Jurnal Ilmiah DeSciArs ISSN 2829 - 7237 Volume 2. No. Desember 2022 VULNERABLE PADA IKON KAWASAN KOMPLEKS KERATON YOGYAKARTA Moh. Sutrisno 1 Jurusan Teknik Arsitektur. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar e-mail: sutrisno@uin-alauddin. ABSTRACT The Yogyakarta palace complex was an area that was very tight with local wisdom in the modern and globalization era. The palace survived with local culture. Each residential building facade reflected the characteristics of a traditional Javanese house. Residents maintained the authenticity of culture from generation to generation. This showed the resilience of residential areas in urban centres. On the other hand, micro-enterprises and street vendors traded on the sidewalks and public spaces within the palace Based on the architectural and spatial aspects of the meso scale, traders reduced the quality of space within the complex. This study used a qualitative method. Micro-enterprises occupied pedestrian paths which are made as elements of the city. Small shops disrupted the activities of road users at certain Economic and socio-cultural conditions are considered in the arrangement of street vendors. The palace area was disturbed, causing it to become vulnerable. Traditional architectural facades had been changed due to non-contextual cultural influences in the Yogyakarta palace area. Keywords: Vulnerable. Crowding. Image of place, the complex of Yogyakarta Palace ABSTRAK Kompleks keraton Yogyakarta menjadi kawasan yang sangat kental dengan kearifan lokal di era modern dan globalisasi. Keraton bertahan dengan budaya lokal. Setiap fasad bangunan hunian mencerminkan ciri khas rumah adat Jawa. Penduduk menjaga keaslian budaya secara turun-temurun. Hal ini menunjukkan ketahanan kawasan permukiman yang berada di pusat perkotaan. Di sisi lain, usaha mikro dan pedagang kaki lima berdagang di trotoar dan ruang publik di dalam kompleks keraton. Berdasarkan aspek arsitektur dan ruang skala meso, pedagang menurunkan kualitas ruang di dalam kompleks. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Usaha mikro menempati jalur pejalan kaki yang dibuat sebagai elemen kota. Toko-toko kecil mengganggu aktivitas pengguna jalan dalam waktu-waktu tertentu. Kondisi ekonomi dan sosial budaya dipertimbangkan dalam penataan pedagang kaki lima. Kawasan keraton mengalami gangguan sehingga menimbulkan vulnerable. Fasad arsitektur tradisional berubah karena pengaruh budaya non-kontekstual di kawasan keraton Yogyakarta. Kata kunci: Kerentanan, kesesakan. Citra Tempat. Kompleks Keraton Yogyakarta PENDAHULUAN Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai kawasan budaya memiliki banyak peninggalan Keberadaan peninggalan bersejarah menjadi salah satu potensi dan daya tarik bagi wisatawan baik wisatawan regional maupun internasional. Peninggalan sejarah yang terkenal dan masih terawat salah satunya adalah Kraton Yogyakarta dan bangunan di sekitarnya seperti Masjid Gede. Tamansari dan lain-lain. Arsitek Keraton Yogyakarta adalah Sultan Hamengkubuwono I. Vulnerable Pada Ikon Kawasan Kompleks Keraton Yogyakarta Jurnal Ilmiah DeSciArs ISSN 2829 - 7237 Volume 2. No. Desember 2022 Dalam hal ini, di kawasan keraton terdapat Masjid Gedhe keraton Yogyakarta (Muhadiyatiningsih et al. , 2. Keraton memiliki tata spasial yang terdiri atas tiga lapisan, jika diurut dari lapisan paling luar, yaitu. mancanegara, negara, dan keraton (Sutrisno et al. , 2. Komplek Keraton Yogyakarta secara eksplisit sudah menjadi suatu area yang sangat kental dengan kearifan lokal. Kharisma, kewibawaan, serta kekayaan makna budayanya tidak pernah terkikis oleh zaman. Makna kehadiran bangunan kraton bukan hanya terletak pada kandungan filosofis arsitektur jawanya, tetapi juga juga mengandung nilai kultural-edukatif yang visualisasinya nampak dalam simbol-simbol. Melalui bangunan keraton, nilai-nilai luhur yang telah tersaring dari berbagai rekaman sejarah dan budaya secara non-verbal divisualisasikan agar menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah kering bagi setiap generasi. Pada era globalisasi dan kontemporer, kompleks kraton masih bertahan dengan kebudayaan Fasad setiap bangunan hunian masih mencerminkan ciri khas rumah adat jawa. Terlebih lagi rumah tinggal pemegang kekuasaan yang secara turun temurun tetap dijaga keasliannya. Hal ini cenderung mencerminkan ketahanan . suatu kompleks pemukiman yang berada di pusat perkotaan. Terkait dengan ketahanan Kota. Sejak tahun 2011, diadakan konferensi tentang ketahanan Kota di Arizona. Amerika Serikat. Sekelompok peneliti muda dari berbagai negara membahas potensi penggunaan teori ketahanan dalam memahami dinamika dan perkembangan Kota. Literatur tersebar terkait dengan Aoketahanan kotaAo dan interpretasi yang berbeda dari konsep ke Para peneliti memutuskan mendirikan sebuah jaringan internasional penelitian ketahanan Di Yogyakarta, ketahanan sektor informal yang berkembang di dalam kompleks Keraton Yogyakarta menyebabkan kesemrawutan, misalnya contoh kasus di alun-alun utara, bahwa keberadaan bus-bus wisata di alun-alun utara menarik kegiatan sektor informal yang berkembang di sekitarnya, yaitu adanya pedagang kaki lima (PKL) yang menggelar dagangannya kepada wisatawan sehingga menyebabkan suasana alun-alun utara dan sekitarnya menjadi tidak terkontrol dan tidak teratur. Melihat kondisi kawasan keraton yang cenderung rentan terhadap permasalahan perkotaan seperti kesesakan . dan perubahan fasad bangunan penduduk yang ada di kawasan dalam keraton Yogyakarta. Hal itu cenderung mengurangi citra kompleks keraton sebagai wilayah yang sangat kental dengan kearifan lokal. Maka muncul pertanyaan penelitian sebagai berikut: Bagaimanakah kerentanan . yang terjadi pada kompleks Keraton Yogyakarta? Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengeksplorasi kerentanan di kompleks kraton Yogyakarta. Batasan penelitian yaitu area permukiman dalam skala meso yang dibatasi oleh Vulnerable Pada Ikon Kawasan Kompleks Keraton Yogyakarta Jurnal Ilmiah DeSciArs ISSN 2829 - 7237 Volume 2. No. Desember 2022 tembok benteng keraton Yogyakarta. Penelitian ini membahas kerentanan dalam fenomena abad ke-21 dari keraton Yogyakarta dan menunjukkan kecenderungan kerentanan adalah pengalaman konstitutif kota. Fenomena kerentanan di kompleks kraton timbul karena lingkungan binaan kota, statusnya sebagai pusat kesultanan dan modal global membuat persimpangan penting dari lokal, nasional dan keprihatinan dunia yang membuat kota itu sendiri rentan. Kerentanan dan Kesesakan Suatu Kota adalah sebuah jaring-jaring kehidupan yang dijalani bersama oleh para penghuninya, dengan interaksi yang mereka bentuk dari generasi ke generasi. Dialog antara manusia dengan lingkungan binaan serta ada dialog antara yang tua dengan yang baru. Seperti tampak pada gambar 1. Habitat lama terjadi interdependensi dengan habitat baru. Tidak hanya satu habitat lama yang saling terkait, tetapi juga habitat lama berinteraksi dengan habitat baru yang Sesama habitat lama juga saling berkaitan, demikian juga sesama habitat baru berkaitan satu sama lainnya. Pembenaran bahwa suatu bagian kota akan lebih tepat bila dipandang sebagai suatu ruang . yang berarti bahwa bagian kota tersebut menyediakan ruang . untuk melakukan kegiatan, untuk orientasi komunal dan individu. Ruang yang ada seperti pedestrian cenderung dimanfaatkan untuk aktivitas perekonomian oleh warga setempat. Sehingga fungsi untuk sirkulasi pejalan kaki tidak berfungsi sebagaimana mestinya dan rentan terjadinya ketidak jelasan dan ketidakteraturan ruang. Gambar 1. Dialog antara yang lama/ tua dengan yang baru sumber: (Hatmoko . , 1. Kesemrawutan dan ketidakteraturan ruang cenderung menyebabkan kesesakan . Dalam Snyder, kesesakan merupakan suatu pengertian psikologis atau yang menunjuk kepada pengalaman yang terkurung, dirintangi, terhalang oleh kehadiran terlalu banyak orang (Snyder & Vulnerable Pada Ikon Kawasan Kompleks Keraton Yogyakarta Jurnal Ilmiah DeSciArs ISSN 2829 - 7237 Volume 2. No. Desember 2022 Catanese, 2. Selain itu. Altman mengatakan bahwa Aocrowding, such as space availability, access to resources, intrusion, and duration of contact in othersAo (Altman, 1. Berdasarkan Loo, determinan crowding dapat dikategorikan menjadi tiga, yakni . environment, . situational, serta . intrapersonal (Haryadi & Setiawan, 2. Faktor lingkungan diklasifikasikan lagi menjadi faktor fisik dan sosial. Faktor fisik terutama menyangkut dimensi tempat, densitas, serta suasana suatu ruang atau tempat . arna, susunan perabot, dan lainlai. Faktor sosial meliputi norma, kultur, serta adat istiadat. Gambar 2. Kerangka teoritis Crowding menurut Loo sumber: (Haryadi & Setiawan, 2. Faktor sosial yang meliputi norma kultur dan adat istiadat kawasan Kraton Yogyakarta sangat kental. Situasional dalam kawasan tersebut relatif terjadi kesesakan secara temporal. Faktor situasional menunjukkan bahwa meskipun secara fisik densitas suatu tempat sangat tinggi, tetapi secara situasional hubungan antara orang-orang yang ada di tempat tersebut intim, saling mengenal, serta lama hubungannya terbatas, tidak dapat dikatakan muncul suatu crowding. Secara umum dapat diketahui bahwa manusia indonesia dengan kultur dan sistem sosial yang berbeda, mempunyai konsep dan ukuran kesumpekan yang berbeda dengan masyarakat barat. Menurut Jon Coaffee. Prinsip-prinsip kunci desain yang berkenaan dengan kebutuhan dirasakan untuk mengurangi kerentanan tempat yang crowded, melalui alur AoprotectAo dari contest (Coaffee. Telaah ulang barat mengartikulasikan tiga prinsip-prinsip umum tentang penyisipan keamanan pelindung ke dalam struktur yang dibangun dari kota yaitu proporsionalitas, tanggung Vulnerable Pada Ikon Kawasan Kompleks Keraton Yogyakarta Jurnal Ilmiah DeSciArs ISSN 2829 - 7237 Volume 2. No. Desember 2022 jawab bersama, dan kepedulian terhadap visibilitas. Pertama. Coaffee berpendapat bahwa langkah-langkah keamanan mengerahkan pelindung harus proporsional dengan resiko yang Kedua, tinjauan menyoroti perlunya kerjasama antara sejumlah asosiasi pemangku kepentingan, yaitu terutama bisnis pribadi dan built environment professionals, dan menciptakan ketertiban untuk membuat crowded tempat lebih aman. Ketiga, perlu dicatat bahwa penerapan fasilitas keamanan tambahan harus tidak memiliki dampak negatif pada ekonomi sehari-hari dan kegiatannya bersifat demokratis. Tabel 1. Prinsip umum untuk mengurangi kerentanan tempat yang crowded 3 Prinsip Proporsionalitas Tanggung jawab Bersama Kepedulian terhadap visibilitas Sumber: (Coaffee, 2. Kesesakan yang disebabkan oleh keberadaan pedagang kaki lima relatif dapat menurunkan kualitas visual suatu tempat. Keberadaan dan kepuasan warga dan pengunjung dipengaruhi oleh citra kota atau tempat (Riza et al. , 2. Sebuah citra yang kuat dan dapat diidentifikasi akan memiliki dampak positif terhadap kepuasan pengunjung. Setiap kota memiliki identitas yang unik yang terdiri dari gambar dan kenangan baik negatif maupun positif. Citra kota terdiri dari pandangan elemen perkotaan seperti bangunan monumental, ruang publik dan objek khusus Aspek citra pembentuk ruang sangat terasa sebagai sesuatu yang terlepas selama ini, disamping tidak adanya perwujudan estetika visual melalui jalinan ruang-ruang besar dan kecil, monumental dan kerakyatan, juga semakin mengikisnya identitas suatu tempat. Citra menunjuk suatu gambaran . , suatu kesan penghayatan yang menangkap arti bagi seseorang (Budihardjo, 2. Kota Yogyakarta memiliki citra yang khas dan entitas arsitektur dapat memberikan memori kolektif bagi masyarakat setempat maupun masyarakat pendatang. METODE Penelitian ini bersifat deskriptif dan eksploratif sehingga materi-materi penelitian ini berdasarkan fakta-fakta yang ada di lapangan. Data-data diperoleh dengan metode kualitatif. Penelitian kualitatif dirancang dalam kerangka penentuan analitis dari pertanyaan penelitian, kerangka-teori, penetapan instrumen penelitian, dan proses reduksi (Creswell, 2. Melalui Observasi partisipatif agar penelitian ini objektif serta menghilangkan jarak antara objek yang diamati dengan subjek. Pengamat mengamati dengan terlibat secara langsung atau Vulnerable Pada Ikon Kawasan Kompleks Keraton Yogyakarta Jurnal Ilmiah DeSciArs ISSN 2829 - 7237 Volume 2. No. Desember 2022 berbaur dengan komunitas yang diamati. Observasi partisipatif merupakan suatu proses bahwa pengamat hadir pada situasi sosial untuk kepentingan investasi akademik. HASIL DAN PEMBAHASAN Arus perkembangan peradaban memasuki segala lini kehidupan manusia. Baik peradaban yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan wadah yang menerima peradaban tersebut. peradaban yang tidak sesuai, diharapkan para penerima mampu bertahan agar tidak mengganggu sistem yang sudah ada. Dalam usaha bertahan, manusia dihadapkan kepada berbagai tantangan. Ketahanan sebagai daerah budaya yang khas menjadi tantangan menjadi Daerah Istimewa Yogyakarta. Gambar 3. Peta letak Keraton Yogyakarta dan Batasan area objek penelitian Sumber: (Google Earth, 2. Membangun ketahanan kota tanpa memikirkan dampak bagi ekuitas sosial, itu bisa membuat lebih buruk bagi masyarakat miskin dan yang rentan dalam mengatasi Tanggapan histeris terhadap bencana alam dan buatan manusia terlalu sering mengarah pada solusi yang melemahkan kemampuan masyarakat miskin untuk mengatasi guncangan di masa depan. Selama masa guncangan dan pemulihan, kaum miskin dan rentan mudah terkena kelalaian dan eksploitasi. Sebaliknya, orang kaya dan warga kelas menengah pada umumnya mampu untuk lebih memanfaatkan sumber daya yang langka, karena itu penting bahwa ada satu set perlindungan dan sistem pemerintahan yang mungkin Vulnerable Pada Ikon Kawasan Kompleks Keraton Yogyakarta Jurnal Ilmiah DeSciArs ISSN 2829 - 7237 Volume 2. No. Desember 2022 kurang beruntung untuk melindungi diri dan meningkatkan kemampuan mereka untuk pulih dari kerentanan Harus dapat dipastikan bahwa dalam upaya meningkatkan ketahanan Kota tidak mengakibatkan peningkatan kerentanan. Kerentanan mungkin selalu memiliki beberapa komponen ketakutan atau setidaknya gentar. Saya tidak yakin itu selalu membutuhkan respon yang bereaksi secara langsung terhadap rasa takut itu. Misalnya merasa rentan terhadap luka, dengan demikian untuk yang terbaik adalah melindungi diri dengan berbagai sikap protektif terhadap bahaya luka. Dalam kasus di lapangan, keterbukaan suatu benteng kesultanan terhadap publik, merupakan salah satu indikator komplek kraton dalam kondisi Namun keputusan untuk menutup perbatasan dengan maksud untuk menjaga masuknya bahaya tertentu, tidak mengakhiri ancaman, karena persepsi terhadap ancaman ada sebagian karena takut batas penyeberangan. Beberapa kemungkinan bahkan Dengan demikian tanggapan terhadap kerentanan berarti membangkitkan asosiasi positif dan negatif. Wilayah kraton Yogyakarta dibatasi secara jelas oleh pagar tembok yang tinggi. Pemukiman di luar kompleks kraton berbatasan langsung dengan pagar kawasan kraton. Ketahanan tercipta dari karya arsitektur berupa pagar sejak jaman dahulu. Kesesakan . Tantangan sebagai daerah budaya yang khas terjadi pada Daerah Istimewa Yogyakarta. Khususnya kawasan Kraton Yogyakarta yang masih kental dengan budaya Studi dilakukan dengan mengkaji kerentanan kawasan kraton Yogyakarta . terhadap pengaruh arus globalisasi. Dengan melihat adanya indikasi-indikasi dilapangan yang cenderung terjadinya perubahan-perubahan kawasan tersebut. kerentanan kota yang dimaksudkan adalah kraton yang rentan terhadap kesesakan . Kasus di alun-alun utara, bahwa keberadaan bus-bus wisata di alun-alun utara menarik kegiatan sektor informal yang berkembang di sekitarnya, yaitu adanya pedagang kaki lima (PKL) yang menggelar dagangannya kepada wisatawan, sehingga menyebabkan suasana alun-alun utara dan sekitarnya menjadi semrawut dan tidak teratur . Seperti halnya yang dijelaskan oleh Snyder, pengalaman yang terkurung, dirintangi dan terhalang oleh kehadiran terlalu banyak merupakan suatu kesesakan. Aksesibilitas kendaraan dan pejalan kaki yang terjadi di pintu masuk alun-alun utara menjadi rentan terjadinya kesesakan. Pengguna jalan yang melintasi jalan tidak hanya wisatawan yang akan berkunjung ke area Kraton Yogyakarta, akan tetapi juga pengguna jalan yang hanya melintasi jalan kawasan Kraton tersebut sebagai jalur alternatif untuk tujuan yang berbedabeda. Jalan yang juga dapat digunakan sebagai jalan umum secara bebas menjadi salah satu faktor rentannya area tersebut akan terjadinya kesesakan. Vulnerable Pada Ikon Kawasan Kompleks Keraton Yogyakarta Jurnal Ilmiah DeSciArs ISSN 2829 - 7237 Volume 2. No. Desember 2022 Kerentanan akan terjadinya kesesakan dapat disebabkan oleh keberadaan pedagang kaki lima . Pedagang kaki lima yang telah menjadi fenomena urban, pada lokasi penelitian telah mengelilingi alun-alun utara dan mengindikasikan roda perekonomian untuk masyarakat juga berputar di lokasi tersebut. Kegiatan wisatawan pada umumnya berhenti sejenak untuk berorientasi terhadap lingkungan, berkumpul untuk berkoordinasi dengan rombongannya. Jalur yang dilalui wisatawan mengikuti jalur yang ada, tetapi kadang menerobos deretan pedagang kaki lima dan memotong jalur. Gambar 4. Pedagang kaki Lima di sisi alun-alun utara Sumber: (Dokumentasi peneliti, 2. Citra Kawasan Selain rentan terhadap timbulnya kesesakan, ada dampak-dampak lain yang dapat ditimbulkan dari keberadaan pedagang kaki lima tersebut. dampak lain misalnya dengan tidak tertatanya pedagang tersebut akan dapat merusak citra kawasan. Karakter khas kawasan keraton yogyakarta tidak muncul. Jika diperhatikan dengan seksama, maka tidak ada bedanya kawasan ini dengan kawasan-kawasan lainnya di indonesia yang bukan daerah Telah ada peraturan dari pemerintah agar tidak berjualan di trotoar atau di ruang milik Peraturan tersebut jelas terpasang di depan bangunan pemerintahan . Namun realisasi di lapangan, tidak dipatuhi oleh para pedagang kaki lima. Yang terjadi adalah hanya trotoar di depan gedung pemerintahan tersebut yang tidak digunakan untuk tempat berjualan, namun selebihnya tertata tidak rapi para pedagang kaki lima. Vulnerable Pada Ikon Kawasan Kompleks Keraton Yogyakarta Jurnal Ilmiah DeSciArs ISSN 2829 - 7237 Volume 2. No. Desember 2022 Fenomena ini memang tidak bisa dilihat dari sudut pandang ruang saja, namun beberapa faktor lain yang membuat para pedagang kaki lima tidak bisa dilarang begitu saja. Faktor ekonomi dan sosial masyarakat menjadi pemicu sulitnya dihilangkan para pedagang kaki lima karena hal itu menyangkut kesejahteraan masyarakat miskin untuk mencari nafkah dan bertahan hidup. Permasalahan kota yang hampir terjadi di seluruh kota-kota yang ada di indonesia dan menjadi fenomena masyarakat urban. Gambar 5. Larangan berjualan di trotoar / di ruang milik jalan Sumber: (Dokumentasi peneliti, 2. Dengan penataan pedagang yang baik dan memberi ruang pada fasad khas bangunan yang ada di belakang deretan pedagang kaki lima tersebut, maka akan lebih memberikan karakter yang kuat karena rumah-rumah yang ada di belakang barisan pedagang kaki lima tersebut masih bergaya arsitektur khas jawa. Ada bagian tepi jalan dipasangkan larangan untuk berjualan, sedangkan di titik-titik tertentu masyarakat tidak dilarang untuk melakukan aktivitas perekonomian. Ada kecenderungan pemetaan dilakukan oleh instansi terkait tentang tempat yang dilarang dan tempat yang diperbolehkan untuk berdagang. Di titik lain juga terjadi perubahan citra bangunan rumah . Faktor ekonomi telah mempengaruhi perubahan fasad pada rumah warga yang ada di dalam kompleks Keraton Yogyakarta. Rumah yang kemungkinan besar awalnya berbentuk rumah joglo, namun karena untuk kepentingan usaha dan perdagangan, maka rumahnya direnovasi untuk mencerminkan tempat usaha. Kerentanan seperti inilah yang dikhawatirkan dapat merubah citra kawasan yang khas dengan arsitektur jawa. Vulnerable Pada Ikon Kawasan Kompleks Keraton Yogyakarta Jurnal Ilmiah DeSciArs ISSN 2829 - 7237 Volume 2. No. Desember 2022 Perubahan fasad rumah berdampak pada perubahan citra kawasan. Jika fasad rumah warga masih kental dengan gaya arsitektur jawa, maka karakter yang kuat sebagai kota budaya akan terjaga, namun apabila fasad bangunan telah berubah menjadi gaya arsitektur yang umum dan kontemporer, maka citra kawasan makin menurun dan bahkan akan hilang. Gambar 6. Fasad tempat usaha dalam kompleks Keraton Sumber: (Dokumentasi peneliti, 2. Citra gedung istana yang megah tentulah melambangkan kemegahan juga, kewibawaan seorang kepala negara, dan gubug reyot adalah citra yang langsung menggambarkan keadaan penghuni miskin serba reyot pula keadaannya. Citra menunjukkan tingkat kebudayaan. Seperti pada gambar 7, penulis menilai sebagai salah satu contoh citra lokal yang masih tetap dipertahankan meskipun bangunan berubah fungsi sebagai tempat usaha. Ketahanan budaya dan citra dari kepentingan lainnya perlu mendapatkan perhatian yang serius. Mengingat branding kota Yogyakarta sebagai daerah yang menjual budaya daerah sebagai daya tarik bagi wisatawan. Khususnya budaya yang tercermin pada karyakarya arsitektur yang sampai sekarang masih tetap dipertahankan keasliannya. Konfigurasi ruang di dalam kompleks keraton terbangun dengan pembatas ruang yang Pembatas jalan dengan tembok pagar yang tebal, tinggi mengindikasikan bahwa pentingnya ketahanan rumah yang ada didalamnya terhadap gangguan dari luar. Di lain sisi, tembok pagar yang khas memberikan kesan statis bagi konfigurasi ruang yang tercipta. Sangat kecil kemungkinan untuk dilakukan perubahan pada dimensi ruang jalan dan Mengingat dengan semakin banyaknya jumlah arus pengunjung akan rentan terjadinya permasalahan klasik dalam lingkungan kompleks seperti kemacetan dan Vulnerable Pada Ikon Kawasan Kompleks Keraton Yogyakarta Jurnal Ilmiah DeSciArs ISSN 2829 - 7237 Volume 2. No. Desember 2022 Kerangka teori crowding menurut Loo dinyatakan bahwa secara sosial akan terjadi crowding yang tinggi apabila terdapat jumlah orang yang banyak dan masing-masing memiliki besaran ruang tiap orang yang berada pada ruang yang kecil, sementara itu pembatas ruang sangat ketat. Hal itulah dalam observasi peneliti terjadi pada kawasan kraton Yogyakarta. Dapat diamati pengunjung pada periode tertentu seperti musim libur sekolah, hari libur nasional secara temporer akan menunjukkan kuantitas yang meningkat, akan tetapi skala ruang sangat ketat. Mayoritas sisi jalan di dalam kawasan kraton dipagari oleh tembok yang tinggi, seperti contoh sirkulasi di depan pintu masuk menuju Tamansari . Gambar 7. Sirkulasi kendaraan pada jalur Taman sari Sumber: (Dokumentasi peneliti, 2. Taman sari yang berada dalam kawasan benteng keraton Yogyakarta memiliki citra yang kuat dengan artefak yang dimilikinya. Kerentanan yang terjadi di area taman sari terjadi ketika fasade pemukiman penduduk yang menyatu dengan taman sari tidak mencerminkan arsitektur taman sari. Gaya arsitektur taman sari yang khas seharusnya menjadi acuan kontekstualitas dari fasade pemukiman. Sehingga ciri khas taman sari sebagai kawasan wisata sejarah menjadi seimbang dan proporsional dengan citra yang diperlihatkan secara visual. Citra baru pada pasar ngasem merupakan lingkungan binaan yang mencoba didialogkan dengan habitat lama. Citra baru diperoleh dari citra visual pasar ngasem, sedangkan citra visual lama diperoleh dari gugusan bangunan tua di area taman sari. Built environment dan bisnis pribadi yang dilakukan masyarakat setempat terjalin kerjasama dan tidak memiliki dampak negatif pada kegiatan ekonomi sehari-hari. Perlu keamanan Vulnerable Pada Ikon Kawasan Kompleks Keraton Yogyakarta Jurnal Ilmiah DeSciArs ISSN 2829 - 7237 Volume 2. No. Desember 2022 tambahan mengingat pasar ngasem juga merupakan akses masuknya wisatawan yang akan berkunjung ke objek wisata taman sari. Keberadaan bangunan-bangunan bernilai historis dan arsitektonis menampilkan cerita visual yang menunjukkan sejarah dari suatu tempat, mencerminkan perubahan-perubahan waktu, tata cara kehidupan masyarakat beserta budayanya. Tanpa adanya warisan arsitektur yang terpelihara, maka masyarakat akan merasa terasing dari asal usul lingkungannya, tidak punya orientasi pada masa lalu. Setiap kultur selalu memiliki jalinan hubungan yang kuat dengan masa lampau. Bahwa arsitektur masa lampau, masa kini dan masa depan adalah suatu kesinambungan yang perlu dijaga keberadaannya demi kelestarian identitas suatu tempat. Dengan demikian, citra kompleks keraton tidak semakin lenyap diganti oleh bangunan-bangunan yang tidak punya silsilah dan asal usul. Gambar 8. Citra baru pasar ngasem pada area kompleks kraton Sumber: (Dokumentasi peneliti, 2. Pencapaian proporsionalitas pada langkah-langkah keamanan dalam mengerahkan pelindung yang dibangun dari kawasan kraton. Proporsi yang dimaksudkan adalah keseimbangan pelindung dengan resiko yang akan dihadapinya. Konteks resiko terfokus pada kerentanan . terkait kesesakan, penurunan kualitas citra kawasan. Sedangkan yang berperan sebagai aktor pelindung adalah sejumlah asosiasi pemangku kepentingan, kalangan profesional pembangun lingkungan serta masyarakat setempat. Agar tidak terjadi kerentanan-kerentanan kota yang dimaksudkan, pentingnya tanggung jawab bersama dalam menjaga citra tempat. Kepedulian terhadap visibilitas atau keterlihatan ruang merupakan prinsip yang akan meningkatkan kualitas citra kawasan sebagai kampung di tengah kota yang mampu bertahan terhadap pengaruh-pengaruh dari Vulnerable Pada Ikon Kawasan Kompleks Keraton Yogyakarta Jurnal Ilmiah DeSciArs ISSN 2829 - 7237 Volume 2. No. Desember 2022 Keberadaan kompleks kraton mencapai skala yang lebih luas di lingkungan perkotaan dan itu merupakan bagian dari urbanisme dalam pengorganisasian ruang bagi keberadaan Konsep proporsionalitas dan Coaffee sebagai konsep verifikasi bahwa skala kompleks keraton yang lebih ramai hendaknya diikuti oleh regulasi yang mengatur aktivitas masyarakat yang masuk dan keluar kompleks Keraton. Pengaruh kehidupan urban menjadi sangat kuat membangun lingkungan perkotaan. Posisi Kompleks Keraton berada di tengah-tengah perkotaan sehingga menjadi pusat keramaian yang didukung oleh kawasan kota tua. Kerentanan sebagai kota besar tidak dapat dihindari akan tetapi bagaimana suatu kota besar dapat memitigasi suatu kerentanan. Pada dasarnya, kerentanan dapat dipengaruhi oleh kepadatan penduduk serta kerentanan fisik (Permana et al. , 2. Dengan demikian perlunya kebertahanan dalam konteks kerentanan yang dimiliki oleh Yogyakarta. Kebertahanan berkaitan dengan regulasi oleh pemerintah setempat sehingga dapat memberi pengaruh yang kuat serta berkaitan dengan tindakan manusia (Nurhidayati & Fariz, 2. PENUTUP Kesimpulan Kompleks Keraton Yogyakarta memiliki kearifan lokal yang sangat mendominasi pada setiap aspek aktivitas dan wujud karya arsitektur. Kompleks kraton bertahan dengan kebudayaan setempat. Fasad setiap bangunan hunian mencerminkan ciri khas rumah adat Terlebih lagi rumah tinggal pemegang kekuasaan yang secara turun temurun tetap dijaga keasliannya. Hal ini mencerminkan ketahanan . suatu kompleks pemukiman yang berada di pusat perkotaan. Di lain sisi, kerentanan . teridentifikasi dengan adanya usaha-usaha mikro dan pedagang kaki lima yang tidak tertata dapat menyebabkan citra kompleks menurun. Sebaran pedagang kaki lima di tepi-tepi jalan serta di ruang publik dalam kompleks keraton yang tidak tertata yang dapat menyebabkan kesesakan . Jika ditinjau dari sudut pandang arsitektur dan ruang skala meso telah mengurangi kualitas ruang dalam kompleks. Selain itu, deretan pedagang kaki lima yang menutupi bangunan asli jawa juga mengurangi kualitas visual kompleks keraton. Padahal, tampak dan estetika bangunan kompleks keraton adalah identitas dari kearifan Aksesibilitas kompleks dijadikan jalur alternatif yang digunakan masyarakat, maka yang terjadi kuantitas pengguna jalan meningkat disertai jumlah wisatawan yang berkunjung, sementara dimensi jalan tetap. Hal tersebut rentan terjadinya kemacetan dan kesesakan . Penurunan kualitas citra juga terjadi perubahan fasad rumah masyarakat dalam kompleks keraton yang telah mengurangi citra kawasan keraton yang notabene telah menjadi acuan budaya khas jawa. Perubahan fasad rumah salah satunya dipengaruhi budaya urban untuk kepentingan ekonomi dan perdagangan. Saran Vulnerable Pada Ikon Kawasan Kompleks Keraton Yogyakarta Jurnal Ilmiah DeSciArs ISSN 2829 - 7237 Volume 2. No. Desember 2022 Penelitian ini menunjukkan adanya kerentanan kompleks keraton Yogyakarta. Dibutuhkan penelitian selanjutnya yang lebih mendalam dengan mengeksplorasi titik-titik aktivitas perekonomian masyarakat yang dapat menyebabkan berkurangnya estetika bangunan, fasad bangunan, persepsi masyarakat dalam menggunakan tempat berdagang, serta motivasi untuk menempati tempat citra baru pasar Ngasem sebagai tempat baru untuk aktivitas jual-beli. DAFTAR PUSTAKA