164 |Rahayu et al. Uji In Vitro Daya Hambat Ekstrak Kulit Uji In Vitro Daya Hambat Ekstrak Kulit Senna multijuga Terhadap Jamur Ganoderma boninense In Vitro Inhibitory Activity of Senna multijuga Bark Extract Against Ganoderma Diah Pangastuti Rahayu1. Erdi Suroso1. Subeki1. Radix Suhardjo2. Samsul Rizal1 1Program Studi Teknologi Industri Pertanian Universitas Lampung. Jl. Prof. Dr. Soemantri Brojonegoro No. Bandar Lampung 35145. Lampung. Indonesia 2Program Studi Proteksi Tanaman Pertanian Universitas Lampung. Jl. Prof. Dr. Soemantri Brojonegoro No. Bandar Lampung 35145 Lampung. Indonesia aKorespondensi : Diah Pangastuti Rahayu. E-mail: rahayudiah2017@gmail. Diterima: 04 Ae 07 Ae 2025 . Disetujui: 28 Ae 08 Ae 2025 ABSTRACT Basal stem rot disease caused by Ganoderma boninense poses a serious threat to oil palm cultivation due to its potential to cause significant economic losses, its resistance to conventional control methods, and the environmental risks associated with chemical fungicides. This study aimed to determine and analyze the inhibitory effect of Senna multijuga bark extract on the growth of G. boninense through in vitro testing. The extract was obtained by maceration using 96% ethanol, followed by fractionation with ethyl acetate and column chromatography using the following solvent systems: control . , 100% CHClCE, 3% MeOH/CHClCE, 20% MeOH/CHClCE, and 100% MeOH. Antifungal activity was tested on Potato Dextrose Agar (PDA) medium mixed with the extract at a concentration of 1 ppm, observations were carried out for 10 days. The results showed that the fraction using 100% CHClCE exhibited the highest inhibition, with a fungal growth rate of only 0. 39 cm/day compared to 0. cm/day in the control. These findings indicate the potential of non-polar compounds from S. as biological antifungal agents and provide a basis for developing environmentally friendly natural Keywords: Senna multijuga. Ganoderma boninense, biological antifungal, in vitro ABSTRAK Penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh Ganoderma boninense merupakan ancaman serius dalam budidaya kelapa sawit karena dapat menyebabkan kerugian ekonomi signifikan, sulit dikendalikan secara konvensional, dan penggunaan fungisida kimia berpotensi mencemari Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis daya hambat ekstrak kulit Senna multijuga terhadap pertumbuhan G. boninense secara in vitro. Ekstrak diperoleh melalui maserasi menggunakan alkohol 96%, fraksinasi dengan pelarut etil asetat, kolom kromatografi dengan Kontrol . anpa perlakua. , 100% CHClCE, 3% MeOH/CHClCE, 20% MeOH/CHClCE dan 100% MeOH. Uji aktivitas antifungi dilakukan pada media Potato Dextrose Agar (PDA) yang telah dicampur ekstrak sebanyak 1 ppm, pengamatan dilakukan selama 10 hari. Hasil menunjukkan bahwa fraksi dengan pelarut 100% CHClCE memberikan penghambatan tertinggi, dengan laju pertumbuhan hanya 0,39 cm/hari dibandingkan kontrol 0,70 cm/hari. Temuan ini menunjukkan potensi senyawa non-polar dari S. multijuga sebagai agen antifungi hayati dan dapat menjadi basis pengembangan fungisida alami yang ramah lingkungan. Kata kunci: Senna multijuga. Ganoderma boninense, antifungi hayati, in vitro Rahayu. Suroso. Subeki. Suhardjo. , & Rizal. Uji In Vitro Daya Hambat Ekstrak Kulit Senna multijuga terhadap Jamur Ganoderma boninense. Jurnal Agroindustri Halal, 11. , 164 Ae 172. Jurnal Agroindustri Halal ISSN 2442-3548 Volume 11 Nomor 2. Agustus 2025 | 165 PENDAHULUAN Ganoderma boninense merupakan patogen yang menyebabkan penyakit busuk pangkal batang dan menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan industri kelapa sawit. Serangan patogen ini berdampak signifikan terhadap produktivitas tanaman dengan potensi kerugian ekonomi mencapai 50% hingga 80% tergantung tingkat infeksi (Masura et al. , 2. Jamur ini memiliki sistem infeksi kompleks dan mampu bertahan di tanah selama bertahun-tahun melalui struktur perennasi seperti basidiospora, membuat pengendalian secara konvensional menjadi tidak efektif (Rupaedah et al. , 2. Pendekatan kimia menggunakan fungisida sintetis memang tersedia, namun efektivitasnya rendah terhadap infeksi sistemik, serta menimbulkan akumulasi residu dan pencemaran lingkungan jangka panjang (Latiffah et al. Permasalahan ini menuntut strategi pengendalian alternatif berbasis hayati yang lebih spesifik, ramah lingkungan, dan berkelanjutan untuk menekan prevalensi penyakit serta menurunkan ketergantungan terhadap input kimia berisiko tinggi. Beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa senyawa aktif dari tumbuhan memiliki potensi signifikan dalam menghambat pertumbuhan Ganoderma boninense. Senyawa golongan triterpenoid dan sterol, seperti ganoboninketal dan ergosterol, dilaporkan mampu merusak integritas membran sel dan menghambat biosintesis dinding sel jamur (Angel et al. Ekstrak non-polar dari tanaman seperti Eurycoma longifolia dan Acalypha indica yang mengandung senyawa alkaloid, fenolik, dan flavonoid, terbukti menurunkan laju pertumbuhan miselium G. boninense secara signifikan (Rupaedah et al. , 2. Senyawa fenolik dalam daun Azadirachta indica juga menunjukkan efek fungistatik kuat melalui mekanisme penghambatan enzim kunci dalam metabolisme jamur. Bukti-bukti tersebut memperkuat bahwa pemanfaatan senyawa aktif nabati, khususnya dari fraksi non-polar, berpeluang besar dalam formulasi fungisida hayati yang aman dan efektif. Tanaman hujan emas (Senna multijug. merupakan salah satu spesies dari genus Senna yang berasal dari wilayah tropis Amerika Selatan dan telah dikenal memiliki berbagai kandungan senyawa bioaktif, seperti flavonoid, alkaloid, dan tanin. Keberadaan Senna sp. Indonesia, khususnya di Pulau Sumatra, umumnya dimanfaatkan sebagai tanaman penghias, pelindung jalan, atau peneduh karena kemampuannya beradaptasi di lahan kering (Saraswati et al. , 2. Namun, pemanfaatan tanaman ini dalam bidang bioaktif atau pertanian masih relatif terbatas. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa genus Senna mengandung berbagai senyawa fitokimia seperti alkaloid, flavonoid, terpenoid, glikosida, tanin, dan polifenol yang memiliki potensi sebagai agen hayati (Bene et al. , 2. Beberapa senyawa aktif tersebut diketahui berperan dalam aktivitas antimikroba, antioksidan, dan bahkan antikanker (Ibrahim & Islam, 2. Bagian tanaman seperti daun, akar, batang, dan kulit diketahui menyimpan metabolit sekunder yang penting, termasuk fenol dan flavonoid, yang secara spesifik telah terbukti memiliki aktivitas antifungi (Agustina, 2. Dengan demikian. Senna menjadi kandidat potensial untuk dikembangkan sebagai sumber bahan aktif pengendali penyakit tanaman. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa ekstrak dan fraksi dari Senna sp. , terutama yang kaya flavonoid dan fenolik, memiliki aktivitas antifungi yang menjanjikan, seperti terhadap Candida albicans dan C. glabrata (Nascimento et al. , 2. Senyawa alkaloid dan fenolik yang terdapat dalam ekstrak ini menunjukkan efek hambat signifikan terhadap pertumbuhan Oleh sebab itu, eksplorasi aktivitas antifungi kulit S. multijuga terhadap G. secara in vitro penting dilakukan. Selain sebagai agen pengendali biologis, hasil penelitian ini diharapkan berkontribusi dalam formulasi fungisida alami yang mendukung keberlanjutan pertanian kelapa sawit (Jantan et al. , 2. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hasil kolom kromatrografi ekstrak kulit hujan emas (Senna multijug. terhadap pertumbuhan jamur G. boninense secara in vitro. 166 |Rahayu et al. Uji In Vitro Daya Hambat Ekstrak Kulit MATERI DAN METODE Alat dan Bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kulit tanaman hujan emas, alkohol 96%, alkohol 70%, metanol (MeOH), heksan, etil asetat, heksan, kloroform (CHCl. , akuades, aseton, silika gel 60 . ,2-0,5 m. , media PDA (Potato Dextrose Aga. , dan isolat jamur G. Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini yaitu hotplate, timbangan analitik, vacuum rotary evaporator, cawan petri, laminar air flow, bor gabus, jarum ose, bunsen, sonicator, inkubator, autoklaf, beaker glass, erlenmayer . , spatula, pinset, dan gelas ukur, dan jangka sorong digital. Preparasi Sampel Kultur jamur G. boninense diperoleh dari koleksi Laboratorium Bioteknologi Jurusan Proteksi Tanaman. Sampel kulit hujan emas (Senna multijug. diperoleh dari PT. Sampoerna Agro Tbk. Langkah pertama yaitu kulit tanaman hujan emas yang diperoleh dipotong kecilkecil, dikeringkan kemudian ditimbang sehingga diperoleh 833 g. Fraksinasi Kulit Hujan Emas Sebanyak 833 g kulit tanaman hujan emas dilakukan perendaman selama 4 minggu dalam alkohol 96% 2,5 L . Selanjutnya dilakukan penyaringan untuk memisahkan filtrat dengan ampas kulit tanaman hujan emas. Filtrat yang diperoleh dievaporasi dengan rotary evaporator hingga diperoleh konsentrat. Konsentrat diekstraksi dengan etil asetat dan air dan dipisahkan lapisan etil asetat dan lapisan air. Lapisan etil asetat selanjutnya di evaporasi dengan rotary evaporator dan diperoleh residu. Residu di kolom kromatografi dengan silika gel 50 g. Hasil kolom kromatografi terdiri dari beberapa eluen yaitu 100 % CHCl 3, 3% MeOH/CHCl3, dan 100 % MeOH kemudian dilakukan uji aktivitas senyawa terhadap jamur Ganoderma boninense. Uji Aktivitas Antifungi Secara In Vitro Media PDA (Potato Dextrose Aga. merupakan medium standar yang umum digunakan dalam kultur mikroba untuk mengamati pertumbuhan jamur secara visual dan kuantitatif karena komposisi nutrisinya mendukung pertumbuhan miselium secara optimal (Elfina et al. Tahapan uji aktivitas anti-fungi secara in vitro diawali dengan menyiapkan media PDA. Sebanyak 19,5 g PDA instan dan 500 mL aquades, jika 39 g untuk 1 liternya. Selanjutnya dihomogenkan menggunakan hot plate pada suhu 85AC. Media yang telah dihomogenkan kemudian ditutup dengan kapas dan alumunium foil, selanjutnya dilakukan sterilisasi di dalam autoclave dengan suhu 121AC dengan tekanan 1 atm selama 15 menit. Pengujian penghambatan secara in vitro esktrak kulit hujan emas terhadap jamur G. boninense dilakukan berdasarkan modifikasi metode dari Fletcher et al. , yaitu media PDA (Potato Dextrose Aga. dicampur dengan ekstrak masing-masing perlakuan dilakukan di dalam laminar air flow cabinet (LAFC). Aplikasi dengan menuangkan media PDA dan masing masing perlakuan fraksi kulit S. multijuga konsentrasi ke semua cawan petri dengan menggunakan mikro pipet 25ppm dengan total volume dengan sampel media 20 ml dan didiamkan sampai media padat. Miselium jamur G. boninense diambil dengan cara memotong PDA yang ditumbuhi biakan murni jamur G. boninense dengan menggunakan bor gabus steril ukuran diameter 0,5 cm, hal ini bertujuan agar pertumbuhan miselium pada media PDA untuk tiap perlakuan sama. Miselium jamur G. boninense diletakkan pada media PDA yang telah dicampur dengan esktrak kulit hujan emas tepat di tengah cawan petri kemudian dilapisi plastik wrap dan dilabeli, kemudian dilakukan inkubasi dengan memasukan cawan petri ke dalam inkubator pada suhu kamar. Pengamatan dilakukan sampai 10 hari dan diamati setiap Analisis Data Laju Pertumbuhan Ganoderma Boninense Jurnal Agroindustri Halal ISSN 2442-3548 Volume 11 Nomor 2. Agustus 2025 | 167 Pengamatan laju pertumbuhan koloni dilakukan setiap hari sampai cawan petri dipenuhi oleh jamur G. Pengukuran diukur menggunakan jangka sorong digital dengan rumus yang merujuk sebagai berikut (Sulyanti dkk. , 2. AA = OcycUycu Oe ycUycuOe1 Keterangan: : Laju pertumbuhan . m/har. : Koloni diameter pada hari ke-n Karakteristik Makroskopis Pengamatan karaterikstik morfologi makroskopis dilakukan dengan membandingkan warna, ukuran dan karakter pertumbuhan G. boninense antara kontrol dengan perlakukan. Menurut Elfina dkk. warna koloni putih/ putih kekuningan, dan tumbuh menyebar. HASIL DAN PEMBAHASAN Laju Pertumbuhan Ganoderma Boninense Penggunaan berbagai eluen dengan campuran kloroform dan metanol dalam uji kromatografi terhadap kulit S. multijuga didasarkan pada perbedaan tingkat polaritas masingmasing pelarut serta hasil uji pendahuluan Thin Layer Chromatography (TLC) terhadap ekstrak senyawa aktif. Kloroform (CHClCE) merupakan pelarut non-polar, sedangkan metanol (MeOH) bersifat polar. Pencampuran keduanya dalam berbagai rasio memungkinkan pemisahan senyawa berdasarkan polaritasnya, sehingga dapat mengoptimalkan isolasi senyawa bioaktif (Poole, 2. Hasil pengujian senyawa hasil kolom kromatografi pada 4 pelarut . terhadap laju pertumbuhan G. boninense dapat dilihat pada Tabel 1. Hasil uji in vitro pada Tabel 1 menunjukkan bahwa ekstrak kulit S. multijuga dengan pelarut 100 % CHClCE memiliki efek antifungi paling kuat terhadap pertumbuhan G. dengan laju pertumbuhan hanya 0,39 cm/hari, lebih rendah dibandingkan kontrol . ,70 cm/har. Hal ini menunjukkan bahwa senyawa non-polar yang terekstrak oleh kloroform . % CHClCE). Hal ini memungkinkan terdapat senyawa pada eluat hasil kromatografi kloroform yang memiliki senyawa seperti triterpenoid dan steroid yang memiliki aktivitas inhibisi kuat terhadap pertumbuhan jamur G. Boninense. Sementara itu, penggunaan campuran pelarut MeOH/CHClCE . % dan 20 %) menghasilkan laju pertumbuhan 0,56 dan 0,55 cm/hari, yang masih lebih rendah dibandingkan kontrol, tetapi tidak seefektif 100 % CHClCE. Tabel 1. Laju pertumbuhan hasil ekstraksi Senna multijuga . dari 4 pelarut terhadap jamur Ganoderma boninense Perlakuan Kontrol . anpa perlakua. 100% CHClCE 3% MeOH/CHClCE 20% MeOH/CHClCE 100% MeOH Laju Pertumbuhan . m/har. 70A0. 39A0. 56A0. 55A0. 60A0. Fraksi 20% MeOH/CHClCE menghasilkan laju pertumbuhan sedikit lebih rendah dibandingkan 3% MeOH/CHClCE meskipun dalam konsentrasi yang jauh berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat senyawa tertentu pada fraksi 20% MeOH/CHClCE yang lebih berpotensi menghambat pertumbuhan G. boninense dibandingkan senyawa pada 3% MeOH/CHClCE meskipun tergolong pada potensi yang rendah dibandingkan 100 % CHClCE. 168 |Rahayu et al. Uji In Vitro Daya Hambat Ekstrak Kulit Perbedaan polaritas mempengaruhi ekstraksi dan isolasi terhadap senyawa aktif. Ini mengindikasikan penurunan efektivitas ekstraksi senyawa non-polar saat dicampur dengan pelarut polar. Menurut Chan & Chong . , kombinasi chloroform-metanol dapat digunakan untuk mengekstrak senyawa aktif. Ekstrak dengan 100 % MeOH menghasilkan laju pertumbuhan 0,60 cm/hari, menunjukkan aktivitas penghambatan yang paling rendah. Ekstrak polar seperti metanol atau air sering kali menghasilkan aktivitas antibakteri yang lebih lemah terhadap patogen jamur jika dibandingkan ekstrak non-polar atau campuran, sebagaimana ditemukan dalam studi Ganoderma lainnya. Pelarut non-polar seperti kloroform paling efektif dalam mengekstrak senyawa bioaktif antifungi dari kulit S. multijuga, berbeda dengan metanol atau campuran polar, yang cenderung mengekstrak senyawa kurang aktif terhadap G. Strategi pelarut yang tepat sangat penting, seperti yang dijelaskan Chong & Chan . , karena sifat pelarut menentukan jenis senyawa yang diisolasi dan efek biologisnya Efektivitas ekstrak CHClCE S. multijuga dalam menghambat pertumbuhan G. kemungkinan besar disebabkan oleh keberadaan senyawa bioaktif seperti triterpenoid dan sterol, yang dikenal memiliki aktivitas antifungi dan larut dalam pelarut non-polar (Chong dan Chan, 2. Potensi daya hambat yang rendah signifikan pada campuran MeOH/CHClCE dan pelarut metanol murni menunjukkan bahwa senyawa polar yang diekstrak oleh metanol kurang berkontribusi dalam aktivitas antifungal terhadap G. Pelarut non-polar seperti diklorometana dan kloroform dapat mengekstrak senyawa seperti ergosterol dan ganoboninketal, yang memberikan efek antifungi kuat terhadap patogen tanaman (Angel et , 2. Selain itu, penelitian oleh Aziz et al. juga menemukan bahwa ekstrak nonpolar dari rumput laut dengan pelarut seperti diklorometana dan heksana menunjukkan daya hambat signifikan terhadap G. boninense, mendukung bahwa senyawa lipofilik berperan penting dalam aktivitas antifungi. Oleh karena itu, penggunaan pelarut yang sesuai sangat krusial dalam mengekstrak senyawa bioaktif, dan pelarut kloroform terbukti lebih unggul dalam mengisolasi senyawa antifungi dari kulit Senna multijuga. Karakteristik makroskopi Ganoderma Boninense Pengujian antifungi secara in vitro perlu di lakukan pengamatan kenampakan makroskopi dari jamur, hal ini penting untuk memastikan identifikasi terhadap jenis atau spesies jamur yang diuji. Kenampakan makroskopi mencakup ciri-ciri seperti warna koloni, warna koloni, tekstur koloni, tepi koloni, kerapatan miselium. Selain itu, perubahan morfologi makroskopik setelah perlakuan dengan senyawa antifungi dapat memberikan indikasi awal mengenai efektivitas senyawa tersebut dalam menghambat pertumbuhan atau merusak struktur koloni jamur. Hasil uji in vitro ekstrak S. multijuga terhadap jamur G. boninense dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1 menunjukkan hasil uji uji in vitro ekstrak S. multijuga menggunakan pelarut eluen berbeda terhadap jamur G. Masing-masing cawan menunjukkan pertumbuhan koloni jamur setelah inkubasi selama 10 hari di mana: . merupakan kontrol . anpa perlakua. , . perlakuan dengan ekstrak 100% CHClCE, . 3% MeOH/CHClCE, . 20% MeOH/CHClCE, dan . 100% MeOH. Secara visual, kontrol . menunjukkan pertumbuhan miselium paling luas dan padat, menandakan tidak adanya penghambatan. Sebaliknya, gambar . menunjukkan zona hambat yang lebih besar dengan pertumbuhan jamur yang tertekan di tengah dan tepi koloni yang tidak merata, mencerminkan efek antifungi tertinggi oleh ekstrak 100% CHClCE. Perlakuan . , . , dan . menunjukkan zona pertumbuhan yang relatif lebih besar dibandingkan . , namun tetap lebih kecil dari kontrol, yang mencerminkan daya hambat sedang hingga rendah. Uji in vitro ekstrak kulit S. multijuga terhadap karakteristik jamur G. boninense disajikan dalam Tabel 2. Jurnal Agroindustri Halal ISSN 2442-3548 Volume 11 Nomor 2. Agustus 2025 | 169 . Gambar 1. Hasil uji in vitro ekstrak Senna multijuga terhadap jamur Ganoderma boninense Keterangan : . merupakan kontrol . anpa perlakua. , . perlakuan dengan ekstrak 100% CHClCE, . 3% MeOH/CHClCE, . 20% MeOH/CHClCE, dan . 100% MeOH Berdasarkan Tabel 2 karakteristik koloni jamur G. boninense pada kontrol . menunjukkan karakteristik makroskopi berupa warna putih, padat dan merata, melingkar tidak beraturan dan menyebar penuh. Menurut Elfina dkk. warna koloni putih/ putih kekuningan, dan tumbuh menyebar. Warna putih serta miselium menyebar penuh mengindikasikan pertumbuhan miselium yang optimal. Ciri ini sesuai dengan laporan oleh Chong & Chan . , yang menyatakan bahwa pada kondisi optimal tanpa agen penghambat, boninense akan membentuk koloni dengan kepadatan miselium sangat tinggi serta pertumbuhan yang cepat pada medium PDA. Tabel 2. Karakteristik jamur Ganoderma boninense berdasarkan visual pada cawan petri . Kode Gambar Warna Koloni Tekstur Koloni . Putih Padat dan Merata Melingkar tidak Menyebar penuh . Putih Tidak padat tidak teratur Kurang menyebar dan tidak . Putih Padat dan halus Melingkar teratur Menyebar dan tidak penuh . Putih Padat halus merata Melingkar teratur Menyebar dan tidak penuh . Putih Padat halus merata Melingkar teratur Menyebar agak penuh Tepi Koloni Kerapatan Miselium Keterangan: . merupakan kontrol . anpa perlakua. , . perlakuan dengan ekstrak 100% CHClCE, . 3% MeOH/CHClCE, . 20% MeOH/CHClCE, dan . 100% MeOH Gambar . perlakuan dengan ekstrak 100% CHClCE menunjukkan perbedaan visual yang signifikan, yaitu warna koloni putih, tidak padat, tidak teratur kurang menyebar dan tidak Hal ini menunjukkan terjadinya hambatan pertumbuhan akibat senyawa bioaktif dalam ekstrak. Angel et al. menyebutkan bahwa terdapat senyawa hasil ekstraksi dengan pelarut non-polar seperti kloroform memiliki aktivitas antifungal yang kuat, termasuk dalam menghambat pertumbuhan miselium dan merusak integritas dinding sel jamur. Ciri 170 |Rahayu et al. Uji In Vitro Daya Hambat Ekstrak Kulit visual tersebut menjadi indikator bahwa senyawa dari ekstrak S. multijuga berhasil mengintervensi proses fisiologis jamur G. Gambar . 3% MeOH/CHClCE putih, padat dan halus, melingkar teratur, dan menyebar dan tidak penuh. Gambar . 20% MeOH/CHClCE menunjukkan koloni berwarna putih padat halus merata, melingkar teratur, menyebar dan tidak penuh. Sedangkan . 100% MeOH koloni berwarna putih, padat alus merata, melingkar teraturdan menyebar agak penuh. Secara keseluruahan perlakuan . , . , dan . , yang masing-masing menggunakan 3% MeOH/CHClCE, 20% MeOH/CHClCE, dan 100% MeOH, menunjukkan efek penghambatan yang lebih lemah di bandingkan . 100% CHClCE. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak non-polar dari beberapa tanaman obat mengandung senyawa seperti terpenoid dan steroid yang efektif dalam menghambat pertumbuhan Ganoderma sp. secara signifikan. pada perbedaan polaritas mempengaruhi ekstraksi dan isolasi terhadap senyawa aktif. Kloroform bersifat pelarut non-polar yang sangat efektif dalam mengekstraksi senyawa lipofilik seperti terpenoid, steroid, dan komponen aromatik yang memiliki aktivitas antijamur. Hasil studi menunjukkan bahwa fraksi kloroform dari ekstrak tanaman Myrtus communis memberikan efek antijamur lebih kuat terhadap Candida albicans dibandingkan ekstrak total, dengan nilai MIC lebih rendah yaitu sekitar 62,5 g/mL menunjukkan bahwa senyawa aktif bersifat non-polar kemungkinan terkonsentrasi dalam pelarut ini (Torabi et al. , 2. Studi lainnya pada Origanum vulgare bahwa ekstrak kloroform menunjukkan aktivitas antijamur paling tinggi dibandingkan metanol dan ekstrak berair (Ashraf et al. , 2. Sebaliknya, metanol adalah pelarut polar dengan kekuatan pelarut yang tinggi dan mampu melarutkan beragam senyawa sekunder seperti flavonoid, tanin, fenolik, dan glikosida (Lee et al. , 2. Ekstrak metanol cenderung memiliki hasil ekstraksi yang lebih besar dan kandungan fenolik yang tinggi, cocok untuk aktivitas antioksidan dan antimikroba spektrum luas, namun kurang selektif bagi senyawa non-polar. Studi pada ekstrak daun Azadirachta indica dan Vernonia amygdalina menegaskan bahwa metanol mengekstrak lebih banyak fenol dan flavonoid dibandingkan kloroform, tetapi limpa dari aktivitas antijamur relatif lebih rendah (Chatepa et al. , 2. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak kulit Senna multijuga memiliki potensi sebagai agen antifungi hayati terhadap jamur Ganoderma boninense. Perlakuan ekstraksi dengan pelarut 100% kloroform (CHClCE) memberikan laju pertumbuhan 0. 39 cm/hari, ditunjukkan dengan karakteristik miselium secara signifikan dibandingkan kontrol. Aktivitas antifungi ini diduga kuat berasal dari senyawa non-polar seperti triterpenoid dan sterol yang terekstrak secara optimal oleh pelarut 100% kloroform. Hasil ini mengindikasikan bahwa ekstrak kulit S. multijuga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber bahan aktif dalam formulasi agen pengendali hayati terhadap penyakit busuk pangkal batang pada kelapa sawit, sebagai alternatif yang ramah lingkungan terhadap fungisida sintetis. Oleh sebab itu, studi lanjutan perlu dilakukan untuk mengisolasi senyawa aktif secara spesifik, menguji toksisitas terhadap tanaman non-target, serta mengevaluasi efektivitas aplikasi di lapangan secara in vivo. DAFTAR PUSTAKA