INSANtek Ae Jurnal Inovasi dan Sains Teknik Elektro Volume 5 No. 2 November 2024 E-ISSN: 2722-547X Audit Manajemen Energi pada Sistem Penerangan dan Tata Udara Masjid Muttaqien Cibadak Sukabumi Andi Rosano1. Djadjat Sudaradjat2 Universitas Bina Sarana Informatika e-mail: 1andi. aox@bsi. id, 2djadjat. dsj@bsi. Abstrak - Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kita masih sangat jarang adanya pihak yang peduli akan penghematan energi. Audit manajemen energi adalah langkah penting dalam usaha peningkatan efisiensi energi. Masjid, sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial, seringkali memiliki kebutuhan energi yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan audit manajemen energi pada masjid dan mengidentifikasi adanya potensi penghematan energi dan memberikan rekomendasi tindak lanjutnya. Objek audit manajemen energi ini ditujukan pada pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Muttaqien Cibadak Sukabumi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masjid ini memiliki potensi penghematan energi yang signifikan dan menghasilkan rekomendasi peluang konservasi energi yang bisa dilakukan dengan mengurangi penggunaan beberapa lampu dan sejumlah AC (Cir Conditione. Didapatkan bahwa pemakaian tenaga listrik setelah peluang konservasi energi (ECO) sebesar 39. 619,2 kWh/tahun dengan biaya listrik sebesar Rp 36. 560/tahun, dengan nilai intensitas konsumsi energi (IKE) masjid sebesar 12,96 kWh/m2/bulan. Nilai ini termasuk dalam kategori konsumsi energi yang cukup hemat berdasarkan Peraturan Menteri Nomor 13 Tahun 2012 tentang Energi Listrik. Kata Kunci: audit manajemen energi, konvergensi energi, intensitas konsumsi energi Abstract - In our society's daily life, it is still very rare for people to care about energy savings. Energy management audits are an important step in efforts to improve energy efficiency. Mosques, as centers of religious and social activity, often have significant energy requirements. This research aims to conduct an energy management audit in mosques and identify potential energy savings and provide follow-up recommendations. The object of this energy management audit is aimed at the management of the Muttaqien Cibadak Sukabumi Mosque Prosperity Council (DKM). The research results show that this mosque has the potential for significant energy savings and produces recommendations for energy conservation opportunities that can be done by reducing the use of some lights and a number of ACs (Cir Conditioner. It was found that electricity consumption after energy conservation opportunities (ECO) was 39,619. 2 kWh/year with electricity costs of IDR 36,723,560/year, with a mosque energy consumption intensity (IKE) value of 12. 96 kWh/m2/month. This value is included in the fairly economical energy consumption category based on Ministerial Regulation Number 13 of 2012 concerning Electrical Energy. Keywords: energy management audit, energy convergence, energy consumption intensity PENDAHULUAN Hampir semua aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat sangat bergantung pada energi. Meskipun secara global cadangan energi dunia semakin menipis, namun permintaan energi terus meningkat. Menurut proyeksi Badan Energi Dunia (International Energy Agency-IEA), hingga tahun 2030 permintaan energi dunia masih meningkat sebesar 45% atau rata-rata meningkat sebesar 1,6% per tahun. Sebagaian besar atau sekitar 80% kebutuhan energi dunia itu dipasok dari bahan bakar fosil (IEA, 2. Akibat konsumsi energi yang berlebihan dan boros ini maka terjadilah kerusakan lingkungan, produk menjadi tidak kompetitif, dan muncul gejolak sosial ekonomi dalam jangka panjang. Salah satu jenis krisis energi yang sedang terjadi adalah energy listrik, yang disebabkan oleh pemborosan dalam penggunaannya. Penggunaan listrik yang berlebihan adalah masalah serius dalam masyarakat modern saat ini. Penggunaan berlebihan dari energy listrik ini juga dapat memiliki dampak negatif yang serius. Contoh dampak signifikan dari http://jurnal. id/index. php/insantek penggunaan listrik berlebihan adalah kontribusi terhadap efek rumah kaca. Efek rumah kaca adalah proses alami dari atmosfer bumi yang mempertahankan suhunya agar sesuai untuk kehidupan. Namun demikian, produksi listrik dari bahan bakar fosil seperti batubara dan minyak bumimemproduksi sejumlah besar karbon dioksida (CO. , yang ini menimbulkan gas rumah kaca utama (Ihsan & Hutama, 2. Merujuk pada data International Energy Agency (IEA) peningkatan terbesar dalam emisi CO2 per sektor pada tahun 2021 terjadi pada sektor produksi listrik dan panas, dimana terjadi lonjakan emisi lebih dari 941 juta ton, telah menyumbang 46% dari peningkatan emisi global. Peningkatan ini disebabkan oleh kontribusi penggunaan bahan bakar fosil guna memenuhi permintaan energy listrik yang terus Emisi CO2 dari sektor ini mendekati 14,6 miliar ton, mencapai level tertinggi sepanjang sejarah yakno sekitar 500 juta ton lebih tinggi dibanding pada Selain dari sektor listrik, emisi CO2 juga diakibatkan oleh beberapa sektor antara lain sektor INSANtek Ae Jurnal Inovasi dan Sains Teknik Elektro. Volume 5 No. 2 November 2024 E-ISSN: 2722-547X industri sebesar 193 juta ton, sektor transportasi sebesar 501 juta ton, sektor bangunan sebesar 167 juta ton, dan dari sektor lainnya sebesar 235 juta ton (IEA, 2. Permintaan listrik secara global dari tahun ke tahun meningkat hampir 1. 400 TeraWatt-jam (TW. , atau 5,9% pada tahun 2021, hal ini mendorong peningkatan emisi CO2 sebesar 6,9% dari sektor listrik dan panas (IEA, 2. Karena semakin kompleksnya masalah energi, maka manajemen konsumsi energi harus menjadi salah satu elemen utama yang harus Pemerintah Indonesia mencanangkan kebijakan konservasi energi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi. Kebijakan tersebut diatur oleh Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2023 tentang Konservasi Energi. Konservasi energi harus menjadi upaya sistematis, terencana, dan terpadu guna melestarikan sumber daya energi dalam Audit adalah teknik konservasi energi untuk menghitung jumlah energi yang digunakan pada suatu bangunan (PP No. 33 Tahun 2023 Tentang Konservasi Energi, 2. Audit energi diperlukan karena penggunaan daya yang tidak efisien mengakibatkan penggunaan listrik yang tinggi, tidak terkendali, dan pengeluaran biaya listrik yang tinggi. Laporan Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa terdapat peluang penghematan energy yang sangat besar antara 10% hingga 30% jika melakukan konservasi energi di setiap sektor (Dewi et al. , 2. Upaya penghematan energi bisa meningkatkan produktivitas kerja dan menekan pemborosan. Audit energi perlu dilakukan untuk mengidentifikasi adanya potensi penghematan energi pada suatu bangunan gedung ataupun industri. Penghematan peralatan pada tata cahaya dan tata udara adalah salah satu cara suatu bangunan dapat menghemat energi. Pada sistem pencahayaan, terutama penggunaan cahaya alami . dari fajar hingga siang hari, dapat mengurangi penggunaan pencahayaan buatan untuk menghemat konsumsi daya yang Untuk sistem tata udara, mengurangi jumlah AC (Air Conditione. yang digunakan dapat dilakukan untuk penghematan (Martin et al. , 2. selain itu juga dapat mengurangi jam operasional dari AC tersebut. Sistem tata udara mempunyai andil sekitar 50% hingga 70% dari total energi listrik yang digunakan, hal itu menunjukkan bahwa konservasi energi memberikan pengaruh yang paling besar (Martin. R, et al. , 2. Masjid adalah bagian penting dari kehidupan masyarakat muslim, dan biasanya menjadi pusat kegiatan sosial dan keagamaan. Namun, masjid juga merupakan konsumen energi yang signifikan, terutama dalam hal penerangan dan pendinginan. Audit manajemen dan energi pada bangunan masjid menjadi penting karena bangunan masjid juga membutuhkan energi untuk beroperasi seperti berbeda dengan bangunan lainnya. Selain itu, audit manajemen dan energi pada bangunan masjid juga membantu upaya penghematan energi dan biaya operasional. Hal ini juga sejalan dengan upaya untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan menjaga kelestarian http://jurnal. id/index. php/insantek Audit manajemen energi pada bangunan masjid dapat dilakukan untuk memeriksa seberapa efisien penggunaan energi pada bangunan tersebut dan menentukan cara untuk meningkatkan efisiensi energi. Manajemen energi pada bangunan masjid dapat dilakukan dengan mengadopsi teknologi dan praktik yang ramah lingkungan, seperti penggunaan lampu hemat energy (LED), penggunaan sistem pendingin yang efisien, dan penggunaan energi terbarukan, misalnya penggunaan panel surya. Dengan demikian, audit manajemen energi pada bangunan masjid dapat turut serta menjaga kelestarian lingkungan dan mengurangi biaya operasional. Oleh karena itu, audit manajemen energi pada bangunan masjid sangat penting untuk mengidentifikasi adanya pemborosan dan cara mengurangi konsumsi energi serta dampak lingkungan oleh bangunan ini. Tujuan penelitian ini adalah menjalankan audit manajemen energi pada sebuah masjid dan mengidentifikasi potensi penghematan energi dan memberikan saran perbaikan. Audit manajemen energi ini ditujukan pada bangunan Masjid Muttaqien Cibadak Sukabumi, karena menggunakan banyak energi listrik dan beroperasi dua puluh empat jam tanpa henti sebagai tempat beribadah dan pusat kegiatan keagamaan. Gedung ini memiliki 2 lantai dengan konsumsi energi yang sangat besar. METODE PENELITIAN Pada penelitian ini akan digunakan metode kuantitatif dan teknik analisis deskriptif. Penelitian deskriptif kuantitatif adalah penelitian yang menggunakan variabel realistis atau apa adanya, didukung oleh data-data berupa angka yang dihasilkan dari keadaan sesungguhnya. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan dan studi literatur atau tinjauan naratif berdasarkan data yang diperlukan. Observasi Lapangan Observasi lapangan adalah proses yang penting untuk identifikasi adanya potensi penghematan energi dan pengurangan konsumsi energi yang tidak perlu. Pada proses observasi ini dilakukan pemantauan secara langsung pada sistem tata cahaya dan tata udara pada Masjid Muttaqien Cibadak Sukabumi. Pada observasi ini akan dilakukan pencatatan terhadap penggunaan lampu dan pendingin ruangan (AC) untuk memperoleh angka penggunaan energi sehari-hari. Gambar dibawah adalah denah dari Masjid Muttaqien Cibadak Sukabumi yang terdiri dari lantai 1 dan lantai 2. INSANtek Ae Jurnal Inovasi dan Sains Teknik Elektro. Volume 5 No. 2 November 2024 E-ISSN: 2722-547X Cibadak Sukabumi. Berikut merupakan alur penelitian yang ditunjukkan pada gambar 3. Gambar 2a : Denah Masjid Lantai 1 Sumber : Dokumen Penelitian Gambar 3 : Diagram Alir Penelitian (Martin. R, et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambar 2b : Denah Masjid Lantai 2 Sumber : Dokumen Penelitian Variabel penelitian meliputi pengukuran total konsumsi energi berdasarkan hasil audit energi awal dan audit energi rinci, serta adanya potensi penghematan energi sesuai dengan standar yang berlaku. Pada tahap audit energi awal, akan dihitung total Intensitas Konsumsi Energi (IKE) untuk setiap unit area. Selanjutnya pada audit energi rinci, akan diperiksa konsumsi listrik dan biaya terkait per unit waktu untuk setiap komponen, baik pada sistem pencahayaan maupun tata udara. Data yang diperoleh melalui observasi lapangan ini kemudian dilakukan perhitungan serta analisis terhadap penggunaan energi per hari, per bulan dan per tahun. Perhitungan IKE dilakukan untuk memperoleh kriteria penggunaan energi pada Masjid Muttaqien Cibadak Sukabumi. Hasil akhir yang direkomendasikan adalah berdasarkan standar Energy Conservation Opportunity (ECO) untuk penghematan energi, serta hal-hal yang harus dilakukan untuk penghematan energi. IKE ditulis dalam bentuk Persamaan 1 seperti di berikut ini (Martin. Agusta, et , 2. Dalam proses penelitian diperlukannya alur penelitian sebagai acuan dalam pelaksanaan manajemen dan audit energi pada Masjid Muttaqien http://jurnal. id/index. php/insantek Masjid Muttaqien Cibadak Sukabumi dibangun pada tahun 2009. Mesjid Raya ini merupakan kategori masjid umum yang beralamat di Jl. Raya Cibadak Sukabumi. Masjid ini memiliki luas bangunan sebesar 269 m2 dan luas tanah sebesar 1450 m2. Masjid ini memiliki jumlah jamaah kurang lebih sebanyak 700 AUDIT ENERGI Sistem Tata Cahaya Pelaksanaan audit sistem tata cahaya dilakukan dengan mengukur tingkat intensitas cahaya di ruangan dengan menggunakan lux-meter, serta jenis . lampu yang digunakan. Gambar 4 : Tampak Depan Masjid dan Tata Cahaya Sumber : Dokumen Penelitian Selanjutnya dilakukan perbandingan terhadap INSANtek Ae Jurnal Inovasi dan Sains Teknik Elektro. Volume 5 No. 2 November 2024 E-ISSN: 2722-547X standar tingkat lumens pada masing-masing lantai yang ditampilkan pada Tabel 1. Tabel 1 : Pengukuran Lux Tata Cahaya 282 lux Standar SNI Melebihi Standar 271 lux Melebihi Standar Ruangan Lux Lantai 1 Lantai 2 Keterangan Teras 137 lux Sesuai Standar (SNI 6197:2000 - Konservasi Energi Pada Sistem Pencahayaan, 2. Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa intensitas cahaya lantai 1 dan lantai 2 melebihi standar yang ditentukan. Masjid tergolong bangunan sosial murni (S-. dengan biaya listrik sebesar Rp. 925/kWh. Sistem pencahayaan ini beroperasi selama 12 jam . 00 sore - 06. 00 pag. Setelah dilakukan perhitungan konsumsi energi pada tata cahaya ruangan maka hasilnya dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2 : Konsumsi Energi Listrik dan Biaya Listrik Tata Cahaya Tata Cahaya Hari Bulan Tahun Konsumsi Energi Listrik . 13,32 Biaya Listrik (R. 540,764 Sumber : Hasil Penelitian Sistem Tata Udara Sistem tata udara berkaitan dengan pengkondisian sistem udara, dan memberikan kenyamanan kepada pengunjung. Suatu bangunan gedung dengan area yang cukup luas, maka untuk memenuhi kebutuhan akan sistem tata udara digunakan AC . ir conditione. sebagai perangkat pada sistem tata Pada audit ini dilakukan perhitungan terkait dimensi ruangan, kebutuhan pendinginan, spesifikasi AC yang diperlukan, serta waktu operasional dari perangkat sistem tata udara tersebut. Kebutuhan persamaan 2 (Syafriandi et al. , 2. Gambar 5 : Tata Udara pada Bangunan Masjid Sumber : Dokumen Penelitian Pada sistem tata udara terdapat 11 pendingin di lantai 1 yang berada didalam masjid. Pendingin ruangan ini memiliki kapasitas 2 PK dengan daya sebesar 1,857 kW (Tabel . Pendingin ruangan ini setiap hari dioperasikan selama 10 jam . 30 dan 11. Tabel 3 : Kapasitas Pendinginan Tata Udara Ruangan Luas Area . Kapasitas Pendingin . W) Jumlah Daya . W) Waktu Operasi . Ruang Sholat Sumber : Hasil Penelitian Bila diketahui daya pendingin ruangan maka dapat dihitung perhitungan konsumsi energi listrik pada tata udara sehingga didapatkan biaya listrik per hari, per bulan dan per tahunnya yang ditampilkan pada Tabel 4. Tabel 4 : Konsumsi Energi Listrik dan Biaya Listrik Tata Udara Tata Udara Konsumsi Energi Listrik . Biaya Listrik (R. Hari Bulan Tahun 207,37 Sumber : Hasil Penelitian Intensitas Konsumsi Energi Konsumsi energi dikatakan efisien bila memenuhi standar nilai IKE. Standar penggunaan energi pada bangunan gedung ditampilkan pada Tabel 5. Dimana : L = Panjang ruangan . W = Lebar ruangan . H = Tinggi ruangan . I = Pengaruh posisi ruangan. 10 jika ruangan berada di lantai 18 jika berada dilantai atas. E = Arah Bangunan. 20 jika menghadap arah barat. 18 jika menghadap arah selatan. 17 jika menghadap arah timur. jika menghadap arah utara. http://jurnal. id/index. php/insantek Tabel 5 : Standar Penggunaan Energi Kriteria Ruang AC Wh/m2/bl. Ruang non-AC Wh/m2/bl. Sangat Efisien 4,17-7,92 0,84-1,67 Efisien 7,92-12,08 1,67-2,5 Cukup Efisien 12,08-14,58 Agak Boros 14,58-19,17 Boros 19,17-23,75 2,5-3,34 Sangat Boros 23,75-37,75 3,34-4,17 INSANtek Ae Jurnal Inovasi dan Sains Teknik Elektro. Volume 5 No. 2 November 2024 E-ISSN: 2722-547X (Despa et al. , 2. Dari data yang diperoleh saat pelaksanaan audit energi, maka nilai intensitas konsumsi energi bulanan dapat dihitung dengan dan ditampilkan pada Tabel 6. Tabel 6 : Intesitas Konsumsi Energi pada Masjid Sistem Daya/bulan . Biaya/bulan (R. Tata Cahaya Tata Udara Total Sumber : Hasil Penelitian Berdasarkan nilai IKE per bulan yang diperoleh adalah sebesar 24,61 kWh/m2/bulan, sehingga konsumsi energi pada Masjid Muttaqien Cibadak Sukabumi, masih tergolong boros. Jumlah Rupiah dihemat per tahun = 1. kWh x (Rp. 925/kw. = Rp. Penghematan lampu di Lantai 2: A Luas ruangan = 269 m2 A Jumlah lampu = 76 buah A Lux lantai 2 = 271 Lux A Lumen ruangan = 271 Lumen/m2 A Lumen total = 271 Lumen x 259 m2 = 70. Lumen A Lumen lampu = 70. 189 Lumen/76 buah = 923,54Lumen per buah A Penerangan lampu = 923,54 lumen/200 lux = 4,6177 m2 A Jumlah lampu di perlukan = 269 m2/4,6177 m2 = 58,25buah = 59 buah A Jumlah lampu ruangan di hemat = 76 Ae 59 = 17 A Jumlah energi dihemat = 17 buah x 10 Watt x 12 jam x30 hari x 12 bulan = 734 kWh per tahun A Jumlah Rupiah dihemat per tahun = 734 kWh x (Rp. 925/kw. = Rp. Penghematan yang dapat dilakukan pada sistem tata cahaya pada Masjid Muttaqien Cibadak Sukabumi ditampilkan pada Tabel 7. ENERGY CONSERVATION OPPORTUNITIES Berdasarkan hasil perhitungan IKE bulanan yang dilakukan, bangunan Masjid Muttaqien Cibadak Sukabumi masih tergolong boros dalam konsumsi energi, dan perlu dilakukan langkah penghematan energi dalam rangka konservasi energi. Peluang penghematan dapat dilakukan dengan penggunaan standar SNI terkait sistem tata cahaya ataupun tata Penghematan Sistem Tata Cahaya Tabel 7 Penghematan pada Tata Cahaya Ruangan . Lantai 1 Lantai 2 Biaya per Tahun (R. Pengurangn Lampu Total Sumber : Hasil Penelitian Daya per Tahun Untuk sistem tata cahaya dilakukan penyesuian penggunaan lampu hemat energi yang sesuai dengan SNI, ditambah dengan melakukan pengurangan jumlah lampu yang digunakan. Perhitungan untuk mengurangi jumlah lampu dan energi yang dapat dihemat adalah sebagai berikut. Pengurangan penggunaan lampu pada sistem tata cahaya di Masjid ini tentu akan berdampak pada pengurangan biaya yang akan dikeluarkan untuk sistem tata cahaya. Total penghematan pada sistem tata cahaya dalam 1 tahun adalah sebesar Rp. Penghematan lampu di Lantai 1: A Luas ruangan = 269 m2 A Jumlah lampu = 107 buah A Lux lantai 1 = 282 Lux A Lumen ruangan = 282 Lumen/m2 A Lumen total = 282 Lumen x 259 m2 = 73. Lumen A Lumen lampu = 73. 038 Lumen/107 buah = 682,6Lumen per buah A Penerangan lampu = 682,6 lumen/200 lux = 3,413 m2 A Jumlah lampu di perlukan = 269 m2/3,413 m2 = 78,82buah = 79 buah A Jumlah lampu ruangan di hemat = 107 Ae 79 = 28 A Jumlah energi dihemat = 28 buah x 10 Watt x 12 jam x30 hari x 12 bulan = 1. 209,6 kWh per Pengamatan pada sistem tata udara, menggunakan metode analisis dan perbandingan berdasarkan kebutuhan pendinginan ruangan dan kapasitas pendinginan yang tersedia. Kebutuhan pendinginan ruangan dihitung menggunakan persamaan 2 dan penghematan penggunaan AC pada tata udara ditampilkan pada Tabel 8. http://jurnal. id/index. php/insantek Penghematan Sistem Tata Udara INSANtek Ae Jurnal Inovasi dan Sains Teknik Elektro. Volume 5 No. 2 November 2024 E-ISSN: 2722-547X Tabel 8 : Penghematan AC pada Tata Udara Kapasitas 11 unit AC Ruang sholat . PK/uni. Sumber : Hasil Penelitian Ruangan Kebutuhan Pendinginan 15 PK Pengurangan 3 unit AC . PK/uni. Terlihat dari tabel diatas diketahui bahwa penggunaan AC pada sistem tata udara masih . dan masih dapat dilakukan penghematan. Untuk ruang sholat lantai 1 penggunaan awal adalah 11 unit AC dengan kapasitas 2 PK dan setelah dilakukan ECO penggunaan cukup menggunakan 8 unit AC. Penghematan penggunaan AC tentunya akan mempengaruhi penggunaan energi listrik dan juga biaya yang dikeluarkan untuk penggunaan sistem tata Efisiensi biaya yang dikeluarkan pada sistem tata udara ditampilkan pada Tabel 9 : Tabel 9 : Penghematan Biaya pada Tata Udara Tata Udara Daya Listrik . W) Biaya Listrik (R. Hari 109,12 170,62 Bulan Tahun Sumber : Hasil Penelitian Intensitas Konsumsi Energi Setelah ECO Berdasarkan semua data yang telah didapatkan saat melakukan audit energi, maka nilai intensitas konsumsi energi bulanan dihitung kembali untuk mengetahui penghematan energi pada sistem tata cahaya dan udara. Nilai IKE pada Masjid Muttaqien Cibadak Sukabumi setelah dilakukan ECO terlihat pada Tabel 10. Tabel 10 : Intesitas Konsumsi Energi Masjid Setelah ECO Sistem Tata Cahaya Tata Udara Total Daya Bulanan . Biaya Bulanan (R. Hasil perhitungan nilai IKE untuk Masjid Muttaqien Cibadak Sukabumi setelah dilakukan ECO mengalami penurunan, dimana nilai IKE per bulan yang diperoleh adalah sebesar 12,96 kWh/m2/bulan. Berdasarkan nilai IKE tersebut, maka konsumsi energi pada Masjid Muttaqien Cibadak Sukabumi sudah mencapai efisien. http://jurnal. id/index. php/insantek Setelah melakukan perhitungan ECO, maka dibuatkan perbandingan dalam bentuk grafik daya listrik yang digunakan antara sebelum dilakukan ECO dan setelah dilakukan ECO . Gambar 6 : Grafik Penggunaan Daya Listrik Sebelum dan Sesudah ECO Sumber : Hasil Penelitian Berdasarkan perhitungan di atas, penghematan besar bisa didapatkan jika dilakukan koreksi sesuai peluang konservasi energi yang didapatkan. Setelah dilakukan Energy Conservation Opportunities (ECO) pada Masjid Muttaqien Cibadak Sukabumi dapat mengurangi pemborosan daya listrik dan biaya listrik yang dikeluarkan dalam 1 tahun, dimana daya yang dibutuhkan hanya sebesar 1. 943,6 kWh pada tata cahaya 619,2 kWh pada tata udara. Kemudian biaya listrik yang dikeluarkan per tahun adalah sebesar Rp. 830 pada tata cahaya dan sebesar Rp. pada tata udara. KESIMPULAN Berdasarkan hasil audit manajemen energi yang telah dilaksanakan secara keseluruhan pada sistem pencahayaan dan sistem tata udara, maka dapat diambil kesimpulan yaitu: Pemakaian daya listrik di Masjid Muttaqien Cibadak Sukabumi adalah sebesar 74. 653,20 kWh/tahun dengan biaya listrik mencapai Rp 68. 304/tahun. Nilai intensitas konsumsi energi (IKE) pada Masjid Muttaqien Cibadak Sukabumi sebelum proses energy conservation opportunities (ECO) adalah 24,61s kWh/m2/bulan. Berdasarkan Permen No. 13 Tahun 2012 Tentang Penghematan Energi Listrik, nilai konsumsi energi tersebut pada Masjid dalam kategori boros. Peluang konservasi energi yang dapat dilakukan pada Masjid Muttaqien Cibadak Sukabumi adalah mengurangi pemakaian jumlah lampu dan jumlah AC. Penggunaan lampu dapat dikurangi pada lantai 1 sebanyak 28 buah lampu dari 107 buah lampu dan lantai 2 sebanyak 17 buah lampu dari 76 buah lampu. Untuk penggunaan AC yang awalnya menggunakan 11 unit AC, dapat dikurangi menjadi 8 unit AC kapasitas 2 PK/unit. Pemakaian daya listrik di Masjid Muttaqien Cibadak Sukabumi setelah proses energy conservation opportunities (ECO) adalah sebesar 39. INSANtek Ae Jurnal Inovasi dan Sains Teknik Elektro. Volume 5 No. 2 November 2024 E-ISSN: 2722-547X kWh/tahun dengan biaya listrik sebesar Rp 560/tahun. Setelah conservation opportunities (ECO), nilai intensitas konsumsi energi (IKE) pada Masjid Muttaqien Cibadak Sukabumi menjadi 12,96 kWh/m2/bulan. Nilai IKE tersebut sudah masuk kategori cukup efisien. REFERENSI