Available Online at https://journal. id/index. php/JLO Jurnal Literasi Olahraga, 7 . , 2026, 113-118 Tantangan dan Solusi Peningkatan Pemahaman Guru Kelas Rendah terhadap Evaluasi Praktik Autentik Kamilah Insani1. Anida Nuraisyah Budiman2. Dewi Susilawati3. Mochamad Akbar Ramadhan4. Khofivah Dea Aulia5 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Pendidikan Jasmani Kesehatan. Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung. Indonesia. E-mail: kamilahinsani809@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tantangan dan solusi dalam meningkatkan pemahaman guru kelas rendah terhadap evaluasi praktik yang autentik dan bermakna. Evaluasi praktik diharapkan tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga mencakup proses, keterampilan, dan sikap siswa selama pembelajaran berlangsung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus intrinsik, yang berfokus pada guru PJOK kelas rendah di salah satu sekolah dasar di Kecamatan Rancaekek. Data dikumpulkan melalui studi literatur dan wawancara mendalam dengan guru untuk menggali pemahaman, kendala, serta strategi pelaksanaan evaluasi praktik. Analisis data dilakukan secara deskriptif-kualitatif dengan menelaah temuan lapangan dan teori pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memahami konsep penilaian autentik, namun menghadapi kendala seperti keterbatasan waktu, beban administrasi, dan kurangnya pelatihan. Solusi yang diusulkan meliputi pelatihan berkelanjutan, pendampingan profesional, dan pembentukan komunitas praktik guru. Strategi tersebut terbukti efektif dalam meningkatkan literasi asesmen, kompetensi evaluatif, serta kualitas pembelajaran yang reflektif dan bermakna di kelas rendah. Kata Kunci: evaluasi praktik, penilaian autentik, guru kelas rendah, literasi asesmen, pembelajaran Abstract This study aims to examine the challenges and solutions in enhancing lower-grade teachers' understanding of authentic and meaningful practical evaluation. Practical evaluation is expected not only to assess the final outcome but also to encompass the students' process, skills, and attitudes throughout the learning process. This research employs a qualitative method with an intrinsic case study approach, focusing on lower-grade Physical Education. Sports, and Health (PJOK) teachers at a primary school in Rancaekek District. Data were collected through a literature study and in-depth interviews with teachers to explore their understanding, constraints, and implementation strategies regarding practical evaluation. Data analysis was conducted in a descriptive-qualitative manner by examining field findings and supporting theories. The results indicate that while teachers understand the concept of authentic assessment, they face constraints such as limited time, administrative burden, and a lack of training. Proposed solutions include continuous training, professional mentoring, and the establishment of teacher communities of practice. These strategies are proven effective in improving assessment literacy, evaluative competence, and the quality of reflective and meaningful learning in lower grades. Keywords: practical evaluation, authentic assessment, lower-grade teachers, assessment literacy, meaningful learning. PENDAHULUAN Secara teoretis, evaluasi praktik dalam pembelajaran di kelas rendah seharusnya berorientasi pada proses, keterampilan, dan sikap siswa selama kegiatan belajar berlangsung, bukan hanya menilai hasil akhir semata. Evaluasi praktik merupakan bagian penting dari pembelajaran autentik yang menekankan keterlibatan aktif siswa dalam mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan secara nyata. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan antara teori dan praktik. Banyak guru kelas Copyright A 2022. Jurnal Literasi Olahraga . ISSN 2745-5394 Jurnal Literasi Olahraga 7 . Juli 2026 Ae 113-4 Kamilah Insani. Anida Nuraisyah Budiman. Dewi Susilawati. Mochamad Akbar Ramadhan. Khofivah Dea Aulia rendah . elas 1Ae3 SD) masih memahami evaluasi sebatas tes tertulis atau penilaian hasil akhir kegiatan tanpa mempertimbangkan proses belajar dan performa siswa selama pembelajaran berlangsung. Fenomena ini menunjukkan bahwa pemahaman guru terhadap konsep evaluasi autentik masih terbatas, padahal peserta didik di usia kelas rendah berada pada tahap perkembangan konkret yang membutuhkan pengalaman belajar langsung dan penilaian berbasis aktivitas. Akibatnya, muncul beberapa dampak negatif seperti menurunnya kualitas pembelajaran karena guru tidak memperoleh gambaran utuh tentang kemampuan siswa, hilangnya kesempatan siswa untuk belajar dari kesalahan karena umpan balik tidak bersifat reflektif, serta penilaian menjadi kurang objektif karena hanya menilai hasil akhir. Kesenjangan ini menjadi perhatian serius dalam konteks Kurikulum Merdeka yang menuntut guru menerapkan penilaian berbasis kompetensi dan proses. Hasil penelitian Nuraisyah et al. menunjukkan bahwa guru masih mengalami kesulitan dalam melaksanakan penilaian autentik karena kurangnya pemahaman, tingginya beban administrasi, serta keterbatasan waktu pembelajaran, sehingga asesmen sering kali hanya bersifat formalitas tanpa memberikan makna reflektif bagi siswa. Selanjutnya. Ramdan . mengkaji penerapan penilaian autentik pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Islam Terpadu Bina Insan Muara Wahau dan menemukan bahwa meskipun penilaian telah mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor, guru masih menghadapi kendala manajemen waktu serta jumlah siswa yang besar. Dalam konteks yang lebih luas. Muchson dkk. menegaskan pentingnya pendekatan holistik yang menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan kesadaran reflektif bagi peningkatan mutu pendidikan. Sementara itu. Rahim et al. membuktikan efektivitas pelatihan profesional berbasis blended learning dalam meningkatkan kompetensi guru terhadap pembelajaran mendalam. Dari berbagai penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kesulitan guru dalam memahami dan menerapkan evaluasi autentik masih menjadi tantangan utama dalam praktik pendidikan, khususnya di tingkat sekolah dasar. Kesenjangan penelitian yang ada menunjukkan bahwa belum terdapat kajian yang secara khusus menyoroti tantangan dan solusi peningkatan pemahaman guru kelas rendah terhadap evaluasi praktik yang autentik dan bermakna. Padahal, guru kelas rendah memiliki peran strategis dalam menanamkan dasar-dasar keterampilan akademik, sosial, dan karakter siswa sejak dini. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki urgensi tinggi untuk mengkaji lebih dalam bagaimana pemahaman guru terhadap evaluasi praktik memengaruhi kualitas pembelajaran, serta strategi apa yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kompetensi mereka. Secara spesifik, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan yang dihadapi guru kelas rendah dalam memahami dan menerapkan evaluasi praktik autentik serta merumuskan solusi yang efektif untuk meningkatkan pemahaman mereka. Adapun manfaat penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan literasi asesmen guru sekolah dasar serta menjadi acuan praktis bagi lembaga pendidikan dalam merancang pelatihan dan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan guru kelas rendah. Berdasarkan latar belakang, gap penelitian, dan urgensi tersebut, penelitian ini berfokus pada dua rumusan masalah, yaitu: . apa tantangan yang dihadapi guru kelas rendah dalam memahami dan menerapkan evaluasi praktik yang autentik dan bermakna, dan . strategi apa yang efektif untuk meningkatkan pemahaman guru kelas rendah terhadap evaluasi praktik dan penilaian autentik guna mendukung pembelajaran bermakna bagi siswa. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus intrinsik. Pendekatan ini dipilih karena penelitian bertujuan memahami secara mendalam tantangan dan solusi dalam meningkatkan pemahaman guru kelas rendah terhadap evaluasi praktik yang autentik dan Penelitian dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2025/2026 di salah satu sekolah dasar di Kecamatan Rancaekek. Kabupaten Bandung. Fokus penelitian diarahkan pada guru Pendidikan Jasmani. Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) kelas rendah . elas 1, 2, dan . yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria memiliki latar belakang S1 PJOK, pengalaman mengajar minimal 3 tahun, dan terlibat aktif dalam penyusunan asesmen. Partisipan utama penelitian ini terdiri dari 3 orang guru PJOK kelas rendah. Untuk memperkuat konteks dan kelengkapan data, penelitian ini juga melibatkan 1 orang kepala sekolah dan 2 orang guru kelas sebagai informan pendukung. Prosedur penelitian dilaksanakan melalui tiga tahapan utama, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, dan analisis. Tahap persiapan meliputi identifikasi masalah, kajian literatur, penyusunan kisi-kisi, serta Copyright A 2022. Jurnal Literasi Olahraga . ISSN 2745-5394 Jurnal Literasi Olahraga 7 . Juli 2026 Ae 113-4 Kamilah Insani. Anida Nuraisyah Budiman. Dewi Susilawati. Mochamad Akbar Ramadhan. Khofivah Dea Aulia pembuatam pedoman wawancara dan lembar observasi. Tahap pelaksanaan mencakup pengumpulan data melalui wawancara mendalam . n-depth intervie. dengan para informan serta observasi langsung terhadap praktik pembelajaran dan evaluasi yang dilakukan guru di lapangan. Selanjutnya, tahap analisis dilakukan dengan menelaah hasil wawancara, observasi, dan dokumen pendukung seperti modul ajar serta rubrik penilaian untuk menemukan pola, tantangan, dan strategi penerapan evaluasi praktik yang Instrumen penelitian yang digunakan berupa pedoman wawancara semi-terstruktur dan lembar observasi terstruktur yang dikembangkan berdasarkan indikator pemahaman guru, kendala pelaksanaan, serta strategi penguatan literasi asesmen. Guna menjamin kredibilitas dan keabsahan hasil penelitian, peneliti menerapkan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan informasi dari guru PJOK, kepala sekolah, dan guru kelas, sedangkan triangulasi teknik dilakukan dengan mencocokkan hasil wawancara, hasil observasi, dan analisis dokumen penilaian. Peneliti juga melakukan member check dengan mengonfirmasi ulang transkrip wawancara kepada partisipan untuk memastikan kesesuaian interpretasi data. Data kemudian dianalisis menggunakan teknik kualitatif model interaktif menurut Miles. Huberman, dan Saldana melalui tiga tahapan mendasar, yaitu reduksi data . engodean dan pemfokusan tem. , penyajian data . engorganisasian data ke dalam narasi dan matriks kategorisas. , serta penarikan kesimpulan atau verifikasi yang dilakukan secara terus-menerus hingga diperoleh pemahaman yang utuh, valid, dan mendalam. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan evaluasi praktik dan penilaian autentik di kelas rendah . elas 1, 2, dan . mengindikasikan dinamika yang kompleks antara idealisme konsep dan realitas di lapangan. Secara konseptual, evaluasi praktik dirancang untuk mengukur perkembangan motorik dasar, afektif, dan kognitif anak secara terpadu melalui pengalaman langsung dan pendekatan bermain (Nurhayati et al. , 2. Namun, temuan empiris melalui observasi langsung pada jam pelajaran PJOK di sekolah dasar Kecamatan Rancaekek memperlihatkan adanya jurang pemisah . antara perancangan berbasis kerangka sistematis seperti model ADDIE (Analysis. Design. Development. Implementation. Evaluatio. dengan eksekusi riil. Kendala utama yang ditemukan di lapangan adalah rasio jumlah siswa yang besar . encapai 28Ae32 siswa per kela. dan keterbatasan durasi pembelajaran . anya 2x35 menit semingg. Kondisi ini menyebabkan guru kesulitan melakukan observasi bertahap dan merekam proses aktivitas fisik siswa secara presisi. Meskipun teori menekankan bahwa penggunaan media digital sederhana seperti dokumentasi foto dan video mampu menjadi solusi efisien untuk efektivitas penilaian keterampilan (Zahwa & SyafiAoi, 2. , data wawancara mengungkapkan bahwa guru jarang memanfaatkannya karena keterbatasan perangkat pribadi dan tidak adanya alokasi waktu untuk mengolah dokumentasi tersebut pasca-pembelajaran. Akibatnya, evaluasi autentik berbasis tugas konkretAiseperti permainan Aulempar target berpasanganAy (Muzakki et al. , 2. Aisering kali tereduksi menjadi sekadar penilaian sepintas . nstant judgmen. , sehingga pemberian umpan balik positif yang krusial bagi motivasi dan perbaikan motorik siswa (Putro dkk. , 2. menjadi sangat minim dan tidak terdokumentasi dengan baik. Menganalisis tingkat pemahaman dan kompetensi guru, hasil wawancara mendalam membongkar fakta bahwa terdapat misalignment . antara pengetahuan teoritis dan penguasaan teknis operasional. Secara pengetahuan dasar, para guru PJOK serta informan pendukung (Kepala Sekolah dan Wali Kela. telah memahami bahwa asesmen autentik hendaknya mencakup proses, bukan sekadar hasil akhir (Nurjannah dkk. , 2. Kendati demikian, ketika ditelaah pada aspek kompetensi pedagogik dan teknis penyusunan instrumen (Wardani dkk. , 2. , ditemukan bahwa guru belum memiliki kemampuan memadai dalam merancang rubrik penilaian psikomotorik yang terukur dan spesifik untuk karakteristik anak kelas rendah. Sebagian besar instrumen yang digunakan bersifat umum, tidak memiliki indikator keberhasilan yang jelas untuk keterampilan motorik dasar . eperti koordinasi tubuh atau keseimbanga. , dan lebih banyak mengandalkan catatan rekapitulasi nilai akhir. Hal ini berdampak pada rendahnya validitas dan reliabilitas hasil asesmen (Efendi dkk. , 2. , di mana penilaian yang dilakukan guru cenderung bersifat kualitatif-subjektif dan mengandalkan daya ingat . emory-based ratin. Selain itu, fungsi evaluasi praktik sebagai sarana refleksi profesional guru (Zainal, 2. belum berjalan secara optimal. Guru jarang memanfaatkan data evaluasi untuk Copyright A 2022. Jurnal Literasi Olahraga . ISSN 2745-5394 Jurnal Literasi Olahraga 7 . Juli 2026 Ae 113-4 Kamilah Insani. Anida Nuraisyah Budiman. Dewi Susilawati. Mochamad Akbar Ramadhan. Khofivah Dea Aulia menganalisis kesenjangan belajar siswa atau merancang intervensi pengajaran perbaikan, melainkan hanya menuntaskan kewajiban rekapitulasi nilai administratif semata. Kondisi ini mengonfirmasi bahwa pelatihan teknis terfokus yang dapat meningkatkan keterampilan praktis guru dalam mengembangkan instrumen yang kontekstual masih sangat minim didapatkan oleh guru PJOK (Komari dkk. , 2. Pembahasan terkait solusi dan penguatan literasi asesmen menguraikan bahwa akar masalah ketidakoptimalan evaluasi praktik terletak pada terisolasinya guru dari ekosistem pengembangan profesional yang berkelanjutan. Meskipun literatur menegaskan pentingnya wadah Professional Learning Community (PLC) dan pelatihan yang konsisten untuk membangun pemahaman asesmen formatif yang adekuat (Dmitrenko et al. , 2021. Luthfiyyah dkk. , 2. , temuan di lapangan menunjukkan belum tersedianya forum Kelompok Kerja Guru (KKG) khusus PJOK di tingkat kecamatan yang secara spesifik membahas metodologi asesmen untuk kelas rendah. Hambatan ini membuat guru kesulitan beradaptasi dengan tuntutan Kurikulum Merdeka yang menekankan asesmen formatif adaptif dan responsif terhadap kebutuhan siswa (Widiastuti et al. , 2. Berdasarkan triangulasi data hasil wawancara dan analisis dokumen, solusi mendesak yang dibutuhkan oleh guru tidak sekadar sosialisasi teori kebijakan, melainkan pendampingan klinis . serta partisipasi aktif dalam komunitas praktik berbasis sekolah (Yacob, 2. Komunitas ini penting sebagai ruang kolaboratif bagi guru PJOK dan guru kelas untuk bersama-sama menyusur rubrik yang lebih praktis, menyederhanakan teknik observasi tanpa mengurangi objektivitas, serta memformulasikan mekanisme umpan balik konstruktif. Dengan demikian, penguatan literasi asesmen yang dilakukan secara sistematis dan kolaboratif akan merubah fungsi evaluasi dari sekadar beban administrasi menjadi alat diagnostik dan reflektif yang nyata untuk mendukung perkembangan holistik siswa di kelas rendah. SIMPULAN Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PJOK kelas rendah telah memiliki pemahaman yang cukup baik mengenai konsep dan penerapan penilaian autentik. Guru berupaya menilai tidak hanya hasil akhir, tetapi juga proses belajar siswa yang mencakup keterampilan motorik, sikap, dan kemampuan kerja sama. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran profesional terhadap pentingnya evaluasi praktik yang autentik dan bermakna dalam pembelajaran di kelas rendah. Namun, pelaksanaan di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala, antara lain keterbatasan waktu, jumlah siswa yang besar, beban administrasi, serta minimnya pelatihan formal yang relevan. Akibatnya, penilaian pada ranah afektif dan kognitif belum terlaksana secara optimal. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan perlunya pelatihan berkelanjutan, pendampingan profesional, dan pembentukan komunitas belajar guru yang mendorong kolaborasi, refleksi, serta pengembangan instrumen penilaian yang lebih komprehensif. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat kompetensi guru dalam melaksanakan evaluasi praktik yang autentik dan meningkatkan kualitas pembelajaran yang mendukung perkembangan holistik siswa di sekolah dasar. Copyright A 2022. Jurnal Literasi Olahraga . ISSN 2745-5394 Jurnal Literasi Olahraga 7 . Juli 2026 Ae 113-4 Kamilah Insani. Anida Nuraisyah Budiman. Dewi Susilawati. Mochamad Akbar Ramadhan. Khofivah Dea Aulia DAFTAR PUSTAKA