Jurnal Peduli Masyarakat Volume 6 Nomor 3. September 2024 e-ISSN 2721-9747. p-ISSN 2715-6524 http://jurnal. com/index. php/JPM PEMBERDAYAAN SISWA PEMANTAU JENTIK DALAM UPAYA PENURUNAN KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) Sri Astutik Andayani1*. Emelya Yuliana Sugianto1. Fitri Ani Arifah1. Inayatul Karimah1. Immatur Ruqoyyah2 Fakultas Kesehatan. Universitas Nurul Jadid. Jl. Kiai Zaini MunAoim Karanganyar Paiton Probolinggo 67291. Indonesia Klinik Azzayniah. Pesantren Nurul Jadid. Jl. Kiai Zaini MunAoim Karanganyar Paiton Probolinggo 67291. Indonesia *astutikandayani@unuja. ABSTRAK Pesantren Nurul jadid dengan jumlah santri kurang lebih sepuluh ribu jiwa yang bermukim tentu memiliki kepadatan penduduk cukup tinggi dan lingkungan yang rawan terhadap penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Dalam beberapa tahun terakhir, pesantren ini mengalami peningkatan kasus DBD di kalangan santri dan staf, yang disebabkan oleh kondisi lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, kurangnya kesadaran tentang pentingnya pencegahan DBD, dan rendahnya partisipasi dalam upaya pemantauan jentik. Program pengabdian kepada masyarakat ini dirancang untuk mengatasi masalah tersebut melalui pemberdayaan siswa sebagai pemantau jentik dalam upaya penurunan kasus DBD di pesantren. Bentuk pengabdian yang dilakukan meliputi sosialisasi dan edukasi tentang DBD dan pencegahannya, pelatihan praktis bagi siswa tentang cara mengidentifikasi dan memantau jentik nyamuk, pembentukan tim pemantau jentik dari siswa yang telah dilatih, pelaksanaan kegiatan pemantauan rutin di lingkungan pesantren, serta evaluasi dan monitoring secara berkala. Solusi yang ditawarkan melalui program ini adalah meningkatkan pengetahuan dan kesadaran santri serta staf pesantren tentang DBD dan langkah-langkah pencegahannya, membekali siswa dengan keterampilan praktis untuk melakukan pemantauan jentik, dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan aman dari ancaman DBD. Kesimpulan dari program pengabdian ini adalah bahwa pemberdayaan siswa sebagai pemantau jentik dapat secara efektif mengurangi tempat perkembangbiakan nyamuk, meningkatkan partisipasi aktif santri dalam upaya pencegahan DBD, dan menurunkan jumlah kasus DBD di lingkungan Program ini juga menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pesantren, siswa, dan tim PKM dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan aman bagi seluruh penghuni pesantren Kata kunci: DBD. pemantau jentik. EMPOWERING STUDENT LARVAE MONITORS IN EFFORTS TO REDUCE DENGUE HEMORRHAGIC FEVER (DHF) CASES ABSTRACT Nurul Jadid Islamic Boarding School, with approximately ten thousand students residing within, has a high population density and is vulnerable to the spread of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF). In recent years, this boarding school has experienced an increase in DHF cases among students and staff, which is attributed to environmental conditions that promote the breeding of Aedes aegypti mosquitoes, a lack of awareness about the importance of DHF prevention, and low participation in larvae monitoring efforts. This community service program was designed to address these issues by empowering students as larvae monitors to help reduce DHF cases in the boarding school. The service activities conducted include socialization and education about DHF and its prevention, practical training for students on how to identify and monitor mosquito Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group larvae, forming a larvae monitoring team from trained students, implementing regular monitoring activities within the school environment, and periodic evaluation and monitoring. The solutions offered through this program aim to increase the knowledge and awareness of students and staff about DHF and preventive measures, equip students with practical skills to monitor larvae, and create a healthier and safer environment free from the threat of DHF. The conclusion of this community service program is that empowering students as larvae monitors can effectively reduce mosquito breeding sites, increase active student participation in DHF prevention efforts, and lower the number of DHF cases within the boarding school environment. This program also highlights the importance of collaboration between the boarding school, students, and the community service team in creating a healthy and safe environment for all residents of the boarding school. Keywords: dengue fever. larvae monitor PENDAHULUAN Dalam rangka menuju angka nol kematian akibat dengue di tahun 2030 (Zero Dengue Death 2. , diperlukan upaya pencegahan dan pengendalian DBD dengan mempunyai target penurunan jumlah kasus . ncidence rat. dan angka kematian (CFR) (Kemenkes RI, 2. Target indikator dalam Rencana Strategis (Renstr. Kementerian Kesehatan 2020-2024, yaitu 95% kabupaten/kota dengan incidence rate (IR) DBD O10/100. 000 penduduk (Kemenkes RI. Sedangkan untuk target nasional angka kematian (CFR) DBD yaitu < 1% (Kementerian Kesehatan RI, 2. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Timur angka kejadian DBD di Jawa Timur tahun 2023 masih tergolong tinggi dan secara nasional belum mencapai target indikator incidence rate (IR) DBD. Kasus DBD yang terjadi di Jawa Timur pada tahun 2022 236 orang dengan angka incidence rate sebanyak 32,8 per 100. 000 penduduk dan jumlah kematian sebanyak 154 orang (CFR = 1,2%). Sedangkan pada tahun 2023 kasus DBD di Jawa Timur mengalami penurunan dengan jumlah kasus sebanyak 7. 235 orang dengan angka incidence rate yaitu 17,96 per 100. 000 penduduk dan jumlah kematian sebanyak 65 orang (CFR = 0,9%) (Dinas Kesehatan Jawa Timur, 2. Selain itu, indikator lain yang digunakan untuk upaya pengendalian penyakit DBD yaitu angka bebas jentik (ABJ) dengan target program yang sebesar Ou 95%. (Lesmana & Halim, 2. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Timur angka bebas jentik (ABJ) di Jawa Timur tahun 2023 sudah mencapai target program yaitu sebesar 96,44%. Hasil penelitian Rahmawati . , angka house indeks yaitu persentase sekolah yang ditemukan jentik Aedes sp. adalah 76,2% dari 42 sekolah dasar. Pesantren Nurul Jadid memiliki kepadatan penduduk cukup tinggi dan lingkungan yang rawan terhadap penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Dalam beberapa tahun terakhir, pesantren Nurul jadid mengalami peningkatan kasus DBD di kalangan santri dan staf atau warga Tingginya kasus DBD ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kondisi lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, kurangnya kesadaran tentang pentingnya pencegahan DBD, dan rendahnya partisipasi dalam upaya pemantauan jentik Lokasi Mitra pada Pengabdian ini adalah di Pondok Pesantren Nurul Jadid terletak di Desa Karanganyar. Kecamatan Paiton. Kabupaten Probolinggo. Jawa Timur. Pondok pesantren ini merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam terbesar di wilayah tersebut, dengan ribuan santri yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Kasus yang Terjadi: Pondok Pesantren Nurul Jadid telah mengalami beberapa kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo, jumlah kasus Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group DBD di lingkungan pesantren ini meningkat setiap musim hujan, yang merupakan waktu berkembang biak nyamuk Aedes aegypti. Pondok Pesantren Nurul Jadid memiliki komunitas yang sangat erat dan saling mendukung. Santri-santri berasal dari berbagai latar belakang sosial dan budaya, yang menciptakan lingkungan yang kaya akan keragaman. Namun, kebersamaan ini juga membuat penyebaran penyakit seperti DBD menjadi lebih mudah karena interaksi yang intensif di lingkungan yang padat. Permasalahan mitra yaitu tingkat kasus DBD yang meningkat setiap tahun menjadi perhatian Kurangnya pemahaman dan keterlibatan santri dalam upaya pencegahan DBD memperburuk situasi ini. Pondok pesantren memiliki keterbatasan sumber daya dalam hal peralatan dan tenaga untuk melakukan pemantauan dan pemberantasan jentik nyamuk secara Meskipun ada niat baik untuk melibatkan santri dalam program pemantauan jentik, kurangnya pelatihan dan pendampingan menyebabkan program ini belum berjalan secara Dengan analisis situasi ini, diharapkan program pemberdayaan siswa pemantau jentik dapat dirancang secara tepat untuk mengatasi permasalahan yang ada dan berkontribusi dalam upaya penurunan kasus DBD di Pondok Pesantren Nurul Jadid. Tujuan pengabdian ini pemberdayaan siswa sebagai pemantau jentik dalam upaya penurunan kasus DBD di pesantren. METODE Tahapan kegiatan dimulai dengan persiapan yang melibatkan sosialisasi dan edukasi mengenai Demam Berdarah Dengue (DBD) dan upaya pencegahannya. Dalam tahap ini, tim PKM bersama mahasiswa keperawatan dan santri akan mengadakan sesi yang mencakup presentasi, video, dan diskusi interaktif. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan peserta, yang akan diukur melalui pre-test dan post-test, serta mencatat jumlah peserta yang hadir. Selanjutnya, setelah peserta memiliki pemahaman dasar tentang DBD, tahap berikutnya adalah pelatihan pemantauan jentik. Pada tahap ini, pelatihan praktis dilakukan untuk mengajarkan cara mengidentifikasi dan memantau jentik nyamuk, termasuk demonstrasi dan praktik lapangan di lingkungan pesantren. Keterlibatan petugas kesehatan dalam pelatihan ini akan membantu siswa memperoleh keterampilan yang diperlukan, yang juga akan dievaluasi melalui praktik. Setelah pelatihan, langkah selanjutnya adalah pembentukan tim pemantau jentik. Tim ini terdiri dari santri yang telah dilatih, dan mereka akan bertanggung jawab untuk melakukan pemantauan rutin di area yang telah ditentukan. Tim PKM akan memfasilitasi penentuan area pemantauan dan jadwal inspeksi. Indikator keberhasilan pada tahap ini adalah terbentuknya tim pemantau yang aktif serta adanya jadwal dan area pemantauan yang jelas. Akhirnya, kegiatan akan diakhiri dengan evaluasi untuk menilai efektivitas keseluruhan program. Evaluasi ini akan mencakup pengukuran dampak peningkatan pengetahuan peserta dan efektivitas tim pemantau dalam menurunkan jumlah kasus DBD. Dengan tahapan yang terencana dan sistematis ini, diharapkan program dapat berjalan lancar dan memberikan kontribusi signifikan dalam pengendalian DBD di Pondok Pesantren Nurul Jadid. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di Klinik Azzayniyah Pondok Pesantren Nurul Jadid adalah sebagai berikut: Kemajuan dari pelaksanaan PKM ini adalah telah dilaksanakan hingga pertemuan ke-3. Pada tahapan persiapan dan koordinasi telah dilakukan kepada pihak Klinik Azzainiyah Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo pada tanggal 5 Junli 2024 (Gambar 3. Program telah mendapat dukungan dari pihak terkait dimana pelaksanaan kegiatan telah mendapatkan ijin. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group (Wijayanti, 2. menyatakan pentingnya dukungan stakeholder dalam keberhasilan program kesehatan masyarakat, hal serupa disampaikan (Sari, 2. menekankan bahwa koordinasi yang baik antara pihak terkait sangat mempengaruhi efektivitas program kesehatan. Gambar 1. Koordinasi Kegiatan Pertemuan 1 Pada pertemuan pertama, program pembentukan Jumantik berhasil melahirkan 20 kader yang aktif dan bersedia menandatangani pernyataan komitmen sebagai Juru Jumantik. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa target luaran untuk program pembentukan kader remaja sebagai Jumantik telah tercapai. Dukungan dari pihak Klinik Azzayiniyah dan keterlibatan santri dalam program ini sangat penting, seperti yang dijelaskan oleh Kurniawan . , yang menekankan bahwa dukungan stakeholder merupakan faktor kunci dalam keberhasilan program kesehatan Selain itu, keberadaan kader remaja sebagai Jumantik tidak hanya meningkatkan kapasitas pemantauan lingkungan, tetapi juga memperkuat kesadaran komunitas tentang pentingnya pencegahan DBD. Menurut Utami dan Hartati . , keterlibatan komunitas dalam program kesehatan dapat memengaruhi perilaku kesehatan masyarakat secara positif. Dengan terbentuknya 20 kader ini, diharapkan mereka dapat berperan sebagai agen perubahan di lingkungan pesantren, yang sejalan dengan temuan Rahayu dan Sari . bahwa evaluasi berkelanjutan dan keterlibatan kader lokal meningkatkan dampak program pengabdian Melalui pembentukan kader Jumantik ini, diharapkan akan tercipta lingkungan yang lebih sehat dan aman dari risiko penyebaran DBD, serta mendorong partisipasi aktif santri dalam kegiatan pencegahan penyakit. Ini sejalan dengan hasil penelitian oleh Suryani dan Prasetyo . , yang menunjukkan bahwa program yang melibatkan kader kesehatan dapat meningkatkan efektivitas intervensi kesehatan di masyarakat. Dengan demikian, pencapaian pada pertemuan pertama ini menjadi langkah awal yang signifikan dalam menciptakan perubahan positif di Pondok Pesantren Nurul Jadid, yang akan terus dikembangkan dalam pertemuanpertemuan berikutnya. Gambar 2. Pembentukan Kader Jumantik Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group Pertemuan 2 Program yang kedua yaitu pendidikan kesehatan kepada kader remaja tentang Jumantik dan demam dengue telah dilakukan. Berdasarkan hasil analisis untuk pengetahuan tentang Jumantik santri diketahui rata-rata nilai pre-test kader remaja santri adalah dan rata-rata nilai post-test adalah 86,7 atau terjadi rata-rata peningkatan sebesar 8,97% setelah diberikan edukasi kesehatan. Sedangkan hasil pre-test kader remaja tentang demam dengue didapat rata-rata nilai 78,9 dan post-test 80,0 atau terjadi peningkatan sebesar 1,39%. Gambar 3. Pelaksanaan Kegiatan Sebelum dilakukan penyuluhan dan pelatihan dilakukan pre tes dan setelah pelatihan juga dilakukan post tes yang hasilnya sebagai berikut: Tabel 1. Gambaran Pengetahuan Kader Jumantik tentang DBD Pengetahun Sebelum Pemberdayaan Sesudah Pemberdayaan Mean P-Value 0,000 Tabel 2. Gambaran Sikap Kader Jumantik tentang DBD Sikap Sebelum Pemberdayaan Sesudah Pemberdayaan Mean P-Value 0,000 Pertemuan 3 Pertemuan yang ketiga yaitu tentang pemberian materi dan edukasi kesehatan tentang peran sebagai kader posyandu remaja. Berdasarkan hasil pre-test diperoleh nilai rata-rata 73,8% dan nilai rata-rata post-test adalah 84,4%. Data tersebut menunjukkan terjadi peningkatan pemahaman sebesar 12,7% tentang kader posyandu remaja. Pada pertemuan ini juga dilakukan penyerahan media edukasi kesehatan berupa poster, banner, dan leaflet serta seragam kader remaja yang nantinya dapat digunakan oleh kader remaja. penggunaan media promosi kesehatan seperti leaflet, poster, ataupun banner dapat menunjang pelaksanaan penyuluhan sehingga pesan kesehatan dapat tersampaikan dengan baik. Seseorang yang terpapar informasi mengenai suatu topik tertentu akan memiliki pengetahuan yang lebih daripada yang tidak terpapar informasi. Berdasarkan rencana strategis Departemen Kesehatan Republik Indonesia dimana salah satu kegiatan pokok promosi kesehatan yaitu melalui media cetak seperti leaflet, brosur, poster. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group kalender dan lain-lain, dimana tujuan promosi kesehatan tersebut agar dapat memberdayakan individu, keluarga dan masyarakat sehingga menumbuhkan perilaku hidup sehat dan mengembangkan upaya kesehatan yang bersumber Masyarakat. Gambar 4. Kader Jumantik Putra dan Putri Berdasarkan hasil analisis di atas terlihat bahwa terdapat peningkatan nilai rata-rata tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah mendapatkan materi Pelatihan Jumantik dan Jumanah. Nilai rata-rata saat pre-test adalah 65,12 dan meningkat menjadi 70,83 pada saat post test. Nilai maksimal yang dihasilkan oleh peserta juga meningkat dari 95 menjadi 100. Berikut ini adalah gambaran perubahan rata-rata pengetahuan peserta sebelum diberikan materi dengan setelah diberikan materi. Dari hasil analisis data, diketahui bahwa pertanyaan yang dijawab secara benar . % peserta menjawab bena. adalah dampak penyakit, cara penularan, kegiatan 3M, tempat berkembang biak, dan tugas Jumantik. Sementara itu, pertanyaan yang mengalami kenaikan nilai yang paling tinggi antara pre-test dan post-test adalah apakah nyamuk penyebab DBD dapat berkembang biak di genangan air yang bersentuhan dengan tanah. Lebih dari 60% peserta menganggap bahwa cara mencegah DBD yang paling tepat adalah fogging. Pengetahuan yang rendah juga terdapat pada cara penularan DBD dari orang sakit ke orang sehat yang rentan melalui gigitan nyamuk, ciri-ciri nyamuk penular DBD, dan tempat hinggap nyamuk penular DBD. Temuan ini sejalan dengan penelitian oleh Hidayat et al. , yang menunjukkan bahwa pengetahuan tentang tempat berkembang biak nyamuk sangat berpengaruh terhadap upaya Hal ini juga didukung oleh penelitian oleh Tomori et al. , yang menemukan bahwa pemahaman yang kurang tentang mekanisme penularan dapat menghambat efektivitas program Jumantik (Juru Pemantau Jenti. merupakan anggota masyarakat yang secara sukarela memantau keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di lingkungannya dan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara rutin (Kemenkes, 2. Tugas pokok jumantik adalah melakukan pemantauan jentik, penyuluhan kesehatan, menggerakkan pemberantasan sarang nyamuk secara serentak dan periodik, serta melaporkan hasil kegiatan kepada supervisor dan petugas puskesmas (Pratamawati, 2. Peran jumantik sangat penting dalam sistem kewaspadaan dini mewabahnya DBD. Hal ini dikarenakan jumantik dapat digunakan sebagai upaya untuk memantau keberadaan dan menghambat perkembangan awal vektor penular DBD. Keaktifan kader jumantik dalam memantau lingkungannya diharapkan dapat menurunkan angka kasus DBD. Muliawati . dan Djannah . menyebutkan bahwa kader sangat berperan dalam mengurangi kasus demam berdarah. Penelitian ini mendukung kuat bahwa dalam mencegah terjadinya demam berdarahperlu adanya kader jumantik. Kader yang baik harus Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group mempunyai ketrampilan dalam menjalankan perannya, sehingga perlu dilakukan pelatihan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan pengetahuan dan ketrampilan kader jumantik. Keadaan ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang mengatakan bahwa pemberian pelatihan akan meningkatkan pengetahuan (Yunita 2. Peningkatan pengetahuan karena pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan . elakukan pengamatan oleh indera seperti penglihatan dan pendengaran ) terhadap suatu objek tertentu Penelitian yang dilakukan oleh Bestari dan Siahaan di Desa Karang Asem Kecamatan Laweyan Kota Surakarta tahun 2017 menyebutkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang PSN DBD terhadap keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti tetapi ada hubungan antara perilaku dengan keberadaan jentik nyamuk tersebut. Terkait dengan hubungan antara sikap dan pengetahuan dengan perilaku PS. Monintja pada tahun 2015 menyebutkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara sikap dan pengetahuan dengan tindakan PSN DBD. Akan tetapi dalam pre dan post-test dari kegiatan pengabdian masyarakat ini, sikap dan perilaku tidak diukur. Hanya komponen pengetahuan yang dapat diketahui. Diharapkan dengan terjadinya peningkatan pengetahuan mengenai PSN DBD, akan terjadi perubahan perilaku dalam melaksanakan pemberantasan DBD dengan 3M plus. SIMPULAN Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat diterima dan dilaksanakan oleh mitra dan terkoordinasi dengan baik dan antusias. Ada peningkatan nilai rata-rata pengetahuan peserta untuk pencegahan penyakit DBD dan pemantauan jentik berkala sebagai Jumantik dan Jumanah di lingkungan Pesantren. Telah terbentuknya kader Jumantik. Telah terlaksananya kegiatan praktek pemantauan jentik oleh peserta sehingga meningkatkan ketermapilan mereka. Program ini memperkuat keterlibatan komunitas dalam kegiatan kesehatan, mempromosikan nilai-nilai kebersamaan dan tanggung jawab sosial. Santri yang terlibat sebagai Jumantik dapat menjadi agen perubahan dalam komunitas mereka, baik di dalam pesantren maupun di luar. Kurangnya pemantauan dan evaluasi dapat mengakibatkan tidak adanya umpan balik yang konstruktif dan perbaikan berkelanjutan pada program. Dibutuhkan sistem pemantauan dan evaluasi yang terstruktur untuk mengukur hasil dan dampak program serta mengidentifikasi area untuk DAFTAR PUSTAKA