Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia E-ISSN: 3025-9479 |Page: 96-106 Vol. No. Juli-Oktober 2025 https://journal. com/index. php/jupsi Simbolisme dan Makna Ritual Pembakaran Naga dalam Tradisi Tionghoa pada Festival Cap Go Meh di Pontianak Chandra Purna Irawan1. Tri Purwaningsih2. Anggi Berlian Safitri3. Dianti Nabila4. Rio Rudiansyah5. M Zainul Hafizi6 1,2,3,4,5,6 Pendidikan IPS. Universias Tanjungpura. Pontianak. Indonesia ABSTRACT Ritual pembakaran naga merupakan salah satu tradisi penting dalam rangkaian Festival Cap Go Meh di Pontianak yang sarat dengan makna simbolis dan nilai budaya. Meskipun telah menjadi daya tarik publik, aspek spiritual dan filosofis dari ritual ini kerap terpinggirkan oleh arus modernisasi dan komodifikasi pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk menggali makna simbolis, fungsi sosial, serta tantangan pelestarian ritual pembakaran naga, sekaligus menelaah perannya dalam memperkuat identitas budaya masyarakat Tionghoa dan kohesi sosial di Pontianak. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat, pelaku ritual, dan panitia festival, disertai observasi partisipan serta dokumentasi. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui reduksi, penyajian, dan penarikan Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembakaran naga dimaknai sebagai proses penyucian, pelepasan roh ke alam surgawi, serta doa bersama untuk keberuntungan dan keharmonisan. Selain itu, ritual ini memperkuat solidaritas sosial lintas etnis dan menjadi sarana pewarisan budaya lintas generasi. Namun, tantangan muncul dari komersialisasi dan berkurangnya pemahaman mendalam generasi muda terhadap nilai filosofis ritual. Penelitian ini berkontribusi dengan memberikan pemahaman kontekstual mengenai praktik budaya lokal serta menawarkan rekomendasi pelestarian berbasis komunitas. ARTICLE HISTORY Received: 11-06-2025 Revised: 01-10-2025 Accepted: 05-10-2025 KEYWORDS ritual pembakaran naga. Cap Go Meh, simbolisme budaya. Corresponding Author: Chandra Purna Irawan Pendidikan IPS. Universias Tanjungpura. Pontianak. Indonesia Jl. Profesor Dokter H. Hadari Nawawi. Bansir Laut. Kec. Pontianak Tenggara. Kota Pontianak. Kalimantan Barat 78115 Email: candra924848@gmail. A 2025 The Author. Published by Yazri Aksara Nusantara. ID This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution 4. 0 International License . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. 0/). DOI: https://doi. org/10. 62238/jupsi. Pendahuluan Perayaan Cap Go Meh merupakan salah satu tradisi penting dalam kalender budaya Tionghoa yang tidak hanya menjadi ajang religius dan spiritual (Neville, 2014. White & Leung, 2. , tetapi juga berfungsi sebagai ruang sosial bagi terbentuknya kohesi masyarakat multietnis (Makmur, 2018. Mandasari & Setiawan, 2. Di Pontianak, ritual pembakaran naga menempati posisi sentral dalam rangkaian perayaan ini. Naga, sebagai figur mitologis yang sarat simbolisme, dipandang sebagai entitas pelindung yang mampu menolak bala (Xu, 2. , membawa keberuntungan, dan menghubungkan manusia dengan kekuatan transenden (Stalinskaya, 2022. Yuan, 2. Namun, di tengah arus modernisasi, komodifikasi budaya, serta keterbatasan dokumentasi akademik yang mendalam, makna simbolis ritual ini berisiko tereduksi hanya sebagai atraksi wisata Fenomena inilah yang menjadi alasan mendasar mengapa penelitian mengenai simbolisme dan makna pembakaran naga dalam konteks Cap Go Meh di Pontianak penting untuk dilakukan secara lebih sistematis dan ilmiah. Sejumlah penelitian terdahulu telah menyinggung peran naga dalam tradisi Tionghoa, namun umumnya lebih menekankan aspek simbolisme dalam konteks nasional atau diaspora, ketimbang menyoroti praktik lokal secara spesifik. Czirakova . menegaskan naga sebagai simbol identitas nasional Tionghoa dan representasi kolektif etnis, sementara Lu . menyoroti penciptaan simbol visual naga dalam pembentukan identitas budaya kontemporer. Perspektif serupa juga dikemukakan oleh Budianta . yang melihat naga sebagai ikon diaspora di Asia Tenggara. Kajian ini menempatkan naga dalam kerangka makro identitas, tetapi cenderung belum menjelaskan bagaimana simbolisme tersebut dimaknai ulang pada level komunitas lokal, khususnya di Kalimantan Barat yang memiliki dinamika multikultural unik. Literatur lokal memberikan warna tersendiri dalam diskursus mengenai ritual Cap Go Meh. Ikhsan Tanggok . ) menunjukkan adanya keterhubungan erat antara praktik Thatung dan Cap Go Meh dalam masyarakat Hakka di Singkawang, termasuk fungsi spiritual naga. Kepirianto dkk. menyoroti persembahan makanan yang sarat simbol harmoni sosial dan kesejahteraan, sementara Sanjaya, dkk. menekankan pembakaran naga sebagai simbol integrasi sosial sekaligus penolak bala. Juniardi, dkk. bahkan menginterpretasikan naga sebagai simbol penyembuhan spiritual, sedangkan Putra da Wulanda . melihatnya sebagai jembatan identitas antara Tionghoa dan masyarakat lokal. Meskipun memberikan kontribusi penting, sebagian besar penelitian tersebut hadir dalam bentuk skripsi, tesis, atau prosiding lokal dengan keterbatasan akses daring. Hal ini menegaskan adanya kesenjangan penelitian, yakni minimnya kajian akademik yang terpublikasi di jurnal bereputasi mengenai simbolisme dan makna ritual pembakaran naga di Indonesia. Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia Vol. No. Juli-Oktober 2025 . DOI: https://doi. org/10. 62238/jupsi. Selain itu, terdapat pula studi yang memperluas perspektif ke ranah internasional. Swancutt . membahas teater api di China Barat Daya yang erat kaitannya dengan mitologi naga dan simbolisme pengorbanan, sedangkan Suprapto (Suprapto, 2. menyoroti negosiasi identitas Tionghoa di Indonesia melalui simbol-simbol budaya termasuk naga. Dedi (Dedi, 2. Ika Suryono Djunaid dan Febriana Lisanti . turut menguraikan bagaimana ritual naga berfungsi dalam menciptakan koherensi sosial, transformasi mitos, dan harmonisasi budaya. Meski demikian, studi-studi tersebut lebih banyak berfokus pada narasi simbolik dan identitas tanpa secara mendetail menelusuri dimensi praktik ritual pembakaran naga dalam Cap Go Meh di Pontianak, baik dari sisi makna spiritual maupun sosialnya. Dari sinilah penelitian ini memosisikan diri, yaitu menjembatani wacana makro tentang naga sebagai simbol identitas dengan praktik mikro yang berlangsung nyata di masyarakat lokal. Dengan demikian, penelitian ini berangkat dari urgensi untuk mengisi kekosongan literatur akademik mengenai makna simbolik dan sosial dari ritual pembakaran naga pada Festival Cap Go Meh di Pontianak. Studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis bagi kajian budaya Tionghoa di Asia Tenggara, sekaligus menawarkan melestarikan tradisi mereka di tengah arus modernisasi dan pariwisata. Secara khusus, penelitian ini bertujuan: . mengidentifikasi simbolisme dan makna spiritual dalam ritual pembakaran naga, . menganalisis fungsi sosial ritual ini dalam memperkuat kohesi masyarakat multikultural, serta . menelaah tantangan pelestarian tradisi di tengah perubahan sosial. Untuk menjawab tujuan tersebut, penelitian ini merumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut: Apa makna simbolis yang terkandung dalam ritual pembakaran naga pada Festival Cap Go Meh di Pontianak? Bagaimana fungsi ritual ini dalam membangun kohesi sosial masyarakat multietnis? Sejauh mana ritual ini menghadapi tantangan pelestarian di tengah modernisasi dan komodifikasi budaya? Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk memahami secara mendalam simbolisme dan makna ritual pembakaran naga dalam Festival Cap Go Meh di Pontianak. Pendekatan kualitatif dipilih karena topik penelitian ini berkaitan dengan pengalaman, keyakinan, dan makna budaya yang tidak dapat diukur dengan angka, tetapi perlu diinterpretasi melalui perspektif para pelaku dan komunitas yang terlibat. Desain penelitian kualitatif deskriptif memungkinkan peneliti untuk menghasilkan pemahaman yang lebih utuh mengenai hubungan antara praktik ritual, nilai simbolik, serta implikasi sosial-budaya. Pemilihan metode ini sekaligus menegaskan posisi penelitian yang berorientasi pada interpretasi mendalam daripada generalisasi . Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia Vol. No. Juli-Oktober 2025 DOI: https://doi. org/10. 62238/jupsi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui kombinasi wawancara mendalam, observasi partisipan, dan dokumentasi. Wawancara mendalam dilaksanakan dengan tokoh masyarakat Tionghoa, pemimpin agama, panitia penyelenggara festival, serta pelaku ritual seperti pemain naga. Pendekatan semi-terstruktur dipilih agar peneliti tetap memiliki panduan pertanyaan, namun fleksibel dalam menyesuaikan diri dengan narasi dan pengalaman informan. Observasi partisipan dilakukan dengan cara peneliti hadir langsung pada prosesi Cap Go Meh, mencatat jalannya ritual pembakaran naga, interaksi sosial yang muncul, serta simbol-simbol yang ditampilkan. Dokumentasi berupa catatan lapangan, foto, dan rekaman video digunakan untuk melengkapi serta memvalidasi data yang diperoleh dari wawancara dan observasi. Sumber data penelitian ini terdiri atas data primer dan sekunder. Data primer diperoleh langsung dari hasil wawancara dan observasi di lapangan, sedangkan data sekunder berasal dari literatur akademik, artikel jurnal, buku, laporan penelitian, dan arsip lokal yang relevan dengan tema ritual Cap Go Meh dan budaya Tionghoa di Kalimantan Barat. Pemilihan partisipan dilakukan secara purposive, yakni berdasarkan keterlibatan dan kompetensi mereka dalam praktik ritual pembakaran naga. Untuk menjaga keabsahan data, peneliti menggunakan teknik triangulasi sumber dan metode, yaitu membandingkan informasi dari berbagai informan dan melengkapi dengan dokumentasi lapangan. Analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles dan Huberman, yang mencakup tiga tahapan: reduksi data, penyajian data, dan penarikan Proses analisis ini bersifat siklis, dilakukan sejak awal pengumpulan data hingga penyusunan hasil akhir penelitian. Dari sisi etika penelitian, peneliti menjaga kerahasiaan identitas informan dengan tidak menyebutkan nama asli kecuali yang bersifat publik, serta meminta persetujuan partisipan sebelum melakukan wawancara atau dokumentasi. Informan diberikan penjelasan mengenai tujuan penelitian, penggunaan data, serta hak mereka untuk menarik diri kapan pun dari proses wawancara. Pendekatan etis ini penting untuk menjaga kepercayaan antara peneliti dan komunitas, serta memastikan bahwa penelitian berlangsung dengan menghormati nilai budaya dan keyakinan masyarakat setempat. Dengan prosedur ini, penelitian tidak hanya menghasilkan data yang kaya, tetapi juga dilaksanakan dengan tanggung jawab moral terhadap para partisipan dan lingkungan Hasil Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan penting mengenai ritual pembakaran naga dalam Festival Cap Go Meh di Pontianak. Temuan tersebut mencakup empat aspek utama, yakni makna simbolis ritual, fungsi sosialnya bagi kohesi komunitas, perannya dalam pewarisan budaya lintas generasi, serta tantangan yang dihadapi dalam pelestarian tradisi di tengah modernisasi dan komersialisasi. Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia Vol. No. Juli-Oktober 2025 . DOI: https://doi. org/10. 62238/jupsi. Makna Simbolis Ritual Pembakaran Naga Ritual pembakaran naga pada Festival Cap Go Meh di Pontianak diawali dengan upacara pembukaan mata naga, sebuah prosesi yang diyakini masyarakat Tionghoa sebagai momen ketika roh surgawi memasuki replika naga. Proses ini melambangkan transformasi benda mati menjadi simbol hidup yang membawa perlindungan spiritual. Setelah melalui prosesi tersebut, naga diarak berkeliling kota dengan diiringi tabuhan genderang dan sorak-sorai penonton. Arak-arakan ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi dipahami sebagai media penghimpunan energi positif dari berbagai titik kota sekaligus pengusiran energi negatif yang dapat membawa kesialan. Dalam pandangan masyarakat, perjalanan naga melintasi jalan-jalan utama merupakan bentuk penyucian ruang publik yang melibatkan partisipasi kolektif, baik dari pelaku maupun penonton. Gambar 1. Dokumentasi Atraksi Sebelum Pembakaran Naga dan Dokumentasi Proses Pembakaran Naga Pada tahap akhir, naga dibakar di lokasi yang dianggap suci setelah terlebih dahulu menerima persembahan dan doa. Tindakan ini dimaknai sebagai pelepasan roh naga kembali ke alam surgawi serta simbol penghilangan kemalangan yang mungkin telah terkumpul selama arak-arakan berlangsung. Api yang melalap naga tidak dianggap sebagai akhir, melainkan sebagai sarana pembersihan dan pembaruan spiritual bagi Harapan akan keberuntungan, rezeki, dan keharmonisan sosial menjadi inti doa bersama dalam prosesi ini. Dengan demikian, ritual pembakaran naga bukan hanya tindakan simbolis semata, melainkan sebuah praktik sakral yang mengintegrasikan dimensi spiritual, sosial, dan budaya dalam kehidupan komunitas Tionghoa Pontianak. Fungsi Sosial dan Kohesi Komunitas Selain dimensi spiritual, ritual pembakaran naga berfungsi sebagai media memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat multietnis Pontianak. Pelaksanaan ritual ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari tokoh masyarakat, panitia festival, pemain barongsai dan naga, hingga pedagang kaki lima yang mencari rezeki di sekitar lokasi. Interaksi antarindividu dan kelompok selama prosesi berlangsung menunjukkan bahwa Cap Go Meh menjadi ruang perjumpaan sosial yang mempererat solidaritas, baik di . Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia Vol. No. Juli-Oktober 2025 DOI: https://doi. org/10. 62238/jupsi. kalangan internal komunitas Tionghoa maupun dengan masyarakat dari etnis lain. Kehadiran ribuan penonton dari berbagai daerah juga memperlihatkan bagaimana ritual ini membuka ruang interaksi lintas budaya yang memperkaya kehidupan sosial di kota Pontianak. Lebih jauh, partisipasi masyarakat luas menjadikan Cap Go Meh sebagai perayaan yang inklusif. Bagi warga non-Tionghoa, ritual pembakaran naga bukan hanya tontonan budaya, tetapi juga pengalaman kolektif yang menghadirkan rasa kebersamaan dan Dengan demikian, ritual ini memiliki peran strategis dalam membangun citra Pontianak sebagai kota multikultural yang mampu mengelola keragaman etnis dan Fungsi sosial tersebut menegaskan bahwa pembakaran naga bukan hanya tradisi internal komunitas Tionghoa, tetapi juga telah menjadi bagian dari identitas kota yang lebih luas, di mana masyarakat merasa memiliki keterikatan emosional terhadap tradisi Pewarisan Budaya dan Nilai Lintas Generasi Temuan penelitian menunjukkan bahwa ritual pembakaran naga juga berfungsi sebagai wahana pewarisan budaya lintas generasi. Generasi muda Tionghoa terlibat secara aktif dalam berbagai tahapan, mulai dari pembuatan replika naga, persiapan teknis, hingga keterlibatan langsung sebagai pemain dalam arak-arakan. Proses ini menjadi sarana pendidikan non-formal, di mana nilai-nilai budaya, simbolisme naga, serta makna spiritual tradisi diwariskan secara alami. Melalui keterlibatan ini, generasi muda tidak hanya belajar mengenai teknis pelaksanaan, tetapi juga memahami filosofi di balik ritual, yakni sebagai simbol perlindungan, tolak bala, dan doa kolektif bagi kesejahteraan. Selain itu, keterlibatan generasi muda memperlihatkan adanya kesinambungan tradisi di tengah perubahan sosial yang cepat. Meskipun terpapar arus globalisasi dan modernisasi, mereka tetap menunjukkan komitmen dalam menjaga identitas budaya melalui keterlibatan langsung di dalam ritual. Hal ini menegaskan bahwa pembakaran naga bukan hanya perayaan tahunan, tetapi juga instrumen penting dalam menjaga eksistensi budaya Tionghoa di Pontianak. Pewarisan nilai lintas generasi ini sekaligus menjadi upaya strategis komunitas untuk memastikan bahwa makna dan esensi ritual tetap hidup, bukan sekadar bentuk pertunjukan visual yang kehilangan kedalaman Tantangan Pelestarian Tradisi Meskipun ritual pembakaran naga tetap dijalankan dengan khidmat, penelitian ini menemukan adanya tantangan signifikan dalam pelestarian tradisi tersebut. Modernisasi dan pariwisata budaya telah membawa implikasi ambivalen. Di satu sisi, perhatian publik yang besar membantu meningkatkan visibilitas ritual ini, namun di sisi lain, komersialisasi seringkali menggeser makna sakral menjadi sekadar tontonan. Sebagian masyarakat Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia Vol. No. Juli-Oktober 2025 . DOI: https://doi. org/10. 62238/jupsi. memandang ritual ini sebagai atraksi wisata yang menekankan aspek visual semata, sehingga nilai spiritual dan filosofis berisiko terpinggirkan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya penyempitan makna di kalangan generasi muda yang lebih terbiasa melihat tradisi sebagai bagian dari hiburan. Selain itu, pelaksanaan ritual pembakaran naga membutuhkan sumber daya yang besar, baik dari segi finansial maupun tenaga. Pembuatan replika naga memerlukan biaya tinggi dan keterampilan khusus yang tidak dimiliki semua anggota komunitas. Faktor ini sering menjadi beban bagi panitia penyelenggara dan memunculkan ketergantungan pada dukungan eksternal. Tantangan lainnya adalah terbatasnya pemahaman mendalam generasi muda mengenai simbolisme dan filosofi ritual, meskipun partisipasi mereka secara teknis cukup tinggi. Jika tidak segera diatasi, kondisi ini dapat mengancam keberlanjutan tradisi dalam jangka panjang. Oleh karena itu, pelestarian ritual pembakaran naga membutuhkan strategi yang lebih komprehensif, tidak hanya menjaga bentuk luar, tetapi juga memastikan substansi nilai spiritual dan sosial tetap melekat di Pembahasan Ritual menegaskan bahwa naga tidak sekadar objek pertunjukan, melainkan simpul makna simbolik yang multilapis: pelindung, agen pembersihan spiritual, dan medium doa kolektif bagi kesejahteraan komunitas. Temuan ini menunjukkan kesinambungan fungsi simbolis naga yang dibahas pada level makro yakni sebagai ikon identitas kolektif namun juga menambahkan nuansa baru: pada level lokal di Pontianak simbolisme tersebut dimaknai ulang melalui praktik ritual yang sangat terikat pada konteks sosial, tempat, dan waktu pelaksanaan . prosesi buka/tutup mata, persembahan, serta pembakaran sebagai sakralisasi akhi. Dengan demikian penelitian ini mengusulkan bahwa dinamika simbolik naga harus dibaca sebagai hubungan timbal-balik antara narasi identitas yang luas dan praktik ritual-lokal yang mengukuhkan makna tersebut di ranah kehidupan sehari-hari masyarakat (Zhang-czirykovy, 2. Temuan tentang fungsi sosial ritual menguatkan argumen bahwa Cap Go Meh dan praktik terkait . ermasuk Thatung dan atraksi nag. menjadi arena integrasi sosial dan rekonstruksi kohesi lintas-etnis. Data lapangan menunjukkan partisipasi multi-aktor . emuka adat, panitia, pemain, penonton dari beragam etni. yang memproduksi solidaritas dan pemahaman bersamaAisebuah fungsi yang juga dilaporkan dalam kajiankajian antropologis tentang Thatung dan festival Cap Go Meh di kawasan Kalimantan . ang menekankan fungsi tolak-bala, perlindungan, serta penguatan jaringan sosial loka. Selain itu, penempatan Cap Go Meh sebagai atraksi budaya yang menarik wisatawan menegaskan peran ganda festival ini sebagai praktik religius sekaligus ruang publik budaya yang memfasilitasi dialog antarkelompok. Temuan ini menempatkan ritual . Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia Vol. No. Juli-Oktober 2025 DOI: https://doi. org/10. 62238/jupsi. pembakaran naga sebagai praktek sosial yang sekaligus memproduksi modal sosial dan representasi kota multikultural (Basith et al. , 2. Analisis terhadap pewarisan nilai lintas generasi menunjukkan adanya strategi komunitas untuk merawat substansi ritual melalui keterlibatan langsung generasi mudaAibaik dalam produksi material . embuatan nag. , pembelajaran teknis, maupun transmisi lisan makna ritual. Fenomena ini sejalan dengan proses AuheritagisationAy yang dideskripsikan pada studi terapan tentang tarian naga/api di kawasan lain, di mana elemen ritual yang dulunya cair kini semakin dimediasi oleh upaya formal pelestarian, sertifikasi ICH, dan program komunitas yang menegakkan praktik sebagai warisan yang harus dilindungi. Kesamaan pola ini menegaskan bahwa upaya pelestarian lokal di Pontianak tidak hanya bergantung pada bentuk visual tradisi, melainkan juga pada mekanisme pendidikan budaya dan institutional support yang mampu menangkal erosi makna akibat perubahan sosial. Temuan ini menempatkan pelibatan generasi muda sebagai kunci kelestarianAibukan sekadar reproduksi teknis tetapi internalisasi nilai simbolis ritual (Chung & Barber, 2. Namun penelitian ini juga mengidentifikasi ketegangan struktural antara pelestarian nilai ritual dan tekanan komersialisasi/pariwisataAisuatu problem yang konsisten dengan kajian tentang intangible cultural heritage (ICH) dalam konteks Komodifikasi festival cenderung menggeser fokus ke aspek spektakuler dan ekonomis sehingga risiko penipisan makna sakral meningkat. pada saat yang sama kebutuhan sumber daya . iaya pembuatan naga, logistik, izi. menimbulkan ketergantungan pada sponsor atau intervensi publik yang bisa mengubah tata kelola Dari perspektif kebijakan budaya, temuan ini menggarisbawahi pentingnya strategi manajemen budaya yang berorientasi keberlanjutan: yaitu kebijakan yang menjamin dukungan finansial tanpa mereduksi makna ritual, program pendidikan budaya untuk generasi muda, serta model pengelolaan pariwisata yang partisipatif dan berbasis komunitas. Pendekatan semacam ini sesuai dengan rekomendasi penelitian ICH yang menekankan perimbangan antara konservasi nilai dan pemanfaatan ekonomi (Qiu et al. , 2. Secara kontribusi, studi ini mengisi kekosongan empiris dengan menyediakan analisis mikro tentang bagaimana simbolisme naga diwujudkan dan dipertahankan di tingkat komunitasAimenghubungkan diskursus makro-identitas dengan praktik rituallokalAisehingga menawarkan model analitis untuk studi festival etnis lain. Namun penelitian ini memiliki keterbatasan: fokus lapangan terbatas pada satu lokasi (Pontiana. dan pada satu periode perayaan sehingga generalisasi temporal dan geografis perlu kehati-hatian. akses terbatas terhadap beberapa arsip dan publikasi lokal juga membatasi kedalaman kajian historis. Sebagai saran, riset lanjutan dapat menggunakan desain komparatif lintas-kota . Singkawang. Pontianak, daerah diaspora lainny. , mengadopsi pendekatan mixed-methods dengan survei kuantitatif untuk mengukur Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia Vol. No. Juli-Oktober 2025 . DOI: https://doi. org/10. 62238/jupsi. persepsi publik, serta studi longitudinal untuk memantau evolusi makna ritual seiring intervensi pariwisata dan kebijakan ICH. Untuk praktik, dianjurkan pengembangan program edukasi budaya berbasis komunitas, pembentukan mekanisme pembiayaan berkelanjutan yang menjaga otonomi budaya, dan kebijakan pariwisata yang menghargai aspek sakral serta partisipasi lokal secara sejati. Kesimpulan Penelitian ini menyimpulkan bahwa ritual pembakaran naga dalam Festival Cap Go Meh di Pontianak tidak hanya bermakna simbolis sebagai sarana penyucian, perlindungan, dan doa kolektif, tetapi juga berfungsi memperkuat kohesi sosial serta menjadi wahana pewarisan budaya lintas generasi yang penting bagi komunitas Tionghoa dan masyarakat multietnis di Pontianak. Temuan ini sekaligus menjawab tujuan penelitian dengan menegaskan bahwa ritual tidak berhenti pada aspek religius, melainkan juga berperan strategis dalam menjaga identitas budaya dan solidaritas sosial di tengah arus modernisasi dan komodifikasi pariwisata. Kontribusi penelitian terletak pada pengayaan literatur akademik tentang budaya lokal Indonesia yang masih terbatas, serta menawarkan pemahaman baru mengenai hubungan antara simbolisme, praktik Secara merekomendasikan perlunya kebijakan pelestarian budaya yang berpihak pada komunitas dan tidak semata-mata berorientasi wisata, peningkatan keterlibatan generasi muda melalui pendidikan budaya yang menekankan pemahaman filosofis, serta pengelolaan festival berbasis komunitas agar nilai sakral tetap terjaga. Untuk penelitian selanjutnya, studi komparatif lintas kota dan kajian longitudinal disarankan guna memantau transformasi makna ritual dan implikasinya bagi identitas budaya serta kohesi sosial dalam jangka panjang. Daftar Pustaka