Jurnal AGRI PEAT. Vol. 22 No. September 2021 :65 -72 ISSN :1411 Ae 6782 (Ceta. 2620-6935 (Elektroni. KARAKTERISTIK SPEKTRA FTIR DAN SIFAT HIDROFOBISITAS TANAH GAMBUT PEDALAMAN PADA PENGGUNAAN LAHAN YANG BERBEDA DI KABUPATEN PULANG PISAU (FTIR Spectrum and Hydrophobicity Characteristic of Inland Peat soil with different land use from Pulang Pisa. Damanik. Adjie. Yulianti. Melhanah. Sustiyah. Sulistiyanto. , dan Sigalingging. Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya Email : damanik_z@agr. Diterima : 01/03/2021 Disetujui : 06/08/2021 ABSTRACT The irreversible drying indicated by the hydrophobic characteristic is one of the characteristics of peat which can be used to indicate the level of peatland degradation. Hydrophobic peat usually occurs as a result of fire or intensive drought which is mainly caused by peat land conversion. The objective of this research is to study the effect of land use on peat hydrophobicity, based on FTIR spectra and water penetration drop time. The result show that hydrophobicity characteristics of peat is influence by land use differences. The abandoned or scrub land has higher hydrophobic characteristic which indicated by slow water penetration time and the higher hydrophobic index based on the FTIR method, compared with rubber and palm oil plantation. Organic compounds that appear and cause peat to become hydrophobic include carboxyl, hydroxyl phenolic groups, and high lignin content. Keywords : FTIR, hydrophobicity, inland peat, land use ABSTRAK Sifat kering tak balik atau hidrofobisitas merupakan salah satu sifat gambut yang digunakan untuk menentukan tingkat degradasi lahan gambut. Sifat hidrofobisitas gambut terjadi pada lahan gambut yang mengalami kebakaran atau kekeringan yang intensif akibat perubahan tutupan lahan gambut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari dampak perubahan lahan terhadap sifat hidrofobisitas gambut berdasarkan spectra FTIR dan waktu penetrasi air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat hidrofobik gambut dipengaruhi oleh perbedaan penggunaan lahan. Lahan terlantar atau semak belukar memiliki sifat hidrofobik yang lebih tinggi dibanding lahan perkebunan karet dan kelapa sawit, yang ditunjukkan waktu penetrasi air yang lebih lama dan indeks hidrofobik berdasarkan metode FTIR. Gugus fungsi hidroksilat, hidroksi-fenolat, dan kandungan lignin yang tinggi menyebabkan sifat hidrofobik pada gambut. Kata Kunci : FTIR, hidrofobisitas, gambut pedalaman, penggunaan lahan perkebunan sawit seluas 1,5 juta ha, pertanian tanaman pangan 0,7 juta ha, 4,4 juta ha termasuk lahan gambut terdegradasi berupa semak belukar seluas 3,8 juta ha dan bekas pertambangan 0,6 juta ha. Tingginya pemanfaatan lahan gambut untuk berbagai kebutuhan yang tidak sesuai dengan peruntukannya menyebabkan lahan tersebut terdegradasi (Maftuah dan Nurzakiah. Lahan gambut terdegradasi adalah lahan gambut yang telah mengalami penurunan fungsi hidrologi, produksi, dan ekologi yang diakibatkan oleh aktivitas manusia Lahan gambut terdegradasi dicirikan oleh beberapa PENDAHULUAN Lahan gambut di Indonesia memiliki luasan sebesar 13,45 juta hektar (Anda et al. , yang mengalami penurunan luasan sekitar 1,5 juta hektar dari total luasan tahun 2011 yaitu sebesar 14,90 juta hektar (Ritung et , 2. Berdasarkan hasil kajian BBSDLP . melalui interpretasi citra satelit landsat TM 7 pada tahun 2010-2011 yang ditumpangtepatkan . dengan peta sebaran lahan gambut, menunjukkan sekitar 8,3 juta ha lahan gambut tidak terdegradasi dan masih berupa hutan alami dan hutan primer. Sisanya seluas 6,6 juta ha telah dibuka dan Damanik. Z, dkk Karakteristik SpektraFTIR dan Sifat HidrofobilitasAA. parameter: . sudah didrainase yang ditandai oleh adanya saluran/parit, . sudah ada penebangan pohon. ada jalan logging. bekas-bekas . kering/tidak tergenang dan . adanya bekas penambangan (Sukarman, 2. Sifat kering tak balik . rreversible dryin. yang ditunjukkan oleh sifat hidrofobik merupakan salah satu karakteristik gambut yang dapat digunakan untuk menunjukkan tingkat degradasi lahan gambut. Hidrofobisitas tanah gambut disebabkan karena gugus-gugus fungsional pembawa sifat hidrofilik dalam gambut menurun dan didominasi oleh gugusgugus fungsional pembawa sifat hidrofobik (Utami et al. , 2. , sehingga kemampuan mengikat air menurun (Winarna et al. , 2. Sifat hidrofobik gambut biasanya muncul sebagai akibat kebakaran maupun kekeringan intensif yang sebagian besar disebabkan oleh konversi lahan gambut. Konversi lahan menyebabkan air tanah turun karena tidak ada pengisian air tanah dari lahan disekitarnya, zona perakaran menjadi dangkal dan kering. Lahan gambut yang kering menyebabkan lahan yang secara alamiah sangat penyerap air . menjadi tidak bisa lagi menyerap air . dan kering. Keringnya lahan gambut menyebabkan tanaman penutup tanah . over cro. dan rumput/semak yang ada diatasnya menjadi kering. Tanaman kering menjadi mudah terbakar. Api membakar bahan/tanaman kering yang berada di permukaan dan terjadilah difusi panas yang lebih mengeringkan gambut yang ada dibawahnya (Maas, 2015 dalam Novitasari et , 2. Banyak metode yang digunakan untuk menggambarkan sifat hidrofobisitas tanah, namun yang paling mudah dan sering digunakan adalah metode waktu serap air . ater dikembangkan oleh Bisdon et al. (Letey et al. , 2. Dengan berjalannya waktu, metode spektroskopi, terutama Fourier Transform Infra Red (FTIR) banyak digunakan untuk menetukan hidrofobisitas tanah, terutama tanah gambut (Artz et al. , 2006, 2008. Utami et , 2009. Winarna et al. , 2014. Maftuah et al. Penggunaan FTIR merupakan metode alternatif dan bersifat semi kuantitatif, serta dapat mempelajari kualitas senyawa organik dalam gambut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh penggunaan lahan berdasarkan karakteristik spectra FTIR dan waktu serap air. BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan dari Februari hingga Juni 2017. Penelitian ini dilaksakan di Kecamatan Sebangau Kuala. Kecamatan Maliku dan Kecamatan Pandih Batu. Kabupaten Pulang Pisau. Provinsi Kalimantan Tengah. Analisis tanah dilakukan pada Laboratorium Analitik Universitas PalangkaRaya, dan Laboratorium kimia organik FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari sampel gambut dari beberapa lokasi penggunaan lahan, aquades (H2O) dan bahan kimia (Kalium Klorid. Alat yang digunakan dalam penelitian terdiri dari alat pengambilan sampel gambut yaitu bor gambut, cawan porselin, dan GPS Garmin 62s. Alat yang digunakan untuk analisis C-organik dan sifat hidrofobisitas tanah di laboratorium adalah oven merk memmert, tanur merk Heraeus, timbangan analitik merk Fujitsu FS-A, dan FTIR spectrophotometer 8201PC Shimadzu. Pelaksanaan Penelitian Penentuan dan Pengambilan Sampel Tanah Gambut Pengambilan sampel dilakukan pada lahan gambut dengan tiga penggunaan lahan yang berbeda. Tipe penggunaan lahan terdiri dari perkebunan kelapa sawit, perkebunan karet, dan semak belukar (Tabel . Sampling dilakukan dengan tiga ulangan sehingga total titik sampel adalah sebanyak 9. Pengambilan contoh tanah gambut terganggu . isturbed soil sampl. pada kedalaman 0-20 cm dan 20-50 cm dilakukan menggunakan bor gambut. Persiapan Sampel Gambut Sampel tanah dari lapangan sebelum dilakukan analisis di laboratorium dilakukan persiapan berupa pengering anginan pada suhu ruang dan terlindung dari sinar matahari secara langsung, yang digunakan untuk analisis Corganik dan penetapan sifat hidrofobisitas gambut menggunakan metode waktu serap. Jurnal AGRI PEAT. Vol. 22 No. September 2021 :65 -72 ISSN :1411 Ae 6782 (Ceta. 2620-6935 (Elektroni. Khusus sampel yang digunakan untuk penetapan spectra FTIR sampel mengalami pemanasan menggunakan oven pada suhu 60 C selama 24 jam, kemudian dihaluskan menggunakan ayakan berukuran 100 mesh. Sampel gambut dibuat pelet KBr menggunakan alat tekanan mekanik dan dibaca pada rentang panjang gelombang 4000-600 cm-1 dengan resolusi 4 cm-1. Tabel 1. Lokasi Sampling Gambut. Penggunaan Ulangan Kedalaman 0-20 cm 20-50 cm 0-20 cm Karet (K) 0-20 cm 20-50 cm Sawit (S) Semak Belukar (SB) 0-20 cm 20-50 cm 0-20 cm 20-50 cm 0-20 cm 20-50 cm 0-20 cm 20-50 cm 0-20 cm 20-50 cm 0-20 cm 20-50 cm Tabel 2. Variabel Utama Variabel C-Organik Gugus fungsi senyawa organik bahan gambut Hidrofobisitas Variabel Penelitian Variabel yang diamati dan metode analisis di laboratorium dalam penelitian disajikan dalam Tabel 2. Analisis Data Data pengukuran berupa variable penelitian disajikan dalam bentuk tabulasi dan grafik dengan menggunakan software Sigma Plot Versi 14. 0 (Systat Software Inc. , 2. Lokasi Koordinat Desa Purwodadi. Kec. Maliku Desa Kanamit Barat. Kec. Maliku Desa Kanamit Jaya. Kec. Pandih Batu Desa Kanamit Barat. Kec. Maliku Desa Paduran. Sebangau Kuala Desa Kanamit Barat. Kec. Maliku Desa Paduran. Sebangau Kuala Desa Paduran. Sebangau Kuala Desa Paduran. Sebangau Kuala LS : 2A52Ao42,1Ay BT : 114A07Ao30,6Ay LS : 2A51Ao46,1Ay BT : 114A06Ao35,3Ay LS : 2A55Ao00,0Ay BT : 114009Ao50,0Ay LS : 2A57Ao09,7Ay BT : 114A02Ao27,3Ay LS : 02A55Ao00. 9Ay BT : 114A07Ao40. 9Ay LS : 2A51Ao46,1Ay BT : 114A06Ao35,3Ay LS : 03A02Ao27,3Ay BT : 113A57Ao17,9Ay LS : 2A59Ao98,9Ay BT : 113A56Ao90,6Ay LS : 02051Ao46. 1Ay BT : 114005Ao31. 4Ay Metode Analisis Pengabuan kering/tanur (Balai penelitian tanah, 2. FTIR (Artinger et al. Waktu Penetrasi Air (Bisdom et al 1993 dalam Yulianti 2. Indeks hidrofobisitas dihitung berdasarkan Nisbah antara persentase area gugus senyawa alifatik . 02800 cm-. dan karbon organik tanah (Utami et al. Damanik. Z, dkk Karakteristik SpektraFTIR dan Sifat HidrofobilitasAA. serapan yang berbeda. Pada panjang gelombang 1660 sampai 1630 senyawa organik yang terdapat disebabkan oleh peregangan C=O dari kelompok amida dan kuinon atau keton yang terkonjugasi dengan H, sedangkan pada serapan 620 sampai 1600 gugus fungsi senyawa organik terdapat dikarenakan adanyaa getaran C=C aromatik, peregangan simetris kelompok COO, dan H-terobligasi C=O keton Keempat, gelombang 1387 sampai 1381 cm memiliki puncak yang lemah peregangan anti-simetris kelompok COO. Kelima, panjang gelombang 1265 sampai 1210 cm umumnya berasal dari peregangan CO. OH deformasi dari COOH, dan peregangan CO dari aril eter. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Spektra FTIR dan Gugus Fungsi Senyawa Organik Penggunaan FTIR dengan menggunakan panjang gelombang menurut. Stevenson . dan Artz . memilki beberapa garis besar. Pertama, puncak intensitas serapan pada 3000 sampai 2800 cm-1 senyawa-senyawa organik yang terdapat dianggap berasal dari peregangan alifatik CH. Kedua, serapan pada 1719 sampai 1716 cm pada umumnya sangat lemah pada semua sampel gambut dan disebabkan oleh peregangan C = O dari COOH dan gugus karbonil lainnya, misalnya keton. Ketiga, serapan pada gelombang 1660 sampai 1630 cm dan 1620 sampai 1600 cm memiliki intensitas Gambar 1. Spektra FTIR tanah gambut Lapisan 0-20 cm pada penggunaan lahan Karet (K). Semak Belukar (SB), dan Sawit (S). Tabel 3. Serapan Inframerah (FTIR) Utama pada Ketiga Pemggunaan Lahan Panjang Gugus Fungsi Luas % Area Gelombang Karet Sawit Belukar m ) Regangan C-O dari OH fenolik dan atau aril metileter 4,97 6,58 5,25 1381,03 Deformasi C-H, garam dari 1,89 1,89 1,88 asam karboksilat 1620,21 Regangan C-O dari senyawa alkohol, eter, ester, poliskarida, 7,15 7,79 5,61 O-H dari alcohol 1705,07 C=O meregang dari COOH atau 4,35 4,24 4,47 COOR 2854,65 CH2 simetrik 14,81 16,61 14,71 2924,09 Keterangan : Regangan C-H alifatik 4,18 3,73 3,93 Penciri Lapisan lignin . , . Struktur alifatik, fenolik-lignin . Polisakarida . , 4, . Asam oganik bebas . , 4, . Asam-asam lemak, lilin . , 4, . Asam-asam lemak, lilin . , 4, . Parker . Flaig et al. , . Niemeyer et al. , . Stevenson . Ibarra et al. Cocozza et al. , . Gondar et al. dalam Utami et al. Jurnal AGRI PEAT. Vol. 22 No. September 2021 :65 -72 ISSN :1411 Ae 6782 (Ceta. 2620-6935 (Elektroni. Serapan pada panjang gelombang 2924,09 cm-1 terdapat gugus fungsi senyawa organik regangan C-H alifatik dengan luasan area pada penggunaan lahan karet 4,18%, sawit 3,73%, dan semak belukar 3,93% sebagai penciri adanya asam-asam lemak dan lilin. Serapan pada panjang gelombang 2854,65 cm-1 terdapat gugus fungsi senyawa organik CH2 seimetrik dengan luasan area pada penggunaan lahan karet 14,81%, sawit 16,61%, dan semak belukar 14,71%. Diduga penyebab tingginya asam-asam lemak dan lilin pada penggunaan lahan karet Serapan pada panjang gelombang 3000-2800 cm-1 merupakan penciri sifat hidrofobik pada tanah gambut. Serapanserapan tersebut merupakan daerah regangan C-H gugus metil (CH. dan metilen (CH. dari rantai-rantai alifatik (Stevenson dan Goh, 1971. Senesi et al. , 1989. Santos et al. , 2009 . Damanik, 2. Peningkatan luas area serapan mengindikasikan meningkatnya kandungan gugus karboksilat ikatan alifatik yang merupakan pembawa sifat hidrofilik (Utami et , 2009. Klavins dan Sire, 2. Serapan pada panjang gelombang 1705,07 cm-1 terdapat gugus fungsi senyawa organik regangan C=O dari COOH atau COOHR dengan luasan area pada penggunaan lahan karet 4,35%, kelapa sawit 4,24%, dan semak belukar 4,47% sebagai penciri adanya asam-asam organik bebas. Serapan pada panjang gelombang sekitar 1705 cm-1 berkaitan dengan regangan C=C dari cincin aromatik dan regangan C=O dari gugus karbonil terkonjugasi pada keton, kuinon dan amida (Stevenson dan Goh, 1971. Santos dan Duarte, 1. Serapan pada panjang gelombang 1620,21 cm-1 terdapat gugus fungsi senyawa organik regangan C-O dari senyawa alkohol, eter, ester, poliskarida. O-H dari alkohol dengan luasan area pada penggunaan lahan karet 7,15%, sawit 7,79%, dan semak belukar 5,61% sebagai penciri adanya polisakarida. Serapan pada gelombang 1700-1600 cm-1 merupakan pembawa sifat hidrofilik pada tahanh gambut. Serapan pada panjang gelombang sekitar 1630 cm-1 menggambarkan regangan C-O dari karbohidrat dan eter (Stevenson dan Goh, 1971. Bellamy. Santos et al. , 2. Serapan pada panjang gelombang 1381,03 cm-1 terdapat gugus fungsi senyawa organik deformasi C-H, dan garam dari asam karboksilat dengan luasan area pada penggunaan lahan karet 1,89%, sawit 1,89%, dan semak belukar 1,88% yang ditandai adanya struktur alifatik dan fenolik-lignin. Serapan pada panjang gelombang 1265,3 cm-1 terdapat gugus fungsi senyawa organik regangan C-O dari OH fenolik dan atau aril metileter dengan luas area pada penggunaan lahan karet 4,97%, sawit 6,58%, dan semak belukar 5,25% dengan ditandai adanya lapisan lignin. Deformasi O-H dan regangan C-O dari gugus OH fenolik, atau regangan COO- dan deformasi C-H dari gugusgugus metil (CH. ditandai oleh serapan pada panjang gelombang sekitar 1380 cm-1 (Stevenson dan Goh, 1971. Bellamy, 1975. Sanesi et al. , 1. Serapan pada panjang gelombang 12001300 cm-1 terdapat gugus fungsi dari regangan C-O dari OH fenolik dan atau aril metileter dengan luasan area pada penggunaan lahan karet 4,97%, sawit 6,58%, dan semak belukar 5,25% ditandai dengan adanya lapisan lililn. Lapisan lilin pada penggunaan lahan sawit lebih tinggi dikarenakan bahan penyusun gambut pada penggunaan ini berasal dari seresah-serasah tanaman kelapa sawit yang mengandung lapisan lignin seperti pelepah maupun batang sawit yang telah membusuk diakibatkan peremajaan yang dilakukan Sifat Hidrofobisitas Gambut Hidrofobisitas dapat diartikan sebagai kemampuan tanah untuk menahan atau menjerap air. Kemampuan tanah menahan air yang rendah maka dapat dikatakan bahwa tanah tersebut bersifat hidrofobik . enolak ai. dan sebaliknya apabila tanah dapat menyerap air dengan cepat maka dapat dikatakan bahwa tanah tersebut bersifat hidrofilik. Nilai . aktu penetrasi/serap > 5 deti. menyatakan bahwa gambut tersebut telah mengalami hidrofobik sedangkan pada gambut yang waktu penetrasi/serap < 5 detik masih hidrofilik. Data hidrofobisitas yang diperoleh dari 3 . penggunaan lahan . Sawit dan semak beluka. menunjukkan kemampuan waktu serap air yang berbeda. Daya serap air yang paling lambat terdapat pada penggunaan lahan semak belukar pada kedalamaan 0-20 cm dan kedalaman 20-50 cm dengan waktu serap 10,1-13,5 detik dan 4,2-6,7 detik. Penggunaan lahan karet pada kedalaman 0-20 cm memiliki daya serap yang paling cepat yaitu dengan waktu serap 4,1-4,8 detik. Penggunaan lahan semak belukar menunjukkan bahwa gambut Damanik. Z, dkk Karakteristik SpektraFTIR dan Sifat HidrofobilitasAA. tersebut memiliki sifat hidrofobik . ambat menyerap ai. diduga karena pada saat pengeringan hingga 180 menit gambut yang awalnya tergenang setelah dioven dengan suhu 60o telah mengalami kadar air kritis, dan menyebabkan gambut tersebut memiliki waktu penetrasi yang cenderung lama. Selain menggunakan metode WPT untuk mengetahui tingkat hidrofobisitas gambut, pada penelitian ini juga menggunakan metode FTIR dengan perhitungan akhir persen area gugus C-alifatik . anjang gelombang 3000-2800 cm-1. ) dibagi dengan C-organik. Hasil indeks hidrofobisitas gambut menunjukkan hasil yang sama dengan hidrofobisitas berdasarkan WPT bahwa penggunaan lahan semak belukar lebih tinggi kemungkinan mengalami hidrofobik dan yang paling rendah terdapat pada penggunaan lahan Nilai indeks hidrofobisitas penggunaan lahan semak belukar, sawit, dan karet berturutturut 0,22% cm-1 0,19% cm-1, dan 0,17% cm-1 (Gambar . Sifat hidrofobik pada gambut disebabkan oleh beberapa faktor diantara lain oleh senyawa hidrokarbon aromatik yang menyelaputi koloid-koloid berupa lapisan lilin sehingga mengurangi gaya tarik antara partikelpertikel tanah dengan molekul-molekul air. Hidrofobik yang terjadi pada penggunaan lahan semak belukar disebabkan oleh menurunnya kemasaman total, gugus karboksil dan kandungan hidroksi-fenolat karena pengeringan yang dilakukan. Penggunaan lahan kelapa sawit dan karet memiliki waktu penetrasi yang lebih cepat dibandingkan dengan penggunaan lahan semak belukar dikarenakan penggunaan lahan kelapa sawit dan karet memiliki pengelolaan lahan yang dilakukan secara intensif dan kemungkinan terjadinya kebakaran sangat kecil sehingga hidrofobisitas tanah gambut dapat Gambut yang telah mengalami kekeringan ekstrim akibat pembuatan drainase yang berlebihan menyebabkan koloid menjadi rusak, sulit menyerap air, mudah terbakar, dan sangat sulit untuk ditanami kembali. Kondisi lahan pada semak belukar yang baru mengalami kebakaran juga menjadi salah satu faktor Kebakaran pada lahan tersebut merubah senyawa-senyawa polar menjadi nonpolar. Menurut Valat et al. Hallet 2008 dalam Winarna 2. hidrofobisitas tanah gambut terjadi karena gugus-gugus fungsional dalam tanah gambut yang bersifat polar . eperti karboksil dan hidroksi. akan saling berikatan melalui ikatan hidrogen dan gugus-gugus nonpolar . til, metil, dan senyawa aromatik lainny. terorientasi pada permukaan koloid organik dan gambut bersifat hidrofobik. Gambut yang kering peka terhadap kebakaran, bobot isinya ringan sehingga mudah diterbangkan angin, mengapung jika kondisi tergenang, dan bentuk yang menyerupai tanah pasir karena koloid gambut tidak berfungsi sebagai pemegang air (Najisti et al. , 2008 . Noor et al. , 2. Masganti et al. , . menyatakan sifat hidrofobisitas gambut akan muncul setelah kadar airnya menurun dan melewati nilai kadar air kritis untuk terjadinya Waktu serap (Deti. semak belukar Kedalaman 0-20 cm Kedalaman 20-50 cm Gambar 2. Potensi Hidrofobisitas Gambut berdasarkan waktu serap dan Indeks Hidrofobisitas berdasarkan spectra FTIR Jurnal AGRI PEAT. Vol. 22 No. September 2021 :65 -72 ISSN :1411 Ae 6782 (Ceta. 2620-6935 (Elektroni. Damanik. Kajian Kimia air Gambut pada Lahan Gambut dengan Substratum Sulfidik. Disertasi. Universitas Gadja Mada (UGM). Yogyakarta. Flaig. Beiutelspacher, dan E. Rietz. Chemical Composition and Physical Properties Humic Substances. Dalam: J. Gieseking . Soil Components. Vol. Organic Components. SpringerVerlag. New York. Gondar. Lopez. Fiol. Antelo, and Arce. Characterization and acidbase properties of fulvic and humic acids isolated from two horizons of an ombrotrophic peat bog. Geoderma. Ibarra. Munoz. Moliner. FTIR study of the evolution of coal structure during the coalification process. Organic Geochemistry. : 725-735. Klavins. , and J. Sire. Variations of humic acid properties within peat In: Klavins (Ed. Mires and Peat. University of Latvia Press. 216 p. Letey. Carrillo, and X. Pang. Approaches to characterize the degree of water repellency. Hydrol. 231/232:61Ae Maftuah. Eni, dan S. Nurzakiah. Pemulihan dan Konservasi Lahan Gambut. Dalam Agroekologi Rawa. Hal: RajaGrafindo Persada. Depok. Maftuah. Eni. Fahmi, dan A. Hayati. Changes Degraded Peatland Characteristic Using FTIR-Spectrocopy. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science doi:10. 1088/1755-1315/393/1/012091. Niemeyer. Chen, and L. Bollag. Characterization of humic acids, composts, and peat by Diffuse Reflectants Fourier Transform Infrared Spectroscopy. SSAJ. :135-140. Novitasari. Sujono. Harto. Maas, dan R. Jayadi. Pengaruh karakteristik gambut terdegradasi terhadap kebakaran lahan gambut (Studi kasus lahan gambut PLG blok A di Kalimantan Tenga. Prosiding Seminar Nasional Lingkungan Lahan Basah. : 347-351. Ritung. Wahyunto. Nugroho. Sukarman. Hikmatullah. Suparto. Tafakresnanto. Peta Lahan Gambut Indonesia, skala 1:250. KESIMPULAN Penggunaan lahan yang berbeda akan menyebabkan perbedaan sifat hidrofobisitas Penggunaan lahan yang memiliki sifat hidrofobik ditandai dengan daya serap (WPT) yang lambat terdapat pada penggunaan lahan semak belukar. Hal ini juga sejalan dengan Indeks hidrofobik berdasarkan metode panjang gelombang FTIR, yang paling tinggi juga terdapat pada penggunaan lahan semak belukar. Senyawa-senyawa organik yang muncul dan mengakibatkan gambut menjadi bersifat hidrofobik antara lain gugus karboksil dan hidroksil fenolat disamping kandungan lignin yang tinggi. DAFTAR PUSTAKA