Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No. 2 Desember, 2025 : 146-167 FENOMENA RENDAHNYA NALAR DIGITAL MASYARAKAT INDONESIA: ANALISIS PERILAKU NETIZEN DAN SOLUSI PENDIDIKAN Wiene Surya Putra Institut Syekh Abdul Halim Hasan Binjai wienesuyaputra@insan. Karina Wanda Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara karinawanda@umsu. Abstract This study investigates the underlying causes of low digital reasoning among Indonesian netizens, examining their online behaviors from an educational perspective, and proposing comprehensive, education-based solutions. Employing an explanatory sequential mixed methods design, the study first quantitatively assesses the prevalence and characteristics of low reasoning behaviors . g, hoax sharing, hate speech, impolitenes. among a representative sample of Indonesian Subsequently, qualitative data will be collected through interviews and focus group discussions with educational stakeholders . eachers, students, policymaker. to explore the educational factors contributing to these behaviors and identify potential pedagogical interventions. Preliminary findings indicate a strong correlation between low digital literacy . articularly critical evaluation skill. and the propensity to spread misinformation and engage in uncivil online A significant gap exists in the formal education system regarding the explicit teaching of critical thinking, media literacy, and digital ethics. The study highlights the urgent need for integrated educational reforms that prioritize digital literacy, critical thinking, and character education across all levels of the Indonesian curriculum. These interventions are crucial for fostering a more discerning, responsible, and civically engaged digital citizenship. Keywords: Digital Reasoning. Indonesian Netizens. Digital Literacy. Critical Thinking Abstrak Studi ini mengkaji akar penyebab rendahnya kemampuan bernalar digital di kalangan warganet Indonesia, dengan menelaah perilaku daring mereka dari perspektif pendidikan serta mengusulkan solusi komprehensif berbasis pendidikan. Dengan menggunakan desain metode campuran berurutan eksplanatori, penelitian ini terlebih dahulu melakukan penilaian kuantitatif terhadap prevalensi dan Wiene Surya Putra, dkk: Fenomena Rendahnya Nalar Digital Masyarakat Indonesia: Analisis Perilaku Netizen Dan Solusi Pendidikan karakteristik perilaku bernalar rendah . isalnya, penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan ketidaksantuna. pada sampel representatif warganet Indonesia. Selanjutnya, data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara dan diskusi kelompok terarah bersama para pemangku kepentingan pendidikan . uru, siswa, dan pembuat kebijaka. untuk mengeksplorasi faktor-faktor pendidikan yang berkontribusi terhadap perilaku tersebut serta mengidentifikasi intervensi pedagogis yang potensial. Temuan awal menunjukkan adanya korelasi yang kuat antara rendahnya literasi digital khususnya keterampilan evaluasi kritisAidengan kecenderungan menyebarkan informasi keliru dan terlibat dalam diskursus daring yang tidak santun. Terdapat kesenjangan yang signifikan dalam sistem pendidikan formal terkait pengajaran eksplisit mengenai berpikir kritis, literasi media, dan etika digital. Studi ini menekankan urgensi reformasi pendidikan yang terintegrasi, dengan memprioritaskan literasi digital, kemampuan berpikir kritis, dan pendidikan karakter di seluruh jenjang kurikulum nasional Indonesia. Intervensi ini sangat penting untuk membentuk kewargaan digital yang lebih cermat, bertanggung jawab, dan aktif secara sipil. Kata Kunci: Bernalar Digital. Warganet Indonesia. Literasi Digital. Berpikir Kritis PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital telah mengubah secara fundamental cara individu berinteraksi, mengakses informasi, dan berpartisipasi dalam diskursus publik di seluruh dunia. Indonesia sebagai negara dengan populasi besar dan pengguna internet yang terus meningkat, telah mengalami transformasi digital yang 1 Data menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan rata-rata tidak kurang dari 9 jam sehari menatap layar, menunjukkan tingkat aktivitas daring yang sangat tinggi. Namun, di balik tingkat konektivitas yang tinggi ini, muncul sebuah fenomena yang memprihatinkan: perilaku netizen Indonesia yang ditandai oleh rendahnya nalar digital, kerentanan terhadap misinformasi, dan kecenderungan Observasi awal dan berbagai survei telah menempatkan netizen Indonesia pada peringkat terendah atau paling tidak sopan di Asia Tenggara, dengan skor Digital Civility Index (DCI) sebesar 76 pada tahun 2020, di mana skor yang lebih tinggi menunjukkan tingkat kesopanan digital yang lebih buruk. 3 Perilaku ini mencakup kebiasaan memposting komentar negatif, ujaran kebencian, komentar Indonesia's Digital Literacy as a Challenge for Democracy in the Digital Age - Universitas Negeri Surabaya, accessed July 23, 2025. Netizen Indonesia Rendah Literasi - Aktivitas PKIM, accessed July 23, 2025, https://kegiatan. pkimuin-suka. id/single/netizen-indonesia-rendah-literasi2021-04-2700-56-01 Dwinanda Kinanti Suci Sekarhati. Combating Hoax and Misinformation in Indonesia Using Machine Learning: What is Missing and Future Directions. JURNAL EMACS (Engineering. MAthematics and Computer Scienc. Vol. 6 No. 2 May 2024 Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 146-167 Wiene Surya Putra, dkk: Fenomena Rendahnya Nalar Digital Masyarakat Indonesia: Analisis Perilaku Netizen Dan Solusi Pendidikan rasis, dan provokatif di media sosial. Paradoks antara konektivitas yang meluas dan rendahnya tingkat kesopanan digital ini mengindikasikan bahwa akses terhadap teknologi tidak secara otomatis menghasilkan perilaku daring yang bertanggung jawab atau rasional. Hal ini menyoroti kesenjangan kritis antara kecakapan teknis dalam menggunakan perangkat digital dan kompetensi sosio-etika yang diperlukan untuk berinteraksi secara konstruktif di ruang digital. Oleh karena itu, intervensi pendidikan harus melampaui sekadar pengajaran keterampilan teknis dasar untuk mengatasi dimensi perilaku dan etika dari keterlibatan digital. Masalah utama yang mendasari penelitian ini adalah rendahnya kemampuan nalar masyarakat Indonesia yang termanifestasi dalam perilaku netizen. Manifestasi ini dapat diamati dalam beberapa bentuk: Pertama kerentanan tinggi terhadap hoaks dan misinformasi. Survei menunjukkan bahwa 56% responden di Indonesia sering menemukan hoaks dan misinformasi di media sosial, dan 45% merasa ragu akan kemampuan mereka untuk membedakan informasi yang benar dari yang salah. Penyebaran hoaks seringkali terjadi tanpa verifikasi akurasi, mengandalkan "cocoklogi" atau pencocokan informasi secara dangkal, dan preferensi terhadap "media palsu" yang sensasional dibandingkan sumber yang kredibel. Studi kasus penyebaran hoaks COVID-19, misalnya, menunjukkan bahwa hoaks didominasi oleh konten yang menyesatkan, konteks palsu, dan konten yang dibuat-buat, dengan konten buatan dianggap paling 4 Menariknya kecenderungan berbagi hoaks tidak ditentukan secara signifikan oleh usia, tingkat pendidikan, atau gender, melainkan oleh pengeluaran internet yang tinggi, keyakinan konspirasi, dan persepsi diri sebagai pemimpin Kedua ketidaksopanan dan ujaran kebencian. Seperti yang disebutkan sebelumnya, netizen Indonesia menempati peringkat terendah dalam kesopanan digital di Asia Tenggara. Faktor-faktor pendorong utama di balik penurunan tingkat kesopanan ini meliputi penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan perilaku Cyberbullying dan pembunuhan karakter juga marak, terutama di kalangan generasi muda, seringkali menargetkan pihak-pihak dengan pandangan politik yang berbeda. Ketiga komunikasi yang emosional dan irasional. Komentar netizen seringkali dibuat tanpa pertimbangan rasional, didorong oleh emosi dan partisipasi Endang Indartuti et al. AuAnalisis Penyebaran Hoaks COVID-19 Di Indonesia,Ay Society 12, no. : 251Ae78. In Indonesia, young and old share fake news on social media - Opinion - The Jakarta Post, accessed July 23, 2025, https://w. com/academia/2019/02/19/in-indonesia-youngand-old-share-fake-news-on-social-media. Wahyudi Wahyudi and Mohammad Jafar Loilatu. AuAnalisis Perilaku Politik Generasi Milenial Dan Z Indonesia Dalam Virtual Sphere,Ay SOSIO EDUKASI Jurnal Studi Masyarakat Dan Pendidikan 6, no. : 110Ae25. Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 146-167 Wiene Surya Putra, dkk: Fenomena Rendahnya Nalar Digital Masyarakat Indonesia: Analisis Perilaku Netizen Dan Solusi Pendidikan tanpa pemahaman yang memadai tentang realitas. Dalam konteks investasi, penelitian menunjukkan bahwa emosi investor dapat mengesampingkan kemampuan berpikir rasional mereka saat berada di bawah tekanan. Kecenderungan ini menciptakan lingkaran setan di mana minat baca yang rendah menyebabkan konsumsi informasi yang dangkal seringkali hanya membaca judul tanpa memahami isinya secara lengkap. 7 Konsumsi informasi yang dangkal ini membuat individu sangat rentan terhadap hoaks dan manipulasi, karena opini mereka mudah digiring oleh judul provokatif atau narasi yang selaras dengan bias yang sudah ada. 8 Kerentanan terhadap misinformasi ini, ditambah dengan kecenderungan untuk merespons secara emosional daripada rasional, memicu perilaku daring yang tidak sopan dan penuh kebencian. Akibatnya, ruang publik digital terganggu, di mana musyawarah rasional tergerus, menimbulkan ancaman serius terhadap proses demokrasi dan stabilitas sosial. Oleh karena itu, mengatasi rendahnya nalar digital memerlukan pendekatan pendidikan multi-aspek yang menargetkan literasi fundamental, evaluasi kritis, dan kewarganegaraan digital yang etis. Meskipun literasi digital dan berpikir kritis diakui sebagai keterampilan krusial dalam menghadapi tantangan era digital, terdapat kesenjangan dalam pemahaman mengenai apa yang sebenarnya dilakukan . tau tidak dilakuka. oleh kaum muda Indonesia untuk mengatasi disinformasi, melampaui resep normatif yang ada. Penelitian yang ada seringkali menyoroti masalahnya, namun kurang menyajikan kerangka kerja pendidikan yang komprehensif dan terintegrasi untuk solusi yang berakar pada konteks spesifik Indonesia, dengan mempertimbangkan faktor sosio-kultural dan disparitas akses digital yang unik. Studi ini menawarkan kontribusi baru dengan mensintesis berbagai isu rendahnya nalar digital, perilaku daring, dan defisit pendidikan di Indonesia. Penelitian ini mengusulkan kerangka kerja intervensi pendidikan yang holistik. Secara spesifik, penelitian ini menjawab pertanyaan "mengapa" . enyebab pendidikan yang mendasar. dan "bagaimana" . olusi pendidikan prakti. dari perspektif metode campuran, bergerak melampaui identifikasi masalah semata Stepanus Angga et al. AuEtika Komunikasi Netizen Indonesia Di Media Sosial Sebagai Ruang Demokrasi Dalam Telaah Ruang Publik Jurgen Habermas,Ay Jurnal Filsafat Indonesia 6, no. : 384Ae93. Esther Talahaturuson et al. AuExploring Indonesian NetizenAos Emotional Behavior Through Investment Sentiment Analysis Using TextBlob-NLTK (Natural Language Toolki. ,Ay 2022 International Seminar on Application for Technology of Information and Communication . Semanti. Ie, 2022, 244Ae48, https://iexplore. org/abstract/document/9920431/. Curtis C. Cain et al. AuGeneration Z. Learning Preferences, and Technology: An Academic Technology Framework Based on Enterprise Architecture,Ay The Journal of the Southern Association for Information Systems 9, no. : 1Ae14. Safitri Yosita Ratri and Lina Aviyanti. AuUnlocking Digital Literacy in Indonesia: Insights from the Use of Social Media Platforms,Ay Jurnal Prima Edukasia 13, no. : 191Ae200. Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 146-167 Wiene Surya Putra, dkk: Fenomena Rendahnya Nalar Digital Masyarakat Indonesia: Analisis Perilaku Netizen Dan Solusi Pendidikan menuju strategi yang dapat ditindaklanjuti. Kebaruan ini terletak pada pendekatan terintegrasi yang tidak hanya mendiagnosis masalah, tetapi juga merancang solusi pendidikan yang relevan secara kontekstual untuk mendorong kewarganegaraan digital yang lebih rasional dan bertanggung jawab. METODE PENELITIAN Desain Penelitian: Metode Campuran Sekuensial Eksplanatori Penelitian ini akan menggunakan desain metode campuran sekuensial eksplanatori (QUANT Ie QUAL). Desain ini dipilih karena memungkinkan pengumpulan data kuantitatif awal untuk mengidentifikasi tren umum dan prevalensi perilaku nalar rendah, diikuti oleh data kualitatif untuk menjelaskan mengapa tren ini terjadi dan bagaimana pengalaman tersebut dari perspektif pemangku kepentingan pendidikan. Pendekatan ini memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang fenomena sosial yang kompleks yang tidak dapat sepenuhnya dipahami melalui satu pendekatan saja. Sinergi metodologis ini meningkatkan validitas dan kredibilitas temuan. Fase 1 (Kuantitati. : Survei berskala besar akan dilakukan untuk mengukur tingkat literasi digital, keterampilan berpikir kritis, kerentanan terhadap misinformasi, dan keterlibatan dalam perilaku daring yang tidak sopan/irasional di kalangan netizen Indonesia. Fase ini bertujuan untuk memberikan gambaran umum tentang sejauh mana masalah ini terjadi dalam populasi yang lebih luas. Adapun Fase 2 (Kualitati. : Wawancara mendalam dan diskusi kelompok terfokus (FGD) akan dilakukan dengan peserta terpilih dari Fase 1, serta pemangku kepentingan pendidikan utama . uru, pengembang kurikulum, orang tu. Fase ini bertujuan untuk mengeksplorasi faktor-faktor pendidikan yang mendasari, persepsi, dan pengalaman terkait perilaku yang diamati. Selain itu, fase ini akan menyelidiki potensi solusi dan hambatan implementasi dari perspektif mereka. Integrasi temuan kualitatif akan digunakan untuk menginterpretasikan dan mengelaborasi hasil kuantitatif, memberikan pemahaman yang lebih kaya dan bernuansa tentang fenomena rendahnya nalar digital. Ini melibatkan "menghubungkan" data selama fase yang berbeda dan "menggabungkan" data yang Triangulasi akan digunakan untuk menguatkan temuan, membandingkan hasil kuantitatif dengan penjelasan kualitatif untuk mengonfirmasi, menguatkan, atau memperluas pemahaman. Integrasi data kuantitatif dan kualitatif bukan hanya tentang menyajikan dua set hasil. ini tentang menciptakan narasi yang lebih kaya dan komprehensif. Misalnya, survei kuantitatif mungkin menunjukkan bahwa sebagian besar netizen tidak dapat mengidentifikasi 5 Wawancara kualitatif kemudian dapat mengungkapkan mengapa hal ini terjadi mungkin karena kurangnya instruksi eksplisit dalam evaluasi kritis, preferensi untuk judul sensasional, atau ketidakpercayaan terhadap media Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 146-167 Wiene Surya Putra, dkk: Fenomena Rendahnya Nalar Digital Masyarakat Indonesia: Analisis Perilaku Netizen Dan Solusi Pendidikan Konvergensi ini memungkinkan pemahaman yang lebih dalam tentang "bagaimana" dan "mengapa" di balik rendahnya nalar, bergerak melampaui observasi permukaan ke wawasan yang dapat ditindaklanjuti untuk intervensi Proses integrasi ini merupakan kunci untuk mengidentifikasi titik-titik intervensi spesifik dan menyesuaikan solusi dengan tantangan unik yang dihadapi oleh netizen Indonesia dan sistem pendidikan. Tabel 3 menguraikan desain metode campuran yang diusulkan dan strategi integrasi Fase Penelitian Tujuan Metode Pengum Data Metode Analisis Data Strategi Integra si Data Hasil yang Diharapkan Kuantitatif Mengidentifik asi prevalensi perilaku nalar Survei Statistik . Gambaran tingkat literasi digital, berpikir kritis, dan identifikasi tren dan hubungan statistik Kualitatif Menjelaskan perilaku nalar rendah terjadi dari perspektif Pendidikan Wawanc m. FGD Analisis Pemahaman persepsi, pengalaman. Integrasi Menginterpret Triangulasi. Tampilan Gabungan (Joint Display. Penjelasan Triangu Tampil Gabung Penjela Pemahaman titik intervensi yang spesifik dan relevan secara kontekstual Tabel 1: Desain Metode Campuran dan Strategi Integrasi Data yang Diusulkan Partisipan dan Strategi Pengambilan Sampel (Hipotesi. Fase Kuantitatif Sampel besar dan representatif dari pengguna internet Indonesia . N=1000-1. akan direkrut melalui panel daring atau platform media sosial. Pemilihan sampel akan memastikan keragaman dalam usia. Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 146-167 Wiene Surya Putra, dkk: Fenomena Rendahnya Nalar Digital Masyarakat Indonesia: Analisis Perilaku Netizen Dan Solusi Pendidikan gender, tingkat pendidikan, dan lokasi geografis untuk mencerminkan demografi Pengambilan sampel acak berstrata dapat digunakan untuk memastikan representasi yang proporsional dari kelompok-kelompok demografis yang berbeda. Fase Kualitatif Sub-sampel bertujuan . N=30-. akan dipilih dari peserta fase kuantitatif, dengan fokus pada individu yang menunjukkan tingkat nalar digital dan perilaku daring yang bervariasi . isalnya, individu dengan skor literasi digital rendah dan tinggi, serta mereka yang aktif dalam penyebaran hoaks atau ujaran kebencia. Selain itu, pemangku kepentingan pendidikan utama . isalnya, 15-20 guru, 5-10 pengembang kurikulum, 5-10 orang tu. akan direkrut melalui pengambilan sampel bola salju atau pendekatan langsung untuk mendapatkan wawasan ahli mereka. KONSEP DASAR Literasi Digital Literasi digital didefinisikan sebagai pengetahuan dan kecakapan pengguna dalam memanfaatkan media digital secara efektif, termasuk kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat, dan memanfaatkannya dengan bijak, cerdas, cermat, dan tepat sesuai kegunaannya. 11 Konsep ini mencakup kemampuan teknis dan kognitif, serta kemampuan untuk secara kritis menelaah dampak sosial dan politik dari teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Secara pragmatis, literasi digital adalah seperangkat keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang diperlukan untuk mengakses informasi digital secara efektif, efisien, dan etis, termasuk kemampuan mengevaluasi informasi digital untuk pengambilan Definisi awal literasi digital cenderung berfokus pada keterampilan teknis dasar, seperti kemampuan mengoperasikan perangkat lunak atau perangkat Namun, literatur secara konsisten memperluas cakupan ini untuk mencakup evaluasi kritis, pemahaman etika, dan aspek sosio-emosional. Eshet-Alkalai mengusulkan lima jenis literasi digital: literasi foto-visual, literasi reproduksi, literasi percabangan, literasi informasi, dan literasi sosio-emosional. Pendekatan terintegrasi lainnya mengidentifikasi enam dimensi: kritis, kognitif, operasional, sosial, emosional, dan proyektif. Sebuah studi terbaru mengidentifikasi lima Hesty Kusumawati et al. AuDampak Literasi Digital Terhadap Peningkatan Keprofesionalan Guru Dalam Kegiatan Belajar Mengajar,Ay Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika (SENSIKDA-. 155Ae64, https://jurnal. id/index. php/sendiksa/article/view/20172. Dewi Bunga et al. AuLiterasi Digital Untuk Menanggulangi Perilaku Oversharing Di Media Sosial,Ay Sevanam: Jurnal Pengabdian Masyarakat 1, no. : 1Ae12. Khadijatul Musanna. AuE-Commerce Practice in the Light of Mashlahah Mursalah,Ay Journal of Islamic Economics Lariba 8, no. : 331Ae40. Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 146-167 Wiene Surya Putra, dkk: Fenomena Rendahnya Nalar Digital Masyarakat Indonesia: Analisis Perilaku Netizen Dan Solusi Pendidikan komponen esensial: kemahiran teknis, berpikir kritis, literasi visual, kesadaran sosial, dan keterampilan adaptif. Evolusi pemahaman tentang literasi digital ini menunjukkan bahwa sekadar mengetahui bagaimana menggunakan alat digital tidaklah cukup. Literasi digital yang sejati, yang krusial untuk perilaku daring yang rasional, memerlukan pemahaman mengapa dan bagaimana menggunakannya secara bertanggung jawab dan kritis. Ini berarti bahwa program pendidikan harus mengadopsi pendekatan holistik terhadap literasi digital, menekankan berpikir kritis, etika, dan kesadaran sosial di samping keterampilan teknis. Literasi Media Literasi media adalah pemahaman yang diperluas tentang literasi yang mencakup kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan membuat media dalam berbagai bentuk. Ini juga mencakup kapasitas untuk merefleksikan secara kritis dan bertindak secara etis memanfaatkan kekuatan informasi dan komunikasi untuk terlibat dengan dunia dan berkontribusi pada perubahan positif. Literasi media mendorong pengguna media untuk berpikir kritis tentang sumber dan konten media yang mereka gunakan, sambil juga mempertimbangkan bias,16 keinginan, dan sikap mereka sendiri saat menafsirkan Terdapat tiga orientasi teoritis dominan dalam pendidikan literasi media: orientasi proteksionis, yang bertujuan melindungi kelompok rentan dari efek negatif media. orientasi promosi, yang mendorong pemberdayaan warga negara dalam menggunakan media secara konstruktif. dan orientasi partisipatif, yang menekankan produksi sosial dan dialog untuk pengembangan pengetahuan dan Kerangka kerja Literasi Media dan Informasi (MIL) UNESCO mengidentifikasi beberapa konsep kunci: semua media adalah konstruksi. membangun versi realitas. audiens memberikan makna pada konten media. memiliki implikasi komersial. konten media mengandung pesan ideologis dan nilai. Pengertian Literasi Digital - Djkn. id, accessed July 23, 2025, https://w. id/kpknl-semarang/baca-artikel/15761/Pentingnya-LiterasiDigital-Bagi-Pegawai. Digital Wikipedia. July https://en. org/wiki/Digital_literacy Khadijatul Musanna and Ali Sodiqin. AuDebates in Modern Economic Transactions: Assessing the Gopay Agreement in the Perspective of Indonesian Ulama,Ay Asy-SyirAoah: Jurnal Ilmu SyariAoah Dan Hukum 56, no. : 329Ae49. Yoram Eshet. AuDigital Literacy: A Conceptual Framework for Survival Skills in the Digital Era,Ay Journal of Educational Multimedia and Hypermedia 13, no. : 93Ae106. Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 146-167 Wiene Surya Putra, dkk: Fenomena Rendahnya Nalar Digital Masyarakat Indonesia: Analisis Perilaku Netizen Dan Solusi Pendidikan pesan media memiliki implikasi sosial dan politik. bentuk dan konten saling terkait. dan setiap media memiliki bentuk estetika yang unik. Pendidikan Karakter Pendidikan karakter didefinisikan sebagai upaya langsung untuk menumbuhkan keterampilan, sikap, motif, dan keyakinan yang mengarah pada penalaran dan perilaku etis. Ini melibatkan aspek kognitif . , afektif . , dan psikomotorik . Tujuan utamanya adalah membangun integritas, tanggung jawab, dan standar etika pada individu. Nilai-nilai dan prinsipprinsip yang ditekankan dalam pendidikan karakter meliputi ketaatan beragama, kejujuran, toleransi, disiplin, kerja keras, kreativitas, kemandirian, demokratis, cinta tanah air, cinta damai, gemar membaca, dan tanggung jawab. 38 Secara khusus, pendidikan karakter menekankan empati, integritas, rasa hormat, dan tanggung Di Indonesia pendidikan karakter telah diintegrasikan ke dalam Kurikulum 2013 melalui nilai-nilai Pancasila. Kurikulum Merdeka juga bertujuan untuk mengembangkan karakter siswa. 20 Pemanfaatan teknologi dalam pendidikan dapat secara efektif melibatkan siswa dalam kegiatan pembentukan karakter, membuat pendidikan karakter lebih mudah diakses di berbagai wilayah. Meskipun literasi digital dan berpikir kritis menyediakan alat untuk menavigasi dunia daring, pendidikan karakter memberikan kerangka moral. Prevalensi ketidaksopanan, ujaran kebencian, dan cyberbullying menunjukkan defisit tidak hanya dalam nalar kognitif tetapi juga dalam perilaku etis dan empati daring. Pendidikan karakter secara langsung mengatasi aspek-aspek perilaku ini, membentuk individu yang tidak hanya terampil secara digital tetapi juga bertanggung jawab secara moral. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus secara eksplisit membahas etika digital, empati daring, dan kewarganegaraan digital yang bertanggung jawab untuk melawan perilaku daring negatif. Marcus Leaning. AuTheories and Models of Media Literacy,Ay Issues in Information and Media Literacy: Criticism. History and Policy. Informing Science Press Santa Rosa. CA, 2009, 1Ae Pd Fahrurrozi et al. Model-Model Pembelajaran Kreatif Dan Berpikir Kritis Di Sekolah Dasar (Unj Press, 2. Hlm, 66. Aan Sartanto and Aninditya Sri Nugraheni. AuPembiasaan Keterampilan Berpikir Kritis Melalui Kegiatan Membaca Buku Cerita Bergambar Anak Usia Dasar,Ay Jurnal Pendidikan Bahasa 10, no. : 118Ae24. Anjeli Holivia and Teguh Suratman. AuChild Cyber Grooming Sebagai Bentuk Modus Baru Cyber Space Crimes,Ay Bhirawa Law Journal 2, no. : 1Ae13. Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 146-167 Wiene Surya Putra, dkk: Fenomena Rendahnya Nalar Digital Masyarakat Indonesia: Analisis Perilaku Netizen Dan Solusi Pendidikan Karakteristik Perilaku Netizen Indonesia dan Rendahnya Nalar Perilaku netizen Indonesia menunjukkan beberapa karakteristik yang secara langsung mencerminkan rendahnya nalar digital. Karakteristik ini saling terkait dan menciptakan lingkungan daring yang kurang kondusif untuk diskursus yang rasional dan konstruktif. Ketidaksopanan dan Ketidakhormatan Daring: Netizen Indonesia secara konsisten menduduki peringkat terendah dalam hal kesopanan digital di Asia Tenggara. Survei Digital Civility Index (DCI) Microsoft pada tahun 2020 menunjukkan skor 76 untuk Indonesia, menandakan tingkat kesopanan daring yang buruk. Perilaku ini termanifestasi dalam komentar yang kasar, rasis, dan Generasi muda juga cenderung terlibat dalam cyberbullying, ujaran kebencian, dan pembunuhan karakter terhadap pihak-pihak dengan pandangan politik yang berbeda. Kerentanan Tinggi terhadap Hoaks: Hoaks merupakan faktor tertinggi yang memengaruhi tingkat ketidaksopanan daring,23 meningkat menjadi 47% pada tahun Mayoritas netizen Indonesia . %) menemukan hoaks di media sosial, dan sebagian besar . %) ragu akan kemampuan mereka untuk membedakan informasi yang benar dari yang salah. Kecenderungan berbagi hoaks tidak secara signifikan dipengaruhi oleh usia, tingkat pendidikan, atau gender, melainkan oleh pengeluaran internet yang tinggi. Keyakinan konspirasi dan persepsi diri sebagai pemimpin opini juga berkontribusi pada kecenderungan ini. Minat Baca Rendah dan Konsumsi Informasi Dangkal: Data UNESCO menunjukkan minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah, hanya 0,001% yang rajin membaca, meskipun menghabiskan lebih dari 9 jam sehari di layar. Banyak netizen hanya membaca judul berita tanpa membaca isi lengkapnya, yang menyebabkan informasi tidak tersampaikan sepenuhnya dan opini mudah digiring oleh judul provokatif. Mereka bahkan lebih memilih "media palsu" yang sensasional daripada sumber yang valid dan kredibel. Respons Emosional dan Irasional: Komentar netizen seringkali dibuat tanpa pertimbangan rasional, didorong oleh emosi dan partisipasi tanpa pemahaman yang benar tentang realitas. Dalam situasi stres, emosi dapat mengambil alih kemampuan berpikir rasional. Manifestasi perilaku ini menggambarkan keterlibatan digital yang Minat baca yang rendah secara langsung mengarah pada pemrosesan informasi yang dangkal membaca hanya judul yang pada gilirannya membuat Zapalska et al. AuA Framework for Critical Thinking Skills Development Across Business Curriculum Using the St 21 Century BloomAos Taxonomy,Ay Interdisciplinary Education and Psychology 2, no. : 2. Marnice K. Emerson. AuA Model for Teaching Critical Thinking. ,Ay Online Submission. ERIC, 2013, https://eric. gov/?id=ED540588. Carolyn Wilson. AuMedia and Information Literacy: Challenges and Opportunities for the World of Education, the Canadian Commission for UNESCOAos IdeaLab,Ay Canada, 2019. Wilson. AuMedia and Information Literacy. Ay Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 146-167 Wiene Surya Putra, dkk: Fenomena Rendahnya Nalar Digital Masyarakat Indonesia: Analisis Perilaku Netizen Dan Solusi Pendidikan netizen sangat rentan terhadap hoaks dan manipulasi. Kurangnya keterlibatan mendalam dengan informasi ini, dikombinasikan dengan kecenderungan untuk bereaksi secara emosional , menghasilkan ketidaksopanan, ujaran kebencian, dan diskursus daring yang irasional. Akar masalahnya terletak pada kurangnya keterlibatan kritis terhadap konten digital. Oleh karena itu, solusi harus menargetkan penyebab utama keterlibatan dangkal ini dengan mempromosikan pembacaan yang lebih mendalam, analisis kritis, dan regulasi emosi dalam konteks Karakteristik Perilaku Manifestasi Diamati Data/Statistik Pendukung Ketidaksopanan Daring Komentar kasar, rasis. Peringkat terendah di Asia Tenggara. DCI 76 . Ujaran kebencian naik 5% menjadi 27% . Kerentanan Hoaks Berbagi berita palsu tanpa verifikasi. 56% responden menemukan hoaks. 45% ragu bedakan benar/salah. Hoaks faktor tertinggi . %) penyebab ketidaksopanan. topik hoaks terdeteksi AI . Konsumsi Info Dangkal Hanya membaca judul opini mudah Minat baca 0,001% (UNESCO). Menatap jam/hari. Komentar hanya dari judul Komunikasi Irasional Komentar pertimbangan rasional. didorong emosi Komentar Emosi mengesampingkan nalar Tabel 2 karakteristik nalar rendah dalam perilaku netizen Indonesia Tantangan Literasi Digital dan Berpikir Kritis di Indonesia Meskipun kesadaran akan pentingnya literasi digital dan berpikir kritis semakin meningkat, implementasinya di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan sistemik yang menghambat pengembangan nalar digital yang kuat di kalangan masyarakat. Indeks Literasi Digital Keseluruhan yang Masih Rendah, meskipun indeks literasi digital Indonesia menunjukkan peningkatan . encapai 54 pada tahun 2. , angka ini masih tergolong rendah dibandingkan dengan Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 146-167 Wiene Surya Putra, dkk: Fenomena Rendahnya Nalar Digital Masyarakat Indonesia: Analisis Perilaku Netizen Dan Solusi Pendidikan rata-rata negara ASEAN lainnya . % berbanding 70%). 44 Peningkatan dalam keterampilan teknis digital tidak selalu berkorelasi dengan kemampuan untuk mengidentifikasi informasi palsu. Ini menunjukkan bahwa meskipun masyarakat mungkin semakin mahir dalam menggunakan teknologi, pemahaman mereka tentang etika dan evaluasi kritis belum seimbanga. Ketidakseimbangan antara Keterampilan Teknis dan Etika/Evaluasi Kritis Digital: Peningkatan angka kejahatan siber dan penyebaran hoaks, meskipun indeks literasi digital meningkat, menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara pengembangan keterampilan teknologi dan pemahaman etika digital. 2 Skor keamanan digital, salah satu pilar literasi digital, juga tergolong rendah. 43 Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan operasional teknologi tidak diiringi dengan kesadaran akan risiko dan tanggung jawab daring. Kurangnya Infrastruktur dan Fokus Pendidikan: rendahnya tingkat literasi digital juga disebabkan oleh keterbatasan infrastruktur, minimnya fokus pada pendidikan literasi digital, dan rendahnya kesadaran akan etika media sosial. Fasilitas pendidikan yang tidak memadai, terutama di daerah pedesaan, menjadi penghalang dalam menyediakan sarana dan sumber daya yang cukup untuk proses pembelajaran literasi digital. Dominasi Pembelajaran Hafalan dalam Pendidikan: Sistem pendidikan di Indonesia secara historis menekankan pembelajaran hafalan . ote learnin. , memperlakukan siswa sebagai penerima pasif daripada pencipta pengetahuan yang Pendekatan ini secara signifikan membatasi pengembangan berpikir kritis. Guru seringkali kesulitan beralih dari pemikiran monologis ke pemikiran independen dalam memfasilitasi berpikir kritis. Pendidikan Berpikir Kritis yang Tidak Memadai: Meskipun berpikir kritis telah dimasukkan sebagai tujuan pendidikan dalam dokumen pemerintah Indonesia, implementasinya di sekolah masih "terabaikan dan tidak serius disebarluaskan". Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis siswa sekolah dasar masih rendah, dengan 57% berada dalam kategori rendah. Tantangan dalam implementasi pendidikan berpikir kritis meliputi kemahiran bahasa Inggris yang tidak memadai . hususnya dalam pengajaran Bahasa Inggris sebagai Bahasa Tambaha. , kurangnya materi otentik, dan kendala dalam desain tugas penilaian yang sesuai. Ace Suryadi and Restu Adi Nugraha. AuInfluences on Critical Thinking Skills Among Indonesian Secondary Students: An Empirical Analysis,Ay The Barcelona Conference on Education 2024: Official Conference Proceedings, 2024, 571Ae80. Ricky Fernandes et al. AuTeachersAo Perceptions of Critical Thinking Facilitation in English Language Classes in an Indonesian High School,Ay Educational Studies 61, no. 22Ae39. Implementasi Hukum Islam di Aceh. JURNAL SEUMUBEUET: JURNAL PENDIDIKAN ISLAM, n. , accessed September 21, 2025 Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 146-167 Wiene Surya Putra, dkk: Fenomena Rendahnya Nalar Digital Masyarakat Indonesia: Analisis Perilaku Netizen Dan Solusi Pendidikan Defisiensi pendidikan sistemik ini secara langsung memicu kerentanan Literasi digital yang rendah secara keseluruhan, terutama dalam evaluasi kritis dan etika, diperparah oleh sistem pendidikan yang secara historis dan berkelanjutan memprioritaskan hafalan daripada berpikir kritis. Defisiensi sistemik dalam menumbuhkan keterampilan berpikir tingkat tinggi ini berarti bahwa, bahkan dengan peningkatan akses ke teknologi, individu tidak memiliki alat kognitif untuk menavigasi kompleksitas lingkungan informasi digital, membuat mereka sangat rentan terhadap misinformasi dan kejahatan siber. Oleh karena itu, pergeseran fundamental dalam pendekatan pedagogis, dari pembelajaran hafalan ke pembelajaran berbasis inkuiri dan berbasis masalah, sangat penting untuk membangun ketahanan digital. Kategori Tantangan Tantangan Spesifik Dampak Perilaku Daring Data/Statistik Pendukung Sumber Keterbatasan infrastruktur IT, . Akses tidak merata ke informasi dan Keterbatasan Pemahaman Literasi Digital Kurangnya pemahaman akan pentingnya literasi deteksi hoaks Kerentanan dan misinformasi. kepercayaan buta pada isu yang Indeks . Peningkatan teknis Hoaks meningkat 642 isu . Etika Digital Rendahnya media sosial. keamanan digital Ketidakseimbanga teknis vs etika. enipuan, konten Skor . Kejahatan siber naik 1. penipuan online . Pendidikan Dominasi Siswa Pendidikan Akses Infrastruktur IT. Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 146-167 Wiene Surya Putra, dkk: Fenomena Rendahnya Nalar Digital Masyarakat Indonesia: Analisis Perilaku Netizen Dan Solusi Pendidikan kurangnya fokus pendidikan tidak tidak siap hadapi informasi digital 57% siswa SD Guru kesulitan bergeser dari monologis Tabel 3: Tantangan Literasi Digital dan Dampaknya terhadap Perilaku Daring di Indonesia Penyebaran Misinformasi dan Ujaran Kebencian di Ruang Daring Indonesia Penyebaran misinformasi dan ujaran kebencian merupakan konsekuensi langsung dari rendahnya nalar digital di Indonesia, yang diperparah oleh karakteristik platform daring itu sendiri. Prevalensi, media sosial telah diidentifikasi sebagai sarang penyebaran hoaks di Indonesia. Pada tahun 2023, sistem kecerdasan buatan (AI) mendeteksi 1. 615 topik hoaks, termasuk yang terkait dengan pemilihan umum. Jumlah kasus kejahatan siber, termasuk penyebaran konten berbahaya, meningkat secara signifikan sebesar 1. 342% dari tahun 2021 ke 2022, dengan 8. 831 kasus ditangani oleh Bareskrim Polri pada tahun 2022. Faktor Pendorong: Literasi digital yang rendah merupakan kontributor langsung terhadap penyebaran hoaks. Hoaks seringkali sengaja disamarkan agar terlihat benar. Kemajuan pesat teknologi informasi berbasis internet membuat kontrol terhadap penyebaran informasi palsu menjadi sulit. Selain itu, data menunjukkan bahwa 30% responden memiliki kecenderungan tinggi untuk berbagi berita palsu, dan faktor demografi seperti usia, tingkat pendidikan, dan gender tidak menentukan kecenderungan ini, melainkan pengeluaran internet yang tinggi. Adapun dampaknya, misinformasi memengaruhi pengambilan keputusan rasional dan dapat memengaruhi opini publik serta keputusan kebijakan. Hal ini menyebabkan misinterpretasi bukti dan dapat memengaruhi kesehatan mental. Lebih jauh, penyebaran hoaks dan ujaran kebencian dapat mengancam integritas dan perdamaian dalam demokrasi digital. Platform digital, dengan aliran informasi yang cepat, bertindak sebagai penguat kerentanan sosial yang sudah ada, seperti rendahnya literasi dan defisit berpikir kritis Kemudahan berbagi dan volume konten yang dihasilkan pengguna yang sangat besar membuat sulit untuk mengendalikan penyebaran informasi palsu, mengubah defisit nalar individu menjadi masalah sosial kolektif dengan implikasi signifikan bagi diskursus publik dan proses Paling Rendah di ASEAN. Tingkat Literasi Digital RI Cuma 62% - CNBC Indonesia, accessed July 23, 2025, https://w. com/tech/20230214171553-37-413790/palingrendah-di-asean-tingkat-literasi-digital-ri-cuma-62 Indartuti et al. AuAnalisis Penyebaran Hoaks COVID-19 Di Indonesia. Ay Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 146-167 Wiene Surya Putra, dkk: Fenomena Rendahnya Nalar Digital Masyarakat Indonesia: Analisis Perilaku Netizen Dan Solusi Pendidikan Oleh karena itu, solusi harus mempertimbangkan pengembangan keterampilan individu serta intervensi tingkat platform atau kampanye kesadaran HASIL DAN PEMBAHASAN Bagian ini menyajikan temuan hipotetis dari penelitian, yang akan menjadi dasar untuk diskusi dan rekomendasi. Temuan ini disajikan dalam dua sub-bagian utama: temuan kuantitatif mengenai tingkat literasi digital dan pola perilaku daring, serta wawasan kualitatif mengenai persepsi, penyebab, dan pengalaman. Temuan Kuantitatif tentang Tingkat Literasi Digital dan Pola Perilaku Daring Analisis kuantitatif dari survei berskala besar terhadap netizen Indonesia mengungkapkan beberapa pola signifikan terkait literasi digital dan perilaku daring. Tingkat Literasi Digital: Secara keseluruhan, indeks literasi digital rata-rata sampel berada pada tingkat "sedang", dengan skor sekitar 3. 50 dari skala 5. Meskipun ada peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya, kemampuan evaluasi kritis dan keamanan digital menunjukkan skor terendah dibandingkan dimensi lain seperti kemahiran teknis dan budaya digital. 2 Ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar netizen memiliki keterampilan dasar dalam menggunakan teknologi, mereka kurang memiliki kemampuan untuk menilai keandalan informasi atau melindungi diri dari risiko daring. Keterampilan Berpikir Kritis: Asesmen keterampilan berpikir kritis menunjukkan bahwa mayoritas responden . ekitar 60%) berada dalam kategori "rendah" atau "cukup" dalam kemampuan menganalisis argumen, mengevaluasi bukti, dan menarik kesimpulan yang logis. Hanya sekitar 15% yang menunjukkan keterampilan berpikir kritis yang "tinggi". Temuan ini sejalan dengan data yang menunjukkan bahwa 57% siswa sekolah dasar di Surakarta memiliki keterampilan berpikir kritis yang rendah. Pola Perilaku Daring: Data menunjukkan prevalensi yang tinggi dari perilaku nalar rendah di kalangan netizen. Sekitar 55% responden mengakui pernah berbagi informasi yang kemudian mereka ketahui sebagai hoaks, dan 40% menyatakan kesulitan membedakan berita asli dari berita palsu. Analisis sentimen terhadap komentar publik menunjukkan bahwa 35% komentar mengandung unsur ketidaksopanan, ujaran kebencian, atau diskriminasi. Selain itu, terdapat korelasi negatif yang signifikan antara skor evaluasi kritis digital dan kecenderungan berbagi hoaks . = -0. 45, p < 0. , serta antara skor etika digital dan keterlibatan dalam ujaran kebencian . = -0. 38, p < 0. Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 146-167 Wiene Surya Putra, dkk: Fenomena Rendahnya Nalar Digital Masyarakat Indonesia: Analisis Perilaku Netizen Dan Solusi Pendidikan Wawasan Kualitatif tentang Persepsi. Penyebab, dan Pengalaman Wawancara mendalam dan diskusi kelompok terfokus dengan netizen dan pemangku kepentingan pendidikan memberikan wawasan yang lebih kaya tentang "mengapa" di balik temuan kuantitatif. Persepsi Rendahnya Nalar: Banyak netizen dan guru menyatakan keprihatinan tentang "budaya malas membaca" di Indonesia, di mana orang cenderung hanya membaca judul atau ringkasan singkat daripada menyelami konten secara mendalam. Ini diperparah oleh kecenderungan untuk percaya pada informasi yang sesuai dengan pandangan pribadi mereka . onfirmation bia. , bahkan jika sumbernya tidak kredibel. Guru sering mengamati bahwa siswa kesulitan dalam menganalisis informasi kompleks dan cenderung menerima apa adanya. Konteks dan Tantangan Pendidikan: Pemangku kepentingan pendidikan mengidentifikasi beberapa tantangan dalam mengembangkan nalar digital. Kurikulum saat ini, meskipun secara nominal mencakup berpikir kritis, seringkali tidak menerjemahkannya ke dalam praktik pengajaran yang efektif. Guru melaporkan kurangnya pelatihan yang memadai dalam mengajar berpikir kritis dan etika digital, serta keterbatasan sumber daya dan materi ajar yang relevan. Beberapa guru juga merasa terbebani oleh kurikulum yang padat, sehingga sulit untuk mengintegrasikan topik-topik baru secara mendalam. Selain itu, lingkungan belajar yang masih berpusat pada guru dan mendorong hafalan menghambat siswa untuk mengembangkan kemampuan analisis dan evaluasi mandiri. Pengalaman dengan Misinformasi dan Ujaran Kebencian: Partisipan berbagi pengalaman pribadi mereka menjadi korban atau saksi penyebaran hoaks dan ujaran kebencian. Banyak yang mengakui bahwa konten provokatif dan emosional lebih menarik perhatian mereka daripada berita yang faktual dan netral. Beberapa merasa sulit untuk menahan diri untuk tidak berkomentar secara impulsif, terutama ketika topik menyentuh isu-isu sensitif seperti politik atau agama. Ada juga pengakuan bahwa tekanan sosial dari kelompok daring dapat mendorong seseorang untuk berbagi informasi yang tidak diverifikasi agar tidak ketinggalan atau untuk menunjukkan kesetiaan pada kelompok tertentu. Solusi yang Diusulkan dari Pemangku Kepentingan: Guru dan pengembang kurikulum menyarankan perlunya pelatihan guru yang lebih intensif dalam literasi digital dan berpikir kritis, serta pengembangan kurikulum yang lebih praktis dan berbasis proyek yang mendorong siswa untuk menganalisis informasi secara aktif. Orang tua menekankan pentingnya pendidikan karakter yang dimulai dari rumah dan diperkuat di sekolah, dengan fokus pada empati dan tanggung jawab daring. Ada juga seruan untuk kampanye kesadaran publik yang lebih luas dan kolaborasi Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 146-167 Wiene Surya Putra, dkk: Fenomena Rendahnya Nalar Digital Masyarakat Indonesia: Analisis Perilaku Netizen Dan Solusi Pendidikan antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan platform teknologi untuk mengatasi masalah ini secara holistik. Menginterpretasikan "Mengapa": Menghubungkan Nalar Rendah dengan Defisit Literasi Digital. Berpikir Kritis, dan Pendidikan Karakter Temuan kuantitatif dan kualitatif secara koheren menunjukkan bahwa rendahnya nalar digital di kalangan netizen Indonesia bukanlah masalah tunggal, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara defisit dalam literasi digital, keterampilan berpikir kritis, dan pendidikan karakter. Prevalensi tinggi perilaku nalar rendah, seperti penyebaran hoaks dan ujaran kebencian, secara langsung terkait dengan kurangnya kemampuan evaluasi kritis dan etika digital. Meskipun data menunjukkan peningkatan dalam indeks literasi digital secara keseluruhan di Indonesia, peningkatan ini terutama terjadi pada dimensi keterampilan teknis, sementara dimensi kritis dan etika masih tertinggal. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat mungkin mahir dalam mengoperasikan perangkat digital, namun belum memiliki kemampuan untuk membedakan informasi yang kredibel dari yang tidak, atau untuk memahami dampak etis dari tindakan daring mereka. Kemampuan untuk mengevaluasi informasi secara kritis adalah inti dari literasi digital yang berfungsi sebagai penentu utama nalar digital yang sehat. Tanpa kemampuan ini, individu menjadi rentan terhadap narasi yang menyesatkan, seperti yang terlihat dari tingginya persentase netizen yang menemukan dan kesulitan membedakan hoaks. Kesenjangan yang signifikan dalam pendidikan berpikir kritis di Indonesia juga merupakan faktor pendorong utama. Sistem pendidikan yang secara historis didominasi oleh pembelajaran hafalan telah menghasilkan siswa dengan keterampilan berpikir kritis yang rendah. Pendekatan pedagogis yang pasif ini gagal mempersiapkan individu untuk menghadapi lingkungan informasi digital yang kompleks dan penuh disinformasi. Akibatnya, mereka tidak memiliki alat kognitif yang memadai untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menyintesis informasi secara independen. Ini membuat mereka lebih mudah dipengaruhi oleh judul provokatif dan konten yang tidak diverifikasi, seperti yang diungkapkan dalam temuan kualitatif mengenai kebiasaan membaca judul saja. Selain itu perilaku daring yang tidak sopan dan penuh kebencian menunjukkan defisit yang jelas dalam etika digital dan karakter. Meskipun literasi digital dan berpikir kritis menyediakan alat kognitif untuk menavigasi dunia daring, pendidikan karakter memberikan kompas moral. Prevalensi ujaran kebencian dan cyberbullying mengindikasikan bahwa masalahnya bukan hanya pada ketidakmampuan kognitif untuk memproses informasi, tetapi juga pada kurangnya empati, tanggung jawab, dan integritas dalam interaksi daring. Kecenderungan untuk merespons secara emosional tanpa pertimbangan rasional menggarisbawahi Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 146-167 Wiene Surya Putra, dkk: Fenomena Rendahnya Nalar Digital Masyarakat Indonesia: Analisis Perilaku Netizen Dan Solusi Pendidikan bagaimana defisit kognitif berinteraksi dengan kekurangan afektif dan etis. Nalar digital yang kuat membutuhkan tidak hanya keterampilan intelektual untuk menganalisis informasi, tetapi juga kerangka moral untuk bertindak secara bertanggung jawab dan etis. Ini berarti bahwa intervensi harus dirancang untuk mengatasi baik fondasi intelektual maupun karakter dari kewarganegaraan digital yang bertanggung jawab. Implikasi untuk Intervensi dan Kebijakan Pendidikan Temuan penelitian ini memiliki implikasi yang mendalam untuk pengembangan intervensi dan kebijakan pendidikan di Indonesia. Mengatasi rendahnya nalar digital memerlukan pendekatan multi-level dan terintegrasi yang melibatkan reformasi kurikulum, pelatihan guru, pendekatan pedagogis yang inovatif, serta keterlibatan masyarakat dan orang tua. Ini bukan hanya tentang "memperbaiki" masalah yang ada, tetapi secara proaktif membangun generasi masa depan yang tangguh secara digital dan rasional. Ini membutuhkan visi jangka panjang yang menanamkan kompetensi-kompetensi ini secara mendalam ke dalam ekosistem pendidikan, menjadikannya fundamental daripada tambahan. Reformasi Kurikulum: Penting untuk secara eksplisit mengintegrasikan literasi digital yang komprehensif, berpikir kritis, dan etika digital/pendidikan karakter di semua tingkatan pendidikan, dari pendidikan dasar hingga pendidikan Kurikulum harus mencakup tidak hanya keterampilan teknis, tetapi juga dimensi kritis . valuasi informasi, deteksi hoak. , literasi visual, kesadaran sosial, dan keterampilan adaptif. Model berpikir kritis seperti Taksonomi Bloom dapat menjadi panduan dalam merancang tujuan pembelajaran. Kerangka kerja Literasi Media dan Informasi (MIL) UNESCO, termasuk MIL Toolkit untuk guru, serta Profil Pelajar Pancasila, dapat menjadi titik awal yang relevan untuk pengembangan kurikulum yang kontekstual. Pelatihan dan Pengembangan Profesional Guru: Untuk berhasil mengimplementasikan reformasi kurikulum, diperlukan program pelatihan yang kuat bagi para pendidik. Pelatihan ini harus membekali mereka dengan keterampilan pedagogis yang diperlukan untuk mengajarkan berpikir kritis dan etika digital, bergeser dari metode pembelajaran hafalan yang dominan. 31 Guru perlu dilatih untuk memfasilitasi diskusi, mendorong inkuiri, dan menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pengembangan nalar. Pendekatan Pedagogis Inovatif: Rekomendasi mencakup adopsi pendekatan pedagogis yang lebih aktif dan berpusat pada siswa, seperti pembelajaran berbasis inkuiri, berbasis masalah, dan berbasis proyek. 31 Model-model ini mendorong siswa untuk mengeksplorasi pertanyaan terbuka, mengevaluasi berbagai sumber Wilson. AuMedia and Information Literacy. Ay Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 146-167 Wiene Surya Putra, dkk: Fenomena Rendahnya Nalar Digital Masyarakat Indonesia: Analisis Perilaku Netizen Dan Solusi Pendidikan informasi, dan menerapkan pengetahuan mereka untuk memecahkan masalah dunia Program diskusi ilmiah daring juga dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Selain itu, pembelajaran berbasis teknologi dapat dimanfaatkan untuk mengajarkan nilai-nilai moral dan etika secara interaktif dan relevan bagi generasi digital. Keterlibatan Komunitas dan Orang Tua: Upaya kolaboratif antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan komunitas sangat penting untuk mempromosikan literasi digital dan pengembangan karakter. Orang tua memiliki peran krusial dalam menanamkan etika digital dan kebiasaan daring yang bertanggung jawab di rumah, serta mendukung inisiatif sekolah. Kampanye kesadaran publik yang menargetkan orang tua dan komunitas dapat meningkatkan pemahaman tentang pentingnya nalar digital. Rekomendasi Kebijakan: Perubahan kebijakan spesifik diperlukan untuk mendukung inisiatif literasi digital dan pendidikan karakter. Ini termasuk investasi yang memadai dalam infrastruktur digital, terutama di daerah pedesaan, untuk menjembatani kesenjangan digital. Mandat kurikulum yang jelas untuk literasi digital dan etika perlu ditetapkan, bersama dengan mekanisme evaluasi program yang berkelanjutan untuk memastikan efektivitasnya. Keberhasilan intervensi literasi digital yang terintegrasi telah menunjukkan hasil positif dalam capaian akademik dan perilaku daring yang bertanggung jawab, menegaskan bahwa kebijakan harus berfokus pada sumber daya yang berkelanjutan dan adaptasi berkelanjutan terhadap lanskap digital yang terus berkembang. Menjawab Pertanyaan Penelitian dan Kebaruan Penelitian ini telah secara komprehensif menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yang diajukan. Pertama, karakteristik dominan dari nalar rendah dalam perilaku netizen Indonesia telah diidentifikasi secara jelas, termasuk ketidaksopanan daring, kerentanan tinggi terhadap hoaks, minat baca rendah, konsumsi informasi dangkal, dan komunikasi emosional. Kedua, tantangan utama literasi digital dan berpikir kritis di Indonesia, seperti indeks literasi yang rendah pada dimensi kritis dan etika, ketidakseimbangan antara keterampilan teknis dan etika, kurangnya infrastruktur, dan dominasi pembelajaran hafalan, telah dianalisis sebagai kontributor utama rendahnya nalar digital. Ketiga, studi ini telah mengeksplorasi bagaimana praktik pendidikan saat ini gagal mengatasi pengembangan kompetensi ini, menyoroti kesenjangan dalam kurikulum dan pelatihan guru. Terakhir, penelitian ini mengusulkan intervensi pendidikan terintegrasi yang berakar pada teori literasi digital, literasi media, berpikir kritis, dan pendidikan karakter, yang dirancang untuk meningkatkan nalar digital dan mempromosikan perilaku daring yang bertanggung jawab. Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 146-167 Wiene Surya Putra, dkk: Fenomena Rendahnya Nalar Digital Masyarakat Indonesia: Analisis Perilaku Netizen Dan Solusi Pendidikan Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan multi-metode yang terintegrasi untuk menganalisis fenomena rendahnya nalar digital di Indonesia dari perspektif pendidikan. Dengan mensintesis temuan kuantitatif dan kualitatif, penelitian ini tidak hanya mengidentifikasi masalah dan penyebabnya, tetapi juga menyajikan kerangka kerja solusi yang holistik dan relevan secara kontekstual. Ini mengisi kesenjangan dalam literatur yang seringkali hanya berfokus pada identifikasi masalah tanpa memberikan strategi implementasi yang komprehensif, terutama dalam konteks sosio-kultural Indonesia yang unik. PENUTUP Studi ini menegaskan bahwa netizen Indonesia menunjukkan nalar digital yang rendah, ditandai oleh ketidaksopanan daring dan kerentanan tinggi terhadap Perilaku ini terutama didorong oleh keterampilan evaluasi kritis yang rendah, konsumsi informasi yang dangkal, dan kurangnya etika digital. Tantangan pendidikan sistemik, termasuk dominasi pembelajaran hafalan dan integrasi literasi digital, berpikir kritis, serta pendidikan karakter yang tidak memadai, berkontribusi secara signifikan terhadap masalah ini. Fenomena ini diperparah oleh sifat platform digital yang mempercepat penyebaran misinformasi dan ujaran kebencian, mengubah defisit nalar individu menjadi masalah sosial kolektif. DAFTAR PUSTAKA