https://jurnal. IMPLEMENTASI TEKNIK RELAKSASI NAFAS DALAM UNTUK MENGURANGI NYERI AKUT PADA PENDERITA HIPERTENSI Salsa Billa A. Alya Azra PanjaitanA. Khairunnisa Batubara3 A*Mahasiswa Keperawatan/Diploma i/Akper Gita Matura Abadi Kisaran. Kisaran. Indonesia AMahasiswa Keperawatan/Diploma i/Akper Gita Matura Abadi Kisaran. Kisaran. Indonesia Dosen Keperawatan/Diploma i/Akper Gita Matura Abadi Kisaran. Kisaran. Indonesia *Email Koresponden : salsa28billa@gmail. Abstract Hypertension is a condition in which a person's blood pressure is higher than normal. This means that the blood pressure that pushes blood through the blood vessels is stronger than it should be, and can be at risk of causing damage to important organs such as the heart, brain, and kidneys. Normal blood pressure is 120/80 mmHg. Blood pressure is considered high if the systolic . pper numbe. is 140 mmHg and the diastolic . ower numbe. is 90 mmHg. Purpose to reduce acute pain in patients with hypertension. Method: the method used in compiling this case is a descriptive analytical method in the form of a case study for the approach process in applying deep breathing relaxation techniques. Results: The results of the study in patient I before the administration of deep breathing relaxation techniques, the pain experienced was on a scale of 8 . ery sever. after giving deep breathing relaxation techniques, the pain became a scale of 2-3 . ild pai. in patient II before the administration of deep breathing relaxation techniques, the pain experienced was on a scale of 4-6 . oderate pai. After giving deep breathing relaxation techniques, the pain became a scale of 2-3 . ild pai. Conclusion: Open deep breathing relaxation techniques allow patients to reduce pain Keywords: Hypertension. Acute pain. Deep breathing relaxation techniques Abstrak Hipertensi, adalah kondisi di mana tekanan darah seseorang lebih tinggi dari batas normal. Ini berarti tekanan darah yang mendorong darah melewati pembuluh darah lebih kuat dari yang seharusnya, dan bisa berisiko menyebabkan kerusakan pada organ-organ penting seperti jantung, otak, dan ginjal. Tekanan darah yang normal adalah 120/80 mmHg. Tekanan darah di anggap tinggi jika sistolik . ngka ata. 140 mmHg dan diastolic . ngka bawa. 90 mmHg. Tujuan untuk mengurangi nyeri akut pada pasien penderita hipertensi. Metode: metode yang digunakan dalam penyusunan kasus ini adalah metode deskriptif analitik dalam bentuk studi kasus untuk proses pendekatan dalam menerapkan pemberian teknik relaksasi nafas dalam. Hasil penelitian pada pasien I sebelum dilakukan nya pemberian teknik relaksasi nafas dalam nyeri yang dialami dengan skala 8 . angat bera. dilakukan nya pemberian teknik relaksasi nafas dalam nyeri menjadi skala 2-3 . yeri ringa. pasien II sebelum dilakukan pemberian teknik relaksasi nafas dalam nyeri yang dialami dengan skala 4-6 . yeri sedan. Setelah dilakukan nya pemberian teknik relaksasi nafas dalam nyeri menjadi skala 2-3 . yeri ringa. Kesimpulannya teknik relaksasi napas dalam yang di ajar kan kepada pasien dapat mengurangi tingkat nyeri. Kata Kunci: Hipertensi. Nyeri akut. Teknik relaksasi napas dalam. Vol 1. No 2. Juli, 2025 *Corresponding author email : salsa28billa@gmail. Page 1 of 7 PENDAHULUAN Hipertensi merupakan kondisi di mana terdapat tekanan darah yang tidak normal, di mana tekanan darah sistolik mencapai Ou140 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik mencapai Ou90 mmHg. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan darah dalam pembuluh darah, yang bertugas mengalirkan darah dari jantung ke seluruh jaringan dan organ tubuh, sangat tinggi (Herawati. Manaf. & Kusumawati, 2. Saat ini, hipertensi telah menjadi penyakit degeneratif yang dapat diturunkan kepada anggota keluarga yang memiliki riwayat penyakit ini, dan risikonya cenderung meningkat seiring bertambahnya usia, terutama pada individu berusia 50 tahun ke atas (Arum, 2. Menurut (World Health Organization. , sekitar 1,13 miliar atau 22% dari total populasi dunia mengalami hipertensi. Dari jumlah penderita tersebut, wilayah Afrika memiliki kasus hipertensi tertinggi dengan prevalensi sebesar 27%, sementara kawasan Asia Tenggara menempati posisi ketiga tertinggi dengan prevalensi sebesar 25% dari total penderita hipertensi di seluruh dunia. WHO memperkirakan bahwa sekitar 80% peningkatan kasus hipertensi akan terjadi pada tahun 2025, dengan jumlah kasus diperkirakan akan mencapai 1,15 miliar pada tahun tersebut. Berdasarkan (Riskesdas. , 2. jumlah penderita hipertensi di Indonesia adalah 8,4%, dan menurut Diagnosis dokter untuk penduduk yang berusia di atas 18 tahun. Berdasarkan hasil pengukuran tekanan Prevalensi penderita hipertensi di Indonesia adalah 34,1%. Beberapa penyebab hipertensi mencakup faktor genetik atau keturunan, perubahan fisik, gaya hidup yang tidak sehat, adanya kondisi medis tertentu, serta tekanan mental. Gejala-gejala yang muncul meliputi sakit kepala atau rasa berat di tengkuk, kesulitan bernapas, mimisan, kemerahan pada kulit . erutama di leher dan waja. , nyeri di dada, masalah penglihatan, serta adanya darah dalam urine. Kenaikan tekanan darah yang terjadi dalam waktu yang panjang dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal . agal ginja. , jantung . enyebabkan strok. (Kemenkes, 2. Hipertensi dapat menjadi risiko yang serius jika tidak dikelola dengan baik. Pengobatan hipertensi dilakukan melalui metode farmakologis dan non-farmakologis. namun, pendekatan farmakologis dalam pengobatan hipertensi belum menyebabkan kekambuhan serta menimbulkan efek samping yang berisiko dalam jangka panjang (Muharni. Sri, 2. Para penderita hipertensi sering kali tidak mematuhi pengobatan mereka karena berbagai alasan, seperti rasa obat yang pahit, merasa bahwa kondisi mereka sudah membaik, atau kurangnya pengetahuan mengenai risiko yang mungkin muncul. Jika pasien tidak berpengaruh pada pengendalian tekanan darah yang dapat mengakibatkan komplikasi jangka panjang seperti penyakit kardiovaskular, aterosklerosis, gagal jantung, stroke, dan gagal Orang yang menderita hipertensi dan menghentikan konsumsi obatnya memiliki kemungkinan lima kali lebih tinggi untuk mengalami stroke (Siswanti Ds, 2. Hipertensi dapat memberikan efek pada aspek psikologis serta hubungan sosial. Dari segi psikologis, pasien seringkali merasa hidupnya tidak memiliki makna karena kelemahan dan sifat penyakitnya yang Sementara itu, dampak terhadap hubungan sosial muncul akibat peningkatan tekanan darah ke otak, yang mengurangi vascularisasi di area otak, sehingga berkonsentrasi, mudah tersulut emosi, dan merasa tidak nyaman. Ini juga berpengaruh pada aspek sosial, di mana pasien cenderung menghindari interaksi karena merasakan ketidaknyamanan terkait kondisi mereka (Tresnawan, 2. Peningkatan tekanan darah juga berkaitan positif dengan peningkatan risiko terkena penyakit jantung, gagal ginjal, dan stroke. Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan pemeriksaan secara rutin guna mendeteksi lebih awal dan mencegah komplikasi yang lebih serius (Kemenkes. Salah satu teknik pengelolaan nyeri yang tidak menggunakan obat adalah melalui teknik relaksasi, yang merupakan tindakan eksternal yang memengaruhi respons internal individu terhadap nyeri. Pengelolaan nyeri dengan teknik relaksasi mencakup relaksasi otot, pernapasan dalam, pijat, meditasi, dan perubahan perilaku. Relaksasi pernapasan dalam adalah proses bernapas menggunakan abdomen dengan frekuensi yang lambat, teratur, dan nyaman (Mahardhini, 2. Copyright: @ 2025 Authors Teknik relaksasi pernapasan dalam adalah suatu jenis perawatan keperawatan, di mana perawat mengajarkan kepada klien cara melakukan pernapasan dalam serta pernapasan yang lambat . engan menahan inspirasi secara maksima. Selain itu, teknik pernapasan yang dilakukan secara perlahan dapat memberikan tingkat nyeri pada lansia yang menderita hipertensi. Selain itu, studi kasus ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Alvin Adeputra pada tahun 2020. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik relaksasi dengan pernapasan dalam efektif dalam mengurangi tingkat nyeri. Hal ini didukung oleh teori (Rukmala & Sarwinanti. , 2. yang menjelaskan bahwa penurunan nyeri melalui teknik relaksasi pernapasan dalam terjadi karena ketika seseorang melakukan relaksasi pernapasan dalam untuk mengendalikan nyeri yang dialami, tubuh akan secara stimulatif meningkatkan komponen saraf parasimpatis. Akibatnya, kadar hormon kortisol dan adrenalin dalam tubuh menurun, yang berpengaruh pada tingkat stres konsentrasi dan membuat klien merasa lebih tenang dalam mengatur ritme pernapasan mereka menjadi lebih teratur. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa metode relaksasi dengan pernapasan dalam terbukti efektif dalam mengurangi tingkat nyeri pada lansia yang menderita hipertensi. kenyamanan dan relaksasi kepada pasien, serta dapat mengurangi tingkat nyeri. Metode relaksasi dengan pernapasan dalam juga berpotensi paru-paru memperbaiki kadar oksigen dalam darah (Nasuha. Dyah Widodo, 2. Penerapan teknik relaksasi yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa pada hari pertama, tingkat nyeri berada pada skala 7 . yeri bera. dan pada hari ketiga menurun menjadi skala 4 . yeri ringa. , sehingga terbukti efektif dalam mengurangi nyeri. METODE Metode penelitian ini sendiri adalah studi kasus dengan data primer dan data skunder . engan pengkajian pemeriksaan fisik yaitu pengkajian perawatan medical beda. Subjek dalam studi kasus ini adalah 2 pasien hipertensi yang sedang di rawat inap di salah satu rumah sakit Kota Kisaran pada bulan April. HASIL Identitas dan hasil Anamnesa Tabel 1. 1 Identitas dan hasil Anamnesa Identitas Nama Umur Jenis Pendidiikan Status Agama Kasus I Kasus II Tn. 49 tahun Laki Laki SMA Menikah Islam Tn. 54 tahun Laki-Laki Menikan Islam Berdasarkan table 1. 1 didapatkan dari kedua rsponden berjenis kelamin laki-laki dan mempunyai diagnosa sama yaitu hipertensi. pada kasus I dengan pasien umur 49 tahun,dan kasus ke II dengan pasien berumur 54 tahun. Keluhan Utama dan Riwayat Nyeri Tabel 1. 2 Keluhan utama dan Riwayat nyeri N Data pokus Kasus I Kasus II 1 Keluhan utama saat masuk rumah demam hilang timbul dialami 6 hari lalu, nyeri kepala, terasa badan terasa sakit ,menggigil. Pasien masih merasa nyeri pada bagian kepala Pasien nyeri kepala, lemas yang sejak 3 hari 2 Keluhan utama saat 3 Riwayat Pasien mengatakan ada batuk, flu dan disertai mual. Pasien tidak bisa tidur, pada malam hari karena nyeri kepala yang Pasien makan tidak Hari pertama Td:173/113 mmHg,Rr:2 0x/menit. T:3 6,Pols:108x/ Hari kedua Td:162/109 mmHg,Rr:2 N Data pokus 4 Riwayat kesahat an yang lalu 5 Riwayat 6 kebiasaan Kasus I Pasien sudah dialami sejak satu tahun Klien orang anak lakilaki, dan 1 orang istri. ada keluarga konsumsi garam yang berlebihan Kasus II 0x/menit,T:3 6,Pols:98x/ Hari ketiga Td:170/100 mmHg. Rr:2 0x/menit,T:3 6,Pols:99x/ Mempunyai dan dialami sejak 8 bulan Klien 3 orang anak,2 laki laki dan 1 Perempuan. Dan 1 orang tidak ada Pasien yang asin rasanya yang Berdasarkan tabel 1. 2 di temukan keluhan utama dan terdapat riwayat penyakit pada klien I yaitu klien mengatakan nyeri kepala, terasa berdenyut, batuk, mual, muntah, dan riwayat penyakit sebelumnya dialami sejak 1 tahun lalu. pada klien II ditemukan keluhan utama dan terdapat riwayat penyakit pada klien II yaitu nyeri kepala, lemas dan riwayat penyakit sebelumnya hipertensi yang sudah dialami sejak 8 bulan lalu. Pemeriksaan dignostik Tabel 1. 3 Pemeriksaan diagnostik Jenis Hemaglobin Kasus 5, 1 Kasus Hematokrit Trombocyt Nilai 3,505, 50 37,050, 0 Hasil analisa data dari tabel 1. 3 diatas bahwa pada kasus I dan kasus II sama sama mengalami masalah nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis ditandai dengan mengeluh nyeri Diagnosa keperawatan Pada kedua responden mempunyai masalah nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis ditandai dengan klien mengeluh Intervensi keperawatan Disimpulkan bahwa pada ke dua responden di lakukan intervensi yang sama untuk pasien dengan masalah keperawatan atau diagnosa nyeri akut. Implementasi Tindakan keperawatan yang di lakukan kepada kedua responden merupakan tindakan yang dilakukan untuk penanganan pada pasien dengan masalah nyeri akut dengan melakukan pemberian teknik non farmakologi dengan melakukan teknik relaksasi nafas dalam untuk membantu mengurangi nyeri. Evaluasi Di peroleh hasil yang sama antara kasus I dan kasus II di mana selama 3 hari di lakukan intervensi keperawatan masalah nyeri akut sudah teratasi, nyeri berkurang, dan klien tampak lebih nyaman maka intervensi PEMBAHASAN Pembahaasaan ini difokuskan hasil dan pembahasan yang berkaitan dengan tujuan penelitian yaitu untuk menggambarkan tindakan teknik relaksasi nafas dalam terhadap penurunan tingkat nyeri pada lansia dengan Copyright: @ 2025 Authors berdasarakan data yang diperoleh TN J, dengan usia: 46 tahun, jenis kelamin: Laki laki, status: menikah, pendidikan: SMA, agama: islam, satu tahun lalu mengalami hipertensi. dan pada TN M. F dengan usia 54 tahun, jenis kelamin lakilaki,status:menikah,pendidikan:SD,agama:islam delapan bulan lalu mengalami hipertensi. Berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization. mendefinisikan lansia sebagai individu yang telah masuki usia antara 45 hingga 70 tahun atau lebih. Orang lanjut usia adalah suatu proses alamiah yang tidak bisa dielakkan. Seiring dengan bertambahnya usia, maka kemampuan Fungsifungsi tubuh akan berkurang dan menyebabkan para lanjut usia mengalami jatuh dalam keadaan tidak sehat. Fungsi-fungsi tubuh akan berkurang dan menyebabkan para lanjut usia mengalami dalam keadaan tidak sehat. Penurunan fungsi-fungsi dari tubuh ini dikenal sebagai proses Salah satu proses yang mengalami degenerasi adalah pada sistem kardiovaskular. Penyakit kardiovaskular yang paling sering ditemukan pada orang lanjut usia adalah penyakit. Penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung yang berkaitan dengan paruparu. Hipertensi pada Lansia adalah kondisi yang umum terjadi karena banyak individu di usia paruh baya atau lansia berisiko tinggi mengalami Hipertensi pada orang tua disebabkan oleh berkurangnya elastisitas dinding aorta dan penebalan pada katup jantung yang menyebabkan katup menjadi kaku, berkurangnya kemampuan jantung dalam memompa, hilangnya elastisitas pada pembuluh darah perifer, dan meningkatnya Perifer darah pembuluh (Nurarif. & Kusuma, 2. Data lain yang diperoleh menunjukkan bahwa tekanan darah TN J telah meningkat sejak satu tahun yang lalu, dan TN M. F mengalami peningkatan tekanan darah sejak Delapan bulan yang lalu, seseorang dinyatakan mengalami darah tinggi saat Tekanan sistolik melebihi 140 mmHg dan tekanan diastolik melebihi 90. Tekanan darah yang diukur dua kali dengan interval waktu lima menit dalam kondisi yang memadai untuk Berdasarkan data yang diperoleh dari pengkajian menunjukkan bahwa tekanan darah pasien TN J adalah 194/104 mmHg, disertai dengan keluhan demam yang muncul dan menghilang, nyeri kepala berdenyut, rasa sakit pada badan, serta gejala menggigil dan mual Sementara itu, pada pasien TN M. tekanan darah tercatat 173/115 mmHg, disertai dengan keluhan nyeri kepala dan lemas yang telah berlangsung selama 3 hari terakhir. Klasifikasi hipertensi klinis ditentukan berdasarkan tekanan darah sistolik dan Dalam hal ini, kategori yang ditetapkan adalah grade 2 . , dengan tekanan sistolik berkisar antara 180 hingga 209 dan tekanan diastolik antara 100 hingga 159 mmHg, dengan gejala yang terkait dengan hipertensi meliputi sakit kepala, kelelahan, pusing, kelemahan, keluhan nyeri kepala, sesak napas, kecemasan, mual dan muntah, perdarahan hidung, serta penurunan kesadaran menurut (Nurarif. , & Kusuma, 2. Data tambahan yang diperoleh oleh peneliti di TN J dan TN M. F menunjukkan adanya nyeri pada leher saat. Tingkat tekanan darah mengalami kenaikan. Sesuai dengan teori yang diusulkan oleh (Brunner, 2. , klien Hipertensi dapat menyebabkan rasa sakit kepala yang menjalar hingga ke tengkuk karena Vasokonstriksi pada pembuluh darah akan mengakibatkan kondisi tertentu pada sistem peredaran darah. Peningkatan tekanan dalam pembuluh darah otak akan mengakibatkan nyeri kepala hingga bagian tengkuk pada pasien Pada hari pertama. TN J masih merasakan nyeri di bagian kepala dengan skala nyeri 8 . yeri bera. TN M. F masih sering terbangun di malam hari karena nyeri yang dirasakan dengan skala nyeri 6 . yeri sedan. Pada hari kedua, klien I dan II merasakan bahwa nyeri mereka sedikit berkurang. Pada hari ketiga, klien I melaporkan bahwa nyeri sudah mulai berkurang ke skala 3 . yeri ringa. dan terlihat lebih rileks. Klien II juga mengungkapkan bahwa nyeri mulai berkurang dengan skala nyeri 3 . yeri ringa. dan sudah bisa tidur lebih baik. Hal ini sesuai penelitian yang dilaksanakan oleh (Presetio, 2. pernapasan dalam. Dilakukan selama tiga hari dapat mengurangi tingkat nyeri pada orang lanjut usia dengan. Hipertensi yang sebelumnya memiliki tingkat nyeri yang parah kini menurun ke skala nyeri sedang. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Paramita, 2. , bahwa untuk mengurangi rasa sakit pada pasien hipertensi dilakukan melalui penerapan teknik relaksasi Tarik nafas dalam, tetapi jika sudah diberikan metode relaksasi dengan cara bernapas dalam perlu diimbangi pula dengan pola makan yang sehat, terutama jenis makanan mengandung garam dan kolesterol sebaiknya dijauhi oleh pasien yang menderita Pola adalah susunan atau tata letak yang teratur. Pola dapat ditemukan di berbagai tempat, seperti dalam alam, seni, atau desain. Dengan memahami pola, kita dapat lebih mudah mengenali, mempelajari, dan bahkan memprediksi kejadian di sekitar kita. Penggunaan garam secara berlebihan dapat menyebabkan hipertensi primer, yang merupakan masalah kesehatan yang tidak Yaitu: kelebihan berat badan, tekanan beralkohol, serta konsumsi natrium yang terlalu tinggid dapat menyebabkan penumpukan cairan, berdasarkan riwayat keluarga, menurut (Nair. & Peate, 2. Penerapan metode relaksasi yang dilakukan oleh peneliti sejak hari pertama. Skala nyeri yang awalnya berada pada angka 7 . yeri bera. berangsur menjadi skala 4 . yeri ringa. hingga hari ketiga. Terbukti berhasil dalam mengurangi tingkat nyeri pada orang dewasa lanjut usia yang mengalami hipertensi. Studi kasus ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh (Andini. , & Damanik, 2. memperlihatkan dengan bukti bahwa metode relaksasi pernapasan yang mendalam efektif dalam mengurangi tingkat rasa sakit. KESIMPULAN DAN SARAN Masalah utama yang muncul pada klien I dan klien II adalah hipertensi dengan masalah nyeri akut. dan telah di lakukan implementasi keperawatan selama 3x24 jam. didapatkan hasil penurunan skala nyeri pada klien I awal nya 8 . angat bera. menjadi 2-3. yeri ringa. pada klien II penurunan skala nyeri awalnya 4-6 . yeri sedan. menjadi 2-3. yeri ringa. artinya pemberian teknik relaksasi nafas dalam sangat bermanfaat untuk mengurangi rasa nyeri yang sedang dialami oleh klien. UCAPAN TERIMA KASIH