Jurnal AGRIFOR Volume 25. No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 KORELASI ANTARA FAKTOR KLIMATOLOGI TERHADAP KARAKTER VEGETATIF DAN GENERATIF TANAMAN BUNGA TELANG DENGAN PEMUPUKAN NPK DAN MKP Fairuuz Athaayaa Jinaan1. Ummu Kalsum*2. Inti Mulyo Arti3 1,2,3 Program Studi Agroteknologi. Fakultas Teknologi Industri. Universitas Gunadarma. Indonesia. Jl Margonda Raya No. 100 Pondok Cina Depok. KP 16424. E-Mail: ummukalsum89@gmail. com (*Corresponding autho. Submit: 14-01-2026 Revisi: 20-02-2026 Diterima: 03-03-2026 ABSTRAK Korelasi Antara Faktor Klimatologi Terhadap Karakter Vegetatif dan Generatif Tanaman Bunga Telang dengan Pemupukan NPK dan MKP. Tanaman bunga telang merupakan salah satu tanaman leguminosa yang memiliki berbagai kandungan khususnya senyawa antosianin serta memiliki beragam manfaat yakni sebagai tanaman hias, produk konsumsi maupun obat herbal. Potensi pemanfaatan bunga telang yang tinggi perlu disesuaikan dengan peningkatan produksi bunga telang. Pemupukan dan kesesuaian klimatologi merupakan faktor penting untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman telang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara klimatologi dalam greenhouse dengan karakter vegetatif dan generatif tanaman bunga telang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) faktor tunggal dengan 7 taraf perlakuan yang diulang sebanyak 4 kali dengan 4 tanaman sampel sehingga diperoleh 112 tanaman. Faktor klimatologi yang diamati meliputi suhu udara, kelembaban udara serta intensitas cahaya di dalam greenhouse. Karakter vegetatif yang diamati yaitu panjang tanaman, jumlah daun, bobot tajuk segar, bobot akar segar, bobot tajuk kering, bobot akar kering serta nisbah tajuk akar. Sementara karakter generatif yang diamati yaitu umur awal berbunga, jumlah bunga, frekuensi pemanenan, bobot per bunga, bobot total bunga segar per tanaman dan bobot total bunga kering per tanaman. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa tidak ditemukan korelasi yang nyata antara klimatologi dalam greenhouse dengan karakter generatif tanaman bunga telang, namun ditemukan korelasi yang nyata antar variabel pada klimatologi dalam greenhouse, klimatologi dalam greenhouse dengan karakter vegetatif, antar variabel pada karakter vegetatif, antar variabel pada karakter generatif serta antara karakter vegetatif dengan generatif. Kata kunci : Lingkungan. Pertumbuhan tanaman. Produksi bunga ABSTRACT Correlation Between Climatological Factors on Vegetative and Generative Characteristics of Butterfly Pea Plants with NPK and MKP Fertilization. Butterfly pea plants are legumes that contain various compounds, especially anthocyanin compounds, and have various benefits, as ornamental plants, consumer products, and herbal medicines. The high potential utilization of butterfly pea flowers needs to be accompanied by increase the production. Fertilization and appropriate climate are important factors to increase the growth and production of butterfly pea plants. This study aims to determine the relationship between greenhouse climate with the vegetative and generative characteristics of butterfly pea plants. This study used a single factor Randomized Complete Block Design (RCBD) with 7 treatment levels repeated 4 times with 4 sample plants to obtain 112 plants. The climatological factors observed include air temperature, air humidity and light intensity in the greenhouse. The vegetative characters observed were plant length, number of leaves, fresh shoot weight, fresh root weight, dry shoot weight, dry root weight, and shoot-root ratio. Meanwhile, the generative characters observed were the age of the first flowering, number of flowers, harvest frequency, weight per flower, total weight of fresh flowers per plant, and total weight of dry flowers per plant. The results of the correlation analysis showed that no real correlation was found between the climatology in the greenhouse and the generative characteristics of the butterfly pea flower plant, but a real correlation was found between variables in the climatology in the greenhouse, the climatology in the greenhouse with vegetative characteristics, between variables in vegetative characteristics, between variables in generative characteristics and between vegetative and generative characters. Key words : Environment. Flower production. Plant growth. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Analisis Korelasi antara Faktor A Jinaan et al. PENDAHULUAN Tanaman bunga telang merupakan salah tanaman leguminosa yang mampu meningkatkan kandungan nitrogen di dalam tanah (Arsyady & Purwanda. Tanaman dimanfaatkan sebagai tanaman hias, sajian minuman, pewarna makanan serta dapat dimanfaatkan untuk kesehatan (Widjajanti et al. , 2. Bunga telang mengandung senyawa antosianin yang termasuk ke subkelas flavonoid dan bermanfaat sebagai antioksidan (Purwaniati et al. Bunga telang dapat dijadikan bahan tambahan untuk berbagai olahan produk konsumsi seperti sirup, pewarna makanan dan minuman (Khoirunnisa & Ikaningtyas, 2. Berbagai manfaat dari bunga telang menyebabkan adanya peningkatan permintaan pasar terhadap produksi bunga telang untuk diolah sebagai produk alami (Pamela et al. Permintaan pasar yang meningkat perlu diikuti dengan peningkatan produksi bunga telang. Kekurangan atau kelebihan unsur hara di media tanam dapat mengurangi hasil produksi suatu tanaman (Prihutomo et al. , 2. Pengaplikasian pupuk dapat dilakukan dalam budidaya tanaman telang (Abubakar et al. , 2. Pemupukan dapat dilakukan menggunakan pupuk majemuk Nitrogen Fosfor Kalium (NPK) dan Mono Kalium Phosphate (MKP). Pupuk NPK adalah pupuk yang kerap digunakan untuk berbagai jenis tanaman. Menurut Arief dan Nursangadji . pupuk NPK mengandung unsur nitrogen, fosfor serta kebutuhan nutrisi dan hara tanaman. Sementara pupuk MKP sendiri menurut Nugraha et al. mengandung unsur fosfat dan kalium yang baik untuk pertumbuhan bunga dan buah. Dengan demikian pemberian pupuk NKP dan MKP dapat menunjang kebutuhan hara tanaman pada fase vegetatif maupun Selain ketersediaan nutrisi, faktor iklim juga mampu mempengaruhi pertumbuhan serta produktivitas tanaman (Indrawan et al. , 2. Tingginya jumlah daun, panjang tanaman dan produksi bunga telang dapat diperoleh lebih baik pada perlakuan tanpa naungan dibandingkan pada perlakuan dengan naungan (Asnur et al. , 2. Hasil uji korelasi yang dilakukan oleh Harun et . , pada keadaan klimatologi yakni ketersediaan air yang tinggi saat musim hujan berkorelasi nyata dengan produksi polong dan biji serta ditemukan juga adanya korelasi yang nyata antara karakter vegetatif bobot kering akar dengan karakter generatif bobot kering polong. Menurut Bachtiar et al. terdapat positif antara karakter vegetatif jumlah cabang dengan bobot polong basah dan kering dari hasil kacang bogor. (Ulinnuha, 2. menyatakan bahwa korelasi merupakan uji yang ditujukan untuk melihat keeratan hubungan antar karakter maupun adanya peningkatan atau penurunan yang diikuti oleh karakter lain. Sementara itu, belum pernah dilakukan uji korelasi antara klimatologi di dalam greenhouse, karakter vegetatif serta karakter generatif dari tanaman bunga Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara klimatologi dalam greenhouse, karakter vegetatif dan karakter generatif tanaman bunga telang. METODA PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Greenhouse Beta UG Technopark. Desa Jamali Mulyasari. Kecamatan Mande. Kabupaten Cianjur. Jawa Barat sejak bulan Januari hingga Mei Bahan dan Alat This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 25. No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. Bahan yang digunakan meliputi benih bunga telang, air, arang sekam, tanah, pupuk kandang sapi, pupuk NPK 16:16:16, pupuk Mono Kalium Phosphate (MKP) yang mengandung unsur P 52% dan K 34%, serta pestisida nabati neem oil. Alat yang digunakan yaitu sekop, tray semai, cangkul, ajir tanaman, polybag ukuran 35x35 cm, selang, gelas ukur, meteran, oven, amplop, timbangan digital, thermohygrometer dan lux faktor tunggal pemupukan dengan 7 taraf perlakuan yang diulang sebanyak 4 kali dengan 4 sampel seluruhnya terdapat 112 tanaman. Faktor tunggal pemupukan yang terdiri dari 7 taraf yakni: K0 : Kontrol . upuk kandan. K1 : Pupuk NPK 12 g/tanaman K2 : Pupuk NPK 15 g/tanaman K3 : Pupuk NPK 12 g/tanaman dan MKP 7 g/L K4 : Pupuk NPK 12 g/tanaman dan MKP 9 g/L K5 : Pupuk NPK 15 g/tanaman dan MKP 7 g/L K6 : Pupuk NPK 15 g/tanaman dan MKP 9 g/L Rancangan Penelitian Penelitian Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) non-faktorial atau K U K U K U K U K U K U K U K U K U K U K U K U K U K U ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 K U K U K U K U K U K U K U K U K U K U K U K U K U K U Gambar 1. Denah pengacakan satuan percobaan. Prosedur Pelaksanaan Penelitian Penyemaian Benih Benih bunga telang direndam selama 24 jam di air biasa sebelum disemai pada tray semai yang telah diisi dengan campuran media tanam dengan pupuk kandang sapi 1:1 (Pangestu, 2. Pindah tanam bibit tanaman bunga telang dilakukan pada umur 3 minggu setelah semai (MSS). Persiapan Media Tanam Media tanam yang digunakan merupakan campuran tanah, arang sekam dan pupuk kandang sapi dengan perbandingan 2:1:1. Media tanam yang dimasukan ke dalam polybag. Pemindahan Bibit di Polybag Pindah tanam bibit tanaman bunga telang dilakukan pada umur 3 minggu setelah semai (MSS). Setiap polybag ditanam 1 bibit tanaman bunga telang. Pemberian Pupuk Kandang Sapi Pemupukan pada perlakuan kontrol dilakukan pada tanaman umur 2, 4 dan 6 minggu setelah tanam (MST) dengan pupuk kandang sapi sebanyak 57 g/polybag. Pemberian Pupuk NPK Pemberian pupuk NPK diberikan dengan cara dibenam melingkar pada tanaman berumur 1, 3, 5 dan 7 MST untuk This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Analisis Korelasi antara Faktor A Jinaan et al. taraf K1 dan K2 serta pada tanaman saat berumur 1 MST untuk taraf K3. K4. K5 dan K6. Kelembaban thermohygrometer pada pagi, siang dan sore hari di 5 titik dalam greenhouse. Pemberian Pupuk MKP Pengaplikasian MKP dilakukan dengan cara dikocor sebanyak 250 ml/tanaman (Mustafa et al. , 2. Pupuk MKP diaplikasikan pada saat tanaman bunga telang berumur 3, 5 dan 7 MST. Intensitas Cahaya . Intensitas cahaya diukur dengan lux meter pada pagi, siang dan sore hari di 9 titik dalam greenhouse. Pemeliharaan Perawatan tanaman yang mencakup penyiraman pada pagi dan sore hari, pengajiran pada tanaman berumur 3 MST, sanitasi gulma yang ada di sekitar tanaman, penyulaman tanaman yang kurang sehat dengan tanaman yang baru. Selain itu, menurut Tulashie et al. pengendalian hama dapat dilakukan dengan pestisida nabati neem oil 1-2 kali seminggu dengan konsentrasi 25 ml/l. Panen Pemanenan bunga telang yang sudah mekar sempurna dilakukan 1 kali di pagi hari pada tanaman umur A5 MST atau A4 hari setelah muncul bakal bunga. Pemanenan dilakukan selama 4 minggu terhitung sejak 50% sampel dari tiap satuan percobaan telah berbunga. Pengamatan Pada penelitian ini pengamatan dilakukan pada faktor klimatologi dalam greenhouse, karakter vegetatif serta generatif dari tanaman bunga telang yang Faktor Klimatologi dalam Greenhouse Suhu . C) Suhu thermohygrometer pada pagi, siang dan sore hari di 5 titik dalam greenhouse. Kelembaban (%) Karakter Vegetatif Panjang tanaman . Panjang tanaman diukur dari tanaman berumur 0-9 MST dengan meteran kain. Pengukuran dilakukan dari pangkal batang hingga ujung daun Jumlah Daun . Jumlah daun dihitung sejak tanaman bunga telang berumur 0-9 MST secara Bobot Tajuk Segar . Pengamatan dilakukan dengan timbangan digital setelah kegiatan pemanenan selama 4 minggu berakhir. Menurut Nurmala et al. pengukuran pertumbuhan tanaman dapat dilakukan dengan mengukur biomassa Fachrurrozi et al. menyatakan bahwa bobot segar tanaman dapat mengukur biomassa basah sebagai indikator pertumbuhan suatu tanaman. Bobot Akar Segar . Bobot menggunakan bantuan timbangan digital pada akar tanaman yang telah dipisahkan dari tajuknya. Bobot Tajuk Kering . Tajuk tiap tanaman dikeringkan dalam amplop menggunakan oven dengan suhu suhu 70 oC selama 2x24 jam (Hastuti et al. , 2. Tajuk yang sudah kering ditimbang menggunakan timbangan Menurut Ikhsani et al. bobot kering tanaman meliputi tajuk dan This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 25. No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. akar kering ditujukan untuk mengukur pertumbuhan melalui biomassa suatu Bobot Akar Kering . Pengamatan bobot akar kering dilakukan dengan timbangan digital pada akar tanaman yang telah dikeringkan menggunakan oven dengan suhu suhu 70 C selama 2x24 jam (Hastuti et al. , 2. Nisbah Tajuk Akar . Nisbah tajuk akar dihitung dengan cara membagi bobot kering tajuk dengan bobot kering akar tanaman bunga telang (Wibowo et al. , 2. Perhitungan nisbah tajuk akar mampu mengukur efisiensi pertumbuhan akar terhadap tajuk tanaman (Alvi et al. , 2. Karakter Generatif Umur Awal Berbunga (HST) Pencatatan umur awal berbunga dilakukan apabila 50% dari seluruh sampel tanaman pada tiap satuan percobaan telah mekar sempurna. Jumlah Bunga per Tanaman (Bung. Jumlah bunga diamati dengan cara menghitung seluruh bunga yang telah dipanen dari tiap tanaman. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 Frekuensi Pemanenan per Tanaman (Kal. Diamati dengan cara menghitung jumlah kali pemanenan yang dapat dilakukan dalam kurun waktu 4 minggu sejak 50% sampel dari tiap satuan percobaan telah mekar. Bobot per Bunga . Bobot per bunga diamati dengan timbang digital setiap kali bunga telang Bobot Total Bunga Segar per Tanaman . Pengamatan dilakukan dengan mengakumulasikan bobot per bunga yang telah diamati sebelumnya. Bobot Total Bunga Kering per Tanaman . Diamati dengan bantuan timbangan digital setelah tanaman bunga telang dikeringkan menggunakan oven dengan suhu 50 oC selama 4 jam (Yuliani, 2. Analisis Data Analisis data dilakukan dengan analisis korelasi pearson menggunakan software The SAS system for Windows Kategori kekuatan korelasi disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Kategori kekuatan korelasi antara variabel berdasarkan koefisien korelasi. Koefisien korelasi . 00 O r <- 0. 80 O r < -0. 60 O r < -0. 40 O r < -0. 20 O r < 0. 00 O r < 0. 20 O r < 0. 40 O r < 0. 60 O r < 0. 80 O r < 1. Range Sangat kuat Kuat Sedang Lemah Sangat lemah Tidak ada korelasi Sangat lemah Lemah Sedang Kuat Sangat Kuat Keterangan : Tanda negatif (-) adalah korelasi negatif . ubungan terbali. antara 2 variabel yang berarti semakin besar nilai negatif maka semakin kuat hubungan terbalik tersebut. Tanda positif ( ) adalah korelasi positif . ubungan seara. antara 2 atribut sehingga semakin besar nilai positif maka semakin kuat hubungan searah tersebut. Sumber: Selvanathan et al. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Analisis Korelasi antara Faktor A Jinaan et al. HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN Analisis Korelasi dalam Greenhouse DAN dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan hasil analisis korelasi diketahui bahwa terdapat korelasi yang nyata antar masing-masing variabel klimatologi dalam greenhouse. Klimatologi Hasil analisis korelasi antar variabel klimatologi dalam greenhouse dapat Tabel 2. Hasil analisis korelasi klimatologi dalam greenhouse. Suhu ( C) Suhu . C) Kelembaban (%) Intensitas Cahaya . Kelembaban (%) Intensitas Cahaya . Keterangan: = Nyata ** = Sangat nyata Intensitas cahaya berkorelasi positif dengan suhu udara . dan berkorelasi negatif dengan kelembaban udara (-0. Kelembaban udara berkorelasi negatif dengan suhu udara (-0. Menurut Khriswanti et al. suhu udara yang meningkat akan diikuti oleh kelembaban udara yan g menurun. Jalisara et al. menyatakan bahwa kondisi kelembaban udara. Analisis Korelasi Klimatologi Greenhouse Karakter Vegetatif Hasil analisis korelasi klimatologi dalam greenhouse dengan berbagai karakter vegetatif disajikan pada Tabel 3, 4 dan 5. Diketahui terdapat korelasi nyata positif dan negatif antara klimatologi dalam greenhouse dengan karakter vegetatif tanaman bunga telang. Tabel 3. Hasil analisis korelasi klimatologi dalam greenhouse dengan panjang tanaman 0-9 MST (M. (M. (M. (M. (M. (M. (M. (M. (M. (M. Keterangan: = Suhu . C) K = Kelembaban (%) IC = Intensitas Cahaya . PT = Panjang Tanaman . M = Minggu Setelah Tanam (MST) = Nyata ** = Sangat nyata This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 25. No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 Tabel 4. Hasil analisis korelasi klimatologi dalam greenhouse dengan jumlah daun 0-9 MST. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. Keterangan: = Suhu . C) K = Kelembaban (%) IC = Intensitas Cahaya . JD = Jumlah Daun . M = Minggu Setelah Tanam (MST) = Nyata ** = Sangat nyata Tabel 5. Hasil analisis korelasi klimatologi dalam greenhouse dengan bobot segar, bobot kering dan nilai nisbah dari tajuk serta akar tanaman bunga telang. BTS BAS BTK BAK NTA Keterangan: = Suhu . C) K = Kelembaban (%) IC = Intensitas Cahaya . BTS = Bobot Tajuk Segar . BAS = Bobot Akar Segar . BTK = Bobot Tajuk Kering . BAK = Bobot Akar Kering . NTA = Nisbah Tajuk Akar . = Nyata = Sangat nyata Suhu udara berkorelasi negatif dengan panjang tanaman minggu ke-1 . , kelembaban udara berkorelasi positif dengan panjang tanaman minggu ke-1 . dan intensitas cahaya berkorelasi positif dengan bobot akar segar . Suhu udara yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan tanaman (Khotimah et al. , 2. Suhu udara yang terlalu tinggi dapat menyebabkan laju fotosintesis menurun karena cekaman panas (Ningsih et al. , 2. Pertumbuhan tanaman juga dapat meningka t cara mempertahankan kelembaban udara yang menyebabkan stomata tetap terbuka sehingga fotosintesis dapat berlangsung serta penguapan dapat dikurangi karena laju transpirasi tumbuhan lebih tinggi saat udara kering dibandingkan udara lembab (Chia & Lim, 2. Unsur N. P, dan K dapat mengoptimalkan pertumbuhan tanaman, namun perlu diselaraskan dengan tingginya penyerapan cahaya agar mendukung pertumbuhan vegetatifnya (Munawaroh et al. , 2018. Angkur et al. Analisis This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Korelasi Klimatologi Greenhouse Analisis Korelasi antara Faktor A Jinaan et al. Karakter Generatif Iklim adalah salah satu syarat tumbuh tanaman yang perlu disesuaikan karena sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Izwar et al. , 2. Hasil analisis korelasi antara klimatologi dalam greenhouse menunjukan adanya korelasi yang nyata (Tabel . Tabel 6. Hasil analisis korelasi klimatologi dalam greenhouse dengan karakter generatif. UAB BPB BTBSPT BTBKPT Keterangan : = Suhu . C) = Kelembaban (%) = Intensitas Cahaya . UAB = Umur Awal Berbunga (HST) = Jumlah Bunga (Bung. = Frekuensi Pemanenan (Kal. BPB = Bobot per Bunga . BTBSPT = Bobot Total Bunga Segar per Tanaman . BTBKPT = Bobot Total Bunga Kering per Tanaman . = Nyata = Sangat nyata Tidak ada korelasi yang nyata antara klimatologi dalam greenhouse dengan karakter generatif diduga diakibatkan oleh karakter generatif tanaman bunga telang yang lebih dipengaruhi oleh perlakuan Menurut Fathoni et al. pemupukan memiliki peran yang besar dalam meningkatkan pertumbuhan serta produksi suatu tanaman. Analisis Korelasi Antar Karakter Vegetatif Tanaman Bunga Telang Berdasarkan hasil analisis korelasi ditemukan adanya korelasi yang nyata antar berbagai variabel dari karakter vegetatif tanaman bunga telang. Hasil analisis korelasi antar karakter vegetatif tanaman bunga telang dapat dilihat pada Tabel 7, 8, 9 dan 10. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 25. No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 Tabel 7. Hasil analisis korelasi jumlah daun 0-9 MST dengan panjang tanaman 0-9 MST dari tanaman bunga JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. PT (M. PT (M. PT (M. PT (M. PT (M. PT (M. PT (M. PT (M. PT (M. PT (M. Keterangan: PT = Panjang Tanaman . JD = Jumlah Daun . M = Minggu Setelah Tanam (MST) = Nyata ** = Sangat nyata Tabel 8. Hasil analisis korelasi panjang tanaman 0-9 MST. (M. (M. (M. (M. (M. (M. (M. (M. (M. (M. PT (M. PT (M. PT (M. PT (M. PT (M. PT (M. PT (M. PT (M. PT (M. PT (M. Keterangan: PT = Panjang Tanaman . M = Minggu Setelah Tanam (MST) = Nyata ** = Sangat nyata This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Analisis Korelasi antara Faktor A Jinaan et al. Tabel 9. Hasil analisis korelasi jumlah daun 0-9 MST. (M. (M. (M. (M. (M. (M. (M. (M. (M. (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. Keterangan: JD = Jumlah Daun . M = Minggu Setelah Tanam (MST) = Nyata ** = Sangat nyata Tabel 10. Hasil analisis korelasi bobot tajuk dan akar serta nisbah tajuk akar dengan karakter vegetatif tanaman bunga telang. PT (M. PT (M. PT (M. PT (M. PT (M. PT (M. PT (M. PT (M. PT (M. PT (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. BTS BAS BTK BAK NTA BTS BAS BTK BAK NTA Keterangan: PT = Panjang Tanaman . This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 25. No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 JD = Jumlah Daun . BTS = Bobot Tajuk Segar . BAS = Bobot Akar Segar . BTK = Bobot Tajuk Kering . BAK = Bobot Akar Kering . NTA = Nisbah Tajuk Akar . = Minggu Setelah Tanam (MST) = Nyata = Sangat nyata Panjang tanaman memiliki korelasi positif dengan jumlah daun tanaman bunga telang pada berbagai minggu Panjang tanaman minggu ke5 berkorelasi positif dengan bobot tajuk segar . Panjang tanaman juga berkorelasi positif dengan bobot akar segar yakni panjang tanaman M0 . M3 . M4 dan M5 . Panjang tanaman M3 berkorelasi positif dengan bobot akar kering . , sementara panjang tanaman M1 berkorelasi negatif dengan nisbah tajuk akar (-0. Jumlah daun M8 . berkorelasi dengan bobot tajuk segar, jumlah daun M1 . M4 . M5 . M7 . berkorelasi dengan bobot akar segar, jumlah daun M8 . dan M9 . berkorelasi dengan bobot tajuk kering, serta jumlah daun M0 . M3 . M4 . dan M9 . berkorelasi dengan bobot akar kering. Bobot akar segar berkorelasi positif dengan bobot akar kering . dan berkorelasi negatif dengan nisbah tajuk akar (-0. Bobot akar kering berkorelasi negatif dengan nisbah tajuk akar (-0. Daun adalah organ yang berperan dalam kegiatan fotosintesis dan akan disalurkan ke seluruh bagian tanaman untuk keperluan pertumbuhan atau sebagai cadangan makanan melalui floem (Ningsih et al. , 2. Bobot segar tajuk meningkat seiring dengan pertumbuhan tinggi dan banyaknya jumlah daun dari tanaman (Anjani et al. , 2. Meningkatnya hasil fotosintat akan meningkatkan pertumbuhan daun, batang dan akar tanaman (Tampubolon et al. Bobot kering tanaman yang semakin tinggi menandakan besarnya bahan kering asimilasi yang dihasilkan tanaman (Fauzi et al. , 2. Hasil korelasi menunjukkan bahwa semakin kecil bobot akar kering, bobot akar segar, dan panjang tanaman maka akan semakin besar nisbah tajuk akarnya ataupun Hal ini sejalan dengan pendapat Hanifah et al. bahwa nisbah tajuk akar merepresentasikan perbandingan antara pertumbuhan tajuk dengan akar tanaman. Menurut Dewi et al. nisbah tajuk akar yang lebih kecil pertumbuhan akar yang baik maka diharapkan pertumbuhan tajuk dan produksi tanamannya dapat berlangsung dengan optimal. Analisis Korelasi Antar Karakter Generatif Tanaman Bunga Telang Hasil analisis korelasi antar karakter generatif tanaman bunga telang disajikan pada Tabel 11. Ditemukan bahwa terdapat korelasi yang nyata pada hampir seluruh karakter generatif tanaman bunga telang. Tidak terdapat korelasi yang nyata antara bobot per bunga dengan umur awal berbunga dan frekuensi pemanenan. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Analisis Korelasi antara Faktor A Jinaan et al. Tabel 11. Hasil analisis korelasi antar karakter generatif tanaman bunga telang. UAB BPB BTBSPT BTBKPT UAB BPB BTBSPT BTBKPT Keterangan : UAB = Umur Awal Berbunga (HST) = Jumlah Bunga (Bung. = Frekuensi Pemanenan (Kal. BPB = Bobot per Bunga . BTBSPT= Bobot Total Bunga Segar per Tanaman . BTBKPT = Bobot Total Bunga Kering per Tanaman . = Nyata = Sangat nyata Umur awal berbunga memiliki korelasi negatif dengan jumlah bunga . , frekuensi pemanenan (-0. , serta bobot total bunga segar (-0. dan kering per tanaman (-0. Jumlah bunga berkorelasi positif dengan frekuensi pemanenan . , bobot per bunga . , bobot total bunga segar per tanaman . dan bobot total bunga kering per tanaman . Frekuensi pemanenan berkorelasi positif dengan bobot total bunga segar per tanaman . dan bobot total bunga kering per tanaman . Bobot per bunga berkorelasi positif dengan bobot total bunga segar per tanaman . dan bobot total bunga kering per tanaman . Bobot total bunga segar per tanaman berkorelasi positif dengan bobot total bunga kering per tanaman . Lamanya umur berbunga akan menurunkan jumlah buah yang dapat dipanen begitupun sebaliknya (Febrianti et al. , 2. Pemanenan tanaman bunga telang pada penelitian ini dilakukan selama 4 minggu terhitung sejak 50% sampel dari tiap satuan percobaan telah berbunga mekar. Dengan demikian, jumlah dan frekuensi pemanenan bunga yang diperoleh selama 1 bulan masa pemanenan akan semakin sedikit seiring lamanya tanaman bunga telang mulai Menurut Reformasintansari & Waluyo . jumlah bunga yang optimal bisa dicapai pada saat tanaman berumur 3-4 bulan. Sementara pada penelitian ini pemanenan terakhir dilakukan pada tanaman umur 12 minggu atau 3 bulan. Umur awal berbunga yang lama juga akan menurunkan bobot total bunga segar dan keringnya. Hal ini dikarenakan bobot total bunga telang segar dan kering merupakan akumulasi dari seluruh bobot per bunga dari tiap tanaman yang setiap hari dipanen dan dihitung jumlahnya. Analisis Korelasi Karakter Vegetatif Generatif Tanaman Bunga Telang Berdasarkan hasil analisis korelasi ditemukan bahwa terdapat korelasi nyata antara karakter vegetatif dan generatif dari tanaman bunga telang. Hasil analisis korelasi antar karakter vegetatif dan generatif tanaman bunga telang disajikan pada Tabel 12. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 25. No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 Tabel 12. Hasil analisis korelasi karakter vegetatif dengan generatif tanaman bunga telang. PT (M. PT (M. PT (M. PT (M. PT (M. PT (M. PT (M. PT (M. PT (M. PT (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. JD (M. BTS BAS BTK BAK NTA UAB BPB BTBSPT BTBKPT Keterangan: = Panjang Tanaman . = Jumlah Daun . BTS = Bobot Tajuk Segar . BAS = Bobot Akar Segar . BTK = Bobot Tajuk Kering . BAK = Bobot Akar Kering . NTA = Nisbah Tajuk Akar . = Frekuensi Pemanenan (Kal. UAB BPB = Umur Awal Berbunga (HST) = Bobot per Bunga . = Minggu Setelah Tanam (MST) = Jumlah Bunga (Bung. BTBSPT = Bobot Total Bunga Segar per Tanaman . = Nyata BTBKPT = Bobot Total Bunga Kering per Tanaman . = Sangat nyata Panjang tanaman M5 (-0. M6 . dan M7 (-0. berkorelasi negatif dengan umur awal berbunga. Korelasi positif ditemukan antara panjang tanaman M4 . dan M5 . dengan bobot per Jumlah daun berkorelasi dengan banyak variabel seperti dengan panjang tanaman (M0-M. , jumlah daun M4 . M5 (-0. M7 (-0. M8 (-0. berkorelasi dengan umur awal berbunga, jumlah daun M7 . dan M8 . berkorelasi dengan jumlah bunga. Selain itu jumlah daun M7 . dan M8 . juga berkorelasi dengan bobot total bunga segar dan jumlah daun M7 . dan M8 . berkorelasi dengan bobot total bunga kering per tanaman. Jumlah daun M4 (-0. M5 (-0. M7 (-0. M8 . diketahui berkorelasi negatif dengan umur awal berbunga. Bobot tajuk segar berkorelasi positif dengan bobot per bunga . dan bobot total bunga segar per tanaman . Korelasi positif juga ditemukan antara bobot tajuk kering dengan bobot total bunga kering per tanaman . Fotosintat yang dihasilkan dari proses fotosintesis akan digunakan untuk tanaman (Kantikowati et al. , 2. Pertumbuhan vegetatif tanaman yang optimal akan mendukung produksi hasil yang tinggi (Suryanto, 2. Bunga yang muncul adalah pertanda bahwa tanaman Penampung fotosintat yang utama saat fase generatif adalah organ generatif seperti bunga dan buah (Ningsih et al. Dengan demikian, terjadinya penurunan laju pertumbuhan organ This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Analisis Korelasi antara Faktor A Jinaan et al. vegetatif seperti tajuk dan daun akan mempercepat umur awal berbunga karena fotosintat yang dihasilkan lebih terfokus untuk pembentukan bunga. Saputri et al. menyatakan bahwa tanaman yang memasuki fase reproduksi akan dominan menyalurkan fotosintatnya ke organ korelasi positif antara hampir seluruh karakter generatif kecuali umur awal Korelasi yang nyata ditemukan antara karakter vegetatif dengan generatif yaitu peningkatan panjang tanaman, jumlah daun, dan bobot tajuk segar maupun kering mampu mempercepat pembungaan serta meningkatkan jumlah dan bobot bunga. KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA