Dialektika Estetika Foto pada Buku Fotografi AuFlores VitaeAy karya Nico Dharmajungen Dialektika Estetika Foto pada Buku Fotografi AuFlores VitaeAy karya Nico Dharmajungen Kusrini. Aji Susanto Anom Purnomo. Muhammad Alfariz. Siti Solekhah Jurusan Fotografi. Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jl. Parangtritis Km. 6,5 Sewon. Bantul. Yogyakarta Tlp. E-mail: kkusrini31@gmail. ABSTRACT The Photography Book is an art space entity for photographers to present works. As an art space entity, photographers need to understand the value or concept of beauty from a photography book. This study aims to describe the artistic and aesthetic experience value of photography books through the case study method of flores Vitae photography book work by Nico Dharmajungen. Nico Dharmajungen is a photography mogul who uses art galleries as the main art space in exhibiting his artworks. This is important because it shows symptoms of a shift in the alternative of the art space from conventional galleries to photographic books. This research uses narrative qualitative descriptive research methods with the main theory of dialectics, the theory of artistic experience and the theory of aesthetic experience. The result of the study is a comprehensive presentation of the concept of the beauty value of alternative spaces of photographic books. The beauty value of a photography book is that it presents a private experience by facilitating a focus of full attention to a work of art. Photography books present an active experience of subjugation from their readers, thus bringing the reader to a higher aesthetic experience that is a symbolic experience. Keywords: photography, dialectic, aesthetic experience, artistic experience. Nico Dharmajungen ABSTRAK Buku Fotografi adalah entitas ruang seni bagi fotografer untuk mempresentasikan karya. Sebagai entitas ruang seni, fotografer perlu memahami nilai atau konsep keindahan dari sebuah buku Penelitian ini bertujuan untuk mendeksripsikan nilai pengalaman artistik dan estetik dari buku fotografi melalui metode studi kasus karya buku fotografi Flores Vitae oleh Nico Dharmajungen. Nico Dharmajungen adalah seorang maestro fotografi yang menggunakan galeri seni sebagai ruang seni utama dalam memamerkan karya seninya. Hal tersebut menjadi penting karena menunjukkan gejala pergeseran alternatif ruang seni dari galeri konvensional ke buku Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriprif kualitatif naratif dengan teori utama dialektika, teori pengalaman artistik dan teori pengalaman estetik. Hasil penelitian adalah pemaparan yang komprehensif dari konsep nilai keindahan ruang alternatif buku fotografi. Nilai keindahan dari buku fotografi adalah menghadirkan pengalaman privat dengan memfasilitasi fokus perhatian yang penuh terhadap sebuah karya seni. Buku fotografi menghadirkan pengalaman ketubuhan yang aktif dari pembacanya sehingga membawa pembaca pada pengalaman estetik yang lebih tinggi yaitu pengalaman simbolis. Kata kunci: fotografi, dialektika, pengalaman estetik, pengalaman artistik. Nico Dharmajungen Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Kusrini. Aji Susanto Anom Purnomo. Muhammad Alfariz. Siti Solekhah PENDAHULUAN Sejarah Nico Dharmajungen. Nico Dharmajungen teknis presentasi karya fotografi tidak hanya merupakan seorang fotografer asal Indonesia berkutat pada sebuah citra bergambar yang yang belajar dan mulai berkarya di Jerman dibingkai dalam ruang-ruang privat atau pada masa mudanya. Nico Dharmajungen publik layaknya karya seni visual yang lain. menempuh pendidikan pada tahun 1971- Anna Atkins seorang fotografer dan ahli 1977 di Fine Arts And Visual Communication, botani dari Inggris adalah orang pertama The Grafik Schule Rolf Laute And Hochschule Fur yang menerbitkan buku ilustrasi dengan Bildende Kunste In Hamburg. Ketertarikan Nico menggunakan media fotografi. Pada tahun Dharmajungen pada seni grafis memberikan 1843 ia menerbitkan Photographs of British pengaruh pada karya-karya seni paper base Algae: Cyanotype Impresions yang diterbitkan termasuk fotografi. Kualitas, dimensi, dan estetika bentuk dalam sebuah cetakan dua buku tesebut saat ini diperingati sebagai dimensi, menjadi sebuah prasyarat ketika Hari Buku Fotografi Dunia pada tanggal 14 sebuah karya fotografi ingin diapresiasi sebagai Oktober. Buku fotografi secara sederhana sebuah karya seni. Hal tersebut nampak jelas memiliki pengertian sebagai sebuah buku dalam idealisme Nico ketika memproduksi yang dilihat atau dibaca oleh pembaca karena karya fotografi yang dia hasilkan. Beliau selalu fotografi yang ada di dalam buku tersebut. mempertimbangkan kualitas cetakan, dimensi Buku fotografi sampai saat ini adalah salah spesifik, dan komposisi formalnya. Kesadaran akan pentingnya sifat materialitas terlihat menampilkan cerita yang lebih kompleks dan dari karya-karya Nico Dharmajungen dalam narasi yang mengalir dari cerita si fotografer sebuah pameran. Flores Vitae adalah sebuah (Colberg, 2. Buku fotografi menjadi salah buku fotografi karya Nico Dharmajungen yang satu wujud kehadiran presentasi fotografi diterbitkan oleh Afterhours pada tahun 2016. yang paling AumajuAy kita temui di era saat ini. Flores Vitae adalah karya Nico Dharmajungen Pada perjalanan perkembangan buku fotografi satu-satunya yang direpresentasikan dalam Indonesia kemudian muncul gejala-gejala baru pada periode tahun 2013-2020. Beberapa publikasi buku fotografi di periode tersebut seolah-olah melakukan upaya untuk keluar mempresentasikan karya dalam ruang seni dari narasi-narasi raksasa eksotisme budaya galeri pameran lalu mencoba medium ruang dan mulai menuliskan cerita dari perspektif seni alternatif yaitu buku fotografi. Hal subjek serta menggarisbawahi aspek dramatik tersebut tentu saja melalui pertimbangan dalam hidup fotografernya. Salah satu buku artistik dan estetik dari berbagai aspek yang fotografi yang terbit di Indonesia pada periode tersebut dan patut dicatat adalah untuk menggunakan medium buku fotografi. penerbitan buku fotografi Flores Vitae karya Artinya buku fotografi Flores Vitae menjadi Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Hari Buku Fotografi Dialektika Estetika Foto pada Buku Fotografi AuFlores VitaeAy karya Nico Dharmajungen penting untuk dikaji sebagai studi kasus untuk mengungkapkan pemilihan medium buku fotografi dari seorang fotografer fine-art yang selalu melakukan presentasi karyanya melalui galeri konvensional. Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, akan digali dalam penelitian ini. Rumusan masalah ini berasal dari fenomena buku fotografi dipandang sebagai sebuah ruang seni alternatif yang mempertemukan antara seorang seniman, karya seni, dan penikmat Gambar 1. Nico Dharmajungen. Maestro Fotografi Fine-Art. (Sumber: https://hot. com/art/d-5158084/ maestro-fotografi-indonesia-nico-dharmajungen-meninggal-dunia diakses pada 3 Agustus 2021, 20. Dalam ruang seni tersebut terjadilah penikmat seni saat mengapresiasi sebuah sebuah dialektika antara pengalaman artistik karya seni. Dari proses dialektika ini akan dari seorang seniman saat mewujudkan karya muncul sebuah sintesis yang akan memberikan seninya dengan pengalaman estetik dari wacana deskriptif mengenai nilai keindahan penikmat seni saat mengapresiasi sebuah dari sebuah buku fotografi. Sehingga sintesis karya seni. Dari proses dialektika ini, akan ini akan memberikan kesimpulan-kesimpulan muncul sebuah sintesis yang akan memberikan wacana deskriptif mengenai nilai keindahan dari nilai-nilai seni tersebut akan menjadi dari sebuah buku fotografi. Sehingga sintesis pelengkap dari khazanah ruang seni bagi ini kan memberikan kesimpulan-kesimpulan dari nilai-nilai seni tersebut akan menjadi pelengkap dari khazanah ruang seni bagi METODE Penelitian yang akan dilaksanakan ada- Berdasarkan latar belakang yang telah lah jenis penelitian yang menggunakan metode dipaparkan oleh peneliti di atas, maka dapat kualitatif deskriprif naratif. Menurut Bogdan dirumuskan permasalahan yang akan digali dan Tylor sebagaimana yang dikutip oleh dalam penelitian ini. Rumusan masalah Lexi Moleong (Moleong, 2. menyebutkan ini yaitu berangkat dari fenomena buku bahwa metode deskriptif kualitatif adalah fotografi dipandang sebagai sebuah ruang metode yang digunakan untuk menganalisa seni alternatif yang mempertemukan antara data dengan mendeskripsikan data melalui seorang seniman, karya seni, dan penikmat bentuk kata-kata tertulis atau lisan dari orang- Dalam ruang seni tersebut terjadilah orang dan prilaku yang diamati. Peneliti sebuah dialektika antara pengalaman artistik dari seorang seniman saat mewujudkan karya kualitatif naratif dengan pertimbangan antara seninya dengan pengalaman estetik dari Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Kusrini. Aji Susanto Anom Purnomo. Muhammad Alfariz. Siti Solekhah lain: penelitian ini bersifat menggambarkan, menguraikan suatu hal dengan apa adanya, data yang dikumpulkan adalah berupa katakata atau penalaran, gambar, dan bukan angka-angka. Hal Diagram 1. Diagram Analisis Data Penelitian adanya penerapan kualitatif. penyajian data dialektis pada penelitian ini secara spesifik dilakukan secara langsung hakikat hubungan menggunakan konsep Pengalaman Artistik peneliti dengan objek penelitian. lebih peka dan Pengalaman Estetik menurut John Dewey dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan (Dewey, 1. Populasi dari penelitian ini Suatu rencana prosedur kualitatif adalah Karya fotografi dari fotografer Nico harus menghasilkan bagian tentang naratif Dharmajungen. Sampel penelitiannya adalah yang muncul dari analisa data. Naratif dalam buku fotografi AuFlores VitaeAy penelitian kualitatif menyajikan informasi Untuk memahami pembahasan dalam dalam bentuk naskah atau gambar. Peneliti penelitian ini maka peneliti akan memaparkan dapat memasukkan pembahasan tentang terlebih dahulu pemikiran dialektika terkait kesepakatan naratif seperti: menggunakan dengan bidang seni menurut Hegel. Dalam kutipan panjang, pendek, dan kutipan yang ada pemikiran Hegel kita akan mengenal istilah dalam naskah secara bervariasi, memasukkan Roh yang sifatnya bukanlah Roh sebagaimana kutipan dan penafsiran . secara pemahaman dalam alam relijius. Menurut Hegel bergantian, menggunakan kata ganti orang yang mutlak adalah Roh yang mengungkapkan pertama saya atau kata ganti kolektif kita diri ke alam material (Hadiwijono, 1. dalam bentuk naratif. Lokasi dari penelitian Hakikat Roh adalah ide atau pikiran. Ide ini adalah di Daerah Istimewa Yogyakarta. mutlak adalah yang Illahi, sedangkan ide yang Populasi dari penelitian ini adalah Karya berfikir adalah kerja, gerak. Seperti yang kita Fotografi Nico Dharmajungen dengan sampel ketahui bahwa Hegel sangat mementingkan penelitian Buku Fotografi Flores Vitae. Metode AuSemuanya yang real bersifat rasional pemilihan sampel menggunakan purposive sampling terhadap karya fotografi pada buku (Bertens, 2. Yang real atau realitas yang ada fotografi Flores Vitae. merupakan proses pemikiran. Pemikiran atau realAy ide inilah yang dimaksud Hegel dengan Roh yang membuat sadar akan dirinya. Metode dialektika Hegel selalu mengandung tiga fase. HASIL DAN PEMBAHASAN yaitu tesis, antitesis, dan sintesis. Dalam sintesis menggunakan metode dialektis estetika yang ini tesis dan antitesis menjadi AuaufgehobenAy hadir pada pengalaman seni yang muncul (Bertens, 2. Kata Jerman tersebut dalam saat terjadi perjumpaan antara seniman, karya bahasa Inggris sering diterjemahkan AusublatedAy, seni dan penikmat seni. Pengalaman seni yang yang berarti antara lain AuditiadakanAy. Maksud menjadi titik tolak dalam melakukan metode dari istilah ini untuk menerangkan pandangan Penelitian Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Dialektika Estetika Foto pada Buku Fotografi AuFlores VitaeAy karya Nico Dharmajungen Hegel dalam dialektikanya bahwa dalam dunia rasional dan dunia Geist. Suatu dunia sintesis, tesis, dan antitesis sudah tidak ada lagi. yang bagai dua sisi dari sekeping uang logam. Namun keberadaannya masih terkandung di Keindahan dalam sintesis. Dengan kata lain, dalam sintesis realitas, baik yang material maupun roh. baik tesis maupun antitesis mendapat eksistensi Seni tidak lepas dari historisitas. Seorang Contoh dialektika Hegel ini sering dipakai dalam filsafat: AuadaAy. AuketiadaanAy. AumenjadiAy, berkarya dalam semangat zamannya (Zeitgeis. AuadaAy sebagai tesis. AuketiadaanAy menjadi Walaupun seorang seniman sering dicap antitesis, dan AumenjadiAy sebagai sintesis. sebagai AopemberontakAo estetis pada zamannya. Pertentangan antara AuadaAy dengan AuketiadaanAy namun ia tetap tidak lepas dari Geist yang didamaikan dalam AumenjadiAy. (Sunarto, 2. Hegel memandang realitas seni sebagai suatu kesatuan organik dan realitas itu Estetika Seni Hegelian merupakan sesuatu yang tidak berada dalam Seni lahir dari roh dan itu adalah sifat kondisi stabil, melainkan suatu proses yang spiritual, tetapi dalam karya seni, roh mencapai dinamis dan terus berlangsung. Sehingga non-spiritual, yang masuk akal atau kondisi menurutnya seni juga terikat oleh proses Hegel menegaskan bahwa esensi roh adalah pikiran. Jadi, kita dapat memastikan perubahan sejarah terjadi pada sesuatu yang bahwa dalam pengalaman estetika pikiran disebut Geist. Geist, menurut Hegel, adalah berpikir apa yang tidak dipikirkan, hal itu sesuatu titik tengah antara roh . dan sendiri, realitas lainnya. Pengalaman seni pikiran . lebih bersifat spiritual daripada mind, dan lebih bersifat mental daripada spirit. dalamnya roh keluar dari dirinya sendiri Bagi Hegel Geist dalam seni merupakan hal dan menemukan yang lain, ia menembus yang paling mendasar dari eksistensi, yaitu masalah ini. Oleh karena itu, dalam metode eksistensi terpenting dari keberadaan. dialektiks pengalaman seni merupakan sebuah Keseluruhan Seni merupakan kenyataan, dan seni bersifat rasional. Seni dipahami secara rasional subjek dan objek, roh, dan materi, pemikiran karena mempunyai kesatuan bentuk dan dan hal yang nyata, tidak dapat direduksi satu Menurut Hegel, selain dalam ketegori sama lain, tetapi juga tidak dapat dipisahkan, logis rasional, seni juga dikonstitusikan oleh ada dalam referensi timbal balik yang konstan. Geist yang tidak rasional. Geist telah ada dalam Estetika tidak seharusnya menilai seni dari diri seniman sebagai pencipta seni. Namun, seniman tidak bisa memberikan argumen melainkan untuk membantu kecenderungan atau pertimbangan rasional atas deformasi internalnya . ke kesadaran teoritis. yang tertuang dalam karyanya. Dorongan (Pozo, 2. Secara kritis, melalui proses inilah berkarya dari seniman atau penikamatan seni Hegel percaya bahwa pikiran manusia mampu berasal dari Aodunia asingAo. Dalam seni ada menciptakan dan kemudian mengembangkan. Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Kusrini. Aji Susanto Anom Purnomo. Muhammad Alfariz. Siti Solekhah konsep-konsep yang utuh dalam kehadiran sebuah karya seni. untuk memahami dunia kita (Barnham, 2. Dalam penelitian ini karya seni yang menjadi sampel penelitian adalah buku fotografi Dialektika Pengalaman Artistik Pengalaman Estetik Dalam Flores Vitae. Buku fotografi adalah salah satu media presentasi fotografi untuk menampilkan cerita yang lebih kompleks dan narasi yang penelitian buku fotografi Flores Vitae, peneliti mengalir dari cerita si fotografer. Buku fotografi secara sederhana memiliki pengertian sebagai sudah dipaparkan di awal untuk selanjutnya sebuah buku yang dilihat atau dibaca oleh mengimplementasikannya pada pengalaman pembaca karena fotograf yang ada di dalam yang muncul saat seniman, karya seni, dan buku tersebut. Tidak seperti buku tekstual penikmat seni bertemu. Pengalaman yang pada umumnya, membuat sebuah buku foto berkelindan saat sebuah karya seni bertemu diawali oleh karya foto dari fotografernya, lalu penikmatnya menurut John Dewey (Dewey, teks dan elemen desain yang lain ditambahkan 1. dalam bukunya Art as Experience terbagi Jorg Colberg dalam bukunya dalam dua kategori yaitu pengalaman artistik Understanding Photobooks memaparkan tiga dan pengalaman estetik. Pengalaman artistik subkategori dari buku fotografi yatu: album, atau aktivitas produksi adalah pengalaman yang katalog dan monograf (Colberg, 2. terjadi dalam proses penciptaan karya seni dan Album secara konseptual adalah sebuah yang menjadi subjek utama adalah senimannya. sub kategori dari buku fotografi yang biasanya Pengalaman estetik adalah pengalaman yang dibuat atau Aumeng-adaAy seiring berjalannya dirasakan oleh penikmat terhadap karya estetik Album yang dimaksud di sini adalah . arya sen. yang terwujudkan pada persepsi album foto yang merefleksikan sejarah dari dan penikmatan. seorang individu atau keluarga. Album foto Melalui biasanya memuat momen-momen bahagia dan meletakkan pengalaman artistik sebagai tesis momen-momen penting dalam hidup. Album atau pemikiran yang eksis, atau dalam istilah foto bisa dikatakan adalah sebuah memorabilia filsafat Hegelian kita dapat menyebutnya dalam propaganda personal yang bersifat sebagai pikiran. Kemudian peneliti meletakkan unik dan one of a kind dalam edisinya. Katalog pengalaman estetik sebagai antitesis, lawan adalah sebuah subkategori dari buku fotografi yang diproduksi oleh seorang fotografer pada pemikiran yang tersembunyi. Dalam istilah masa retrospeksi karyanya dalam periode filsafat Hegelian kita dapat menyebutnya tertentu atau saat ia melakukan pameran. sebagai Roh Pengalaman Dialektis antara Katalog bekerja seperti sebuah hasil survei kedua pengalaman tersebut kemudian menjadi yang memberi pembaca sebuah gambaran sintesis atau kesatuan yang dihasilkan dari atau intipan dari suatu tahapan karir kreatif Tujuan akhir dari dialektika ini seorang seniman. Dalam sebuah katalog tidak adalah menghadirkan pembacaan pengalaman ada payung narasi yang mengalir dari satu foto Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Dialektika Estetika Foto pada Buku Fotografi AuFlores VitaeAy karya Nico Dharmajungen ke foto yang lain, artinya setiap foto berdiri berat buku: 1 kg. Tidak ada informasi yang sendiri secara individual. Sub kategori terakhir ditampilkan terkait material cetak kertas dari buku foto adalah monograf. Monograf dari buku fotografi Flores Vitae, secara fisik inilah yang nanti akan kita bicarakan lebih kertas yang digunakan dalam buku ini adalah lanjut dalam penelitian ini. Dalam monograf, kertas bertekstur doff dan bukan kertas glossy. hal yang paling penting adalah adanya payung Dari aspek fisik buku tersebut dirasakan narasi utuh dan mengalir dari satu foto ke pengalaman menggenggam dan memegang foto yang selanjutnya. Penempatan posisi yang kuat, sampul berbahan tebal atau sering dari foto dalam halaman tertentu dan desain disebut dengan istilah hardcover memperkuat perwajahan membangun konektivitas yang kesan tersebut. Kesan yang ditimbulkan dari subtil dari sebuah monograf sehingga apabila halaman sampul buku adalah nuansa yang kita dengan sengaja merobek satu halaman dari monograf tersebut, maka keutuhan narasi yang material sampul yang terekspos tanpa ada diceritakan akan terganggu. Menurut kategori finishing lapisan dan hanya dihiasi oleh satu tersebut maka dapat dikategorikan buku foto di posisi tengah. Namun menurut peneliti fotografi Flores Vitae sebagai sebuah monograf pemilihan konsep sampul tersebut dapat dari Nico Dharmajungen. menguatkan narasi dari buku fotografi Flores Pengalaman artistik dalam buku fotografi Flores Vitae dipaparkan melalui beberapa aspek formal dalam perwujudan karya tersebut dan Vitae yang mengungkapkan suatu fenomena tanpa lapisan pemanis. Buku aspek ide atau gagasan dalam karya tersebut. berwarna dan karya fotografi hitam putih. Pengalaman artistik ini dapat kita paparkan Subjek pemotretan karya fotografi berwarna pertama-tama dari judul karya tersebut yaitu adalah variasi subjek bunga. Subjek pemotretan Flores Vitae, judul tersebut berasal dari dua kata karya fotografi hitam-putih adalah variasi asing yang dapat diterjemahkan sebagai berikut subjek tubuh wanita telanjang. Subjek bunga flores: Jenis tanaman bunga, vitae: riwayat dari merupakan narasi yang muncul pertama kali Dari judul ini dapat ditangkap dari halaman depan buku. Setelah narasi pemikiran bahwa buku fotografi Flores Vitae bunga berakhir, di halaman tengah terdapat merupakan sebuah buku yang meriwayatkan dua tulisan komentar atau apresiasi dari atau menarasikan hikayat bunga. Bunga yang pakar atau relasi Nico Dharmajungen terkait menjadi subjek utama eksplorasi ide dan perwujudan artistik dari buku ini. tersebut pembaca akan memasuki narasi Setelah tubuh wanita telanjang. Subjek tubuh wanita pengalaman artistik buku fotografi Flores Vitae telanjang dipotret dengan berbagai objek lain dari aspek material atau benda yang diamati menutupi atau menggantikan fungsi identitas sebagai berikut: ukuran dimensi buku: 30 x dari subjek fotonya. Melalui ide tampilan atau 21 cm (Portrai. , jumlah halaman: 100 halaman, konsep pengamasan narasi tersebut peneliti Bahasa: English, jenis sampul buku: Hardcover, menyimpulkan bahwa ada keinginan dari Selanjutnya Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Kusrini. Aji Susanto Anom Purnomo. Muhammad Alfariz. Siti Solekhah Pengalaman estetik dalam buku fotografi Flores Vitae dapat kita bicarakan dalam beberapa Pertama-tama perlu kita pahami bahwa pengalaman estetik membutuhkan beberapa aspek pendukung agar bisa terjadi dengan optimal. Faktor pendukung yang utama Gambar 2. Sampel Penelitian Buku fotografi AuFlores VitaeAy adalah perhatian sepenuhnya dari seorang rancangan buku fotografi tersebut untuk sangat penting dan menjadi keistimewaan buku menyajikan diptych atau penyandingan suatu fotografi dibandingkan dengan ruang seni yang narasi atau objek yang dirasa saling terkait. Seorang pembaca apabila dihadapkan pada Pemilihan ide tampilan atau konsep tersebut sebuah buku fotografi pasti akan memusatkan akan membantu pembaca untuk mencari perhatian pada pengalaman tersebut dan sifatn relasi antara narasi yang satu dengan yang pengalamannya sangat privat. Pengalaman lain, sehingga muncul pemaknaan yang lebih estetik muncul pada sebuah keadaan pikiran dalam terhadap suatu fenomena. Alasan dari yang luar biasa dan secara kualitatif berbeda ide tampilan tersebut dapat dianalisis dari dari keadaan mental sehari-hari atau kondisi tulisan teks deskripsi buku tersebut. Dalam pikiran AonormalAo. Dalam keadaan mental ini, teks deskripsi tersebut dinyatakan bahwa buku seseorang terpesona dengan objek estetik ini memuat semangat metafora yang indah tertentu dan mempengaruhi kesadaran diri dari fotografer Nico Dharmajungen. Semangat metafora tersebut terwujud dalam jukstaposisi estetik yang dimaksudkan sebagai objek objek kecantikan flora dan bentuk wanita telanjang pengalaman estetik adalah transendensi dari yang ditampilkan dalam perwujudan karya tingkat makna yang pragmatis ke estetika buku fotografi. Menurut kamus linguistik Munculnya pengalaman simbolis (Kridalaksana, 2. , yang dimaksud metafora ini tidak otomatis dan merupakan hasil adalah pemakaian kata atau ungkapan lain dari konteks lingkungan dan sosial yang untuk objek atau konsep lain berdasarkan menentukan hubungan subjek-objek tertentu kisa dan atau persamaan. Metafora adalah (Winston. , & Cupchik, 1. Sependapat pengalihan makna atas dasar kesamaan bentuk, dengan hal tersebut. Markovic berpendapat fungsi, dan kegunaan. Pengalihan makna bahwa adanya dua tingkat paralel pemrosesan tersebut merupakan wujud dari perbandingan informasi estetika pada pengalaman estetik. dua hal secara implisit. Pada tingkat pertama dua sub-tingkat narasi penikmat seni. Perhatian ini menjadi hal yang Objek Peneliti kemudian membagi pengalaman diproses, cerita . dan simbolisme . akna artistik berkaitan dengan narasi dari buku yang lebih dala. Tingkat kedua mencakup fotografi ini menjadi dua payung besar narasi dua sub-level, asosiasi perseptual . akna yaitu narasi bunga dan narasi tubuh wanita implisit dari fitur fisik obje. dan deteksi keteraturan komposisi. (MarkoviN, 2. Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Dialektika Estetika Foto pada Buku Fotografi AuFlores VitaeAy karya Nico Dharmajungen Pengalaman estetik pada analisis buku fotografi AuFlores VitaeAy didapatkan ketika Simbolisme Transcoding Gender Dalam peneliti memosisikan diri sebagai penikmat berlanjut, seorang penikmat akan terbawa pada sebuah karya seni dan berkonsentrasi secara tataran pemaknaan simbolisme yang lebih penuh sehingga menghasilkan fokus perhatian tinggi daripada tataran formalis. Relasi antara yang kuat. Fokus perhatian yang kuat dapat penikmat dan karya seni berlanjut karena memunculkan analisis terhadap simbolisme penikmat memiliki keterbukaan yang lebih atau makna yang lebih dalam. Sehingga kita tinggi dan sensitif terhadap kebaruan dalam akan memasuki tingkat yang lebih lanjut dalam karya seni dan mengalami keterlibatan yang mengalami sebuah pengalaman estetik. lebih besar secara keseluruhan. Hal ini yang Pengalaman mempengaruhi mereka untuk merasa lebih tertarik dan menikmati proses menanggapi seni ketubuhan yang aktif. Brinck menyatakan (Fayn. MacCann. Tiliopoulos, & Silvia, 2. bahwa pengalaman estetik didasarkan pada Seni merupakan salah satu perangkat pengalaman tubuh terkait gerak dan arah simbolik pengungkap perasaan atau simbol Sementara itu, seni adalah suatu memiliki dimensi afektif yang tak terelakkan. kegiatan manusia yang menjelajahi serta Pengalaman menciptakan realita baru dalam suatu cara yang pembuatan pemikiran yang hadir dalam benak super-rasional. Berdasarkan penglihatan dan pemirsa karena pemirsa terus menyesuaikan penyajian realita itu secara simbolis, ia adalah gerakan tubuhnya untuk mempertahankan sebuah miniatur baru dari kehidupan. Seni interaksi sambil bergerak masuk dan keluar bukan saja sekedar pemindahan bentuk begitu dari sinkronisasi tersebut. (Brinck, 2. saja, tetapi melalui proses suatu interpretasi Pengalaman ketubuhan yang peneliti alami Karya seni tidak semata-mata ketika membaca buku fotografi terwujud pada penandaan yang menyerupai benda yang di- gerakan-gerakan seperti mendekatkan mata ke tandainya, tetapi lebih jauh adalah merupakan halaman yang menarik secara detail, merasakan (Irdawati, 2. Simbol adalah objek, material kertas dan cetak dengan sentuhan dan pengalaman tubuh yang lainnya. bentuk-bentuk tertulis yang diberi makna Dari analisis dua aspek dimensi tersebut . , oleh manusia. Bentuk primer dari simbolisasi adalah bahasa, selain itu dapat pula berupa keindahan yang mendasar dari sebuah buku lukisan, tarian, musik, arsitektur, mimik wajah. Pertama adalah buku fotografi gerak-gerik, postur tubuh, perhiasan, pakaian, menghadirkan pengalaman privat dengan ritus, agama, kekerabatan, nasionalitas, tata memfasilitasi fokus perhatian yang penuh ruang, pemilikan barang dan lain sebagainya. terhadap sebuah karya seni. Kedua buku (Pramanik. Dienaputra. Wikagoe, & Adji, 2. fotografi menghadirkan pengalaman ketubuhan Simbolisme dalam karya buku fotografi yang aktif dan afektif dari pembacanya. Flores Vitae perlu ditelusuri melalui beberapa Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Kusrini. Aji Susanto Anom Purnomo. Muhammad Alfariz. Siti Solekhah aspek, yang pertama dari akar semangat merupakan karya yang memiliki semangat zaman atau geist dari fotografernya yaitu Nico zaman serupa dengan aliran pictorialism. Dharmajungen. Nico belajar Fotografi Seni dari Tujuan dari aliran fotografi ini adalah untuk mentornya Peter Busch pada tahun 1969-1970 membuat foto puitis dan ekspresif yang terkait dan juga belajar secara formal atau menempuh dengan dan dalam beberapa kasus berasal dari, pendidikan seni di Hamburger Foto Schule seni tradisional dalam hal konten dan makna. pada tahun 1970-1971. Nico Dharmajungen (Museum, 2. Fotografer aliran pictorialism mendapatkan pendidikan fotografi di luar memiliki cita-cita untuk mengalahkan pelukis negeri dan kembali ke Indonesia dengan di seni rupa. Menggunakan kertas bertekstur, semangat penciptaan karya fotografi yang emulsi eksotis, dan teknik langsung melelahkan berakar pada semangat berkarya seni rupa lainnya yang tidak dapat diduplikasi atau murni . ine-ar. Dalam buku fotografi Flores diproduksi secara massal. (Thomas, 1. Vitae kita masih bisa melihat bagaimana fotografi Fotografi aliran pictorialism dipahami sebagai menjadi medium dari senimannya untuk ekspresi dan cerminan dari nilai-nilai pribadi mengkspresikan apa yang di dalam dirinya perilaku dan pengalamannya, berdasarkan kedalam bentuk-bentuk simbolis. Bentuk- gagasan signifikansi estetika dan tradisi. bentuk simbolis ini tidak hanya merupakan Gelombang pertama fotografi aliran pictorialism realitas yang direkam dengan teknik artistik berorientasi simbolis. Banyak dari motif dan tertentu, namun memiliki makna lain yang lebih tema simbolis ini menyajikan ide-ide tentang Hal ini seturut dengan pendapat Hegel peran pria dan wanita pada konteks zamannya. bahwa di dalam seni simbolis, bentuk yang ada Perempuan dan menyebar menyimbolkan dengan merujuk sumber inspirasi, memberikan bimbingan pada atau mengindikasikan elemen rasional dan dukungan untuk laki-laki sebagai pelaku yang ada di luar dirinya. Sebagai contoh dan pemikir. Relasi ini dalam banyak hal adalah burung merpati mensimbolkan konsep rasional tentang perdamaian. (Sunarto, 2. (Museum, 2. Buku fotografi Flores Vitae dapat dikategorikan Simbolisme yang tertuang dalam karya sebagai karya seni romantis. Menurut Hegel buku fotografi Flores Vitae dapat ditarik pada karya seni romantis dianggapnya mempunyai diskusi terhadap konsep kecantikan dan tubuh kebebasan subjektif. Seni romantis dianggap perempuan yang direpresentasikan dalam foto- unggul dari seni lainnya karena merupakan foto bunga dan foto-foto tubuh wanita telanjang. perluasan dari kesadaran-diri . elf-consciousnes. Konsep kecantikan tubuh berubah dari masa ke dan karenanya menentukan gerakan signifikan Merias tubuh menjadi cantik yang kini ke arah restorasi kesadaran-diri Pikiran . elf- identik dengan perempuan dalam sejarahnya consciousness of Min. sebagai keseluruhan. pernah berlaku bagi dua jenis kelamin manusia. (Sunarto, 2. Eropa Barat abad ke-18, misalnya, merias Buku fotografi Flores Vitae selain menjadi diri berlaku di kalangan aristokrasi baik bagi karya seni simbolis dan romantis, juga perempuan maupun laki-laki. Hampir sulit Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Dialektika Estetika Foto pada Buku Fotografi AuFlores VitaeAy karya Nico Dharmajungen dibedakan antara nyonya-nyonya aristokrat menjadi perhatian utama kaum perempuan Paris dengan suami mereka. Keduanya sama- dari berbagai kelas, bangsa, dan kelompok sama merias wajah mereka dengan bedak. Kecantikan tubuh perempuan tersebut lipstik warna cerah, menggunakan rambut harus sesuai dengan standar-standar universal. palsu, dan tak ketinggalan sepatu bertumit Standarisasi ini mengartikulasikan hirarki tinggi (Perrot, 1. Namun seiring terjadinya sosial berdasarkan diskursus kelas, ras, dan revolusi Perancis, penampilan sebagai simbol Lagi-lagi Auhak istimewaAy untuk pembeda kelas mulai dilarang. Laki-laki dan menentukan standarisasi kecantikan dimiliki perempuan akhirnya berada pada sebuah oleh diskursus dominan, yakni negara-negara dikotomi gender dalam tataran citra kecantikan. Barat yang mana berkulit putih, kelas atas. Bersolek dan menjadi cantik kemudian hanya dan mampu mengakses alat-alat kecantikan. menjadi milik perempuan. Kata sifat AucantikAy Standarisasi ini oleh Foucault disebut dengan pun hanya melekat pada tubuh perempuan. Laki-laki diatur penampilannya, agar tampak stereotipe terhadap perempuan cantik . erkulit AukejantanannyaAy, gagah, tidak menyerupai putih, bertampang AuBaratAy, bertubuh ramping dan tinggi serta berasal dari kelas ata. secara Berbagai Budaya muncul mengiringi makna kecantikan tubuh Korset menjadi simbol kecantikan pengidentitasan diri . elf subjectivicatio. Hall abad ke-19. Perempuan-perempuan jaman (Hall, 1. menuliskan bahwa Aumeaning can Victorian ini berkorset agar pinggang mereka never be finally fixedAy. Melalui hal tersebut artinya liyan dapat melakukan semacam Spanyol. Padahal nyatanya, korset menjadi strategi untuk mengkonstruksi representasi semacam penjara bagi tubuh perempuan. baru dengan menunjukkan dan menyebutkan Tak jarang korset menyebabakan kesusahan makna baru akan suatu hal, atau yang disebut bernafas dan penderitaan di bagian tubuh Bakhtin sebagai transcoding, yaitu membalik Pada abad ini pula kecantikan stereotip yang sudah ada dan menggantikannya mulai dijadikan komodifikasi besar-besaran. dengan makna baru. Pada akhirnya, diskursus Produsen pakaian mulai berkerja sama dengan tandingan yang diciptakan terhadap stereotipe toko hingga lahirlah galeri-galeri baju. Orang Barat pun mulai melakukan perawatan kecantikan sebuah diskursus kreatif dan transformatif, di luar rumah, karena salon kecantikan mulai sebagaimana Fairclough (Fairclough, 1. Tak hanya itu, penemuan menjelaskan beberapa efek sosial atas relasi kuasa, yakni terdiri dari diskursus normatif memublikasikan kecantikan mereka secara atau kreatif dan diskursus kontributif atau massal di majalah-majalah wanita hingga tranformatif terhadap relasi kuasa. Mengingat industri film (Lackoff. Robin Tolmach dan tipe diskursus pada karya fotografi ini adalah Scherr, 1. Periode abad ke-20, tubuh dan kecantikan subjek-subjek menjadi stereotip, maka efek sosial atas relasi Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Kusrini. Aji Susanto Anom Purnomo. Muhammad Alfariz. Siti Solekhah kuasa dalam karya fotografi ini adalah sebagai diskursus kreatif dan transformatif terhadap perempuan bertubuh kurus ideal disamping relasi kuasa Barat dalam medefinisikan ulang sebuah produk fesyen. Perilaku media tersebut apa dan bagaimana yang disebut perempuan membentuk pola pikir perempuan yang tidak (Setyorini, 2. kurus bahwa dirinya tidak mungkin menjadi Pada buku fotografi Flores Vitae foto model pada produk fesyen. (Arumingtyas, bunga dan wanita merupakan upaya diskursus kreatif dan transformatif dialog antara tubuh seseorang yang dengan daya kreasinya mampu dan seksualitas. Dialog ini merupakan upaya mentransformasikan realitas fisik menjadi realitas artistik dengan simbolisme yang kuat. sebagai sesuatu yang anti seksual atau bisa Apabila transformasi tersebut diberdayakan dikatakan tidak menimbulkan pandangan- pada medium yang tepat maka akan terjadi pandangan dengan pamrih seksual. Hal ini transcoding untuk membongkar makna-makna bisa disimpulkan dari adanya dialektika yang sifatnya tidak berkeadilan. antara foto bunga dan wanita, di mana Pada Negara bunga adalah sebentuk keindahan yang bisa pascakolonial ini untuk waktu yang lama dalam seluruh aspek budayanya yang diwakili tanpa pamrih karena merupakan bagian dari dalam bentuk berbagai ekspresi superioritas keindahan alam atau ciptaan tuhan, sementara Barat dan inferioritas Timur bersama dengan wanita juga bentuk keindahan namun selalu narasinya yang besar. Beberapa strategi perlu dilekatkan sebagai objek penampakan seksual. diterapkan untuk mendapatkan pencerahan Bagaimana jika tubuh wanita dilihat dengan budaya bagi negara ini. Salah satu strategi yang penglihatan seperti kita melihat bunga di tepi dapat dilakukan adalah dengan membangun jalan, menikmati indah tanpa pamrih. Hal dan mengembangkan kesadaran kritis dalam yang dilakukan Nico Dharmajungen dengan setiap karya budaya dan seni, melalui apa menggunakan intervensi artistik objek-objek yang disebut Aupedagogi estetikaAy atau dalam pengganggu pada foto tubuh wanita telanjang. konsep Dewey disebut Auestetika transformatifAy Secara atau Aupertempuran estetikaAy. (Kasiyan, 2. wanita sangat dekat kemiripannya dengan Pertempuran estetika yang dimaksud tersebut wujud setangkai bunga, di mana justru objek- seturut dengan apa yang diwujudkan oleh objek tambahan yang dilekatkan oleh Nico Nico Dharmajungen melalui karya Buku menjadi mahkotanya dan tubuh wanita sebagai Fotografi Flores Vitae yang memiliki semangat Menciptakan dialektika simbolis untuk melawan superioritas konstruksi yang tentang bagaimana tubuh wanita tidak perlu dibangun oleh budaya-budaya barat. dikenai standar kecantikan yang menimbulkan Merupakan bagian utama dari tulisan. adanya ketimpangan sosial dan diskriminasi Argumen-argumen ilmiah harus dikemukakan sosial antara tubuh yang sesuai dengan definisi secara ringkas, padat, dan jelas. Dalam AucantikAy dengan yang tidak cantik. Media pembahasan hendaknya memenuhi tujuan Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Dialektika Estetika Foto pada Buku Fotografi AuFlores VitaeAy karya Nico Dharmajungen Hubungkan hasil temuan dengan foto tubuh wanita sangat dekat kemiripannya pengamatan atau hasil penelitian sebelumnya dengan wujud setangkai bunga, dimana dengan jalan menunjukkan persamaan dan justru objek-objek tambahan yang dilekatkan membahas perbedaannya. oleh Nico menjadi mahkotanya dan tubuh Menciptakan dialektika tentang bagaimana tubuh wanita SIMPULAN tidak perlu dikenai standar kecantikan yang Kesimpulan dari penelitian ini adalah menimbulkan adanya ketimpangan sosial munculnya sebuah sintesis atau penyajian dan diskrimansi sosial antara tubuh yang sesuai dengan definisi AucantikAy dengan yang artistik dan estetik dari Buku Fotografi Flores Autidak cantikAy. Penelitian ini telah berhasil Vitae. Penelitian telah dilaksanakan melalui menyajikan analisis yang utuh terkait buku dialektika estetika yang hadir pada proses fotografi Flores Vitae dengan metode dialektika perjumpaan antara seniman, karya seni dan pengalaman seni. penikmat seni. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriprif kualitatif naratif UCAPAN TERIMA KASIH dengan teori utama dialektika, ditunjang oleh Terimakasih peneliti ucapkan kepada teori pengalaman artistik dan teori pengalaman Prof. Dr. Agus Burhan. Hum. Rektor ISI Yogyakarta. Dr. Irwandi. Sn. beberapa hal yang menjadi sintesis tersebut. selaku Dekan FSMR ISI Yogyakarta. LPM Pertama adalah dari aspek pengalaman ISI artistik, peneliti dapat menyimpulkan dua hal kesempatan untuk melakukan penelitian seni yang menjadi nilai keindahan yang mendasar dengan memberikan dukungan fasilitas dan dari sebuah buku fotografi. Pertama adalah dana untuk terselenggaranya penelitian. Dari Yogyakara buku fotografi menghadirkan pengalaman privat dengan memfasilitasi fokus perhatian yang penuh terhadap sebuah karya seni. Kedua *** pengalaman ketubuhan yang aktif dan afektif dari pembacanya. Perhatian penuh tersebut akan membawa penikmat foto pada tataran penikmatan atau pengalaman estetik yang lanjut atau lebih tinggi, sebuah pengalaman estetik yang sifatnya simbolis. Simbolisme yang muncul dari buku fotografi Flores Vitae adalah sebuah upaya transcoding gender dari tubuh dan seksualitas wanita. Secara visual beberapa DAFTAR PUSTAKA Artikel Jurnal Arumingtyas. Mendobrak Kriteria Perempuan sebagai Model Fesyen dalam Indonesia Plus-Size Festival Journal of Urban SocietyAos Arts, 5. , 66Ae73. Barnham. Hegel and the peircean Auobject. Ay Sign Systems Studies, 48. , 101Ae124. https://doi. org/10. Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Kusrini. Aji Susanto Anom Purnomo. Muhammad Alfariz. Siti Solekhah Brinck. Empathy, engagement, entrainment: the interaction dynamics of aesthetic experience. Cognitive Processing, 19. , 201Ae213. https://doi. org/10. 1007/s10339-017-0805-x Fayn. MacCann. Tiliopoulos. , & Silvia. Aesthetic emotions and aesthetic people: Openness predicts sensitivity to novelty in the experiences of interest and pleasure. Frontiers in Psychology, 6(DEC), 1Ae11. https://doi. org/10. 3389/fpsyg. Irdawati. Fungsi dan Makna Simbolis Tari Toga di Kerajaan Siguntur Pulau Punjung Sumatera Barat. Panggung, 30. , 549Ae570. Kasiyan. Losing the Battle: Questioning Postcolonial Aesthetic Hegemony Represented in Illustration Pictures at Taman Pintar Yogyakarta. Journal of Urban SocietyAos Arts, 6. , 87Ae100. https://doi. org/10. 24821/jousa. Pozo. Idealistic identity and dialectical mimesis in adornoAos negative Filosofia Unisinos, 14. , 2Ae17. https://doi. org/10. 4013/fsu. Pramanik. Dienaputra. Wikagoe, , & Adji. Makna Simbolik dan Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Seni Pakemplung di Kecamatan Naringgul Kabupaten Cianjur. Panggung, 31. , 74Ae92. Setyorini. Kecantikan Dan Dialektika Identitas Tubuh Perempuan Pascakolonial Dalam Cerita Pendek China Dolls Dan When Asian Eyes Are Smiling. Jurnal Ilmiah Lingua Idea, 7. , 1Ae17. Retrieved from http://jos. id/index. php/jli/article/view/382 Sunarto, -. Seni Yang Absolut Menurut Hegel . Imaji, 13. , 80Ae93. https://doi. org/10. 21831/imaji. Winston. , & Cupchik. Evaluation of High Art and Popular Art by Naive and Experienced Viewers. Visual Arts Research, 18, 1Ae14. Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Buku Bertens. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius. Colberg. Understanding Photobooks: The form and content of the photographic New York: Routledge. Dewey. Art as Experience. Southern Illinois University Press. Fairclough. Language and Power. London: Longman. Hadiwijono. Sari Sejarah Filsafat Barat-2. Yogyakarta: Kanisius. Hall. Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. London: Sage Publications. Lackoff. Robin Tolmach dan Scherr. Face Value: The Politics of Beauty. Boston: Routledge & Keagan Paul. MarkoviN. Components of aesthetic Aesthetic aesthetic appraisal, and aesthetic emotion. I-Perception, 3. , 1Ae17. https://doi. org/10. 1068/i0450aap Museum. PICTORIAL PHOTO. Perrot. State And Statistics In France. Boston: Routledge. Thomas. AuPictorialism and the Photograph As Art : 1845 to 1945 . Ay Becker. Deep Listeners: Music. Emotion, and Trancing. Bloomington: Indiana University Press. Pustaka Laman