena dia bertugas di Klepurelatif sebentar. Setelah Muhadi, pada tahun 1983 dakwah dilanjutkan oleh Munawar. Sebagaimana Husnul Akib, daAoi ke empat DDII ini juga berasal dari Paciran Lamongan. Berbarengan dengan kedatangan Munawar. Pesantren Gontor juga mulai masuk untuk melakukan dakwah di Klepu. Kedatangan Gontor di Klepu ini menambah percaya diri daAoi DDII untuk berdakwah. Bahu membahu mereka membangkitkan Islam dan memberdayakan umatnya di Klepu. Sebagaimana DDII, kehadiran Gontor di Klepu juga karena informasi adanya kristenisasi di Klepu. Menurut tuturan Soewito, ketika DDII sudah masuk Klepu. Gontor dengan instruksi Kyai Syukri Zarkasyi Aipimpinan Pesantren GontorAi mengirim santri-santrinya untuk ikut berdakwah. Gontor juga ikut ngopeni daAoi-daAoi yang dikirim DDII. Gontor dan DDII saling bahu-membahu dalam memperjuangkan kehidupan Islam di Klepu. Kegiatan majlis taAolim di masjid-masjid Klepu juga semakin semarak, sehingga Islam di Klepu semakin menggeliat. Bisa dikatakan, tak ada satupun keputusan penting tentang dakwah Islam di Klepu yang luput dari peran Gontor. Kebijakan- kebijakan yang dilakukan oleh daAoi DDII. Gontor juga ikut menentukan. Bahkan Gontor juga ikut membangunkan tempat untuk tinggalnya para daAoi. Dengan support dari Gontor, para daAoi jadi lebih percaya diri dan berani dalam berdakwah. Soewito juga merupakan tokoh Islam penting di Klepu. Dia salah satu kader Gontor yang diminta Kyai Syukri untuk membantu DDII di Klepu. Setamatnya kuliah di IAIN Sunan Ampel Ponorogo dia diberi mandat oleh Kyai Syukri untuk berdakwah di Klepu. Soewito pertama kali masuk Klepu tahun 1985 dan diterima dengan baik oleh tokoh-tokoh Islam di Klepu. Munawar mendapat teman untuk berdakwah, ke mana-mana kalau berdakwah di Klepu Munawar selalu berdua dengan Soewito. 39 Selain Soewito, kader Gontor lainnya adalah Sukarsih. Berbeda dengan Soewito. Karsih merupakan salah satu pemuda asli Klepu yang dipilih oleh pesantren Gontor sebagai kader untuk berdakwah di Klepu. Dia mendapat pendidikan di Pesantren Gontor hingga tahun 1987. Setamat dari Gontor dia kembali ke Klepu dan bergabung bersama tokoh-tokoh Islam dan daAoidaAoi di Klepu untuk memperjuangkan Islam. Kedekatannya dengan DDII pada akhirnya membawanya terpilih sebagai Ketua DDII di Klepu. Pada perkembangannya, yang memegang peranan penting dakwah dan upaya memberdayakan Islam di Klepu selain DDII dan Pesantren Gontor adalah Muhammadiyah Ponorogo. Di bawah komando tiga 38 Soewito. Wawancara, 18 September 2020. 39 Ibid. Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Isnatin Ulfah. Lutfi Hadi Aminuddin lembaga ini, dengan cepat Islam Klepu bangkit. Pengajian dilakukan secara rutin tanpa takut dilarang oleh aparat desa. Kegiatan majlis taAolim di masjid-masjid Klepu jadi semakin semarak, sehingga Islam di Klepu semakin menggeliat. Tidak hanya itu, jika pada masa Akib, hanya ada satu masjid yang berhasil dibangun. Pada saat Gontor dan Muhammadiyah masuk di Klepu, masjid dan musholla mulai dibangun di tiap dusun maupun lingkungan. Tetapi sayangnya kehadiran dan peranan Gontor dalam mengembangkan Islam di Klepu berakhir pada awal tahun 90an. Gontor menarik diri dari semua aktivitas di Klepu. Kemesrahan Gontor dan DDII dalam mengembangkan Islam di Klepu tidak lagi bisa dipertahankan. Penyebabnya adalah ketersinggungan Gontor terhadap sikap DDII, yang sebetulnya adalah kesalahfahaman. Betapapun Gontor sudah tidak lagi menjadi bagian dakwah di Klepu, cukup mencengangkan, setelah kurang lebih 30an tahun dakwah Islam di Klepu, masjid- musholla yang berdiri di Klepu saat ini mencapai tujuh Jumlah itu dapat dikatakan banyak, mengingat Klepu merupakan desa kecil dengan penduduk yang terbagi menjadi dua agama. Islam dan Kristen (Katolik dan Protesta. Ada banyak kisah di balik pembangunan masjid-masjid tersebut. Berawal dari Baitul Mukminin, masjid pertama yang dibangun umat Islam setelah kehadiran DDII di Klepu. Sebagaimana dipaparkan sebelumnya, masjid yang dibangun pada tahun 1980 atas inisiatif daAoi DDII Husnul Akib ini dibangun di atas tanah wakaf Mbah Sulni. Pada saat itu dakwah yang dilakukan Akib dilakukan dengan ramah dan arif sehingga masyarakat bisa menerima dakwah Akib dengan baik. Keadaan berubah ketika dakwah digantikan oleh Munawar. Munawar yang memulai dakwah di Klepu tahun 1983 ini mengambil sikap keras terhadap hal-hal yang dianggap bertentangan dengan ajarannya. Sejak kehadiran Munawar di Klepu, ritual keagamaan semisal tahlilan, wiridan, pujian, menabuh beduk, berkatan, dan praktik keislaman lain yang selama ini dianggap absah oleh muslim Klepu mulai dilarang. Muslim Klepu baru mengenal istilah bidAoah atau haram terhadap semua aktivitas tersebut sejak Munawar mempersoalkan dan melarangnya. Awal kedatangan Pak Munawar dia bertempat tinggal di kediaman modin Sukidi di Dusun Jogorejo, di sana Munawar masih mengikuti cara berdakwah para pendahulunya yang mengikuti saja tradisi yang sudah dijalankan muslim Klepu. Tetapi setelah pindah ke Dusun Sambi. Munawar mulai terangterangan tidak menyukai amalan-amalan tradisional tersebut. Di Sambi. Munawar menjadi takmir dan imam masjid Baitul Mukminin yang 40 Ibid. Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Pluralitas Orientasi Ideologi Muslim Klepu Sooko Ponorogo | 121 pembangunannya didanai oleh DDII pada masa Pak Akib. Di dekat masjid Baitu Mukminin Sambi juga dibangun TK khusus untuk anak- anak Salah satu ruangnya digunakan untuk tempat tinggal Pak Munawar. Mungkin karena merasa punya kekuasaan atas masjid tersebut sehingga dia terang-terangan berani melarang berbagai aktivitas ibadah dan tradisi yang dilakukan umat Islam. Jamaah yang tersinggung dan tidak menyukai amalan DDII lalu membuat masjid sendiri yaitu masjid Darussalam yang dikomandoi oleh Mbah Yoto. Masjid baru ini dibangun di tanah Kasno, 200 meter dari masjid Baitul Mukminin atau masjid lama. Mbah Yoto sebetulnya salah satu anak Mbah Sulni, tetapi kekecewaannya yang sangat besar terhadap Munawar dan DDII membuatnya rela meninggalkan masjid yang tanahnya adalah wakaf ayahnya. Apalagi dalam kasus perpecahan ini. Mbah Yoto adalah korban atas sikap keras Munawar. Pada suatu sore seusai adzan Ashar. Mbah Yoto membaca pujian. Dia sebetulnya tahu kalau itu dilarang Munawar, tetapi karena sepengetahuannya Munawar lagi ada urusan di Ponorogo, dia memberanikan diri membaca pujian. Tak disangka, ternyata Munawar sudah datang dan tanpa permisi dia langsung mencabut kabel mik yang digunakan Mbah Yoto. Tentu saja Mbah Yoto sangat tersinggung, begitu juga masyarakat yang sudah lama AugemasAy dan jengkel dengan sikap Munawar. Kasus itulah yang menjadi momentum terbelahnya umat Islam Sambi. Di masjid Darussalam MbahYoto melanjutkan tradisi dan amalan tradisional tanpa ada yang melarang meskipun dengan jamaah yang hanya enam orang. Masjid Baitul Mukminin diteruskan ketakmirannya oleh Karsih dan Sutrisno, penduduk asli Klepu yang menjadi penerus DDII dengan jamaah berjumlah sepuluh orang. Sebagian dari mereka adalah ahli waris dan keturunan Mbah Sulni yang merasa eman dengan wakafnya Mbah Sulni. Betapapun pada awalnya mereka enggan meninggalkan masjid lama karena motif tidak ingin menelantarkan tanah wakaf Mbah Sulni, bukan karena menyetujui amalan DDII, tetapi lambat laun mereka akhirnya menjadi bagian dari DDII. Kisah di atas menggambaran, motif pembangunan masjid Darussalam tidak semata-mata kebutuhan sebagai tempat ibadah, karena faktanya lokasi masjid berdekatan, padahal yang ikut berjamaah tidak pernah lebih dari 5 hingga 6 orang. Pembangunan masjid tersebut lebih didasari perbedaan ideologi antara DDII dan umat Islam yang menjalankan amalan tradisional. 41 Ibid. 42 Soewito. Wawancara, 18 September 2020. Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Isnatin Ulfah. Lutfi Hadi Aminuddin Perseteruan tersebut ternyata tidak berakhir dengan berdirinya masjid Darussalam. Pada tahun 2008, ketika ada keinginan dari takmir Masjid Baitul Mukminin untuk merenovasi masjid, perseteruan yang sudah sempat calling down kembali memanas. Pemicunya adalah keinginan Karsih dan seluruh takmir yang merupakan orang-orang DDII untuk merenovasi masjid tersebut menggunakan dana DDII. Tentu hal tersebut ditolak oleh ahli waris Mbah Sulni yang menganggap itu adalah upaya Karsih untuk menjadikan masjid Baitul Mukminin menjadi milik DDII. Betapapun selama ini amaliyah masjid Baitul Mukminin sudah menjadi DDII, tetapi para ahli waris belum rela melepas masjid tersebut menjadi masjid DDII. Selain itu, keinginan Karsih untuk menggunakan dana dari DDII juga membuat kecewa masyarakat yang sudah mengumpulkan donasi untuk pembangunan masjid masing- masing warga seratus ribu. Ada juga yang sudah menyiapkan kayu, batu kali, dan sebagainya. Tentu keinginan Karsih tersebut seperti tidak menghargai masyarakat yang sudah Belum lagi embel-embel yang disampaikan DDII bahwa sumbangan dari donatur DDII menghendaki kalau masjid yang dibangun akan menggunakan amaliyah DDII. 43 Syarat tersebut semakin membuat bara yang sudah mulai membara, semakin berkobar. Konflik kembali memanas hingga melibatkan MUI Ponorogo. Depag Ponorogo. PCNU Ponorogo. PD Muhammadiyah Ponorogo, dan DDII Pusat dari Surabaya. DDII tetap bertahan dengan keinginannya tetapi ahli waris yang dijurubicarai Soewito menolak keras karena bagi ahli waris keinginan Karsih tersebut sama artinya DDII mengubah penggunaan tanah wakaf yang tidak sesuai dengan keingin waqif. Konflik akhirnya berakhir setelah DDII mengalihkan donasinya untuk pembangunan masjid Baru. Masjid yang dibangun di tanah dekat rumah Andi Suwito, tokoh DDII, dibangun tahun 2001 dan diberi nama Abdullah AsyAoari. Tentu saja amaliyahnya sesuai dengan pesanan donatur, yaitu harus meninggalkan semua amaliyah yang dianggap bertentangan dengan syariah Islam. Tentu saja yang mereka maksud adalah amaliyah NU. Kisah lain yang menarik adalah pembangunan renovasi Masjid AlIkhlas di Kuniran Atas. Masjid Al-Ikhlas sudah berdiri sejak tahun 1980. Awalnya, sebagaimana umumnya umat Islam Klepu, masyarakat Kuniran Atas adalah menjalankan Islam tradisional yang khas dengan tradisi Jawa seperti kundangan, slametan, tahlilan, brokohan, kirim doa leluhur, dan Hal ini karena pada masa-masa awal yang berdakwah di Kuniran atas adalah Mbah Salam dan Mbah Mustakim. Tetapi saat ini, umat Islam Kuniran Atas adalah Muhammadiyah. Kisah konversi umat Islam 43 Ibid. Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Pluralitas Orientasi Ideologi Muslim Klepu Sooko Ponorogo | 123 Kuniran Atas ke Muhammdiyyah ini berkait erat dengan renovasi Masjid al-Ikhlas. Panitia pembangunan masjid yang kekurangan dana, mereka minta bantuan ke Pimpinan Daerah Muhammadiyah Ponorogo. Muhammadiyah merespon dan memberi bantuan sehingga renovasi masjid bisa dilaksanakan. Setelah selesai direnovasi. Muhammadiyah datang untuk meresmikan masjid tersebut dan memasang prasasti AuMasjid Wakaf MuhammadiyahAy. Itu awal mulan masjid al-Ikhlas menjadi masjid Muhammadiyah. Tentu saja, umat Islam Kuniran Atas tidak bisa melupakan jasa Muhammadiyah, apalagi bantuan Muhammiyyah terus berlanjut tidak hanya di bangunan fisiknya. Muhammadiyah ternyata merawat masjid Mereka rutin ngisi pengajian. Menurut Soepodo. Audulu orangorang Kuniran Atas fahamnya NU, tapi tidak ada kepengurusan. Karena tidak ada kepengurusan ya lalu teman-teman ditawari untuk ikut Muhammadiyah. Kata mereka. Muhammadiyah atau NU sama saja, samasama Islamnya. Apalagi Muhammdiyah juga baik, sudah banyak berjasa. Kami monggo mawonAy. Meskipun Kuniran Atas Muhammadiyah, tetapi kebiasaan masyarakat tidak otomatis berubah, seperti tahlilan, yasinan, selametan tetap ada. Masyarakat sudah lama menjalankannya, tidak mungkin dihilangkan. Soepodo dalam pandangan peneliti merupakan tokoh Islam yang sangat moderat. Jika di dusun lain dan di masjid lain gesekan antar jamaah seringkali terjadi karena perbedaan tradisi dan amaliyah ibadah, tetapi Soepodo selalu menekankan untuk Dia Muhammadiyah, tetapi dia realistis kalau kebijakan-kebijakan Muhammiyah tidak bisa sepenuhnya diterapkan di daerahnya. Dia menyadari betul itu, sehingga dia tidak pernah memaksakan jamaahnya untuk menghilangkan tradsi-tradisi yang sudah mereka jalankan betapapun itu berbeda atau bertentangan dengan Muhammadiyah. Sangat menarik menyimak argumentasi Soepodo berikut. Muhammadiyah tidak tahlil, sebetulnya saya tahu, tapi mengumpulkan masyarakat itu susah. Kalau mereka tidak mau berkumpul. Islam mau berkembang bagaimana? Kalau masyarakat sudah pinter, ya tidak apa-apa tidak ada acara tahlilan lagi. Lha di sini ini Muhammadiyah awam. NU juga awam. Kalau ada orang meninggal, ya ada selametan 3, 7, hari dan seterusnya. Tokoh-tokohnya tinggal ngetutne. Yang penting purun kumpul lan guyub. Tujuannya 44 Soepodo. Wawancara, 13 September . 45 Ibid. Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Isnatin Ulfah. Lutfi Hadi Aminuddin silaturrahim dan sedikit-sedikit dapat ilmu. Kalau saya terlalu keras ini tidak boleh itu tidak boleh, saya khawatir umat Islam malah lari ke Katolik. Katolik itu kompak, satu komando. Yang Muhammadiyah monggo, yang NU monggo, yang DDII monggo yang penting bersatu. Yang penting masih sama-sama Islam, kan sholatnya juga sama, yang wajib-wajib kan sama, yang beda kan sunnah-sunnahnya. Itu tidak perlu dipersoalkan. Betapapun umat Islam Kuniran Atas masih menjalankan tradisi dan amaliyah yang itu bertentangan dengan kebijakan Muhammadiyah, tatapi mereka tetap berusaha menjaga relasinya dengan Muhammadiyah dengan cara melakukan perubahan-perubahan terhadap tradisi-tradisi tersebut misalkan bacaan dalam tahlilan itu diperpendek. Tidak ada lagi ila hadrati yang banyak sekali itu. Juga tidak ada bacaan-bacaan tasbih, tahlil, dan Yang dibaca hanya surat Yasin. Qulhu (Al-Ikhla. , al-Fatihah, dan ada yang membaca al-Quran lalu diartikan. Penuturan Soepodo di atas, memberikan gambaran bahwa ideologi bagi umat Islam di Kuniran Atas tidak menjadi hal yang sensitif untuk dipertahankan atau dijalankan. Tidak terlalu penting bagi mereka menjadi golongan A atau B, karena faktanya mereka tetap menjalankan tradisitradisi yang sudah lumrah dijalankan meskipun mereka sudah berkonversi dari NU ke Muhammadiyah. Masjid sebagai pusat kegiatan ibadah memang berlabel Muhammadiyah, sehingga amalannya mengkuti ketentuan Muhammadiyah tidak ada pujian, wiridan, qunut. Akan tetapi di luar masjid, mereka masih melanggengkan tradisi-tradisi NU sebagaimana dipaparkan di atas. Kisah yang agak mirip juga terjadi di masjid Nur Salamah. Masjid yang berlokasi di RT/RW 02/02 Dusun Sambi Desa Klepu ini awalnya adalah musholla yang dibangun tahun 1988. Pada tahun 2015 musholla ini direnovasi menjadi masjid yang bisa digunakan sholat Jumat. Nur Salamah adalah musholla yang beraliran NU, namun setelah renovasi yang mendapatkan sokongan dana dari Pesantren Darul Ilmi Ponorogo. Nur Salamah kemudian menjadi masjid yang beraliran Muhammadiyah karena penyandang dana dan yang melakukan dakwah dari Muhammadiyah. Menariknya, jika di masjid al-Ikhlas jamaahnya mengaku Muhammadiyah tetapi di luar masjid mereka masih menjalankan tradisi khas NU, sebaliknya di Masjid Nur Salamah jamaahnya mengaku NU tetapi mereka menjalankan amaliyah khas Muhammadiyah yaitu tidak wiridan, tidak 46 Ibid. 47 Ika Uswatun Hasanah. Wawancara, 13 September 2020. Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Pluralitas Orientasi Ideologi Muslim Klepu Sooko Ponorogo | 125 tahlilan, tidak kirim doa leluhur, tidak ada selemetan dan seterusnya. Hal ini menurut keterangan Sarbianto, takmir masjid Nur Salamah, karena jamaah sering mengikuti pengajian yang diisi tokoh-tokoh Muhammadiyah Ponorogo sehingga mereka mulai meninggalkan tradisi yang pernah mereka jalankan. Ketika ditanyakan apakah itu berarti jamaah masjid Nur Salamah itu Muhammadiyah? Sarbianto menyatakan tidak. AuTen mriki nggih tetep NU, mboten wonten ingkang pindah ke MuhammadiyahAy. Tampaknya pemahaman informan istilah pindah itu adalah berpindah secara organisasi, karena menurutnya tidak ada bukti administratif bahwa mereka saat ini adalah Muhammadiyah meskipun amaliyahnya adalah Muhammadiyah. Begitupun sebetulnya mereka juga tidak memiliki bukti admistratif sebagai warga NU, tetapi karena awalnya mereka adalah NU kultural maka mereka merasa masih menjadi NU meskipun amaliyahnya sudah khas Muhammadiyah. Membicarakan profil masjid, tentu tidak bisa diabaikan untuk memaparkan kondisi masjid Darussalam yang merupakan masjid paling awal di Klepu dan satu- satunya. Masjid yang berlokasi di Dusun Ngapak RT/RW 01/02 ini sebagaimana telah dipaparkan telah berdiri pada zaman Belanda tepatnya pada tahun 1921 yang didirikan oleh Mbah Soeleman, tokoh yang babad Islam di Klepu. Kisah Darussalam ini hampir identik dengan Masjid Al-Ihklas. Awalnya masjid Darussalam itu NU tetapi setelah direnovasi menjadi Muhammadiyah karena dananya disokong dari Muhammadiyah. Menurut penuturan Suroso takmir masjid Darussalam, saat itu pak Zainal dan Pak Syamsul Arifin dari Muhammadiyah menawarkan dana bantuan untuk renovasi Darussalam dengan catatan Darussalam harus menjadi Muhammadiyah. Tawaran itu disepakati oleh warga. Pasca renovasi. Muhammadiyah juga memberi perhatian dengan mengirim tokohtokohnya untuk mengisi majlis taAolim. Kegiatan rutin masjid Darussalam adalah setiap malam JumaAoat, malam Ahad dan Kamis Pahing. Malam JumAoat adalah kegiatan Ibu-ibu, malam Ahad untuk bapak-bapak dengan membaca al-Quran, sedangkan Kamis Pahing pengajian dari yayasan Muhammadiyah. Ketika ditanyakan apakah ada perubahan ketika masih NU dan setelah menjadi Muhammadiyah? Suroso menyatakan banyak perubahan. Sekarang kegiatan masjid jadi lebih banyak karena Muhammadiyah selalu datang mengisi majlis taAolim. Tiap selapan . sekali di masjid diadakan majlis taAolim dalam bentuk pengajian al-Quran yang dijelaskan tafsirnya. 48 Sarbianto. Wawancara, 30 September 2020. 49 Suroso. Wawancara, 13 September 2020. Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Isnatin Ulfah. Lutfi Hadi Aminuddin Selain itu, dulu jamaah kalau selesai sholat selalu wiridan sama-sama, kalau sekarang wiridan dibaca sendiri-sendiri. Kalau slametan untuk orang yang meninggal masih tetap diadakan, istilahnya bukan slametan tapi kirim doa dan itu tidak ada tumpengnya. Makannya disuguhkan di piring, karena makan tumpeng yang sudah didoakan itu tidak boleh, haram. Bacaan dalam slametan itu Yasin dan tahlilan sebentar. Dari penjelasan Suroso tersebut, akibat pergeseran dari NU ke Muhammadiyah pada jamaah Masjid Darussalam Dusun Ngapak, tidak sepenuhnya menyebabkan perubahan. Tahlilan tetap ada meskipun dengan bacaan yang diperpendek, selametan tetap ada tetapi berubah istilah menjadi kirim doa, tumpengan ditiadakan tapi diganti makan yang disajikan di piring. Yang sudah hilang dari tradisi NU adalah wiridan bersama setelah sholat jamaah. Tidak jauh dari masjid Darussalam, terdapat musholla al-Hikmah. Musholla ini satu RT dengan masjid Darussalam, dan hanya berjarak 200an Mengapa harus mendirikan musholla baru padahal ada masjid yang jaraknya sangat dekat? Menurut Kateni, ketua takmir, pembangunan musholla ini atas keinginan warga yang ingin mempunyai rumah ibadah yang menjalankan amaliyah NU. Dibantu kepala desa Partomo, dibangunlah musholla al-Hikmah pada tahun 2012. Sebetulnya tidak semua warga Dusun Ngapak RT/RW 01/02 setelah renovasi masjid Darussalam ikut berpindah ke Muhammadiyah. Sebaian masih bertahan NU meskipun masjidnya sudah menjadi Muhammadiyah. Untuk waktu yang lama sebagian warga yang tetap NU itu memendam kekecewaan atas perubahan amaliyah ibadah di masjid Darussalam ke Muhammadiyah. Padahal awalnya Darussalam itu milik NU dan amaliyahnya NU. Mereka ikut berjamaah di Masjid Darussalam, tetapi hati tidak nyaman. Kalau ada kegiatan rutin majlis taAolim di Darussalam, mereka tidak mau datang. Melihat kondisi tersebut. Pairun yang merupakan ketua takmir yang pertama dan beberapa warga bersepakat untuk mendirikan musholla yang beraliran NU. Latar berdirinya musholla al-Hikmah tersebut, sangat terlihat kalau motifnya adalah perbedaan ideologi. Kalau tidak ada persoalan itu, tentunya tidak perlu ada pembanguan masjid yang jaraknya berdekatan. 50 Ibid. 51 Pada saat peneliti melakukan melakukan riset ini, berbarengan dengan masuknya waktu sholat ashar. Informan mengajak peneliti untuk mengikuti sholat berjamaah di masjid Darussalam karena memang rumah informan berdampingan dengan masjid. Setelah adzan, tidak ada aktivitas membaca pujian. Begitu juga setelah sholat tidak ada wiridan Jamaah melakukan wiridan sendiri-sendiri. 52 Kateni. Wawancara, 29 September 2020. Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Pluralitas Orientasi Ideologi Muslim Klepu Sooko Ponorogo | 127 Faktanya, baik Darussalam maupun al-Hikmah, jamaahnya hanya sekitar 5-7 orang. Berdirinya masjid-masjid tersebut pada akhirnya menjadikan umat Islam Klepu yang awalnya hanya menyadari diri mereka sebagai orang Islam, akhirnya mulai mengidentifikasi diri mereka menjadi berbagai kelompok berbeda: wong NU, wong DDII, wong Muhammadiyah dan ANALISIS DAN DIALOG Kehadiran para pendakwah di Klepu secara teoritis tidaklah bebas Terjadi praktik hibridisasi pada kehadiran mereka yang menciptakan negosiasi dalam hubungan sosial dan politiknya. Hal itu terjadi karena dalam teori hibrid, terjadi penyatuan dua jenis antara kehadiran sifat tertentu sekaligus meniadakan sifat tertentu lainnya yang dimiliki oleh Hibridisasi menghasilkan dinamika sosial di mana kebergamaan masyarakat Klepu mengalami perkembangan dan perubahan. Dalam upaya hibridisasi tersebut, kehadiran pendakwah tersebut dapat diidentifikasi sebagai Aowacana besarAo atau dalam istilah Bhabha disebut colonizer . yang berusaha mendominasi masyarakat Klepu yang ditempatkan sebagai Aowacana kecilAo atau colonized . Kejawaan yang menjadi social capital dalam keberagamaan Aowacana kecilAo harus dibersihkan atas nama agama yang dikembangkan oleh Aowacana besarAo. Colonizer berpososisi sebagai pihak yang mempengaruhi sekaligus memurnikan pihak yang menyimpang . Dengan kata lain, colonizer bersifat ekspansif dan bergerak memasuki wilayah tertentu yang telah lama memiliki budaya yang dianggap menyimpang dari Islam murni. Sistem budaya colonized yang menyimpang diharuskan menyesuaikan diri dengan sistem budaya yang dibawa colonizer. Dalam konteks Klepu, wacana besar atau colonizer adalah DDII. Gontor, dan Muhammadiyah. Dengan membawa semangat purifikasinya, tiga kelompok tersebut menundukkan kebudayaan yang dijalankan umat Islam Klepu sebagai wacana kecil atau colonized. Penundukan itu didasari atas fakta bahwa muslim Klepu telah menjalankan kehidupan keberagamaan yang menyimpang, baik dalam masalah akidah maupun ritual ibadahnya. Dalam proses hibridisasi, sebagaimana dijelaskan Bhabha, akan memunculkan budaya baru yang lahir dari perkawinan antara budaya yang dibawa oleh colonizer dan colonized. Hal itu dapat ditemukan dalam praktik keberagamaan masyarakat di Dusun Kuniran Atas dan Dusun Ngapak yang melakukan adopsi ajaran-ajaran yang diedukasi oleh Muhammadiyah, tetapi tidak sepenuhnya meninggalkan tradisi dan amaliyah NU. Tahlilan Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Isnatin Ulfah. Lutfi Hadi Aminuddin tetap ada meskipun dengan bacaan yang diperpendek, slametan tetap ada tetapi berubah istilah menjadi kirim doa, tumpengan ditiadakan tapi diganti makan yang disajikan di piring, dan budaya baru lainnya yang muncul akibat resistensi serta negosiasi dalam proses hibridisasi. Budaya baru tersebut merupakan third space karena adanya cultural adoption yang berdampak pada munculnya pencampuran budaya, sehingga tidak mengherankan jika sebagian kalangan menyebut masyarakat Kuniran Atas dan Dusun Klepu sebagai MuhammadiNU. Selain karena proses hibridisasi, lahirnya beragam orientasi ideologi muslim Klepu, menurut L. A Klober merupakan bukti terjadinya difusi budaya atau proses penyebaran unsur budaya dari dari masyarakat ke masyarakat lainnya. Mayoritas umat Islam Klepu awalnya adalah penganut Islam kejawaan, sebagian kalangan menyebutnya Islam abangan yaitu umat Islam yang tidak memahami dan tidak menjalankan Islam dengan benar. Hal itu menyebabkan mereka sangat mudah berkonversia menjadi Katolik, baik karena faktor ekonomi atau politik. Mendengar isu kristenisasi di Klepu tersebut, menggugah DDII. Muhammadiyah, dan Pesantren Gontor untuk berdakwah di Klepu dengan agenda purifikasi agar umat Islam dapat menjalankan agamanya dengan benar. Kehadiran para pendakwah tersebut tidaklah bebas nilai sebagaimana disinggung di atas. Mereka datang dengan kebudayaan mereka yang disebarkan pada masyarakat Klepu, khususnya umat Islam yang dianggap sinkretis dan abangan. Dalam proses difusi budaya purifikasi tersebut, menurut Soekanto maupun Sztompka ada penyaringan atas budaya baru tersebut. Dari penyaringan tersebut ada bagian budaya yang diterima masyarakat dan ada juga yang ditolak. Hal itu terlihat pada masyarakat Kuniran Atas dan Ngapak yang menerima sebagian ajaran Muhammadiyah, tetapi ada juga yang ditolak. Penolakan masyarakat terhadap bagian-bagian budaya tersebut disebabkan masyarakat merasa tidak cocok dari penetrasi budaya baru tersebut, sebagaimana ungkapan informan yang menyatakan tidak sepenuhnya bisa menerima ajaran Muhammadiyah yang melarang aktivitas tahlilan dan slametan untuk mendoakan leluhur. Bagi informan, larangan itu tidak relevan dengan kondisi umat Islam Klepu. Mengumpulkan masyarakat itu susah. Jika mereka tidak mau berkumpul, bagaimana Islam mau berkembang. Selain itu, kalau terlalu keras dilarang, dikhawatirkan umat Islam malah lari ke Katolik. Argumentasi tersebut menunjukkan masyarakat telah melakukan penyaringan budaya baru yang mereka Ada yang ditolak dan ada yang diterima. Budaya yang diterima kemudian didialogkan dengan budaya yang sudah mereka miliki Menurut Rizal, difusi telah memperkaya dan menambah unsur budaya yang sudah ada di masyarakat, sehingga masyarakat Kuniran Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Pluralitas Orientasi Ideologi Muslim Klepu Sooko Ponorogo | 129 Atas dan Ngapak memiliki budaya baru yang lebih berwarna. Lebih dari itu, menurut Rizal proses difusi tersebut bahkan bisa menghasilkan penggantian pranata sosial lama dengan yang baru. Hal itu bisa dilihat pada dakwah DDII yang mengganti kebudayaan Islam abangan menjadi kebudayaan puritan, sebagaimana terjadi pada jamaAoah Masjid Baitul Mukminin Dusun Sambi. Sejak kehadiran Munawar daAoi DDII di Sambi, ritual keagamaan seperti tahlilan, wiridan, pujian, menabuh beduk, berkatan, dan praktik keislaman lain yang selama ini dianggap absah oleh muslim Klepu mulai dilarang. Muslim Sambi baru mengenal istilah bidAoah atau haram terhadap semua aktivitas tersebut sejak Munawar mempersoalkan dan melarangnya hingga akhirnya amaliyah masjid Baitul Mukminin sudah menjadi DDII. Hal yang sama terjadi di Masjid Nur Salamah jamaahnya mengaku NU tetapi mereka menjalankan amaliyah yang diajarkan Muhammadiyah yaitu tidak wiridan, tidak tahlilan, tidak kirim doa leluhur, tidak ada selemetan dan seterusnya. Dalam konteks difusi di dua komunitas ini, dakwah Muhammadiyah dan DDII telah mengganti pranata sosial yang lama dengan yang baru, yaitu pranata sosial yang dibawa oleh Muhammadiyah dan DDII. Analisis di atas menunjukkan kehadiran dan dakwah DDII dan kelompok lainnya yang membawa misi purifikasi telah berdampak pada dinamika dan perubahan sosial pada umat Islam Klepu. Awalnya umat Islam Klepu adalah Islam abangan. Setelah masuknya dakwah Islam di Klepu yang dibawa oleh DDII dan kelompok dakwah puritan lainnya, terjadi pluralitas orientasi ideologi di Klepu. Pluralitas ideologi tersebut dapat dipetakan, pertama kelompok yang resisten dengan kehadiran dakwah puritan. Penetrasi DDII yang seringkali dilakukan dengan paksaan, menyebabkan umat Islam tidak bisa menerima ajaran mereka dan memilih tetap setia dengan tradisi dan budaya yang telah mereka praktikkan selama Hal itu terlihat pada masyarakat dan jamaAoah Masjid Darussalam di Sambi dan Musholla al-Hikmah di Ngapak yang masih menjalankan sepenuhnya Islam tradisional dengan yaitu Islam yang berkelindan dengan Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Isnatin Ulfah. Lutfi Hadi Aminuddin KESIMPULAN Pluralitas ideologi di internal muslim Klepu yang semula mempraktikkan Islam Jawa kemudian menjadi beragam ideologi, terjadi karena proses hibridasi dan difusi budaya yang dibawa oleh Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) ke masyarakat Klepu. Kehadiran DDII yang kemudian disusul kelompok pendakwah lain sejenis seperti Muhammadiyah tidaklah bebas nilai. Mereka membawa budaya puritan dengan semangat memurnikan Islam di Klepu. Kemudian budaya itu diseleksi oleh masyarakat sehingga muncul sikap menerima dan menolak dengan derajat yang beragam. Pada tahap inilah pluralitas ideologi muslim Klepu terjadi: Ada yang menerima sepenuhnya sehingga mereka menjadi puritan. Ada juga yang menerima sebagian unsur budaya puritan tersebut dan sebagiannya, lalu mendialogkan dengan budaya mereka sendiri sehingga menghasilkan entitas budaya baru. Tetapi ada juga yang resisten dengan kehadiran budaya baru tersebut, dan tetap menjalankan budaya yang sudah mereka praktikkan selama ini. Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Pluralitas Orientasi Ideologi Muslim Klepu Sooko Ponorogo | 131 DAFTAR RUJUKAN Bhabha. Homi. The Location of Culture. London and New York: Routledge. Badan Pusat Statistik. Kecamatan Sooko dalam Angka 2019. Ponorogo: BPS Kabupaten Ponorogo, 2019. Geertz. Clifford the Religion of Java. New York: the Free Press, 1964. Hamdi. Ahmad Zainul. Beragam Agama. Satu Jawa: Ketenangan dan Ketegangan dalam Hubungan Islam Katolik di Klepu Ponorogo. Jurnal IstiqroAo. Vol 08. No 1, 2009. __________. AuTragedi Kabel Mik: Sepenggal Kisah Perseteruan Islam Pribumi dan Islam Puritan di Klepu Ponorogo,Ay dalam Alamsyah. DjaAofar . Agama dan Pergeseran Representasi: Konflik dan Rekonsiliasi di Indonesia. Jakarta: The Wahid Institute, 2009. Linton. Ralph. The Study of Man. New York: Applenton Century Crofts Inc. Lutfi. Ahmad. AuPraktik-Praktik Kebenaran Agama: Analisis Kontestasi Komunitas Muslim di Hadapan Katolik di Ponorogo,Ay Masyarakat dan Budaya. Vol 1. No. 21, 2019. Masduki. AuToleransi di Masyarakat Plural Berbasis Budaya Lokal (Studi Kasus di Desa Klepu Kec. Sooko Kab. PonorogoAy. Jurnal Sosial Budaya. No. No. 1, 2017. MurfiAoah. Alvi Choiru. AuPeran Tokoh Masyarakat dalam Membangun Toleransi Antar Umat Beragama Desa Klepu Kecamatan Sooko Kabupaten Ponorogo,Ay Skripsi. Ponorogo: Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, 2017. Rizal. Fahrul. AuPenerapan Teori Difusi Inovasi Perubahan Sosial BudayaAy. Jurnal Hikmah. Vol. VI. No. 1, 01 Januari 2012. Shalahuddin. Marwaan. AuKonservasi Budaya Lokal dalam Pembentukan Harmoni SosialAy. Jurnal Harmoni. Vol 09. No. Sintowoko. Dyah Ayu Wiwid Sintowoko. AuHibridisasi Budaya: Studi Kasus Dua Drama Korea Tahun 2018-2020Ay. ProTVF. Volume 5. No. 2, 2021. Soekanto. Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1999. Sztompka. Piotr. Sosiologi Perubahan Sosial Budaya, ter. Alimandan (Jakarta: Prenada Media, 2006. Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024 Isnatin Ulfah. Lutfi Hadi Aminuddin Tholkhah. Imam. Anatomi Konflik Politik di Indonesia: Belajar dari Ketegangan Politik Varian di Madukoro. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2001. Ulfah. Isnatin. Harmoni yang Terusik: Pengalaman Muslim Klepu Menjaga Harmoni dari Ekspansi Fundamentalisme Islam. Ponorogo: STAIN Ponorogo Press, 2017. Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam. Vol. No. 1, 2024