PASTORALIA STIPAS Keuskupan Agung Kupang P-ISSN: 2579-9355 E-ISSN: 2797-2216 Jurnal Penelitian Dosen Volume: 6 Nomor: 1 Edisi Juni 2025 Kekudusan Yang Transformatif: Aktualisasi Teladan Maria Dalam Pembentukan Iman Dan Moral Perempuan Kristiani Masa Kini Rikardus Undat1. Siprianus S. Senda2. Yohanes Subani3. Theodorus Silab4 1,2,3 Universitas Katolik Widya Mandira Kupang 1Rickardusundat@gmail. com, 2sendasiprianus@gmail. com, 3johnsubani@gmail. com, 4theodorussilab@gmail. Abstrak Kata Kunci Abstract Keywords Artikel ini membahas teladan kekudusan Maria, ibu Yesus sebagai paradigma dalam pembentukan iman dan moral perempuan Kristiani masa kini. Latar belakang kajian ini berangkat dari realitas kemerosotan nilai moral dan spiritual yang dialami oleh banyak perempuan Kristiani di tengah arus modernitas, sekularisme, dan krisis identitas religius. Fenomena ini tercermin dalam melemahnya komitmen iman, penurunan integritas moral, serta bergesernya orientasi hidup dari nilai-nilai rohani menuju kepentingan material dan individualistik. Dalam konteks tersebut, pembahasan difokuskan pada bagaimana teladan kekudusan Maria dapat diimplementasikan secara konkret dalam pembentukan iman dan moral perempuan masa kini yakni melalui ketaatan pada kehendak Allah, kesetiaan dalam doa, serta penghayatan kasih dalam relasi sosial dan tanggung jawab hidup sehari-hari. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menggali dan mengaktualisasikan nilainilai kekudusan Maria, seperti ketaatan, kerendahan hati, kemurnian, dan kesetiaan agar dapat menjadi inspirasi konkret bagi perempuan Kristiani dalam menjalani kehidupan yang berlandaskan Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah pendekatan kualitatif dengan analisis teologis-biblis serta studi pustaka dari berbagai sumber Kitab Suci dan dokumen Gereja. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa spiritualitas Maria memiliki nilai transformatif dalam membentuk karakter perempuan Kristiani yang kuat secara rohani dan bermoral tinggi. Kesimpulannya keteladanan Maria tidak hanya bersifat historis dan simbolis, tetapi juga aktual dan kontekstual sebagai paradigma hidup bagi perempuan Kristiani dalam menghadapi tantangan iman dan etika zaman modern. Maria. Kekudusan. Perempuan Kristiani. Iman. Moral. This article examines the example of the holiness of Mary, the mother of Jesus, as a paradigm in the formation of the faith and morals of contemporary Christian women. The background of this study departs from the reality of the decline in moral and spiritual values experienced by many Christian women amidst the currents of modernity, secularism, and the crisis of religious identity. This phenomenon is reflected in the weakening of faith commitment, a decline in moral integrity, and a shift in life orientation from spiritual values to material and individualistic interests. In this context, the discussion focuses on how the example of Mary's holiness can be implemented concretely in the formation of the faith and morals of contemporary women, namely through obedience to God's will, faithfulness in prayer, and the experience of love in social relationships and daily life responsibilities. The main objective of this study is to explore and actualize the values of Marian holiness, such as obedience, humility, purity, and loyalty so that they can become a concrete inspiration for Christian women in living a life based on faith. The method used in this study is a qualitative approach with theological-biblical analysis and literature study of various sources of Scripture and Church documents. The results of this study illustrate that Marian spirituality has transformative value in shaping the character of Christian women who are spiritually strong and morally upright. In conclusion. Mary's exemplary life is not only historical and symbolic, but also actual and contextual, serving as a life paradigm for Christian women in facing the challenges of faith and ethics in the modern era. Mary. Holiness. Christian Women. Faith. Morality Pastoralia Vol. No . EdisiA. Tahun PENDAHULUAN Kekudusan Maria. Bunda Yesus, merupakan salah satu teladan spiritual yang paling kuat dalam sejarah iman Kristiani. Dalam tradisi Gereja. Maria dipandang sebagai figur yang menampilkan ketaatan sempurna kepada kehendak Allah, kemurnian hati, serta kedalaman iman yang menginspirasi umat beriman sepanjang jaman. Namun, dalam konteks modern yang ditandai dengan sekularisasi, relativisme moral, dan pergeseran nilai-nilai keluarga. Keteladanan Maria sering kali terasa tereduksi menjadi simbol devosi yang bersifat ritualistik (Laurencia & Nassa, 2. Padahal secara teologis dan moral. Maria menghadirkan paradigma hidup yang memadukan iman, kasih, serta tindakan nyata dalam konteks dunia yang terus berubah (Senda et al. , 2. Konteks sosial perempuan masa kini yang diwarnai oleh tantangan kesetaraan gender, tekanan ekonomi, serta perubahan peran domestik dan publik, menuntut adanya figur spiritual yang dapat dijadikan acuan moral dan iman (Detina Tabuni, 2. Dalam hal ini, kekudusan Maria menghadirkan teladan yang tidak hanya menekankan kesalehan pribadi, tetapi juga kekuatan batin dan keberanian moral dalam menanggapi panggilan Allah. Ucapan Maria dalam Lukas 1:38. AuJadilah padaku menurut perkataanMuAy, memperlihatkan iman yang aktif dan bertanggung jawab yang dapat menjadi model bagi perempuan Kristiani untuk menghidupi ketaatan, ketulusan, dan kebajikan ditengah kompleksitas Relevansi figur Maria bagi perempuan masa kini tampak pada kemampuannya menjembatani iman dan moralitas dengan realitas hidup sehari-hari (Wibowo & Virdei Eresto Gaudiawan, 2. Dalam dunia yang semakin individualistik dan materialistik. Maria memperlihatkan jalan menuju kesucian melalui kerendahan hati, pelayanan, dan pengorbanan (Kardiman. Tobias & Jesanto Tamat. Ia menjadi simbol identitas dan martabat perempuan yang sejati, bukan dalam dominasi, melainkan dalam cinta yang aktif dan kesetiaan terhadap kehendak Allah. Dengan demikian, studi tentang kekudusan Maria tidak hanya bernilai teologis, tetapi juga menjadi refleksi moral dan sosial yang mendalam bagi perempuan Kristiani masa kini. Dalam hal ini, banyak peneliti terdahulu telah mengkaji teladan hidup Maria dari berbagai sudut pandangnya masing-masing. Senda dkk membahas kekudusan Maria yang memiliki tiga dimensi utama yaitu eksistensial, spiritual, dan moral yang tetap relevan sebagai model hidup bagi perempuan modern (Senda et al. , 2. Laurencia dan Nassa mengidentifikasi lima aspek keteladanan Maria yaitu spiritualitas, karakter, moralitas, mentalitas, dan peran dalam keluarga, yang semuanya membentuk dasar etika hidup perempuan Kristiani (Laurencia & Nassa, 2. Sementara itu,Boe dkk menyoroti peran Maria sebagai ibu yang setia, pelindung, dan teladan kasih yang konkret dalam kehidupan keluarga (Boe et al. , 2. Pastoralia Vol. No 1 Edisi Juni 2025 Walaupun penelitian di atas memberikan kontirbusi yang signifikan, masih terdapat celah yang belum banyak dibahas, terutama mengenai bagaimana paradigma kekudusan Maria dapat diinternalisasi secara kontekstual dalam kehidupan perempuan Kristiani masa kini. Sebagian besar kajian yang ada masih bersifat deskriptif dan berfokus pada aspkek spiritual atau moral, tanpa mengaitkannya dengan dinamika sosial kontenporer seperti media digital, feminisme, dan krisis nilai keluarga. Selain itu pendekatan teologis yang mengintegrasikan kekudusan Maria dengan teori etika modern seperti etika kebajikan atau teologi moral kontekstual masih jarang dikembangkan (Pranoto, 2. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya menghadirkan sintesis baru antara kekudusan Maria dan pembentukan iman serta moral perempuan dalam konteks kehidupan modern yang sarat tantangan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis secara mendalam dimensi kekudusan Maria sebagai paradigma pembentukan iman dan moral perempuan Kristiani masa kini, dengan menekankan bahwa kekudusan bukan sekadar kesempurnaan moral atau kebebasan dari dosa, melainkan keadaan hidup yang sepenuhnya diarahkan kepada Allah melalui ketaatan iman, kemurnian hati, dan kasih sayang yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Dengan menggunakan pendekatan teologis dan studi literatur, penelitian ini berusaha menggali nilai-nilai iman, ketaatan, kerendahan hati, dan kasih yang tercermin dalam teladan hidup Maria serta mengkaji bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diaktualisasikan dalam kehidupan nyata perempuan modern (Widodo, 2. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis bagi pengembangan teologi moral perempuan serta menjadi pedoman praktis bagi pembinaan iman dilingkungan keluarga dan komunitas gereja. METODE Metode penelitian yang digunakan adalah kajian pustaka . ibrary reserc. Dengan cara mengumpulkan berbagai sumber yang membahas tentang figur Maria dan nilai-nilai kekudusannya sebagai paradigma pembentukan iman dan moral perempuan Kristiani. Sumber utama penelitian ini meliputi Kitab Suci. Katekismus Gereja Katolik, serta dokumen Gereja yang menyoroti peran teologis Maria dalam karya keselamatan. Penelitian ini juga didukung dengan berbagai sumber yang lain seperti buku dan artikel jurnal ilmiah yang membahas spiritualitas dan peran perempuan Kristiani. Dengan menggunakan metode ini berupaya untuk merumuskan relevansi teologis dan moral keteladanan Maria secara kontekstual dan aplikatif bagi pembentukan iman perempuan di era modern. HASIL DAN PEMBAHASAN Kekudusan Menurut Alkitab Dalam Kitab Suci, kekudusan dipahami sebagai atribut ilahi yang mendasari seluruh relasi Allah dengan manusia. Dalam Perjajian Lama, konsep kekudusan muncul dari kata ibrani qAdy,berarti Pastoralia Vol. No 1 Edisi Juni 2025 AudipisahkanAoAoatau Audikhususkan bagi AllahAoAo (Prayitno, 2. Bangsa Israel dipanggil untuk hidup kudus karena mereka adalah umat pilihan Allah. Kuduslah Kamu Sebab Aku Tuhan Allahmu Kudus (Im 19:. Kekudusan dalam konteks Israel tidak hanya menyangkut kesucian ritual, tetapi juga kesetiaan moral terhadap perjanjian. Kehidupan yang kudus menuntut keadilan sosial, kesetian kepada hukum Taurat, dan ketaatan terhadap kehendak Allah (Milgrom. Dalam Perjanjian Baru, kekudusan memperoleh makna yang lebih mendalam dalam terang pribadi dan karya Kristus. Kekudusan bukan lagi sekadar status ritual, melainkan panggilan untuk berpartisipasi dalam kehidupan Allah sendiri melalui iman dan kasih (Purba & Pardosi, 2. Yesus Kristus menghadirkan kekudusan yang bersumber dari hati yang murni dan kasih yang melampaui batas Auberbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat allahAoAo(Mat 5:. Paulus menegaskan bahwa kekudusan merupakan tanda kehadiran Roh Kudus dalam diri orang beriman . , yang memampukan mereka untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah. Dengan demikian, kekudusan dalam Kitab Suci tidak hanya menyangkut kesempurnaan moral, tetapi juga transformasi batin yang menjadikan manusia serupa dengan Kristus (Zebua et al. , 2. Kekudusan juga mencerminkan dinamika relasional antara manusia dengan Allah yang menuntut pertobatan terus-menerus dan keterbukaan terhadap karya rahmat (Indra Richard Sigarlaki. Dalam seluruh narasi biblis, kekudusan bukan hasil usaha manusia semata, melainkan anugerah yang menuntut tanggapan aktif melalui hidup yang benar dan penuh kasih. Petrus menegaskan AuHendaklah Kamu Juga Menjadi Kudus Dalam Seluruh Hidupmu . Ptr 1:. Ay sebagai panggilan universal bagi setiap orang beriman untuk meneladani kekudusan Allah dalam tindakan sehari-hari. Dengan demikian, kekudusan bersifat dinamis terwujud dalam perjuangan moral, pelayanan kasih, dan kesediaan untuk dibentuk oleh Roh Kudus. Kekudusan menjadi tanda kehadiran Allah ditengah dunia, dimana setiap tindakan kasih dan keadilan menjadi refleksi nyata dari kesatuan manusia dengan sumber kekudusan itu sendiri (Supriyadi, 2. Teladan Kekekudusan Maria Dalam Kitab Suci Figur Maria merupakan representasi paling nyata dari kekudusan yang dimaksud dalam Kitab Suci (Senda et al. , 2. Kekudusannya tidak berdiri sendiri, melainkan lahir dari iman yang mendalam, ketaatan yang radikal, dan kasih total kepada Allah. Dalam kisah pewartaan malaikat (Luk 1:26-. Maria tampil sebagai pribadi yang sepenuhnya membuka diri terhadap rencana keselamatan Allah (Lumban Tobing & Tarigan, 2. Jawabnya Aujadilah padaku menurut perkataanmuAoAo, menjadi puncak ketaatan iman yang tak bersyarat. Pada momen itu. Maria menrima panggilan ilahi bukan karena kemampuan atau kekuasaanya, melainkan karena kerendahan hatinya. Kekudusan Maria disini tampak sebagai bentuk partisipasi aktif dalam karya Allah yang menyelamatkan. Pastoralia Vol. No 1 Edisi Juni 2025 Kisah perkawinan di Kana (Yoh 2:1-. , memperlihatkan dimensi lain dari kekudusan Maria, yakni kepekaan terhadap kebutuhan sesama. Maria memperlihatkan kesulitan pasangan pengantin dan menengahi mereka kepada Yesus dengan penuh iman. Ucapannya Auapa yang dikatakan kepadamu lakukanlahAoAo, mencerminkan kekudusan yang terwujud dalam tindakan kasih dan pelayanan (Gulo. Sementara itu, peristiwa dibawah kaki salib (Yoh. 19:25-. menunjukan kesetiaan Maria hingga akhir. Dalam penderitaan yang paling dalam, ia tetap berdiri dihadapan salib, menyatuhkan dirinya dengan penderitaan Putranya. Pada saat itulah kekudusan Maria mencapai kepenuhannya kasih yang tetap teguh dalam penderitaan dan iman yang tidak goyah dalam kegelapan (Donobakti et al. Dari seluruh narasi biblis tersebut, dapat disimpulkan bahwa kekudusan Maria merupakan buah dari relasi yang intim dengan Allah, diwujudkan melalui ketaatan iman dan pelayanan kasih. Ia menjadi ikon iman yang hidup bukan hanya karena bebas dari dosa, melainkan karena kesetiaanya pada kehendak Allah dalam seluruh aspek kehidupannya. Kekudusan Maria Menurut Gereja Ajaran Gereja Katolik mengembangkna pemahaman teologis mengenai kekuduan Maria sebagai bagian dari integral dari rencana keselamatan Allah (Imerlina Laia Hery Santoso Simanjuntak Apri Twenty Sirait, 2. Dokumen Lumen Gentium . menegaskan bahwa Maria, sebagai Auhamba Tuhan yang taatAoAo menjadi teladan kesempurnaan iman dan ketaatan bagi Gereja. Ia disebut sebagai Auperawan yang mendengarkan dan berdoaAoAo yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah yang dijawab dengan kebebasan dan kasih. Ensiklik Redemtoris Mater (Yohanes Paulus II, 1. menyoroti dimensi peziarahan iman Maria. Kekudusannya bukan hasil dari keadaan statis, melainkan proses iman yang diuji oleh penderitaan dan ketaatan. Maria adalah model bagi Gereja dalam perjalanannya menuju kepenuhan Katekismus Gereja Katolik (KGK no. menegaskan dogma Immaculata Conceptio (Maria dikandung tanpa dosa asa. sebagai bentuk persiapan ilahi agar ia dapat menjadi bejana rahmat yang murni. Keperawanan Maria menandakan kemurnian total tubuh , jiwa, dan kehendak yang dipersembahkan bagi Allah. Dari perspektif mariologis, kekudusan Maria juga mencerminkan kesatuan antara rahmat dan kebebasan (Fransiskus Xaverius Marmidi. Silvester Rasun Moro, 2. Ia bukan hanya menerima rahmat Allah secara pasif, tetapi juga bekerja sama secara aktif dengan rahmat itu. Dalam konteks eklesiologis. Maria menjadi lambang Gereja yang kudus, yang dipanggil untuk melahirkan Kristus dalam dunia melalui iman dan kasih (Boe et al. , 2. Oleh karena itu. Gereja melihat dalam diri Maria figur ideal bagi setiap umat beriman, khusunya perempuan Kristiani, untuk meneladani jalan kekudusan melalui ketaatan dan pengabdian. Pastoralia Vol. No 1 Edisi Juni 2025 Relevansi Bagi Perempuan Kristiani Masa Kini Dalam konteks modern, teladan kekudusan Maria memiliki relevansi yang mendalam bagi kehidupan perempuan Kristiani yang bergulat dengan tanggapan jaman (Laurencia & Nassa, 2. Dunia kontenporer ditandai oleh krisis spiritualitas, degradasi moral, dan disorientasi nilai. Banyak perempuan menghadapi tekanan sosial yang menuntut keberhasilan material dan pengakuan publik, sering kali dengan mengorbankan kedalaman spiritual dan nilai-nilai moral. Dalam situasi seperti ini, figur Maria menawarkan paradigma alternatif tentang kekuatan, kemuliaan, dan keberhasilan. Kekudusan Maria mengajarkan bahwa kemuliaan sejati tidak terletak pada kekuasaan atau prestasi lahiriah, melainkan pada kesetiaan kepada panggilan Allah (Supriyadi, 2. Ketaatannya kepada kehendak Allah memperlihatkan bahwa kebebasan manusia menemukan makna sejatinya dalam penyerahan diri kepada kasih ilahi. Kerendahan hati Maria menjadi antitesis terhadap budaya narsistik modern yang mengagungkan citra diri. Iman dan kesetiaan Maria menjadi teladan bagi perempuan untuk membangun integritas moral ditengah godaan relativisme etis. Selain itu, kekudusan Maria juga menegaskan peran maria dalam karya keselamatan. Sebagai ibu yang beriman dan hamba Tuhan. Maria menunjukan bahwa kesucian tidak menghapus identitas kemanusiaan, tetapi justru menyempurnakanya (Manca, 2. Dalam konteks perjuangan kesetaraan gender, maria menghadirkan wajah perempuan yang kuat, mandiri, dan penuh kasih. Kekudusannya bersifat dinamis tidak menyingkirkan peran sosial, melainkan meneguhkan perempuan untuk menjadi agen moral dan rohani dalam keluarga, masyarakat, dan gereja. Dengan demikian, kekudusan bagi perempuan Kristiani masa kini bertolak dari teladan hidup Maria sebagai model iman dan kesucian sejati. Kekudusan tidak hanya berarti menjauh dari dosa, tetapi merupakan proses pembentukan diri secara rohani melalui ketaatan, kesetiaan, dan kasih yang mendalam kepada Allah. Dengan meneladani iman Maria yang terbuka terhadap kehendak Allah, perempuan Kristiani dipanggil untuk membangun hidup rohani yang autentik di tengah tantangan Melalui doa yang tekun, penghayatan nilai moral, dan tindakan kasih yang nyata, perempuan masa kini dapat menghidupi kekudusan sebagai jalan menuju kesempurnaan hidup dan persekutuan dengan Allah. KESIMPULAN Dari keseluruhan pembahasan dapat disimpulkan bahwa kekudusan Maria merupakan bentuk kesempurnaan iman dan moral yang lahir dari ketaatan total kepada kehendak Allah. Dalam Kitab Suci. Maria tampil sebagai pribadi yang hidup sepenuhnya dalam iman mulai dari penerimaannya atas kabar malaikat, kepekaannya di Kana, hingga kesetiaannya di bawah salib. Kekudusannya bukan semata-mata hasil dari anugerah ilahi, tetapi juga respons aktif terhadap rahmat itu melalui kesetiaan, kerendahan Pastoralia Vol. No 1 Edisi Juni 2025 hati, dan kasih yang konkret. Ajaran Gereja, sebagaimana tertuang dalam Lumen Gentium. Redemptoris Mater, dan Katekismus Gereja Katolik, menegaskan bahwa Maria merupakan Auikon GerejaAoAo dan teladan tertinggi kekudusan umat beriman, yang dengan bebas bekerja sama dengan rahmat Allah demi keselamatan dunia. Dalam konteks perempuan kristiani masa kini, teladan Maria menjadi nyata dalam keseharian melalui ketaatan pada kehendak Allah, kesetiaan dalam tanggung jawab hidup, dan kasih yang diwujudkan dalam pelayanan kepada sesama. Ia menghadirkan model kekudusan yang tidak pasif, tetapi dinamis dan transformatif. Kekudusan itu menuntun perempuan kristiani masa kini untuk mewujudkan imannya dalam tindakan moral yang konkret, seperti kejujuran, kesetiaan, kepedulian, ketulusan, dan keteguhan hati di tengah tantangan modernitas. Keteladanannya menegaskan bahwa kekuatan perempuan sejati tidak terletak pada kuasa duniawi, melainkan pada keberanian untuk mengasihi dan mengabdi dengan iman. Dengan demikian. Maria bukan hanya sosok historis yang patut dihormati, tetapi figur teologis yang tetap relevan sebagai inspirasi bagi pembentukan iman dan moral perempuan kristiani masa kini. DAFTAR PUSTAKA