Jurnal Manajerial dan Kewirausahaan Vol. No. Juli 2026: hlm 1089 Ae 1099 ISSN 2657-0025 (Versi Elektroni. FAKTOR BRAND COMMUNICATION DAN PERCEIVED QUALITY SEBAGAI PENDUKUNG BRAND LOYALTY PRODUK GATSBY DI JAKARTA Said Ashadi Cahyadi1. Carunia Mulya Firdausy2*. Richard Andrew3 Program Studi Manajemen. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Tarumanagara Jakarta Email: said. 115220249@stu. Program Studi Manajemen. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Tarumanagara Jakarta Email: caruniaf@pps. Program Studi Manajemen. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Tarumanagara Jakarta Email: richarda@fe. *Penulis Korespondensi Masuk: 10-04-2026, revisi: 15-04-2026, diterima untuk diterbitkan: 31-07-2026 ABSTRAK Masalah yang dialami produk Gatsby yaitu terjadinya penurunan penjualan produk Gatsby. Masalah ini berdampak pada loyalitas konsumen terhadap merek Gatsby. Berbagai ulasan dari penelitian terdahulu menunjukkan bahwa Brand Loyalty dipengaruhi oleh faktor yang berbeda. Maka dari itu, penelitian ini menguji pengaruh brand communication dan perceived quality terhadap brand loyalty produk Gatsby di Jakarta. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 196 responden yang mengenal, menggunakan produk Gatsby lebih dari sekali, serta berdomisili di Jakarta. Metode dalam pemilihan sampel yaitu non-probability sampling dengan teknik purposive sampling dengan menyebarkan kuesioner penelitian melalui aplikasi Google Form. Sampel yang terkumpul mayoritas berada di domisili Jakarta Barat. Pengolahan data hasil responden menggunakan teknik Structural Equation Modelling (SEM) dengan aplikasi SmartPLS. perceived quality memberikan kontribusi efek yang lebih besar dibandingkan brand communication terhadap variabel brand loyalty. Temuan ini mengindikasikan bahwa strategi komunikasi merek yang konsisten dan kualitas produk yang dianggap unggul oleh konsumen menjadi faktor penting dalam meningkatkan loyalitas terhadap merek Gatsby. Penelitian ini diharapkan berkontribusi secara teoritis dalam mengembangkan literatur mengenai pemasaran serta rekomendasi Gatsby untuk memperkuat strategi komunikasi dan meningkatkan kualitas produk. Oleh karena itu, hasil penelitian ini menunjukkan terdapat pengaruh positif serta signifikan untuk hubungan Brand Communication. Perceived Quality, terhadap Brand Loyalty produk Gatsby di Jakarta. Kata Kunci: komunikasi merek, persepsi kualitas, loyalitas merek ABSTRACT The problem Gatsby products face is a decline in sales. This problem affects consumer loyalty to the Gatsby brand. Various reviews from previous studies indicate that different factors can influence Brand Loyalty. Therefore, this study aims to examine the influence of Brand Communication and Perceived Quality on Brand Loyalty of Gatsby products in Jakarta. The study included 196 respondents who knew and used Gatsby products more than once and were domiciled in Jakarta. The sampling method was non-probability purposive sampling, with research questionnaires distributed via the Google Forms application. The majority of the collected samples were domiciled in West Jakarta. Data processing of respondents' results used the Structural Equation Modeling (SEM) technique by using SmartPLS software. Perceived Quality had a greater effect on Brand Loyalty than Brand Communication. These findings indicate that a consistent brand communication strategy and product quality, as perceived by consumers, are important factors in increasing loyalty to the Gatsby brand. This research is expected to contribute theoretically to the literature on Gatsby marketing and to offer recommendations for strengthening communication strategies and improving product quality. Therefore, the results of this study indicate a positive and significant relationship between brand communication and perceived quality, as well as brand loyalty to Gatsby products in Jakarta. Keywords: brand communication, perceived quality, brand loyalty Faktor Brand Communication dan Perceived Quality sebagai Pendukung Brand Loyalty Produk Gatsby di Jakarta Said Ashadi Cahyadi et al. PENDAHULUAN Latar belakang Berdasarkan Elvira . PT Mandom Indonesia memiliki upaya kuat untuk mengejar perbaikkan kinerja penjualan produk pada tahun 2025. Penjualan bersih produk Mandom pada tahun 2024 menurun sebesar 9,31% di mana sejumlah Rp2,05 triliun di 2023 menjadi Rp 1,85 Mandom Indonesia juga mengalami kerugian sebesar 124,74 miliar. Faktor penurunan penjualan dan laba produk Mandom tahun lalu disebabkan karena kondisi pasar belum sepenuhnya pulih serta konsumen masih berhati-hati ketika berbelanja (Elvira, 2. Oleh karena itu, faktor penurunan penjualan produk berpengaruh terhadap loyalitas merek (Reza, et al. Tabel 1. Laporan laba rugi produk PT Mandom Indonesia Sumber: mandom. Laporan Laba Rugi Komprehensif Penjualan Bersih Laba Bruto Laba atau Rugi Usaha Laba atau Rugi Bersih Laba atau Rugi Komprehensif . Penelitian brand communication terhadap brand loyalty telah banyak dilakukan (Tandion et al. Lee & Saktiana, 2024. Oetama, 2022. Bawazir et al. Riskiansyah & Nuvriasari. Tandion et al. Lee & Saktiana . dan Oetama . menyatakan bahwa Brand Communication berpengaruh terhadap Brand Loyalty. Namun, penelitian Riskiansyah dan Nuvriasari . , serta Bawazir et al. mengatakan hal yang berbeda, di mana brand communication tidak berpengaruh terhadap brand loyalty. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Ole et al. menyatakan bahwa perceived quality memiliki pengaruh terhadap brand loyalty. Hasil ini sejalan dengan Steven dan Ruslim . Farrellio dan Djakasaputra . , serta Sari dan Saktiana . Namun, terdapat hasil penelitian yang berbeda, di mana penelitian Mubarokah et al. , serta Masitoh dan Kurniawati . menyatakan bahwa perceived quality tidak memiliki pengaruh terhadap brand Berdasarkan uraian yang disampaikan, terdapat hasil yang tidak konsisten antara pengaruh brand communication dan perceived quality terhadap brand loyalty. Oleh karena itu, penelitian ini akan menguji pengaruh brand communication dan perceived quality terhadap brand loyalty untuk kategori skincare pria Gatsby. Signaling Theory Teori yang digunakan pada penelitian ini yaitu Signaling Theory. Signaling Theory yang diperkenalkan oleh Spence . yang menjelaskan kondisi asimetri informasi antara perusahaan dan konsumen, di mana perusahaan memiliki informasi yang lebih lengkap mengenai kualitas produk sehingga perlu mengirimkan sinyal melalui Brand Communication untuk mengurangi ketidakpastian konsumen (Connelly et al. , 2. Brand Communication berfungsi sebagai sinyal yang mencerminkan nilai, kredibilitas, dan konsistensi merek, apabila disampaikan secara efektif dan berkelanjutan dapat membangun kepercayaan konsumen (An et , 2. Selain itu, perceived quality merupakan bentuk interpretasi konsumen terhadap sinyal kualitas yang diberikan perusahaan, di mana persepsi kualitas yang tinggi menunjukkan keberhasilan sinyal merek dalam membentuk evaluasi positif serta meningkatkan komitmen dan Jurnal Manajerial dan Kewirausahaan Vol. No. Juli 2026: hlm 1089 Ae 1099 ISSN 2657-0025 (Versi Elektroni. loyalitas konsumen, termasuk melalui transparansi sebagai sinyal kredibel (Cambier & Poncin. Dalam perspektif Signaling Theory. Brand Loyalty merupakan hasil dari keberhasilan sinyal merek yang kredibel dan konsisten dalam mengurangi asimetri informasi serta membangun kepercayaan, sehingga mendorong pembelian ulang, preferensi merek, dan kesediaan konsumen untuk merekomendasikan merek kepada pihak lain (Leischnig & Enke. Definisi konseptual variabel Brand Communication merupakan gagasan setiap produk untuk dipasarkan menggunakan elemen yang berbeda dari produk pesaing (Gymez-Rico et al. , 2. Brand Communication adalah upaya perusahaan untuk menyampaikan informasi terhadap segmentasi terhadap target yang dipilih dalam mempromosikan citra positif, kepercayaan yang akhirnya akan memengaruhi konsumen (Wijayanti et al. , 2. Brand Communication merupakan strategi perusahaan untuk menyampaikan nilai, karakter, serta keunikan merek kepada konsumen untuk mengenalkan produk dan membangun loyalitas (Chinomona, 2. Berdasarkan definisi di atas. Brand Communication adalah strategi pengenalan dan penguatan merek untuk memperkuat hubungan konsumen dengan perusahaan serta berhasil ketika menyampaikan pesan merek yang konsisten. Perceived quality dapat menciptakan persepsi merek yang kuat serta mencerminkan harga yang tinggi untuk produk berkualitas tinggi. Produk dari merek yang berkualitas tinggi membuat konsumen untuk membeli kembali produk dari merek tersebut dikarenakan terdapat pembeda keunikan merek pesaing (Akoglu & Ozbek, 2. Jika suatu merek memiliki Perceived Quality yang tinggi, maka akan dapat mencapai kepuasan konsumen yang tinggi setelah melakukan proses pembelian barang (Engelina & Laulita, 2. Perceived quality merupakan pandangan ataupun keyakinan konsumen terhadap kualitas keseluruhan dari suatu produk atau layanan (Lee & Saktiana, 2. Berdasarkan definisi di atas, perceived quality menggambarkan penilaian konsumen terhadap mutu keseluruhan suatu produk yang kemudian memengaruhi kepuasan serta kecenderungan mereka untuk melakukan pembelian ulang. Ketika konsumen meyakini bahwa suatu merek menawarkan kualitas yang unggul, mereka akan memandang merek tersebut lebih bernilai dan lebih layak dipilih dibandingkan alternatif lainnya. Brand Loyalty dapat dihitung melalui aspek frekuensi pembelian, jumlah pembelian, serta peralihan merek selama periode tertentu (Yang & Peterson, 2. Brand Loyalty dipersepsikan sebagai pertimbangan konsumen untuk beralih ke merek lain atau tidak, serta jika mereka melakukan peralihan, sejauh mana komitmen konsumen terhadap peralihan produk itu sendiri serta terus membeli dan menggunakan merek secara berulang dalam rutinitas pembelian mereka (Ryan et al. , 2. Brand Loyalty dikonsepkan sebagai komitmen yang berpegang teguh untuk peningkatan pembelian berulang konsumen yang bertujuan meningkatkan pemasaran produk yang lebih besar (Dinata & Firdausy, 2. Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan Brand Loyalty merepresentasikan keterikatan konsumen yang diwujudkan melalui perilaku pembelian yang konsisten dan kecenderungan untuk tetap memilih merek yang sama. Loyalitas ini muncul ketika konsumen merasa bahwa merek tersebut secara berkelanjutan memberikan nilai yang sesuai dengan harapan mereka, sehingga dorongan untuk berpindah ke merek lain menjadi rendah. Kaitan brand communication terhadap brand loyalty Brand Communication yang baik serta mudah dipahami dan dikenal oleh masyarakat akan meningkatkan loyalitas terhadap konsumen. Hasil penelitian oleh Tanady & Firdausy . menyatakan Brand Communication berpengaruh positif terhadap Brand Loyalty untuk pengguna Faktor Brand Communication dan Perceived Quality sebagai Pendukung Brand Loyalty Produk Gatsby di Jakarta Said Ashadi Cahyadi et al. jasa inspeksi Tribhakti Inspektama Indonesia. Tandion et al. menyatakan bahwa brand communication berdampak terhadap brand loyalty. H1: Brand communication memiliki pengaruh positif terhadap brand loyalty. Kaitan perceived quality terhadap brand loyalty Akoglu dan Ozbek . menyatakan perceived quality berpengaruh terhadap brand loyalty untuk produk pakaian olahraga. Kualitas merupakan faktor penting yang akan dipertimbangkan oleh konsumen untuk memutuskan suatu pembelian, pengaruh Perceived Quality terhadap Brand Loyalty ini berhubungan karena konsumen akan memiliki persepsi serta harapan kepada sebuah produk atau jasa yang digunakannya. Penelitian Alhaddad . menyatakan perceived quality memiliki pengaruh positif serta signifikan terhadap brand loyalty. H2: Perceived quality memiliki pengaruh positif terhadap brand loyalty. Berdasarkan uraian yang telah disampaikan di atas, maka penelitian ini memiliki hipotesis penelitian seperti kerangka pemikiran pada Gambar 1. Gambar 1. Kerangka pemikiran Hipotesis penelitian H1 : Brand Communication memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap Brand Loyalty kepada pengguna produk Gatsby di Jakarta. H2 : Perceived Quality memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap Brand Loyalty kepada pengguna produk Gatsby di Jakarta. METODE PENELITIAN Desain penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian Desain penelitian ini menganalisis pengaruh variabel Brand Communication dan Perceived Quality sebagai variabel independen terhadap variabel Brand Loyalty sebagai variabel Penelitian dilakukan dengan desain cross sectional yaitu responden yang dipilih diambil berdasarkan pada waktu tertentu menggunakan Google Form. Populasi, teknik pemilihan sampel, dan ukuran sampel Populasi penelitian ini yaitu individu yang tinggal di Jakarta, mengenal, dan pernah mengenal produk Gatsby. Metode yang digunakan dalam pemilihan sampel yaitu non-probability sampling dengan menggunakan teknik purposive sampling. Purposive sampling ditujukan untuk menentukan kriteria responden yang berdomisili di Jakarta, mengenal dan pernah menggunakan produk Gatsby lebih dari sekali. Oleh karena itu, pengambilan sampel dilakukan dengan menyebarkan kuesioner dengan menggunakan aplikasi Google Forms. Penyebaran kuesioner ini dilakukan melalui media sosial. Penentuan sampel yang ditentukan oleh Hair et al. yaitu jumlah sampel sebaiknya 10 kali dengan indikator. Penelitian ini memiliki 15 indikator, maka jumlah sampel yang sesuai dengan Hair et al. yaitu 15 indikator dikalikan dengan 10 sama dengan 150 responden. Untuk Jurnal Manajerial dan Kewirausahaan Vol. No. Juli 2026: hlm 1089 Ae 1099 ISSN 2657-0025 (Versi Elektroni. meningkatkan validitas, penelitian ini menggunakan responden sebanyak 196 responden yang diambil di lokasi Jakarta. Lokasi pengambilan sampel meliputi domisili Jakarta Barat. Jakarta Pusat. Jakarta Utara. Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur. Teknik pengukuran data yang digunakan yaitu skala Likert. Pengukuran data ini mengukur setiap indikator pertanyaan pada setiap variabel brand communication, perceived quality, dan brand loyalty. Kriteria penentuan responden ini yaitu mempertanyakan jenis kelamin responden. Selanjutnya, kriteria kedua yaitu mempertanyakan jenis produk Gatsby yang dipakai oleh responden seperti produk perawatan rambut, perawatan muka, parfum, dan deodorant. Kriteria responden ketiga yaitu pengguna produk Gatsby yang berdomisili di Jakarta seperti Jakarta Barat. Jakarta Pusat. Jakarta Utara. Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini diperoleh sebanyak 198 responden yang lolos kriteria kuesioner. Sebanyak 2 responden tidak memenuhi kriteria dalam penelitian ini. Oleh karena itu, penelitian ini akan menggunakan 196 responden dari 198 responden. Untuk hasil secara keseluruhan terkait kriteria responden akan dijelaskan pada Tabel 2. Kriteria responden berdasarkan jenis kelamin didominasi oleh jenis kelamin laki-laki sebanyak 121 responden . ,7%) dan sisanya 75 responden . ,3%) perempuan. Selanjutnya, kriteria responden berdasarkan jenis produk Gatsby yang dipakai oleh responden yaitu perawatan rambut sebanyak 83 responden . ,3%), perawatan muka sebanyak 42 responden . ,4%), parfum sebanyak 37 responden . ,9%), dan deodorant sebanyak 34 responden . ,3%). Kriteria responden berdasarkan domisili di Jakarta yaitu Jakarta Barat sebanyak 96 responden . %). Jakarta Selatan sebanyak 43 responden . ,9%). Jakarta Utara sebanyak 23 responden . ,7%). Jakarta Pusat sebanyak 19 responden . ,7%), dan Jakarta Timur sebanyak 15 responden . ,7%). Tabel 2. Karakteristik responden Sumber: Hasil analisis kuesioner Kriteria Jenis Kelamin Jenis Produk Gatsby yang Sering digunakan Domisili di Jakarta Kategori Laki Ae Laki Perempuan Perawatan Rambut Perawatan Muka Parfum Deodorant Jakarta Barat Jakarta Selatan Jakarta Utara Jakarta Pusat Jakarta Timur Persentase 61,7% 38,3% 42,3% 21,4% 18,9% 17,3% 21,9% 11,7% 9,7% 7,7% Jumlah Responden Perolehan data menggunakan metode Partial Least Squares dengan teknik Structural Equation Model (PLS-SEM) dengan menggunakan perangkat lunak SmartPLS versi 4. Untuk pengujian hasil statistik akan ditampilkan pada bagian selanjutnya. Hasil pengujian statistik Menurut Ringle et al. Validitas konvergen dinilai dengan memeriksa angka loading factor, serta syarat yang harus dipenuhi loading factor adalah lebih dari 0,7. Hasil analisis loading factor ditampilkan pada Tabel 3. Faktor Brand Communication dan Perceived Quality sebagai Pendukung Brand Loyalty Produk Gatsby di Jakarta Said Ashadi Cahyadi et al. Tabel 3. Hasil analisis loading factor Sumber: Hasil perolehan SEM-PLS Indikator BC1 BC2 BC3 BC4 BC5 PQ1 PQ2 PQ3 PQ4 PQ5 BL1 BL2 BL3 BL4 BL5 Brand Communication 0,885 0,875 0,830 0,833 0,876 Perceived Quality Brand Loyalty 0,906 0,833 0,868 0,893 0,862 0,866 0,885 0,854 0,816 0,861 Nilai Average Variance Extracted (AVE) harus memiliki kriteria di atas 0,5 dari setiap indikator (Ringle et al. , 2. Untuk penelitian ini, hasil pengujian nilai AVE telah memenuhi kriteria. Nilai AVE ditunjukkan pada Tabel 4. Tabel 4. Hasil pengujian Average Variance Extracted (AVE) Sumber: Hasil perolehan SEM-PLS Variabel Brand Communication Perceived Quality Brand Loyalty Average Variance Extracted (AVE) 0,740 0,762 0,734 Nilai cross loading yang konvergen ketika setiap variabel memiliki nilai lebih dari 0,7 (Ringle et , 2. Tabel 5 menyajikan nilai cross loading. Tabel 5. Hasil analisis cross loading Sumber: Hasil perolehan SEM-PLS Indikator BC1 BC2 BC3 BC4 BC5 PQ1 PQ2 PQ3 PQ4 PQ5 BL1 BL2 BL3 BL4 BL5 Brand Communication 0,885 0,875 0,830 0,833 0,876 0,541 0,437 0,445 0,477 0,474 0,341 0,444 0,408 0,379 0,370 Perceived Quality 0,466 0,475 0,479 0,487 0,436 0,906 0,833 0,868 0,893 0,862 0,508 0,556 0,454 0,524 0,528 Brand Loyalty 0,375 0,397 0,424 0,388 0,362 0,592 0,435 0,523 0,547 0,512 0,866 0,885 0,854 0,816 0,861 Selanjutnya, hasil pengujian Fornell-Larcker pada penelitian ini menunjukkan bahwa nilai setiap indikator telah memenuhi kriteria karena setiap konstruk indikator memiliki nilai lebih besar Jurnal Manajerial dan Kewirausahaan Vol. No. Juli 2026: hlm 1089 Ae 1099 ISSN 2657-0025 (Versi Elektroni. dibanding konstruk lainnya (Susanto et al. , 2. Pengujian Fornell-Larcker dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Hasil analisis Fornell-Larcker Sumber: Hasil perolehan SEM-PLS Variabel Brand Communication Brand Loyalty Perceived Quality Brand Communication 0,860 0,454 0,546 Brand Loyalty Perceived Quality 0,857 0,602 0,873 Hasil pengujian Heterotrait-Monotrait Ratio (HTMT) dapat dikatakan valid jika memiliki nilai di bawah 0,9 (Ringle et al. , 2. Pengujian HTMT telah memenuhi kriteria, seperti yang ditampilkan pada Tabel 7. Tabel 7. Hasil Pengujian Heterotrait-Monotrait ratio (HTMT) Sumber: Hasil perolehan SEM-PLS Variabel Brand Communication Brand Loyalty Perceived Quality Brand Communication Brand Loyalty 0,496 0,592 0,651 Perceived Quality Menurut Li dan Lay . CronbachAos alpha menyatakan konstruk akan reliabel jika mencapai nilai lebih dari 0,6. Oleh karena itu, penelitian ini telah memenuhi kriteria nilai CronbachAos Alpha karena telah memenuhi nilai > 0,6. Kriteria nilai composite reliability < 0,6 dianggap tidak memadai, nilai antara > 0,6 hingga < 0,7 masih dapat diterima, sedangkan nilai > 0,7 hingga di < 0,9 memiliki reliabilitas yang baik. Hasil uji reliabilitas ditunjukkan pada Tabel 8. Tabel 8. Hasil pengujian reliabilitas Sumber: Hasil perolehan SEM-PLS Variabel Brand Communication Perceived Quality Brand Loyalty CronbachAos Alpha 0,912 0,922 0,909 Composite Reliability . 0,913 0,929 0,911 Composite Reliability . 0,934 0,941 0,932 R-Square (RA) atau koefisien determinasi merupakan indikator yang mengukur sejauh mana variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen yang juga dipengaruhi oleh variabel lain dalam studi (Hair et al. , 2. Hasil pengujian R-Square (RA) menyatakan Brand Loyalty memiliki nilai R2 sebesar 0,385 yang berarti kemampuan variabel Brand Communication dan Perceived Quality menjelaskan variabel Brand Loyalty sebesar 38,5%. Sementara itu, sebesar 61,5% dapat dijelaskan oleh variabel lainnya yang berada di luar penelitian ini. Hasil uji RSquare (RA) ditampilkan pada Tabel 9. Tabel 9. Hasil pengujian R-square (RA) Sumber: Hasil perolehan SEM-PLS Variabel Brand Loyalty R-Square (R. 0,385 R-Square Adjusted (R. 0,379 Perhitungan Goodness of Fit dilakukan dengan mengalikan nilai AVE dan R-Square, kemudian hasilnya diambil akar kuadratnya. Nilai GoF > 0,1 memiliki arti rendah. Nilai GoF > 0,25 memiliki arti GoF sedang. Nilai GoF > 0,36 memiliki arti GoF tinggi. Tabel 10 menampilkan hasil perhitungan GoF. Untuk pengujian ini, hasil perhitungan GoF termasuk tinggi. Faktor Brand Communication dan Perceived Quality sebagai Pendukung Brand Loyalty Produk Gatsby di Jakarta Said Ashadi Cahyadi et al. Tabel 10. Hasil perhitungan GoF Sumber: Hasil perolehan SEM-PLS Variabel Brand Communication Perceived Quality Brand Loyalty Rata-rata AVE 0,740 0,762 0,734 0,745 GoF 0,536 0,385 0,385 Nilai predictive relevance (Q. menilai seberapa baik suatu model prediktif mampu menghasilkan prediksi yang tepat terhadap variabel serta respons yang ditargetkan. Nilai Q2 > 0, dianggap memiliki kemampuan prediksi yang relevan terhadap data. Sebaliknya, jika Q2 < 0, maka model tidak memiliki relevansi prediktif terhadap data tersebut (Iba & Wardana, 2. Hasil nilai Q2 menyatakan bahwa variabel brand loyalty dapat memberikan prediksi sebesar 0,368. Tabel 11 menunjukkan hasil uji predictive relevance (Q. Tabel 11. Hasil uji predictive relevance (Q. Sumber: Hasil perolehan SEM-PLS 0,368 Variabel Brand Loyalty Nilai fA mengindikasikan seberapa signifikan suatu variabel mempengaruhi variabel lainnya. Tingkat effect size dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu nilai > 0,02 berarti efek kecil, nilai > 0,15 berarti efek sedang, dan nilai > 0,35 berarti efek besar (Hair et al. Pengujian effect size untuk hipotesis brand communication terhadap brand loyalty memiliki efek kecil, sedangkan effect size untuk hipotesis perceived quality terhadap brand loyalty memiliki efek menengah. Tabel 12. Hasil uji effect size Sumber: Hasil perolehan SEM-PLS Variabel Brand Communication Ie Brand Loyalty Perceived Quality Ie Brand Loyalty Effect Size . 0,036 0,290 Keterangan Efek Kecil Efek Sedang Hasil uji bootstrapping Berdasarkan Tabel 13, pengaruh brand communication terhadap brand loyalty memiliki nilai path coefficient berada di rentang nilai 1 dan -1, yaitu 0,179, lalu nilai t-statistics 2,287 Ou 1,96 dan p-value 0,022 < 0,05. Hal ini menunjukkan terdapat indikasi positif dan signifikan antara brand communication terhadap brand loyalty sehingga H1 diterima (Hair et al. , 2. Pengaruh Perceived Quality terhadap Brand Loyalty memiliki nilai path coefficient berada di rentang nilai 1 dan -1 yaitu 0,504, lalu nilai t-statistics 7,690 Ou 1,96 dan p-value 0,000 < 0,05. Hal ini menunjukkan terdapat indikasi positif dan signifikan antara perceived quality terhadap brand loyalty, sehingga H2 diterima (Hair et al. , 2. Tabel 13. Hasil uji bootstrapping Sumber: Hasil perolehan SEM-PLS Variabel Brand Communication Ie Brand Loyalty Perceived Quality Ie Brand Loyalty Path Coefficient 0,179 0,504 t-statistics 2,287 7,690 p-values 0,022 0,000 Keterangan Diterima Diterima Pembahasan Berdasarkan hasil analisis data, hipotesis pertama yang menunjukkan bahwa brand communication berpengaruh positif dan signifikan terhadap brand loyalty produk Gatsby di Jurnal Manajerial dan Kewirausahaan Vol. No. Juli 2026: hlm 1089 Ae 1099 ISSN 2657-0025 (Versi Elektroni. Jakarta. Hasil tersebut sejalan dengan Tandion et al. Lee dan Saktiana . Tanady dan Firdausy . , serta Oetama . Namun, penelitian ini tidak sejalan dengan Bawazir et . , serta Riskiansyah dan Nuvriasari . Hal ini menyatakan upaya brand communication, seperti dengan membuat unggahan sosial media yang menarik serta informatif untuk menarik konsumen, dapat meningkatkan brand loyalty. Hipotesis kedua yang menyatakan Perceived Quality memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Brand Loyalty produk Gatsby di Jakarta. Hipotesis ini sejalan dengan penelitian (Ole et , 2025. Steven & Ruslim, 2024. Farellio & Djakasaputra, 2025. Sari & Saktiana, 2025. Akoglu & Ozbek, 2022. dan Alhaddad, 2. Namun, penelitian ini tidak sejalan dengan (Mubarokah et al. , 2025. dan Masitoh & Kurniawati, 2. Hal ini menyatakan Perceived Quality dapat meningkat dengan cara mengembangkan produk serta menjaga kualitas produk untuk meningkatkan Brand Loyalty dari merek Gatsby. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut : Hipotesis pertama membuktikan bahwa Brand Communication berpengaruh positif serta signifikan terhadap Brand Loyalty untuk produk Gatsby di Jakarta. Hipotesis kedua membuktikan Perceived Quality memiliki pengaruh positif serta signifikan terhadap Brand Loyalty untuk produk Gatsby di Jakarta. Saran teoritis dari penelitian selanjutnya yaitu dapat menggunakan tambahan variabel seperti brand image, brand trust, brand awareness serta variabel lain untuk menambahkan gambaran situasi yang terjadi. Kemudian, penelitian selanjutnya diharapkan meneliti responden dengan cakupan yang lebih luas, dan memperluas batasan wilayah agar mendapatkan sudut pandang yang berasal dari kota lain. Saran praktis dari penelitian ini yaitu Gatsby diharapkan bisa meningkatkan brand communication dengan membuat promosi yang menarik seperti membuat unggahan media sosial yang menarik konsumen. Kemudian, produk Gatsby diharapkan untuk meningkatkan kualitas, seperti memahami kebutuhan konsumen serta melakukan inovasi produk. Terakhir. Produk Gatsby diharapkan bisa berkolaborasi dengan influencer, mengembangkan strategi communication marketing, serta meningkatkan keunikan produk agar meningkatkan pembelian produk Gatsby dan akan timbulnya ulasan positif dari masyarakat serta produk Gatsby dapat direkomendasi oleh banyak masyarakat. Ucapan terima kasih Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof. Ir. Carunia Mulya Firdausy. ADE. Ph. dan Bapak Richard Andrew. yang telah meluangkan waktu nya untuk membimbing penulis dalam pembuatan jurnal ini. Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak lain yang mendukung proses penulisan maupun pembuatan jurnal. Penulis menyadari masih terdapat kekurangan dalam jurnal ini. Oleh karena itu, penulis menerima segala kritik dan saran yang membangun untuk mengembangkan jurnal ini. REFERENSI