Raqib: Jurnal Studi Islam Volume 02 Nomor 01 Juni 2025 ISSN: x-x | E-ISSN: x-x PENGARUH AL-QURAoAN DALAM PENDIDIKAN KARAKTER (The Influence of the Quran in Character Educatio. Zaenal Abidin Riam Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara Bogor email: abidinriam@gmail. Dini Khoirunnida Universitas PTIQ Jakarta email: inikhoirunnida03@gmail. Abstract The Qur'an is the absolute and main guideline as a guide to life for its adherents. Although it is centuries old, the essence of the Qur'an remains intact and its benefits can still be felt today as a bearer of influence and guidance for human life. Among the teachings contained in it is the formation of character in a person. In living this short life, humans need to have character so that they are not easily swayed by the pleasures of the world that are fleeting. This is important so that a person can become a moral person, as emphasized in the Qur'an regarding the importance of character education that begins as early as possible and begins from the family. Based on this, this study focuses on deepening the Qur'an as a guideline for character education through a literature review methodology. The results of the study show that the Qur'an has a major influence on the process of forming a person's character. This character education includes two aspects, namely good morals and bad morals along with their various forms. In the long term, the values of the Qur'an that contain character education are expected to strengthen and strengthen a person's personality in religion and society in the midst of an era full of tests and challenges. Keywords: The Influence of The Quran. Character Building. Moral. Abstrak Al-QurAoan menjadi pedoman mutlak dan utama sebagai petunjuk hidup bagi para pemeluknya. Meskipun usianya telah berabad-abad, esensi Al-QurAoan tetap terjaga dan manfaatnya masih dapat dirasakan hingga kini sebagai pembawa pengaruh dan petunjuk bagi kehidupan manusia. Di antara ajaran yang terkandung di dalamnya adalah pembentukan karakter pada diri Dalam menjalani kehidupan yang singkat ini, manusia perlu memiliki karakter agar tidak mudah terombang-ambing oleh kesenangan dunia yang fana. Hal ini penting agar seseorang dapat menjadi pribadi yang bermoral, sebagaimana ditekankan dalam Al-QurAoan mengenai pentingnya pendidikan karakter yang dimulai sedini mungkin dan berawal dari Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini berfokus pada pendalaman Al-QurAoan sebagai pedoman pendidikan karakter melalui metodologi kajian pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-QurAoan memiliki pengaruh besar dalam proses pembentukan karakter seseorang. Pendidikan karakter ini mencakup dua aspek, yaitu akhlak baik dan akhlak buruk beserta berbagai bentuknya. Dalam jangka panjang, nilai-nilai Al-QurAoan yang mengandung pendidikan karakter diharapkan dapat memperkokoh dan memperkuat kepribadian seseorang dalam beragama dan bermasyarakat di tengah zaman yang penuh ujian dan tantangan. Kata kunci: Pengaruh Al Quran. Pendidikan Karakter. Akhlak. PENDAHULUAN Al-QurAoan menurut bahasa berarti Aubacaan", berasal dari kata qaraAoa. Kata alQurAoan berbentuk masdar dengan arti isim mafAoul yaitu maqruAo yang memiliki arti dibaca. Al-QurAoan menurut istilah ialah Aukalam Allah Swt yang merupakan muAojizat yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw dan yang ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah. 1 Al Quran bagian dari mujizat yang ada pada Nabi Muhammad, yang mana mukjizat berupa kalam Allah ini berisi petunjuk hidup manusia hingga akhir zaman kelak. Segala permasalahan atau topik pembahasan ada di dalam al Quran, dan dikatakan dalam firman Allah bahwa hanya orang-orang yang mempelajarilah yang mengetahui dan memahami. Segala pengajaran ada di dalam Al Quran, baik yang berbentuk jawaban atas permasalahan di kalangan sahabat pada masa itu, kisah-kisah nabi terdahulu sampai narasi-narasi kebesaran Allah melalui alam yang diciptakannya. Semua itu dapat menjadi pedoman hidup bagi manusia di akhir zaman agar dapat mengambil pelajaran serta mengikuti segala yang diperintahkan di Adapun istilah karakter secara harfiah berasal dari bahasa Latin AucharakterAy, yang antara lain berarti: watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, kepribadian atau 2 Hermawan Kertajaya mendefinisikan karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut dan merupakan mesin pendorong terhadap cara seorang bertindak, bersikap, berujar dan merespons sesuatu. 3 Atau yang dikatakan Thomas Lickona, karakter merupakan sifat alami seseorang dalam menanggapi situasi secara Sifat alami tersebut tercermin dalam tindakan nyata melalui tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, adil, menghormati orang lain, disiplin, dan karakter mulia 4 Maka seburuk-buruknya manusia pasti ia tahu dan ia dapat merasakan mana kebaikan dan keburukan karna alamiahnya perasaan itu telah ada dalam dirinya. Karakter bagian dari hal yang penting dan mendasar dalam diri seseorang. Sejak awal keberadaan atau lahirnya manusia, karakter itu telah terbawa olehnya menjadi sikap dalam merespon sesuatu. Namun, dalam penerapannya, manusia sering kali dihadapkan pada dilema dalam memilih antara yang baik dan yang buruk. Tidak jarang pula nilai-nilai baik seolah hilang begitu saja, sehingga menimbulkan minimnya akhlak dan lunturnya karakter. Fenomena ini dapat kita lihat di masyarakat saat ini, seperti memudarnya sopan santun antara anak dengan guru atau orang tua, berkurangnya rasa hormat orang tua terhadap guru, maraknya seks bebas di kalangan remaja hingga orang dewasa, pertikaian antar saudara atau keluarga, bahkan kasus ekstrem seperti pembunuhan dan bunuh diri akibat masalah hutang. Selain itu, tanpa disadari, budaya global yang masuk melalui media sosial juga turut membentuk karakter seseorang. Hal ini terlihat dari kebiasaan berkomentar sembarangan di dunia maya, hingga mengikuti berbagai tren kekinian yang tidak ramah bagi anak-anak. Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar justru banyak dihabiskan dengan bermain gawai. Karakter yang secara alami ada dalam diri manusia perlu terus dibentuk dan diasah melalui proses yang berkelanjutan. Pembentukan karakter ini memerlukan pembiasaan, layaknya organ tubuh yang perlu dilindungi oleh otot-otot yang terlatih agar tetap kuat dan berfungsi dengan baik. Oleh karena itu, pendidikan memiliki peran penting sebagai upaya pembimbingan dan penguatan karakter. Hal ini sejalan dengan pendapat Zaenal Abidin Riam dan Suheri. AuTinjauan Historis Tradisi Keilmuan Islam Bidang Al-QurAoan. Ay GAPAI: Jurnal Pendidikan Agama Islam 2 no. 1 (Juni 2. : 106-117. Amri. Sofan. Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran: Strategi Analisis dan Pengembangan Karater Siswa dalam Proses Pembelajaran, (Jakarta: PT. Prestasi Pustakaraya, 2. Ubabuddin. AuKonsep Pendidikan Karakter Perspektif Islam. Ay TaAodib: Jurnal Pendidikan Islam 7, no. 1 (Juni 2. : 454-460. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 02 Nomor 01 Juni 2025 | 73 Zamroni bahwa pendidikan merupakan proses menanamkan dan mengembangkan pengetahuan, sikap, serta nilai-nilai hidup pada diri peserta didik agar kelak mampu membedakan mana yang benar dan salah, mana yang baik dan buruk, sehingga kehidupannya di tengah masyarakat menjadi bermakna dan berfungsi secara optimal. Berbagai permasalahan terkait lunturnya karakter pada diri seseorang tentu menjadi hal yang perlu mendapat perhatian serius. Kesenjangan atau belum optimalnya pelaksanaan pendidikan karakter membuat seseorang kehilangan nilai-nilai moral dalam Dalam ajaran Islam. Nabi Muhammad saw diutus sebagai uswatun hasanah atau teladan yang baik bagi umat manusia, sedangkan Al-QurAoan menjadi pedoman hidup. Nabi Muhammad saw menyampaikan pesan-pesan Allah dengan mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, serta memberikan contoh nyata melalui tutur kata dan perilakunya. Namun, yang terjadi saat ini adalah nilai-nilai moral sering kali tidak lagi menjadi prioritas dalam menentukan sikap dan perilaku seseorang. METODE Penelitian ini dalam pembuatannya menggunakan metode kualitatif dengan kajian pustaka berupa pengumpulan literatur ilmiah atau naskah akademik seperti jurnal, buku, dan artikel yang memiliki kaitan dengan tema penelitian. Kajian terhadap jurnal, buku, dan artikel dilakukan secara serius, mendalam, dan sistematis untuk mendukung keabsahan hasil penelitian sehingga dapat memberikan gambaran yang utuh, valid, dan relevan dengan tujuan yang ingin dicapai. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Al Quran Di dalam Kehidupan Manusia Al Quran sebagai pedoman hidup Allah Swt. Berfirman : Alif laam miim. Kitab (Al Qura. ini tidak ada keraguan petunjuk bagi mereka yang bertakwa. mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qura. yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya . Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. (QS. Al Baqarah : 1-. Adapun pada ayat pertama, para ulama memiliki perbedaan pendapat dalam menafsirkan ayat ini. Dalam Tafsir Jalalain disebutkan bahwa makna dari Alif Lam Mim adalah Allah yang lebih mengetahui maksudnya. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab tafsirnya. Ketika beliau ditanya mengenai arti fawatih as-suwar. Ibnu Abi Syaibah menjawab bahwa itu adalah namanama Allah yang tertulis dengan huruf muqathaAoah. Bahkan Ar-RabiAo bin Anas, salah satu ulama di Bashrah, berpendapat bahwa Alif diambil dari kata Allah. Lam diambil dari kata Lathif (Maha Lembu. , dan Mim diambil dari kata Majid (Maha Muli. Imam Al-Baihaqi juga menambahkan dalam kitabnya AsmaAo wa Ash-Shifat bahwa: AuSemua huruf pembuka adalah nama-nama Allah. Ay Selanjutnya, pada ayat kedua terdapat pesan atau informasi bahwa Al-QurAoan diturunkan sebagai petunjuk atau pedoman hidup. (Kitab in. , yakni yang dibacakan oleh Muhammad, . idak ada keraguan padany. artinya benar-benar berasal dari sisi Allah. Kalimat negatif ini menjadi predikat dari subjek Kitab ini, sedangkan kata isyarat dzaalik . digunakan sebagai bentuk penghormatan. Menjadi petunjuk Rulianto dan Febri Hartono. AuPendidikan Sejarah Sebagai Penguat Pendidikan Karakter. Ay Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial 4, no. 2 (Desember 2. : 127-134. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 02 Nomor 01 Juni 2025 | 74 merupakan predikat kedua, artinya Al-QurAoan menjadi penuntun bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang berusaha menjaga ketakwaan dengan mengikuti perintah dan menjauhi larangan demi melindungi diri dari api neraka. Pada ayat berikutnya, diuraikan bagaimana gambaran orang-orang yang bertakwa dalam Surah Al-Baqarah ayat kedua. Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang beriman kepada hal-hal gaib, yaitu sesuatu yang tidak tampak dan tidak dapat dijangkau oleh akal maupun indra, seperti Allah, malaikat, surga, neraka, dan perkara lain yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebagai bukti dari keimanan tersebut, mereka beribadah kepada Allah dengan menunaikan salat secara sempurna sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya, dengan penuh kekhusyukan serta memperhatikan waktu-waktunya. Selain itu, mereka juga menafkahkan sebagian rezeki yang diberikan Allah, baik berupa harta, ilmu, kesehatan, kekuasaan, maupun hal-hal bermanfaat lainnya, semata-mata sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan untuk meraih keridaan-Nya. Pada ayat ini masih dijelaskan bagaimana ciri-ciri orang-orang yang bertakwa. Maksud dari ayat tersebut adalah menegaskan bahwa orang yang bertakwa adalah mereka yang beriman kepada Al-QurAoan yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw. Selain itu, orang yang bertakwa juga beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad saw, yaitu Kitab Taurat. Injil, dan Zabur. Mereka juga meyakini akan datangnya hari kiamat. Mereka yang memiliki ciri-ciri sebagaimana disebutkan dalam ayat keempat inilah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya dan berada pada kedudukan yang mulia dan agung, karena mereka menaati seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Hanya mereka lah orang-orang yang beruntung, yang akan memperoleh apa yang mereka inginkan: kebahagiaan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat dengan dimasukkan ke dalam surga dan dibebaskan dari api Serta di ayat keenam, menjelaskan bagaimana keadaan sebaliknya. Orangorang kafir adalah orang yang tidak beriman kepada Allah Swt, sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Di dalam Al-Quran disebutkan bahwa orang-orang kafir, yaitu ahli kitab dan orang-orang musyrik, yang sangat ingkar kepada Rasulullah saw. tidak akan beriman walaupun diberi peringatan yang disertai dengan ancaman. Bagi mereka sama saja, apakah mereka diberi peringatan keras atau tidak. Al Quran sebagai sumber ilmu pengetahuan Allah Swt. Berfirman: Bacalah dengan . nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar . dengan perantaran Abu Anwar. Ulumul QurAoan Sebuah Pengantar (Pekanbaru: Amzah, 2. hlm Arditya Prayogi. Alamul Yaqin, and M Zulvi Romzul Huda Fuadi. AuDescriptive Study of the Nabawiyah Sirah by Ibn Ishaq and Ibn Hisham. Ay International Journal of Islamic Thought and Humanities 1, no. 2 (September 2. : 107Ae116. Sri Widyastri et al. AuTransmission of Al-QurAoan Learning in Saudi Arabia and Indonesia. Ay International Journal of Islamic Thought and Humanities 1, no. 2 (September 2. : 117Ae131. Hudzaifah Achmad Qotadah. Iqbal Syafri, and Adang Darmawan Achmad. AuFostering Religious Inclusivism Attitudes in School Through Learning The Quran and adth. Ay International Journal of Islamic Thought and Humanities 1, 2 (September 2. : 145Ae155. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 02 Nomor 01 Juni 2025 | 75 kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al Alaq : . Surat Al-AoAlaq (IqraA. merupakan wahyu pertama yang diturunkan dalam AlQurAoan. Surat ini termasuk surat Makkiyah, terdiri atas 19 ayat, 93 kata, dan 280 Dalam Surat Al-AoAlaq tergambar dengan hidup peristiwa terbesar dalam sejarah manusia, yaitu pertemuan pertama Nabi Muhammad saw dengan Malaikat Jibril di Gua Hira, saat beliau menerima wahyu pertama pada usia 40 tahun. Bagian pertama Surat Al-AoAlaq mengarahkan Nabi Muhammad saw untuk berkomunikasi dengan Allah dan membaca ayat-ayat Al-QurAoan yang disampaikan melalui Malaikat JibrilAibukan membaca tulisan di atas kertas, karena beliau adalah seorang ummi . idak pandai baca tuli. Wahyu ini menunjukkan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan kepada-Nya semua akan kembali. Wahyu pertama ini juga menegaskan bahwa Allah telah memuliakan martabat manusia melalui perintah Dengan proses belajar-mengajar, manusia mampu menguasai ilmu pengetahuan dan memahami rahasia alam semesta yang bermanfaat bagi kesejahteraan hidupnya, padahal manusia diciptakan Allah hanya dari segumpal darah yang melekat di rahim ibu. Surat Al-AoAlaq ayat 1Ae5 diturunkan ketika Rasulullah saw sedang berkhalwat di Gua Hira, pada usia beliau yang ke-40 tahun. Ayat-ayat pertama ini sekaligus menjadi tanda diangkatnya Nabi Muhammad saw sebagai Rasul Allah. Surat Al-AoAlaq ayat 1Ae5 memuat perintah untuk membaca. Membaca berarti berpikir secara teratur dan sistematis dalam mempelajari firman dan ciptaan-Nya. Dengan berpikir kritis serta menghubungkan ayat qauliyyah . dan kauniyyah . , manusia akan mampu menemukan konsep-konsep sains dan ilmu Perintah pertama yang Allah titahkan kepada Nabi Muhammad saw dan umat Islam bahkan adalah perintah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan serta cara mendapatkannya. Ilmu pengetahuan hanya dapat diperoleh melalui membaca, karena membaca adalah kunci pengetahuan, baik membaca ayat qauliyyah maupun kauniyyah. Sebab manusia lahir tanpa pengetahuan. pengetahuan diperoleh melalui proses belajar, pengalaman, serta pengolahan akal, pendengaran, dan penglihatan demi meraih kejayaan dan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Al Quran sebagai sumber hukum Islam Sebagai kitab suci. Al-Quran merupakan pedoman hidup bagi umat manusia, sebab di dalamnya terkandung aturan dan kaidah-kaidah kehidupan yang harus Al-Quran juga ditetapkan oleh Allah Swt. sebagai sumber pertama hukum islam, sebaimana tertuang dalam surah An-nisa: Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang . rang yang tidak bersala. , karena . orangorang yang khianat. (QS. An Nisa : . Imam SyafiAoi berpendapat bahwa al-QurAoan merupakan sumber hukum islam yang paling pokok, dan beranggapan bahwa al- Quran tidak bisa dilepaskan dari asSunnah, karena hubungan antara keduanya sangat erat sekali. Sehingga seakanakan beliau menganggap keduanya berada pada satu martabat, namun bukan berarti Imam SyafiAoi menyamakan derajat al- QurAoan dengan Sunnah, perlu dipahami bahwa kedudukan as-Sunnah adalah sumber hukum setelah al-QurAoan, yang mana keduanya sama-sama berasal dari Allah Swt. Dengan demikian tak heran bila Imam Tamlekha. AuAl Quran Sebagai Sumber Ilmu Pengetahuan. Ay BashaAoir: Jurnal Studi Alquran dan Tafsir 1, no. 2 (Desember 2. :105-115. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 02 Nomor 01 Juni 2025 | 76 SyafiAoi dalam berbagai pendapatnya sangat mementingkan penggunaan Bahasa Arab, misalkan dalam shalat, nikah dan ibadah lainnya. Beliau mengharuskan penguasaan bahasa Arab bagi mereka yang mau memahami dan mengistinbat hukum dari al-QurAoan. Urgensi Pendidikan Karakter Pada Masa Kini Di dalam Kebijakan Nasional Pengembangan Karakter Bangsa secara fungsional memiliki tiga fungsi utama sebgai berikut: Fungsi Pembentukan dan Pengembangan Potensi Pembangunan karater bangsa berfungsi untuk membentuk dan mengembangkan potensi manusia atau warga negara Indonesia agar berpikiran baik dan berperilaku baik sesuai dengan falsafah hidup Pancasila. Fungsi Perbaikan dan Penguatan Pengembangan karakter bangsa berfungsi untuk memperbaiki dan memperkuat peran keluarga, satuan pendidikan, masyarakat dan pemerintah untuk ikut berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam pengembangan potensi warga negara dan pembangunan bangsa menuju bangsa yang maju, mandiri dan Fungsi Penyaringan Pembangunan karakter bangsa berfungsi untuk memilih budaya bangsa sendiri dan menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat. Ketiga fungsi tersebut dilaksanakan melalui: pengukuhan Pancasila sebagai falsafah dan ideologi bangsa. penguatan nilai dan norma konstitusional UUD 1945. penguatan komitmen kebangsaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). penguatan nilai-nilai keberagaman sesuai dengan konsensus Bhinneka Tunggal Ika. serta penguatan keunggulan dan daya saing bangsa untuk keberlanjutan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dalam konteks Jamal MaAoruf Asmani menyebutkan, terdapat empat jenis karakter yang dikenal dan dilaksanakan dalam proses pendidikan, yaitu sebagai berikut: Pendidikan karakter berbasis nilai religius yang merupakan kebenaran wahyu Tuhan . onservasi mora. Pendidikan karakter berbasis nilai budaya, misalnya berupa budi pekerti, pancasila, apresiasi sastra, keteladanan tokoh sejarah dan lainnya. Pendidikan karakter berbasis lingkungan . onservasi lingkunga. Pendidikan karakter berbasis potensi diri Pengolahan ke empat potensi tersebut juga merupakan desain induk dari pendidikan karakter yang memiliki tujuan menjadikan manusia yang bisa memaksimalkan segala potensi yang dimilikinya12. Adapun tujuan pengolahan keempat potensi manusia tersebut adalah: Tentiyo Suharto, et. AuKonsep Al-QurAoan sebagai Sumber Utama dalam Hukum. Ay Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA) 2, no. 2 (Desember 2. : 955-976. Sri Narwati. Pendidikan Karakter, (Yogyakarta: Familia, 2. Hendri. Pendidikan Karakter Berbasis Dongeng, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2013 ) hlm 34. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 02 Nomor 01 Juni 2025 | 77 . Karakter yang bersumber dari olah hati, antara lain : beriman dan bertaqwa, bersyukur, jujur, amanah, tertib, sabar, disiplin, taat aturan, bertanggung jawab, berempati, punya rasa iba, berani mengambil resiko, pantang menyerah dan lain-lain. Karakter yang bersumber dari olah pikir, antara lain: cerdas, kritis, kreatif, inovatif, analitis ingin tahu, produktif, berorientasi pada iptek, dan reflektif . Karakter dari olah raga atau kinestetika, antara lain: bersih, dan sehat, sportif, tangguh, andal, berdaya tahan, berahabat, koopratif, ceria, ulet dan gigih. Karakter dari olah rasa dan karsa, antara lain: kemanusian, saling menghargai, saling mengasihi, gotong royong, saling kebersamaan, ramah, peduli, toleran, nasionlis, kosmopolit . , mengutamakan kepentingan umum, dinamis, kerja keras dan beretos kerja. Sedangkan dalam istilah Islam, karakter memiliki makna yang sama dengan Dalam perspektif ilmu menurut Hamdani Hamid dan Ahmad Saebani, karakter terbagi menjadi empat macam, yaitu: Karakter falsafi atau karakter teoritis, yaitu menggali kandungan Al-QurAoan dan Hadis secara mendalam, rasional, dan kontemplatif untuk dirumuskan sebagai teori dalam bertindak. Karakter amali, yaitu akhlak praktis, yakni akhlak dalam arti sebenarnya yang tampak dalam perbuatan atau tingkah laku. Karakter fardhi atau akhlak individu, yaitu perbuatan seorang manusia yang tidak terikat dengan orang lain. Karakter kelompok atau akhlak jamaAoah, yaitu tindakan yang disepakati dan dilaksanakan bersama-sama, misalnya akhlak dalam organisasi, partai politik, atau masyarakat normatif, dan sebagainya Al Quran Sebagai Pedoman dalam Pendidikan Karakter Pendidikan karakter dalam Islam lebih sering disebut dengan pendidikan akhlak. Bentuk jamak dari kata khulq adalah akhlak, sedangkan kata kerja khalaqa . masih satu rumpun dengan akar katanya. Hakikat jiwa . seseorang, menurut akar penciptaannya, adalah ahsanu taqwim . ebaik-baik Allah SWT menciptakan ruh manusia sesuai fitrahnya . itratallah allati fataran-nas Aoalaih. Oleh karena itu, berkarakter berarti berpikir, bertindak, dan berperilaku sesuai dengan kodratnya atau hati nurani. Akhlak dapat dicirikan sebagai watak, perangai, perilaku, atau sikap, bergantung pada konteksnya. Konsep akhlak dikembangkan sebagai sarana untuk menjalin interaksi positif antara manusia dengan Khaliq, dengan sesama makhluk, bahkan dengan alam dan hewan, sesuai dengan pesan Allah dalam Al-QurAoan dan hadis Nabi Muhammad saw. Akhlak merupakan ilmu yang mendefinisikan cara membedakan yang baik dan yang salah, serta mengatur cara berinteraksi antara makhluk dengan makhluk dan antara makhluk dengan Allah SWT. Ibnu Miskawaih mendefinisikan pendidikan akhlak sebagai kondisi jiwa yang membuat seseorang berperilaku tanpa harus berpikir terlebih dahulu. Ia menjelaskan bahwa jiwa manusia memiliki dua kecenderungan dominan: sifat buruk seperti pengecut, sombong, dan tidak jujur. serta sifat baik seperti keadilan, keberanian, amal, kesabaran, kejujuran, dapat dipercaya, dan kerja keras. Dengan demikian, pendidikan akhlak pada hakikatnya adalah upaya mengolah fitrah yang telah ada dalam diri manusia. Kriteria untuk menilai mana yang benar dan salah dalam pendidikan akhlak berlandaskan AlQurAoan dan hadis sebagai pedoman utama dalam Islam. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 02 Nomor 01 Juni 2025 | 78 Al-Ghazali, atau Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, juga menetapkan standar akhlak yang sejalan dengan pemikiran Ibnu Miskawaih, yaitu bahwa akhlak harus melekat dalam jiwa dan perbuatan harus muncul secara alami tanpa perlu pemikiran atau penelitian mendalam. Akhlak tidak hanya ditentukan oleh tindakan . iAo. , kekuatan . , atau pengetahuan . aAorifa. , tetapi lebih kepada kondisi batin . atau keadaan jiwa yang menetap dalam diri seseorang. Pembeda antara manusia dan makhluk ciptaan Allah yang lain adalah akhlak, karena dengan tidak adanya akhlak, maka manusia dipastikan kehilangan predikat sebagai makhluk Allah SWT yang derajatnya tertinggi bila diperbandingkan terhadap makhluk Allah SWT yang lain. Firman Allah SWT pada surat At-Tin: 4-6 Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah- rendahnya . Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh. bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. (QS. At Tin : 4-. Islam menganggap karakter dan akhlak memiliki peranan yang sangat urgen serta berfungsi bagi manusia untuk dijadikan pedoman bersosialisasi di lingkungan Surat Luqman ayat 17-18 dapat dijadikan landasan dalam pendidikan karakter. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah . mengerjakan yang baik dan cegahlah . dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan . leh Alla. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia . arena sombon. dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Luqman : 17-. Adapun dalil lainnya terdapat di dalam al Quran surat al Isra : 23, sebagai berikut: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. Al Isra : . endidikan karakter harus dimulai sedini mungkin, sebagaimana telah diajarkan dalam agama Islam. Rasulullah saw menjelaskan hal ini dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Al-Shalat. Bab Mata YuAomaru al-Ghulam bi al-Shalati, hadis nomor 494, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Hafidz Al-Mundziri dalam buku Mukhtasar Sunan Abi Dawud, 14 yang artinya: AuDari Amar bin SyuAoaib, dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata: Rasulullah saw Bersabda: Perintahlah anak-anakmu mengerjakan salat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan salat bila berumur sepuluh tahun, dan pisahlah tempat tidur mereka . aki-laki dan perempua. !Ay (HR. Abu Dawu. Pendidikan karakter disesuaikan dengan fase tumbuh kembang anak. Di dalam ajaran islam telah diuraikan tahapan-tahapan pendidikan karakter sesuai dengan usia perkembangannya, antara lain: Tauhid, 0-2 tahun : penanaman nilai tauhid menjadi hal yang paling utama di awal masa pertumbuhan anak. A Busroli. AuPendidikan Akhlak Ibnu Miskawaih dan Imam al-Ghazali dan Relevansinya dengan Pendidikan Karakter di Indonesia. Ay AT-Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam,10, no. 2 (November 2. : 71Ae94. H Al-Munzdiry. Mukhtasar Sunan Abi Dawud, (Surabaya: Asy- Syifa, 1. hlm Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 02 Nomor 01 Juni 2025 | 79 Adab, 5-6 tahun : berhubungan dengan sifat jujur, mengenalkan baik dan buruk, benar dan salah serta perintah dan larangan. Tanggung Jawab, 7-8 tahun : salah satu hal pokok yang perlu diajarkan. Peduli, 9-10 tahun : Sikap kepedulian akan muncul ketika anak telah mengembangkan rasa tanggung jawab, baik terhadap lingkungan maupun orang lain. Kemandirian, 11-12 tahun : Sikap mandiri telah terlihat di usia ini. Hal ini ditandai dengan siapnya mental anak dalam menerima risiko yang akan Bermasyarakat, 13 tahun : Pada kehidupan sehari-hari anak hendaknya mulai bisa bermasayarakat atau bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Berkaitan dengan tahapan perkembangan karakter, anak usia sekolah dasar umumnya melalui fase tanggung jawab . Ae8 tahu. , kepedulian . Ae10 tahu. , dan kemandirian . Ae12 tahu. Pada usia 7Ae8 tahun, anak mulai mengenal lingkungan baru di sekolah setelah sebelumnya hanya terbiasa dengan suasana rumah. Pada tahap ini, anak belajar menyesuaikan diri dan mulai memiliki rasa tanggung jawab terhadap peran barunya sebagai siswa, khususnya dalam belajar dan beradaptasi dengan iklim belajar yang baru. Memasuki usia 9Ae10 tahun, anak mulai mengembangkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Hal ini muncul sebagai hasil pertemuan dengan banyak orang dan pengalaman menghadapi berbagai situasi di sekitarnya, sehingga menumbuhkan rasa peduli terhadap orang lain dan kondisi lingkungan. Sementara itu, pada usia 11Ae12 tahun, anak mulai menunjukkan Masa ini menjadi tahap persiapan menuju jenjang sekolah lanjutan, di mana anak diharapkan mampu mengelola tanggung jawabnya sendiri dengan lebih KESIMPULAN Al-QurAoan memiliki pengaruh besar terhadap pendidikan karakter. Di dalam AlQurAoan terkandung banyak informasi mengenai pendidikan karakter, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pendidikan karakter merupakan upaya pembimbingan untuk menanamkan dan meningkatkan nilai-nilai moral yang mulai hilang dalam diri Dalam Islam, bentuk pendidikan karakter dikenal dengan istilah akhlak. AlQurAoan menegaskan bahwa pendidikan karakter sebaiknya dimulai sedini mungkin dalam diri seseorang. Hasil atau wujud implementasi pendidikan karakter yang sempurna dapat dilihat pada diri Nabi Muhammad saw, sebagaimana ditegaskan dalam Al-QurAoan bahwa beliau merupakan uswatun hasanah atau teladan yang baik bagi seluruh umat manusia. DAFTAR PUSTAKA