ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 5. No 4. Oktober 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/action PENERAPAN MODEL PIJAR UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS. KERJA SAMA. DAN BERPIKIR LOGIS SISWA KELAS V Muhammad Riduan1. Rizky Amelia2 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Lambung Mangkurat12 e-mail: muhammadriduan441@gmail. com, rizkyamelia@ulm. ABSTRAK Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah rendahnya keterlibatan siswa, kemampuan berpikir logis, serta kerja sama dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya materi imbuhan dan kata hubung antar kalimat di kelas V SDN Sungai Miai 8. Kondisi tersebut dipicu oleh proses pembelajaran yang masih cenderung monoton, minim variasi, dan kurang memberikan ruang interaksi. Untuk menjawab permasalahan ini, digunakan model pembelajaran PIJAR (Pembelajaran Aktif. Integrasi Kolaboratif. Jelajah Peran, dan Rasionalisasi Logik. yang merupakan gabungan dari Problem Based Learning (PBL). Jigsaw, dan Role Playing. Penelitian berbentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan dalam empat siklus dengan melibatkan 15 siswa kelas V, terdiri atas 8 laki-laki dan 7 Data dikumpulkan melalui observasi aktivitas guru dan siswa, keterampilan berpikir logis, kerja sama, serta tes hasil belajar. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada aktivitas siswa dari 46% menjadi 98%, kemampuan berpikir logis dari 41% menjadi 89%, serta kerja sama kelompok dari 41% menjadi 91% dilihat dari siklus ke Selain itu, nilai rata-rata hasil belajar juga mengalami kenaikan yang konsisten setiap pertemuannya, dari 43% menjadi 81%. Dengan demikian, model PIJAR terbukti efektif meningkatkan kualitas proses maupun hasil pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar. Kata Kunci: Aktivitas. Berpikir Logis. Kerja Sama. Model PIJAR ABSTRACT The main problem in this study is the low level of student engagement, logical thinking skills, and collaboration in Indonesian language learning, particularly in the topic of affixes and conjunctions between sentences among fifth-grade students at SDN Sungai Miai 8. This condition was triggered by learning activities that remained monotonous, lacked variation, and provided limited opportunities for interaction. To address these issues, the PIJAR learning model (Active Learning. Collaborative Integration. Role Exploration, and Logical Rationalizatio. was implemented, combining elements of Problem-Based Learning (PBL). Jigsaw, and Role Playing. This Classroom Action Research (CAR) was conducted in four cycles involving 15 fifth-grade students, consisting of 8 boys and 7 girls. Data were collected through observations of teacher and student activities, assessments of logical thinking and collaboration skills, and learning achievement tests. The results showed a significant improvement in student activity from 46% to 98%, logical thinking skills from 41% to 89%, and group collaboration from 41% to 91% across the cycles. Furthermore, the average learning outcomes consistently increased from 43% to 81%. Therefore, the PIJAR model has proven to be effective in enhancing both the learning process and learning outcomes in Indonesian language instruction at the elementary school level. Keywords: Activity. Logical Thinking. Collaboration. PIJAR Model Copyright . 2025 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 5. No 4. Oktober 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/action PENDAHULUAN Pembelajaran pada masa kini dituntut untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman agar pengalaman belajar yang diperoleh siswa relevan dengan kebutuhan mereka. Metode maupun strategi yang digunakan pada satu dekade lalu tidak lagi sepenuhnya tepat, karena konteks sosial, teknologi, dan tuntutan kompetensi sudah berubah. Menyadari hal tersebut, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi (Kemendikbudriste. menghadirkan inovasi kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan saat ini, yaitu Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka merupakan pendekatan pendidikan yang memberikan ruang lebih luas bagi siswa dan guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran dengan potensi, minat, serta karakteristik peserta didik. Kurikulum ini mulai diperkenalkan pada tahun 2021 melalui Program Merdeka Belajar dan telah ditetapkan secara resmi dalam Permendikbud Nomor 12 Tahun 2024 sebagai kerangka dasar kurikulum pada semua jenjang, mulai dari PAUD, sekolah dasar, hingga sekolah menengah. Kebijakan ini dirancang untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang inklusif bagi seluruh peserta didik, tanpa membedakan latar belakang. Kurikulum pendidikan berperan sebagai alat untuk mewujudkan tujuan pembelajaran sekaligus menjadi acuan dalam pelaksanaan strategi mengajar pada berbagai jenjang dan satuan pendidikan (Rahman & Amelia, 2. Dalam konteks sekolah dasar, pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki posisi strategis sebagai fondasi pengembangan keterampilan berbahasa dan berpikir. Sukardi et al. menegaskan bahwa Bahasa Indonesia di tingkat dasar berperan penting dalam membangun literasi serta kemampuan komunikasi siswa. Melalui pembelajaran bahasa, peserta didik dapat mengenal diri dan budayanya, memahami budaya orang lain, menyampaikan gagasan secara tepat, berpartisipasi dalam komunitas pengguna bahasa, serta mengasah kemampuan analitis dan imajinatif (Utari et al. , 2. Menurut Samsiyah . , pembelajaran di kelas tinggi sekolah dasar seharusnya berlangsung secara sistematis dan logis, dengan penekanan pada konsep, generalisasi, hingga penerapannya. Sejalan dengan itu. Samsiyah . menambahkan bahwa pembelajaran merupakan upaya sadar dalam mengelola lingkungan belajar agar siswa mampu menunjukkan perilaku tertentu sebagai hasil dari proses belajar. Tujuan utama pembelajaran Bahasa Indonesia meliputi: . kemampuan menjalin komunikasi secara efektif, . keterampilan menemukan dan menggali informasi, . kemampuan menyampaikan serta bertukar informasi, . mengemukakan ide maupun gagasan secara jelas, dan . memecahkan permasalahan kehidupan dengan cara yang bermakna melalui pendekatan pembelajaran berbasis teks (Triana & Amelia, 2. Tujuan tersebut diharapkan membekali peserta didik dengan literasi, berpikir kritis, dan keterampilan berbahasa (Ibrahim & Amelia, 2. Salah satu keterampilan yang esensial dalam pembelajaran Bahasa Indonesia adalah berpikir logis. Assmarqandi et al. menjelaskan bahwa berpikir logis berarti menarik kesimpulan yang valid berdasarkan aturan logika serta menghubungkannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki. Rohmah dan Sutiarso . menguraikan tiga komponen utama berpikir logis, yaitu pengertian . , keputusan . , dan penalaran . Senada dengan itu. Ruhama et al. menyoroti tiga ciri berpikir logis: . keruntutan berpikir dalam menyelesaikan masalah, . kemampuan berargumen berdasarkan fakta, serta . keterampilan menyusun kesimpulan yang sesuai dengan langkah pemecahan Dengan demikian, kemampuan berpikir logis yang menjadi bagian dari tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia perlu diimplementasikan melalui kegiatan belajar yang bermakna dan kontekstual di sekolah dasar. Idealnya, pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar tidak hanya berfokus pada Proses belajar juga perlu melibatkan aktivitas aplikatif, seperti diskusi kelompok, permainan peran, studi kasus, maupun proyek berbasis pengalaman sehari-hari. Dengan Copyright . 2025 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 5. No 4. Oktober 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/action pendekatan tersebut, siswa dapat mengintegrasikan pengetahuan bahasa ke dalam praktik nyata. Saputra dan Sumarni . menegaskan bahwa kerja sama dalam pembelajaran bahasa dapat menciptakan suasana belajar yang interaktif, menyenangkan, sekaligus meningkatkan motivasi Utami . juga menambahkan bahwa diskusi kelompok terbukti efektif dalam melatih keterampilan komunikasi, kolaborasi, sekaligus mengembangkan berpikir kritis. Namun, hasil observasi awal di kelas V SDN Sungai Miai 8 menunjukkan masih terdapat kendala dalam pembelajaran materi imbuhan pe-an, imbuhan ter-, serta kata hubung Dari 14 siswa, sekitar 64% atau sembilan orang tidak aktif dalam diskusi maupun tanya jawab, sebagian besar siswa juga tidak berusaha terlibat secara optimal dengan materi baik secara lisan maupun tertulis. Selain itu, sekitar 71% siswa masih salah dalam menggunakan imbuhan maupun kata hubung saat diminta menyusun kalimat, misalnya salah memilih imbuhan, menempatkan imbuhan tidak sesuai, atau menggunakan kata hubung secara Temuan ini sejalan dengan penelitian Widodo et al. yang menyebutkan bahwa lemahnya pemahaman siswa tentang imbuhan dan kata hubung dipengaruhi oleh metode pembelajaran yang cenderung berfokus pada ceramah dan hafalan, serta minim kesempatan praktik langsung. Kurangnya interaksi aktif juga berdampak pada keterampilan berpikir kritis, kemampuan komunikasi, dan rasa percaya diri siswa (Asvidyanti et al. , 2023. Sudirman & Hasbullah, 2. Kondisi ini menunjukkan bahwa materi imbuhan dan kata hubung antarkalimat termasuk topik yang abstrak dan mudah membuat siswa jenuh jika disampaikan secara konvensional. Oleh karena itu, dibutuhkan model pembelajaran yang melibatkan aktivitas kolaboratif dan kontekstual agar siswa dapat memahami konsep bahasa secara bermakna, salah satunya melalui model PIJAR. Untuk menjawab persoalan tersebut, model pembelajaran PIJAR dipilih sebagai PIJAR merupakan akronim dari Problem Based Learning (PBL). Jigsaw, dan Role Playing, yang dirancang untuk meningkatkan keaktifan, kerja sama, serta kemampuan berpikir logis siswa. Model ini mengintegrasikan pembelajaran berbasis masalah, kolaborasi kelompok, dan eksplorasi peran dalam situasi tertentu. Rahmawati et al. menemukan bahwa PBL mampu meningkatkan kemampuan berpikir logis siswa hingga 75%. Nugroho dan Wijayanti . membuktikan bahwa Jigsaw berpengaruh signifikan dalam meningkatkan kerja sama kelompok dan hasil belajar siswa. Sementara itu. Handayani et al. menunjukkan bahwa Role Playing dapat mendorong partisipasi aktif hingga 82% karena siswa berinteraksi langsung melalui peran yang dimainkan. Temuan-temuan tersebut mengindikasikan bahwa kombinasi ketiga model dalam PIJAR berpotensi menjadi solusi komprehensif untuk mengatasi rendahnya partisipasi, kerja sama, dan kemampuan berpikir logis siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang menekankan pengumpulan data secara mendalam untuk memahami fenomena pembelajaran sekaligus mencari solusi terhadap permasalahan yang muncul. Data dianalisis secara deskriptif dengan peneliti berperan langsung sebagai instrumen utama. Pendekatan ini dipandang sesuai karena tidak hanya memperhatikan hasil, tetapi juga menekankan pentingnya proses pembelajaran dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan (Arikunto et al. , 2. Jenis penelitian yang dipakai adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang mengadaptasi model Kemmis dan McTaggart melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi yang berlangsung secara berulang dalam bentuk siklus. PTK dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian, yakni meningkatkan aktivitas, kerja sama, serta kemampuan berpikir logis siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dengan model PIJAR. Proses penelitian diawali dengan identifikasi masalah Copyright . 2025 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 5. No 4. Oktober 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/action pembelajaran oleh guru, dilanjutkan dengan pelaksanaan tindakan, pengamatan jalannya pembelajaran, serta refleksi untuk perbaikan pada siklus berikutnya. Setelah menetapkan desain penelitian dan lokasi pelaksanaan, tahap selanjutnya adalah menentukan prosedur pengumpulan data beserta instrumen yang digunakan untuk mengukur variable penelitian. Pengumpulan data dilakukan menggunakan beberapa instrumen. Aktivitas siswa diukur melalui lembar observasi dengan skala penilaian empat tingkat . angat aktif, aktif, cukup aktif, dan kurang akti. berdasarkan indikator keikutsertaan dalam diskusi, keberanian mengemukakan pendapat, serta keterlibatan dalam menyelesaikan tugas kelompok. Kerja sama siswa dinilai melalui rubrik penilaian kerja kelompok yang digunakan pada kegiatan Jigsaw dan Role Playing, meliputi aspek tanggung jawab, partisipasi, saling membantu, dan menghargai pendapat teman. Kemampuan berpikir logis diukur melalui analisis jawaban siswa pada Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis masalah, dengan kriteria ketepatan penalaran, kemampuan menghubungkan konsep, serta konsistensi dalam menarik kesimpulan. Hasil belajar siswa diukur menggunakan tes tertulis berbentuk pilihan ganda dan uraian singkat yang menilai kemampuan menyusun kalimat dengan penggunaan imbuhan dan kata hubung antarkalimat secara tepat. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Berdasarkan analisis data yang mencakup aktivitas guru, aktivitas siswa, keterampilan bekerja sama, kemampuan berpikir logis, serta hasil belajar siswa dalam penerapan model PIJAR, diperoleh gambaran bahwa kelima aspek tersebut saling berkaitan secara linear dan menunjukkan tren peningkatan yang konsisten. Hubungan tersebut divisualisasikan dalam grafik yang menampilkan perkembangan setiap pertemuan, sebagai berikut: Gambar 1. Grafik Kecenderungan Seluruh Aspek Aktivitas guru mengalami kenaikan signifikan pada tiap pertemuan. Pada awal pelaksanaan, skor aktivitas guru baru mencapai 72% karena masih berada pada tahap penyesuaian terhadap model pembelajaran serta karakteristik siswa. Guru juga belum optimal dalam melakukan refleksi metode yang digunakan maupun memanfaatkan masukan dari Namun, setelah pertemuan kedua hingga keempat, aktivitas guru terus meningkat. Copyright . 2025 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 5. No 4. Oktober 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/action yakni 87% pada pertemuan kedua, 95% pada pertemuan ketiga, dan mencapai 100% pada pertemuan keempat. Peningkatan ini tidak terlepas dari evaluasi dan refleksi yang konsisten dilakukan guru setelah setiap sesi pembelajaran. Melalui perbaikan berkelanjutan, guru semakin percaya diri, mampu berkomunikasi lebih jelas, serta menciptakan suasana belajar yang kondusif bagi siswa. Peningkatan serupa juga tampak pada aktivitas siswa. Pada pertemuan pertama, tingkat aktivitas siswa masih rendah . %) karena mereka masih beradaptasi dengan pendekatan pembelajaran yang baru. Namun, seiring berjalannya waktu, partisipasi siswa meningkat secara bertahap, yakni 62% pada pertemuan kedua, hingga mencapai 98% pada pertemuan keempat. Faktor yang mendorong peningkatan ini antara lain pemahaman yang semakin baik terhadap materi, penggunaan metode pembelajaran yang bervariasi, serta interaksi yang intensif antara guru dan siswa. Aktivitas diskusi kelompok, latihan berpikir logis, serta kesempatan menyampaikan ide membuat siswa lebih terlibat dan percaya diri dalam belajar. Aspek kerja sama siswa juga menunjukkan perkembangan positif. Jika pada pertemuan pertama kerja sama baru mencapai 41%, maka pada pertemuan terakhir angkanya meningkat hingga 91%. Hal ini menandakan bahwa siswa semakin mampu bekerja sama dengan teman sekelas dalam diskusi maupun menyelesaikan tugas kelompok. Peran guru dalam membangun suasana belajar yang mendorong kolaborasi juga menjadi faktor penting. Kemampuan berpikir logis siswa pun mengalami peningkatan yang nyata. Dari 41% pada pertemuan awal, kemampuan ini meningkat hingga 89% pada pertemuan keempat. Hasil tersebut diperoleh karena guru secara konsisten memberikan latihan yang menstimulasi keterampilan berpikir kritis melalui pertanyaan menantang serta penugasan yang mendorong siswa menemukan solusi secara mandiri maupun berkelompok. Secara keseluruhan, tren peningkatan pada seluruh aspek berdampak langsung pada capaian belajar peserta didik. Nilai rata-rata hasil belajar yang semula hanya 43 dipertemuan pertama, bertambah hingga 57 dipertemuan kedua, 70 dipertemuan ketiga, dan mencapai 81 dipertemuan keempat. Kenaikan ini menunjukkan bahwa penerapan model PIJAR mampu meningkatkan kualitas pembelajaran secara menyeluruh. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa aktivitas guru yang optimal berbanding lurus dengan peningkatan aktivitas siswa. Ketika guru dan siswa sama-sama aktif, maka keterampilan kerja sama dan kemampuan berpikir logis siswa turut berkembang. Kombinasi dari semua peningkatan tersebut akhirnya menghasilkan capaian belajar yang lebih tinggi. Hal ini menegaskan bahwa refleksi guru, variasi metode pembelajaran, serta keterlibatan aktif siswa menjadi faktor utama dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model PIJAR pada pembelajaran Bahasa Indonesia kelas V dengan materi imbuhan dan kata hubung antarkalimat mampu meningkatkan aktivitas guru, aktivitas siswa, keterampilan kerja sama, keterampilan berpikir logis, dan hasil belajar secara signifikan. Aktivitas guru berada pada kategori sangat baik dengan peningkatan dari pertemuan ke pertemuan. Hal ini terjadi karena guru mampu merancang dan mengelola pembelajaran dengan memilih strategi, metode, serta media yang tepat, sehingga suasana belajar lebih interaktif, kondusif, dan menyenangkan (Maulidi, 2022. Meilasari, 2022. Nur & Fatonah, 2022. Putri et al. , 2020. Sanjani, 2020. Ubabuddin, 2. Pendidik berperan bukan hanya sebagai penyampai materi, melainkan juga sebagai fasilitator yang mengarahkan, menyesuaikan, dan memperbaiki jalannya pembelajaran. Peran aktif guru menjadi faktor penting dalam keberhasilan pembelajaran, sebagaimana ditegaskan bahwa guru Copyright . 2025 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 5. No 4. Oktober 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/action merupakan penentu kualitas proses belajar (Aslamiah & Agusta, 2015. Darmiyati et al. , 2013. Rosihin, 2. Dengan langkah-langkah PIJAR yang memadukan Problem Based Learning. Jigsaw, dan Role Playing, guru dapat mengorientasikan siswa pada masalah, membagi kelompok, memfasilitasi diskusi, hingga memandu refleksi, sehingga terjadi perbaikan aktivitas guru dari kategori baik menjadi sangat baik pada setiap pertemuan (Anggraini, 2021. Cindrakasih, 2020. Magdalena et al. , 2021. Metroyadi et al. , 2019. Nawawi, 2018. Rahmanto & Suprayitno, 2018. Winata et al. , 2. Sejalan dengan meningkatnya aktivitas guru, aktivitas siswa juga mengalami peningkatan. Siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi juga aktif mengamati permasalahan, berdiskusi dalam kelompok ahli, bertukar informasi di kelompok asal, serta menyajikan pemahaman melalui bermain peran. Hal ini membuktikan bahwa model PIJAR menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran yang aktif, reflektif, dan kolaboratif. Kegiatan tersebut sesuai dengan prinsip konstruktivisme sosial yang menekankan bahwa interaksi sosial penting dalam membangun pengetahuan (Vygotsky, 1. Menurut QurAoaini dan Agusta . serta Slamet . , diskusi kelompok membuat siswa terbiasa menyampaikan pendapat, menghargai perbedaan, dan mengembangkan argumentasi logis. Sedangkan bermain peran membantu mereka menghubungkan konsep bahasa dengan kehidupan nyata sehingga pembelajaran lebih bermakna (Rihlasyita & Rahmawati, 2. Dengan demikian, aktivitas siswa semakin meningkat pada setiap siklus. Hal ini mengindikasikan bahwa PIJAR mampu menghadirkan iklim pembelajaran yang kontekstual dan menyenangkan. Keberhasilan pembelajaran sendiri ditentukan oleh aktivitas belajar yang berorientasi pada peningkatan kualitas diri dan pembentukan perilaku positif (Rosita & Amelia, 2. Keterampilan kerja sama siswa juga mengalami perkembangan positif melalui penerapan PIJAR. Melalui pembentukan kelompok heterogen, diskusi dalam kelompok, dan bergabung lagi dengan kelompok awal, siswa terbiasa saling berbagi pengetahuan. Mereka juga terbiasa saling bergantung secara positif, dan menghargai pendapat satu sama lain. Hal ini selaras dengan pandangan Johnson dan Johnson . bahwa kerja sama dalam kelompok kecil efektif untuk menumbuhkan keterampilan kolaboratif, toleransi, serta empati (Asmani. Proses ini membuat siswa belajar menghindari dominasi individu, membangun kesepahaman, serta menumbuhkan sikap tanggung jawab bersama (QurAoaini & Agusta, 2. Selain itu, keterampilan berpikir logis siswa juga meningkat. Indikator peningkatan tersebut tampak pada kemampuan siswa menyusun alur berpikir runtut, menyampaikan argumen berbasis bukti, dan menarik kesimpulan yang tepat. Hal ini muncul ketika siswa melakukan diskusi dalam kelompok, mempresentasikan temuan pembahasan ke kelompok awal, hingga merefleksikan hasil pembelajaran bersama. Dengan demikian. PIJAR mendorong siswa untuk berlatih berpikir sistematis, kritis, dan rasional sebagaimana ditegaskan oleh Crismasanti dan Yunianta . jika pembelajaran berbasis masalah mampu menumbuhkan kemampuan berpikir lanjutan. Vygotsky . juga menekankan bahwa interaksi sosial yang terarah dapat memperkuat perkembangan kognitif, termasuk keterampilan berpikir logis. Peningkatan aktivitas guru, aktivitas siswa, keterampilan kerja sama, dan berpikir logis berdampak langsung pada hasil belajar. Hasil penilaian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mencapai ketuntasan individual dengan skor Ou 70 dan ketuntasan klasikal Ou 80%. Hasil ini membuktikan bahwa PIJAR mampu meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi imbuhan dan kata hubung antarkalimat, sekaligus membentuk perilaku belajar yang lebih aktif, kritis, dan mandiri. Temuan ini mendukung pandangan bahwa pembelajaran aktif, kolaboratif, dan berbasis masalah dapat meningkatkan retensi pengetahuan serta pemahaman konseptual (Ayuni & Noorhapizah, 2023. Slamet, 2. Dengan demikian, model PIJAR yang Copyright . 2025 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 5. No 4. Oktober 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/action memadukan Problem Based Learning. Jigsaw, dan Role Playing terbukti efektif dalam mengoptimalkan kualitas proses maupun hasil pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan pada siswa kelas V SDN Sungai Miai 8 melalui penerapan model pembelajaran PIJAR dalam pokok bahasan Imbuhan dan Kata Hubung Antar Kalimat, bisa ditarik kesimpulan bahwa penerapan model ini menunjukkan pengaruh konstruktif pada proses maupun hasil belajar siswa. Aktivitas guru selama pembelajaran telah mencapai indikator keberhasilan dengan kategori sangat baik, sementara aktivitas siswa juga menunjukkan capaian optimal dengan kriteria sangat aktif. Selain itu, keterampilan kerja sama dan kemampuan berpikir logis siswa mengalami peningkatan yang signifikan, terbukti dengan tercapainya indikator keberhasilan pada kategori sangat terampil. Lebih lanjut, hasil belajar siswa pun menunjukkan ketuntasan sesuai target yang ditetapkan, sehingga penggunaan model PIJAR terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran pada materi Imbuhan dan Kata Hubung Antar Kalimat. DAFTAR PUSTAKA