Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM) e:ISSN: 2827-9557 Volume 05 Issue 02 Month Mei 2026 Hal 385-393 Available Online at: https://jurnal. id/index. php/JPPM/index Edukasi Pengelolaan Uang Jajan melalui Literasi Keuangan dalam Meningkatkan Berinvestasi dan Menabung Eka Sariningsih. Ananda Ramadya Rahmatina. Annadya Kirani. Elza Nur Annisya. Rahma Agustia. 1,2,3,. Program Studi Akuntansi. Fakultas Ekonomi. Universitas Malahayati. Bandar Lampung Jalan Pramuka No 27 Kemiling Bandar Lampung. Bandar Lampung. Lampung. Indonesia e-mail : . ekasariningsih@gmail. ABSTRACT Low levels of financial literacy among students, characterized by consumerist behavior and a lack of early-stage saving and investing habits, constitute a primary issue in secondary school environments. Consequently, this community service initiative aims to enhance the financial literacy of high school students through structured education on prudent pocket money management and an introduction to basic investment. The program was conducted in person at SMA Negeri 2 Kalianda. South Lampung Regency, involving 60 participants from grades XI and XII. The implementation employed a participatory educational approach consisting of interactive lectures, pocket money allocation simulations, group discussions, and evaluation of comprehension levels using pre-test and post-test instruments. Evaluation results indicated a significant quantitative improvement in financial literacy, with students' average comprehension scores increasing by 37%, reaching a final score of 85% in the post-test phase. Furthermore, qualitatively, over 70% of participants expressed strong motivation to begin saving regularly and managing their daily expenditures rationally by prioritizing categories such as primary needs, future savings, and leisure. In conclusion, this educational program proved highly effective in fostering healthy financial behaviors, increasing awareness of long-term financial planning, and shaping a disciplined and independent younger generation. This activity also makes a positive contribution to supporting the Financial Services Authority (OJK) national targets to improve the national financial literacy and inclusion index. Moving forward, it is recommended that this literacy program be integrated as a sustainable activity within the school Keywords: Financial Literacy. High School Students. Pocket Money Management. Saving. Simple Investment ABSTRAK Rendahnya tingkat literasi keuangan di kalangan pelajar yang ditandai dengan perilaku konsumtif dan minimnya kesadaran menabung serta berinvestasi sejak dini menjadi permasalahan utama di lingkungan sekolah menengah. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman literasi keuangan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) melalui edukasi pengelolaan uang jajan secara bijak dan pengenalan investasi sederhana. Kegiatan ini dilaksanakan secara tatap muka di SMA Negeri 2 Kalianda. Kabupaten Lampung Selatan, dengan melibatkan 60 peserta yang merupakan siswa-siswi dari kelas XI dan XII. Metode pelaksanaan yang digunakan adalah pendekatan edukatif dan partisipatif, yang terdiri dari pemaparan materi secara interaktif, simulasi alokasi uang jajan, diskusi kelompok, serta evaluasi tingkat pemahaman menggunakan instrumen kuesioner pre-test dan post-test. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan literasi keuangan yang signifikan secara kuantitatif, di mana rata-rata tingkat pemahaman siswa mengalami kenaikan sebesar 37%, dengan nilai akhir mencapai 85% pada tahapan post-test. Selain itu, secara kualitatif lebih dari 70% peserta menyatakan motivasi yang kuat untuk mulai menabung secara rutin dan mengatur alokasi pengeluaran harian mereka secara rasional ke dalam pospos prioritas seperti kebutuhan pokok, tabungan masa depan, dan hiburan. Kesimpulannya, program edukasi ini terbukti sangat efektif dalam menumbuhkan perilaku keuangan yang sehat, meningkatkan kesadaran perencanaan finansial jangka panjang, dan membentuk karakter generasi muda yang disiplin dan mandiri. Kegiatan pengabdian ini juga memberikan kontribusi positif dalam mendukung target program Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk meningkatkan indeks inklusi dan literasi keuangan nasional secara merata. Ke depannya, disarankan agar program literasi ini tidak berhenti, melainkan dapat diintegrasikan menjadi kegiatan yang berkelanjutan di dalam lingkungan sekolah. Kata Kunci: Investasi Sederhana. Literasi Keuangan. Menabung. Pengelolaan Uang Jajan. Siswa SMA DOI: https://doi. org/10. 59066/jppm. Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM) e:ISSN: 2827-9557 Volume 05 Issue 02 Month Mei 2026 Hal 385-393 Available Online at: https://jurnal. id/index. php/JPPM/index PENDAHULUAN Literasi keuangan merupakan kemampuan yang sangat penting bagi setiap individu untuk memahami, mengelola, dan mengambil keputusan terkait sumber daya finansial secara efektif, efisien, serta bertanggung jawab. Literasi keuangan tidak hanya mencakup kemampuan menghitung dan mencatat pengeluaran, tetapi juga meliputi pemahaman terhadap konsep dasar ekonomi, tabungan, investasi, serta perencanaan keuangan jangka panjang (Lusardi & Mitchell, 2. Dalam konteks pembangunan ekonomi modern, literasi keuangan menjadi salah satu kompetensi kunci abad ke-21 yang berperan dalam menciptakan individu yang cerdas secara finansial dan mampu menghindari perilaku konsumtif yang berlebihan. Di era modern yang serba cepat dan konsumtif, pengelolaan keuangan bukan hanya menjadi tanggung jawab orang dewasa, tetapi juga perlu ditanamkan sejak usia dini agar terbentuk perilaku finansial yang sehat (Margaretha & Pambudhi, 2. Kalangan pelajar, khususnya siswa sekolah menengah, berada pada fase penting dalam pembentukan karakter, nilai, dan kebiasaan hidup. Oleh karena itu, edukasi mengenai pengelolaan uang jajan menjadi hal yang krusial dalam membekali mereka menghadapi tantangan ekonomi di masa depan (Widyastuti, 2. Literasi keuangan yang diperoleh sejak usia sekolah dapat membantu siswa dalam memahami pentingnya perencanaan, menahan diri dari godaan konsumtif, serta mengenal konsep nilai uang. Permasalahan umum yang sering ditemukan di lingkungan sekolah adalah perilaku konsumtif siswa dalam membelanjakan uang jajannya. Sebagian besar siswa cenderung menggunakan uang untuk memenuhi keinginan sesaat, seperti membeli makanan cepat saji, mengikuti tren fesyen, atau membeli barang yang sedang viral di media sosial tanpa memperhatikan prioritas dan nilai guna (Sina. Rendahnya kesadaran akan pentingnya menabung serta minimnya pemahaman terhadap konsep investasi sederhana menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan di kalangan pelajar masih tergolong rendah (Sina, 2. Pola konsumtif ini, apabila tidak diarahkan dengan baik, berpotensi membentuk kebiasaan boros dan kesulitan dalam mengelola pendapatan di masa depan. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2022, tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia baru mencapai 49,68%, sedangkan tingkat inklusi keuangan sebesar 85,10%. Data tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara akses terhadap layanan keuangan dan kemampuan mengelola keuangan itu sendiri. Dengan kata lain, meskipun masyarakat telah banyak menggunakan produk keuangan seperti rekening bank atau dompet digital, belum semua memahami cara memanfaatkannya secara bijak (OJK, 2. Kondisi ini juga mencerminkan tantangan pendidikan keuangan di kalangan remaja yang hidup di tengah perkembangan teknologi finansial . , di mana kemudahan transaksi digital sering kali mendorong perilaku konsumtif yang tidak disadari. Di sisi lain, perkembangan teknologi digital memberikan peluang baru untuk meningkatkan literasi keuangan pelajar. Aplikasi keuangan digital seperti money tracker, e-wallet, dan tabungan digital dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran praktis bagi siswa dalam mencatat pengeluaran dan pemasukan secara mandiri (Rahmawati, 2. Namun, penggunaan teknologi tersebut tetap harus dibarengi dengan bimbingan dari guru dan orang tua agar pelajar memahami nilai edukatif dari pengelolaan uang, bukan sekadar kemudahan dalam bertransaksi. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, tim pelaksana berupaya memberikan pemahaman dasar mengenai konsep literasi keuangan dengan fokus pada pengelolaan uang jajan. Kegiatan dilaksanakan dengan metode interaktif seperti diskusi, simulasi pengelolaan keuangan sederhana, dan permainan edukatif agar peserta mudah memahami materi dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (Putri, 2. Selain itu, perlu adanya kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan lembaga keuangan untuk menciptakan ekosistem pendidikan keuangan yang berkelanjutan. Sekolah dapat mengintegrasikan materi literasi keuangan dalam kurikulum muatan lokal, sementara orang tua dapat memberikan contoh pengelolaan uang di rumah melalui praktik sederhana seperti membuat daftar kebutuhan bulanan atau menabung bersama anak. Lembaga keuangan pun dapat berperan aktif dalam memberikan pelatihan dan simulasi keuangan melalui program school banking yang tidak hanya DOI: https://doi. org/10. 59066/jppm. Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM) e:ISSN: 2827-9557 Volume 05 Issue 02 Month Mei 2026 Hal 385-393 Available Online at: https://jurnal. id/index. php/JPPM/index mengajarkan cara menabung, tetapi juga memperkenalkan produk keuangan dasar dengan pendekatan edukatif. Dengan meningkatnya pemahaman dan kesadaran keuangan di kalangan pelajar, diharapkan akan lahir generasi muda yang mandiri secara finansial, disiplin dalam mengatur keuangan, serta memiliki perencanaan ekonomi yang matang di masa depan. Literasi keuangan bukan hanya tentang mengelola uang, melainkan juga tentang menanamkan nilai tanggung jawab, kedisiplinan, dan pengambilan keputusan yang rasional. Dengan demikian, pendidikan literasi keuangan di kalangan pelajar bukan sekadar kebutuhan tambahan, tetapi menjadi investasi sosial untuk membangun generasi yang cerdas, tangguh, dan berdaya saing dalam menghadapi dinamika ekonomi global. METODE Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan edukasi partisipatif, di mana peserta tidak hanya menerima materi secara teoretis, tetapi juga terlibat aktif melalui diskusi, simulasi, dan evaluasi. Pendekatan ini dipilih karena dinilai mampu meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep keuangan secara lebih aplikatif serta membangun motivasi untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Lokasi dan Waktu Pelaksanaan Kegiatan dilaksanakan di SMA Negeri 2 Kalianda. Kabupaten Lampung Selatan, pada tanggal 3 Oktober 2025. Pelaksanaan berlangsung secara tatap muka di ruang aula sekolah dengan durasi kegiatan sekitar tiga jam. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada hasil observasi awal yang menunjukkan adanya kebutuhan peningkatan literasi keuangan di kalangan siswa, terutama dalam hal pengelolaan uang jajan dan kebiasaan menabung. Subjek Kegiatan Peserta kegiatan adalah siswa-siswi kelas XI dan XII dengan jumlah peserta sebanyak 60 orang. Peserta dipilih secara sukarela berdasarkan rekomendasi pihak sekolah. Selain itu, kegiatan juga melibatkan guru pendamping sebagai mitra untuk membantu proses koordinasi dan tindak lanjut pasca kegiatan. Tahapan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan terdiri dari empat tahapan utama, yaitu: Persiapan Tahap ini meliputi kegiatan survei awal, koordinasi dengan pihak sekolah, penyusunan proposal kegiatan, pembuatan media pembelajaran . eperti poster edukatif dan lembar simulasi keuanga. , serta pembagian tugas di antara tim pelaksana. Tim terdiri atas empat mahasiswa yang memiliki peran sebagai pemateri, moderator, dokumentasi, dan bagian Pelaksanaan Edukasi Kegiatan dimulai dengan sambutan dari pihak sekolah dan dosen pembimbing, dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh tim pelaksana. Materi edukasi mencakup pengenalan konsep literasi keuangan, perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, strategi pengelolaan uang jajan, serta pentingnya menabung dan mengenal investasi sederhana. Penyampaian materi dilakukan dengan metode interaktif menggunakan diskusi kelompok dan simulasi. Simulasi Pengelolaan Uang Jajan Sesi simulasi dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam membuat rencana pengelolaan uang jajan. Setiap peserta diberikan lembar simulasi yang berisi skenario pengeluaran harian. Peserta diminta mengalokasikan uang jajan untuk kebutuhan pokok, tabungan, dan hiburan dengan mempertimbangkan prioritas dan keseimbangan Evaluasi dan Refleksi Evaluasi dilakukan dengan dua metode, yaitu pre-test dan post-test, serta observasi terhadap partisipasi siswa selama kegiatan. Refleksi dilakukan di akhir kegiatan melalui sesi tanya jawab dan diskusi terbuka untuk mengetahui sejauh mana siswa memahami materi serta perubahan sikap mereka terhadap kebiasaan keuangan. Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data DOI: https://doi. org/10. 59066/jppm. Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM) e:ISSN: 2827-9557 Volume 05 Issue 02 Month Mei 2026 Hal 385-393 Available Online at: https://jurnal. id/index. php/JPPM/index Instrumen yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi: Kuesioner Pre-test dan Post-test, untuk mengukur peningkatan pengetahuan siswa sebelum dan sesudah kegiatan. Lembar Observasi, untuk menilai tingkat partisipasi dan keaktifan peserta selama kegiatan Dokumentasi Foto, sebagai bukti kegiatan dan media publikasi hasil pengabdian kepada Analisis Data Data yang diperoleh dari hasil evaluasi kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan Data kuantitatif diperoleh dari hasil pre-test dan post-test yang menggambarkan peningkatan pemahaman siswa terhadap literasi keuangan, sedangkan data kualitatif diperoleh dari hasil observasi, tanggapan siswa, dan catatan lapangan selama kegiatan berlangsung. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas kegiatan dan memberikan dasar rekomendasi bagi pelaksanaan program serupa di masa mendatang. HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Pelaksanaan Kegiatan Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tema AuEdukasi Pengelolaan Uang Jajan Melalui Literasi Keuangan dalam Meningkatkan Berinvestasi dan MenabungAy telah dilaksanakan di SMA Negeri 2 Kalianda. Lampung Selatan, pada tanggal 3 Oktober 2025. Kegiatan berlangsung selama kurang lebih tiga jam dan diikuti oleh 60 siswa. Gambar 1. Diskusi dosen dan mahasiswa Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2026 Gambar 2 dan 3. Kegiatan pelaksanaan pengabdian masyarakat Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2026 Pelaksanaan diawali dengan pembukaan oleh pihak sekolah, sambutan dari dosen pembimbing, serta pengantar kegiatan oleh tim pelaksana. Selanjutnya, sesi utama berupa penyampaian materi DOI: https://doi. org/10. 59066/jppm. Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM) e:ISSN: 2827-9557 Volume 05 Issue 02 Month Mei 2026 Hal 385-393 Available Online at: https://jurnal. id/index. php/JPPM/index literasi keuangan disampaikan menggunakan pendekatan interaktif. Para siswa diajak memahami konsep dasar pengelolaan keuangan, perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, pentingnya perencanaan keuangan pribadi, serta manfaat menabung dan berinvestasi sejak dini (Margaretha & Pambudhi, 2. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab, di mana peserta menunjukkan antusiasme Banyak siswa yang mengaitkan materi dengan pengalaman sehari-hari, seperti kebiasaan jajan, pembelian barang keinginan, hingga kesulitan menabung. Sesi edukasi ditutup dengan simulasi perencanaan keuangan sederhana menggunakan lembar kerja yang disiapkan oleh tim Melalui simulasi ini, siswa belajar mengalokasikan uang jajan untuk tiga pos utama, yaitu kebutuhan, tabungan, dan hiburan. Hasil Evaluasi Pre-test dan Post-test Untuk mengukur efektivitas kegiatan, dilakukan evaluasi menggunakan instrumen pre-test dan post-test. Pre-test diberikan sebelum penyampaian materi untuk mengetahui tingkat pemahaman awal peserta, sedangkan post-test dilakukan setelah kegiatan selesai untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap literasi keuangan. Hasil evaluasi disajikan dalam tabel berikut: Tabel 1. Hasil Evaluasi Pre-test dan Post-test Literasi Keuangan Siswa SMA Negeri 2 Kalianda Nilai Rata-Rata Nilai RataNo Indikator Penilaian Peningkatan Pretest Rata Posttest Pemahaman konsep kebutuhan dan Kemampuan mengelola uang jajan Kesadaran pentingnya menabung Pengetahuan dasar investasi Motivasi menerapkan kebiasaan Sumber:Data olahan tim PKM, 2025 Berdasarkan tabel di atas, terlihat adanya peningkatan yang cukup signifikan pada seluruh Sebelum kegiatan, sebagian besar siswa memiliki pemahaman dasar yang rendah terhadap konsep kebutuhan dan keinginan serta strategi pengelolaan uang jajan. Namun, setelah kegiatan, pemahaman siswa meningkat menjadi 85% secara rata-rata, yang menunjukkan keberhasilan kegiatan edukasi dalam menumbuhkan kesadaran finansial. Analisis Hasil Evaluasi Hasil post-test menunjukkan bahwa sebagian besar siswa telah memahami pentingnya mengatur keuangan dengan bijak. Sebanyak 70% siswa menyatakan termotivasi untuk menabung sebagian uang jajan setelah mengikuti kegiatan ini. Hal ini sejalan dengan penelitian Sari dan Rahman . yang menjelaskan bahwa pendidikan literasi keuangan mampu meningkatkan perilaku menabung dan mengurangi perilaku konsumtif pada remaja. Selain itu, partisipasi aktif peserta menjadi indikator keberhasilan tambahan. Dalam sesi simulasi, siswa mampu menyusun rencana keuangan pribadi sederhana dengan mengalokasikan uang jajan ke dalam tiga kategori utama: kebutuhan, tabungan, dan keinginan. Aktivitas ini tidak hanya meningkatkan pemahaman teoretis, tetapi juga memperkuat keterampilan praktis dalam membuat keputusan finansial harian (Lusardi & Mitchell, 2. PEMBAHASAN Secara keseluruhan, kegiatan edukasi ini memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan literasi keuangan pelajar. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pendekatan edukasi berbasis partisipatif lebih efektif dalam meningkatkan kesadaran finansial dibandingkan metode ceramah konvensional. Hal ini sesuai dengan pandangan Mancone . yang menyatakan bahwa pendekatan interaktif dan berbasis pengalaman nyata meningkatkan retensi pengetahuan serta kemampuan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. DOI: https://doi. org/10. 59066/jppm. Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM) e:ISSN: 2827-9557 Volume 05 Issue 02 Month Mei 2026 Hal 385-393 Available Online at: https://jurnal. id/index. php/JPPM/index Faktor-faktor yang mendukung keberhasilan kegiatan ini antara lain: Metode penyampaian yang interaktif, memungkinkan siswa aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, serta berbagi pengalaman pribadi terkait pengelolaan uang jajan. Interaksi dua arah ini menumbuhkan rasa keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Materi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, seperti pengelolaan uang jajan, kebiasaan menabung, serta pengenalan dasar investasi sederhana, membuat siswa lebih mudah memahami dan mengaitkan konsep keuangan dengan situasi nyata yang mereka hadapi. Adanya simulasi praktis, yang memberikan pengalaman langsung dalam menyusun perencanaan keuangan pribadi, membantu siswa memahami pentingnya alokasi uang secara proporsional antara kebutuhan, tabungan, dan hiburan. Selain itu, kegiatan ini juga berdampak positif terhadap perubahan perilaku keuangan siswa. Berdasarkan hasil wawancara singkat setelah pelatihan, sebagian besar peserta menyatakan mulai menerapkan pencatatan pengeluaran harian serta berkomitmen menyisihkan sebagian uang jajannya untuk ditabung. Perubahan ini menjadi indikator awal terjadinya transformasi kesadaran finansial, dari sekadar pengetahuan teoretis menuju praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini juga menumbuhkan sikap tanggung jawab dan disiplin keuangan, di mana siswa mulai membedakan antara kebutuhan dan keinginan . eeds vs. , serta menunjukkan kemampuan dalam mengatur prioritas pengeluaran. Beberapa siswa bahkan melaporkan mulai menerapkan sistem anggaran sederhana dengan membagi uang jajan mereka ke dalam kategori seperti AutabunganAy. Aukebutuhan harianAy, dan AuhiburanAy. Kebiasaan ini, walaupun tampak sederhana, merupakan fondasi penting dalam pembentukan perilaku finansial yang sehat pada usia muda. Dampak lain yang muncul adalah meningkatnya kepercayaan diri siswa dalam mengambil keputusan finansial kecil, seperti memilih menabung di koperasi sekolah atau membeli barang berdasarkan kebutuhan mendesak. Hal ini sejalan dengan teori financial behavior yang dikemukakan oleh Lusardi dan Mitchell . , bahwa pembelajaran finansial yang efektif mampu meningkatkan self-efficacy peserta didik dalam mengelola uang serta mendorong kebiasaan menabung secara berkelanjutan (Rahman & Sari, 2. Selain itu, kegiatan edukasi ini juga memunculkan efek sosial positif, yakni meningkatnya budaya saling berbagi pengetahuan antarsiswa. Beberapa kelompok siswa bahkan berinisiatif membuat Aukomunitas menabung bersamaAy sebagai bentuk dukungan sosial untuk menjaga komitmen finansial mereka. Fenomena ini menunjukkan bahwa literasi keuangan bukan hanya berdampak pada individu, tetapi juga membangun ekosistem belajar kolektif yang memperkuat nilai-nilai tanggung jawab dan solidaritas ekonomi di lingkungan sekolah. Secara umum, perubahan perilaku yang diamati setelah kegiatan edukasi menunjukkan bahwa literasi keuangan dapat menjadi sarana efektif dalam pembentukan karakter generasi muda yang cerdas, hemat, dan bertanggung jawab dalam mengelola sumber daya keuangannya Namun demikian, terdapat beberapa kendala yang dihadapi selama pelaksanaan kegiatan edukasi literasi keuangan ini. Salah satunya adalah keterbatasan waktu, yang menyebabkan materi mengenai investasi sederhana belum dapat dibahas secara mendalam. Padahal, pemahaman terhadap konsep investasi dasar seperti deposito, reksa dana, atau tabungan berjangka sangat penting untuk memperluas wawasan siswa mengenai pengelolaan keuangan jangka panjang. Selain itu, perbedaan tingkat pemahaman siswa terhadap konsep keuangan juga menjadi tantangan tersendiri. Sebagian siswa yang belum terbiasa melakukan pencatatan pengeluaran atau perencanaan keuangan pribadi memerlukan waktu lebih lama untuk menyesuaikan diri dengan konsep baru yang diperkenalkan. Untuk mengatasi hambatan tersebut, disarankan agar program literasi keuangan dilaksanakan secara berkelanjutan dan terintegrasi dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Pembinaan yang bersifat periodik dan berjenjang dapat membantu siswa memperkuat pemahaman serta menerapkan keterampilan finansial secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari (OJK, 2. Selain itu, pendekatan edukasi yang berorientasi pada experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman nyata terbukti lebih efektif dalam membentuk perilaku finansial positif dibandingkan sekadar penyampaian teori. Program lanjutan ini juga dapat dikembangkan melalui kerja sama multipihak antara sekolah, perguruan tinggi, lembaga keuangan lokal, serta komunitas Kolaborasi tersebut memungkinkan dilaksanakannya pelatihan lanjutan seperti pengenalan produk keuangan digital, simulasi penyusunan anggaran keluarga, hingga pelatihan DOI: https://doi. org/10. 59066/jppm. Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM) e:ISSN: 2827-9557 Volume 05 Issue 02 Month Mei 2026 Hal 385-393 Available Online at: https://jurnal. id/index. php/JPPM/index pengelolaan keuangan berbasis syariah, yang sesuai dengan nilai-nilai lokal dan religius siswa. Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami konsep keuangan secara teoretis, tetapi juga memiliki kompetensi praktis untuk menghadapi dinamika ekonomi modern yang semakin kompleks (Setiawan. Lebih lanjut, program literasi keuangan di sekolah diharapkan dapat menjadi bagian dari kurikulum karakter dan kewirausahaan, sehingga pembelajaran keuangan tidak berhenti pada kegiatan pengabdian, tetapi berkembang menjadi budaya sekolah yang berkelanjutan. Implementasi nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, kemandirian, dan perencanaan masa depan melalui praktik keuangan sederhana akan membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara ekonomi dan sosial. Hal ini sejalan dengan pandangan Widyastuti . yang menekankan pentingnya pembinaan literasi keuangan sejak usia dini sebagai upaya membentuk kebiasaan finansial yang sehat, mandiri, dan bertanggung jawab. Melalui pendekatan tersebut, diharapkan siswa mampu menjadi agen perubahan dalam lingkungannya membawa budaya hemat, cerdas finansial, serta berorientasi pada perencanaan jangka panjang sebagai bagian dari pembangunan karakter bangsa di masa depan. Dengan meningkatnya kesadaran dan keterampilan pengelolaan keuangan di kalangan pelajar, diharapkan terbentuk generasi yang memiliki ketahanan ekonomi, mampu mengambil keputusan finansial secara rasional, serta berperan aktif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tema AuEdukasi Pengelolaan Uang Jajan Melalui Literasi Keuangan dalam Meningkatkan Berinvestasi dan MenabungAy yang dilaksanakan di SMA Negeri 2 Kalianda telah terlaksana dengan baik dan memberikan hasil yang signifikan terhadap peningkatan pemahaman siswa mengenai literasi keuangan. Kegiatan ini berhasil memberikan pemahaman yang komprehensif kepada siswa mengenai pentingnya pengelolaan uang jajan secara bijak, kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta menumbuhkan kesadaran menabung dan mengenal dasar investasi sederhana. Melalui pendekatan interaktif yang dikombinasikan dengan simulasi perencanaan keuangan, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan teoretis tetapi juga pengalaman praktis dalam mengatur keuangan pribadi sesuai dengan kondisi nyata yang mereka hadapi sehari-hari. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa yang cukup signifikan, di mana rata-rata nilai post-test mencapai 85%, meningkat sebesar 37% dibandingkan nilai pre-test. Selain itu, lebih dari 70% peserta menyatakan termotivasi untuk mulai menabung secara rutin setelah mengikuti kegiatan. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan edukasi literasi keuangan yang berbasis praktik nyata dan partisipatif terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran dan kemampuan finansial di kalangan pelajar. Secara keseluruhan, kegiatan ini berkontribusi positif terhadap pembentukan karakter siswa yang mandiri, disiplin, dan bertanggung jawab dalam mengelola keuangan pribadi. Program ini juga mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan indeks literasi keuangan nasional sebagaimana dicanangkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK, 2. , yang menargetkan peningkatan pemahaman dan inklusi keuangan masyarakat secara merata. Keberhasilan kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi sekolah untuk mengintegrasikan pendidikan keuangan dalam kurikulum maupun kegiatan ekstrakurikuler, agar pembelajaran keuangan menjadi bagian dari pembentukan karakter siswa. Kolaborasi antara pihak sekolah, lembaga keuangan, dan perguruan tinggi juga perlu diperkuat untuk mengembangkan program lanjutan yang berfokus pada pelatihan perencanaan keuangan, investasi syariah, dan kewirausahaan siswa. Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami pentingnya menabung, tetapi juga memiliki bekal untuk menjadi generasi muda yang melek finansial, visioner, dan siap menghadapi tantangan ekonomi masa depan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini juga memperlihatkan bahwa edukasi literasi keuangan tidak hanya sekadar memberikan pengetahuan, tetapi juga dapat menjadi sarana DOI: https://doi. org/10. 59066/jppm. Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM) e:ISSN: 2827-9557 Volume 05 Issue 02 Month Mei 2026 Hal 385-393 Available Online at: https://jurnal. id/index. php/JPPM/index pemberdayaan pelajar untuk memiliki kesadaran kritis terhadap pengelolaan keuangan pribadi. Melalui kegiatan ini, siswa diajak untuk memahami pentingnya merencanakan pengeluaran, menetapkan prioritas keuangan, serta menumbuhkan sikap tanggung jawab dalam setiap keputusan finansial yang diambil. Pendekatan partisipatif yang diterapkan membuat siswa lebih terlibat secara aktif dan mampu mengaitkan materi dengan kehidupan mereka sehari-hari, sehingga nilai-nilai yang disampaikan menjadi lebih bermakna dan mudah diterapkan. Selain itu, hasil observasi menunjukkan adanya perubahan pola pikir peserta terhadap konsep Sebelumnya, sebagian besar siswa memandang uang jajan hanya sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan sesaat, tetapi setelah mengikuti kegiatan, mereka mulai menyadari pentingnya pengelolaan yang terencana serta manfaat jangka panjang dari menabung dan berinvestasi. Bahkan, beberapa siswa menyampaikan minat untuk belajar lebih lanjut mengenai produk keuangan seperti tabungan pendidikan, reksa dana, serta investasi berbasis syariah. Hal ini menandakan bahwa edukasi literasi keuangan memiliki potensi besar dalam membentuk perilaku ekonomi yang rasional dan berkelanjutan di kalangan remaja. Keberhasilan program ini juga tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk tenaga pendidik dan pihak sekolah yang secara aktif memfasilitasi kegiatan pembelajaran. Partisipasi guru dalam mendampingi siswa selama sesi pelatihan membantu memastikan bahwa nilai-nilai literasi keuangan dapat terus diinternalisasi dalam kegiatan pembelajaran formal di sekolah. Dengan adanya dukungan kelembagaan ini, literasi keuangan dapat dijadikan bagian dari pendidikan karakter yang berorientasi pada pembentukan generasi muda yang mandiri, produktif, dan bertanggung jawab terhadap keputusan finansialnya. Dengan demikian, kegiatan edukasi literasi keuangan seperti yang dilaksanakan di SMA Negeri 2 Kalianda tidak hanya relevan dalam konteks pendidikan ekonomi, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap pembangunan karakter bangsa. Melalui pembinaan literasi keuangan sejak dini, diharapkan muncul generasi muda yang memiliki kesadaran finansial, berpikir kritis, dan mampu mengambil keputusan ekonomi yang bijak di tengah perkembangan zaman yang dinamis. Program semacam ini perlu terus dilanjutkan dan dikembangkan agar menjadi gerakan nasional yang berkelanjutan dalam menciptakan masyarakat Indonesia yang inklusif dan tangguh secara ekonomi. SARAN