JISHUM (Jurnal Ilmu Sosial dan Humanior. https://journal. id/index. php/jishum Vol. 1 No 4 Juni 2023. Hal. E-ISSN 2962-0120 Implementasi Budaya 5-S (Senyum. Salam. Sapa. Sopan. Santu. dan Metode Guru dalam Membiasakannya Pada Siswa Sekolah Dasar Nurul Afifah1. Syukron Djazilan2. Syamsul Ghufron3. AkhwaniA Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya. Indoneisa E-mail: nurulafifah061. sd19@student. idA, syukrondjazilan@unusa. idA, syamsulGhufron@unusa. idA, akhwani@unusa. idA Abstract Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai implementasi budaya 5-S dan metode guru dalam membiasakannya. Sasaran pada penelitian ini adalah siswa SDN Asemrowo II/63 Surabaya. Penelitian ini menggunakan jenis penilitian kualitatif untuk mendeskripsikan keadaan budaya sekolah lebih spesifik dan mendalam. Sumber datanya adalah kepala sekolah, guru kelas rendah, guru kelas tinggi dan guru agama. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi budaya 5-S dan metode guru dalam membiasakannya direalisasikan dalam 4 bentuk kegiatan yaitu kegiatan rutin, kegiataan spontan, pengkondisian, keteladanan. Metode yang diterapkan guru adalah metode keteladanan, metode pembiasaan, metode nasehat, dan metode Kata Kunci: Budaya Sekolah 5-S. Metode Guru Abstract The purpose of this study is to provide an overview of the implementation of the 5S culture and the teacher's method of getting used to it. The target in this study were students of SDN Asemrowo II/63 Surabaya. This study uses a type of qualitative research to describe the state of school culture more specifically and deeply. The data sources are school principals, low grade teachers, high grade teachers and religion teachers. Data collection techniques in the form of observation, interviews, documentation. The results of the tudy show that the implementation of the 5-S culture and the teacher's method of getting used to it is realized in 4 forms of activity, namely routine activities, spontaneous activities, conditioning, exemplary. The methods used by the teacher are exemplary methods, habituation methods, advice methods, and supervision methods Keyword: 5-S School Culture. Teacher Method PENDAHULUAN Budaya sekolah merupakan salah satu hal yang sangat penting yang harus diterapkan oleh sekolah yang harus dijalankan oleh semua guru, staf dan murid. Budaya positif merupakan tata nilai dan keyakinan yang membawa dampak positif JISHUM (Jurnal Ilmu Sosial dan Humanior. https://journal. id/index. php/jishum Vol. 1 No 4 Juni 2023. Hal. E-ISSN 2962-0120 bagi semua guru, staf dan murid. Menurut pendapat Short dan Greer, budaya sekolah ialah sebuah bentuk keyakinan, kebijakan, norma, dan kebiasaan dalam sekolah yang dapat dibentuk, dipelihara dan diperkuat melalui kepala sekolah, dan guru-guru yang kemudian didukung oleh seluruh warga sekolah. Sedangkan Zamroni mengemukakan, budaya sekolah merupakan perjalanan panjang sekolah yang terbentuk dari sebuah pola-pola nilai, prinsip, tradisi dan kebiasaan yang ada disekolah (Husna et al. , 2. Budaya sekolah dikembangkan dalam kurun waktu yang lama dan menjadi jalan hidup bagi seluruh warga sekolah sehingga mendorong munculnya sikap positif warga Budaya sekolah disebut sebagai pola-pola yang mendalam, kepercayaan nilai, dan tradisi yang terbentuk dari beberapa rangkaian, kebiasaan dan sejarah sekolah dalam sebuah pendidikan, salah satunya yaitu budaya dalam pembentukan karakter peserta didik (Nurjanah, 2. Menurut Nurdin Usman, implementasi merupakan bermuara padasuatu aktivitas, aksi serta tindakan atau adanya mekanisme suatu sistem, implementasi bukan hanya sekedar aktivitas, tapi suatu kegiatan yang sudah terencana untuk mencapai suatu tujuan dalam kegiatan (Zulfian, 2. GunturSetiawan berpendapat, implementasi adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan proses interaksi antara tujuan dan tindakan untuk mencapainya serta memerlukan jaringan pelaksanaan. adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan proses interaksi antara tujuan dan tindakan untuk mencapainya serta memerlukan jaringan pelaksanaan. Pengembangan itu harus dilakukan melalui perencanaan yang baik, pendekatan yang sesuai, dan metode penerapan yang efektif. Sesuai dengan sifat suatu nilai, pendidikan budaya dan karakter peserta didik adalah usaha bersama lembaga sekolah, oleh karena itu harus dilakukan secara bersama oleh semua guru dan kepala sekolah, untuk menciptakan dan menerapkan budaya sekolah yang baik (Ezra Sarwina. Biya Ebi Praheto, 2. Pendidikan merupakan media atau wadah yang digunakan untuk mendidik, membimbing dan memberikan pemahaman tentang suatu ilmu pengetahuan atau sebuah pembelajaran yang telah disampaikan oleh seorang pendidik yang bertujuan untuk menjadikan peserta didik memiliki wawasan pengetahuan yang luas sehinga dapat berguna bagi semua orang (Mawaddah, 2. Pendidikan bukan sekedar untuk menyampaikan ilmu pengetahuan belaka, tetapi pendidikan juga diaplikasikan sebagai mendidik peserta didik agar menjadi peserta didik yang berkarakter baik dan Proses mendidik bukan hanya dilakukan di lingkungan sekolah saja akan JISHUM (Jurnal Ilmu Sosial dan Humanior. https://journal. id/index. php/jishum Vol. 1 No 4 Juni 2023. Hal. E-ISSN 2962-0120 tetapi bisa dilakukan di lingkungan keluarga terutama pendidikan dari orang tua. Pendidikan juga bisa disebut sebagai sebuah media yang digunakan untuk pembentukan moral, mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter peserta didik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sehingga dapat mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi anak yang berilmu, kreatif, cakap, mandiri, bertanggung jawab dan berakhlak yang baik (Puttri 2. Upaya dalam meningkatkan kembali pendidikan karakter peserta didik di sekolah yang sehingga dapat terbentuk dalam kehidupan sehari-hari, maka dibutuhkan adanya sebuah pembiasaan budaya 5-S di sekolah. Dan dengan membiasakan penanaman budaya 5-S disekolah sebagai salah satu upaya untuk menguatkan kembali pendidikan karakter, maka peserta didik akan menjadi peserta didik memiliki jiwa unggul yang bukan hanya dalam bidang pengetahuan, tapi juga dalam bidang karakter yang dilandasi dengan fondasi yang kuat dari nilai-nilai religius (AlFawwaz, 2. Berbicara mengenai kemajuan suatu bangsa, adalah terletak pada karakter bangsanya. Seseorang yang memiliki karakter kuat secara individu maupun sosial merekalah yangrakhlak, berbudi pekerti baik dan bermoral. Namun saat ini, pada kenyataannya sangat krisis akhlak dan moral yang terjadi dimana-mana. Pelaksanaan pendidikan seperti belum mampu untuk menyiapkan generasi anak muda menjadi generasi yang lebih baik Hal itu dikarenakan belum efektifnya penerapan pendidikan karakter di lembaga sekolah, padahal dengan pendidikan menjadi penentu baik buruknya peradaban masyarakat suatu bangsa (Fitrianingsih. Majid, 2. Akar dari semua tindakan yang tidak baik itu terletak pada hilangnya sebuah karakter yang melekat pada diri peserta didik. Karakter yang kuat adalah karakter yang menjadi bahan utama dalam memberikan kemampuan kepada peserta didik untuk bersosialisasi dan berinteraksi dalam kedamaian serta membentuk dunia yang dipenuhi dengan kebajikan, yang bebas dari kekerasan dan penindasan. Karakter itu tidak diwariskan, tetapi karakter adalah sesuatu yang dibangun secara berkelanjutan melauli pikiran dan perbuatan (Kurniatin, 2. Budi pekerti baik, sopan santun, dan religius yang menjadi kebiasaan atau budaya masyarakat Indonesia seakanakan menjadi sulit untuk dijumpai ditengah-tengah masyarakat saat ini. Kondisi atau permasalahan seperti ini akan lebih fatal jika pemerintah tidak turun tangan untuk melakukan programprogram perbaikan dalam kurun waktu yang panjang maupun Pendidikan JISHUM (Jurnal Ilmu Sosial dan Humanior. https://journal. id/index. php/jishum Vol. 1 No 4 Juni 2023. Hal. E-ISSN 2962-0120 permasalahanpermasalahan yang kita jumpai saat ini (Atqiyah, 2. Budaya 5-S merupakan salah satu metode pendidikan yang menyeluruh, karena dalam perwujudannya terdapat banyak cara untuk membentuk sebuah karakter peserta didik seperti, pemberian atau pembiasaan keteladanan, pembiasaan bertanggung jawab, dan adanya pembentukan moral yaitu sopan santun. Pendidikan agama ini tidak hanya mengajarkan tentang materi, tetapi benar-benar membiasakan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari dilingkungan sekolah maupun diluar lingkungan sekolah (Al-Fawwaz, 2. Kemudian para peneliti sosial lainnya melaksanakan dan mengimplementasikan konsep konsep budaya kepada sudut pandang yang lebih kategoris yaitu mengenai pola tingkah laku dan pola pikir seseorang dalam bekerja formal pada sebuah organisasi. Budaya sekolah dikembangkan dari konsep budaya yang mengatur sebuahtindakan warga sekolah melalui sebuah penetapan aturan sekolah yang wajib dijalankan dan dilaksanakan bersama oleh seluruh warga sekolah. Budaya sekolah akan membentuk sebuah keterikatan terhadap nilai, norma, serta kebiasaan-kebiasaan tertentu (Akmal, 2. Sekolah merupakan sebuah lembaga pendidikan yang menjadi salah satu lembaga yang bertanggung jawab atas pembentukan karakter peserta didik. Sekolah mempunyai tanggung jawab moral untuk mendidik peserta didik agar menjadi peserta didik yang cerdas, pintar, dan memiliki karakter yang baik (Inayah, 2. Budaya sekolah yang baik sangat mendukung keberhasilan dari program pendidikan karakter. Namun, budaya yang negatif akan menghambat pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa budaya sekolah mempunyai pengaruh yang besar terhadap implementasi pendidikan karakter peserta didik. alam penerapan budaya 5-S . enyum, salam, sapa, sopan, santu. juga terdapat nilai-nilai karakter dalam budaya 5-S yaitu nilai toleransi, peduli sosial dan cinta damai terhadap sesama atau terhadap lingkungan sekitarnya(Ezra Sarwina. Biya Ebi Praheto, 2. Dalam kaitan ini, lembaga sekolah yang akan diteliti yaitu SDN Asemrowo II/63 Surabaya yang sudah menerapkan program 5-S kurang lebih 5 tahun. SDN Asemrowo II/63 Surabaya ini merupakan lembaga sekolah yang didirikan sejak tahun 1980 dibawah naungan kementerian pendidikan dan kebudayaan. SDN Asemrowo II/63 ini mempunyai beberapa kelebihan diantaranya yaitu memiliki guru yang bekerja secara profesional dan tanggung jawab. Program budaya 5-S yang sangat JISHUM (Jurnal Ilmu Sosial dan Humanior. https://journal. id/index. php/jishum Vol. 1 No 4 Juni 2023. Hal. E-ISSN 2962-0120 diterapkan, memiliki beberapa program yang digunakan untuk membentuk karakter peserta didik, dan memiliki perpustakaan yang memuat beberapa bacaan dan acuan buku sejumlah kurang lebih seribu buku. Siswa di SDN Asemrowo II/63 Surabaya ini sangat ramah dan sopan terhadap guru dan staf yang ada disekolah, mereka menerapkan budaya 5-S yang sudah ditetapkan di sekolah. Namun tindakan atau perilaku mereka terhadap sesama teman masih kurang dalam menerapkan 5-S dan masih adanya pembicaraan yang kurang layak untuk didengar. Dengan demikian seorang pendidik harus memiliki upaya dalam pembentukan karakter religius peserta didik, meskipun lembaga sekolah tidak berlebelkan sekolah islam, namun diharapkan peserta didik setelah lulus akan menjadi peserta didik yang berakhlak baik dan berkualitas. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti dengan judul AuImplementasi Budaya 5-S . enyum, salam, sapa, sopan, santu. dan Metode Guru dalam Membiasakannya pada Siwa SDN Asemrowo II/63 SurabayaAy. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai implementasi budaya 5-S dan metode guru dalam membiasakannya. Sasaran pada penelitian ini adalah siswa SDN Asemrowo II/63 Surabaya. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dalam upaya memperoleh kebenaran atau mengungkap solusi atas permasalahan yang ada saat ini. Dengan pendekatan deskriptif yaitu sebagai referensi bagaimana penelitian lapangan dilakukan, karena menghasilkan data berupa kata-kata yang merupakan karakteristik dari penelitian Sebab, pada penelitian ini menggunakan studi lapangan untuk mengumpulkan data dan berbagai instrument. Sugiyono . berpendapat bahwa metode deskriptif sebagai metode yang digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu hasil penelitian, akan tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih luas. Proses pada pengumpulan data bisa dilakukan dengan mempergunakan sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer yang dimaksud pada penelitian ini adalah kepala sekolah, pembina pramuka serta anggota Setelah mengumpulkan data baik data primer maupun data sekunder, peneliti kemudian menganalisisnya dalam bentuk deskriptif. Analisis deskripsi adalah analisis dengan memberikan gambaran deskripsi terhadap data yang diperoleh di JISHUM (Jurnal Ilmu Sosial dan Humanior. https://journal. id/index. php/jishum Vol. 1 No 4 Juni 2023. Hal. E-ISSN 2962-0120 Langkah selanjutnya dari data yang diperoleh di lapangan adalah menganalisis data dari berbagai teori yang telah ditentukan. Langkah-langkah yang terlibat dalam analisis data pada penelitian ini adalah pengumpulan data, reduksi data dan pengambilan kesimpulan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Bagian metode penelitian harus memuat populasi, sampel, subjek, instrumen, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis Alat, bahan, media atau instrumen penelitian harus dijelaskan dengan baik. HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Budaya 5-S . enyum, salam, sapa, sopan, santu. pada Siswa SDN Asemrowo II/63 Surabaya Berdasarkan tujuan utama dari penelitian ini adalah Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai implementasi budaya 5-S dan metode guru dalam Sasaran pada penelitian ini adalah siswa SDN Asemrowo II/63 Surabaya. Pelaksanaan budaya 5-S . enyum, salam, sapa, sopan, santu. di sekolah SDN Asemrowo II/63 Surabaya dilakukan melalui beberapa kegiatam, yaitu kegiatan rutin, kegiatan spontan, dan pengkondisian. Implementasi Budaya 5-S . enyum, salam, sapa, sopan, santu. terhadapSiswa SDN Asemrowo II/63 Surabaya Melalui Kegiatan Rutin Dari hasil pengamatan peneliti, menunjukkan bahwa implementasi budaya 5-S terhadap siswa SDN Asemrowo II/63 Surabaya melalui kegiatan rutin, diantaranya . Setiap pagi saat siswa datang ke sekolah disambut oleh guru piket, kemudian siswa dan guru saling bersalaman dan mengucapkan salam. Hal ini dapat menumbuhkan sikap sopan santun terhadap siswa dan sikap saling menghormati dan menghargai. Saat guru memasuki kelas, dimulai dengan mengucapkan salam dan tersenyum kepada siswa, kemudian siswa menjawab salam dan memimpin doa sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Hal ini menunjukkan sikap yang ramah, santun, dan sikap menghargai ajaran agama. Setiap saat siswa akan pulang sekolah, siswa bersalaman dengan guru dan mengucapkan salam. Hal ini menunjukkan sikap saling menghormati dan menghargai satu sama lain Hasil tersebut didukung dengan pernyataan kepala sekolah SDN Asemrowo II/63 Surabaya Ibu Sri Resdarwat, pernyataan dari guru kelas rendah Ibu Iis Lestari, dan JISHUM (Jurnal Ilmu Sosial dan Humanior. https://journal. id/index. php/jishum Vol. 1 No 4 Juni 2023. Hal. E-ISSN 2962-0120 pernyataan dari guru kelas tinggi Bapak Agus. Hasil wawancara teersebut menunjukkan bahwa penerapan budaya 5-S melalui kegiatan rutin sangat berpengaruh pada peserta didik, karena dari kegiatan rutin yang dilakukan secara terus menerus akan menjadi sebuah kebiasaan bagi peserta didik. Dengan melakukan kegiatan rutin yang sudah ditetapkan disekolah, peserta didik akan lebih ringan untuk menerapkan budaya 5-S dalam kesehariannya. Implementasi Budaya 5-S . enyum, salam, sapa, sopan, santu. terhadap Siswa SDN Asemrowo II/63 Surabaya Melalui Kegiatan Spontan Dari hasil pengamatan peneliti, menunjukkan bahwa implementasi budaya 5-S terhadap siswa SDN Asemrowo II/63 Surabaya melalui kegiatan spontan, diantaranya . Siswa akan memberi salam dengan guru dimanapun berada, dan siswa akan saling bertegur sapa dan saling memberikan senyuman jika berepapasan dengan temannya. Hal ini akan menumbuhkan budaya 5-S didalam dirinya karena dari situ terdapat banyak sikap yang diterapkan yaitu senyum, salam, sapa, sopa dan sopan. Ketika hendak keluar kelas, siswa izin kepada guru kelas terlebih dahulu, ketika meminjam barang milik temannya izin terlebih dahulu kepada yang punya dengan kata-kata yang baik dan ketika berbuat salah mereka langsung meminta maaf . aling Hal ini akan menumbuhkan sikap sopan dan santun terhdap peserta . Siswa mengetuk pintu dan mengucapkan salam terlebih dahulu ketika akan memasuki ruang kepala sekolah, ruang guru dan ruang TU. Guru menegur siswa ketika siswa melakukan hal yang tidak baik, dan guru selalu memberikan contoh terkait dengan budaya 5-S. Memberikan pujian kepada siswa jika siswa melakukan hal-hal yang baik Hasil observasi tersebut didukung dengan pernyataan dari beberapa narasumber melalui wawancara penulis tentang implementasi budaya 5-S kepada siswa melalui kegiatan Sebagaimana yang telah disampaikan oleh kepala sekolah, guru kelas rendah,dan guru kelas tinggi. Dari paparan wawancara yang diperoleh, dapat diketahui bahwa penerapan budaya 5-S di SDN Asemrowo II/63 Surabaya juga melalui kegiatan spontan JISHUM (Jurnal Ilmu Sosial dan Humanior. https://journal. id/index. php/jishum Vol. 1 No 4 Juni 2023. Hal. E-ISSN 2962-0120 yang juga berpengaruh bagi peserta didik untuk menerapkan budaya 5-S. dalam kegiatan spontan guru juga berperan untuk menegur dan menasehati peserta didik jika mereka tidak menerapkan budaya 5-S. peserta didik diajarkan untuk selalu mengetuk pintu dan mengucapkan salam sebelum memasuki ruangan, dan saling bertegur sapa apabila saling Berdasarkan hasil penelitian, dapat dikatakan bahwa sekolah SDN Asemrowo II/63 Surabaya sudah menerapkan dan melaksanakan kegiatan spontan untuk menerapkan budaya 5-S . enyum, salam, sapa, sopan, santu. Upaya-upaya sekolah dalam pelaksanaannya sudah optimal yang mana kepala sekolah, para guru, dan siswa melakukan kegiatan spontan tersebut bertujuan untuk membiasakan melakukan hal-hal yang baik, saling megingatkan, saling menasehati dan saling memotivasi. Implementasi Budaya 5-S . enyum, salam, sapa, sopan, santu. terhadap Siswa SDN Asemrowo II/63 Surabaya Melalui Pengkondisian Dari hasil pengamatan, menunjukkan bahwa implementasi budaya 5-S terhadap siswa SDN Asemrowo II/63 Surabaya melalui pengkondisian, diantaranya adalah: Adanya Slogan berupa bener 5-S . enyum, salam, sapa, sopan, santu. yang dipasang di dinding sekolah. Adanya jadwal atau alokasi waktu untuk guru dalam pelaksanaan kegiatan penyambutan siswa dipagi hari yang dilaksanakan pada pukul 06. Siswa secara bergantian untuk mengambil air wudhu saat hendak melakukan sholat berjamaAoah. Hal ini akan menumbuhkan sikap sopan kepada peserta didik. Siswa mendengarkan nasehat guru dan selalu memperhatikan saat guru menerangkan Hasil observasi tersebut didukung dengan hasil wawancara dari kepala sekolah, guru kelas rendah, dan guru kelas tinggi. Dari paparan wawancara tersebut dapat diketahui bahwa penerapan budaya 5-S di SDN Asemrowo II/63 Surabaya melalui pengkondisian yang menjelaskan bahwa petan guru juga penting untuk peserta didik yaitu dengan memberikan contoh yang baik, dengan adanya slogan 5-S yang ditempel didinding membuat siswa selalu ingat untuk terus menerapkan budaya 5-S tanpa adanya suruhan dari bapak ibu guru. Pada saat sholat berjamaAoah guru juga mengkondisikan para siswa agar tidak menyerobot antrian saat wudhu dan tidak bergurau saat sholat berjamaAoah Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat dikatan bahwa sekolah sudah JISHUM (Jurnal Ilmu Sosial dan Humanior. https://journal. id/index. php/jishum Vol. 1 No 4 Juni 2023. Hal. E-ISSN 2962-0120 melaksanakan pengkondisian dalam menerapkan budaya 5-S dan upaya-upaya pengkondisian pada siswa dalam pelaksanaan dan penerapannya sudah optimal. Implementasi Budaya 5-S . enyum, salam, sapa, sopan, santu. tehadap Siswa SDN Asemrowo II/63 Surabaya Melalui Keteladanan Dari hasil pengamatan, menunjukkan bahwa implementasi budaya 5-S terhadap siswa SDN Asemrowo II/63 Surabaya dalam menerapkan dan melaksanakan budaya 5-S melalui keteladanan. Setelah tiga aspek tersebut, tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya aspek keteladanan, karena aspek keteladanan ini sangat penting, tanpa contoh yang baik dari guru maka sikap siswa tidak akan terarah dengan baik, seperti: Guru saling bersalaman dan mengucapkan salam dengan guru lainnya ketika berpapasan dan baru sampai di sekolah. Guru bersikap ramah dan tersenyum jika berpapasan dengan siswa. Hal ini akan membuat siswa juga bersikap ramah kepada guru dan sesama temannya. Ketika kegiatan belajar mengajar, guru menggunakan bahasa yang santun dan bersikap sopan dan berpakaian rapih. Meneladan sikap cinta lingkungan dengan menjaga kebersihan lingkungan sekolah, seperti membuang sampah pada tempatnya. Hasil observasi didukung dengan beberapa pernyataan dari hasil wawancara kepala sekolah, guru kelas rendah, dan guru kelas tinggi. Dari hasil penelitian diatas, dapat dikatakan bahwa sekolah SDN Asemrowo II/63 Surabaya sudah melaksanakan keteladanan dalam menerapkan budaya 5-S . enyum, salam, sapa, sopan, santu. pada Upayaupaya dalam pelaksanaannya sudah optimal yaitu kepala sekolah dan guru yang melakukan kegiatan keteladanan tersebut bertujuan untuk memberikan contoh yang baik kepada peserta didik di SDN Asemrowo II/63 Surabaya melalui Keteladan sangat penting dan berpengaruh bagi peserta didik. Keteladanan disini diperankan oleh semua guru, karena guru bukan hanya menyampaikan materi dengan baik tapi juga memberikan contoh atau teladan yang baik bagi peserta didik. Berdasarkan hasil temuan penelitian diatas, dapat dikatakan bahwa sekolah SDN Asemrowo II/63 Surabaya sudah melaksanakan keteladanan dalam menerapkan budaya 5-S . enyum, salam, sapa, sopan, santu. pada siswa. Upayaupaya dalam pelaksanaannya sudah optimal yaitu kepala sekolah dan guru yang melakukan kegiatan keteladanan tersebut bertujuan untuk memberikan contoh yang baik kepada peserta didik. JISHUM (Jurnal Ilmu Sosial dan Humanior. https://journal. id/index. php/jishum Vol. 1 No 4 Juni 2023. Hal. E-ISSN 2962-0120 Metode Guru yang Digunakan dalam Membiasakan Budaya 5-S . enyum, salam, sapa, sopan, santu. pada Siswa SDN Asemrowo II/63 Surabaya SDN Asemrowo II/63 Surabaya menerapkan beberapa metode yang digunakan guru dalam membiasakan penerapan budaya 5-S kepada peserta didik. Adapun metode yang diterapkan adalah: Metode keteladan . uru memberikan contoh yang baik dari segi perkataan dan perbuatan yang terkait dengan budaya 5-S, karena apa yang dilakukan oleh guru itu akan ditiru oleh peserta didi. Metode pembiasaan . erdoAoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan belajar mengajar, mengucapkan salam, salim, dan memberikan senyuman ketika masuk dan keluar kelas, dan saling menyapa satu sama lai. Metode nasehat . elalu mengingatkan peserta didik untuk menerapkan budaya 5-S dan selalu memberikan arahan yang baik untuk peserta didi. Metode pengawasan . uru harus selalu mengawasi dan memperhatikan perilaku dan perkataan peserta didik dengan teliti, jika ada peserta didik yang tidak menerapkan budaya 5-S maka guru harus menegur dan memberikan naseha. Hasil narasumberyaitu kepala sekolah, guru kelas rendah, guru kelas tinggi, dan guru Metode yang diterapkan diatas saling melengkapi, setiap metode memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Jika diterapkan sesuai dengan kebutuhan maka akan menghasilkan sesuatu yang baik dan dengan adanya metode yang diterapkan ini bisa menjadi tercapainya tujuan yang maksimal apabila bisa menerpakan metode yang tepat. Dari berbagai metode yang sudah penulis jelaskan dipaparan data. SDN Asemrowo II/63 Surabaya sudah mampu melaksanakan dengan baik dan sesuai dengan tujuan yang dicapai. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Pembiasaan Budaya 5-S . enyum, salam, sapa, sopan, santu. pada Siswa SDN Asemrowo II/63 Surabaya Faktor Pendukung Budaya 5-S Pelaksanaan penerapan budaya 5-S . enyum, salam, sapa, sopan, santu. tentunya tidak terlepas dari adanya beberapa faktor, yaitu faktor pendukung dan faktor penghambat. Adapun faktor pendukung dalam pembiasaan budaya 5-S di SDN Asemrowo II/63 Surabaya adalah: JISHUM (Jurnal Ilmu Sosial dan Humanior. https://journal. id/index. php/jishum Vol. 1 No 4 Juni 2023. Hal. E-ISSN 2962-0120 Adanya kerjasama para guru dan wali murid dengan baik. Di SDN Asemrowo II/63 Surabaya orang tua dan guru saling bekerjasama mengenai penerapan dan pembiasaan budaya 5-S yang diterapkan disekolah. Adanya keterkaitan pembiasaan budaya 5-S dalam pembelajaran. Di setiap pembelajaran diharuskan adanya keterkaitan dengan budaya 5-S, misalnya sebelum memulai pembelajaran guru bisa memberikan arahan-arahan mengenai budaya 5-S yang sudah diterapkan di sekolah. Adanya metode-metode guru yang diditerapkan untuk pembiasaan budaya 5S. Dengan adanya metode-metode yang diterapkan guru untuk membiasakan siswa menerapkan budaya 5-S maka siswaa akan lebih mudah dan lebih terbiasa untuk menerapkan pembiasaan budaya 5-S yang ada di sekolah. Faktor Penghambat Adapun faktor penghambat dalam pembiasaan budaya 5-S di SDN Asemrowo II/63 Surabaya adalah: Adanya sebagian siswa yang masih belum menerapkan budaya 5-S. Sebagian dari siwa di SDN Asemrowo II/63 Surabaya masih ada yang belum menerapkan budaya 5-S dikarenakan adanya anak inklusi yang membutuhkan bimbingan khusus, adanya faktor lingkungan diluar sekolah yang kurang baik sehingga menjadikan anak belum terbiasa untuk menerapkan budaya 5-S. Adanya siswa inklusi yang membutuhkan bimbingan khusus. Di SDN Asemrowo II/63 Surabaya adanya siswa inklusi yang membutuhkan bimbingan khusus, jadi adanya ruangan khusus dan guru khusus untuk membimbingnya. Dan siswa inklusi masih kesulitan untuk menerapkan budaya 5-S karena kondisinya. Adanya sebagian orang tua yang belum bisa bekerja samaOrang tua belum bisa bekerjasama untuk menerapkan budaya 5-S pada anaknya karena bekerja, jadi ada kurangnya waktu untuk mengawasi anak mereka. Untuk mengatasi faktor penghambat dari program 5-S tersebut adanya upaya dari pihak sekolah untuk lebih membimbing siswa inklusi dan adanya bimbingan khusus untuk siswa inklusi serta adanya dukungan dan kerjasama dari pihak orang tua terhadap anaknya. Saat penulis melakukan penelitian di SDN Asemrowo II/63 Surabaya bahwa setiap siiswa dari kelas 1-6 mereka selalu mengucapkan salam dan salim kepada guru dan bersikap saling menghormati dan menghargai kepada guru dan sesama temannya. Hal JISHUM (Jurnal Ilmu Sosial dan Humanior. https://journal. id/index. php/jishum Vol. 1 No 4 Juni 2023. Hal. E-ISSN 2962-0120 ini membuktikan bahwa program 5-S . enyum, salam, sapa, sopan, santu. pada siswa SDN Asemrowo II/63 Surabaya sudah benar-benar dilaksanakan dan menjadi kebiasaan yang harus dilakukan dii kehidupan sehari-hari. Dari hasil penelitian tersebut dapat didukung oleh beberapa narasumber yaitu kepala sekolah, guru kelas rendah, dan guru kelas tinggi KESIMPULAN Berdasarkan dari temuan penelitian yang direalisasikan pada bab IV dapat ditarik kesimpulan bahwa Implementasi budaya 5-S . enyum, salam, sapa, sopan, santu. pada siswa SDN Asemrrowo II/63 Surabaya direalisasikan dalam 4 bentuk kegiatan yaitu kegiatan rutin, kegiatan spontan, pengkondisian dan keteladanan. Kemudian metode guru dalam membiasakannya pada siswa SDN Asemrowo II/63 Surabaya yaitu menggunakan metode keteladan, metode pembiasaan, metode nasehat, dan metode pengawasan. Adapun faktor pendukung dari penerapan budaya 5-S . enyum, salam, sapa, sopan, santu. di SDN Asemrowo II/63 Surabaya adalah: adanya sumber daya pemimpin . epala sekola. dan para guru, peserta didik, adanya kerjasama antara guru dan orang tua murid, lingkungan sekolah yang Dan penerapanbudaya 5-S . enyum, salam, sapa, sopan, santu. adalah adanya peserta didik yang terkadang masih berperilaku yang kurang baik dan tidak tertib, peserta didik yang masih sebagian belum konsisten dalam menerapkan budaya 5-S serta adaya siswa inklusi yang membutuhkan bimbingan dan pengawasan khusus untuk menerapkan budaya 5-S dan dalam hal pembelajaran. Untuk mengatasi faktor penghambat penerapan budaya 5-S, lembaga SDN Asemrowo II/63 Surabaya menerapkan dengan cara menegur dan selalu mengingatkan peserta didik. Para guru juga memberikan contoh yang baik mengenai penerapan budaya 5-S, untuksiswa inklusi adanya guru khusus yang membimbing dan mengawasi REFERENSI