Jurnal Keperawatan Florence Nightingale (JKFN) Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2657-0548. DOI: 10. 52774/jkfn. Published by Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Stella Maris Makassar Research artikel https://doi. org/10. 52774/jkfn. Role of Self Concept Towards Emergency Nursing Competencies to Nursing Students in Indonesia Peran Konsep Diri Terhadap Penguasaan Kompetensi Keperawatan Gawat Darurat Pada Mahasiswa Keperawatan di Indonesia Erwin Yektiningsih1*. Zulvana2. Norma Risnasari3. Yeni Suryaningsih4. Dwi Rahayu5 1,2,5 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Pamenang Prodi Di-Keperawatan Universitas Nusantara PGRI Kediri Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember *Corresponding Author: erwiny. parefortune@gmail. Received: 28-08-2024. Revised: 26-11-2024. Accepted: 16-12-2024 ABSTRAK Mahasiswa keperawatan selama menempuh pendidikan memerlukan konsep diri positive merupakan kondisi psikologis sebagai motivasi internal untuk mendorong terbentuknya kinerja profesional kompetensi keperawatan gawat darurat. Berkembangnya konsep diri pada komponen peran yang mencakup persepsi individu terhadap kemampuan, kepercayaan diri berdampak pada terbukanya kesadaran diri untuk berperan profesional melakukan asuhan keperawatan di lingkungan kerja emergency secara adekuat. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara peran konsep diri dengan penguasaan kompetensi keperawatan gawat darurat pada mahasiswa keperawatan di Indonesia. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif desain cross-sectional dengan sample 576 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner mencakup peran konsep diri profesional concept self nursing dan penilaian kompetensi keperawatan gawat darurat berdasarkan Assosiasi Institusi Pendidikan Vokasi Indonesia Keperawatan Indonesia dan Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia. Hasil penelitian ini terdapat hubungan signifikan dengan nilai A value 0,000 . = 0,534**). Penelitian ini memberikan implikasi bagi pengembangan kurikulum keperawatan di Indonesia untuk lebih menekankan aspek pengembangan kesiapan mental konsep diri sebagai bagian integral dari pendidikan keperawatan, melalui konseling, pelatihan intensif, dan pemberian umpan balik konstruktif dengan bimbingan profesional dapat berkontribusi pada peningkatan kesiapan mahasiswa dalam menghadapi tantangan dalam praktek klinik keperawatan kegawatdarutan. Kata Kunci: mahasiswa. konsep diri ABSTRACT During education, nursing students need a positive self-concept as a psychological condition as an internal motivation to encourage the formation performance professionals in emergency nursing competencies. The development of self-concept in role component includes individual perceptions ability, and self-confidence has an impact commencement of selfawareness to a professional role in nursing care in emergency work environment adequately. This study aimed analyze correlation between the role of self-concept and emergency nursing competencies to nursing students in Indonesia. Research method used a quantitative approach cross-sectional design with samples of 576 people. Data collection was a questionnaire covering the role of the professional concept self-nursing and emergency nursing competencies assessment based on Association of Nursing Vocational Education Institutions Indonesian and Association of Indonesian Nursing Education Institutions. This study results showed a significant correlation with A value of 0. = 0. 534**). This study will provide implications development nursing curricula in Indonesia and emphasize more aspect developing mental readiness of self-concept as an integral part of nursing education, counselling, intensive training, and providing constructive feedback with professional guidance can contribute to increasing student readiness in facing challenges emergency nursing clinical practice. Keywords: students, nursing, role, self-concept This is an open access article under the CC BY-SA license. PENDAHULUAN Pertumbuhan Profesi Keperawatan merupakan peran keperawatan dalam sistem kesehatan terus berkembang di Indonesia, dengan kebutuhan akan perawat yang memiliki kompetensi dalam situasi darurat semakin penting. Maka semenjak masa kuliah di institusi pada mahasiswa keperawatan diperlukan Yektiningsih et al Jurnal Keperawatan Florence Nightingale. Vol. No. Desember . : pp. mempersiapkan diri dengan baik pada berbagai aspek kemampuan kompetensi seperti pengetahuan, keterampilan,dan sikap yang tepat dalam melakukan asuhan keperawatan secara profesional dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia (Trisyani et all. , 2. Kandidat perawat yang memiliki peran yang penting dalam mengidentifikasi kebutuhan klinis yang mendesak dan mendalam dalam situasi gawat darurat di lingkungan klinis (Nursalam et al. , 2. Maka mereka diperlukan menguasai kompetensi di salah satu mata kuliah keperawatan yang urgent dan penuh tantangan selama menempuh pendidikan dalam mata ajar asuhan keperawatan kegawatdaruratan di lingkungan kerja emergency seperti memahami fungsi diagnostik, pemberian intervensi terapeutuk, manajemen efektif, pengorganisasian peran kerja, dan peran penolong (Feri et al. , 2. Terdapat beberapa kompetensi asuhan keperawatan kegawatdaruratan yang harus di kuasi oleh kandidat perawat seperti mengenali tanda-tanda vital yang tidak stabil, menganalisis informasi pasien dengan cepat, dan merencanakan intervensi yang sesuai merupakan bagian penting dari penguasaan kompetensi kegawatdaruratan (Trisyani et all. , 2. Setelah pasien dalam situasi darurat teratasi, mahasiswa keperawatan perlu melakukan evaluasi terhadap tindakan mereka dan belajar dari pengalaman tersebut. Hal ini mencakup refleksi terhadap keputusan dan tindakan yang diambil, serta identifikasi area di mana peningkatan keterampilan dan pengetahuan diperlukan untuk meningkatkan respons terhadap situasi darurat dengan tetap memperhatikan komptensi pemenuhan Kebutuhan dasar pasien seperti Asepsis. Activity and Exercise. Health Assessment,Medications. Fluid. Electrolyte, & Acid-Base Balance. Safety. Hygiene. Pain Management. Perioperative Nursing. Oxygenation. Nutrition. Wound Care. Diagnostic Testing. Elimination (Molanida et al. , 2. Pada mahasiswa tersebut diperlukan penguasaan secara teknis ketrampilan yang tepat dan cepat, yang kecenderungan dapat dipengaruhi oleh unsur psikososial untuk kompetensi keperawatan kegawat daruratan tersebut secara maksimal selama proses pembelajaran, dimana terdapat hubungan yang signifikan antara self efficacy terhadap kecemasan mahasiswa selama melakukan kompetensi asuhan kegawatdarutan di masa post pandemic Covid-19 (Yektiningsih et al. Mahasisawa selama menempuh pendidikan dapat dipengaruhi faktor psikologi self efficacy merupakan keyakinan mengenai kemampuan diri sendiri untuk meraih kesuksesan, kecenderungan berkaitan dengan suatu tantangan peran sebagai mahasiswa yang harus diselesaikan semua beberapa tugas belajar dapat di kerjakan dengan baik supaya mencapai standar kelulusan (Alavi, 2. Dimana individu yang sudah memahami konsep peran yang merupakan bagian dari konsep diri dapat mempengaruhi sikap dalam Maka terdapat hubungan yang kuat antara konsep diri yang kuat dan sikap yang positif dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk memperoleh dan mempertahankan keterampilan yang diperlukan dalam profesi keperawatan. Hal tersebut dikarenakan bahwa sebuah konsep peran dapat merujuk pada persepsi individu tentang diri mereka sendiri, termasuk penilaian terhadap kemampuan, keterampilan, dan identitas profesional mereka sebagai calon perawat untk dapat berperilaku sesuai standar kelulusan sebagai perawat profesional (Galindri. Alifia Maulita, 2. Tantangan pendidikan keperawatan dalam membentuk tenaga profesional dalam praktik keperawatan kegawatdaruratan memerlukan respons yang cepat, tepat, dan terampil. Maka Mahasiswa perlu mengembangkan sikap yang positif terhadap pembelajaran kompetensi kegawatdaruratan agar dapat memenuhi tuntutan profesional tersebut (Trisyani et al. , 2. Lingkungan pembelajaran di pendidikan keperawatan memiliki peran penting dalam membentuk konsep diri dan sikap mahasiswa seperti kurikulum, metode pembelajaran, pengalaman klinis, dan dukungan sosial dapat memengaruhi persepsi mahasiswa terhadap diri mereka sendiri sebagai calon perawat dan sikap mereka terhadap pembelajaran kompetensi kegawatdaruratan (Nursalam et al. , 2. Oleh Karen itu pada mahasiswa keperawatan selama proses menempuh pendidikan diperlukan evaluasi setelah melakukan pembelajaran kegawatdauratan dengan cara memberikan kesempatan untuk merefleksikan diri terhadap keputusan dan tindakan yang diambil, serta identifikasi area di mana peningkatan keterampilan dan pengetahuan diperlukan untuk meningkatkan respons terhadap situasi darurat di masa post pandemi, berdasarkan hasil survey pada mahasiswa keperawatan didapatkan hasil pada kompnen self efficacy dengan katagori kurang sebesar kurang 15,8% dan mengalami tingkat kecemasan pada tingkat sedang 10,6%, dan berat 2,6% (Yektiningsih et al. , 2. Jika mahasiswa mengalami permasalahan psikologis selama proses pembelajaran dapat mempengaruhi kuwalitas lulusan yang menurun yang berdampak pada masalah lulusan yang kurang kompeten kurang diminati di pasar kerja , sehingga dapat meningkatkan angka pengangguran lulusan sarjana keperawatan (Mutiawanthi, 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran konsep diri terhadap penguasaan kompetensi keperawatan gawat darurat pada mahasiswa keperawatan di Indonesia. Maka sangat diperlukan penelitian lebih lanjut dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam dan membantu meningkatkan kualitas pendidikan dan praktik keperawatan di masa depan. Maka terdapat manfaat dilakukan penelitian ini adalah untuk memahami mengenai peran yang merupakan salah satu bagian dari konsep diri dalam penguatan kesehatan mental pada peserta didik dapat mempengaruhi dalam konteks proses pembelajaran kompetensi kegawatdaruratan yang memerlukan kecekatan ketrampilan yang maksimal untuk meningktkan kesehatn Yektiningsih et al Jurnal Keperawatan Florence Nightingale. Vol. No. Desember . : pp. klien yang kritis. Sehingga pendidik dan pengelola program keperawatan dapat merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif dan mendukung untuk membantu mahasiswa mengembangkan keterampilan dan sikap yang diperlukan dalam praktik keperawatan darurat. Terdapat efek mahasiswa keperawatan diharapkan supaya dapat mengembangkan keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang diperlukan untuk menjadi perawat yang kompeten dan efektif dalam merespons keadaan darurat yang mungkin mereka hadapi di praktik profesional mereka menjadi nilai tambah sebagai sumber daya tenaga kesehatan perawat yang berkualitas dan handal sangat diperlukan di lingkungan kerja. METODE PENELITIAN Penelitian ini berbentuk kuantitatif dengan pendekatan cross sectional yang dilaksanakan pada prodi keperawatan sebanyak 11 Institusi Keperawatan di Indonesia pada bulan Februari sampai Maret 2024. Responden pada penelitian ini adalah mahasiswa keperawatan di Indonesia. Jumlah populasi berdasarkan Pangkalan data Pendidikan Tinggi (PDDikt. tahun 2024 sebanyak 1495001 orang. Subyek penelitian yaitu mahasiswa keperawatan di jenjang Diploma i. Strata S1 serta Profesi Ners di Indonesia dengan perhitungan sample rumus menurut Slovin yaitu n = N/1 N . , terdapat keterangan besar sample . , besar populasi (N) serta tingkat kepercayaa 0. (Sugiyono, 2. Sehingga perhitungan jumlah sample minimal yaitu n = 149500/1 149500 . didapatkan hasil 400 orang. Tetapi responden sebagai sample yang berpartisipasi mengisi kuisioner didapatkan lebih besar dari perhitungan tersebut sebesar 576 orang dilakukan secara puposive sampling. Kriteria inklusi mahasiswa keperawatan di semester akhir yang telah mendapatkan materi kegawatdaruratan dan telah melakukan kegiatan praktek klinik di pelayanan kesehatan dengan kompetensi kegawtdaruratan yang masih aktif menempuh pendidikan. Sedangkan kriteria ekslusi tidak kooperatif dan tidak berkenan mengisi kuisioner. Instrumen penelitian didapatkan dari instrument baku yang telah dimodefikasi adalah komponen peran dari konsep diri dari Profesional Concept Self Nursing yang menggunakan 20 pertanyaan dengan skala likert digunakan empat . pilihan jawaban seperti tidak pernah, kadang-kadang, sering, sangat sering, dengan pengkatagorian baik, cukup, kurang (Jeong, 2. Instrumen tersebut memiliki nilai reabilitas dan validitas Cronbach's alpha = 0. 983, r= 0. Instrumen penguasaan kompetensi keperawatan gawat darurat berdasarkan jenjang pendidikan responden bagi Diploma i menggunakan Assosiasi Institusi Pendidikan Vokasi Indonesia Keperawatan Indonesia (Kelompok Kerja AIPViKI, 2. Sedangkan bagi Strata S1 serta Profesi Ners digunakan Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia yang digunakan sebanyak 10 pertanyaan dengan skala likert sejumlah empat . pilihan jawaban yaitu tidak pernah, kadang-kadang, sering, sangat sering, dengan pengkatagorian baik, cukup, kurang (Haryanti et al. , 2. Instrumen tersebut memiliki nilai reabilitas serta validitas yaitu Cronbach's alpha = 0. 947, r= 0. Pengambilan data dilakukan dengan tehnik kuesioner melalui daring di tautan link google form. Data yang terkumpul selanjutnya diolah, ditabulasi dan dilakukan analisis univariat untuk data demografi Sedangkan data di analisis menggunakan Spearman-rho menggunakan software IBM SPSS Statistics 24. Penelitian ini telah dikaji sekaligus disetujui ethical clearance dari dari Komite Etik Penelitian Kesehatan Universitas Muhammadiyah Gombong Jawa Tengah yang bernomerkan 235. 6/II. HASIL Berikut ini akan di uraikan menegai hasil penelitian mengenai hubungan peran konsep diri terhadap penguasaan kompetensi keperawatan gadar pada mahasiswa keperawatan di Indonesia, disajikan sebagai Tabel 1. karakteristik responden (N= . Karakteristik Jenis kelamin Perempuan Laki-laki Program Studi Keperawatan Diploma D-i Sarjana S1 Profesi Berdasarkan tabel 1, diketahui bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan 9%, yang masih menempuh pendidikan keperawatan di jenjang prodi Diploma i Keperawatan Yektiningsih et al Jurnal Keperawatan Florence Nightingale. Vol. No. Desember . : pp. Tabel 2 distribusi frekuensi pada beberapa indikator pada responden . N= 576 Variabel Peran Kurang Cukup Baik Penguasaan kompetensi keperawatan gadar Kurang Cukup Baik Tabel 2, diketahui reponden yang mengikuti penelitian ini sebagian besar mempunyai peran di tingkat cukup sebesar 51%, kemampuan pengusaan kompetensi keperawatan kegawatdaruratan di tingkat cukup sebesar 67%. Table 3. Pengaruh peran terhadap kompetensi keperawatan kegawatdaruratan . = . Penguasaan kompetensi keperawatan gadar Total Baik Cukup Kurang Peran A value Baik Cukup Kurang Total 0,534** Tabel 3 menyajikan perbedaan rerata variabel prediktor antara peran terhadap penguasaan kompetensi keperawatan gadar berkorelasi signifikan dengan nilai A value 0,000 . = 0,534**) yang menunjukkan arah positif dengan kekuatan asosiasi yang kuat antar variabel. Hal ini menunjukkan bahwa semakin kuat korelasi mahasiswa keperawatan dengan memiliki peran konsep diri yang kuat maka semakin kuat dalam penguasaan kompetensi keperawatan gadar. Hasil analisis lebih lanjut terkait tingkat peran dan penguasaan kompetensi keperawatan gadar pada mahasiswa keperawatan menunjukkan bahwa memiliki kategori cukup sebanyak 227 orang. DISKUSI Berdasarkan analisis penelitian terdapat hubungan antara peran konsep diri dengan kemampuan melakukan kompetensi keperawatan kegawatdaruratan. Hal tersebut juga di dukung beberapa hasil penelitian dari Tri Hartiti . menyatakan bahwa mahasiswa diharapkan selama proses pedidikan memiliki konsep diri yang kuat sebagai calon perawat yang mampu mengatasi tantangan dan situasi darurat di tempat kerja merupakan aspek penting dalam proses adaptasi pembentukan profesional perawat yang menyebabkan stress. Mahasiswa keperawatan selama melakukan pembelajaran praktek klinik keperawatan gawat darurat di pelayanan kesehatan memiliki pengalaman nyata dalam melakukan tindakan darurat. Sehingga mereka diharapkan mampu bertindak dengan cepat dan efektif dalam situasi kondisi darurat untuk mengatasi masalah kesehatan yang mengancam jiwa pada kliennya. Adapun mahasiswa diharuskan menguasai kompetensi asuhan keperawatan kegawatdarutan yang mencakup keterampilan dalam memberikan resusitasi jantung paru, menghentikan perdarahan, menstabilkan pasien yang mengalami syok, dan memberikan pertolongan pertama pada cedera fisik atau medis (Nur Chayati. Arianti, 2. Dimana tindakan asuhan keperawatan kegawatdarutan memiliki kaitan erat dengan ketegangan psikologis seperti stress kerja yang tinggi dikarenakan lingkungan kerja yang lebih meneganggkan dan penuh tekanan psikologis, beban kerja yang tinggi, tanggung jawab besar, interaksi dengan pasien dan keluarga, lingkungan kerja tidak stabil (Ramadini & Syafitri, 2. Kurang terbentuknya peran konsep diri dapat menyebabkan kegagalan dalam beradaptasi terhadap kondisi stress di lingkungan kerjai unit gawat darurat, jika tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan burnout yang berdampak pada penurunan kulitas konsentrasi belajar, mempengaruhi kesehatan mental dan fisik sehingga mempengaruhi kinerja dapat menurun (Local et , 2. Terdapat pendekatan pendidikan keperawatan di Indonesia dapat ditingkatkan untuk mempersiapkan mahasiswa secara optimal dalam praktik klinik keperawatan dengan memahami hubungan antara kondisi psikologis peserta didik dalam konsep diri, sikap untuk penguasaan kompetensi keperawatan kegawatdaruratan (Galindri. Alifia Maulita, 2. Dengan demikian mahasiswa dapat melakukan asuhan Yektiningsih et al Jurnal Keperawatan Florence Nightingale. Vol. No. Desember . : pp. keperawatan secara professional. Dipengaruhi oleh enam faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap individu terhadap stimulus yang didapatnya seperti pengalaman, narasumber terpercaya, kebudayaan, media massa, lembaga pendidikan, emosional (Nafiati, 2. Hal tersebut mendapatkan dukungan dari penelitian Jahromi et al . yang menjelaskan mengenai sikap individu merupakan reflek dari respon individu terhadap stimulus yang melibatkan pendapat serta emosi. Emosi ini mempengaruhi kesiapan diri mahasiswa keperawatan seperti pemahaman konsep peran konsep diri yang positif untuk belajar lebih baikselama proses menempuh pendidikan. Dimana konsep peran dalam konsep diri berkaitan dengan cara memandang diri sendiri dan kemampuan yang dimiliki, sangat penting dalam kesiapan mental untuk menentukan keputusan karir dimasa depan. Pemahaman mengenai peran konsep diri selama proses pendidikan keperawatan didapatkan dari lingkungan kuliah dan praktek klinik di fasilitas kesehatan secara langsung sehingga mahasiswa dapat merasakan dan mendengar pengalaman yang jelas dan realistis mengenai kesulitan, pengetahuan, atau saran dari perawat di bidang klinis (Ghadirian et al. , 2. Mahasiswa perawat mendapatkan manfaat yang banyak selama melakukan praktek klinik di fasilitas kesehatan dapat memiliki gambaran kerja masa depan yang nyata dengan melakukan sharing dengan narasumber profesional dari tim kesehatan, sehingga dapat mengupayakan beradapatasi dalam proses peran menjadi perawat profesional yang dapat bekerja bersama klien untuk mengatasi masalah kesehatan klien (Ghadirian et al. , 2. Sehingga mereka selama belajar di fasilitas kesehatan dapat melakukan perannya sebagai kandidat perawat profesioanal yang bekerja secara tim di pelayanan kesehatan dalam menjalankan tugasnya untuk melakukan asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, menetapkan permasalahan keperawatan, merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi pelayanan keperawatan dan mengelola kasus dengan bimbingan langsung dari perawat yang sudah berpengalaman. Dimana mahasiswa selama praktek klinik di pelayanan kesehatan bekerja sama dengan beberapa tim rekan kerja sesuai dengan kedudukannya yang bekerja secara profesional yang melakukan tugasnya sesuai standar operasional di tempat kerja yang saling bekerjasama untuk menjaga kesehatan psiennya (Sabanciogullari & Dogan, 2. Maka mahasiswa perawat juga diharuskan mampu menguasai skill berkomunikasi yang efektif dan kolaborasi yang baik dengan anggota tim kesehatan lainnya walau dalam situasi darurat. Sehingga mahasiswa keperawatan harus dapat bekerja sama dengan perawat lainnya, dokter, petugas medis darurat, dan profesional kesehatan lainnya untuk memberikan perawatan yang terkoordinasi dan holistik kepada pasien dalam situasi darurat sehingga didapatkan pelayanan kesehatan yang paripurna dan kepuasan bagi klien ( Yektiningsih et all. , 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, terdapat hubungan peran konsep diri terhadap penguasaan kompetensi keperawatan gawatdarurat pada mahasiswa keperawatan di Indonesia. Dengan demikian untuk meningkatkan penguatan motivasi internal peran konsep diri pada mahasiswa keperawatan yang akan melakukan kegiatan praktek klinik keperawatan gawat darurat diperlukan dengan berbagai pembekalan praktek dengan dukungan psikologis dengan pemberian materi penguatan mental peran konsep diri positif dapat menjadi sumber keyakinan diri yang kuat dalam beradaptasi dengan stress ketegangan selama aktivitas belajar asuhan kegawatdarutan di fasilitas kesehatan. Sehingga mahasiswa lebih kondusif dan siap dalam menghadapi dunia praktek klinik. REFERENSI