Equilibrium: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya Tersedia online di http://e-journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2303-1565 E-ISSN: 2502-1575 Kemampuan manajemen keuangan dan gaya hidup sebagai prediktor perilaku konsumtif mahasiswa KIP kuliah Nurul Afifah1. Neni Hendaryati2. Tomi Azami 3. Dewi Amaliah Nafiati4 Universitas Pancasakti Tegal, 52122 neni. hendaryati@upstegal. Abstrak Menganalisis sejauh mana pengaruh Kemampuan Manajemen Keuangan dan Gaya Hidup terhadap Perilaku Konsumtif pada mahasiswa penerima program KIP Kuliah di Universitas Pancasakti Tegal merupakan tujuan dari penelitian ini. Berpendekatan kuantitatif metode asosiatif,sampel dalam penelitian ini ditentukan melalui teknik simple random sampling dari populasi sejumlah 124 mahasiswa, diperoleh 95 responden. Pengumpulan data menggunakan angket Selanjutnya, data dianalisis melalui statistik deskriptif, regresi linear sederhana, regresi linear berganda, serta pengujian hipotesis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa secara individu, variabel Kemampuan Manajemen Keuangan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Perilaku Konsumtif. Hal yang sama juga berlaku pada variabel Gaya Hidup, yang secara parsial menunjukkan pengaruh positif dan signifikan. Pengujian secara simultan menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut secara bersama-sama memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perilaku konsumtif mahasiswa. Kata Kunci: Kemampuan Manajemen Keuangan. Gaya Hidup. Perilaku Konsumtif. KIP Kuliah Diterima. 02-07-2025 Accepted 24-07-2025. Diterbitkan 29-07-2025 Financial management skills and lifestyle as predictors of consumptive behavior among KIP scholarship students Abstract Analyzing the extent to which Financial Management Ability and Lifestyle influence Consumptive Behavior in students receiving the KIP Kuliah program at Pancasakti University. Tegal is the purpose of this study. Using a quantitative associative method approach, the sample in this study was determined through a simple random sampling technique from a population of 124 students, obtaining 95 respondents. Data collection used a closed questionnaire. Furthermore, the data were analyzed through descriptive statistics, simple linear regression, multiple linear regression, and hypothesis testing. The findings of the study indicate that individually, the Financial Management Ability variable has a positive and significant influence on Consumptive Behavior. The same thing also applies to the Lifestyle variable, which partially shows a positive and significant influence. Simultaneous testing shows that both variables together contribute significantly to student consumptive behavior. Keywords: Financial Management Skills. Lifestyle. KIP Scholarship DOI:10. 25273/equilibrium. Copyright A 2025 Universitas PGRI Madiun Some rights reserved. | 37 PENDAHULUAN Beasiswa KIP Kuliah, ialah program bantuan pendidikan, untuk mengatasi permasalahan strategis dengan memberikan akses sama kepada semua kalangan untuk mengenyam pendidikan tinggi (Monika et al. , 2. Beasiswa ini berupa bantuan biaya pendidikan yang dibayarkan langsung ke institusi pendidikan, dan penerima KIP Kuliah mendapatkan bantuan biaya hidup setiap semester melalui rekening mahasiswa. Mahasiswa diharapkan dapat menyelesaikan pendidikannya tanpa perlu mengkhawatirkan biaya kuliah karena pemerintah membayar biaya kuliah dan memberikan tunjangan biaya hidup yang diperlukan. Mahasiswa perlu mengelola beasiswa mereka dengan baik agar dapat menggunakannya dengan efektif dan efisien (Rangkuti et al. , 2. , idealnya, mahasiswa terampil dalam merancang strategi keuangan demi memanfaatkan dukungan biaya hidup secara maksimal (Atis et al. , 2. Kemampuan manajemen keuangan merupakan kompetensi fundamental yang harus dimiliki, agar dana yang diterima digunakan untuk memenuhi kebutuhan selama kuliah dengan optimal. Program ini tidak semata-mata berhasil karena adanya bantuan dana, melainkan juga karena kemampuan mahasiswa dalam mengatur keuangan secara bijak serta menjalani gaya hidup yang sesuai dengan prioritas (Monika et al. , 2. Penerima KIP Kuliah menunjukkan gaya hidup, perilaku, dan sikap yang mencerminkan karakter ideal (Prasetyo et al. , 2. , menyisihkan sebagian dana guna ditabung demi kebutuhan mendesak, (Diyanty, 2. karenagaya hidup turut memengaruhi pilihan konsumsi sebagai bentuk penyesuaian diri dalam lingkungan sosial, yang sering kali memicu munculnya pola konsumsi tidak sehat seperti perilaku konsumtif(Sariti et al. , 2. Perilaku konsumtif kerap dijumpai di kalangan mahasiswa yang cenderung bersifat materialistik dan memiliki dorongan kuat untuk memiliki berbagai barang meskipun tidak didasari oleh kebutuhan yang nyata. Mahasiswa KIP Kuliah idealnya mampu memahami batas antara keperluan utama dan yang bersifat tambahan serta menghindari pengeluaran untuk beda kurang esensial agar alokasi dana untuk keperluan akademik dan kehidupan sehari-hari tetap terjaga, sehingga dengan menerapkan perilaku konsumtif yang terkontrol, mereka dapat membangun pola pengelolaan keuangan yang lebih stabil (Qurrotuaini et al. , 2. Kondisi ideal yang telah dijabarkan sebelumnya ternyata berbeda dengan kenyataan yang ditemukan di lapangan. Fenomena yang terjadi menunjukkan bahwa beberapa mahasiswa KIP Kuliah belum mampu mengelola dana bantuan dengan optimal karena keterbatasan dalam kemampuan manajemen keuangan. Berdasarkan wawancara dengan SS (F/. salah satu penerima bantuan, pada 11 Januari 2025, meskipun ia berusaha menyisihkan dana untuk kebutuhan kuliah dan pribadi, kesulitan mengendalikan pengeluaran membuatnya menitipkan sisa dana kepada ibunya, dan tanpa pencatatan pengeluaran yang detail, ia sering kali kehabisan dana sebelum pencairan berikutnya. Observasi yang dilakukan pada tanggal 4 Ae 7 Januari 2025 menguatkan temuan terkait gaya hidup mahasiswa KIP Kuliah. Pengamatan menunjukkan adanya kecenderungan konsumsi yang tidak terarah serta kurangnya penentuan skala prioritas dalam pengeluaran. Beberapa mahasiswa tampak mengenakan busana bergaya, mengunjungi tempat popular, dan mengganti ponsel mereka dengan versi terbaru. Tindakan seperti menyelesaikan tugas di kafe atau sekedar bersantai di tempat dengan biaya relatif tinggi menggambarkan gaya hidup hedonis yang mulai diadopsi. Kebiasaan tersebut mencerminkan kecenderungan konsumtif yang lebih berfokus pada pemenuhan keinginan daripada kebutuhan, sebagaimana dikemukakan oleh (Qurrotuaini et al. , 2. Jurnal Equilbrium: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya Vol 13 no 02 Hal 37-47 | 38 Wawancara yang dilakukan pada 4 Januari 2025 mengungkap adanya perilaku konsumtif pada mahasiswa penerima KIP Kuliah. Narasumber NA (F/. menyatakan bahwa ia kerap tergoda membeli barang-barang yang sedang tren, khususnya saat ada diskon, bahkan pernah membeli sesuatu hanya karena mengikuti tren meskipun akhirnya tidak digunakan dan menimbulkan penyesalan. Selain itu, ia juga mengaku pernah menghadiri acara hiburan seperti menonton konser. Temuan dari wawancara dan observasi tersebut menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara kondisi ideal yang diharapkan dengan kenyataan yang terjadi. Kesenjangan ini menjadi dasar penting dilakukannya penelitian untuk menelaah hubungan antara ketiga variabel dan merumuskan solusi atas permasalahan yang muncul. METODE Mengadopsi pendekatan kuantitatif dengan menerapkan metode asosiatif menguji sejauh mana Kemampuan Manajemen Keuangan (X. dan Gaya Hidup (X. berkontribusi terhadap Perilaku Konsumtif (Y). Populasi melibatkan 124 mahasiswa penerima KIP Kuliah di Universitas Pancasakti Tegal Angkatan 2022. Formula Slovin digunakan memperoleh 95 responden untuk memastikan hasil representatif. Pengumpulan data menggunakan angket sebagai instrumen utama, didukung oleh wawancara, observasi, dan dokumentasi. Setelah data terkumpul melewati uji validitas dan reliabilitasdiwakili 30 Data dianalisis denganteknik analisis statistik deskriptif, analisis regresi linier sederhana, analisis regresi linier berganda, dan uji hipotesis menggunakan perangkat lunak statistik yaitu SPSS edisi ke-25. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Uji Instrumen Uji Validitas Variabel Kemampuan Manajemen Keuangan (X. dan Gaya Hidup (X. memenuhi syarat kelayakan, hasil perhitungan korelasi menunjukkan angka yang melampaui ambang batas minimum yaitu 0,361, sedangkan variabel Perilaku Konsumtif (Y), hanya 10 dari 15 item yang memenuhi kriteria validitas, 5 item lainnya berada di bawah nilai kritis r tabel, item-item yang tersebut perlu dieliminasi dariinstrumen penelitian, sehingga total pernyataan angket sebanyak 31 Uji Reliabilitas Ketiga variabel pada penelitian ini dinilai reliabel dengan nilai CronbachAos Alpha seluruhnya berada di atas 0,06 membuktikan bahwa seluruhnya tergolong Deskripsi Responden Pengelompokan responden penelitian ini dilakukan berdasarkan beberapa aspek: Deskripsi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Partisipasi mahasiswa berjenis kelamin perempuan dengan persentase 74,7% lebih dominan dibandingkan laki-laki sebesar 25,3%. Deskripsi Responden Berdasarkan Fakultas Dari 95 responden, mayoritas berasal FKIP . ,4%), diikuti FPIK . ,9%). FEB . ,6%). FH . ,4%), serta FISIP dan FTIK masing-masing . ,3%), yang menunjukkan dominasi responden berlatar belakang pendidikan keguruan. Jurnal Equilbrium: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya Vol 13 no 02 Hal 37-47 | 39 Deskripsi Responden Berdasarkan Tempat Tinggal Selama Kuliah Sebagian besar responden . ,4%) tinggal bersama orang tua selama kuliah, sedangkan 11,6% kos, yang mengindikasikan minimnya beban biaya tempat tinggal dan berpotensi memengaruhi pola pengeluaran mereka. Analisis Statistik Deskriptif Mengetahui karakteristik kategori dari tiap variabel, digunakan pendekatan statistik deskriptif. Rincian hasil pengolahannya disajikan sebagai berikut: Tabel 1. Hasil Statistik Deskriptif Descriptive Statistics Minimum 28,00 Kemampuan Manajemen Keuangan Gaya Hidup Perilaku Konsumtif 20,00 16,00 Maximum 59,00 Mean 47,8105 45,00 40,00 37,9158 33,4000 Sumber: Ouput SPSS, 2025 Kategori variabel dikelompokkan ke dalam kategori tinggi, sedang, dan rendah. Klasifikasinya dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 2. Kategori Kecenderungan Variabel Variabel Kemampuan 36 Manajemen Keuangan Gaya Hidup 27 Perilaku Konsumtif SDi Rendah (O Mi-SD. O 24 Sedang (Mi-SDi < x < Mi Sd. 24 < x < 48 O 18 O 16 18 < x 26 16 < x < 32 Tinggi (Ou Mi SD. Mean Ou 48 47,81 Ou 36 Ou 32 37,91 33,40 Sumber: Data diolah, 2025 Kemampuan manajemen keuangan mahasiswa berada pada katergori sedang, didukung hasil wawancara dengan SR (F/. dan SS (F/. yang menunjukkan bahwa meski memiliki upaya mencatat dan menyisihkan dana, pengelolaannya belum terencana secara rinci. Gaya hidup tergolong tinggi, diperkuat oleh observasi langsung serta didukung pernyataan SR (F/. dan hasil pengamatan terhadap mahasiswa yang mengikuti tren fashion, nongkrong di kafe, dan memakai barang bermerek. Perilaku konsumtif juga masuk kategori timggi, sebagaimana ditunjukkan oleh wawancara dengan SR (F/. dan NA (F/. yang mengaku sering tergoda promosi dan tren media sosial saat membeli barang, meskipun tidak selalu berdasarkan kebutuhan. Analisis Regresi Linier Sederhana Bertujuan mengukur kontribusi variabel independent dalam memengaruhi perubahan pada variabel dependen. Hasil uji sebagai berikut: Kemampuan Manajemen Keuangan terhadap Perilaku Konsumtif Tabel 3. Hasil Analisis Regresi Linier Sederhana Kemampuan Manajemen Keuangan Coefficientsa Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients B Std. Error Beta 13,204 4,465 2,957 Sig. ,004 Jurnal Equilbrium: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya | 40 Model (Constan. Vol 13 no 02 Hal 37-47 Kemampuan Manajemen ,422 Keuangan Dependent Variable: Perilaku Konsumtif ,093 ,427 4,549 ,000 Sumber: Output SPSS, 2025 Pengujian regresi menunjukkan bahwa kemampuan manajemen keuangan berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku konsumtif, ditunjukkan oleh besaran signifikansi 0,000 < 0,05 dengan koefisien 0,422. Gaya Hidup terhadap Perilaku Konsumtif Tabel 4. Hasil Analisis Regresi Linier Sederhana Gaya Hidup Coefficientsa Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Model Std. Error Beta (Constan. 10,114 5,147 1,965 Gaya Hidup ,614 ,135 ,426 4,544 Dependent Variable: Perilaku Konsumtif Sig. ,052 ,000 Sumber: Output SPSS, 2025 Regresi menunjukkan bahwa gaya hidup berpengaruh signifikan terhadap perilaku konsumtif, ditunjukkan oleh signifikansi 0,000 < 0,05 dengan koefisien 0,016. Analisis Regresi Linier Berganda Analisis dilakukan guna menilai pengaruh simultan dua atau lebih variabel independenterhadap satu variabel dependen. Hasil uji sebagai berikut: Tabel 5. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda Coefficientsa Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Std. Error Beta 7,238 5,239 1,381 Manajemen ,255 ,122 ,257 2,093 Sig. ,170 ,039 ,177 ,040 Model (Constan. Kemampuan Keuangan Gaya Hidup ,369 Dependent Variable: Perilaku Konsumtif ,256 2,083 Sumber: Output SPSS, 2025 Kemapuan manajemen keuangan dan gaya hidup memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku konsumtif, karena signifikansi 0,039 dan 0,040 < 0,05. Uji Hipotesis Uji Signifikansi Parsial (Uji . Hasil uji signifikansi secara parsial antara variabel independen dan variabel dependen tampak dalam tabel di bawah: Tabel 6. Hasil Uji Hipotesis Parsial (Uji . Coefficientsa Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients B Std. Error Beta 7,238 5,239 1,381 Sig. ,170 Jurnal Equilbrium: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya | 41 Model (Constan. Vol 13 no 02 Hal 37-47 Kemampuan Manajemen ,255 Keuangan Gaya Hidup ,369 Dependent Variable: Perilaku Konsumtif ,122 ,257 2,093 ,039 ,177 ,256 2,083 ,040 Sumber: Output SPSS, 2025 Hasil uji regresi, kemampuan manajemen keuangan berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap perilaku konsumtif, ditunjukkan oleh nilai signifikansi 0,039 < 0,05, sehingga H01 ditolak. Ha1 diterima. Hasil regresi juga menunjukkan bahwa variabel gaya hidup juga terbukti memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku konsumtif dengan nilai signifikansi 0,040 < 0,05, sehingga H02 ditolak. Ha2 dinyatakan diterima. Uji Signifikan Simultan (Uji F) Gambaran mengenai pengaruh bersama dari dua variabel X terhadap variabel Y dapat dilihat dalam tabel uji signifikansi simultan berikut ini: Tabel 7. Hasil Uji Hipotesis Simultan (Uji F) ANOVAa Model Sum of Squares df Mean Square Regression 539,501 269,750 12,890 Residual 1925,299 20,927 Total 2464,800 Dependent Variable: Perilaku Konsumtif Predictors: (Constan. Gaya Hidup. Kemampuan Manajemen Keuangan Sig. ,000b Sumber: Output SPSS, 2025 Pengujian ANOVA, diperolehnilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05, hal ini menunjukkan H03 ditolak dan Ha3 diterima, yang berarti model regresi kedua variabel independen secara simultan berpengaruh signifikan terhadap perilaku Analisis Koefisien Determinasi (R. Tingkat kemampuan model regresi dalam digambarkan melalui nilai R square dalam tabel di bawah: Tabel 8. Hasil Uji Analisis Koefisien Determinasi Model Summary b Model R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate ,468a ,219 ,202 4,57462 Predictors: (Constan. Gaya Hidup. Kemampuan Manajemen Keuangan Dependent Variable: Perilaku Konsumtif Sumber: Output SPSS, 2025 Hasil di atas nilai R2 0,219 mengindikasikan kombinasi variabel kemampuan manajemen keuangan dan gaya hidup mampu menjelaskan 21,9% variasi dari perilaku konsumtif, sedangkan sisanya sebesar 78,1% berasal dari faktor eksternal yang tidak dimasukkan dalam analisis ini. Pembahasan Pengaruh Kemampuan Manajemen Keuangan terhadap Perilaku Konsumtif Nilai koefisien regresi 0,255 dan t-hitung sebesar 2,093 yang disertai tingkat signifikansi < 0,05, disimpulkan bahwa kemampuan manajemen keuangan secara signifikan memengaruhi perilaku konsumtif mahasiswa penerima KIP Kuliah di Jurnal Equilbrium: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya Vol 13 no 02 Hal 37-47 | 42 Universitas Pancasakti Tegal secara positif. Artinya, semakin baik kemampuan manajemen keuangan mahasiswa, semakin tinggi kecenderungan mereka untuk berperilaku konsumtif. Hasil ini bertentangan dengan teori (Rozaini & Sitohang, 2. bahwa manajemen keuangan yang baik mampu menekan pengeluaran Meski pandai mengelola uang, mahasiswa tetap melakukan pembelian yang cenderung pada barang sekunder maupun tersier. Temuan ini diperkuat oleh hasil wawancara dengan narasumber SR (F/. , yang menyampaikan bahwa ia terbiasa mencatat pengeluaran dan menyimpan dana Meski begitu, ia tetap tertarik membeli produk saat ada promosi. mengaku media sosial turut memengaruhi pilihannya dalam konsumsi. Membuktikan bahwa kemampuan mengatur keuangan tidak serta merta mengurangi dorongan untuk konsumtif. Dorongan eksternal seperti diskon, tren, dan eksistensi sosial turut memainkan peran penting. Secara teoritis, hal ini selaras dengan pandangan behavioral finance theory,(Assyfa, 2. , menjelaskan bahwa keputusan keuangan tidak selalu didasarkan pada logika Faktor psikologis dan emosi memiliki kontribusi yang besar dalam menentukan perilaku keuangan seseorang. Mahasiswa berkemampuan keuangan baik merasa lebih aman dalam membuat keputusan keputusan belanja. Rasa percaya diri mendorong mereka untuk merasa nyaman konsumtif. Jadi, kontrol finansial yang baik justru bisa membuka peluang perilaku konsumtif karena rasa aman yang Hasil ini juga diperkuat oleh studi (Kuswanto et al. , 2. bahwa semakin terampil seorang mahasiswa dalam mengelola keuangannya, semakin besar kenderungannya dalam melakukan pengeluaran konsumtif. Artinya, kemampuan manajemen keuangan bisa memperbesar kemungkinan konsumsi jika kebutuhan dasar telah terpenuhi. Fenomena ini bisa terjadi karena mahasiswa merasa pengeluarannya tetap terkendali meski melakukan pembelian non-prioritas. Penelitian ini memberi pemahaman baru bahwa manajemen keuangan tidak selalu menekan perilaku konsumtif. Penelitian (Rozaini & Sitohang, 2. menyatakan hasil yang berbeda, menyatakan bahwa pengelolaan keuangan justru berbanding terbaik dengan perilaku Menurut mereka, semakin baik seseorang dalam mengatur keuangan, semakin rendah pula kecenderungan belanja berlebih. Temuan ini, menunjukkan bahwa pengaruh kemampuan finansial terhadap konsumsi bisa berbeda tergantung Faktor lingkungan, latar belakang sosial ekonomi, dan kepribadian turut memengaruhi hasil. sehingga, hubungan antara manajemen keuangan dengan konsumsi tidak dapat digenalisasi secara mutlak. Pengaruh Gaya Hidup terhadap Perilaku Konsumtif Penelitian ini menemukan bahwa gaya hidup berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap perilaku konsumtif, yang ditunjukkan oleh nilai signifikansi sebesar 0,040, koefisien regresi sebesar 0,369, dan thitung 2,083. Karena nilai signifikansi berada di bawah 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi gaya hidup yang dijalani mahasiswa, semakin besar pula kecenderungan mereka untuk bersikap konsumtif. Temuan ini menguatkan bahwa gaya hidup merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi perilaku belanja mahasiswa, di mana pola konsumsi tidak lagi hanya didasarkan pada kebutuhan dasar, melainkan juga dipengaruhi oleh keinginan dan tren gaya hidup yang dijalan. Hasil ini diperkuat dengan pengamatan langsung yang memperlihatkan mahasiswa lebih suka mengikuti tren, menggunakan barang bermerek, dan Jurnal Equilbrium: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya Vol 13 no 02 Hal 37-47 | 43 menghabiskan waktu di tempat viral. Mereka seringkali memilih nongkrong di kafe atau tempat kekinian dibandingkan belajar di rumah. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa konsumsi dilakukan bukan karena kebutuhan, tetapi karena pengaruh lingkungan sosial. Dorongan untuk tampil sesuai tren membuat mahasiswa cenderung membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan. Dengan demikian, gaya hidup berkontribusi besar terhadap meningkatnya perilaku Berdasarkan teori Hierarki Kebutuhan Maslow,individu memenuhi kebutuhannya secara bertahap dari yang paling dasar hingga aktualisasi diri(Pakpahan, 2. Mahasiswa yang merasa aman secara ekonomi biasanya mulai fokus pada kebutuhan sosial dan penghargaan denganpembelian barang tertentu atau mengikuti tren untuk mendapat pengakuan sosial dan merasa lebih percaya diri. Gaya hidup seperti ini menunjukkan bahwa konsumsi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan psikologis, bukan semata-mata karena kebutuhan fisik. Oleh karena itu, gaya hidup tinggi dapat memicu perilaku konsumtif lebih besar. Penelitian ini selaras dengan temuan (Rahmita, 2. , yang menunjukkan gaya hidup berpengaruh positif signifikan terhadap perilaku konsumtif. Gaya hidup tinggi berkorelasi dengan perilaku konsumtif yang tinggi, (Fitriyani et al. , 2. Ketika gaya hidup seseorang meningkat, kecenderungan untuk mengikuti pola konsumsi tinggi juga meningkat. Artinya, mahasiswa dengan gaya hidup modern cenderung melakukan konsumsi lebih banyak dari kebutuhannya. Penelitian (Isnawati & Kurniawan, 2. menunjukkan hasil yang berbeda, bahwa gaya hidup justru berdampak negatif terhadap perilaku konsumtif. Menurut mereka, gaya hidup tinggi bukan berarti konsumtif, tetapi bisa menunjukkan pola hidup hemat atau minimalis. Mahasiswa yang memiliki kesadaran akan pentingnya pengelolaan keuangan memilih untuk tidak mengikuti tren. Mereka lebih selektif dalam konsumsi meskipun memiliki gaya hidup tinggi. Temuan tidak selaras hasilnya, justru menyoroti peran gaya hidup dalam mendorong konsumsi berlebih. Pengaruh Kemampuan Manajemen Keuangan dan Gaya Hidup secara Simultan terhadap Perilaku Konsumtif Pengujian F dalam analisis regresi memperlihatkan variabel kemampuan manajemen keuangan dan gaya hidup bersama-sama memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perilaku konsumtif. Besaran nilai F 12,890 dengan tingkat signifikansi 0,000 menunjukkan bahwa kedua variabel independen memiliki kontribusi nyata terhadap variasi dalam perilaku konsumtif. Menandakan perilaku konsumtif mahasiswa tidak hanya dipengaruhi oleh satu aspek saja, melainkan merupakan hasil gabungan dari bagaimana mereka mengelola keuangan dan bagaimana mereka menjalani gaya hidup. Keduanya secara simultan menjelaskan dinamika konsumsi mahasiswa, khususnya pada penerima KIP Kuliah di Universitas Pancasakti Tegal. Hubungan antara manajemen keuangan dan gaya hidup tidak bisa dipisahkan saat meninjau perilaku konsumsi. Temuan ini memperlihatkan variasi regresi tepat dan relevan untuk menganalisis faktor-faktor penyebab konsumtif. Artinya, kedua variabel secara kolektif layak dipertimbangkan sebagai komponen utama dalam memahami perilaku konsumsi Pengaruh gaya hidup dan kemampuan mengelola uang membentuk pola Hal ini memperjelas bahwa perilaku konsumtif bukan sesuatu yang acak, tapi mencerminkan proses yang melibatkan aspek psikologis dan sosial. Oleh karena itu, peran keduanya tidak bisa diabaikan dalam konteks penelitian ini. Jurnal Equilbrium: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya Vol 13 no 02 Hal 37-47 | 44 Data penelitian juga menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kemampuan manajemen keuangan pada tingkat sedang, sedangkan gaya hidup dan perilaku konsumtif mereka tergolong tinggi. Dalam kerangka Theory of Planned Behavior (TPB), menjelaskan bahwa keinginan individu untuk bertindak dipengaruhi oleh cara pandangnya terhadap perilaku, norma yang berlaku di lingkungannya, dan persepsi atas kemampuan dirinya dalam mengontrol tindakan tersebut. Temuan ini menggambarkan bahwa mahasiswa cenderung memiliki niat konsumtif yang kuat akibat dorongan lingkungan sosial. Sementara itu, persepsi mereka terhadap kontrol pribadi dalam mengelola keuangan masih belum optimal. Kombinasi antara dorongan sosial yang tinggi dan kontrol diri yang lemah menjelaskan tingginya perilaku konsumtif tersebut. Fakta di lapangan berdasarkan wawancara dan observasi memperlihatkan bahwa sebagian besar mahasiswa memang memahami dasar-dasar pengelolaan uang. Namun, pengetahuan ini belum cukup untuk mengatasi godaan konsumtif yang dipicu oleh gaya hidup tinggi dan tren sosial. Banyak mahasiswa tetap tergoda membeli barang karena pengaruh media sosial atau lingkungan, walau tahu pentingnya mengatur keuangan. Berdasakan konteks TPB, hal ini menunjukkan lemahnya perceived behavioral control dalam menghadapi norma subjektif yang kuat. Akibatnya, niat berperilaku rasional seringkali kalah oleh keinginan untuk mengikuti gaya hidup. Temuan (Sari et al. , 2. , juga menunjukkan hasil yang relevan, literasi keuangan dan gaya hidup merupakan dua faktor yang sama-sama memengaruhi perilaku konsumtif. Pengetahuan finansial saja tidak menjamin seseorang mampu menahan diri dari perilaku konsumtif. Gaya hidup mendominasi dan pengaruh sosial besar, maka kontrol diri menjadi lebih sulit dilakukan. Mahasiswa yang merasa aman secara finansial karena mendapat bantuan seperti KIP Kuliah, cenderung merasa lebih bebas dalam belanja. Kombinasi faktor-faktor ini menunjukkan bahwa intervensi untuk mengurangi konsumtif perlu mempertimbangkan baik aspek kognitif maupun sosial. SIMPULAN Berdasarkan hasil di atas dapat disimpulkan Kemampuan Manajemen Keuangan dan Perilaku Konsumtif mahasiswa penerima KIP Kuliah di Universitas Pancasakti Tegal berpengaruh positif signifikan. Ditunukkan oleh nilai signifikansi sebesar 0,039, koefisien regresi sebesar 0,255. Artinya, semakin baik kemampuan mahasiswa dalam mengelola keuangan, justru semakin tinggi kecenderungan mereka dalam melakukan perilaku Selain itu, variabel Gaya Hidup juga terbukti memengaruhi secara signifikan positif terhadap Perilaku Konsumtif, dibuktikan dengan koefisien sebesar 0,369 dan signifikansi 0,040. Mahasiswa yang berperlaku konsumtif memiliki intensitas konsumsi tinggi, terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan sekunder dan tersier. Secara simultan, kedua variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Diperlihatkan melalui pengujian F dengan nilai F-hitung 12,890 dan signifikansi 0,000, yang berarti model regresi memiliki kelayakan untuk menjelaskan hubungan antara variabel-variabel yang diteliti. DAFTAR PUSTAKA