Kawulo Journal for Community Development Vol. 1 No. DOI:10. Pembentukan Karakter Islami Peserta Didik Melalui Pembiasaan Ubudiyah Dan Akhlakul Karimah Di MI MaAoarif NU Banteran Muhammad Fatihul Ikhsan1. Andin Prasasti2. Aulia Nur Khasanah3. Bayu Aji Dwi Pangesthu4. Fina Milatussyarifah5. Amalia Mutrofin6. Laily Liddini7 1,2,3,4,5,6,7 Universitas Islam Negeri Prof. KH. Saifuddin Zuhri Purwokerto E-mail : andinprasasti01@gmail. Abstract This study aims to analyze the process of Islamic character formation in students through the habit of ubudiyah and akhlakul karimah at MI Ma'arif NU Banteran. The background of this study is based on the importance of character education at the elementary level amidst the challenges of the digital era that have the potential to shift moral and religious values. The study used a qualitative approach with a field research type. Data were obtained through observation, in-depth interviews with the madrasah principal, teachers, and students, as well as documentation of the madrasah activity The results of the study indicate that Islamic character formation is implemented systematically through the habit of ubudiyah program, such as congregational dhuha prayer, recitation of Asmaul Husana, regular mujahadah every Friday, and memorization of Juz 30. addition, the habit of akhlakul karimah is implemented through strengthening morals towards Allah SWT, teachers, fellow friends, and the school environment, which is manifested in the 3S culture (Smile. Greet. Greetin. , discipline, mutual respect, and responsibility for maintaining cleanliness and madrasah facilities. The role of teachers as good role models is a crucial factor in internalizing these values. This study concludes that consistent and integrated habituation into daily madrasah activities is effective in developing religious character, discipline, and noble morals in students, thus creating a balance between faith, knowledge, and good deeds. Keywords: character education, habituation of ubudiyah. Islamic character,noble character Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pembentukan karakter Islami peserta didik melalui pembiasaan ubudiyah dan akhlakul karimah di MI MaAoarif NU Banteran. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya pendidikan karakter pada jenjang dasar di tengah tantangan era digital yang berpotensi menggeser nilai-nilai moral dan religius. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan . ield researc. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam dengan kepala madrasah, guru, dan peserta didik, serta dokumentasi program kegiatan madrasah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan karakter Islami dilaksanakan secara sistematis melalui program pembiasaan ubudiyah, seperti shalat dhuha berjamaah, pembacaan Asmaul Husna, mujahadah rutin setiap Jumat, dan hafalan Juz 30. Selain itu, pembiasaan akhlakul karimah diterapkan melalui penguatan akhlak terhadap Allah SWT, guru, sesama teman, dan lingkungan sekolah, yang diwujudkan dalam budaya 3S (Senyum. Sapa. Sala. , kedisiplinan, sikap saling menghormati, serta tanggung jawab menjaga kebersihan dan fasilitas madrasah. Peran guru sebagai uswah hasanah menjadi faktor penting dalam internalisasi nilai-nilai tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembiasaan yang dilakukan secara konsisten dan terintegrasi dalam kegiatan harian madrasah efektif dalam membentuk karakter Kawulo: Journal for Community Development Vol. 1 No. religius, disiplin, dan berakhlakul karimah pada peserta didik, sehingga tercipta keseimbangan antara iman, ilmu, dan amal. Kata kunci: Akhlakul karimah. Karakter Islami. Pembiasaan Ubudiyah. Pendidikan Karakter. PENDAHULUAN Pendidikan mengembangkan karakter. Di sini, karakter yang dikembangkan mencakup pembentukan moral, keyakinan, dan etika yang tertanam dalam diri individu. Hal ini berasal dari pola pikir dan tindakan mereka, yang pada gilirannya menghasilkan ciri khas dalam diri masingmasing (Maunah, 2. Pada jenjang ini, nilai-nilai keimanan, sikap, dan perilaku mulai ditanamkan secara sistematis sebagai bekal peserta didik dalam menghadapi perkembangan kehidupan selanjutnya. Namun demikian, era digital menghadirkan tantangan baru bagi pendidikan karakter, di mana nilai-nilai karakter seperti kedisiplinan, kerja sama, dan rasa hormat sering kali terpinggirkan oleh budaya instan dan individualisme yang disebarluaskan oleh teknologi. Hal itu penting bagi pendidik, orang tua, dan masyarakat untuk mengambil peran aktif dalam menanamkan nilai-nilai moral dan karakter di tengah perubahan yang cepat ini (Hidayat & Subando, 2. Dengan demikian diperlukan upaya pendidikan yang mampu mengintegrasikan aspek pengetahuan, penghayatan, dan pengamalan nilai-nilai keislaman. Madrasah Ibtidaiyah (MI) sebagai lembaga pendidikan Islam memiliki peran penting dalam mengimplementasikan pendidikan karakter Islami yang mengintegrasikan nilai keimanan, ibadah, dan akhlak secara seimbang. MI MaAoarif NU Banteran merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang berada dalam tradisi pendidikan Nahdlatul Ulama, yang menekankan keseimbangan antara iman, ilmu, dan amal. Tradisi ini tercermin dalam berbagai program pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter religius peserta didik. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui pembiasaan ubudiyah sebagai media internalisasi iman, seperti pelaksanaan shalat dhuha berjamaah, doa harian, tahfidz juz amma dan berbagai aktivitas ibadah lainnya yang dilakukan secara rutin dan Pembiasaan tersebut sejalan dengan konsep habit formation dalam pendidikan Islam, yang menekankan pentingnya pembentukan kebiasaan baik sebagai sarana penanaman nilai keimanan. Selain pembiasaan ubudiyah, pembiasaan akhlakul karimah juga menjadi bagian Kawulo: Journal for Community Development Vol. 1 No. penting dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. Akhlak dipandang sebagai manifestasi iman yang tercermin dalam perilaku sosial, baik dalam hubungan dengan guru, sesama peserta didik, maupun lingkungan sekitar. Nilai-nilai seperti disiplin, sopan santun, tanggung jawab, dan kepedulian sosial ditanamkan melalui keteladanan dan pembiasaan yang berkelanjutan dalam aktivitas madrasah. Meskipun banyak penelitian telah membahas pendidikan karakter Islami di era digital, sebagian besar masih berfokus pada konsep teoritis, manajemen sekolah, atau implementasi kurikulum secara umum. Misalnya, (Yanto, 2. menganalisis manajemen kepala madrasah ibtidaiyah dalam menumbuhkan pendidikan karakter religius pada era digital, dengan penekanan pada perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi oleh kepala sekolah untuk menghadapi pengaruh teknologi terhadap perilaku siswa. Penelitian ini lebih berorientasi pada aspek kepemimpinan dan kebijakan umum, bukan pada praktik empiris pembiasaan ubudiyah dan akhlakul karimah secara rutin. Selain itu, (Fatin, 2. mendeskripsikan implementasi Kurikulum Merdeka di MI Ma'arif NU Banteran Sumbang Banyumas, yang mencakup proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum tersebut dalam konteks madrasah berbasis Nahdlatul Ulama, termasuk penyesuaian dengan kebutuhan peserta didik dan visi madrasah. Studi ini efektif menggambarkan adaptasi Kurikulum Merdeka di lokasi yang sama dengan penelitian ini, tetapi kurang mengeksplorasi secara mendalam bagaimana pembiasaan ubudiyah . eperti shalat dhuha berjamaah, tahfidz juz amma, doa haria. dan akhlakul karimah berfungsi sebagai strategi penguatan karakter Islami siswa di tengah tantangan era digital seperti paparan konten negatif, cyberbullying, atau kecanduan gadget. Penelitian empiris yang secara khusus mengkaji integrasi pembiasaan ubudiyah dan akhlakul karimah sebagai strategi penguatan karakter Islami siswa MI di tengah tantangan era digital terutama di madrasah berbasis tradisi Nahdlatul Ulama di wilayah pedesaan Jawa Tengah seperti MI MaAoarif NU Banteran masih relatif terbatas. Kesenjangan ini mencakup minimnya deskripsi proses implementasi lapangan, kontribusi langsung terhadap iman dan perilaku siswa menghadapi paparan digital, serta strategi penguatan di konteks lokal yang Oleh Karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pembentukan karakter Islami siswa di MI MaAoarif NU Banteran, mengkaji implementasi pembiasaan ubudiyah, serta mengkaji implementasi pembiasaan akhlakul karimah yang diterapkan di madrasah tersebut. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi empiris dalam Kawulo: Journal for Community Development Vol. 1 No. pengembangan model pendidikan karakter Islami yang adaptif terhadap dinamika era digital, khususnya pada lembaga pendidikan dasar berbasis Islam. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian field research . enelitian lapanga. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam proses pembiasaan kompetensi ubudiyah dan akhlakul karimah dalam pembentukan karakter Islami peserta didik di MI MaAoarif NU Banteran, bukan untuk mengukur dalam bentuk angka, melainkan menggambarkan fenomena yang terjadi secara alami di lingkungan sekolah. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh secara langsung dari lapangan melalui wawancara dengan kepala madrasah, guru, dan peserta didik serta dokumen madrasah, seperti tata tertib sekolah, jadwal kegiatan keagamaan, buku panduan, serta arsip kegiatan madrasah. Selain itu, data sekunder diperoleh dari literatur ilmiah, jurnal penelitian terdahulu, dan buku-buku referensi yang berkaitan dengan penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, wawancara, dan Observasi dilakukan untuk mengamati secara langsung pelaksanaan pembiasaan ibadah dan akhlak di lingkungan madrasah. Wawancara dilakukan secara mendalam kepada kepala madrasah, guru dan peserta didik untuk memperoleh informasi mengenai tujuan, pelaksanaan, serta dampak dari pembiasaan tersebut. Dokumentasi digunakan untuk melengkapi data berupa foto kegiatan, jadwal rutin ibadah, serta dokumen pendukung lainnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Pembentukan karakter islami di MI MAAoARIF NU Banteran diimplementasikan melalui dua program pembiasaan yang terintregasi dalam kegiatan harian madrasah. Pertama, program pembiasaan ubudiyah yang mencakup shalat duha berjamaah, pembacaan asmaul husna sebelum belajar, mujahadah setiap jumAoat, serta hafalan juz 30 pada mata pelajaran Tahfidz. Kedua, program pembiasaan akhlakul karimah yang mencakup akhlak kepada Allah melalui praktik ibadah rutin, akhlak kepada guru melalui budaya 3S (Senyum. Sapa. Sala. dan kepatuhan terhadap nasihat guru, akhlak kepada sesama teman melalui sikap toleran dan larangan perundungan, serta akhlak terhadap lingkungan melalui program piket kelas dan perawatan fasilitas sekolah. Keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh peran guru sebagai uswah hasanah yang memberikan keteladan nyata dalam perilaku sehari-hari Kawulo: Journal for Community Development Vol. 1 No. Pembentukan Karakter Islami Siswa di MI MaAoarif NU Banteran Pembentukan karakter Islami siswa di Madrasah Ibtidaiyah (MI) MaAoarif NU Banteran merupakan upaya sistematis yang terintegrasi dalam kegiatan harian madrasah. Pendekatan ini menekankan program ibadah . , penanaman akhlakul karimah, serta peran guru sebagai teladan utama. Pembentukan karakter religius yang identik dengan karakter Islami dilakukan melalui serangkaian strategi terstruktur guna membentuk pribadi siswa yang beriman, bertakwa, dan berakhlakul karimah sesuai ajaran Islam. Secara spesifik, program pembentukan karakter Islami di MI MaAoarif NU Banteran meliputi: Program Ubudiyah dan Penanaman Akhlakul Karimah Pembentukkan karakter Islami melalui program pembiasaan di MI MaAoarif NU Banteran dapat memperkuat dimensi spiritual dan akhlak siswa. Madrasah ini memiliki program pembiasaan melalui hafalan juz 30, membaca asmaul husna sebelum pembelajaran, serta pelaksanaan shalat duha secara berjamaah. Dalam melaksanakan secara konsisten, bertujuan agar ibadah tidak hanya sebagai rutinitas formal. Tetapi, juga dapat membentuk disiplin batin dan karakter religius yang melekat pada diri siswa sejak dini. Selain pembiasaan ibadah, penanaman nilai akhlakul karimah dilakukan melalui keteladanan dan bimbingan langsung oleh guru yang dapat memberikan pemahaman nasihat, pembinaan perilaku mulia, dan nilai-nilai islami dalam keseharian. Penanaman budaya 3S (Senyum. Sapa. Sala. , sikap hormat dan taat kepada guru, serta penekanan pada adab berbicara yang baik merupakan fokus utama dalam pembinaan ini. Penguatan nilai-nilai sosial dan empati merupakan fondasi utama untuk mencegah perilaku Program piket kelas dan perawatan fasilitas sekolah dapat mengasah tanggung jawab sosial siswa, yang secara kolektif dapat membentuk karakter siswa yang tidak hanya religius, tetapi juga santun, humanis, dan peduli lingkungan sesuai dengan prinsip ajaran islam. Peran Aktif Guru dan Penguatan Kurikulum Peran guru menjadi faktor dalam keberhasilan program ini. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai uswah hasanah . eladan yang bai. Guru secara nyata dapat menunjukkan perilaku islami dalam berpakaian, berinteraksi, dan beribadah, sehingga siswa dapat menirunya. Keteladanan ini diperkuat dengan bimbingan dan nasihat oleh para guru dan kepala madrasah, terutama dalam praktik ibadah seperti shalat duha yang dilakukan secara berjamaah. Kawulo: Journal for Community Development Vol. 1 No. Pendekatan ini selaras dengan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), yang menekankan tiga pilar cinta yaitu cinta kepada Allah dan Rasul, cinta diri dan sesama, dan cinta ilmu. Implementasi KBC melengkapi program pembiasaan ibadah dan akhlak, sehingga pendidikan karakter berjalan secara holistik. Pembentukan karakter islami di MI MAAoARIF NU BANTERAN terjadi melalui sinergi antara pembelajaran formal, keteladanan nyata dari para guru, serta pembiasaan kokurikuler yang terstruktur. Pendekatan ini terbukti efektif dalam membentuk generasi yang kuat akan spiritual dan berakhlak mulia. Pembiasaan Ubudiyah Di Mi MaAoarif Nu Banteran Pembiasaan merupakan kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan seperti bersikap, berperilaku, dan berpikir sesuai dengan tujuan tertentu (Anggraeni et al. , 2. Di Mi MaAoarif NU Banteran guru dan siswa melakukan pembiasaan untuk melaksanakan shalat sunnah duha, membaca asmaul husna sebelum belajar, melakukan mujahadah dihari jumAoat setiap minggu pertama, dan pembiasaan hafalan juz 30 di mata pelajaran tahfidz dan dilakukan dengan bersungguh-sungguh. Sehingga, dapat menciptakan pembiasaan ubudiyah yang baik. Maksud dari ubudiyah yaitu menjalankan perintah Allah swt dengan melaksanakan ibadah secara tanggungjawab (Suwari, 2. Jadi, dalam hal ini ibadah dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan tidak ada paksaan oleh siapapun dan tidak merasakan keberatan dalam menjalankannya. Bentukbentuk kegiatan ubudiyah di Mi MaAoarif Nu Banteran yaitu: Shalat Sunnah Duha Shalat sunnah duha merupakan shalat sunnah yang dilakukan ketika waktu duha, waktu duha yaitu pada saat pagi hari ketika matahari sedang naik (Al-Baijury, 2. Shalat sunnah duha di Mi MaAoarif NU Banteran sudah dilaksanakan secara rutin baik oleh siswa maupun guru. Kegiatan shalat duha ini dapat melatih siswa untuk melaksanakannya dengan senang hati, sehingga dapat memunculkan reflek untuk melakukannya setiap hari tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Kegiatan shalat sunnah duha ini, dilaksanakan oleh kelas atas dan kelas bawah. Kelas atas mulai dari kelas 4 hingga kelas 6. Sedangkan, kelas bawah mulai dari kelas 1 sampai kelas 2, untuk kelas atas dari kelas 4 sampai kelas 6 dilaksanakan setiap hari, dan untuk kelas bawah yaitu kelas 1 dilaksanakan pada hari selasa dan kelas 2 dilaksanakan pada hari kamis. Shalat sunnah duha yang dilaksanakan kelas bawah bertujuan untuk melatih doa sholat dan untuk mengantisipasi bahwa ketika memasuki kelas atas siswa dapat fasih dalam membaca doa shalat. Yang membedakan shalat sunnah duha kelas atas dan kelas bawah yaitu kelas atas dilaksanakan secara mandiri, sedangkan kelas bawah Kawulo: Journal for Community Development Vol. 1 No. dilaksanakan secara bersama-sama dan dalam melaksanakannya menggunakan bacaan sholat dengan suara jahr/keras, karena bertujuan agar siswa kelas bawah dapat mengerti, memahami, dan melafalkan bacaan sholat dengan baik dan benar. Oleh karena itu, menanamkan pentingnya pembiasaan sholat sunnah duha kepada siswa. Gambar 1 : Kegiatan pelaksanaan sholat dhuha di Di Mi MaAoarif NU Banteran Membaca Asmaul Husna Sebelum Belajar Asmaul husna ialah nama-nama Allah yang baik. Menurut M. Ali Chasan Umar pengertian asmaul husna adalah nama-nama Allah yang terbaik dan yang agung yang berjumlah 99 (Nenden & Ijudin, 2. Membaca asmaul husna sebelum belajar telah menjadi kebiasaan di sekolah Mi MaAoarif NU Banteran. Membaca asmaul husna sebelum belajar memiliki banyak manfaat seperti mendapat ketenangan hati yang dapat menumbuhkan konsentrasi siswa dalam belajar, memperoleh ketentraman batin, dan menjadikan hati yang yakin dan mantap untuk memulai kegiatan pembelajaran seperti melatih kedisiplinan (Adi Rahman, 2. Kegiatan membaca asmaul husna sebelum belajar telah menjadi kebiasaan di Mi MaAoarif NU Banteran. Pembiasaan seperti ini biasanya dilakukan di sekolah-sekolah yang memiliki background islam seperti yang ada di Mi MaAoarif NU Banteran. Kawulo: Journal for Community Development Vol. 1 No. Gambar 2 : Membaca Asmaul Husna Sebelum Belajar Mujahadah di Hari JumAoat Menurut bahasa mujahadah berasal dari kata jahadah yang satu rumpun dengan ijtihada berusaha keras dengan kesungguhan hati agar tercapai tujuannya (Kirana & Haq, 2. Secara umum mujahadah berarti jihad yang memiliki arti berjuang atau berusaha. Menurut Wahidiyah mujahadah memiliki arti bersungguh-sungguh memerangi dan menundukan hawa nafsu untuk diarahkan kepada kesadaran AuFafirruu ilallaah warasuulihi shalallahuAoalaihi wassalamAy yang artinya larilah dan kembali kepada Allah dan Rasulullah (Khoirunisa, 2. Jadi, mujahadah adalah upaya seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah. Pembiasaan mujahadah kini sudah melekat di Mi MaAoarif NU Banteran, pembiasaan ini dilakukan setiap hari jumAoat. Hari jumAoat minggu pertama biasanya dilakukan secara bersama-sama di kampus satu, dan selain hari jumAoat pada minggu pertama siswa melakukan pembiasaan mujahadah di kelas dengan didampingi oleh wali kelasnya masing-masing. Alasan pembiasaan mujahadah satu bulan sekali dikarenakan keterbatasan tempat dan waktu. Kepala madrasah mengatakan bahwa kegiatan mujahadah itu dilaksanakan setiap hari jumAoat, minggu pertama dilaksanakan secara bersama-sama di halaman kampus 1, dan minggu berikutnya dilakukan di kelas-kelas. Menurutnya kegiatan mujahadah itu tujuannya agar anak-anak terbiasa mengucapkan kalimat tayibah, untuk menanamkan ketergantungan kepada sang pencipta dalam arti kita tidak bisa hidup tanpa doa, disetiap saat kita itu butuh doa. Doa yang baik itu menyebutkan asmaul husna, menyebut asmaul husna terlebih dahulu lalu berdoa (Susneti, 2. Amalan-amalan dalam mujahadah yaitu doa, dzikir, asmaul husna, dan solawat. Adapun manfaat dalam bermujahadah seperti memperoleh keberuntungan, memperoleh kesadaran, orang yang bermujahadah mendapat ketentraman hati dan pikirannya, mendapatkan keberkahan hidup, dan mendapatkan kelapngan dada (Malia, 2. Mujahadah merupakan perjuangan dengan sungguh-sungguh untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Oleh karena Kawulo: Journal for Community Development Vol. 1 No. itu, sebagai umat muslim harus senantiasa bersabar dan bersungguh- sungguh untuk mendapatkan ridho Allah swt. Gambar 3: Pelaksanaan Mujahadah di Hari JumAoat Hafalan Juz 30 di Mata Pelajaran Tahfidz Hafalan juz 30 merupakan salah satu mata pelajaran Tahfidz yang ada di Mi MaAoarif NU Banteran. Madrasah Ibtidaiyah merupakan dasar pondasi untuk anak-anak dapat membentuk Dengan latar belakang sekolah Islami Mi MaAoarif NU Banteran memiliki mata pelajaran tahfidz, yang pada akhirnya mampu untuk meluluskan para siswa yang memiliki hafalan juz 30. Adapun metode yang dapat diterapkan dalam pembiasaan menghafal juz 30 yaitu metode bin Nazhar . embaca secara teliti ayat al- qurAoa. , metode tahfizh . enghafalkan satu ayat demi ayat al-qurAoan yang telah dibaca berulang-ulan. , metode talaqqi . endengarkan hafalan yang baru dihafal kepada seorang guru atau biasa diebut setora. , metode takrir . engulang-ulang hafalan, baik membuat hafalan baru atau hafalan lam. , dan metode tasmi . emdengarkan bacaan al-qurAoa. (Chahnia et al. , 2. Setiap pendidik memiliki metode halafan yang berbeda-beda ada yang menggunakan metode bin nazhar, tahfizh, talaqqi, takrir, maupun metode tasmi. Dalam mendampingi siswa dalam menghafal juz 30 tentunya tidak mudah, maka sebagai pendidik tentunya harus memiliki keterampilan, ulet, dan memiliki kesabaran yang penuh. Yang menjadi hambatan dalam proses menghafal ini tentunya ada beberapa siswa yang mudah bosan, maka dari itu seorang pendidik benar-benar sabar dan ulet. Oleh karena itu, sebagai pendidik bisa menyesuaikan metodemetode yang akan diterapkan kepada siswa. Kawulo: Journal for Community Development Vol. 1 No. Gambar 4: Pelaksanaan Hafalan Juz 30 di Mata Pelajaran Tahfidz Pembiasaan Akhlakul Karimah dalam Kehidupan Peserta Didik Pembiasaan Akhlak terhadap Allah SWT MI MaAoarif NU Banteran mengimplementasikan akhlakul karimah dengan dimulai dari pembiasaan ibadah harian yang bertujuan untuk mendekatkan siswa pada Allah SWT. Pembiasaan seperti sholat Dhuha, pembacaan Asmaul Husna sebelum memulai pelajaran, istighozah setiap hari JumAoat, dan tahfiz menghafal Al-QurAoan juz 30, merupakan sarana untuk melatih kedisiplinan spiritual peserta didik sejak dini. Melalui wawancara dengan Sartim selaku guru mata pelajaran Akidah Akhlak, ia menjelaskan bahwa dengan kegiatan ini, siswa dilatih untuk menghargai waktu, ketaatan, dan merubah maidset mereka bahwa ibadah itu bukan hanya kewajiban saja namun juga sebagai implementasi rasa cintanya kepada Tuhan (Sartim, 2. Dan menurut pandangan Al-Ghazali dalam bukunya yang berjudul Minjahul Abidin, ibadah berjamaah seperti ini dapat memperkuat rasa persaudaraan dan ketakwaan (Elvianda & Holid, 2025. Membaca doa sebelum dan sesudah pelajaran di sekolah ini juga dilakukan secara rutin setiap harinya agar siswa selalu mengingat kehadiran Tuhan di setiap kegiatan mereka. pembiasaan ini bikin anak lebih fokus dan bersyukur, serta mengurangi ketergantungan dari hal-hal duniawi. Penulis berfikir bahwa hal ini juga membantu mereka untuk mengintegrasikan nilai-nilai ubudiyah ke dalam rutinitas belajar mereka sehari-hari. Hal ini pula disingging dalam Jurnal Ilmiah Pendidikan yang ditulis oleh (Sobihah, 2. , bahwa doa rutin setiap hari dapat meningkatkan motivasi siswa di sekolah berbasis agama. Kawulo: Journal for Community Development Vol. 1 No. Selanjutnya di MI MaAoarif NU Banteran ini juga rutin dilakukan pembacaan Asmaul Husna atau tahfiz juz 30 di pagi hari sebelum memulai pelajaran, di mana peserta didik bukan hanya sekedar menghafal saja namun juga diajak untuk merenung tentang sifat- sifat Allah SWT. Rutinitas ini merupakan salah satu implementasi dari mata pelajaran Akidah Akhlak yang dipraktikkan secara langsung dalam keseharian siswa. Berdasarkan hasil wawancara dengan Pamela selaku wali kelas II A, ditekankan bahwa program tahfiz Juz 30 memiliki orientasi jangka panjang bagi perkembangan karakter siswa. Guru memberikan pemahaman kepada peserta didik bahwa menghafal surat-surat pendek tidak hanya berdimensi pahala, tetapi juga berfungsi sebagai pondasi diri yang memberikan manfaat luas di lingkungan sosial. Meskipun manfaat tersebut mungkin belum dirasakan secara instan oleh siswa di usia dasar, pembiasaan ini dipersiapkan sebagai bekal spiritual dan etika yang akan sangat berguna saat mereka dewasa nanti. Pembiasaan Akhlak Terhadap Guru Ahlak terhadap guru dan teman yaitu senyum, sapa, dan salam atau tiga S juga menjadi kebiasaan sederhana namun efektif di MI MaAoarif NU Banteran, yang membuat hubungan antara guru dengan murid menjadi lebih memiliki ikatan emosional. Siswa diajari dan diberikan contoh langsung untuk menyapa dengan hormat, sopan,dan santun yang merupakan etika dasar yang di zaman sekarang ini hal ini sering dilupakan. Penelitian yang dilakukan oleh (Fanani & MaAoarif, n. ) dalam jurnal yang berjudul implementasi program standar kecakapan ubudiyah dan akhlaqul karimah dijelaskan bahwa kebiasaan seperti senyum, sapa, salam dapat meningkatkan rasa hormat dan mengurangi konflik dengan sesama. Taat terhadap nasihat guru merupakan hal lain yang ditekankan di MI ini, di mana peserta didik belajar untuk mendengarkan guru tanpa banyak membantah. Kebiasaan ini dapat membentuk karakter siswa yang patuh namun tetap bisa menyampaikan pendapatnya dengan bahasa yang baik dan sopan. Hal ini sangat penting untuk generasi muda yang banyak terpengaruh oleh majunya teknologi digital saat ini. Di sini peran pendidikan sebagai stimulan atau pembantu yang diperlukan untuk menciptakan generasi muda yang memiliki akhlak yang Selain itu, adab berbicara dan meminta izin juga sudah menjadi kebiasaan siswa MI MaAoarif NU Banteran seperti siswa yang hendak keluar kelas selalu meminta izin kepada gurunya terlebih dahulu. Kebiasaan ini menjadikan siswa lebih bertanggung jawab dengan kata-kata mereka. sehingga, lingkungan belajar lebih kondusif dan saling menghargai antara Kawulo: Journal for Community Development Vol. 1 No. siswa dan guru. Di sini adab sangat ditekankan dan efektif dalam pembentukan karakter islami di madrasah ibtidaiyah. Pembiasaan Akhlak terhadap Sesama Teman Saling menghormati teman juga diterapkan melalui aturan sederhana untuk tidak memanggil temannya dengan nama orang tua, atau dengan nama yang buruk. Sehingga peserta didik juga merasa aman dan diterima di sekolah ini. Dalam beberapa kali kesempatan saat upacara, guru juga sering mengingatkan saat amanat yang disampaikan oleh pembina upacara bahwa tidak boleh memanggil teman dengan nama orang tuanya. Hal ini dilakukan untuk mencegah bullying yang berpengaruh negatif sejak dini, yang sering menjadi masalah umum di sekolah dasar termasuk MI MaAoarif NU Banteran karena para siswa berasal dari kalangan yang Dalam buku Psikolog Pendidikan Islami yang ditulis oleh (Kurniawan, n. ), bahwa menghormati teman dapat membangun empati yang rooted dari ajaran Islam. Kerja sama dan tolong menolong di MI ini juga dapat dilihat saat kegiatan berkelompok, di mana siswa dibagi menjadi beberapa kelompok tanpa rasa iri. Ini mengajarkan nilai gotong royong yang Islami sebagai pembentukan karakter sosial yang kuat. Sehingga hubungan dengan teman dan sesama menjadi solid dan penuh keharmonisan, untuk menyiapkan generasi muda yang lebih humanis. Larangan mengejek atau berkelahi atau perundungan juga sangat ditegakkan di sini dengan nasihat dan pengingat yang lembut, bukan dengan menghukun yang berat. Pendekatan ini membantu siswa untuk dapat mengelola emosinya dan memilih menggunakan kata-kata yang baik untuk bertindak dan berucap. Guru juga memilih hukuman untuk siswa yang bermasalah dengan memerintahkan siswanya untuk menulisakan suratan pendek pada juz 30, dan lain-lain, seperti berdasarkan hasil wawancara dengan Pamela selaku wali kelas II A, terungkap bahwa strategi penanganan siswa yang belum menunjukkan perubahan perilaku dilakukan melalui pendekatan kolaboratif dengan orang tua. Guru menekankan bahwa durasi waktu siswa di rumah lebih dominan, sehingga sinergi dengan wali murid menjadi kunci utama. Apabila langkah persuasif awal tidak memberikan hasil, guru memberikan sanksi edukatif yang bersifat religius, seperti instruksi menulis surat-surat pendek dalam Al-Qur'an atau membaca istighfar secara berulang. Pendekatan ini bertujuan agar sanksi yang diberikan tetap bernilai ibadah dan tidak membebani mental siswa secara negatif. Pembiasaan Akhlak terhadap Lingkungan Akhlak terhadap lingkungan juga mulai dijaga seperti kebersihan kelas dan seluruh area sekolah secara bersama. Siswa diajarkan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman, seperti Kawulo: Journal for Community Development Vol. 1 No. rutin mengambil sampah sebelum dilaksanakannya upacara bendera pada hari Senin. Seperti yang dijelaskan dalam (Putra, n. ) yang menekankan bahwa pembiasaan kebersihan dapat membentuk karakter ekologis berbasis Islam. Selain itu program piket kelas yang dilakukan secara rutin setiap hari untuk membersihkan fasilitas ruang kelas ini mengajarkan kedisiplinan dan tanggung jawab kolektif. Peserta didik belajar bahwa sekolah merupakan rumah kedua mereka yang harus dijaga baik kebersihannya maupun fasilitasnya secara bersama-sama. Hal ini dapat mencegah kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh kurangnya perhatian. Terakhir yaitu merawat fasilitas sekolah, seperti tidak mencoret tembok, meja, maupun buku-buku yang berada dalam area sekolah dengan diawasi oleh guru. Siswa juga sangat antusias saat dibuka kembali perpustakaan baca, saat jam istirahat mereka bersama-sama untuk mengisi waktu luang dengan membaca buku di perpustakaan dan menjaga untuk tetap rapih dalam mengembalikan buku. Kebiasaan ini perlahan akan menumbuhkan rasa syukur dan rasa memiliki terhadap lingkungan sekolah. Hal ini mendorong generasi muda untuk lebih peduli dan bertanggung jawab pada alam sekitar. Seperti yang dijelaskan dalam jurnal Jurnal Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah karya (Laili et al. , n. ) yang menunjukkan bahwa upaya perawatan fasilitas dapat meningkatkan rasa memiliki siswa terhadap institusi pendidikan. DAFTAR PUSTAKA