Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-9322 UPAYA KONSERVASI ELANG JAWA SEBAGAI SARANA WISATA EDUKASI DI KAWASAN KAMOJANG GARUT JAWA BARAT Delia Dwiana Suminarˡ, Enok Maryani² 1,2 Magister Pariwisata Universitas Pendidikan Indonesia Jl. Dr. Setiabudi No.229, Isola, Kec. Sukasari, Kota Bandung, Jawa Barat Email Korespondensi: deliadwiana@upi.edu ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis upaya konservasi elang jawa sebagai sarana wisata edukasi di Kamojang Garut Jawa Barat sebagai salah satu hewan endemik, spesies ini hewan yang menghadapi risiko kepunahan karna berkurangnya habitat serta adanya perburuan liar. Elang jawa satwa terancam punah dalam Buku Data Merah. Upaya alternatif dilakukan demi mencegah elang jawa berakhir tragis seperti burung-burung yang terlanjur punah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejarah program penyelamatan dan rehabilitasi elang jawa di pusat konservasi elang kamojang. Metode pengambilan data Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan survei dan didukung kajian literatur, menggunakan dua jenis data, yaitu data primer berdasarkan wawancara langsung dan data sekunder melalui petugas di Pusat Konservasi Elang Kamojang Garut Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan elang jawa merupakan mascot lambang NKRI, yaitu Burung Garuda, saat ini sedang berada diambang kepunahan. Rehabilitasi elang tidak semudah yang kita bayangkan, karena dalam proses rehabilitasi tidak semua elang tersebut dapat dilepas liarkan kembali. Sudah seharusnya kita menumbuhkan kesadaran dan pemahaman akan pentingnya menjaga pelestarian satwa Indonesia, salah satuya elang jawa. Pariwisata ekowisata berbasis edukasi di Pusat Konservasi Elang Jawa Kamojang Garut Jawabarat dapat di jadikan sebagai sarana pariwisata ekowisata berbasis edukasi. Kata Kunci: Elang Jawa; Konservasi; Ekowisata; Wisata Edukasi; Kamojang ABSTRACT This research aims to analyze Javanese eagle conservation efforts as a means of educational tourism in Kamojang Garut, West Java as an endemic animal, this species is an animal that is at risk of extinction due to reduced habitat and illegal hunting. The Javan eagle is endangered in the Red Data Book. Alternative efforts are being made to prevent the Javanese eagle from ending tragically like other extinct birds. The aim of this research is to find out the history of the Javanese eagle rescue and rehabilitation program at the Kamojang eagle conservation center. Data collection method This research is qualitative research with a survey approach and supported by literature review, using two types of data, namely primary data based on direct interviews and secondary data through officers at the Kamojang Eagle Conservation Center, Garut, West Java. The research results show that the Javanese eagle is the mascot symbol of the Republic of Indonesia, namely the Garuda bird, which is currently on the verge of extinction. Eagle rehabilitation is not as easy as we imagine, because in the rehabilitation process not all eagles can be released back into the wild. We should raise awareness and understanding of the importance of preserving Indonesia's animals, one of which is the Javan eagle. Education-based ecotourism tourism at the Javanese Eagle Conservation Center Kamojang Garut Answerarat can be used as an education-based ecotourism tourism facility. Keywords: Javanese Eagle; Conservation; Ecotourism; Educational Tourism; Kamojang 14 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-9322 PENDAHULUAN Indonesia memiliki macam jenis elang, elang adalah satu - satunya burung yang mampu terbang lebih tinggi dari burung-burung lainnya. Salah satu tempat yang populer bagi elang adalah Pulau Jawa. Indonesia sebagai salah satu penyumbang kepunahan fauna di dunia. Hal ini disebabkan oleh banyaknya perburuan dan perdagangan ilegal pada tahun 2017 yang masih dilakukan oleh masyarakat. (Fathur Rohman1.,et.,al., 2019). Sebelas jenis satwa sangat terancam bahkan kritis, diantaranya 11 jenis dari 4.444 jenis yaitu Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), Elang Flores (Nisaetus floris), Elang Wallasea (Nisaetus nanus), Elang Ular Bawean (Spilornis baweanus), Ikan burung rajawali. elang berkepala abu-abu (Ichthyophapa ichthyaetus), elang ikan kecil (Ichthyophapa humilis), elang peregrine kecil (Accipiter nanus), elang gentoo (Harpyopsis novaeguineae), elang tutul (Aquila clanga), couscous. elang (Aquila gurneyi) dan elang peregrine doria (Megatriorchis doriae). Seluruh spesies dari famili Pandionidae dan famili Accipitridae merupakan spesies yang dilindungi (Keputusan Menteri LHK No: P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/ 2018). Semakin panjang pula daftar jenis fauna Indonesia yang masuk dalam kategori kepunahan. Salah satu burung pemangsa yang terdapat di Indonesia adalah elang jawa (Spizaetus bartelsi). Sesuai dengan namanya , elang jawa merupakan burung pemangsa endemik pulau jawa. Layaknya burung pemangsa, Elang Jawa merupakan burung pemangsa yang menempati posisi konsumen utama (predator utama) dalam jaring makanan. Elang ini menguasai jumlah hewan lain yang menjadi mangsanya di alam liar. Namun keberadaan Elang Jawa di alam liar saat ini terancam punah (Dharmawan Pandu Pribadi, 2014). Potensi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dapat diwujudkan untuk kepentingan masyarakat melalui upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, sehingga tetap terjaga keseimbangan antara perlindungan, konservasi, dan pemanfaatan secara berkelanjutan (Fitriana, 2018). Sumber daya alam tidak dapat dilestarikan dengan pengelolaan yang maksimal tanpa terlebih dahulu mengetahui kesadaran dan sikap masyarakat terhadap lingkungannya. Hal ini akan memfasilitasi rancangan strategi konservasi dan pengelolaan yang efektif yang melestarikan sumber daya alam dan mampu memenuhi kebutuhan penting masyarakat lokal (Paga1. et al., 2023). Salah satu usaha Indonesia untuk mencegah kepunahan elang yaitu dengan membuat pusat-pusat konservasi. Konservasi yaitu usaha dalam menjaga dan menggunakan apa yang ada di alam yang menjadi milik kita, digunakan secara bijak. Untuk mencapai keberlanjutan kawasan memberikan dampak positif terhadap masyarakat (M. Apuk Ismanea 1.,et.,al., 2018). Konservasi berasal dari kata “conservation”, bersumber dari kata con (together) dan servare (to keep, to save) yang dapat diartikan sebagai upaya memelihara milik kita (to keep, to save what we have), dan menggunakan milik tersebut secara bijak (wise use) (Theodore Roosevelt, 1902). Elang Jawa merupakan spesies endemik yang hanya terdapat di Pulau Jawa (Desy Natalia Sitorus.,et.,al., 2017). Sebagai salah satu hewan endemik, spesies ini termasuk hewan yang menghadapi risiko kepunahan lantaran berkurangnya habitat dan maraknya perburuan liar. Bahkan, burung ini terdaftar dalam satwa “terancam punah” dalam Buku Data Merah. Melansir Peraturan Menteri Kehutanan RI Nomor P.58/Menhut-II/2013 Tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Elang Jawa (Spizaetus Bartelsi) Tahun 2013-2022, satwa ini dianggap identik dengan lambang NKRI, yaitu Burung Garuda. Keberadaan elang jawa telah diketahui tahun 1820, tatkala van Hasselt dan Kuhl mengoleksi dua spesimen burung ini dari kawasan Gunung Salak untuk Museum Leiden, 15 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-9322 Negeri Belanda. tetapi pada masa itu hingga akhir abad-19, spesimen-spesimen burung ini masih dianggap sebagai jenis elang brontok. Baru pada tahun 1908, atas dasar spesimen koleksi yang dibuat oleh Max Bartels dari Pasir Datar, Sukabumi pada tahun 1907, seorang pakar burung di Negeri Jerman, O. Finsch, mengenalinya sebagai takson yang baru. Ia mengiranya sebagai anak jenis dari Spizaetus kelaarti, sejenis elang yang ada di Sri Lanka. Kemudian pada tahun 1924, Prof. Stresemann memberi nama takson baru tersebut dengan epitet spesifik bartelsi, untuk menghormati Max Bartels di atas, dan memasukkannya sebagai anak jenis elang gunung Spizaetus nipalensis Demikianlah, burung ini kemudian dikenal dunia dengan nama ilmiah Spizaetus nipalensis bartelsi, hingga akhirnya pada tahun 1953, D. Amadon mengusulkan untuk menaikkan peringkatnya dan mendudukkannya ke dalam jenis yang tersendiri, Spizaetus bartelsi. habitatnya, elang jawa menyebar jarang-jarang, sehingga meskipun luas daerah agihannya, total jumlahnya hanya sekitar 137-188 pasang burung, atau perkiraan jumlah individu elang ini berkisar antara 600-1.000 ekor. Populasi yang kecil ini menghadapi ancaman besar terhadap kelestariannya, yang disebabkan oleh kehilangan habitat dan eksploitasi. Pembalakan liar dan konversi hutan menjadi lahan pertanian telah menyusutkan tutupan hutan primer di Jawa. Elang ini juga terus diburu untuk diperjual belikan di pasar gelap sebagai satwa peliharaan, memelihara burung ini seolah menjadi kebanggaan tersendiri, dan pada gilirannya menjadikan harga burung ini melambung tinggi, mempertimbangkan kecilnya populasi, wilayah agihannya yang terbatas dan tekanan tinggi yang dihadapi. Kawasan “pusat konservasi elang kamojang terletak di Jl. Raya Kamojang, Desa Sukaarya, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, dikenal sebagai salah satu habitat alami bagi Elang Jawa. upaya konservasi burung ini di kawasan tersebut tidak hanya bertujuan untuk melestarikan spesies, tetapi juga mengembangkan wisata edukasi yang dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya oelestarian lingkungan. Makna konservasi merupakan tindakan yang dilakukan untuk melestarikan, mengawetkan, melindungi, dari pengrusakan, penghancuran, dan kehilangan. Pusat Konservasi Elang terbesar di Indonesia yaitu Pusat Konservasi Elang Kamojang. Pusat Konservasi Elang Kamojang bekerjasama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat dan Raptor Indonesia. Upaya alternatif dilakukan demi mencegah elang jawa berakhir tragis seperti burung-burung lain yang terlanjur punah. Kerja sama para pihak diperlukan untuk memulihkan populasi elang jawa melalui upaya konservasi elang kamojang dengan penangkaran captive breeding dapat dipadukan dengan konservasi in situ melalui pelepasliaran, terutama bagi beberapa anak jenis yang kini kritis. Kebutuhan akan wisata setiap tahunnya mengalami perkembangan, hal ini menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat, sebab kegiatan wisata berkaitan dengan kegiatan sosial dan ekonomi. Pariwisata menjadi kegiatan rutin bagi masyarakat, tidak hanya sekadar dijadikan sebagai sarana untuk liburan, namun pariwisata dapat menambah nilai ekonomi bagi suatu kawasan wisata. Potensi Pariwisata selain untuk ekonomi, dapat digunakan untuk bidang Pendidikan, melalui penelitian, edukasi, dan study tour. Pentingnya pariwisata berbasis edukasi menjadikan pengembangan pariwisata di Indonesia memiliki dampak bagi wilayah disekitarnya, dengan adanya nilai edukasi bagi sektor pariwisata menjadikan masyarakat memahami pentingnya mengembangkan kawasan pariwisata yang berkelanjutan atau Ecotourism. Wisata edukasi merupakan suatu program dimana wisatawan khususnya anak-anak melakukan kunjungan ke kawasan wisata dengan tujuan utama untuk mendapatkan pengalaman pembelajaran langsung terkait dengan kawasan wisata yang 16 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-9322 dikunjungi.(Priyanto et al., 2018). Wisata edukasi merupakan konsep yang memadukan aktivitas perjalanan dengan aktivitas pembelajaran. Wisata edukasi atau wisata edukasi dirancang sebagai suatu program di mana para peserta kegiatan pariwisata melakukan tamasya ke suatu lokasi tertentu secara berkelompok dengan tujuan utama untuk memperoleh pengalaman belajar yang berhubungan langsung dengan lokasi yang dikunjungi (Rodger:1998). Smith dan Jenner (1997) menggambarkan wisata edukasi sebagai tren pariwisata yang memadukan aktivitas hiburan dan edukasi sebagai produk wisata dengan unsur pembelajaran. Wisata Edukasi atau edutourism adalah suatu program dimana wisatawan berkunjung ke suatu lokasi dengan tujuan utama memperoleh pengalaman pembelajaran secara langsung di objek wisata tersebut seperti memuaskan rasa ingin tahu, bahasa dan budaya orang lain, merangsang minat mereka terhadap seni, musik, arsitektur atau cerita rakyat, empati terhadap lingkungan alam, bentang alam, flora dan fauna, atau pendalaman daya tarik warisan budaya dan situs sejarah Wisata edukasi mencakup beberapa jenis, antara lain ekowisata, wisata warisan budaya, wisata pedesaan/pertanian dan pertukaran pelajar antar lembaga pendidikan, dimana gagasan pariwisata untuk tujuan pendidikan bukanlah hal baru Wisata Edukasi atau edutourism adalah suatu program dimana wisatawan berkunjung ke suatu lokasi dengan tujuan utama memperoleh pengalaman pembelajaran secara langsung di objek wisata tersebut (Tita Juwita1.,et.,al., 2019). Kawasan kamojang juga dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi. Wisata edukasi ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang mendalam kepada pengunjung tentang Elang Jawa dan upaya konservasinya. Pengunjung dapat nmengikuti tur yang dipadu oleh pemadu berpengalaman, menyaksikan lngsung proses rehabilitas dan pelepasliaran Elang Jawa, serta mendapatkan informasi mendetail tentang pentingnya pelestarian spesies ini. juga menyatakan hal yang sama bahwa wisata edukasi merupakan suatu program wisata yang bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar secara langsung terkait objek wisata yang dikunjungi khususnya lingkungan hidup serta memberikan kesadaran kepada wisatawan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Dengan adanya wisata edukasi para pelajar dapat meningkatkan wawasan kebangsaan, rasa cinta tanah air, mengenal wilayah wisata, keberagaman spesies, budaya lokal, dan membangun rasa empati terhadap lingkungan. Wisata edukasi dapat menunjang ekonomi masyarakat di wilayah wisata, sebab masyarakat dapat membuka berbagai peluang usaha yang dapat mendukung wisatawan yang hendak berkunjung, seperti penginapan, restoran, tempat sewa alat wisata, dan lain-lainnya sehingga terjadi interaksi yang saling menguntungkan antara pengunjung, pengelola tempat wisata, serta masyarakat. Penelitian yang diangkat oleh (Afdan et al., 2022) yang berjudul “ upaya konservasi elang bondol di pulau kotok, taman nasional kepulauan seribu, provinsi dki Jakarta” dalam penelitiannya penulis mengatakan mengetahui sejarah program penyelamatan dan rehabilitasi elang bondol di pulau kotok, upaya konservasi dan rehabilitasi elang bondol, dan kondisi elang bondol di Pulau Kotok saat ini. Metode pengambilan data penelitian ini berupa metode deskriptif analitik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah elang bondol yang merupakan maskot kota DKI Jakarta saat ini sedang berada diambang kepunahan. Maka dari itu peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana Upaya Konservasi Elang Jawa sebagai Sarana Wisata Edukasi di Kawasan Kamojang Garut JawaBarat Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan survei dan didukung kajian literatur. 17 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-9322 METODE PENELITIAN Penelitian ini di lakukan di Kawasan Pusat Konservasi Elang Jawa di Kabupaten Garut JawaBarat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan survey dan di dukung dengan kajian literatur, dalam penelitian ini menggunakan dua jenins data, yaitu data primer dan data skunder. Data primer dilakukan secara langsung di lokasi penelitian dengan mengumpulkan data dalam bentuk mengajukan pertanyaan berupa lisan kepada pengunjung setempat melalui wawancara secra mendalam, serta melakukan pengamatan langsung di lapangan. Selain itu memperoleh data skunder berdasarkan penjelasan dari petugas di Kawasan Pusat Konservasi Elang Jawa di Garut Jawa Barat. Serta studi literature berupa jurnal, artikel hasil penelitian sebelumnya, buku dan data melalu internet HASIL DAN PEMBAHASAN Elang yang bertubuh sedang sampai besar, langsing, dengan panjang tubuh antara 60-70 cm (dari ujung paruh hingga ujung ekor). Kepala berwarna coklat kemerahan (kadru), dengan jambul yang tinggi menonjol (2-4 bulu, panjang hingga 12 cm) dan tengkuk yang coklat kekuningan (kadang tampak keemasan bila terkena sinar matahari). Jambul hitam dengan ujung putih; mahkota dan kumis berwarna hitam, sedangkan punggung dan sayap coklat gelap. Kerongkongan keputihan dengan garis (sebetulnya garis-garis) hitam membujur di tengahnya. Ke bawah, ke arah dada, coret-coret hitam menyebar di atas warna kuning kecoklatan pucat, yang pada akhirnya di sebelah bawah lagi berubah menjadi pola garis (coret-coret) rapat melintang merah sawomatang sampai kecoklatan di atas warna pucat keputihan bulu-bulu perut dan kaki. Bulu pada kaki menutup tungkai hingga dekat ke pangkal jari. Ekor kecoklatan dengan empat garis gelap dan lebar melintang yang tampak jelas di sisi bawah, ujung ekor bergaris putih tipis. Betina berwarna serupa, sedikit lebih besar. Iris mata kuning atau kecoklatan; paruh kehitaman; sera (daging di pangkal paruh) kekuningan; kaki (jari) kekuningan. Burung muda dengan kepala, leher dan sisi bawah tubuh berwarna coklat kayu manis terang, tanpa coretan atau garis-garis. Ketika terbang, elang jawa serupa dengan elang brontok (Nisaetus cirrhatus) bentuk terang, namun cenderung tampak lebih kecoklatan, dengan perut terlihat lebih gelap, serta berukuran sedikit lebih kecil. Bunyi nyaring tinggi, berulang-ulang, klii-iiw atau ii-iiiw, bervariasi antara satu hingga tiga suku kata. Atau bunyi bernada tinggi dan cepat kli-kli-kli-kli-kli. Sedikit banyak, suaranya ini mirip dengan suara elang brontok meski perbedaannya cukup jelas dalam nadanya. Konservasi sebagai penunjang pelestarian, memperlambat kepunahan, merehabilitasi bagi hewan-hewan yang sedang terancam kepunahan. Konservasi adalah upaya-upaya pelestarian lingkungan akan tetapi tetap memperhatikan manfaat yang bisa didapatkan pada saat itu dengan cara tetap mempertahankan keberadaan setiap komponenkomponen lingkungan untuk pemanfaatan di masa yang akan datang. Atau konservasi adalah suatu upaya yang dilakukan oleh manusia untuk dapat melestarikan flora dan fauna, konservasi bisa juga disebut dengan pelestarian ataupun perlindungan. (www.pengertianku.net, 22 Agustus 2015). Menurut salah satu penjaga di pusat konservasi elang jawa Kamojang Kabupaten Garut Jawa Barat menyatakan bahwa mungkin tidak banyak yang tahu bahwa kebanyakan elang bersifat monogami sehingga jenis burung pemangsa ini termasuk salah satu jenis satwa yang setia pada pasangannya. Tidak hanya itu, elang juga merupakan satwa yang 18 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-9322 memiliki indera penglihatan sangat tajam, di samping juga memiliki kecepatan luar biasa yang bisa mencapai 300 km/jam. Selain menjalankan fungsi utamanya sebagai lemmbaga penyelamatan dan rehabilitas elang, kini juga pusat konservasi elang jawa di kamojang Kabupaten Garut Jawa Barat ini juga mengambil peran sebagai wisata edukasi dalam mengedukasi masyarakat/wisatawan yang berkunjung ke pusat konservasi elang kamojang Kabupaten Garut Jawabarat masyarakat /wisatawan akan mendapatkan edukasi mengenai upaya – upaya pelestarian satwa li,ar berjenis elang. Hampir pada setia hari llibur , lokasi pusat konservasi elang jawa di Kamojang Kabupaten Garut Jawa Barat ini di kunjungi oleh wisatawan dari berbagai kalangan, utamanya para pelajar yang memiliki keinginan yang tinggi mengenai kehidupan elang jawa. Fakta – fakta lainnya seputar elang jawa dapat ditemukan secara lanngsung ketika pada saat berkunjung ke pusat konservasi elang jawa kamojang Kabupaten Garut Jawa Barat Wisatawan yang datang akan mendapatkan informasi yang cukup lengkap seputar elang jawa, langsung dari pengelola Pusat Konservasi Elang Kamojang yang sudah memang pakar mengenai semua jenis elangan jawa ini. Selain itu, juga adanya informasi berkaitan dengan elang juga bisa di dapatkan dari berbagai poster ataupun foto yang sengaja di tampilkan pada dinding di dalam pusat informasi Pusat Konservasi Elang Kamojang. Tidak hanya elang jawa dalam bentuk foto atau gambar saja yang dapat di nikmati pengunjung, melainkan pengunjung dapat melihat wujud elang jawa secara lengkap dikandang display edukasi, sebuah kandang yang memang disediakan khusus untuk menampilkan elang jawa hidup kepada para wisatawan. Sebagai informasi Pusat Konservasi Elang Kamojang yang terletak di Blok Citepus Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Kamojang dengan luas lokasi sekitar 11,4 ha telah dilengkapi dengan fasilitas kandang memadai (kandang display, kandang observasi, kandang karantina, kandang rehabilitasi, dan lain-lain) dengan merujuk di antaranya pada Minimum Standard for Wildlife Rehabilitation dan Standard for Bird of Prey Sanctuary. Pada tanggal 26 Juli 2017, Direktur Jenderal KSDAE, Ir. Wiratno, M.Sc., beserta para Kepala UPT lingkup Ditjen KSDAE se-Indonesia juga menyempatkan diri berkunjung ke Pusat Konservasi Elang Kamojang. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Workshop Data dan Informasi Ditjen KSDAE Tahun 2017. Pada kesempatan tersebut Dirjen KSDAE menyempatkan diri berdialog dengan pengelola Pusat Konservasi Elang Kamojang seputar kegiatan rehabilitasi elang yang dilakukan oleh Pusat Konservasi Elang Kamojang. Dirjen KSDAE juga berkenan meninjau fasilitas yang ada di Pusat Konservasi Elang Kamojang dan memberikan apresiasi terhadap upaya yang telah dilakukan oleh Balai Besar KSDA Jawa Barat beserta PT Pertamina Geothermal Energy dalam membidani lahirnya Pusat Konservasi Elang Kamojang. beliau berharap agar Pusat KOnservasi Elang Kmojang dapat dijadikan benchmark bagi upaya pelestarian dan rehabilitasi elang jawa di lokasi lain. Selain berdialog dan meninjau fasilitas yang terdapat di Pusat Konservasi Elang Kamojang, Dirjen KSDAE pada kunjungannya kali ini juga berkesempatan untuk melepasliarkan seekor elang jawa hasil rehabilitas yang telah dianggap dan siap untuk kembali hidup di alam bebas. Tidak hanya itu, Dirjen KSDAE beserta para pejabat eselon II lingkup Ditjen KSDAE juga melakukan penanaman di sekitar area Pusat Konservasi Elang Kamojang. dukungan yang diberikan oleh Dirjen KSDAE beserta jajarannya semakin mengokohkan Pusat Konservasi Elang Kamojang bukan hanya sebagai tempat penyelamatan dan rehabilitasi elang, melainkan juga menjadi tempat yang nyaman bagi masyarakat untuk belajar banyak tentang elang. 19 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-9322 Daftar Panorama Pusat Konservasi Elang Kamojang Street View Gambar 1. Pusat Konservasi Elang Kamojang Sumber: Data diolah Peneliti (2023) Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK) yang dibangun tahun 2014 merupakan bentuk implementasi dari Perjanjian Kerjasama kemitraan antara Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat dengan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) tentang Pembangunan Pusat Konservasi Elang Jawa di Taman Wisata Alam (TWA) Kamojang, dimana pelaksana teknis pengelolaan Pusat Konservasi Elang ini dilakukan oleh personal dari Forum Raptor Indonesia dan pihak lainnya. Pusat Konservasi Elang Kamojang yang secara administratif berada di wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, tepatnya di Kampung Citepus, Desa Sukakarya, Kecamatan Samarang, saat ini telah melakukan rehabilitasi elang dari hasil sitaan dan serahan masyarakat sebelum akhirnya dilepaskan lagi ke habitatnya yang merupakan bentuk dukungan terhadap pemerintah dalam upaya peningkatan populasi elang di alam. Pusat Konservasi Elang Kamojang Memiliki beberapa fasilitas yang disediakan, diantaranya: Basdcamp, Klinik, Kandang Karantina (Dalam), Kandang Observasi, Kandang Observasi (Interior), Kandang Rehabilitas (Bawah), Kandang Pembiakan, Kandang Display Edukasi, Area Pelepas Liaran , Kandang Rajawali, Pusat Informasi, CCTV Monitor, Reptor Corner, Berikut penjelasannya : Basecamp Gambar 2. Basecamp Pusat Konservasi Elang Kamojang Sumber: Data diolah Peneliti (2023) Menurut salah satu penjaga di Pusat Konservasi Elang Kmojang, yaitu tempat bagi para penjaga dan Dokter atau para perawat satwa. di Pusat Konservasi Elang Kamojang. 20 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-9322 Klinik Gambar 3. Klinik Pusat Konservasi Elang Kamojang. Sumber: Data diolah Peneliti (2023) Menurut salah satu penjaga di Pusat Konservasi Elang Kmojang, Pada saat pertama kali elang datang langsung diperiksa kondisinya di kelinik hewan, dalam kelinik hewan ini ada beberapa ruangan yang diantaranya: ruangan perawatan, pemeriksaan dokter hewan, dan lab atau specimen untuk elang. Kandang Karantina (dalam) Gambar 4. Kandang Karantina (dalam) Pusat Konservasi Elang Kamojang Sumber: Data diolah Peneliti (2023) Menurut salah satu penjaga di Pusat Konservasi Elang Kmojang, Kandang karantina atau disebut juga dengan kandang transit elang – elang yang sudah di periksa di kelinik tadi maka kita akan masukkan ke dalam kandang karantina untuk proses pemulihan kesehatan dan fisik lalu selanjutnya akan di lanjutkan ke dalam kandang – kandang yaitu kandang observasi maupun kandang rehabilitas. Kandang Observasi Gambar 5. Kandang Observasi Pusat Konservasi Elang Kamojang Sumber: Data diolah Peneliti (2023) 21 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-9322 Menurut salah satu penjaga di Pusat Konservasi Elang Kmojang, fungsi dan peruntukan kandang observasi yaitu (1) Kandang observasi yaitu berfungsi untuk melihat perkembangan kesehatan prilaku elang. (2) Kandang observasi di peruntukkan bagi elang yang telah melewati masa karantina. (3) Kandang ini bersifat tertutup dan di tempatkan tidak jauh dari kelinik Kesehatan (4) Di kandang observasi ini biasanya elang – elang yang sudah melewati karantina akan di pindahkan ke kandang observasi ini apakah elang tersebut sudah bisa lanjut lagi ke tahap rehabilitasi atau belum. (5) Untuk dilakukan pemantauan secara intensif mengenai kondisi kesehatannya maupun prilakunya. Ukuran dan spesifikasi kandang Observasi ini adalah: (1) Tinggi 3m, Panjang 6m, Lebar3m. (2) Material kandang terbuat dari jaring. (3) Pada bagian tertentu ditutup ooleh fiber atau penghalang untuk menimalisir interaksi atau gangguan oleh aktifitas manusia atau jenis elang lainnya. Kandang Observasi (Interior) Gambar 6. Kandang Karantina (dalam) Pusat Konservasi Elang Kamojang Sumber: Data diolah Peneliti (2023) Menurut salah satu penjaga di Pusat Konservasi Elang Kamojang, pada kandang ini misalnya elang jawa yang sedang menunjuukkan progress yang sangat baik salah satunya sudah takut dengan orang dan sudah menunjjukkan kemampuan terbang yang sangat baik dan dia sudah mulai berburu dan makan diatas tegeran. Kandang Rehabilitas (bawah) Gambar 7. Kandang Rehabilitas (Bawah) Pusat Konservasi Elang Kamojang Sumber: Data diolah Peneliti (2023) Menurut salah satu penjaga di Pusat Konservasi Elang Kmojang, yaitu merupakan tahap terakhir menuju elang yang belum dilepas liarkan pada kandang ini pula elang akan belajar berburu dan belajar terbang dengan ukuran kandang yang lebih besar sehingga ketika dilepas lliarkan elang tersebut sudah sangat siap beradaptasi dengan lingkungan 22 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-9322 barunya. Sefesipik ukuran kandang yaitu minimal ukuran dengan tinggi 12 m dan panjang 6 m. Kandang Pembiakan Gambar 8. Kandang Pembiakan Pusat Konservasi Elang Kamojang Sumber: Data diolah Penelit (2023) Menurut salah satu penjaga di Pusat Konservasi Elang Kmojang, yaitu tempat pengembang biakan elang yang berda 1 pasang elang yang sudah menunjukkan progres dengan merapikan sarang lagi pada bulan lalu sempat bertelur namun telur tersebut gagal di tetaskan sampai ada bayinya. Kandang Display Edukasi Gambar 8. Kandang Dispalay Edukasi Pusat Konservasi Elang Kamojang Sumber: Data diolah Peneliti (2023) Menurut salah satu penjaga di Pusat Konservasi Elang Kmojang, yaitu fungis dan peruntukkan kandang display edukasi adalah kandang yang di peruntukkan bagi jenis elang yang memiliki peluang sangat kecil untuk dilepas liarkan kembali ke alam, keberadaan kandang ini berada di area yang dapat diakses oleh public. Ukuran kandang display edukasi dan spesifikasinya yaitu: minimal ukuran kandang adalah tinggi 3m, panjang 6m, lebar 3m. material kandang terbuat dari jaring. Bagian tertentu antara kandang di beri penutup atau pembatas antar kandang. Lantai kandang dari pasir atau tanah. 23 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-9322 Area Pelepasliaran Gambar 9. Kandang Pelepas Liaran Pusat Konservasi Elang Kamojang Sumber: Data diolah Peneliti (2023) Menurut salah satu penjaga di Pusat Konservasi Elang Kamojang, yaitu area untuk pelepas liaran bagi elang yang sudah siap bertahan hidup di alam bebas atau di kembalikan ke habitat aslinya. Taman Rajawali Gambar 10. Kandang Rajawali Pusat Konservasi Elang Kamojang Sumber: Data diolah Peneliti (2023) Menurut salah satu penjaga di Pusat Konservasi Elang Kamojang, yaitu berisikan wahana untuk edukasi untuk anak – anak, di dalamnya ada mainan ulartangga maupun papan – papan informasi seperti Wing Pond dari elang yang bisa di sesuaikan dengan tubuh anak sehinggga dia akan tau ketika di bentangkan tangan sayap seperti bentangan elang jenis apa. Pusat Informasi Gambar 11. Pusat Informasi Pusat Konservasi Elang Kamojang. Sumber: Data diolah Peneliti (2023) 24 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-9322 Menurut salah satu penjaga di Pusat Konservasi Elang Kmojang, Tempat diberikannya informasi oleh staff seputar Elang-elang yang berada di Indonesia, dari berbagai pulau. Menggunakan media spanduk-spanduk fotografi Elangelang yang berada di Pusat Konservasi Elang Kamojang. Meliputi ciri khas, makanan, habitat. CCTV Monitor Gambar 12. CCTV Monitor Pusat Konservasi Elang Kamojangsat Informasi Pusat Konservasi Elang Kamojang Sumber: Data diolah Peneliti (2023) Menurut salah satu penjaga di Pusat Konservasi Elang Kmojang, tempat monitor CCTV untuk kandang briding. Reptor Corner Gambar 13. Reptor Corner Pusat Konservasi Elang Kamojang Sumber; Data diolah Peneliti (2023) Menurut salah satu penjaga di Pusat Konservasi Elang Kamojang, Ruang diskusi bagi publik ataupun sebagai kantin bagi para wisatawan yang berkunjung ketempat Pusat Konservasi Elang Kamojang. KESIMPULAN DAN SARAN Hasil penelitian menunjukkan elang jawa yang merupakan mascot lambang NKRI, yaitu Burung Garuda saat ini sedang berada diambang kepunahan. Rehabilitasi elang tidak semudah yang kita bayangkan, karena dalam proses rehabilitasi tidak semua elang tersebut dapat dilepas liarkan kembali. Sudah seharusnya kita menumbuhkan kesadaran dan pemahaman akan pentingnya menjaga pelestarian satwa Indonesia, salah satunya elang jawa. pariwisata ekowisata berbasis edukasi di Pusat Konservasi Elang Jawa Di Kamojang Garut Jawabarat dapat di jadikan sebagai sarana pariwisata ekowisata berbasis edukasi. Pusat Konservasi Elang Kamojang menjadi tempat Pusat Konservasi Elang Kamojang yang dilindungi dan di jaga keberadaannya, oleh sebab itu pentingnya peran masyarakat dan pemerintah untuk menjaga secara bersama keberagaman hayati yang ada 25 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-9322 di Indonesia. wisata Pusat Konservasi Elang Kmojang berbasis edukasi dapat memberikan manfaat yang beragam baik dari masyarakan maupun wisatawan akan semakin mengenal fungsi keberagaman biota tersebut, sehingga masyarakan akan sadar dengan keberadaan biota – biota tersebut dan yang lebih penting lagi adalah kesadaran wisatawan terhadap lingkungan akan semakin tinggi, wisatawanpun akan menyadari bahaya yang dilakukan jika merusak biota – biota yang ada di alam, oleh sebab itu upaya Pusat Konservasi Elang Jawa Kamojang berbasi edukasi dapat di berikan guna memberikan keuntungan yang beragam bagi manusia maupun alam. DAFTAR PUSTAKA Afdan, N. T., Wulandari, M., & Hardi, O. S. (2022). Potensi Wisata Edukasi Keragaman Biodiversitas di Pulau Pramuka dan Pulau Kotok, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Jurnal Pendidikan Geografi Undiksha, 10(2), 115-125. Fitriana, E. (2018). Strategi pengembangan taman wisata kum kum sebagai wisata edukasi di kota palangkaraya. Jurnal Pendidikan Geografi, 23(2), 94-106. Ismane, M. A., Kusmana, C., Gunawan, A., Affandi, R., & Suwardi, S. (2018). Keberlanjutan pengelolaan kawasan konservasi penyu di pantai Pangumbahan, Sukabumi, Jawa Barat. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management), 8(1), 36-43. Juwita, T., Novianti, E., Tahir, R., & Nugraha, A. (2020). Pengembangan model wisata edukasi di Museum Pendidikan Nasional. Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation, 3(1), 8-17. Paga, B., Ora, Y. A., & Anu, E. (2023). Upaya Konservasi Elang Flores (Nisaetus Floris) Berdasarkan Persepsi, Motivasi Dan Sikap Masyarakat Di Sekitar Taman Nasional Kelimutu. In Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian (Vol. 6, No. 1, pp. 61-69). Pribadi, D. P. (2014). Studi Populasi Elang Jawa (Spizaetus bartelsi Stresemann, 1924) di Gunung Salak, Taman Nasional Gunung Halimun –Salak. Bioma, 10(1), 17-24. Priyanto, R., Syarifuddin, D., & Martina, S. (2018). Perancangan model wisata edukasi di objek wisata Kampung Tulip. Jurnal Abdimas BSI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 1(1). Rohman, F., Ginantra, I. K., & Dalem, A. A. G. R. (2019). Penggunaan habitat oleh elang brontok, elang ular bido dan elang laut perut putih di Taman Wisata Alam Danau Buyan-Danau Tamblingan dan sekitarnya. Jurnal Metamorfosa, 6(1), 25-32. Sitorus, D. N., & Hernowo, J. B. (2016). Habitat dan Perilaku Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) di SPTN 1 Tegaldlimo Taman Nasional Alas Purwo, Jawa Timur. Media Konservasi, 21(3), 278-285. 26