Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 PELATIHAN TARI DI DESA MANYAREJO SEBAGAI SALAH SATU LANGKAH MENUJU DESA WISATA A DANCE TRAINING IN MANYAREJO VILLAGE AS ONE STEP TOWARDS A TOURISM VILLAGE Hartanto Institut Seni Indonesia Surakarta antokhart3@gmail. ABSTRAK Artikel ini merupakan hasil Pengabdian Masyarakat yang berjudul AuPelatihan Tari di Desa Manyarejo sebagai Satu Langkah Menuju Desa WisataAy. Sasaran kegiatan tersebut adalah masyarakat Krajan Grogolan. Desa Manyarejo. Output dari kegiatan tersebut adalah mengarahkan dan membuat peserta untuk dapat mengembangkan kreativitas dalam penciptaan tarian daerah. Hasil dari kreativitas ini adalah terciptanya tari Rempeg Balung Buto. Kegiatan pelatihan dilaksanakan dengan menggunakan metode Dialogis, metode Ceramah, metode Demonstrasi, dan metode Drill. Metode ini dikembangkan dan diintegrasikan dengan perkembangan mental para peserta. Pelatihan ini diharapkan dapat menjadi kegiatan rutin desa, khususnya tari. Para peserta mampu mendemonstrasikan karya tari yang diciptakan oleh kreativitas yang telah mereka pelajari, menguasai materi dengan menghafal dan benar. Output dari karya tari AuRempeg Balung ButoAy telah ditampilkan pada acara peringatan Hari Lingkungan Hidup di Pasar Budaya Krajan 2022. Gebyar Krajan Kengker 2022 dan acara Karnaval Penyerahan Fosil di Museum Manusia Purba Bukuran 2022. Pelatihan ini memberikan pemahaman tentang kreativitas dasar, melakukan karya kreatif, dan mendokumentasikan audio visual sehingga dapat digunakan sebagai referensi dalam pembelajaran tari bagi generasi penerus di masyarakat. Kata kunci: Pelatihan, kreatifitas, tari, social. ABSTRACT This article, which resulted from Community Service, was entitled AuDance Training in Manyarejo Village as One Step towards a Tourism Village. Ay The target of the activity is the people of Krajan Grogolan. Manyarejo Village, focusing on directing and helping participants develop creativity in creating folk dances. The result of this creativity is the creation of the Rempeg Balung Buto dance. The training activities are carried out using the Dialogical method, the Lecture method, the Demonstration method, and the Drill method. These methods are developed and integrated with the mental development of the participants. This training is expected to become a routine village activity, especially dance. The participants demonstrated the dance work created by the creativity they learned, mastering the movements correctly. The output of the dance work AuRempeg Balung ButoAy was performed at the Environmental Day commemoration event at the 2022 Krajan Cultural Market. Gebyar Krajan Kengker 2022, and the Fossil Handing Carnival event at the Bukuran Ancient Human Museum 2022. This training provides an understanding of essential cultural creativity, doing creative works, and documenting audio-visual to be used as a reference in dance learning for the next generation in society. Keywords: training, creativity, dance, society. Volume 15 No. 1 Juni 2024 Hartanto: Pelatihan Tari di Desa Manyarejo sebagai Salah Satu Langkah Menuju Desa Wisata PENDAHULUAN Desa Manyarejo terletak di Kecamatan Plupuh. Kabupaten Sragen. Desa Manyarejo dipimpin seorang Kepala Desa yang bernama Sumadi. Kondisi geografis wilayah Desa Manyarejo didominasi oleh kontur alam yang berbukit dan lembah. Desa ini menjadi salah satu desa dengan penemuan fosil manusia dan hewan terbanyak di daerah Sangiran. Hal ini dibuktikan dengan penemuan terbaru manusia purba jenis arkalik, yaitu spesies manusia purba tertua yang ditemukan beberapa tahun lalu. Museum Manyarejo, adalah nama dari museum yang berada di Dukuh Krajan Manyarejo. Masyarakat Desa Manyarejo masih menjunjung nilai-nilai kearifan lokal yang terwujud dalam bentuk gotong royong, keramahan dan tradisi, yang menjadi suatu potensi dan kekayaan yang dimiliki. Masyarakat Manyarejo telah memiliki potensi yang berasal dari kesenian yang membudaya seperti Klothekan atau Gejog Lesung. Klothekan saat ini sudah jarang di mainkan, dan hanya dimainkan saat Dekah Deso. Desa Manyarejo tepatnya. Dusun Grogolan juga memiliki kesenian musik yang diberi nama Gambus. Namun saat listrik dan radio mulai masuk ke desa ditahun 80-an ini menjadikan awal mula ditinggalkannya Gambus. Istilah AufosilAy baru dikenal oleh masyarakat Manyarejo sekitar tahun 1930-an, setelah daerah tersebut kedatangan para peneliti bangsa asing yang secara intensif mulai melakukan penelitian. Sebelum tahun tersebut, masyarakat menyebut fosil-fosil itu dengan istilah yang khas, yaitu Balung Buto. Balung adalah Bahasa Jawa yang berarti tulang dan Buto adalah raksasa. Nama Balung Buto tidak hanya dikenal sebagai tulang raksasa, tetapi tercermin pula dalam bentuk mitos. Penduduk di kawasan Situs Sangiran, khususnya para orang tua yang berusia di atas 60 tahun masih mengenal secara jelas mitos asal usul Balung Buto. Pada tahun 2020. Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan menyelenggarakan kegiatan identifikasi potensi budaya di Desa Manyarejo yang difasilitatori oleh Lembaga Eksotika Desa. Hasil dari pendampingan yang di lakukan telah meningkatkan kesadaran, serta semangat warga di desa, untuk menghidupkan kembali warisan budaya yang selama ini mati suri dan mulai dilupakan. Pasar Budaya yang ditawarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan inilah yang menjadi langkah awal dalam mengembangkan potensi Desa Manyarejo untuk menjadi Desa Wisata. Sementara itu. ISI Surakarta adalah sebuah institusi pendidikan tinggi yang berada dalam ranah kesenian, sewajarnya mempunyai peranan penting dalam geliat kehidupan kesenian yang berada di masyarakat. Terlebih disebutkan dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang memuat tiga komponen utama yang masingmasing unsurnya saling mendukung dan melengkapi yaitu Pendidikan. Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Generasi muda sebagai bagian dari masyarakat adalah suatu umur yang memiliki potensi luar biasa untuk Akan tetapi jika tidak dilakukan pembinaan, yang terjadi adalah sebaliknya. Potensinya tak tergali, semangatnya melemah atau yang lebih buruk lagi, ia menggunakan potensinya untuk hal-hal yang tidak baik. Kondisi yang demikian sangat perlu adanya pendampingan dari pihak profesional agar bakat dan talenta yang mereka miliki dapat berkembang lagi. Penggalian, penggalangan kreativitas merupakan langkah nyata untuk lebih memberdayakan serta mengembangkan generasi muda dalam menyongsong masa depan bangsa ke depan. Tari menjadi sarana komunikasi danbagian ekspresi diri. Lewat tari mereka juga dapat menggunakannya sebagai ajang komunitas bagi Kelompok Pemuda Sebaya (KPS) yang akhirnya dapat mengokohkan kebersamaan mereka untuk menuju pada hal yang lebih positif. Hal ini dibuktikan dengan adanya kegiatan aktif yang berlangsung dikalangan generasi mudanya terutama di masyarakat. Pada awal bulan Februari 2022, para tokoh dan Perangkat Desa Manyarejo didampingi BPSMP Sangiran, menjalin kerjasama dengan Dekan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Surakarta. Tujuan untuk peningkatan, pengembangan, dan menghidupkan kembali potensi seni budaya yang ada di Desa Manyarejo, dengan memberikan pembinaan kesenian yaitu Seni Klothekan atau Lesung dan musik Volume 15 No. 1 Juni 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Gambus. Masyarakat Desa Manyarejo menginginkan sebuah garapan tari untuk mengisi musik yang sudah Salah satu pelatihan tari ini, dengan diciptakannya sebuah garapan tari rakyat yang bertemakan Balung Buto. Harapan menjadikan garapan tari ini sebagai ikon Desa Manyarejo menuju Desa Wisata. Dengan latar belakang tersebut, maka diperlukan sebuah kegiatan terpadu berupa pelatihan dan peningkatan apresiasi seni tari di Desa Manyarejo. Kegiatan tersebut, sebagai sarana untuk mengembangkan kreativitas yang merupakan kegiatan penting untuk basis pengembangan diri mereka. Untuk itu, sebagai dosen seni tari terketuk hati untuk memberi sebuah apresiasi seni tari dengan melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Pada kegiatan ini, mencoba menggali dengan pelatihan tari bagi masyarakat untuk memberikan angin segar dan semangat baru. Berdasarkan pengamatan dan pemaparan diatas, maka terdapat beberapa permasalahan yang ada di Desa Manyarejo. Pertama bagaimanakah proses penggarapan dan pelatihan tari di desa Manyarejo dalam menuju Desa Wisata. Kedua, apakah pemuda sebagai generasi penerus dimasyarakat Desa Manyarejo bersedia belajar menari? Terkait dengan permasalahan tersebut maka dipandang perlu upaya-upaya pendekatan secara signifikan, yang dalam hal ini berbentuk pelatihan dan Apresiasi. Oleh karena itu perlunya diusulkan kegiatan Pelatihan Tari, dalam rangka menunjang daya kreatif masyarakat demi menumbuhkembangkan bakat seni tarinya. Berpijak dari beberapa permasalahan di atas, dalam hal ini sebagai dosen Jurusan Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, merasa terpanggil untuk menciptakan dan memberikan pelatihan tari. Kegiatan ini merupakan penjabaran dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu butir ke-tiga tentang Pengabdian Kepada Masyarakat yang menjadi tugas sekaligus kewajiban bagi setiap dosen. Diharapkan program kerja yang diusulkan dapat berjalan berkesinambungan, sehingga mampu meningkatkan keberadaan seni tari yang hidup di lingkungan masyarakat tersebut. Disamping itu, sebagai sarana bagi dosen untuk dapat mempublikasikan, yang akhirnya mampu mempengaruhi lebih signifikan, dan akhirnya masyarakat tertarik untuk melanjutkan kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Berdasarkan kenyataan tersebut. ISI Surakarta sebagai lembaga pendidikan tinggi mempunyai falsafah sebagai Aumenara airAy artinya dapat memberi pengairan yang mampu menghidupi terhadap lingkungan harus bisa memberi solusi nyata. Dalam rangka peningkatan dan pengembangan tari, selaku dosen tari berupaya untuk menarik perhatian dan menanamkan cinta pada seni tari. Tari menjadi sarana komunikasi dan bagian ekspresi diri. Untuk itulah lewat tari . radisi khususny. , mereka juga dapat menggunakannya sebagai ajang komunitas bagi kelompok pemuda sebaya yang akhirnya dapat mengokohkan kebersamaan mereka menuju pada hal yang positif. Pelatihan tari yang berlangsung selama empat bulan ini mudah-mudahan dapat berlanjut dan berkembang serta berkesinambungan antara dua lembaga, yaitu Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan masyarakat Desa Manyarejo. Lewat kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini, rencana dapat terlaksana dengan baik dan lancar sesuai dengan tujuan. Pemilihan lokasi di Desa Manyarejo ini sebagai ajang apresiasi dan pelatihan tari bagi pelaksana Pengabdian Kepada Masyarakat sangatlah tepat, karena masyarakat memiliki potensi seni yang cukup memadahi dan sangat antusias serta merespon kegiatan ini. Selain untuk kegiatan apresiasi juga ditindaklanjuti dengan adanya pelatihan, agar masyarakat lebih mengenal tentang Institut Seni Indonesia (ISI) sebagai salah satu perguruan tinggi seni yang patut untuk dibanggakan dan menjadi panutan di lapisan masyarakat. Volume 15 No. 1 Juni 2024 Hartanto: Pelatihan Tari di Desa Manyarejo sebagai Salah Satu Langkah Menuju Desa Wisata METODE Dari paparan di atas, maka solusi yang ditawarkan adalah pelatihan dari hasil penggarapan tari kelompok yang berbentuk kerakyatan dan bertemakan Balung Buto. Pilihan seni tari sebagai media edukasi, pada dasarnya untuk mencapai harmoni. Kebersamaan dalam kelompok seni memunculkan tolerasi, saling ngemong . dan menjaga harmoni, serta penguatan nilai-nilai lainnya. Edukasi seni tari bagi masyarakat merupakan ice-break. mengatasi kejenuhan, mengurangi agresivitas dan menumbuhkan rasa kebersamaan, menghargai perbedaan, serta mengembangkan sikap percaya diri dan memberi bekal kreatif bagi masyarakat Desa Manyarejo. Program pelatihan tari ini tidak hanya diberikan kepada para pemuda, akan tetapi juga diajarkan kepada anak-anak sebagai generasi penerus. Hal ini, agar kesinambungan pembelajaran/edukasi seni tetap terjaga berkelanjutanya. Program ini merupakan usaha nyata dalam mewujudkan pembelajaran seni tari di Desa Manyarejo. Program ini juga sangat membantu menguatkan fungsi seni sebagai pilihan edukasi yang sangat bermanfaat dalam pendewasaan diri. Bagi kami sebagai pengajar agar dapat memberikan edukasi seni tari kepada masyarakat, sebagai upaya dalam mengaplikasikan ilmu dan pengetahuan, serta keterampilan bidang seni untuk mewujudkan masyarakat madani dan menanamkan nilai luhur, dalam bidang tari. Bagi masyarakat, apabila kegiatan ini dapat dilaksanakan, maka atmosfir kehidupan kesenian dimasyarakat akan tumbuh dan Kegiatan pelatihan ini juga perlu untuk di dokumentasi, sehingga menjadi bahan yang menarik sebagai sumber inspirasi dalam garapan tari bentuk Kerakyatan selanjutnya. Akhir dari program pelatihan tari di Desa Manyarejo adalah sebuah hasil garapan tari kelompok bentuk kerakyatan yaitu tari Rempeg Balung Buto yang terinspirasi dari fosil-fosil yang berada di desa Manyarejo Sangiran. Garapan tari ini telah dipentaskan pada peringatan Hari lingkungan Hidup di Pasar Budaya Krajan . Agustus 2. Gebyar Krajan Kengker . November 2. , dan pada acara upacara kirab penyerahan penemuan fosil di Manyarejo ke Museum Manusia Purba Bukuran . November 2. Dampak dari pementasan agar dapat menumbuhkan empati, apresiasi, dan partisipasi seluruh masyarakat. Hal ini akan berdampak pada rasa handarbeni kepada keseniannya sendiri, membangun identitas lokal bagi generasi penerus yang semakin Tujuan yang dicapai dalam kegiatan pelatihan tari, yang dilaksanakan lewat jalur Pengabdian Kepada Masyarakat ini, melalui observasi telah dilakukan. Tujuan utama diadakan pelatihan tari di Desa Manyarejo Mengenalkan secara langsung ISI Surakarta kepada masyarakat Desa Manyarejo, dengan harapan menjadi daya tarik untuk melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Mewujudkan harapan masyarakat Desa Manyarejo untuk memiliki sebuah Garapan tari rakyat, sebagai salah satu langkah menuju Desa Wisata. Sebagai perwujudan salah satu Tri Darma Perguruan Tinggi, yaitu dalam bidang Pengabdian Kepada Masyarakat. Menumbuhkan minat menari dan melestarikan seni budaya khususnya seni tari. Usaha tersebut dilakukan dengan cara memberikan apresiasi seni dalam arti pengalaman berupa pendidikan keterampilan tari. Manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat antara lain: Bagi Lembaga ISI Surakarta, terutama Jurusan tari dapat tersampaikan visi dan misi kepada masyarakat Bagi para pelaksana PKM dosen menambah pengalaman dan wawasan yang luas di lingkungan Volume 15 No. 1 Juni 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Bagi masyarakat memperoleh pengalaman dan mendapatkan keterampilan dalam bidang tari lengkap dengan tata rias dan busana. Sedangkan untuk pendekatan yang dilakukan dalam pelatihan tari ini adalah pertama-tama melakukan pendekatan terhadap kegiatan yang ada pada masyarakat. Kemudian untuk mendukung keberhasilan dalam pelatihan tari ini, akan menggunakan metode pembelajaran yang tepat dan dapat memacu para peserta pelatihan, agar tertarik dan berlatih dengan baik. Pengertian metode dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa yang dimaksud metode adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik, untuk mencapai Metode atau cara yang dimaksud tentu berkaitan dengan keadaan realitas yang dihadapi dalam kegiatan pengajaran, misalnya mengajar apa, materi apa, tingkatan siswa apa dan sebagainya, yang kemudian akan dirumuskan untuk dijadikan pijakan dalam melaksanakan pengajaran. Metode pembelajaran yang digunakan dalam pelatihan tari di Desa Manyarejo meliputi: Metode Dialogis. Metode Ceramah. Metode Demonstrasi, dan Metode Drill. Metode tersebut dikembangkan sedemikian rupa, diintegrasikan dengan perkembangan jiwa para peserta. Metode Dialogis adalah salah satu cara pendekatan, dalam hal ini dilakukan kepada Kepala Desa, tokoh masyarakat dan masyarakat, agar terjadi suatu interaksi yang nyaman. Hubungan interaksi dibangun untuk mencapai simbiose mutualisme, yaitu hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. Apabila kondisi ini sudah dapat terbangun, maka antara peserta pelatihan dan tutor . emberi mater. akan dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Metode Dialogis dilakukan pada awal kegiatan dan belum secara langsung memberikan materi pelatihan, akan tetapi lebih banyak mencari masukan, yang berkait dengan latar belakang kegiatan pelatihan yang lebih kental dengan tari tradisi Jawa. Proses dialogis dilakukan tidak secara formal, dan serilek mungkin, agar para peserta pelatihan tidak merasa ada penekanan . i intervie. , misalnya sambil duduk-duduk santai saat istirahat, sambil wedangan atau ngopi di warung. Dengan demikian informasi yang didapatkan lebih natural, jujur, lugas dan apa adanya. Metode Ceramah digunakan untuk menyampaikan tujuan kegiatan, materi yang diberikan, pengarahan, pembenahan dan evaluasi dalam peserta pelatihan melakukan pembelajaran dan keluaran yang akan dicapai. Metode Demonstrasi, yaitu cara pelatih atau pengajar menjelaskan secara visual fakta tertentu, ide atau proses, sebelum materi tari diberikan dengan mendemonstrasikan cara melakukan gerak tari. Para peserta pelatihan dimohon untuk mengamati kemudian menirukan. Metode Drill diterapkan untuk memberikan materi tari secara teknis. Metode Drill merupakan suatu cara mengajar dengan memberikan latihan-latihan terhadap materi yang dipelajari, sehingga para peserta pelatihan memperoleh suatu keterampilan tertentu. Kata Latihan mengandung arti bahwa sesuatu itu selalu diulang-ulang, akan tetapi bagaimanapun juga antara situasi latihan yang pertama dengan situasi latihan yang berikutnya akan berbeda, ia akan berusaha melatih keterampilannya. Ada keterampilan yang dapat disempurnakan dalam jangka waktu pendek dan ada yang membutuhkan waktu cukup lama. Perlu diperhatikan, latihan itu tidak diberikan begitu saja kepada peserta pelatihan tanpa pengertian, jadi latihan itu didahului dengan pengertian dasar. Metode Drill digunakan dalam pelatihan seperti: . Kecakapan Motorik, misalnya: melatih keterampilan, kecepatan, dengan beberapa latihan gerak. Melatih kepekaan irama lagu dengan menggunakan hitungan, menggunakan musik, ataupun dengan pendalaman rasa irama. Kecakapan mental, misalnya: Menghafal dalam kaitan dengan materi latihan. Menghafal dimaksud adalah menghafal vokabuler, kepekaan ragam tubuh, gerak, urutan lagu yang diberikan, berikut penyajian yang menyertainya. Hal-hal yang akan diperhatikan dalam metode Drill adalah: Tujuan harus dijelaskan kepada peserta pelatihan, sehingga selesai latihan peserta diharapkan dapat melakukan dengan tepat sesuai apa yang diberikan dan Volume 15 No. 1 Juni 2024 Hartanto: Pelatihan Tari di Desa Manyarejo sebagai Salah Satu Langkah Menuju Desa Wisata Ditentukan dengan jelas kebiasaan yang dilatihkan sehingga peserta mengetahui apa yang harus Lama Latihan harus disesuaikan dengan kemampuan peserta. Ditunjukkan kesalahan-kesalahan umum yang dilakukan peserta untuk perbaikan. Kelebihandari meote Drill ini adalah, pengertian peserta lebih luas melalui latihan berulang-ulang, dan peserta siap menggunakan keterampilannya karena sudah Hasil dari kegiatan pelatihan, dan apresiasi yang berjudul AuPelatihan Tari di Desa Manyarejo Sebagai Salah Satu Langkah Menuju Desa WisataAy untuk mewadahi bakat tari, mengembangkan pengayaan, kreativitas dan meningkatkan kualitas kepenarian menuju masyarakat yang berjiwa seni. Hasil kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) tidak akan membicarakan kesenian secara konseptual yang dianalisis secara akademis, akan tetapi para peserta pelatihan diajak secara langsung untuk melihat, mengamati, dan menghargai pertunjukan atau mengapresiasi lewat tayangan video. Pendek kata bahwa pembelajaran tari ini bukan untuk membentuk para peserta pelatihan agar memiliki kompetensi tari dengan kriteria yang baik dan terampil dalam menampilkan tarian, tetapi lebih dititikberatkan untuk mengenal tari sebagai jiwa seni di masyarakat. Meskipun akhirnya para peserta pelatihan menjadi lebih terampil dalam berkreativitas, untuk menyusun sebuah garapan tari, yang merupakan dampak dari kegiatan. HASIL DAN PEMBAHASAN Bentuk kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini berupa, pelatihan bentuk tari kerakyatan yaitu pelatihan teknik dasar tari tradisi kerakyatan seperti adeg penari, teknik bentuk vokabuler, teknik lintasan gerak kaki tangan, dan tolehan. Sasaran program pelatihan serta peningkatan apresiasi dengan judul AuPelatihan Tari di Desa Manyarejo Sebagai Salah Satu Langkah Menuju Desa WisataAy adalah bentuk kegiatan yang dilakukan lebih terarah pada pembinaan dan pelatihan tari, bagi masyarakat Desa Manyarejo. Peserta pelatihan berjumlah 19 orang yang terdiri dari 9 pemuda dan 10 anak-anak. Kegiatan pelatihan akan dilaksanakan selama empat bulan (Juli - Oktober 2. dengan 16 x tatap muka. Kegiatan ini dilakukan pada setiap hari Minggu malam . 00 WIB) atau kesepakatan yang telah disetujui antara peserta pelatihan dan pelaksana PKM, apabila waktu yang dijadwalkan tidak dapat dilaksanakan. Hasil akhir setiap kegiatan ini, diharapkan para peserta mampu mendemonstrasikan gerak hasil pelatihan yang terkuasai secara hafal, benar dan baik serta harapan sampai pada pementasan. Sasaran program pelatihan tari dengan judul AuPelatihan Tari di Desa Manyarejo Sebagai Salah Satu Langkah Menuju Desa WisataAy adalah bentuk kegiatan yang akan dilakukan lebih terarah pada pembinaan dan pelatihan tari kepada masyarakat Desa Manyarejo. Waktu pelatihan tari pada malam hari atau kesepakatan dengan masyarakat desa. Diharapkan hasil akhir kegiatan ini para peserta pelatihan mampu mendemonstrasikan repertoar tari kerakyatan hasil pelatihan yang dipelajari, serta terkuasai secara hafal, benar dan baik, kemudian dipentaskan. Materi pelatihan yang diberikan, disesuaikan dengan latarbelakang dan kemampuan yang dimiliki, yang notabene tidak bisa menari sama sekali. Materi vokabuler sangatlah dasar, mudah untuk bisa Garapan tari ini lebih mementingkan kerampakan dan kekompakandalam penyajiannya. Kemampuan yang diolah dan dikembangkan secara kreatif, dengan diberikan kebebasan dan keleluasaan untuk menemukan Harapan dari pelatihan ini, para peserta pelatihan mampu berkreasi dalam membuka wawasan maupun kemampuan untuk bisa menyusun sebuah Garapan tari secara mandiri. Materi pelatihan ini menjadi penting untuk pemahaman yang lebih mendalam dan konprehensif bagi peserta pelatihan, dalam hal ini Volume 15 No. 1 Juni 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 adalah masyarakat Krajan desa Manyarejo. Kebaruan program dalam kegiatan yang berjudul AuPelatihan Tari di Desa Manyarejo Sebagai Salah Satu Langkah Menuju Desa WisataAy, sangatlah membuahkan hasil yang signifikan. Hal ini dibuktikan, dimana program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), tidak hanya berupa pelatihan tari saja, namun menghasilkan garapan tari dengan bentuk kerakyatan yang berjudul Tari Rempeg Balung Buto. Harapan dari penyusunan tari ini untuk menjadikan salah satu ciri khas/ikon dalam bidang seni tari bagi desa Manyarejo dalam merintis langkah menuju Desa Wisata. Pelaksanaan kegiatan pelatihan tari diawali dengan penyampaian permohonan izin ke Desa Manyarejo Kabupaten Sragen, yang disertai dengan proposal PKM (Pengabdian Kepada Masyaraka. Setelah mendapatkan izin dari Kepala Desa Manyarejo, dilanjutkan dengan survei. Survei dilakukan untuk keperluan lebih mengenal karakteristik dan potensi masyarakat desa. Selain itu, agar dalam menyusun jadwal kegiatan pelatihan nantinya, tidak mengganggu jadwal kegiatan dari para peserta. Para peserta yang terdiri dari para pekerja, petani, satpam museum dan para pemuda. Dalam perkembangan waktu pelatihan ini diikuti oleh anak-anak. Hasil yang disepakati perencanaan pelaksanaan kegiatan PKM (Pengabdian Kepada Masyaraka. akan di mulai pada bulan Juli hingga bulan Oktober 2022. Sedangkan untuk jadwal pelaksanaan kegiatan pelatihan setiap hari minggu dari jam 20. 00 sampai dengan jam 23. 00 WIB. Masuk di kalangan masyarakat desa, dalam hal ini belum mengenal tari berarti juga harus berkompromi dengan selera dunia mereka, disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta apa yang dibutuhkan dalam pengembangan daerah tersebut menuju harapan untuk menjadi desa wisata. Meskipun kita mempunyai program, akan tetapi tidak menutup kemungkinan untuk menerima apa yang menjadi selera dari mereka. Kita tak bisa hitam putih dan konfrontatif. Itulah yang menjadi tujuan sebelum masuk. Untuk itu kami perlu survei atau penjajagan untuk menemukan hasil kesepakatan dengan masyarakat Desa Manyarejo. Menyamakan persepsi dengan masyarakat desa sangatlah penting, agar dalam implementasi tidak adanya kesenjangan dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan. Ditahap persiapan ini pula, menyusun perencanaan materi kegiatan pelatihan, agar ditingkat pelaksanaan kegiatan nantinya dapat lebih terarah, sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Sasaran program pelatihan tari dengan tema AuTari untuk Ekspresi. Aktualisasi dan RekreasiAy adalah bentuk kegiatan yang akan dilakukan lebih terarah pada pembinaan dan pembelajaran tari di masyarakat Desa Manyarejo. Waktu pelatihan tari pada malam hari atau kesepakatan dengan masyarakat, apabila waktu yang telah ditentukan tidak bisa Diharapkan hasil akhir kegiatan pelatihan ini, mampu mendemonstrasikan repertoar tari hasil pelatihan yang dipelajari, serta terkuasai secara hafal, benar dan baik, kemudian dipentaskan. Tindak lanjut dari hasil pelatihan ini dapat menjadi salah satu program menuju Desa Wisata, seperti harapan dari masyarakat Desa Manyarejo di kemudian hari. Kegiatan ini akan dilaksanakan selama enam bulan (Mei-November 2. dengan waktu satu minggu satu kali atau menurut kesepakatan. Pelaksanaan AuPelatihan Tari di Desa Manyarejo Sebagai Salah Satu Langkah Menuju Desa WisataAy, dilakukan 1 . kali dalam satu minggu, dengan durasi waktu setiap kali latihan selama180 menit . Untuk jadwal pelaksanaan kegiatan pelatihan tari setiap hari Minggu pada jam 20. 00 WIB atau kesepakatan Bersama apabila waktu yang telah ditentukan tidak bisa terlaksana. Pelatihan tari yang sebelumnya diikuti oleh para tokoh masyarakat, petani, pekerja, satpam, namun dalam perjalanan waktu, peserta pelatihan diikuti juga oleh anak-anak seusia Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan anak-anak seusia Sekolah Dasar (SD) masyarakat Desa Manyarejo. Latihan setiap hari Jumat jam 16. 00 sampai Pelatihan dipimpin oleh penari senior. Anak- anak dengan antusias sendiri mengikuti jalannya pelatihan, tanpa ada permintaan. Tempat pelatihan berawal di pelataran rumah warga atau di tanah lapang dengan penerangan lampu. Namun dalam perkembangan waktu, pelatihan dilaksanakan di sebuah rumah kosong milik warga yang sudah tidak ditempati. Sekarang rumah tersebut, yang berbentuk limasan mendapat sebutan Pendopo. Seperti Volume 15 No. 1 Juni 2024 Hartanto: Pelatihan Tari di Desa Manyarejo sebagai Salah Satu Langkah Menuju Desa Wisata yang telah dijelaskan di dalam latar belakang bahwa pelatihan ini bukanlah untuk menghasilkan sebuah bentuk pertunjukan yang sempurna atau menfokuskan pada penguasaan materi . dengan baik, namun akan lebih mengutamakan pada proses, dalam arti lebih mengedepankan keterlibatan warga masyarakat dalam menggali kreatifitas dari kemampuan yang dimiliki, dengan kebebasan dan keleluasaan dalam mengelola tubuh dan mengekspresikannya untuk menjadi sebuah pertunjukan tari. Dengan harapan, warga masyarakat yang mengikuti pelatihan ini, akan mampu mengembangkan tari dari hasil pelatihan yang sudah ada. Pelaksanaan AuPelatihan Tari di Desa Manyarejo Sebagai Salah Satu Langkah Menuju Desa WisataAy, diawali dari perkenalan dengan warga masyarakat Grogolan Krajan Manyarejo. Pelaksana program atau tutor memberikan pengantar singkat sebagai pembuka, penyampaian latar belakang program PKM, tujuan dan materi pelatihan. Tutor untuk selanjutnya mengajak peserta pelatihan ke halaman rumah, untuk memulai pelatihan awal yaitu, berlatih konsentrasi dengan posisi membuat sebuah bentuk lingkaran dengan duduk bersila serta menutup mata. Tutor memberikan arahan lanjutan untuk mengosongkan dan menghilangkan beban pikiran. Selanjutnya pikiran dipusatkan dengan mendengarkan suara-suara yang paling dekat sampai dengan yang paling jauh. Latihan ini dilakukan selama 15 menit, baru kemudian peserta membuka mata pelan-pelan dalam keadaan masih berkonsentrasi dan diulang-ulang hingga peserta mampu melakukannya dengan penuh hikmat. Sesi ini dibuka tanya jawab atau peserta diminta untuk memberi tanggapan tentang apa yang dirasakan setelah melakukan kegiatan tersebut. Peserta masih ada yang belum bisa berlatih konsentrasi, karena baru mengenal pelatihan seperti ini. Pada tahap lanjutan pelatihan, pelatih memberikan pengantar sebagai lanjutan dari latihan konsentrasi untuk di implementasikan dalam gerak Langkah. Pelatihan diawali dengan tutor memberi contoh secara demonstrasi, bentuk gerakan kaki seperti: gerak kaki napak- napak kanan maju pandangan depan tangan lepas kebawah, gerak jalan napak kesamping gejug bergantian kanan kiri dengan gerak kepala mengangguk, napak-napak nacah glebag kekanan kekiri, gerak tubuh dan tolehan kepala mengikuti gerakan kaki, laku telu engklek, laku genjotan nacah miring, laku lonjak-lonjak, jengkeng. Peserta mulai menirukan gerakan dan diulang-ulang mengalir sesuai kata hati tanpa adanya beban bentuk . utor selalu memberikan arahan dalam setiap gerakan maupun perubahan gera. Ditengah pelatihan, sesekali tutor masuk dalam barisan, ikut bergerak untuk memberikan rangsangan atau pancingan hafalan gerak pada peserta dalam pengembangan daya ingat. Sesi ini dibuka tanya jawab, dan peserta satu persatu diminta untuk mengungkapkan bergerak yang baru saja dilakukan. Dalam hal ini, peserta masih ada yang belum bisa menirukan secara benar dan masih bingung untuk bergerak antara kaki kanan atau kiri. Pelatihan selanjutnya tutor memberikan contoh gerak tantangan secara demonstrasi sebagai materi Posisi diawali dari penari berhadapan beradu kiri tolehan kiri, tangan kanan menthang jari mengepal, tangan kiri tekuk setinggi bahu, jari mengepal. Gerakan kaki tranjalan maju, tangan ngebyak . , kaki tranjalan mundur, tangan ngebyak . diulang 4x. kedua tangan, menthang, adu kiri jalan memutar arah kekiri . etiap seperempat putaran ngepyak kedua tanga. , diulang dua kali . Peserta mengikuti contoh dan diarahkan setiap lintasan gerak dan dilakukan berulang-ulang hingga peserta paham dan mampu melakukannya. Tutor masuk dalam barisan peserta dan selanjutnya menjadi contoh panutan yang diikuti. Peserta pelatihan satu persatu diminta untuk mengungkapkan pengalaman bergerak yang baru saja dilakukan dan melakukan berulang-ulang. Dalam hal ini, peserta masih ada yang belum bisa melakukan gerakan dengan benar, bertabrakan dan masih bingung untuk bergerak apa selanjutnya. Pelatihan berikutnya tutor mengajak peserta untuk mendengarkan lagu yang digunakan dari musik Gambus yang mengiringi. Tutor menirukan, mengarahkan, menyesuaikan, menyatukan antara pola gerak dengan irama musiknya. Penata musik tari disusun oleh Takariyadi (PLP ISI Surakart. bersama group musik Gambus dari masyarakat Krajan Manyarejo. Alat musik yang digunakan Volume 15 No. 1 Juni 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 dalam iringan tari ini seperti, alat musik bambu, drum, kempul, bende, saron. Pada saat tari diiringi musik Gambus, penata musik menggunakan 2 . lagu yaitu lagu Balung Buto dan lagu Buto Galak. Pemilihan lagu ini, berdasarkan tema tari yang menggambarkan Balung Buto atau Fosil. Syair lagu Balung Buto: AuGalo kae butone gedhe gedhe e. Koyo wewe rambute trus diore e e. Dasar Buto goro goda ndang minggato. Ora wedi tak dongane rino wengi. Sumingkiro buto-buto ilang musnaAy. Syair lagu Buto Galak: AuButo-buto galak, solahmu lunjak-lunjak, sarwi sigrak-sigrak, nyandhak konco nuli tanjak, bali ngadeg maneh, rupamu ting celoneh, iki buron opo tak sengguh buron kang aneh. Lha wong kowe we we sing mara-marai ihi-ihi, aku wedi ayo konco podo bali, galo kae galo kae, mripate plerak-plerok, kulite ambengkerok, hi. aku wedi, ayo konco podo baliAy. Tutor masuk ke posisi terdepan dan selanjutnya menjadi contoh yang ditirukan dengan bentuk-bentuk gerakan dengan irama musiknya, untuk kemudian diikuti oleh peserta . iharapkan peserta dapat mengikuti dengan contoh-contoh tersebu. Peserta satu persatu diminta untuk mengungkapkan pengalaman bergerak yang baru saja dilakukan dengan musik. Dalam latihan ini, peserta masih takut berada di depan untuk menjadi contoh, karena merasa belum hafal dan tidak percaya diri. Tutor kemudian memberikan penjelasan agar siswa tidak takut bergerak, dan bersedia untuk menjadi pimpinan kelompok. Foto 1. Pelatihan penggabungan tari dan musik bersama tutor. (Dok. Hartanto 2. Tahap selanjutnya penggabungan gerak dan musik tari. Pelatihan diawali dengan tutor bergerak menari memberi ancer-ancer pada penata musik, kemudian pmencoba menggabungkan antara gerak dengan Tutor memberi contoh sesuai dengan irama musiknya dan dikuti para peserta, menari bersama Latihan diulang-ulang hingga terjalin kekompakan antara gerak dan musiknya. Selanjutnya tutor hanya memberi aba-aba, peserta menari dengan irama musiknya. Dilakukan secara berulang hingga terjalin kesatuan antara gerak dengan musiknya. utor selalu mengarahkan agar intens dan berkonsentrasi untuk mendengarkan tempo musikny. Tahap ini terjadi pembicaraan yang hangat untuk menemukan sebuah Dalam latihan ini, peserta masih menggunakan emosi dan ada yang malu-malu untuk bergerak. Peserta pelatihan masih ada yang lepas dari konsentrasi dan tersenyum, ketika mendengar suara temennya Tutor kemudian memberikan arahan agar peserta tetap intens berkonsentrasi penuh, meskipun ada gangguan dari sesama penari maupun dari penonton. Pelatihan dilanjutkan dengan membuat komposisi atau pola lantai. Volume 15 No. 1 Juni 2024 Hartanto: Pelatihan Tari di Desa Manyarejo sebagai Salah Satu Langkah Menuju Desa Wisata Foto 2. Pelatihan pola lantai berbaris, jengkeng ulap-ulap tawing. (Dok. Hartanto 2. Diawali dengan tutor menata posisi peserta untuk membuat pola lantai secara berbaris dan 1 . orang jadi pemimpin. Baru kemudian peserta diarahkan untuk mulai jalan dari ujung menuju tempat pentas. Bergerak, jengkeng ulap-ulap tawing kanan kiri, membentuk lingkaran, kembali berbaris. Latihan ini di lakukan berulang-ulang hingga peserta benar-benar bisa hafal untuk melakukannya. Tutor selalu memancing ancer-ancer peralihan gerakan dengan memberi contoh kepada peserta, agar sesuai dengan irama musiknya. Sesi ini dibuka tanya jawab, agar terjadi keselarasan antara gerak dengan musik dan pola lantainya. Dalam latihan ini, peserta masih ada yang kesulitan dalam melakukan gerak sesuai dengan musiknya. Tutor selanjutnya memberikan penjelasan pentingnya hafalan agar terjadi kekompakan dan kerampakan dalam pertunjukan nantinya. Pelatihan selanjutnya tutor menyiapkan barisan para penari, kemudian memberi abaaba pada pemusik untuk mengawali gerakan berjalan. Tutor memberi contoh penyesuaian gerakan dengan tembang lagunya. Baru kemudian penari diarahkan untuk menirukan dan mendengarkan lagunya agar sesuai dengan tempo pola geraknya. Tutor bergantian mengambil posisi untuk mengarahkan dan memberi aba-aba pemusik dan penarinya agar terjadi penyesuaian dan kekompakan. Tutor selalu mengarahkan agar intens dan berkonsentrasi. Peserta penari dan pemusik diminta untuk mengungkapkan permasalahan agar lebih paham dan saling mengerti antara kesesuaian gerakan dengan musiknya. Setelah garapan tari dan musik terbentuk, antara tutor dan peserta pelatihan sepakat untuk memberi nama tari Rempeg Balung Buto, sesuai dengan rancangan tema awal yaitu balung buto atau fosil. Materi tari dan musik sudah, tutor mengajak peserta pelatihan untuk workshop pembuatan kostum tari. Kostum terbuat dari bahan sederhana dari pelepah pisang tapi sesuai dengan tema tari, gambaran Balung Buto atau fosil-fosil dengan warna tanah dan terkesan klasik atau primitif. Tutor memberikan contoh dari pelepah pisang kering dengan warna coklat, kemudian di belah-belah menjadi semacam tali panjang. Baru kemudian di ronce-ronce, menjadi atasan . , bawahan (ROK) dan ikat lengan. Volume 15 No. 1 Juni 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Foto 3. Pentas Pendokumentasian tari Rempeg Balung Buto. (Dok. Hartanto, 2. Pembuatan video dokumenter tari Rempeg Balung Buto yang bertempat di sebuah jalan dengan pemandangan tebing-tebing batu terjal. Pemilihan lokasi untuk mencari nuasa alam yang terkesan jaman purbakala, agar sesuai dengan tema primitive. Selain tujuan pendokumentasian tari, rekaman ini juga digunakan sebagai acuan dalam pelatihan untuk generasi penerus atau anak-anak. Musik rekaman bisa digunakan untuk pelatihan tari, apabila tidak bisa secara live atau iringan langsung. Foto 4. Pentas Peringatan Hari Lingkungan Hidup Pasar Budaya Krajan (Youtub. Volume 15 No. 1 Juni 2024 Hartanto: Pelatihan Tari di Desa Manyarejo sebagai Salah Satu Langkah Menuju Desa Wisata Pentas hasil pelatihan Tari Rempeg Balung Buto, dalam rangka peringatan hari Lingkungan Hidup di Pasar Budaya Krajan. Dk. Grogolan Manyarejo Kecamatan Plupuh Kabupaten Sragen. Selain pentas tari Rempeg Balung Buto, juga di pentaskan musik Lesung, musik Gambus, tari Jemparingan dan Srimpi Blonyo. Pada pementasan ini di upload dalam media social youtube. Foto 5. Pentas Tari Rempeg Balung Buto pada acara Gebyar Krajan Keker (Dok. Hartanto,2. Tanggal 4 - 27 November 2022. Desa Manyarejo mengadakan acara Gebyar Krajan Keker bekerjasama dengan BPSMP. Pada acara ini dipentaskan tari Rempeg Balung Buto yang ditarikan oleh anak-anak sebagai dampak dari pelatihan yang dilakukan oleh para penari dewasa. Foto 6. Pentas tari Rempeg Balung Buto dalam rangka upacara kirab penyerahan fosil di Museum Bukuran. (Dok. Hartanto 2. Volume 15 No. 1 Juni 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Bulan September 2022. Desa Manyarejo mengukir sejarah lagi dengan ditemukan lagi Fosil Gajah. Fosil ditemukan di dataran tinggi di wilayah tanah BPSMP yang berbatasan dengan tanah warga Krajan. Tanah yang direncanakan untuk didirikan sebuah panggung pertunjukan. Kemudian pada Tanggal 10 November 2022. Desa Manyarejo menggelar upacara arak-arakan kirap penyerahan Fosil ke Museum Manusia Purba klaster Bukuran. Fosil diserahkan BPSMP untuk dilakukan penelitian dan selanjutnya akan diserahkan Kembali pada Museum Manyarejo. Setelah upacara penyerahan fosil, digelar tari Rempeg Balung Buto. Foto 7. Pelatihan tari Rempeg Balung Buto diaploud pada Media Social YouTube. Volume 15 No. 1 Juni 2024 Hartanto: Pelatihan Tari di Desa Manyarejo sebagai Salah Satu Langkah Menuju Desa Wisata Foto 8. Pentas tari Rempeg Balung Buto dalam media social Radar Solo Jawa Pos. PENUTUP Kegiatan terpadu berupa pelatihan dan kreativitas, apresiasi seni tari dengan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) merupakan salah satu perwujudan dari Tri Darma Perguruan Tinggi, yang wajib dilakukan oleh setiap dosen. Sesuai dengan tujuan dan materi pelatihan dari kegiatan ini, diharapkan dapat membuka wawasan peserta pelatihan tari warga Manyarejo, untuk lebih mengenal, memahami, dan mengalami seni tari lewat pengalaman pribadi secara langsung berpraktek, berkreativitas. Untuk berkelanjutan dapat menjadi bekal dalam peserta menyusun sebuah karya seni tari dari masing-masing peserta pelatihan. Tujuan utama dalam kegiatan pelatihan ini peserta mampu menggali potensi yang ada pada diri peserta Saran dari penulis semoga program ini bisa terus berkelanjutan dan bagi warga Manyarejo agar hasil pelatihan ini dapat terus dilanjutkan demi tercapainya kemajuan dalam berekspresi, berkreativitas dalam dunia seni tari. Ditinjau dari kegiatan AuPelatihan Tari di Desa Manyarejo Sebagai Salah Satu Langkah Menuju Desa WisataAy yang berdampak positif, maka kontinuitas kegiatan-kegiatan serupa perlu mendapatkan prioritas. Dengan kesadaran dan lebih mengenal kesenian pada umumnya dan seni tari pada khususnya, diharapkan peserta lebih menghargai, mencintai dan pada suatu saat nanti mereka akan tertarik untuk mendalami. Semoga dampak dari kegiatan pelatihan tari ini sangat positif, sehingga mendorong para peserta pelatihan tertarik untuk melanjutkan ke perguruan Tinggi Seni, khususnya ke Institut Seni Indonesia Surakarta. Hal ini sesuai dengan harapan dan tujuan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Volume 15 No. 1 Juni 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 DAFTAR PUSTAKA