Masyarakat Berdaya dan Inovasi , 2024, 31-38 Available online: https://mayadani. org/index. php/MAYADANI Peningkatan Pengetahuan Anak tentang Pencegahan Stunting dengan Metode Photovoice Evi Supriatuna1, a. Marsono1,b. Nafisah Itsna Hasni1,c Politeknik Negeri Indramayu Ae Jalan Lohbener Lama No. Lohbener. Indramayu evisupriatun@polindra. id *, bmarsono21@polindra. id , cnafisahitsna@polindra. Abstrak Stunting merupakan gangguan pertumbuhan pada anak yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis, yang ditandai oleh tinggi atau panjang badan di bawah normal. Kasus stunting yang masih cukup tinggi di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya faktor sosial ekonomi dan kurangnya pengetahuan tentang upaya pencegahan stunting. Untuk kasus stunting yang terjadi di Kecamatan Kroya Kabupaten Indramayu pada tahun 2023 sebanyak 28 kasus stunting dan gizi kurang. Namun, sebagian besar masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut, khususnya Desa Temiang di wilayah Panti Saung Sahabat Anak, masih belum mengetahui upaya-upaya pencegahan stunting pada anak. Masyarakat di wilayah tersebut juga mengalami keluhan cara untuk meningkatkan asupan nutrisi pada anak dan dampaknya terhadap pertumbuhan anak. Sebagai solusi membantu permasalahan tersebut, edukasi kesehatan tentang stunting dengan metode Photovoice diberikan kepada anak-anak di sekitar Panti Saung Sahabat Anak Indramayu. Kegiatan tersebut bertujuan agar anak-anak memahami terkait dengan stunting dan dampaknya pertumbuhan serta upaya mencegah stunting pada anak-anak dengan memahami gaya hidup yang sehat dan asupan nutrisi yang sehat untuk perbaikan gizi pada anak. Hasil dari kegiatan edukasi kesehatan ini berupa meningkatnya pengetahuan anak tentang stunting dan tersedianya booklet pencegahan stunting dengan materi yang mudah dipahami. Kata Kunci: Stunting. Photovoice. Edukasi Kesehatan. Gizi Abstract Stunting is a growth disorder in children caused by chronic malnutrition, characterized by under-normal height or length. The high number of stunting cases in Indonesia is caused by several factors, including socioeconomic factors and lack of knowledge related to stunting prevention efforts. Stunting cases occurred in Kroya District. Indramayu Regency in 2023, 28 cases of stunting and malnutrition was found. However, most of the people living in the area, especially Temiang Village in the Panti Saung Sahabat Anak area, still did not know the efforts to prevent stunting in children. In addition, people in the area also experience complaints about how to increase nutritional intake in children and its impact on child growth. As a solution to resolve these problems, health education about stunting using the Photovoice method was provided for the children around Panti Saung Sahabat Anak Indramayu. Its activity aims to make them understand related to stunting and its impact on growth and efforts to prevent stunting in children by understanding a healthy lifestyle and healthy nutritional intake for improved nutrition in children. The results of this health education activity are increased children's knowledge about stunting and the availability of stunting prevention booklets with easy-to-understand material. Keywords: Stunting. Photovoice. Health Education. Nutrition This is an open access article under the CCAeBY-SA license. PENDAHULUAN Stunting merupakah permasalahan gizi yang dialami oleh anak-anak yang menyebabkan hambatan pertumbuhan secara fisik dan termanifestasi klinik dengan kurangnya tinggi badan anak https://doi. org/10. 33292/mayadani. info@mayadani. Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 5 . , 2024 dibandingkan dengan nilai normalnya. Permasalahan kekurangan gizi tersebut terjadi di beberapa wilayah di Indonesia dengan karakteristik dan daerah yang memiliki hambatan secara ekonomi dalam pemenuhan gizi pada anak-anak selama masa pertumbuhan (Martony, 2. Selain itu, kurangnya pemanfaatan sumber daya dan minimnya identifikasi peluang-peluang pemenuhan kebutuhan dari sumber daya yang dimiliki menjadi faktor-faktor yang berkontribusi dalam angka kejadian stunting yang semakin meningkat di beberapa wilayah di Indonesia (Handayani. Huriyati, & Hasanbasri, 2. Prevalensi stunting yang terjadi Indonesia masih cukup tinggi, meskipun sudah mengalami Angka kejadian stunting yang terjadi pada tahun 2017 sebesar 26,6%. Dimana persentase tersebut mencakup 9,8% yang masuk dalam kategori sangat pendek dan 19,8% termasuk kelompok kategori pendek. Berdasarkan data dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), kasus stunting di Indonesia pada tahun 2021 sebesar 24,4%, kemudian turun menjadi 21,6% pada tahun 2022 (Kemenkes RI, 2. Adapun prevalensi kejadian stunting di Kabupaten Indramayu pada tahun 2020, balita dengan kondisi gizi yang kurang sebanyak 5. 218 anak . ,2%), balita pendek atau kondisi stunting sebanyak 8. 175 anak . ,6%) dan balita kurus sebanyak 6. 562 anak . ,3%). Untuk pendataan di Kecamatan Kroya sendiri terdapat 28 kasus dengan stunting dan gizi kurang (Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, 2. Kasus stunting yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor, baik yang berasal dari orang tua anak maupun kondisi sosial ekonomi bahkan budaya dari wilayah tertentu (Ginting & Hadi. Faktor yang berasal dari orang tua diantaranya pendidikan ibu yang rendah sehingga mempengaruhi kurangnya informasi tentang upaya pencegahan stunting yang dapat dilakukan sejak remaja sampai dengan kehamilan dan perawatan anak agar terhindar dari bahaya kekurangan gizi. Selain itu, kondisi sosial ekonomi suatu masyarakat juga menjadi faktor yang mempengaruhi kejadian stunting pada anak. Hal tersebut berkaitan dengan kemampuan pemenuhan gizi pada yang tidak memenuhi kebutuhan pertumbuhan yang optimal pada anak (Prabowo & Peristiowati, 2. Hasil survey, menunjukkan bahwa Panti Saung Sahabat Anak Indramayu yang berlokasi di Desa Temiang Kecamatan Kroya Kabupaten Indramayu, merupakan salah satu pusat penyelenggaraan pendidikan non formal. Panti tersebut berkerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Kabupaten Indramayu memajukan pendidikan dan sumber daya masyarakat sekitar termasuk permasalahan gizi pada anak-anak di sekitar Desa Temiang. Dalam pelaksanaan kegiatannya. Panti Saung Sahabat Anak yang menjadi mitra pengabdian masyarakat selalu menggunakan sumber daya dari masyarakat sekitar seperti tenaga pengajar untuk mengajarkan materi-materi untuk anak-anak. Kegiatan edukasi kesehatan yang berkaitan dengan stunting pada anak yang pernah dilakukan oleh Hambali & Thahir . melakukan edukasi dengan metode ceramah dan hanya menekankan tentang pentingnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat pada anak sebagai salah satu upaya untuk mencegah terjadi stunting pada anak. Metode ceramah juga diterapkan oleh Sasongko. Suryadana. Fauzan. Almira. Nuariputri, & Dewi . pada kegiatan edukasi kesehatan yang diberikan kepada masyarakat tentang pencegahan stunting. Berbeda dengan kedua kegiatan edukasi kesehatan sebelumnya, tim pengabdian masyarakat menggunakan metode photovoice dalam memberikan informasi kesehatan pada anak-anak tentang stunting. Tremblay. Kingsley. Gokiert. Blums. Mottershead & Pei . menggunakan metode photovoice sebagai metode promosi kesehatan pada anak-anak. Penggunaan metode phovoice dinilai sebagai metode yang inovasi dalam pemberian edukasi kesehatan. Dengan menggunakan metode photovoice menjadi sarana dalam melakukan diskusi dengan anak secara aktif. Anak memiliki kesempatan yang sama dalam menyampaikan pendapatnya melalui gambar yang digunakan sebagai sarana dalam metode photovoice. Berkaitan dengan hal tersebut, tim pengabdian kepada masyarakat menggunakan metode photovoice dalam edukasi kesehatan stunting, dengan tujuan agar memberikan kemudahan pemahaman anak-anak di Panti Sahabat Anak Indramayu dalam memahami tentang materi pencegahan stunting. Selain itu, diharapkan anak-anak mampu mengaplikasikan materi yang telah diajarkan sebagai upaya pencegahan stunting pada anak. Luaran kegiatan edukasi kesehatan tentang Copyright A 2024. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 5 . , 2024 stunting ini yaitu booklet pencegahan stunting dengan gambar yang menarik untuk anak-anak dan dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami. METODE Dalam pelaksanaan kegiatan edukasi kesehatan tentang pencegahan stunting pada anak, dilakukan dari tahap awal pendataan terlebih dahulu kemudian dilanjutkan perencanaan, implementasi dan terakhir tahap evaluasi. Pada tahap Pengkajian, tim pengabdian kepada masyarakat melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu untuk mengetahui prevalensi dan permasalahan stunting di Kabupaten Indramayu. Selain itu, koordinasi juga dilakukan dengan Ketua Panti Saung Sahabat Anak Indramayu terkait dengan kondisi masyarakat di sekitar Desa Temiang Kecamatan Kroya Kabupaten Indramayu. Selanjutnya dilakukan pengukuran tingkat pengetahuan anakanak Panti Saung Sahabat Anak tentang Pencegahan Stunting. Gambar 1. Metode Pelaksanaan Edukasi Kesehatan tentang Pencegahan Stunting Tahap perencanaan dilakukan dengan merumuskan bersama terkait pelaksanaan promosi kesehatan untuk membantu meningkatkan pengetahuan anak-anak dengan menggunakan metode yang menarik dan menstimulasi keaktifan anak-anak dalam proses edukasi kesehatan tentang pencegahan Pada tahap perencanaan juga dibagi peran dan tugas dari masing-masing anggota tim pengabdian masyarakat sehingga dapat memaksimalkan hasil edukasi kesehatan yang dilakukan. Selanjutnya tim pengabdian kepada masyarakat menyusun materi yang diperlukan dengan metode photovoice sehingga anak-anak leih mudah memahami materinya. Pada tahap yang ketiga yaitu tahap Implementasi. Pada tahap Implementasi, dilakukan edukasi kesehatan dengan metode photovoice dan simulasi nutrisi sehat. Proses pelaksanaan edukasi kesehatan yang diberikan kepada anak harus dilakukan perencanaan dengan baik mengingat beberapa aspek penting yang harus diperhatikan kepada anak diantaranya mengantisipasi agar anak merasa tidak lelah. Untuk mengantispasi hal tersebut, maka pemateri perlu memberikan ice breaking atau jeda sebelum materi dimulai dan di tengah-tengah proses edukasi kesehatan dengan beberapa permainan yang Abma. Breed. Lips, & Schrijver . menjelaskan bahwa dalam edukasi kesehatan pada anak dengan menggunakan metode photovoice, secara teknis dapat dilakukan dengan cara meminta anak menceritakan apa yang dilihat pada gambar. Jika sudah, maka pemateri akan melanjutkan bertanya, apa yang dilakukan jika anak berada dalam situasi seperti pada gambar. Edukasi kesehatan selanjutnya dilakukan dengan melakukan simulasi makanan yang sehat yang mengandung protein, vitamin dan serat agar kebutuhan gizi terpenuhi. Tahap terakhir merupakan evaluasi, dimana tim melakukan evaluasi dari kegiatan edukasi kesehatan pencegahan stunting pada anak. Kegiatan evaluasi ini dilakukan dengan mengetahui respon dari anak-anak terkait dengan pemahaman pencegahan stunting dan simulasi nutrisi sehat. Setiap anak diberikan kesempatan yang sama untuk menjawab pertanyaan. Tim pengabdian juga memberikan apresiasi kepada seluruh peserta yang mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir kegiatan dengan memberikan bingkisan berupa alat-alat tulis. Copyright A 2024. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 5 . , 2024 HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan edukasi kesehatan yang telah dilakukan di Panti Saung Sahabat Anak Desa Temiang Kecamatan Kroya Kabupaten Indramayu. Jumlah peserta kegiatan berjumlah 50 anak yang diikuti oleh orang tua yang berada di sekita Panti Saung Sahabat Anak. Berdasarkan dari jumlah peserta yang hadir diketahui bahwa terdapat beberapa kelompok usia anak meliputi anak pra sekolah, anak usia sekolah dan usia remaja. Berikut diagram sebaran usia peserta kegiatan edukasi kesehatan: Gambar 2. Diagram berdasarkan Usia Peserta Kegiatan Edukasi Kesehatan Stunting Anak-anak usia pra sekolah, anak usia sekolah dan anak remaja memiliki karakteristik yang berbeda dalam menangkap informasi yang diberikan. Dengan keaktifannya, anak-anak pra sekolah sangat aktif dalam berpartisipasi dalam kegiatan edukasi. Adapun usia sekolah dan remaja memiliki karakteristik memiliki kematangan dalam konsentrasi da fokus saat pemberian informasi yang disampaikan (Rokhmayanti. Astuti & Martini, 2. Sebelum diberikan edukasi kesehatan tentang stunting, sebagian besar anak masih belum memahami tentang kondisi stunting yang dialami anak-anak. Bahkan masih belum memahami terkait dengan penyebab dan dampaknya pada pertumbuhan serta perkembangan anak. Pentingnya pengukuran pengetahuan anak sebelum diberikan edukasi kesehatan, untuk mengetahui sejauh mana informasi yang diketahui anak dan penerapan teknik edukasi kesehatan yang dilakukan. Berikut hasil pre test tentang stunting yang dikerjakan oleh anak-anak Panti Saung Sahabat Anak: Gambar 3. Diagram Skor Pengetahuan Anak tentang Stunting Sebelum Diberikan Edukasi Kesehata Pencegahan Stunting Berdasarkan diagram tersebut diketahui bahwa skor pengetahuan anak-anak sebelum diberikan edukasi kesehatan tentang stunting bervariasi, dimana terdapat yang skornya sangat rendah sampai dengan nilai tertinggi di skor 5. Amalia & Putri . menjelaskan bahwa seseorang jarang terpapar informasi kesehatan pada umumnya berasal dari kelompok anak-anak, sehingga pendidikan non formal perlu dilakukan agar anak-anak mendapatkan infomasi kesehatan dalam suatu wadah pendidikan yang Hal tersebut menjadi faktor pendorong, anak-anak perlu diberikan informasi terkait tentang gizi sehingga anak-anak juga dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan asupan gizi yang baik. Copyright A 2024. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 5 . , 2024 Gambar 4. Pembukaan Kegiatan Edukasi Kesehatan Pencegahan Stunting Pemberian edukasi kesehatan pada anak sangat diperlukan agar meningkatkan informasi kepada anak tentang salah satu pola hidup bersih dan sehat yaitu mengkonsumsi makanan yang sehat. Melalui tujuan tersebut, anak-anak belajar mengidentifikasi apa saja yang dimaksud makanan yang bergizi dengan kandungan gizinya dan alasan mengapa suatu makanan dikatakan kurang baik untuk Dengan metode photovoice. Pemateri menggunakan gambar untuk menstimulasi anakanak dengan keingintahuan yang tinggi, untuk mengetahui makanan yang mengandung nilai gizi pada makanan yang ada di sekitarnya dengan harga yang terjangkau. Selain itu, anak-anak juga mampu mengidentifikasi makanan yang tidak baik untuk kesehatannya walaupun mereka sangat menyukainya. Namun, melalui gambar, anak-anak menyampaikan alasan mengapa suatu makanan menjadi tidak bergizi karena memiliki kandungan zat kimia yang tinggi yang dapat dilihat dari warna dan zat pengawet pada makanan. Gambar 5. Proses Pemberian Edukasi Kesehatan dengan Metode Photovoice Anak usia sekolah memiliki kesesuaian dengan penggunaan metode photovoice sebagai salah satu metode yang digunakan dalam edukasi kesehatan. Hal tersebut dikarenakan dengan menggunakan metode photovoice, anak-anak memiliki stimulasi untuk menyimak materi dari titik fokus pandangannya yang dipusatkan pada gambar. Herrick. Lawson & Matewos . juga menegaskan bahwa melalui pandangan matanya, anak-anak mampu mengeksplorasi dan meningkatkan pengetahuannya. Gambar 6. Keseruan Ketika Edukasi Kesehatan Stunting dengan Metode Photovoice Copyright A 2024. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 5 . , 2024 Dimana hal tersebut dapat ditemui pada metode edukasi photovoice, anak-anak mampu merefleksikan apa saja yang dialaminya melalui suatu gambar yang dilihatnya. Anak-anak dapat mempresentasikan adanya perbedaan antara teori dari materi yang disampaikan dengan hal-hal yang pernah dialaminya. Hal tersebut menjadinya anak-anak memiliki perspektif tersendiri tentang suatu hal baik yang seharusnya dilakukan dalam kehidupannya. Dengan menggunakan metode photovoice, anakanak akan mengetahui apa yang dirasakan dan dialami oleh teman sebayanya terkait dengan topik yang dibahas, sehingga hal tersebut membentuk emosi yang positif dan kesadaran tentang kondisi lingkungan Dalam proses pemberian informasi kesehatan, anak-anak akan mengetahui hal-hal positif dan negatif yang pernah dilihat dan dilakukannya dalam kehidupan sehari-sehari. Anak-anak juga mengakui kadang-kadang masih mengkonsumsi makanan yang kurang sehat dan berisiko mengalami diare yang akan menghambat pertumbuhannya. Dengan karakteristik pedesaan, anak-anak yang memiliki kegemaran bermain tanah, juga mengetahui bahwa menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat seperti mencuci tangan setelah bermain di sawah atau bermain bersama dengan teman-teman lainnya perlu dilakukan agar tidak terjangkit penyakit infeksi parasit yang dapat berakibat pada sistem pencernaannya. Baunsele et al. juga menegaskan bahwa sosialisasi tentang penerapan perilaku hidup bersih dan sehat perlu ditekankan untuk mencegah terjadinya stunting pada anak. Gambar 7. Kegiatan Evaluasi dan Penutupan Edukasi Pencegahan Stunting Kegiatan edukasi kesehatan pencegahan stunting diakhiri dengan simulasi nutrisi sehat pada anak-anak. Anak-anak diberikan pengetahuan tentang makanan sehat yang sebaiknya dikonsumsi dan diberikan satu paket makanan sehat. Simulasi makanan yang sehat pada anak-anak diperlukan untuk memberikan pengetahuan pada anak-anak apa saja nilai gizi yang seharusnya dikonsumsi oleh anakanak, diantaranya karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Manita. Akbar. Rahman. Rosanti & Rahayu . juga menggunakan metode simulasi untuk penyusunan menu yang sehat dalam upaya pencegahan stunting. Kegiatan simulasi tersebut sebagai kegiatan praktek yang dilakukan untuk mendukung peningkatan pengetahuan pada peserta edukasi kesehatan bahwa perbaikan pola makan yang sehat dapat mencegah terjadinya stunting pada anak. Gambar 8. Diagram Skor Pengetahuan Anak tentang Stunting Sesudah Diberikan Edukasi Kesehata Pencegahan Stunting Copyright A 2024. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 5 . , 2024 Berdasarkan diagram di atas, diketahui bahwa terdapat peningkatan pengetahuan anak setelah diberikan edukasi kesehatan tentang pencegahan stunting. Hal tesebut dapat dibandingkan dengan skor pengetahuan anak pada Gambar 3. Hasil evaluasi, menjabarkan bahwa pengetahuan anak meningkat sampai dengan skala sedang dan tinggi dengan skor pengetahuan tertinggi 9. Sprague. Okere. Kaufman & Ekenga . menjelaskan bahwa dengan pemberian edukasi dengan menggunakan metode photovoice memberikan peningkatan kesadaran pada anak secara lengkap tentang lingkungan di sekitarnya baik secara sosial, sumber daya alamnya, dan fasilitas yang mendukung kesehatannya. Selain itu, metode photovoice juga membantu mengenali adanya peluang-peluang yang mendukung sumber daya di lingkungannya dan faktor-faktor yang mungkin menghambatnya. Hal tersebut diharapkan membantu anak-anak dalam penerapannya dalam pencegahan stunting dengan mengaplikasikan pola hidup sehat dan menghindari hal-hal yang dapat merugikan kesehatannya dan menghambat pertumbuhannya. SIMPULAN Edukasi kesehatan tentang pencegahan stunting memberikan pengaruh positif untuk anak-anak dimana ditunjukkan dengan peningkatan pengetahuan anak-anak tentang stunting dan upaya-upaya untuk mencegah stunting. Selain itu, anak-anak menunjukkan sikap yang positif dengan mampu memilih makanan yang sehat dengan kandungan gizi yang tinggi dibandingkan makanan yang dapat menyebabkan penyakit infeksi yang berdampak pada pertumbuhan yang terhambat. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Indramayu yang telah memberikan dukungan secara materiil sehingga dapat terlaksana kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat berupa Edukasi Kesehatan terkait Upaya Preventif Stunting dengan Metode Photovoice dan Simulasi Nutrisi Sehat di Panti Saung Sahabat Anak Indramayu. Desa Temiang Kecamatan Kroya Kabupaten Indramayu. DAFTAR PUSTAKA