KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2026. Vol. 3 No. 1: 31-39 Merdeka Belajar Merdeka Berkarya Dan Pengenalan Budaya Nusantara Di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur Versiani Mazda1. Safiera Anisha2. Khodijah Ishak3. Kurniatul Fil Khoirin4 1,2,3,4Institut Syariah Negeri Junjungan Bengkalis. Riau. Indonesia https://doi. org/10. 46367/khidmah. Info Artikel Riwayat: Dikirim: 12 April 2026 Direvisi: 16 April 2026 Diterima: 05 Mei 2026 Kata Kunci: Merdeka Belajar. Merdeka Berkarya. Nusantara. SIKL, pembelajaran berbasis Abstrak Penelitian ini mengkaji penerapan konsep Merdeka Belajar dan Merdeka Berkarya dalam pengenalan budaya Nusantara di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL). Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SIKL tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan bagi warga negara Indonesia di luar negeri, tetapi juga sebagai ruang pelestarian dan pengenalan identitas budaya Indonesia. Penerapan Merdeka Belajar terlihat dari metode mengajar guru yang variatif, meliputi penggunaan media visual dan permainan edukatif seperti puzzle budaya dan motif batik. Pendekatan ini menciptakan suasana belajar yang hidup, meningkatkan partisipasi aktif siswa, dan mempermudah pemahaman materi. Sementara itu, konsep Merdeka Berkarya diwujudkan melalui pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learnin. , di mana siswa tidak hanya memahami teori tetapi juga menghasilkan karya terkait budaya Nusantara. Proses ini mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kerja sama, dan pemecahan masalah. Penguatan karakter juga didukung oleh kegiatan ekstrakurikuler seperti tari tradisional, musik daerah, dan seni budaya, yang menumbuhkan rasa kebersamaan dan nasionalisme. Secara keseluruhan, integrasi pembelajaran di kelas dan pengenalan budaya memberikan dampak signifikan, yaitu siswa tidak hanya menguasai materi akademik tetapi juga menghargai identitas budayanya meskipun berada di luar negeri. Hal ini menjadi kekuatan utama penerapan Merdeka Belajar dan Merdeka Berkarya di SIKL dalam mendorong perkembangan holistik siswa, baik dari sisi akademik maupun karakter. Korespondensi: Versiani Mazda versianimazda03@gma This work is licensed under a Creative Commons AttributionNonCommercialShareAlike 4. International License. E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2026. Vol. 3 No. 1: 31-39 PENDAHULUAN Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya dan keankeragaman budaya yang sangat Perbedaan suku, bahasa, agama, adat istiadat, hingga tradisi sudah menjadi elemen yang tidak terasing dari kehidupan masyarakatnya. Keberagaman tersebut bukan hanya sekadar kondisi sosial, tetapi juga menjadi ciri khas negara yang terlihat dalam motto Bhinneka Tunggal Ika, yang menunjukkan variasi tetapi tetap bersatu. Artinya, walaupun masyarakat Indonesia berasal dari latar belakang yang beragam, semuanya tetap berada dalam satu kesatuan sebagai bangsa Indonesia. Kondisi masyarakat yang majemuk ini menunjukkan bahwa kehidupan sosial di Indonesia tidak lepas dari berbagai perbedaan. Oleh sebab itu, diperlukan pemahaman yang baik mengenai nilai kebersamaan, toleransi, serta sikap saling menghargai agar keberagaman tersebut dapat menjadi kekuatan bagi bangsa, bukan justru memicu terjadinya konflik di tengah masyarakat. (Suriyah, 2. Dalam situasi masyarakat yang beragam seperti ini, pendidikan memainkan fungsi yang sangat krusial, terutama dalam membangun sikap dan karakter generasi penerus. Pendidikan tidak hanya terbatas pada aspek akademis berfungsi untuk memberikan wawasan akademis kepada siswa, tetapi juga menjadi alat untuk menyisipkan nilai-nilai sosial, moral, dan budaya yang berkembang di masyarakat. Dengan cara tersebut pendidikan, siswa diharapkan dapat mengerti dan menghargai keberagaman yang ada di Salah satu metode pembelajaran yang menekankan nilai pemahaman terhadap keragaman itu adalah pendidikan multikultural. Pendidikan multikultural berusaha untuk mengembangkan kesadaran siswa bahwa masyarakat terdiri atas beragam latar belakang budaya, sehingga diperlukan perilaku saling menghormati dan menghargai antar sesama. (Wales, 2. Perkembangan zaman dan arus globalisasi juga membawa perubahan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Sistem pendidikan terus beradaptasi agar mampu menjawab tantangan yang ada sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran. Salah satu kebijakan yang hadir dalam upaya tersebut adalah penerapan Kurikulum Merdeka Belajar. Kurikulum ini memberikan tempat yang lebih besar untuk pengajaran antara guru dan siswa dalam melaksanakan proses belajar. Guru memiliki kebebasan dalam menentukan pilihan. Metode yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, sementara peserta didik diajak untuk lebih aktif, kreatif, serta mandiri saat proses pembelajaran. Dengan metode ini, pembelajaran tidak hanya terfokus pada pengajaran isi di kelas, namun juga pada pengembangan potensi siswa serta pembentukan karakter yang lebih kuat. (Qudwatullathifah et al. , 2. Dalam praktiknya. Merdeka Belajar juga mendorong penggunaan pembelajaran berbasis proyek dan pengalaman nyata. Melalui kegiatan tersebut, siswa dapat belajar dari situasi yang lebih dekat dengan aktivitas harian mereka sehari-hari. Salah satu contohnya ialah aktivitas yang mengenalkan kearifan local dan budaya setempat yang terdapat di Indonesia. Melalui proses ini, siswa tidak hanya mengetahui keberagaman budaya Nusantara secara teori, tetapi juga dapat memahami maknanya dalam kehidupan Dengan demikian, diharapkan tumbuh sikap menghargai keberagaman budaya sebagai bagian dari identitas bangsa. Penerapan konsep Merdeka Belajar tidak hanya berlangsung di sekolah-sekolah yang berada di Indonesia, tetapi juga mulai diterapkan di sekolah Indonesia yang terletak di luar negeri. Sekolah-sekolah tersebut memiliki peran yang cukup penting dalam memperkenalkan budaya Indonesia kepada para siswa yang hidup di lingkungan internasional. Melalui berbagai kegiatan pembelajaran yang mengangkat tema budaya Nusantara, siswa dapat mengenal tradisi, seni, bahasa, serta nilai-nilai budaya Indonesia meskipun mereka berada jauh dari tanah air. Kegiatan semacam ini menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya bangsa sekaligus memperkuat identitas nasional di tengah masyarakat global yang semakin beragam. Berdasarkan uraian tersebut, pengenalan budaya Nusantara melalui pendekatan Merdeka Belajar menjadi salah satu langkah yang penting dalam proses pembentukan karakter siswa. Melalui pembelajaran yang mengangkat nilai-nilai budaya, siswa diharapkan mampu mengembangkan sikap toleransi, menghargai perbedaan, serta memiliki rasa bangga terhadap budaya bangsa sendiri. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya berperan sebagai sarana untuk mentransfer pengetahuan, tetapi juga menjadi media penting dalam menginternilalisasi nilai-nilai budaya dan karakter kepada generasi muda. METODE Penelitian ini menerapkan berbagai teknik pengumpulan data, yakni observasi, wawancara, dan Pengamatan dilakukan dengan cara menyaksikkan secara langsung proses belajar mengajar di SIKL (Sekolah Indonesia Kuala Lumpu. , melalui pengamatan itu dapat diketahui pola dan metode pembelajaran peserta didik di kelas. Hasil pengamatan mengindikasikan bahwa mayoritas siswa lebih antusias ketika pembelajaran menggunakan media visual dan aktivitas langsung, seperti puzzle pakaian adat, gambar batik, serta permainan edukatif yang berkaitan dengan budaya Nusantara. (Novianti, 2. E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2026. Vol. 3 No. 1: 31-39 Wawancara dilakukan sebagai proses komunikasi dua arah antara peneliti dengan narasumber untuk mendapatkan informasi yang lebih detail tentang aktivitas pembelajaran. Wawancara dilakukan dengan berbagai pihak yang berperan dalam aktivitas pembelajaran di SIKL guna mendapatkan data yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran serta pengenalan budaya Nusantara kepada siswa. (Aslihatul Rahmawati. Nur Halimah. Karmawan, 2. Dokumentasi digunakan sebagai pelengkap data penelitian berupa foto, catatan, dan dokumen Dokumentasi dilakukan selama kegiatan berlangsung di SIKL, seperti saat proses pembelajaran di kelas, kegiatan bersama siswa, serta kegiatan kunjungan ke Duta Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur. Data dokumentasi ini berfungsi sebagai bukti pendukung dan membantu memperkuat hasil (Hasan et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL), lembaga pendidikan ini institusi pendidikan resmi dari Republik Indonesia yang terletak di Kuala Lumpur. Malaysia. SIKL didirikan pada tanggal 10 Juli 1969 dengan maksud memberikan layanan pendidikan kepada Wargawarga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Malaysia. Selain itu. SIKL juga berperan sebagai pusat untuk memelihara budaya dan mempertahankan identitas negara di tempat perantauan. Sekolah ini terletak di bawah pengawasan Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi Republik Indonesia dan Duta Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur. SIKL menyelenggarakan program pendidikan dimulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK). Sekolah Dasar (SD). Sekolah Menengah Pertama (SMP), sampai Sekolah Menengah Atas (SMA). Pada tahun 2013, keberadaan dan peran SIKL mendapat perhatian dari Badan Akreditasi Nasional (BAN) melalui proses akreditasi, dan hasilnya seluruh jenjang pendidikan di sekolah ini berhasil memperoleh akreditasi A, yaitu pada tingkat SD. SMP, dan SMA. Para siswa yang belajar di SIKL berasal dari berbagai daerah dan suku di Indonesia sehingga sekolah ini mencerminkan keberagaman budaya Nusantara. Keragaman tersebut menjadikan SIKL sebagai gambaran kecil Indonesia yang hidup dalam lingkungan masyarakat Malaysia. Sebagai sekolah Indonesia yang berada di luar negeri. SIKL mempunyai kewajiban yang cukup penting dalam mempertahankan identitas nasional. Hal ini sejalan dengan pernyataan dari Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum. Bapak Sungkono, menyatakan bahwa suasana sekolah diranvang agar mirip dengan lingkungan pendidikan di Indonesia, sembari mempertahankan dan melestarikan budaya Indonesia. Oleh sebab itu. SIKL tidak hanya fokus pada sisi akademis, tetapi juga berperan dalam membentuk karakter kebangsaan, menumbuhkan rasa nasionalisme, serta menanamkan kecintaan terhadap tanah air. Untuk mendukung pelestarian budaya. SIKL menyediakan berbagai aktivitas ekstrakurikuler yang berhubungan dengan seni dan kultur, seperti gamelan, angklung, tari tradisional, musik daerah, serta berbagai kegiatan kebangsaan lainnya. Melalui kegiatan tersebut, siswa diajak untuk mengenal, mempelajari, sekaligus melestarikan budaya Indonesia meskipun mereka berada di luar negeri. Semangat belajar siswa SIKL juga terlihat dari aktivitas mereka sehari-hari di lingkungan sekolah. Berdasarkan hasil pengamatan, menjelang pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS) banyak siswa yang memanfaatkan waktu di lorong-lorong sekolah untuk belajar bersama dengan tekun. Hal ini menunjukkan adanya rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pendidikan serta kesadaran akan pentingnya masa depan mereka. Pembelajaran merupakan proses bimbingan bagi individu. Dalam proses bimbingan tersebut tentunya terdapat seorang pemimpin atau pengajar, petunjuk atau visi/ misi, dan yang dipimpin atau siswa. Jadi, bisa juga diungkapkan bahwa pembelajaran adalah proses pengalihan pengetahuan yang kemudian pengetahuan itu tersebut dibuktikan dalam tingkah lakunya sehari-hari titik-titik dalam aktivitas pembelajaran tersebut tentu tidak bisa dipisahkan dari yang disebut dengan memilih, menentukan, dan merancang suatu metode yang diterapkan dalam proses pembelajaran. Yang mana hal tersebut bisa dicapai melalui suatu perencanaan. (Hanik et al. , 2. Kehadiran SIKL menjadi bukti bahwa suasana pendidikan Indonesia tetap dapat dirasakan meskipun berada di luar negeri. Di sisi lain, kondisi ini juga menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya seharusnya terus diperhatikan. Budaya merupakan identitas penting yang membedakan Indonesia dengan negara lain. Melalui berbagai program dan kegiatan yang dilaksanakan. SIKL terus menumbuhkan semangat Merdeka Belajar dan Merdeka Berkarya, sekaligus memperkuat kebanggaan siswa terhadap budaya Indonesia. Dengan demikian, di manapun mereka berada, siswa SIKL tetap dibentuk untuk mencintai tanah air serta membawa nilai-nilai budaya Indonesia dalam kehidupan mereka. E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2026. Vol. 3 No. 1: 31-39 Gambar 1 optimalisasi pembelajaran di lingkungan terbuka Berdasarkan dari temuan observasi dan wawancara yang telah dilakukan di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL), dapat dilihat bahwa keberadaan sekolah ini tidak hanya sebatas sebagai tempat belajar bagi Warga Negara Indonesia yang tinggal di Malaysia. Lebih dari itu, sekolah ini juga berperan krusial dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada para siswa. SIKL menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan kembali budaya Indonesia kepada anak-anak yang berkembang di lingkungann diluar Lingkungan sekolah sengaja dirancang agar seperti lingkungan sekolah yang ada di Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar para siswa tetap merasakan nuansa pendidikan nasional meskipun mereka berada jauh dari tanah air. Selain kegiatan belajar di kelas, sekolah juga sering mengadakan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan seni dan budaya Indonesia sebagai upaya menjaga identitas budaya bangsa di tengah lingkungan internasional. Seiring dengan perkembangan kebijakan pendidikan di Indonesia. SIKL juga mulai menerapkan konsep Kurikulum Merdeka dalam proses pembelajarannya. Pendekatan ini pada dasarnya memberikan ruang yang lebih luas untuk mendorong siswa berpartisipasi secara aktif dalam proses pembelajaran. Siswa tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi didorong untuk berpikir, berkreasi, dan belajar secara mandiri sesuai dengan minat serta potensi yang dimiliki. Dalam proses ini, peran guru juga mengalami perubahan. Guru tidak lagi hanya berfokus pada penyampaian materi, melainkan lebih berperan sebagai pendamping atau fasilitator yang membantu siswa memahami pelajaran dan mengembangkan cara berpikir yang lebih kritis. (Suriyah, 2. Dari hasil pengamatan di kelas, penerapan konsep Merdeka Belajar di SIKL terlihat melalui metode pembelajaran yang cukup beragam. Guru berusaha menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik dengan memanfaatkan media visual serta kegiatan yang melibatkan praktik secara langsung. Cara ini mendorong siswa lebih mengerti memahami materi yang sedang dipelajari. Salah satu kegiatan yang cukup menarik adalah penggunaan media puzzle yang berkaitan dengan budaya Indonesia, seperti puzzle pakaian adat maupun gambar motif batik. Melalui permainan sederhana seperti ini, siswa tidak hanya mengenal bentuk budaya Nusantara, tetapi juga mulai memahami bahwa setiap wilayah di Indonesia memiliki karateristik budaya yang unik di daerahnya masing-masing. (Yamin & Syahrir, 2. Selain itu, kegiatan belajar sering kali dihubungkan dengan pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan siswa. Pendekatan semacam ini membuat proses belajar terasa lebih nyata dan tidak hanya berhenti pada teori di dalam buku. Prinsip inilah yang sebenarnya sejalan dengan gagasan Kurikulum Merdeka, yaitu mendorong pembelajaran yang berbasis pengalaman sekaligus memperhatikan perkembangan karakter siswa. Dalam suasana belajar seperti ini, siswa biasanya lebih berani bertanya, berdiskusi, bahkan menyampaikan pendapat mereka selama proses pembelajaran berlangsung. Pelaksanaan Merdeka Belajar di SIKL juga didukung oleh berbagai aktivitas ekstrakurikuler yang berhubungan dengan seni dan budaya Indonesia. Beberapa di antaranya seperti kegiatan tari tradisional, musik daerah, serta kegiatan kebangsaan lainnya. Kegiatan tersebut memberikan ruang bagi siswa untuk mengekspresikan kreativitas mereka sekaligus mengenal budaya Indonesia secara lebih dekat. Dengan cara seperti ini, pembelajaran tidak hanya menitikberatkan pada keberhasilan akademis, namun juga berkontribusi dalam pembentukan karakter siswa serta menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2026. Vol. 3 No. 1: 31-39 Gambar 2 Memperkenalkan kebudayaan Indonesia melalui tarian tradisional, bela diri silat dan musik tradisional kompang Setelah konsep Merdeka Belajar mulai diterapkan dalam proses pembelajaran, perubahan yang terlihat bukan hanya pada cara siswa belajar. Siswa memang diberikan ruang yang lebih luas untuk aktif dalam kegiatan belajar, tetapi pada saat yang sama mereka juga mulai didorong untuk mengekspresikan kemampuan dan kreativitas yang dimiliki. Dari sini kemudian muncul gagasan tentang Merdeka Berkarya. Jika Merdeka Belajar memberi kebebasan dalam proses belajar, maka Merdeka Berkarya dapat dipahami sebagai kesempatan bagi siswa untuk menghasilkan sesuatu dari proses belajar tersebut, baik berupa ide, karya, maupun bentuk kreativitas lainnya. Dalam praktiknya, salah satu metode yang kerap diterapkan untuk mendukung Merdeka Berkarya merupakan pembelajaran yang berfokus pada proyek atau Project Based Learning (PjBL). Memberikan peluang bagi siswa untuk berpartisipasi secara langsung dalam kegiatan pembelajaran melalui proyekproyek tertentu. Proyek tersebut biasanya tidak hanya berkaitan dengan materi pelajaran, tetapi juga berhubungan dengan situasi realitas kehidupan. Dengan metode ini, siswa tidak hanya memahami konsep dalam teori, namun juga mempelajari cara menerapkan pengetahuan yang mereka miliki dalam bentuk karya atau hasil yang lebih konkret. (Nurcahyo, 2. Proses pembelajaran berbasis proyek pada dasarnya menekankan keterlibatan aktif siswa. Mereka tidak hanya menyimak penjelasan guru, tetapi juga berpartisipasi, mengembangkan, hingga menyelesaikan suatu proyek. Kegiatan tersebut bisa dilakukan secara individu maupun dalam kelompok. Melalui proses ini, siswa secara tidak langsung belajar banyak hal. Misalnya bagaimana bekerja sama dengan teman, menyampaikan ide, memecahkan masalah, bahkan mengambil keputusan ketika menghadapi kesulitan selama proses pengerjaan proyek. Karena itu, pembelajaran tidak lagi sekadar menerima informasi, tetapi menjadi pengalaman belajar yang lebih bermakna. Hal yang serupa juga dapat ditemukan di lingkungan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL). Konsep Merdeka Berkarya dapat terlihat dari berbagai kegiatan pembelajaran maupun aktivitas ekstrakurikuler yang mendorong siswa untuk lebih kreatif. Salah satu contohnya adalah kegiatan yang berkaitan dengan pengenalan budaya Nusantara. Dalam kegiatan tersebut, siswa dapat membuat berbagai bentuk karya, seperti media pembelajaran budaya, karya seni, atau proyek kelompok yang memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia. Kegiatan semacam ini tidak hanya membantu siswa mengenal budaya Indonesia, namun juga menyediakan kesempatan bagi mereka untuk menyatakan gagasan dan kreativitas yang dimiliki E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2026. Vol. 3 No. 1: 31-39 Dengan adanya penerapan Merdeka Berkarya dalam proses pembelajaran, diharapkan potensi siswa dapat berkembang secara lebih optimal. Tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga dari segi kreativitas, kemandirian, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Pada akhirnya, tujuan pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka memang tidak hanya berfokus pada penguasaan materi pelajaran semata. Lebih dari itu, kurikulum ini juga berupaya mempersiapkan siswa dengan beragam kemampuan yang diperlukan dalam hidup, terutama keterampilan yang relevan dengan tantangan abad Setelah konsep Merdeka Belajar dan Merdeka Berkarya mulai diterapkan dalam proses pembelajaran, pengenalan budaya Nusantara juga menjadi bagian yang cukup penting di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL). Hal ini dilakukan karena sebagian besar siswa berada di luar negeri, sehingga sekolah memiliki peran untuk tetap mengenalkan identitas budaya Indonesia kepada mereka. Melalui beragam aktivitas yang diselenggarakan di sekolah, siswa tidak hanya diajari untuk memahami keragaman budaya yang ada di Indonesia, namun juga diharapkan bisa memupukkan rasa kebanggan akan budaya nasional meskipun mereka sedang tinggal di lingkungan negara lain. Dalam kegiatan pembelajaran, pengenalan budaya Nusantara biasanya dilakukan dengan cara yang melibatkan siswa secara langsung. Pendekatan seperti ini sejalan dengan konsep Merdeka mempelajari yang memungkinkan ruang lebih luas bagi siswa untuk belajar secara aktif dan tidak hanya menerima informasi secara tidak langsung dari pengajar. Contohnya melalui aktivitas yang berhubungan dengan permainan klasik, lagu daerah, legenda, atau pemanfaatan tradisional dalam proses belajar. Dari kegiatankegiatan tersebut, siswa tidak hanya sekadar mengenal bentuk budaya Indonesia, tetapi perlahan juga mulai memahami nilai-nilai yang ada di dalamnya. (Rudi Hartono et al. , 2. Selain dilakukan di dalam kelas, pengenalan budaya juga sering diwujudkan melalui berbagai kegiatan di luar pembelajaran formal. Di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur sendiri terdapat beberapa kegiatan seni dan budaya seperti tari tradisional, musik daerah, serta latihan memainkan alat musik Kegiatan seperti ini biasanya cukup diminati oleh siswa karena mereka bisa belajar sambil Di sisi lain, kegiatan tersebut juga memberikan peluang bagi siswa untuk mengekspresikan kreasi mereka, bahkan menghasilkan karya yang berkaitan dengan budaya Indonesia. Dalam pelaksanaannya, kegiatan pengenalan budaya tentu tidak terlepas dari peran guru. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membina dan serta mengarahkan siswa supaya mereka dapat memahami makna dari budaya yang dipelajari. Melalui proses tersebut, nilai-nilai seperti kerja sama, kedisiplinan, serta rasa cinta terhadap tanah air juga secara tidak langsung mulai terbentuk pada diri siswa. Karena itu, pengenalan budaya Nusantara sebenarnya tidak sekadar bertujuan untuk menambah ilmu, namun juga berperan dalam pengembangan kepribadian siswa. Dengan adanya penerapan Merdeka Belajar. Merdeka Berkarya, dan pengenalan budaya Nusantara secara bersamaan, diharapkan siswa di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur dapat berkembang secara lebih Mereka tidak hanya memiliki kemampuan akademik yang baik, tetapi juga memiliki rasa nasionalisme dan kebanggaan terhadap budaya Indonesia. Walaupun berada di luar negeri, siswa tetap dapat mengenal dan mempelajari budaya bangsa, bahkan ikut menjaga dan melestarikannya dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan pembelajaran berbasis proyek di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur memberikan ruang bagi peserta didik agar belajar dengan metode yang lebih parsitipatif. Dalam tahap ini, siswa tidak hanya mendapatkan materi dari pengajar, tetapi juga diarahkan untuk bertpartisipasi langsung dalam aktivitas yang mendukung kreativitas mereka. Melalui proyek yang berkaitan dengan budaya Nusantara, siswa memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai ide sekaligus memahami nilai-nilai budaya yang ada di Indonesia. Proses tersebut juga mendorong siswa untuk menghasilkan karya sebagai bentuk ekspresi dari apa yang mereka pelajari. Karya yang dihasilkan tidak hanya menjadi hasil akhir dari pembelajaran, tetapi juga menunjukkan bagaimana siswa mampu mengembangkan gagasan mereka secara mandiri. Dengan demikian, kegiatan ini membantu siswa memahami materi sekaligus menumbuhkan kreativitas serta apresiasi terhadap budaya Nusantara. Beberapa kegiatan pengenalan budaya Nusantara yang dikerjakan oleh siswa dapat diamati pada gambar berikut: E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2026. Vol. 3 No. 1: 31-39 Gambar 3 Pengenalan budaya Nusantara baju adat Nusantara melalui puzzle Gambar 4 Pengenalan budaya Nusantara dengan membuat gambar batik KESIMPULAN Berdasarkan dari studi yang dilakukan di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL), dapat tampak bahwa pelaksanaan konsep Merdeka Belajar dan Merdeka Berkarya telah berlangsung dengan cukup baik dan memiliki pengaruh positif dalam proses belajar. SIKL tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan untuk pelajar Indonesia yang tinggal di luar negeri, namun juga berfungsi sebagai media untuk menjaga sekaligus memperkenalkan budaya Nusantara kepada peserta didik. Dalam pelaksanaannya, proses pembelajaran di SIKL cenderung lebih aktif dan berpusat pada siswa. Hal ini terlihat dari penggunaan berbagai media pembelajaran seperti media visual, permainan edukatif, hingga kegiatan yang berbasis pengalaman langsung. Pendekatan ini membuat siswa lebih tertarik untuk mengikuti pembelajaran. Mereka tidak lagi hanya menerima materi, tetapi mulai berani menyampaikan pendapat, berdiskusi, dan terlibat secara langsung dalam kegiatan belajar. Di sisi lain, penerapan Merdeka Berkarya melalui pembelajaran yang berfokus pada proyek juga memfasilitasi kesempatan bagi siswa untuk tumbuh kreativitas. Siswa didorong untuk menghasilkan karya yang berkaitan dengan budaya Nusantara, sehingga proses belajar tidak berhenti pada pemahaman teori Dari kegiatan tersebut, siswa juga belajar bekerja sama, melatih kemampuan berpikir kritis, serta menyelesaikan masalah secara mandiri. Hal ini menyiratkan bahwa metode pembelajaran yang digunakan telah mulai berfokus pada pengembangan kemampuan yang sesuai dengan tuntunan di masa depan. Selain kegiatan di dalam kelas, aktivitas ekstrakurikuler yang berbasis seni dan budaya turut memperkuat pengalaman belajar siswa. Melalui kegiatan seperti tari tradisional, musik daerah, dan berbagai aktivitas budaya lainnya, siswa dapat mengenal budaya Indonesia secara lebih dekat. Kegiatan ini juga membantu menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas bangsa, meskipun mereka berada di lingkungan luar negeri. Secara keseluruhan, penerapan Merdeka Belajar dan Merdeka Berkarya yang dipadukan dengan pengenalan budaya Nusantara memberikan dampak yang cukup menyeluruh terhadap perkembangan E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2026. Vol. 3 No. 1: 31-39 Tidak hanya dari aspek akademis, tetapi juga dalam pengembangan karakter, kreativitas, serta Dengan kondisi tersebut. SIKL dapat menjadi salah satu contoh bahwa pembelajaran yang menggabungkan aspek akademik dan budaya mampu membentuk ulang peserta didik yang tidak hanya memiliki kecerdasan, tetapi juga sifat dan identitas yang kokoh. UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan terima kasih kami tujukan kepada semua pihak yang telah berkonstribusi dalam terselenggaranya program pengabdian ini. Secara khusus,kami memgucapkan terima kasih kepada pengelola dan semua siswa Sekolah Indonesia Kuala Lumpur yang telah berkontribusi dengan antusias dan semangat selama acara berlangsung. penghargaan juga kami sampaikan kepada tim pengabdian serta semua pihak di Institut Syariah Negeri Junjungan Bengkalis yang telah memberikan bantuan dan kolaborasi, mulai dari fase persiapan hingga penyusunan laporan akhir. Besar harapan kami, kegiatan ini dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan, terutama dalam mendukung semangat Merdeka Belajar. Merdeka Berkarya, serta memperkenalkan dan menumbuhkan kecintaan terhadap budaya Nusantara, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat luas. E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2026. Vol. 3 No. 1: 31-39 DAFTAR PUSTAKA