PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 Kajian Teologi Tradisi Mesaa di Songga tentang Keselamatan dan Implikasinya terhadap Iman Kristen Masa Kini Theodorus Sekolah Tinggi Teologi Berea Pontianak theodorus@gmail. Abstract: This study aims to explain the point of view of Christian theology regarding salvation against the practice of the messa tradition. The research method used is comparative research, which attempts to compare salvation according to the messa tradition and Christian theology. The mesaa tradition's view of salvation involves eating and drinking. Touching and brushing food and drink before doing work is believed to have an effect that is able to keep away from harm. From the point of view of theology salvation is obtained when believing in Jesus. This view is not in accordance with the Christian faith, which can make the church unable to grow in God. The Word of God confirms in the Book of Acts 4:12 that salvation is in no one but in Him, for under heaven there is no other name given to man by which we can be saved. Keywords: Mesaa tradition. christian faith. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan sudut pandang teologi Kristen berkenaan dengan keselamatan diperhadapkan dengan praktik tradisi messa. Metode penelitian yang dipakai adalah penelitian komparatif, yang berupaya membandingkan keselamatan menurut tradisi messa dan teologi Kristen. Cara pandang tradisi mesaa tentang keselamatan adalah melibatkan soal makan dan minum. Menjamah dan menoles makanan dan minuman sebelum melakukan pekerjaan dipercayai memiliki pengaruh yang mampu menjauhkan dari mara bahaya. Berdasarkan sudut pandang teologi keselamatan didapatkan ketika percaya kepada Yesus. Pandangan tersebut tidak sesuai dengan iman Kristen, yang dapat membuat gereja tidak dapat bertumbuh dalam Tuhan. Firman Tuhan mempertegas dalam Kitab Kisah Para Rasul 4:12 bahwa dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan. Kata kunci: Tradisi mesaa. iman kristen. Pendahuluan Berawal dari hidup animisme, mempengaruhi cara berpikir nenek moyang zaman dulu, ketika melakukan sesuatu, mengerjakan, memutuskan, memikirkan segala sesuatu, selalu melibatkan hal-hal yang sifatnya mengundang sesuatu, bahkan sampai urusan makanan dan minuman pun akhirnya juga dilibatkan ke dalam suatu pemikiran yang juga akan membawa pengaruh, dampak, serta arti yang harus dipandang secara serius, berkembanglah kebiasaan yang lebih dikenal dengan kata AumesaAy menurut masyarakat dayak Songga. John Stott dalam mengatakan bahwa adat, tradisi ialah sesuatu yang disampaikan atau diteruskan dari seseorang kepada yang lain, khususnya dari seorang guru kepada murid-muridnya. (Stott 1. Kutipan tersebut di atas menjelaskan bahwa tradisi itu adalah kebiasaan yang disampaikan serta diteruskan kepada orang lain secara terus menerus, sampai kepada setiap PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 Songga menyatakan tempat atau desa, yang di dalamnya terdapat penduduk atau masyarakat Songga itu sendiri, berbahasa Banane dan termasuk dayak KanayanAot. Sebagian besar masyarakat sudah hidup beragama, tetapi tidak menjamin mereka percaya kepada Tuhan dengan sepenuhnya, selain percaya kepada Tuhan juga percaya pada mesaa. Kepercayaan nenek moyang memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat, sehingga sulit untuk dihilangkan. (Yermianto 2. mengatakan bahwa: Asal usul manusia sudah dipertanyakan sejak zaman purba. Dari mana asalku? Bagaimana aku diciptakan? Bagaimana aku berkembang? Ini adalah pertanyaan yang selalu menganggu pikiran manusia sejak dahulu. Pertanyaan ini menjadi pangkal lahirnya mitos, dongeng, filsafat manusia, yang semuannya itu berusaha mencari jawabannya sendiri. (Bevere 2. dalam bukunya yang berjudul: AuMematahkan Belenggu IntimidasiAy mengatakan bahwa: AuTakut akan Allah itu? Ini termasuk, bahkan lebih daripada itu, menghormati-Nya. Takut akan Allah berarti memberi kepada-Nya tempat kemuliaan, kemasyuran, kehormatan, ucapan syukur, pujian dan keagungan yang layak Ia dapatkan. (Perhatikan, ini adalah yang layak Ia dapatkan, bukan apa yang kita pikir layak Ia dapatka. memegang tempat ini dalam hidup kita apabila kita menghargai-Nya dan kehendak-Nya mengatasi kehendak kita. Kita akan membenci apa yang Ia benci, dan mengasihi apa yang Ia kasihi, gemetar dalam hadirat-Nya dan pada Firman-Nya. Selidikilah takut akan Takut akan manusia berhubungan baik dengan bahaya, kecemasan, perasaan kagum, perasaan takut dan kecurigaan sebelum manusia menemui ajalnyaAy. Mesaa menyangkut hal makan dan minum. Dasar utamanya adalah kepercayaan, bahwa setiap benda memiliki roh dan nafas. Oleh sebab itu, setiap sikap dan tindakan yang mencela dan menghina serta tidak mengindahkan tradisi mesaa tersebut maka akan dapat mendatangkan kecelakaan dan mara bahaya. Mesaa dapat diartikan sebagai suatu tindakan penghormatan agar terhindar dari mara bahaya yang disebut sampanan. Mesaa juga dapat diartikan dari sudut pemberi. Dalam tradisi dayak Songga, ungkapan sederhana penerimaan dan persaudaraan terhadap tamu adalah dengan mengadakan perjamuan. Mesaa adalah tindakan yang tepat, yang bisa dilakukan sebagai tanda penerimaan dan terima kasih atas segala kebaikan yang ditunjukkan tuan rumah kepadanya. Mesaa adalah ungkapan sederhana atas segala rezeki yang diterimanya. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan sudut pandang atau sikap teologi Kristen terhadap tradisi mesaa yang masih melekat dalam praktik hidup sehari-hari. II. Metode Penelitian Objek dari metode penelitian adalah lebih berfokus pada tradisi messa di kalangan masyarakat dayak Songga dan menggunakan metodologi komparatif. Penelitian komparatif adalah penelitian yang lebih bersifat membandingkan. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan persamaan dan perbedaan dua atau lebih fakta-fakta dan sifat-sifat objek yang diteliti berdasarkan kerangka tertentu. Objek penelitian lebih kepada iman dan keselamatan berdasarkan sudut pandang mesa dan sudut pandang teologi. PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 Hasil dan Pembahasan Pandangan Tokoh Adat dan Masyarakat Songga tentang Messa Mesaa adalah tindakan seperti menoles, menyentuh, meraba, menjilat dan mencicipi setiap makanan dan minuman yang sedang ditawarkan kepada kita. Setiap orang yang ditegur atau disapa untuk menikmati ajakan makan dan minum wajib menikmati makanan tersebut, setidaknya mereka disuruh untuk menjamah atau menoles makanan dan minuman tersebut, bila tidak makan ketika mereka melakukan perjalanan bahaya akan mengancam. Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan beberapa tokoh adat dan masyarakat, peneliti mendapatkan informasi bahwa Mesaa adalah tradisi yang sudah diyakini sebagian besar suku dayak Songga. Mesaa merupakan suatu tindakan agar terhindar dari sampanan atau mara bahaya. Mesaa artinya harus menyentuh, menjilat, meraba serta mencicipi setiap bagian dari makanan dan minuman tersebut. Sampanan bisa terjadi karena disebabkan oleh diri sendiri dan disebabkan oleh orang lain. Dari diri sendiri, contohnya adalah ketika sudah menyiapkan kopi untuk diri sendiri sebelum pergi, tidak diminum karena harus cepat-cepat Disebabkan oleh orang lain, misalnya orang sedang menegur atau menyapa kita untuk minum kopi atau makan, tetapi kita menolak makanan dan minuman tersebut. Hal tersebut dapat mengakibatkan kita akan mendapatkan mara bahaya, karena tidak melakukan mesaa. Sampanan akan dapat terjadi dalam skala kecil dan besar. Skala kecil, misalnya kaki tersandung batu, kaki atau tangan terkena tukul, tangan tersayat pisau. Sedangkan dalam skala besar, misalnya terjatuh dari pohon, jatuh ke parit atau sumur, ketabrak motor atau mobil, terkena parang, tertutup lobang dompeng, dan jatuh dari motor, mengakibatkan meninggal dunia, bahkan dimakan binatang buas. Motif dalam Melaksanakan Tradisi Mesaa Solidaritas dan kekeluargaan Mesaa adalah ungkapan nyata dan sederhana sikap solidaritas dan kekeluargaan. Inti Mesaa adalah kesediaan untuk berbagi dan menerima pemberian orang lain apa adanya. Dalam tradisi dayak Songga, ungkapan solidaritas dan kekeluargaan ditunjukkan dalam perjamuan baik dalam skala kecil maupun dalam skala besar . enyiapkan makanan dan Tiap tamu yang berkunjung, maupun anggota keluarga bahkan orang lain, senantiasa disuguhi makanan dan minuman sebagai tanda penerimaan. Apabila ternyata tamu tersebut tidak berkenan atas suguhan itu, tidak makan dan minum atas apa yang disuguhkan, mereka tetap akan menghargai dengan melakukan Mesaa. Dengan demikian, rasa kebersamaan dan persaudaraan tidak akan terlukai serta mengakui segala maksud dan niat baik yang ditunjukkan oleh tuan rumah. Hormat terhadap hasil usaha manusia Makanan diterima dan diperoleh dari hasil kerja manusia sebagai petani, seperti berladang, bersawah dan berburu. Bagi orang dayak Songga, berladang dan berburu, bukanlah pekerjaan yang mudah. Kedua pekerjaan ini mengandung resiko kecelakaan yang sangat Mereka menghargai akan apa yang disuguhkan kepadanya sebagai tanda PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 penghormatan dan terima kasih. Tidak melakukan mesaa adalah salah satu sikap tidak hormat atau bahkan dipandang sebagai sikap penolakan terhadap jiwa atau sengat yang ada dalam makanan dan minuman tersebut. Sikap tidak hormat ini dipercaya dapat mendatangkan Percaya bahwa Messa mendatangkan keselamatan dalam hidup Mesaa adalah tradisi yang melibatkan kepercayaan. Melibatkan kepercayaan disebabkan oleh karena setiap benda dalam makanan dan minuman tersebut memiliki pengaruh yang sangat kuat. Percaya bahwa ketika seseorang menyentuh, mencicipi, menoles makanan dan minuman itu, serta mengigit dan menjilat tangan, maka kita akan mendapatkan penjagaan, pemeliharaan serta perlindungan dari setiap mara bahaya yang akan menimpa kita. Ketika mereka melakukan mesaa, membuat pikiran, perasaan dalam hati mereka membuat mereka tidak merasa kuatir, takut, dan punya perasaan tidak bersalah, tenang, ketika melakukan perjalanan. Kebiasaan dipertahankan dan diteruskan dari generasi ke generasi, supaya rasa saling peduli antar sesama manusia tidak pernah habis-habisnya. Kemudian akhirnya kebiasaan itu menjadi berkembang menjadi sesuatu pemikiran dimana kebiasaan itu sudah melibatkan hal-hal yang berbau kepercayaan. Kajian Teologis tentang Keselamatan dalam Tradisi Mesaa Keselamatan dalam tradisi mesaa yang lebih berbicara kepada hidup keseharian setiap Bukan keselamatan yang sifatnya kekal, tetapi lebih kepada keselamatan hidup di dunia ini. Masyarakat dayak, setiap kali melakukan apapun juga dalam setiap kegiatan hidup, tidak boleh tidak mereka melakukan mesaa, karena mesaa adalah bagian dari keselamatan yang mereka cari. Mereka melakukan mesaa supaya tidak sampanan, karena mesaa tersebut yang sanggup memberikan jaminan kepada setiap mereka yang melakukan mesaa. Dalam Kisah Para Rasul 4:12 tertulis: AuDan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkanAy. Oleh karena itu, jelas disampaikan bahwa keselamatan tidak ada di dalam nama siapapun juga, selain di dalam nama Yesus Kristus. Dalam nama Yesus Kristus kita mendapatkan keselamatan. Keselamatan dalam Yesus sangat berbeda dengan keselamatan yang kita dapatkan dalam dunia. Keselamatan menurut konsep dunia, lebih kepada keselamatan secara tubuh, sementara saja dan sewaktuwaktu, tetapi keselamatan yang kekal adalah lebih kepada hidup yang kekal, di Sorga nanti. Sebenarnya mara bahaya akan terjadi karena lebih kepada tidak hati-hati, bukan karena tidak melakukan mesaa. Tidak ada hubungannya makanan dan minuman dengan mara Makanan dan minuman mungkin lebih berpengaruh kepada kesehatan. Makanan dan minuman fungsinya lebih memberikan kesegaran dan kekuatan, menambah tenaga, sehingga tambah kuat dan segar untuk melakukan dan melanjutkan aktivitas. Pandangan Alkitab tentang Keselamatan (Chan 2. mengatakan bahwa karya keselamatan pada dasarnya merupakan karya Allah dalam sejarah manusia: memanggil Abraham, membebaskan keturunannya dari PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 perbudakan dan membuat perjanjian dengan mereka untuk menjadi umat Yahweh. Hal itu berarti bahwa karya keselamatan itu selalu dikerjakan oleh Allah dalam hidup manusia, bukan manusia itu sendiri. (Hagin 2. mengatakan bahwa tidak ada keselamatan yang terpisah dari nama Yesus. Tidak ada keselamatan yang terpisah dari pribadi Yesus Kristus. Itulah satusatunya nama yang dapat digunakan oleh orang berdosa sebagai pegangan untuk mendekati Allah Bapa yang Mahakuasa. Keselamatan hanya ada di dalam nama Yesus Kristus, yang adalah satu-satunya nama yang sanggup menyelamatkan hidup manusia dari api neraka. Menurut (John F. MacArthur 2. cara yang terbaik untuk semakin yakin akan keselamatan yang Allah berikan adalah dengan memiliki hubungan yang dekat dengan-Nya. Uraian tersebut menjelaskan bahwa ketika memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Allah, maka akan membuktikan keyakinan akan keselamatan, yang sumbernya berasal dari Allah. Jalan keselamatan yang sesungguhnya dan sah ialah Dia yang dari Allah asal-Nya. Dia yang turun dari Sorga ke dunia. Dia yang turun dari atas ke bawah. Bukan salah satu agama, bukan salah satu pengajaran atau filsafat, bukan pula salah satu ilmu kebatinan yang dapat menyelamatkan manusia, melainkan yang dapat menyelamatkan manusia hanyalah satu, yaitu Allah (Pfendsack and Visch 2. Yang sanggup menyelamatkan adalah Allah sendiri, bukan agama, bukan perbuatan baik dan bukan ilmu kebatinan. Keselamatan manusia sepenuhnya adalah anugerah Allah melalui iman dalam Yesus Kristus, bukan hasil usaha Diselamatkan menunjukkan seseorang terlepas dari tempat kejatuhannya kembali ke kedudukan semula atau seseorang terlepas dari kuasa dosa lalu mendapatkan kesucian, atau seseorang terlepas dari kuasa maut lalu mendapatkan hidup, atau seseorang terlepas dari kedudukannya yang bermusuhan dengan Allah dan mendapatkan kedudukan yang berdamai, atau seseorang terlepas dari kedudukan sebagai hamba dan mendapat kedudukan sebagai anak, atau dari kegelapan berpaling kepada terang, hal itu merupakan suatu pemindahan Hal semacam ini disebut diselamatkan. Seseorang dapat diselamatkan bukan karena jasanya sendiri melainkan seluruhnya adalah karena cinta kasih si penyelamat. anugerah semacam ini disebut keselamatan. (Wongso 1. Keselamatan tidak semuanya bergantung pada sikap pengenalan dan kepercayaannya kepada Juruselamat, tetapi juga mengenal dengan jelas keadaannya sendiri. Orang yang diselamatkan satu pihak bersandar kepada anugerah Tuhan, dilain pihak bersandar pada imannya sendiri. Iman tersebut juga merupakan anugerah Tuhan yang ditentukan oleh berapa besar penerimaannya. Akibat imannya tersebut ia dibenarkan di hadapan Tuhan, sebab iman ini, maka terhindarlah ia dari hukuman, siksaan serta maut. (Daun 2. menjelaskan bahwa keberadaan dosa merupakan fakta dan fakta ini menyebabkan manusia membutuhkan Keselamatan yang didambakan manusia adalah keselamatan di dalam Yesus Kristus. Dengan demikian, keselamatan yang berasal dari Yesus Kristus itu bukan sementara, tetapi keselamatan yang kekal. Pentingnya Pengenalan akan Allah Hal yang perlu dipahami dan menjadi dasar dalam iman Kristen adalah bahwa Tuhan itu Allah kita. Allah yang disebut Yahweh. Allah orang Israel. Allah sebagai Yahweh yang sudah PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 membebaskan Israel dari Mesir dan menuntun mereka selama perjalanan di padang gurun. Tindakan-tindakan yang ajaib itu menjadi dasar bagi Yahweh untuk menuntut kesetiaan dan ketaatan umat-Nya terhadap ketentuan-ketentuan perjanjian pada masa yang akan datang. (Sitompul n. ) menjelaskan bahwa arti nama Yahweh bukan hanya menunjukkan keberadaan-Nya saja, tetapi kebebasan atau kemauan bebas Allah, kepribadian-Nya atau keakan-an-Nya, hadir di setiap tempat dan waktu. Yang perlu diajarkan kepada setiap orang adalah bahwa Allah tetap Allah. Esa dan tidak pernah menjadi orang lain, melainkan Allah yang tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang tetap Allah yang sama. (Sibarani 2. mengatakan bahwa Tuhan Allah adalah pribadi yang menciptakan segala sesuatu. Tuhan mencipta (Ibrani: bar. dengan Kuasa-Nya. Tuhan mencipta dari tidak ada menjadi ada pada suatu masa (Latin: creation ex nihilo et cum Bangsa Israel di Mesir sudah tidak mengenal Tuhannya lagi, mereka disibukkan dengan pekerjaan, mereka tidak lagi memikirkan Tuhan oleh karena situasi dan kondisi pada saat itu sangat mempengaruhi, sehingga Tuhanlah yang mengambil inisiatif untuk memperkenalkan diri-Nya adalah supaya bangsa Israel tahu bahwa Tuhanlah Yahweh. (Crossley 2. menjelaskan bahwa dua istilah utama dipakai Perjanjian Lama untuk menyebut Allah, yakni: Aubahasa Ibrani Elohim, dan empat huruf mati Ibrani: Y H W H. Elohim, istilah umum untuk Allah, sedangkan Y H W H adalah nama pribadi, dengan nama Allah dikenal oleh orang Israel. Tuhan Allah yang disebut Yahweh itu harus diperkenalkan juga kepada setiap setiap orang untuk diketahui. (Wright 2. menjelaskan bahwa YHWH memiliki sebuah arti, yaitu Aku ada yang Aku ada, atau Aku akan ada sebagaimana Aku ada, sebagaimana yang dikesankan oleh nama-Nya, tidak dapat didefinisikan sebagaimana sesuatu atau seseorang lainnyaAy Hal tersebut memberi penegasan bahwa Allah hanya satu, tidak ada Allah yang lain, selain Allah YHWH. Musa menyampaikan pengajaran tentang Tuhan itu adalah Esa. Yang menjadi keinginan Musa adalah bahwa umat Israel lebih memahami dan percaya bahwa Tuhan itu adalah Esa. (Ul. Pengakuan iman itu menyatakan keesaan dan keunikan Tuhan Allah Israel, khususnya dalam hubungan-Nya dengan umat-Nya. Kata yang dipergunakan untuk AuesaAy adalah angka satu, sehingga arti harafiahnya ialah Tuhan Allah kita. Tuhan, satu. (Hubbard Hal itu menjelaskan bahwa Tuhan nya orang Kristen tidak banyak, melainkan Tuhannya orang Kristen itu satu, itu yang perlu dipahami oleh setiap orang. (Charles C. Ryrie 1. mengatakan bahwa keesaan berarti bahwa hanya ada satu Allah yang tak dapat dibagi-bagi. Keesaan Allah menekankan keunikan Allah yang kontras dengan dewa-dewa orang kafir. (Thiessen 2. menjelaskan bahwa keesaan Allah berarti bahwa hanya ada satu Allah saja dan bahwa sifat dasar atau watak Allah tidak dapat dipisah-pisahkan atau dibagi-bagikan. Bahwa Allah itu Esa adanya merupakan kebenaran sejati Perjanjian Lama. Tuhan adalah Allah kita. Tuhan saja, artinya tiada Allah lain, yang menjadi Allah kita. Bahwa Allah yang esa itu adalah Allah Tritunggal. Hanya ada satu Allah, akan tetapi Allah menyatakan diri kepada manusia sebagai Bapa. Anak, dan Roh Kudus, dan ketiga pribadi itu tidak sama Yohanes 14:16 mengatakan. Aku akan minta kepada Bapa dan Ia akan memberikan kepadamu seorang penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu, yaitu Roh kebenaran. PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 dalam Markus 1:10,11 disebutkan bahwa Roh Kudus turun ke atas Tuhan Yesus. Jadi. Allah hanya satu, dan Ia menyatakan diri-Nya kepada kita dalam tiga pribadi-Bapa. Anak dan Roh Kudus. (Brill 2. Pembebasan dan kebebasan bangsa Israel mulai menyadarkan keistimewaannya sebagai bangsa yang dipilih oleh Allah. Israel sebagai bangsa pilihan Allah, selain asal usul bangsa dan umat manusia, bangsa Israel juga diharapkan untuk bisa memperkenal Allah di tengahtengah bangsa, dan menjadikan berkat bagi setiap bangsa. (Charpentier 1. menjelaskan bahwa dalam peristiwa tersebut Israel mulai menemukan siapakah Allah dan apakah arti nama-Nya. Israel menemukan bahwa Allah adalah pembebas dan Juruselamat. Allah adalah tokoh yang sudah membawa kami keluar dari perhambaan. Bangsa Israel harus menyadari, bahwa Allah sudah membebaskan mereka dari perhambaan di Mesir. Penjelasan tersebut di atas menegaskan bahwa Allah itu Maha Kuasa. Allah sanggup melakukan segala perkara dalam hidup setiap orang yang mengandalkan Tuhan, artinya bahwa manusia dijauhkan dari mara bahaya serta mendapatkan keselamatan dalam hidup adalah ketika manusia percaya kepada Allah dan mau dipimpin oleh Tuhan, bukan karena melakukan mesaa. IV. Kesimpulan Tradisi mesaa adalah menyangkut soal makan dan minum, dasar utamanya adalah kepercayaan bahwa, setiap benda memiliki roh dan semangat. Oleh sebab itu, setiap sikap dan tindakan yang menghina serta tidak mengindahkan mesaa akan mendatangkan sampanan . ara bahay. , artinya setiap makanan dan minuman yang ditawarkan harus dimakan dan diminum, kalaupun tidak dimakan dan diminum, paling tidak disentuh dan ditoles, supaya dijauhkan dari mara bahaya, terutama ketika melakukan pekerjaan dan perjalanan. Tradisi mesaa percaya bahwa tolesan dan jamahan terhadap makanan dan minuman itu yang memiliki pengaruh yang besar untuk bisa mendapatkan keselamatan dalam segala hal. Perihal makanan dan minuman hanya sebatas kebutuhan jasmani yang tidak ada hubungannya dengan keselamatan hidup manusia. Pandangan Alkitab tentang keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus. Dalam Kisah Para Rasul 4:12 memiliki arti bahwa keselamatan tidak ada di luar Yesus Kristus. Keselamatan akan diperoleh pada saat manusia percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Berdasarkan kajian teologi tersebut di atas mempertegaskan bahwa setiap orang harus percaya sungguh-sungguh kepada Yesus Kristus bukan melakukan mesaa serta percaya pada makanan dan minuman. Percaya kepada Yesus Kristus akan mengalami pertumbuhan iman. Percaya kepada Yesus berarti siap dalam segala hal untuk mengandalkan Tuhan, karena Tuhan yang sanggup menjauhkan manusia dari kecelakaan, mara bahaya. Percaya Yesus Kristus maka kita akan mendapatkan keselamatan dan hidup yang kekal bersama Yesus Kristus. Referensi