Raqib: Jurnal Studi Islam Volume 01 Nomor 01 Juni 2024 ISSN: x-x | E-ISSN: x-x TINJAUAN ONTOLOGIS ATAS KAJIAN INTEGRASI ISLAM DAN PSIKOLOGI (Ontological Review of Integration Studies Islam and Psycholog. Jamil Abdul Aziz Universitas PTIQ Jakarta email: jamilabdulaziz@ptiq. Muhammad Safri Jamal Universitas PTIQ Jakarta email: m. safrijamal_21@mhs. Abstract The discourse on the concept of the integration of Psychology with Islam . in Indonesia from the beginning of its emergence in the 90s until now has never really got a single point of agreement or meaning. The most powerful debate crystallized in two groups, namely: "Islamic Psychology" and "Islamic Psychology". The "Islamic Psychology" group argues that the starting point for the integration of Psychology and Islam is in the Science of Psychology which is then analyzed by Islamic studies. Meanwhile, the "Islamic Psychology" group, on the other hand, started with Islamic studies . he Koran. Hadith, etc. ) and then approached the science of In addition, the scientific position and the formulation of the method . of Islamic Psychology itself in the midst of the building of other disciplines is not clear. Not to mention the debate about the actual impact or contribution . of Islamic psychology itself in practical and theoretical terms. The method used in the author of this article is a literature review or library research. Keywords: Integration. Ontology. Islamic Psychology. Abstrak Diskursus mengenai konsep integrasi Psikologi dengan Islam . dari awal kemunculannya tahun 90-an sampai saat ini tidak pernah benar-benar mendapat titik temu atau makna yang tunggal. Di Indonesia, perdebatan yang paling kuat mengkristal pada dua kelompok, yaitu: AuPsikologi IslamAy dan AuPsikologi IslamiAy. Kelompok AuPsikologi IslamiAy berpendapat bahwa titik berangkat integrasi Psikologi dan Islam ada pada Ilmu Psikologi lalu dianalisis dengan kajian Adapun kelompok AuPsikologi IslamAy sebaliknya, titik berangkatnya pada kajian Islam (Alquran. Hadits, dl. lalu didekati dengan ilmu Psikologi. Selain itu, posisi keilmuan dan rumusan metode . dari Psikologi Islam itu sendiri di tengah-tengah bangunan disiplin ilmu yang lain menjadi tidak nampak jelas. Belum lagi perdebatan mengenai sejauhmana sebenarnya dampak atau kontribusi . dari Psikologi Islam itu sendiri secara praktis dan teoretis. Metode yang digunakan dalam penulis artikel ini adalah literature review atau kajian kepustan . ibrary researc. Kata kunci: Integrasi. Ontologis. Psikologi Islam PENDAHULUAN Berbicara mengenai integrasi ilmu psikologi dan Islam di Indonesia, sebenarnya memiliki akar sejarah yang dekat dengan munculnya gerakan islamisasi psikologi di berbagai belahan dunia. Gerakan islamisasi psikologi tidak lahir dari ruang hampa. lahir sebagai revisi, falsifikasi, dan kritik atas psikologi barat1 yang dianggap gagal memahami manusia secara hakiki. Alih-alih menjelaskan konsepsi kejiwaan manusia secara utuh, psikologi barat malah terkesan reduksionistik, mekanistik dan simplisistik2, dalam melihat aspek psikologis manusia. Dari anggapan atas psikologi barat yang reduksionistik dan simplisistik tersebut, kemudian intelektual dan sarjana muslim merasakan sesuatu yang disebut oleh penulis sebagai Aukegelisahan ilmiahAy. Dari kegelisahan ilmiah tersebut timbullah kemudian suatu percikan momentum, setelah seratus tahun kemunculan psikologi di Barat . , yakni pada tahun 1979. Psikolog Muslim asal Sudan. Malik Badri menerbitkan sebuah buku yang terbit di Inggris berjudul The Dylemma of Muslim Psychologict. 3 Buku yang Psikologi Barat dalam hal ini diartikan sebagai psikologi yang sekuler dan menafikan aspek agama dalam melihat struktur kejiwaan manusia. Bisa juga diartikan sebagai psikologi yang antagonistik terhadap agama. Psikologi sendiri sebagai suatu disiplin ilmu di Barat baru muncul kira-kira tahun 1879 dengan tokoh pertamanya Wilhem Wundt setelah ia mendirikan Laboratorium Psikologi pertama di Universitas Leipziq. Satu tahun setelah Wundt mendirikan Laboratorium Psikologi, ia kemudian meraih penghargaan sebagai AuBapak PsikologiAy oleh American Psychology Asociation (APA). Dalam beberapa catatan, penobatan Wundt sebagai Bapak Psikologi, tidak sepenuhnya semua sepakat. Salahsatunya, misalnya M. Knight yang lebih setuju William James sebagai Psikolog Barat pertama. (Lihat: Kemunculan Psikologi di Barat dalam Peter Connoly. Aneka Pendekatan Studi Agama, terj. Imam Khairi, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2016, h. Rasjid Skinner. AuTraditions. Paradigms. And Basic Concepts in Islamic PsychologhyAy. Journal of Religion and Health. Blanton: Peale Institute, 2019, h. 1088 Meski kemudian, tahun 1930-an Psikologi Barat mulai melirik pembahasan soal agama. Namun dalam arti menilai agama sebagai fenomena, bukan agama sebagai sumber memahami manusia. Salahsatunya, missal Carl Jung, yang menyatakan bahwa symbol-simbol rerligius sudah secara otomatis terkandung dalam jiwa manusia (Lihat: Carl G. Jung. Psychology and Religion. Yale University Press. New haven Conecticut:1. Dari awal kemunculannya psikologi sebagai suatu disiplin ilmu sendiri, sebenarnya sudah terjadi reduksionisasi dan simplifikasi itu sendiri. Hal tersebut bisa kita lihat misalnya dari arti psikologi itu sendiri. Psikologi yang mulanya diartikan ilmu jiwa . menggeser objek kajiannya kepada pengamatan atas tingkah laku . Tingkah laku dalam hal ini kemudian dianggap sebagai manifestasi dari kondisi jiwa manusia (Lihat: Djamaludin Ancok. Fuad Nashori Suroso. Psikologi Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1. , h. Bahkan dalam suatu perkuliahan AuIslamic Philosophy and PsychologyAy bulan AprilMei 2019 di Sps UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta bersama Abdul Mujib. Abdul Mujib menyatakan bahwa jika dilihat dalam buku-buku yang ditiulis oleh ilmuwan psikologi barat, hamper tidak ada lagi ditemukan istilah atau kata AupsycheAy semuanya merujuk pada AubehaviorAy. Pertanyaan kritis dari Abdul Mujib ialah mengapa kemudian tidak diganti saja menjadi AuBehaviorologyAy? Hal ini nampaknya karena tuntutan kriteria pengetahuan yang ditentukan oleh Barat, salahsatunya ialah AuobservableAy. Malik M Badri. The Dylemma of Muslim Psychologict. London Publisher: MWH London Publisher, 1979. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 01 Juni 2024 | 12 substansinya lebih berisikan kritik pada psikoanalisis4 dan behaviorisme5 serta memandang humanisme Abraham Maslow sebagai mazhab yang dianggap bisa menjadi mitra sebab dipandang lebih AupositifAy ketimbang dua mazhab sebelumnya. Buku tersebut kemudian dianggap sebagai pemantik gerakan munculnya AuPsikologi Dalam psikoanalisis, manusia dianalisa dengan tiga struktur kepribadian, yaitu: struktur id yang nilainya biologis, struktur ego yang bersifat psikologis, dan struktur super ego yang bersifat sosiologis. Menurut Freud, keseluruhan perilaku manusia sangat dikendalikan oleh struktur id yang berarti nalar Manusia, dalam pandangan Psikologi Freud tidak lain tidak bukan hanyalah makhluk biologis semata, tidak lebih. 4 Oleh karena itu dalam Mazhab Psikoanalisa, posisi kejiwaan manusia tidaklah berbeda dengan binatang. 4 Menurut Agus Abdul Rahman, pandangan Freud yang melihat manusia sebagai makhluk biologis semata seperti hewan dipengaruhi oleh pandangan Charles Darwin dalam teori evolusinya, bahwa manusia dan binatang memiliki karakteristik yang sama. 4Hal tersebut tentu saja menjadi bertolakbelakang dan menjadi permasalahan jika dihadapkan pada pandangan Islam, yang melihat manusia sebagai makhluk jasmaniah-ruhaniah. Bahkan, bisa dikatakan bahwa aspek ruhani menempati posisi paling penting, dibanding posisi jasmani. Lebih ekstremnya lagi. Freud melihat apa yang mendorong manusia memiliki kepercayaan ruhani . adalah tidak lain sekedar AopelarianAo karena manusia tidak mampu menghadapi realitas. (Lihat: Sigmund Freud. Memperkenalkan Psikonalisa, terj. Bertens. Jakarta: Gramedia, 1984. Agus Abdul Rahman. Sejarah Psikologi: Dari Klasik Hingga Modern. Depok: Rajawali Press. Jhon B. Magee. Relegion and Modern Man: A study of the Relegious Meaning of Being Human. New York: Harper & Row, 1967. Maghfur Ahmad. Religia: Agama dan Psikoanalisa Freud, (STAIN Pekalongan: Publisher Grup, 2. Behaviorisme, sebagaimana namanya AubehaviorAy yang berarti tingkah laku, menekankan teorinya pada perubahan perilaku manusia. Dalam pandangan Behaviorisme, tingkah laku manusia sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh lingkungan sekitarnya. Skinner . , melahirkan teorinya yang menjelaskan bahwa perilaku manusia pada umumnya dapat dijelaskan berdasarkan teori pengkondisian operan . perant-conditionin. dan tidak jauh seperti hewan. Manusia tidak mempunyai kehendak untuk menentukan tingkah lakunya sendiri secara eksistensial. Ia tidak lain, semisal robot yang bergerak secara mekanistik atas pemberian hukuman . dan hadiah . Pandangan-pandangan tersebut menunjukkan bahwa dinamika struktur kepribadian manusia di tangan Behaviorisme menjadi tidaklah berbeda dengan dinamika perilaku hewan. Temuan-temuan yang dihasilkan dari penelitian kepada hewan, oleh Behaviroisme disamakan guna menelaah konsep manusia. Tentu saja hal ini juga tidak kalah bermasalahnya dengan teori Psikoanalisa, jika dihadapkan dengan pandangan Islam yang melihat manusia adalah makhluk yang diberikan akal atau hewan berakal . l-hayawan an-nati. Dengan akalnya inilah kemudian, manusia memiliki kehendak untuk menentukan nasibnya sendiri dan kemampuan mengubah lingkungan, bukan hanya ditentukan oleh lingkungannya. Behaviorisme juga bahwa manusia terlahir kosong, tidak memiliki potensi bawaan apa-apa, lingkunganlah kemudian yang membentuknya. Padahal. Islam melihat manusia lahir dengan potensi Fitrah, yaitu potensi pada kebaikan. Bisa dikatakan behaviorisme, dalam hal ini menjadi cenderung reduksionistis, karena melihat jiwa manusia yang tak memiliki kemauan, dan kebebasan untuk menentukan tingkah lakunya sendiri. Singkatnya, di tangan Behaviorisme, manusia menjadi homo mechanicus . anusia mesi. Kita bisa pahami bahwa mesin adalah benda yang bergerak dan bekerja tanpa ada motif ruhani dan spiritual di baliknya. Ia sepenuhnya ditentukan oleh faktor obyektif . ahan bakar, kondisi mesin ds. Ringkasnya, kompleksitas dalam jiwa manusia menjadi simplisistis dalam pandangan aliran ini. (Lihat: Matthew H. Olson. Pengantar Teori-Teori Kepribadian, terj. Yudi Santoro. Pustaka Pelajar. Yogyakarta, 2011. Bimo Walgito. Pengantar Psikologi Umum. Yogayakarta: Penerbit Andi, 2003. Purwa Atmaja Prawira. Psikologi Umum dengan Perspektif Baru, (Jakarta: Ar-ruz Media, 2. Mazhab Humanisme kira-kira lahir tahun 1957 dengan tokoh sentralnya seorang Yahudi taat bernama Abraham Maslow. Humanisme sebagai mazhab psikologi lebih positif melihat manusia dibanding mazhab sebelumnya. Dalam pandangan Maslow manusia memiliki potensi positif, kreatif, dan kehendak. Maslow lebih sehat melihat manusia. Pada tahun 1962. Abraham Maslow dan koleganya kemudian mendirikan Association of Humanistic Psychologhy. Teori besar Maslow salahsatunya adalah konsepnya yang menyatakan bahwa manusia setidaknya memiliki lima kebutuhan dasar dalam hidupnya yang kemudian dikenal dengan teori Aohierarchy of needsAoDengan urutan sebagai berikut: . Kebutuhan Fisiologis . kebutuhan akan rasa aman . Kebutuhan akan rasa cinta . kebutuhan akan penghargaan dan terakhir . Kebutuhan aktualisasi diri . elf-actualizatio. (Lihat Abraham Maslow. Motivation And Personality, terj. Fawaid Maufur. Yogyakarta: Cantrik Pustaka, 2. , 69-80. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 01 Juni 2024 | 13 IslamAy oleh tokoh-tokoh intelektual muslim lainnya di berbagai belahan dunia sebagai suatu arah baru dalam melihat manusia. Di Timur Tengah ada Muhammad Utsman Najati dengan bukunya Alquran wa Ilm An-nafs . , di India misalnya, gerakan Psikologi Islam dipelopori oleh Hussain dengan bukunya Psychology and Society in Islamic Perspektive . ,), dll. Di Pakistan, juga jauh sebelumnya ada Muhammad Iqbal dengan bukunya The Reconstruction of Religious Thought in Islam . yang banyak menyinggung psikolog barat. Psikologi Islam di Indonesia yang mulai muncul pada tahun 1992 dengan penggagas utamanya Jamaludin Ancok. Fuad Nashori. Hanna Bastaman, dkk,7 dalam hal ini tidak terlepas dari pengaruh Malik Badri dan tokoh-tokoh muslim tersebut. Selain Malik Badri dan tokoh-tokoh yang disebutkan penulis di atas, kemunculan gerakan AuIslamisasi PsikologiAy yang melahirkan psikologi Islam juga ditopang oleh gerakan AuIslamisasi pengetahuanAy (Izlamization of Knowledg. 8 yang salah satu tokoh kuncinya adalah IsmaAoil Raji Al-faruqi. 9 IsmaAoil Raji Al-Faruqi mengkampanyekan suatu ide penyatuan antara wahyu dengan akal. Dimana agama tidak terpisah dengan ilmu pengetahuan atau dengan bahasa lain Auwahyu menuntun ilmuAy. Hal tersebutlah yang kemudian menjadi inspirasi para psikolog untuk meng-AuislamkanAy ilmu psikologi barat yang dianggap tidak sesuai dengan konsepsi Islam atas manusia. 10 Selain Malik Badri. IsmaAoil Raji Al-Faruqi. Utsman Najati. Iqbal, tokoh-tokoh lain yang tidak kalah pentingnya dalam gerakan islamisasi sains ini ialah Naquib Al-Attas. Ziaudin Sardar, dan lain-lain. Hanna Djumhana Bastaman. AuDari Kalam Sampai ke API: Psikologi Islami Kemarin. Kini. EsokAy. Jurnal Psikologi Islami. Vo. No. 1 Juni 2005, (Fakultas Psikologi: Universitas Indonesi. , h. Islamisasi Pengetahuan tidak memiliki makna dan arti yang absolut. Akan tetapi, setidaknya ada empat pendapat mengenai arti dari islamisasi pengetahun itu sendiri di Indonesia: Pertama. Islamisasi pengetahuan hanya sekedar memberi ayat-ayat pada ilmu pengetahuan yang telah ada . Kedua. Islamisasi pengetahuan berarti mengislamkan ilmuannya Ketiga. Islamisasi pengetahuan berarti ilmu pengetahuan yang berdasar pada metodologi dan filsafat Islam, keempat. Islamisasi pengetahuan berarti ilmu pengetahuan yang beretika dan beradab (Bahrudin. AuIslamisasi PengetahuanAy. Jurnal Fikrah. Universitas Ibnu Khaldun Vol. 6 No. Penjelasan mengenai relasi kemunculan Psikologi Islam di Indonesia dengan Islamisasi Pengetahuan yang terjadi di kalangan ilmuwan Islam ini penting sebagai catatan bahwa psikologi Islam memiliki akar dengan gerakan intelektual dunia. Menurut Zainal Abidin, gerakan Islamisasi Pengetahuan lahir setelah kekalahan bangsa arab oleh Israel pada tahun 1967, dari sana kemudian muncul gerakan untuk memajukan kembali superioritas pengetahuan pada dunia muslim. Dalam wacana publik Internasional bidang kajian pembaharuan pengetahuan islam mulai bergaung pada tahun 1978 ketika Universitas Riyadh. Arab Saudi melangsungkan symposium International. Setahun setelahnya buku Malik Badri, terbit (Lihat: Zainal Abidin. AuModel-Model Pengembangan Kajian Psikologi dalam Diskursus Pemikiran Muslim KontemporerAy. Jurnal Religi. Vol. Vi No. 1 2012, 14. Zainal Abidin. AuModel-Model Pengembangan Kajian Psikologi dalam Diskursus Pemikiran Muslim KontemporerAy. Jurnal Religi Vol. Vi No. 1 2012, h. 27 Sebenarnya bukan hanya Islam yang mencoba mempertemukan antara Islam sebagai agama dan Psikologi sebagai sains. Dalam agama yang lain juga ditemukan Psikologi Hindu. Psikologi Buda. Psikologi Kristen. Psikologi Yahudi. Misal, sebagai agama yang dominan di Barat. Psikolog Kristen telah telah menerbitkan Jurnal Psychology and Christianity (Subandi. Reposisi Psikologi Islam. Makalah disampaikan pada Temu Ilmiah Nasional I Psikologi Islam. Yogyakarta 24 September, 2. Selain gerakan konsepsi integrasi sains dan agama dalam kalangan Islam. Dalam alam intelektual Barat, wacana pertemuan antara agama dan sains juga menjadi subjek diskusi yang panjang. Salahsatu intelektual Barat yang membahas perjumpaan agama dan sains adalah Ian G. Barbour dalam bukunya When Science Meets Religion: Enemies. Stranger, or Partners?. Menurut Barbour, pada abad ke 17 antara agama (Kriste. dan sains adalah perjumpaan yang bersahabat. Para penemu revolusi sains pada abad ini adalah Kristen yang taat dan melihat ilmu yang mereka hasilkan sebagai anugerah Tuhan. Pada abad ke-18, sedikit bergeser. Para ilmuan masih tetap percaya pada Tuhan, akan tetapi Tuhan dianggap tidak terlibat secara aktif dalam proses kehidupan umat manusia, salahsatunya adalah sains. Pada abad ke19, pergeseran semakin jauh. Ilmuan semakin tidak bersahabat dan cenderung antagonis terhadap agama. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 01 Juni 2024 | 14 Tentu saja, diskursus antara Islam di satu sisi dan pengetahuan . alam hal ini artinya bukan hanya psikologi, akan tetapi ada ekonomi Islam, sosiologi Islam, dl. di sisi yang lain mendapat respon, makna, dan metode yang beragam mengenai perumusannya dari satu tokoh ke tokoh lainnya. Menurut Bahrudin, tanggapan terhadap islamisasi pengetahuan tersebut, setidaknya bisa dibedakan ke dalam lima golongan. 12 Pertama, golongan instrumentalistik, yaitu golongan yang melihat bahwa sains atau pengetahuan itu hanya alat . , tidak peduli sifat dari alat itu sendiri, selama ia bermanfaat bagi pemakainya, maka hal itu adalah hal yang bisa diterima. 13 Kedua, golongan justifikasi, dimana ilmu pengetahuan diberikan pembenarannya dalam Alquran. Metodenya adalah dengan mengukur kebenaran-kebenaran Alquran dengan fakta-fakta objektif sains. Tokoh-tokoh pentingnya adalah Maurice Bucaille. Afzalur Rahman. Harun Yahya, dll. Meski kemudian model justifikasi ini dikritik oleh Ziaududin Sardar, sebab ini hanya terkesan AuayatisasiAy dan menurut Sardar. Alquran tidak perlu dicari kebenarannya melalui kerangka sains modern. 14Sardar juga menyatakan bahwa mestinya bukan nilainilai Alquran yang perlu disesuaikan dengan keilmuan modern, akan tetapi sebaliknya mestinya ilmu pengetahuan modern lah yang mesti direlevansikan dengan Alquran. Ketiga, adalah bentuk sakralisasi yang digaungkan oleh Seyyed Hossen Nasr. Nasr mengkritik sains di tangan barat yang menjadi kehilangan nilai sakral atau Akan tetapi. Nasr memandang kesakralan pengetahuan yang bersandar pada agama ini tidak spesifik pada agama Islam. Dalam pandangan Nasr, dari segi level esoteris, semua agama menjadi sama nilai kesuciannya. Keempat, model integrasi ilmu, yang digagas IsmaAoil Al-Faruqi, dimana sains barat diintegrasikan dengan ilmu-ilmu Islam. Kelima, islamisasi pengetahuan yang digagas Naquib Al-Attas, dimana menurutnya ilmu pengetahuan modern tidaklah netral karena ia berangkat dari praduga alam pikir barat yang sekuler, sehingga mesti ada perombakal total pengetahuan dan membangun pondasi pengetahuan berdasarkan paradigm Islam. Dari kelima pandangan di atas terkait islamisasi pengetahuan, bisa dipetakan menjadi dua pandangan. Pertama, pandangan yang menolak islamisasi pengetahuan. Hal ini, diwakili oleh golongan instrumentalistik. Kedua, pandangan yang menerima. Hal ini, diwakili oleh empat golongan setelahnya. Dari keempat golongan yang menerima islamisasi tersebut, bisa dibedakan lagi ke dalam empat model. Secara ringkasnya, pertama, golongan yang melihat AuislamisasiAy sebagai AuayatisasiAy ini diwakili Maurice Buchaile. Harun Yahya, dll. Kedua, golongan yang melihat AuislamisasiAy sebagai AusakralisasiAy tokohnya Nasr. Ketiga. AuislamisasiAy sebagai AuintegrasiAy tokohnya Ismail AlFaruqi. Keempat AuislamisasiAy sebagai AufalsifikasiAy, hal ini dipelopori oleh Naquib Al-Attas. Nampaknya, di Indonesia dari kelima paradigma islamisasi pengetahuan tersebut yang paling berpengaruh di Indonesia adalah paradigma yang digagas IsmaiAoil R Al-Faruqi dan Naquib Al-Attas, yaitu paradigma integrasi dan falsifikasi. Pada abad ke-20, mulai kembali ada jalinan dialog antara agama dan sains. (Pedoman Integrasi Ilmu di PTKI. Dirjen Pendis. Kemenag RI, 2. Bahrudin. AuIslamisasi PengetahuanAy. Jurnal Fikrah Universitas Ibnu Khaldun Vol. 6 No. Bahrudin. AuIslamisasi PengetahuanAy, 69. Bahrudin. AuIslamisasi PengetahuanAy, 69. Ziadudin Sardar. Science. Technology and Development in the Muslim World, (London: Humanities Press. New Jersey, 1. Bahrudin. AuIslamisasi PengetahuanAy, 70-71. Di Indonesia, wacana inetgrasi ilmu dan sains diekspresikan dengan berbagai istilah. Hal itu bisa dilihat dari konsep dan istilah yang ditawarkan di berbagai Universitas Islam Negeri (UIN) di Indonesia. UIN Jakarta menggunakan konsep AuTerbuka dan DialogisAy melalui pengembangan metodologi yang interdisipliner dan multidisipliner UIN Jakarta berharap ada interaksi dan dialog antara ilmu pengetahuan untuk menghasilkan kontsruk pengetahuan yang baru. UIN Yogyakarta misalnya Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 01 Juni 2024 | 15 Berangkat dari latar belakang di atas, artikel ini mencoba mengurai soal bagaimana keruwetan, kelabilan dan perdebatan islamisasi pengetahuan atau integrasi ilmu dan pengetahuan dalam konteks materi pengembangan integrasi ilmu psikologi dan Islam di Indonesia. METODE Berdasarkan data yang dikumpulkan, jenis penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian pustaka . ibrary researc. atau disebut juga dengan penelitian kualitatif non 18 Disebut non-interaktif karena dalam hal ini peneliti tidak berinteraksi secara langsung dengan penulis dari buku atau jurnal yang bersangkutan. Penelitian non interaktif juga dikenal dengan penelitian analitis, yakni penelitian yang mengkaji berdasarkan analisis dokumen. Peneliti menghimpun, mengidentifikasi, menganalisis, mengadakan sintesis data, kemudian memberikan interpretasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Dialektika Dan Dinamika Psikologi Islam Di Indonesia Sebagaimana respon atas munculnya gerakan islamisasi pengetahuan di kancah intelektual dunia, munculnya psikologi Islam sebagai bagian dari spirit islamisasi pengetahuan di Indonesia juga melahirkan beragam pendapat. Sarlito Sarwono misalnya, berpendapat bahwa psikologi adalah suatu disiplin ilmu. Sebagai disiplin ilmu, menurut Sarwono ia bersifat netral dan universal, tidak memandang ras dan agama. Sarlito memberikan contoh, misalnya ketika behaviorisme mencetukan teori operant conditioning . timulus dan respo. , hal tersebut bisa diberlakukan dalam dunia Islam. Adzan misalnya bisa dilihat sebagai stimulus yang menggerakan umat muslim untuk melaksanakan shalat, dan berangkatnya seorang muslim ke masjid karena mendengar adzan adalah bentuk respon. 20 Dalam hal ini. Sarlito bisa dikatakan masuk ke dalam tipe golongan instrumentalistik. Dimana Sarlito melihat ilmu adalah suatu alat, sesuatu yang netral, dan universal, tidak melihat suku, bangsa, ataupun agama. menggunakan konsep Aujaring laba-labaAy . pider web of scienc. , dimana ilmu umum dan ilmu agama saling menyapa untuk mengisi dan membangun peradaban umat manusia, tokoh intelektualnya Amin Abdullah. UIN Malang dengan tokoh intelektualnya Imam Suprayogo, menggunakan konsep AuPohon IlmuAy dengan ilmu agama sebagai akarnya. UIN Bandung menggunakan istilah AuRoda IlmuAy dimana wahyu memandu UIN Makassar menggunakan istilah AuRumah PeradabanAy dimana pondasinya adalah Alquran dan Hadits, pilarnya adalah agama dan kearifan loka, lantai dan halamannya budi pekerti, dindingnya iptek yang aplikatif, jendelanya mengisyaratkan keterbukaan, atapnya persaudaraan, egalitarianism, dll. UIN Surabaya menggunakan istilah AuMenara Kembar Tersambung JembatanAy dimana ilmu agama dan umum diibaratkan menara kembar dan akan selalu ada interaksi antar keduanya . UIN Semarang menggunakan istilah AuIntan Berlian IlmuAy dimana semua ilmu adalah satu kesatuan yang indah. Akan tetapi, dalam hal ini konsep Integrasi Ilmu dan Sains yang digagas oleh Universitas di Kemenag menolak bertujuan sebagai upaya AuIslamisasi PengetahuanAy seperti yang digagas Al-Faruqi, dkk sebab dianggap sebagai label semata, sedangkan secara epistemologis masih menggunakan pola epistemologis Barat (Pedoman Integrasi Ilmu di PTKI. Dirjen Pendis. Kemenag RI, 2. 2-4 dan 14-15 Nana Syaodih Sukmadinata. Metode Penelitian. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007. Nana Syaodih Sukmadinata. Metode Penelitian. Sarlito Wirawan Sarwono. Psikologi dalam Praktek. Jakarta: Restu Agung, 2003. Pandangan Sarlito yang melihat bahwa ilmu bersifat netral dan menolak pengembangan ilmu psikologi yang berangkat dari pandangan Islam, menarik untuk penulis komentari secara kritis. Tahun 2012. Sarlito menerbitkan buku berjudul AuTerorisme di IndonesiaAy. Buku tersebut merupakan hasil penelitian Sarlito dan timnya pada pelaku bom atas nama agama di Indonesia atau yang biasa disebut sebagai AuterorisAy (Amrozi. Imam Samudra, dk. Sarlito dalam kata pengantar buku tersebut menjelaskan bahwa ada pandangan yang salah atas analisis psikolog di Indonesia pada umumnya yang menganalisis bahwa pelaku bom teror adalah orang sakit jiwa. Psikolog tersebut salah karena menggunakan analisis dari Sigmund Freud, bahwa para teroris tersebut gila karena tidak terpenuhi kebutuhan biologisnya . , sebab dalam Islam terlalu banyak larangan bagi pemeluknya. Setelah melakukan penelitian. Sarlito mengungkapkan Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 01 Juni 2024 | 16 Kendati demikian, para pendukung gerakan psikologi Islam di Indonesia bisa dikatakan cukup banyak. Psikologi Islam dipelajari dan merambah dari kampus ke kampus, mulai dari IAIN . ini UIN) Jakarta. IAIN Yogyakarta. Bandung, sampai pada kampus semisal Universitas Islam Indonesia sampai beberapa Universitas Muhammadiyah di Indonesia. Sementara itu di Universitas Gadjah Mada juga terdapat penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa dan staf-stafnya yang berminat di bidang ini dari tahun 90-an. Psikologi Islam Vs Psikologi Islami: Kelabilan Status Ontologis Hal yang menjadi kegelisahan penulis adalah meskipun konsep pertemuan antara Ilmu Psikologi dan Islam telah dipelajari selama hampir tiga puluh tahun . di Indonesia, secara ontologis nama dan rumusan istilah dari integrasi Psikologi dan Islam itu sendiri tidak pernah mendapatkan pemahaman yang tegas. Beberapa ilmuan psikolog yang setuju dengan gerakan islamisasi Psikologi ini terpecah ke dalam beberapa kutub. Misal. Hanna Djumhana Bastaman. Jamaludin Ancok. Fuad Nashori. Achmad Mubarok, lebih merasa pas dengan nama AuPsikologi IslamiAy. 22 Di pihak yang lain. Abdul Mujib lebih setuju dengan nama AuPsikologi IslamAy. Kelabilan mengenai penamaan Psikologi dan Islam tersebut menggambarkan ada ketidakmatangan mengenai arah dan konsep inetgralistik antara Psikologi dan Islam itu sendiri. Kelabilan mengenai aspek ontologis integralistik Psikologi dan Islam, lebih lanjut lagi bisa dilihat dari perubahan istilah dari API sebagai singkatan dari Asosiasi Psikologi Islami pada tahun 2002/2003 yang resmi berada di bawah naungan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), pada tahun 2016 API berubah artinya menjadi Asosiasi Psikologi Islam (API) tanpa . di belakangnya. 23 Selain perdebatan antara Psikologi AuIslamAy dan AuIslamiAy, beberapa pihak juga pernah menawarkan istilah lain, semisal Psikologi Motivatif. Psikologi Pembebasan. Psikologi Perilaku. Psikologi Sufi, dll. Setiap pemilihan nama dalam integrasi Psikologi dan Islam, masing-masing memiliki basis argumentasinya sendiri yang belum nampak titik temunya. Misalnya alasan pemilihan nama AuPsikologi IslamiAy oleh Bastaman adalah karena dalam Psikologi Barat juga masih memiliki nilai dan pandangan positif yang bisa diambil, sehingga kata bahwa ternyata setelah dilakukan penelitian. Amrozi, dkk adalah orang-orang normal, bahkan cenderung bisa dikatakan sebagai orang baik. Hanya mereka melakukan hal seperti itu karena keyakinan yang berlebihan terhadap ideologi (Isla. sebagai yang paling benar, sehingga melihat di luar Islam adalah salah dan boleh ditumpas. Dari kasus mengenai kurangtepatnya analisis psikologi Barat dalam melihat kejiwaan perilaku teroris, sebetulnya menampakkan bahwa ilmu itu sendiri tidak netral dan universal. Secara aksiologis barangkali bisa Nampak universal dan netral, sebagaimana yang dicontohkan oleh Sarlito terkait bagaimana konsep stimulus-respon bisa diterapkan dalam melihat perilaku umat muslim saat mendengar panggilan adzan. Akan tetapi, secara ontologis dan epistemologis, tidaklah netral. Ia akan selalu dipengaruhi oleh nilai sosial, budaya, dan agama yang melingkupinya. Kasus teroris yang dinilai sebagai ekspresi kegilaan sebab kebutuhan biologisnya tidak tersalurkan lahir karena psikoanalisis memang secara ontologis sudah negatif melihat manusia. Dari kasus mengenai kurangtepatnya analisis psikologi Barat dalam melihat kejiwaan perilaku teroris, sebetulnya menampakkan bahwa ilmu itu sendiri tidak netral dan Secara aksiologis barangkali bisa nampak universal dan netral, sebagaimana yang dicontohkan oleh Sarlito terkait bagaimana konsep stimulus-respon bisa diterapkan dalam melihat perilaku umat muslim saat mendengar panggilan adzan. Akan tetapi, secara ontologis dan epistemologis, tidaklah netral. Ia akan selalu dipengaruhi oleh nilai sosial, budaya, dan agama yang melingkupinya. Kasus teroris yang dinilai sebagai ekspresi kegilaan sebab kebutuhan biologisnya tidak tersalurkan lahir karena psikoanalisis memang secara ontologis sudah negatif melihat manusia. Dimana manusia hanyalah makhluk biologis yang ukuran kenormalannya dinilai dari bagaimana manusia mampu memenuhi kebutuhan perut dan bawah perutnya. (Lihat: Sarlito Wirawan Sarwono. Terorisme di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2012. Maghfur Ahmad. Religia: Agama dan Psikoanalisa Freud, (STAIN Pekalongan: Publisher Grup, 2. Hanna Djumhana Bastaman. Integrasi Psikologi dengan Islam: Menuju Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005. Cet-Vi. website w. api-himpsi. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 01 Juni 2024 | 17 AuIslamiAy di sini bisa diartikan tidak hanya merujuk pada Islam secara total, akan tetapi bisa saja merujuk pada Psikologi Barat, akan tetapi diseleksi dengan prinsip yang ada dalam Islam. Argumentasi dari Mubarok, nama Psikologi Islami dianggap lebih aman, karena Psikologi Islam sebagai disiplin ilmu belumlah tuntas dan belum bisa menjawab persoalan psikologi umat manusia, sehingga masih banyak menggunakan analisa psikologi Barat. 24 Adapun, yang memilih nama AuPsikologi IslamAy didasarkan pada anggapan bahwa dengan nama AuIslamAy tanpa AuiAy. Psikologi Islam menjadi lebih otentik dan menjadikan sumber-sumber ajaran Islam (Alquran dan Hadit. sebagai rujukan Terakhir, yang mengajukan alternatif dengan nama AuPsikologi MotivatifAy. AuPsikologi PembebasanAy, dan AuPsikologi PerilakuAy adalah agar lebih netral dan bisa diterima di berbagai golongan, sehingga tidak terkesan ekslusif hanya pada golongan keagamaan tertentu. Selain ketidakjelasan mengenai konsep integrasi Psikologi dan Islam itu sendiri, hal yang membuat kegelisahan penulis ada perbedaan sudut pandang juga mengenai titik berangkat dalam integrasi Psikologi dan Islam itu sendiri. Hanna Djumhana Bastaman lebih melihat Psikologi Islam sebagai corak dari ilmu Psikologi25 artinya titik berangkatnya dari Ilmu Psikologi dan Islam sebagai pendekatan. Pandangan Bastaman tersebut sesuai dengan pandangan Malik Badri, pionir pertama Islamisasi Psikologi di kancah International. 26 Jamaludin Ancok juga senada memahami Psikologi Islam sebagai aliran baru dalam Psikologi27 artinya ia lanjutan dari mazhab Psikologi terdahulu (Psikoanalisis. Behaviorisme. Humanism. Adapun Abdul Mujib melihat Psikologi Islam sebagai kajian Islam yang dilihat dari pendekatan Psikologis, artinya titik berangkatnya dari Islamic Studies. Hal-hal tersebut tentu saja menambah kegelisahan penulis mengenai apa sejatinya Psikologi Islam itu dimana posisi Psikologi Islam dalam Aulangit ilmuAy 29. Apakah Psikologi Islam berada di bawah langit ilmu Psikologi atau di bawah langit studi Islam? Pendapat Subandi, selaku ketua Asosiasi Psikologi Islam (API) menambah ketidakjelasan mengenai posisi dan status ontologis integralistitik Psikologi dan Islam itu Subandi berpendapat bahwa Psikologi Islam adalah salah satu bentuk dari Psychologi Indegenous atau psikologi yang berwawasan religious. 30 Ini artinya Subandi secara tidak langsung menempatkan Psikologi Islam sebagai psikologi umum hanya memiliki nilai religiusitas sebagai pembeda. Jika ditelisik lebih dalam lagi, masuknya Psikologi Islam menjadi bagian dari HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesi. menambah daftar kerancuan. Jika Psikologi Islam adalah suatu mazhab atau aliran dalam Psikologi, mestinya ia tidak perlu masuk HIMPSI, sebab mazhab atau aliran lain semisal Psikoanalisis. Behaviorisme, dan Humanisme juga tidak berada di bawah HIMPSI. Apalagi jika memandang Psikologi Islam masuk sebagai bagian dari kajian Islam, lebih tidak nyambung lagi. Masuknya Psikologi Islam ke dalam HIMPSI malah seakan menunjukkan Psikologi Islam setara dengan Psikologi Pendidikan. Psikologi Klinis. Psikologi Organisasi yang berada di Achmad Mubarok. Jiwa Dalam Alquran: Solusi Krisis Kerohanian Manusia Modern, (Jakarta: Paramadina, 1. , (Achmad Mubarok. Psikologi Islam: Kearifan dan Kecerdasan Hidup, (Jakarta: Wahana Aksara Prima, 2. Hanna Djumhana Bastaman. Integrasi Psikologi dengan Islam: Menuju Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. Cet-Vi. Hal tersebut bisa dilihat dari definisi Psikologi Islam yang terpampang pada website AuInternational Islamic PsychologyAy yang foundernya adalah Malik Badri. Jamaludin Ancok. Aktualisasi Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011. Cet-II. Abdul Mujib. Teori Kepribadian: Perspektif Psikologi Islam. Jakarta: Rajawali Press, 2017. Cet-II. Meminjam istilah Fuad Jabali. Subandi. Reposisi Psikologi Islam, disampaikan pada Temu Ilmiah Nasional I Psikologi Islam. Yogyakarta, 24 September, 2005. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 01 Juni 2024 | 18 bawah naungan HIMPSI, ini artinya Psikologi Islam tidak jauh bedanya dengan Psikologi terapan . pplied a scienc. , bukan suatu disiplin ilmu mandiri. Penelitian Kusuma Dewi . dalam artikel yang dipublikasikan dalam Jurnal Psikologi Integratif31 yang berjudul Dialektika Integrasi Antara Psikologi dan Islam, mempertajam kegelisahan penulis. Dewi, menyatakan bahwa integrasi antara Psikologi dengan Islam mengarah pada kegagalan, sebab dalam pandangan Dewi baik kubu AuPsikologi IslamAy maupun AuPsikologi IslamiAy keduanya belum mencerminkan interdisiplin Sehingga ia mengusulkan untuk melakukan falsifikasi pada temuan teoritis pada psikologi Islam dan psikologi Islami itu sendiri. KESIMPULAN Status keilmuan integrasi Psikologi dengan Islam . di Indonesia dari awal kemunculannya tahun 90-an sampai saat ini tidak pernah benar-benar mendapat titik temu atau makna yang tunggal. Perdebatan yang paling kuat mengkristal pada dua kelompok, yaitu: AuPsikologi IslamAy dan AuPsikologi IslamiAy. Kelompok AuPsikologi IslamiAy berpendapat bahwa titik berangkat integrasi Psikologi dan Islam ada pada Ilmu Psikologi lalu dianalisis dengan kajian keislaman. Adapun kelompok AuPsikologi IslamAy sebaliknya, titik berangkatnya pada kajian Islam (Alquran. Hadits, dl. lalu didekati dengan ilmu Psikologi. Selain itu, posisi keilmuan dan rumusan metode . dari Psikologi Islam itu sendiri di tengah-tengah bangunan disiplin ilmu yang lain menjadi tidak nampak Belum lagi perdebatan mengenai sejauhmana sebenarnya dampak atau kontribusi . dari Psikologi Islam itu sendiri secara praktis dan teoretis. DAFTAR PUSTAKA