Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . http://journal. id/index. php/keraton Perjuangan dan Kegigihan Nyai Ageng Serang dalam Perang Diponegoro Tahun Wulan Dari1. Ira Pramudawardhani,2. Andriyanto3 Universitas Veteran Bangun Nusantara. Sukoharjo. Indonesia Universitas Veteran Bangun Nusantara. Sukoharjo. Indonesia Universitas Veteran Bangun Nusantara. Sukoharjo. Indonesia wulandarindari26@gmail. 2 irapramuda9@gmail. 3andri_rey@yahoo. * Corresponding Author Received 1 Desember 2021. accepted 12 Desember 2021. published 30 Desember 2021. ABSTRACT This study aims to determine the form of struggle carried out by Nyai Ageng Serang, to find out the role of Nyai Ageng Serang in the Diponegoro war in 1825-1830 to find out how Nyai Ageng Serang was initially involved in the rebellion led by Prince Diponegoro. Research and writing about the persistence and struggle of Nyai Ageng Serang in the Diponegoro war in 1825-1830 using the Historical Research Method. From this research, it can be concluded that Nyai Ageng Serang is a female warrior figure whose education in her family environment is anti-colonial. Made Nyai Ageng Serang one of the rebels in the Diponegoro war to expel the Dutch from Indonesia. And there are values that can be taken in the struggle of Nyai Ageng Serang, including Nationalism. Patriotism, and persistence and KEYWORDS Nyai Ageng Serang. Struggle and Persistence. Years This is an openaccess article under the CCAeBY-SA Pendahuluan Perang Jawa atau perang Diponegoro tahun 1825- 1830 merupakan sebuah perang besar di dalam sejarah perlawanan rakyat Indonesia melawan Belanda. Pertama kalinya Belanda menghadapi sebuah pemberontakan sosial yang mencakup bagian wilayah yang besar yaitu Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta banyak wilayah . aerah Pantai Utar. yang terlibat dalam pemberontakan ini. Awal permasalahan penyebab Perang Jawa terjadi pada masa pemerintahan Hamengku Buwono IV. Pada waktu tersebut masyarakat Jogja dan Jawa secara keseluruhan sedang mengalami dekadensi moral, budaya, dan agama. Terutama di kalangan bangsawan istana. Para bangsawan istana bersekutu dengan pemerintah Kolonial untuk mendapatkan kenyamanan mereka sendiri. (Pater Carey, 2004:. Kekuasaan Belanda di Indonesia semakin pada pertengahan abad ke-18 semakin meluas, dan kerajaan-kerajaan bumi putera nampak semakin merosot keberadaannya karena kekurangan mereka dalam melawan kekuasaan asing tersebut. Hal itu karena perlakuan Belanda yang sewenang-wenang terhadap tanah rakyat dan merendahkan martabat raja-raja Jawa menjadi pecahnya perang Diponegoro . Nyai Ageng Serang bersama cucunya Raden Mas Papak langsung melibatkan diri, karena dari awal sudah sangat anti terhadap Belanda, bersama pasukannya menggabungkan diri dengan pasukan Diponegoro. (Putu Lasminah, 1982:. Keberhasilan Belanda menguasai sebagian wilayah Indonesia, menambah beratnya penderitaan yang harus ditanggung oleh bangsa Indonesia. Di berbagai penjuru Nusantara, rakyat hidup di bawah tekanan ekonomi yang semakin sulit. Hak-hak mereka dirampas begitu saja oleh Penjajah. Bangsa Indonesia tidak menikmati jerih payah mereka sendiri. 32585/keraton. jurnal_keraton@yahoo. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Melihat kenyataan di atas, muncullah tokoh-tokoh pejuang yang ingin merubah nasib bangsanya dengan memimpin pemberontakan melawan Kolonial. Pada saat itu pemberontakan mengalami perkembangan baru dengan munculnya pejuang wanita yang perannya tidak kalah pentingnya dengan pejuang kaum pria. Mereka itu antara lain adalah Nyai Ageng Serang . Martha Kristina Tianhahu . Cut Nyak Dien . dan lain sebagainya. Keikut sertaan mereka dalam pertempuran ternyata mampu mengobarkan semangat dan keberanian rakyat dalam melawan Penjajah. (Kamajaya, 1982:. , (Andriyanto. Muslikh. Di antara sederetan nama-nama pahlawan wanita tersebut, terdapat nama Nyai Ageng Serang tokoh pejuang wanita dari kerajaan Mataram. Dengan gigihnya ia memperjuangkan hak-hak rakyat yang telah lama dirampas oleh Penjajah. Sebagai seorang puteri yang mempunyai darah juang dan dekat dengan rakyat, ia tidak rela melihat penderitaan rakyat di bawah tekanan bangsa-bangsa asing. Kekuasaan Mataram yang semula merupakan kerajaan terbesar pada waktu itu di Jawa, telah dapat di geser oleh Belanda. Bahkan pada abad ke-18 dengan segala kelicikannya Belanda berhasil memecah kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu kerajaan Surakarta dan kerajaan Yogayakarta. (Bambang Suwondo, 1976:111-. Kerajaan Yogyakarta mendapat pengawasan lebih ketat dari Belanda, dibanding dengan kerajaan Surakarta. Atas jasa-jasa Nyai Ageng Serang dan perjuangan melawan Penjajah, kini nama Nyai Ageng Serang diabadikan sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintahan RI. Keputusan presiden RI no. 084/ TK / Tahun 1974, tertanggal 13 Desember 1974. (Mashoed Haka, 1976:. Sejarah Indonesia menceritakan sebuah kiprah seorang perempuan khususnya di Jawa yang dalam sejarahnya ia memimpin sebuah perang besar melawan kolonial Belanda dengan kegigihan dan semangat perjuangannya dalam Perang Jawa atau Perang Diponegoro tahun 1825- 1830. Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukan sebuah penelitian yang berjudul AuPerjuangan dan Kegigihan Nyai Ageng Serang dalam Perang Diponegoro tahun 1825- 1830Ay. Metode Penelitian Penelitian ini dirancang menggunakan pendekatan kualitatif dengan menerapkan metode penelitian kepustakaan . ibrary researc. Penelitian kepustakaan adalah penelitian yang data utamanya atau data pendukungnya diperoleh dari bahan- bahan pustaka yang tersedia danberkaitan dengan permasalahan yang diteliti. Teknik pengumpulan datanya yaitu studi pustaka, analisis dimulai dengan membaca dan menelaah seluruh data yang telah tersedia terutama data sekunder di beberapa Seperti Perpustakaan Pusat Univet Bantara Sukoharjo. Perpustakaan Sukoharjo, dan Perpustakaan Surakarta. Hasil dan Pembahasan 1 Latar Belakang Keterlibatan Nyai Ageng Serang dalam Perang Diponegoro tahun 1 Awal Mula Pembagian Mataram pada tahun 1755 Keberadan keraton Yogyakarta secara sah ada dan diakui ketika ditandatanganinnya suatu perjanjian Giyanti di tahun 1755. Di dalam kejadian sejarah terbaginya Mataram, di latar belakangi berbagai permasalahan yang tak hanya melibatkan kalangan keraton saja, namun juga melibatkan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Keikut campurtanganan VOC dalam bidang politik Wulan Dari. Ira Pramudawardhani. Andriyanto (Perjuangan dan Kegigihan Nyai Ageng Serang dalam Perang Diponegoro Tahun 1825-1. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . terjadi saat di tandatanganinnya suatu perjanjian yang terjadi di tahun 1733 antara Paku Buwono II dan VOC. Salah satu diantara perjanjian Giyanti menyatakan jika Mataramnmemberikan kuasannya kepada VOC guna mendirikan suatu pengadilan sendiri untuk menangani tentang sebuah permasalahan bentuk kejahatan yang membuat rugi pihak VOC. (Darmosugito,1956:. Perjanjian kontrak berarti juga membuat masuknya pengaruh VOC kedalam urusan politik kerajaan Mataram. Tahun 1742 terjadi peristiwa Geger Pecinan. Paku Bowono II kuwalahan dalam melawan pemberontakan kemudian VOC menawarkan suatu bantuan untuk menyelesaikan Paku Buwono II memberikan imbalan diwilayah Mataram berupa hak monopoli perdagangan kepada VOC. Sikap yang diambil Paku Buwomo II kepada VOC, membuat rasa kecewa dikalangan bangsawan ataupun pejabat keraton. (Ahmad Nashih Luthfi, 2009:. Raden Mas Said melakukan pemberontakan dari Sukowati sebagai wujud protes kepada Paku Buwono II. Pemberontakan tersebut tidak bisa diselesaikan oleh Paku Buwono II. Penguasa Mataram membuat kompetisi untuk semua orang yang mampu melemahkan pasukan perang yang dipimpin oleh Raden Mas Said, selanjutnya bagi pemenang akan diberikan imbalan tempat yang berlokasi di daerah Sukowati. Pangeran Mangkubumi mampu menumpaskan Raden Mas Said kemudian ia meminta balas jasa berwujud tanah seluar 3000 jumlah Sukowati. Paku Buwono II mengingkari janjinya, ia justru memerintahkan agar Sukowati diberikan untuk Patih Pringgalaya. (Mundzirin Yusuf, 2009:. Mangkubumi beserta pasukannya meninggalkan keraton tanpa sepengetahuan orang ketika tengah malam yakni pada tanggal 19 Mei 1746. Ia bergabung dengan pasukan Raden Mas Said. Mereka menganggap bahwa Raja yang tidak bisa menepati janjinya akan dianggap mengkhianati amanatnya sebagai seorang Penguasa sehingga tidak patut diakui sebagai panutan. (Selo Sumardjan, 1981:. VOC berhasil memecah-belah hubungan antara Pangeran Mangkubumi dengan Raden Mas Said ditahun 1753, yang menyebabka mereka saling bermusuhan. Situasi tersebut digunakan VOC untuk menjaga wilayah bagian barat Kerajaan Mataram menguatkan tempat-tempat yang Selain itu VOC juga agak memaksa pangeran Mangkubumi dan juga Raden Mas Said agar bersedia berdamai berdamai dengannya. Dalam melakukan perdamaian VOC telah dipikirkan oleh Pangeran Mangkubumi. Pangeran Mangkubumi merasakan jika pemberontakan yang terjadi selama ini membuat sengsara rakyat terutama kerusakan pada bidang pertanian, dan membuatnya lekas melakukan perdamaian. Agar hasil kesepakatan menghasilkan suatu persetujuan, untuk urusan itu diperlukan menghadirkan orang lain agar dapat di terima oleh seluruh pihak yang sedang Ia menghadrikan Syeikh Ibrahim sebagai Tuan Sayid Besar. Syeikh Ibrahim adalah utusan VOC yang di tugaskan guna membuat tenang Pangeran Mangkubumi dengan cara mengiming-iming sebagian wilayah Mataram kepadanya. (MC Ricklefs, 2002:. Berawal dari situlah peperangan Kejaraan Mataram mulai terjadi. Di tanggal 13 Februari 1755 setelah diadakannya Perjaian Giyanti kerajaan Mataram Islam terbagi menjadi dua, peristiwa tersebut dikenal dengan sebutan Palihan Negari( Pembagian Negar. , yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. ( Nur Aini Setiawati, 2011:. Kasunanan Surakarta dipegang oleh Paku Buwono i sementara Kasultanan Yogyakarta dipegang oleh Pangeran Mangkubumi untuk pertama kalinya yang dikukuhkan bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I. Senapati Ingalaga Ngabdurahman Sayidin Panatagama Khalifullah. Yang mempunyai makna, sosok penguasa untuk orang Jawa ialah wali Tuhan di bumi yang memiliki hak serta mempunyai kewajiban mengendalikan agama di kalangan penduduk. Pemimpin dalam masyarakat Jawa mempunyai kekuasaan dalam mengatur undang- undang, karena perkataannya ialah undang- undang dan perilakunya adalah Wulan Dari. Ira Pramudawardhani. Andriyanto (Perjuangan dan Kegigihan Nyai Ageng Serang dalam Perang Diponegoro Tahun 1825-1. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. Perjanjian tersebut terjadi dikarenakan Belanda ingin mengakhiri pemberontakan Mangkubumi serta pengikutnya yang telah berlangsung kurang lebih delapan tahun. (Hariwijaya M, 1994:. Pembagian daerah kekuasaam yang termasuk daerah Mancanegara Yogyakarta menurut Babad Giyanti meliputi wilayah Madiun. Magetan. Caruban. Setengah Pacitan. Kertasana. Kalangbret. Ngrawa (Tulung Agun. Japan( Majakert. Jipang (Bojonegor. Teras Karas( Ngawe. Sela. Warung (Kuwu Wirasar. dan Grobogan. Sementara di wilayah daerah Mancanegara Surakarta meliputi Jagaraga. Pacitan. Kediri. Blitar( Srengat dan Lodayan. Pace( Nganjuk. Berbe. Wirasaba( Maga Agun. Blora. Banyumas, dan Keduwung. Namun wilayah yang sudah dibagi justru berpecahan antara Yogyakarta dengan Surakarta. Ngayogyakarta terdiri aras dua kata yakni Yogya dan Karta. Yogya memiliki arti pantas, terhormat, indah, bermartabat, dan mulia. Sedangakn Karta memiliki arti perbuatan, karya, dan amal. Jadi Ngayogyakarta memiliki arti sebuah tempat yang indah selalu dibuat bermartabat dan terhormat. Wilayah Mancanegara Yogyakarta kebanyakan terletak disebelah timur Surakarta, sedangkan wilayah Mancanegara Surakarta terletak disebelah barat Yogyakarta. Selain itu di wilayah tengah seperti Kedu. Bagelen. Pajang. Sukowati menjadi satu. Keadaan tersebut membuat sulitnya suatu pemerintahan untuk menyelenggarakan penggalangan kekuatan. Kondisi seperi ini disengaja VOC supaya mereka saling bermusuhan. Dari kejadian tersebut dapat dilihat kecerdik VOC untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Walaupun telah tercapai sebuah perdamaian dengan diadakannya Perjanjian Giyanti, ternyata VOC mempunyai maksud dan tujuan lain untuk menghancurkan musuh- musuhnya. Cara tersebut digunakan VOC untuk memperlancar usaha dan memperluas pengaruhnya di kerajaan Mataram. (Purwadi, 2003:. Campur tangan Belanda terhadap Kerajaan Mataram dalam bidang politik mempunyai dampak yang sangat besar terhadap perekonomian rakyat, hal itu terjadi pada masa pemerintahan Amangkurat I. salah satu di antara campur tangan politik yang berpengaruh terhadap perekonomian rakyat adalah hubungan antara pihak Mataram dengan VOC yang sangat erat sebelumnya belum pernah terjadi, hal tersebut merupakan hubungan yang belum pernah di alami sebelumnya. (H. DeAoGraaf, 1987:. Langkah tersebut membawa dampak negatif bagi perekonomian kerajaan Mataram pada saat Dengan adanya penghapusan uang pantai berarti mengurangi pemasukan kerajaan, di tambah lagi dengan membayar ekspedisi kepada Belanda menambah pengeluaran Negara. Selanjutnya pada bidang ekonomi ini Inggris menetapkan tiga asas. Pertama, segala bentuk penyerahan wajib dan kerja rodi dihapuskan. Kedua, peran para Bupati sebagai petugas pajak dihilangkan serta untuk gantinya mereka dimanfaatkan sebagai bagian yang penting dari pemerintahan Belanda sesuai fungsinya dengan dasar-dasar pemerintahan di Negara Barat. Ketiga, berdasarkan anggapan bahwa pemerintah Kolonial adalah pemilik tanah, sedangkan para petani di anggap sebagai penyewa, maka mereka di wajibkan membayar sewa tanah. (Sartono Kartodirjo, 1975:58-. Walaupun penyerahan wajib dihapuskan dan di ganti dengan sewa tanah, tetap saja membebani rakyat mereka harus membayar sewa yang tinggi, sedangkan penghasilan belum tentu baik. Setelah kekuasaan Inggris di Indonesia jatuh ke tangan Belanda, sistem sewa tanah tetap di berlakukan sampai tahun 1830. Pada tahun 1830 pemerintah Belanda telah mengangkat Gubernur Jenderal yang baru untuk Indonesia yaitu Johannes Van den Bosch, dia di tugaskan untuk meningkatkan produksi eksport yang tidak terjadi selama sistem sewa tanah berlangsung. (Sartono Kartodirjo, 1975:65-. Wulan Dari. Ira Pramudawardhani. Andriyanto (Perjuangan dan Kegigihan Nyai Ageng Serang dalam Perang Diponegoro Tahun 1825-1. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Johannes Van den Bosch merubah sistem sewa tanah yang berlaku dengan menghidupkan kembali sistem tanam paksa dalam bentuk yang lebih ekstrim dan keras. Dia menganggap bahwa sistem sewa tanah tidak dapat meningkatkan produksi eksport, sehingga kurang menguntungkan bagi pemasukan keuangan Kolonial Belanda. Keadaan ekonomi para petani yang semakin memburuk di pergunakan oleh para Bangsawan yang merasa terhina untuk memproklamasikan perang jihad melawan Belanda pada tahun 1825 yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Perang Diponegoro mengakibatkan krisis ekonomi yang sangat parah di pulau Jawa dan juga krisis keuangan Kolonial. Untuk mengatasinya pemerintah melancarkan Cultur Stelsel . istem tanam paks. terhadap para petani. Dengan sistem tersebut para petani di bebaskan dari pajak tanah yang wajib mereka bayar sejak zaman Raffles, tetapi sebagai gantinya mereka wajib menanam tanaman yang tertentu untuk eksport yang sudah di tetapkan oleh Belanda. (Koentjoroningrat, 1984:. Menurut Penulis, yang melatar belakangi penyebab terjadinya perpecahan Kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu karena adanya konflik di dalam kerajaan dan ikut campur Belanda dalam bidang politik, ekonomi menyebabkan adanya kemiskinan dan ketidak adilan yang berakibat fatal bagi Belanda, yaitu dengan adanya pemberontakan Perang Diponegoro. 2 Perjanjian Giyanti Membuat Kecewa Ayah Nyai Ageng Serang Di tahun 1746-1755 Panembahan Notoprojo menjadi teman seperjuangan Pangeran Mangkubumi saat kerajaan Mataram mengadakan perlawanan menyerang Belanda. Pada saat pemberontakan Mangkubumi. Notoprojo diberi tugas sebagai pemimpin pasukan yang berlokasi di Serang, untuk menduduki tempat yang berlokasi di Semarang dan Rembang. Yang dimanfaatkan sebagai sentral pemberontakan rakyat yang dipilihnya, di desa Serang yang berlokasi di pinggir sungai Serang, tepatnya sebelah Barat kecamatan Sumber Lawang di bagian wilayah Purwodadi Grobogan dengan Gundih. (Putu Lasminah, 2007:3- . Pasukan Pelopor Gugus Depan adalah pasukan yang dipimpin oleh Panembahan Notoprojo. ketika melakukan pertempuran dengan kelompok lawan di Ungaran. Panembahan Notoprojo secara tidak sengaja kedatangan wakil yang diutus oleh Mangkubumi untuk diperintahkan Notoprojo agar mengakhiri peperangan. Atas permintaan Pangeran Mangkubumi Notoprojo diminta untuk pergi ke Desa Giyanti guna menemani Mangkubumi untuk melakukan perundingan perdamaian antara Belanda (VOC) dan juga Sunan Paku Buwono serta Pangeran Mangkubumi. Dengan terpaksa ia melakukan tugasnya tersebut agar bisa menghentikan pemberontakan, namun Notoprojo tidak bisa menerima permintaan dari Mangkubumi untuk pergi ke Giyanti. Panembahan Notoprojo mematuhi perintah Mangkubumi, namun tidak kembali ke Solo atau ke Yogyakarta. Panembahan Notoprojo mempunyai alasan bahwa dirinya sudah tua dan lebih senang tinggal di Desa Serang. Akan tetapi alasan yang sesungguhnya karena ia tidak suka melihat hubungan politik Belanda dengan Keraton (Putu Lasminah, 2007:. Dia tetap kekeh dengan pendiriannya yang anti terhadap Belanda. Panembahan Notoprojo tetap memimpin dan mengajarkan para pasukannya yang berada di wilayah Serang. Dengan dibantu kedua putranya yakni Putera Notoprojo dan nama Kustiyah banyak dikenal dengan sebutan nama Raden Ayu Ageng Serang atau Nyai Ageng Serang. Pemerintahan Kolonial tahu jika di Serang terdapat kekuatan sekumpulan orang yang menolak pengaruh dari luar yang dipimpin Panembahan Notoprojo, secara tidak terduga pasukan Belanda menyerang Desa Serang hingga suasana menjadi runyam, rakyat kalang kabut, berlarian masuk ke Dan membuat perlawanan, di keadaan yang serba runyam tersebut. Putera Notoprojo Wulan Dari. Ira Pramudawardhani. Andriyanto (Perjuangan dan Kegigihan Nyai Ageng Serang dalam Perang Diponegoro Tahun 1825-1. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. memimpin pasukan rakyat dan dibantu oleh adiknya bernama Kustiyah yang lincah dan tangkas. Karena semangatnya pasukan yang dipimpin oleh mereka terus menyerang pasukan Belanda. Akan tetapi, rakyat Serang justru mengalami kekalahan dan banyak pahlawan yang gugur dimedan perang. Meninggalnya Putera Notoprojo membuat Kustiyah sedih kerena merasa kehilangan keluarga yang ia cintai. Usia Panembahan Notoprojo bertambah tua, tidak begitu lama dia meninggal dunia dan dimakamkan di Desa Serang. Ketika Penembahan Notoprojo meninggal dunia. Kustiyah dan ibunya menetap tinggal di Desa Serang. Meski banyak keluarga dari Yogyakarta dan Solo menyarankan agar mereka pindah ke Yogya ataupun ke Solo. Akan tetapi saran tersebut ditolak dengan alasan mereka lebih senang tinggal di Desa Serang yang telah memberikan kenangan bagi Kustiyah. Nyai Ageng Serang mulai beranjak dewasa, kemudian dapat diketahui cerita serta perjuangan yang ayahnya lakukan di saat menentang pengaruh Belanda, dengan maksud untuk ikut campur permasalahan pada pemerintahan di keraton sehingga menyebabkan keadaan di keraton menjadi berantakan. Ketika itulah ia bertekad melanjutkan cita- cita dari ayahandanya yang sangat anti kolonial guna agar rakyat terbebas dari penderitaan yang selama ini mereka rasakan, dan berjanji jika sewaktu saat nanti ia akan turun langsung ke medan perang mengusir Belanda. Demi mempererat persaudaraan Sultan Hamengku Buwono I serta Panembahan Notoprojo, sebelum dia meninggal dunia membuat kesepakatan, jika puteri Notoprojo yang bernama Raden Ajeng Kustiyah dengan Raden Mas Sundoro putera Sultan agar dijodohkan menjadi suami istri. Kemudian Notoprojo menyetujui kesepakatan tersebut, karena jika tidak maka hubungan Serang dengan Yogyakarta bisa terputus setelah keduanya tidak ada. (Bambang Sukawati D, 1981:. Pandangan dari penulis melihat bahwa sosok Panembahan Notoprojo merupakan seseorang yang anti pengaruh asing dan anti penjajah. Ia tidak menyukai hubungan antara Belanda dan keraton. Hal ini menyebabkan Panembahan Notoprojo kecewa dengan adanya Perjanjian Giyanti yaitu perjanjian perdamaian antara kompeni Belanda (VOC) dengan Sunan Paku Buwono dan Pangeran Mangkubumi. 2 Peran Nyai Ageng Serang dalam Perang Diponegoro tahun 1825-1830 1 Keterlibatan Nyai Ageng Serang dalam Perang Jawa tahun 1825- 1830 Rasa tidak suka semakin bertambah di Jawa dikarenakan belum selesainya sejumlah persoalan hal tersebut terjadi sekitar tahun 1812-1825. Di dalam pergantian raja di keraton Yogyakarta terdapat campur tangan orang-orang Eropa terhadap berbagai persoalan di keraton. Korupsi dan kerjasama menjadi meningkat di Yogyakarta dan Solo. Orang Eropa dan Cina mulai menyewa tanah rakyat di Jawa Tengah, kemudian dipergunakan untuk menjadi berbagai perkebunan, para penduduk di Jawa dan hukum adat masyarakat desa tidak dihiraukan dan diabaikan. Petani-petani sangat terpaksa membayar pajak secara langsung atau kontan, sehingga membuat mereka meminjam uang kepada para lintah darat, mayritas ialah orang Cina. Para pengusaha dan penyewa pajak yang berasal dari Cina memainkan peran yang kuat di dalam masyarakat Jawa khususnya di pedesaan. Guna untuk meningkatkan ketegangan etnis Cina dan Jawa. (M. Ricklefs, 2001:. Situasi di Jawa semakin panas dan banyak rakyat yang menderita, mereka diharuskan membayar pajak sehingga membuat beban untuk rakyat. Selain itu merka juga harus mencukupi kebutuhan orang-orang Eropa yakni Belanda dan bangsawan-bangsawan yang menjadi kaki tangan Belanda. Hal tersebut membuat Pangeran Diponegoro menjadi geram dengan kondisi seperti itu. Tidak hanya Wulan Dari. Ira Pramudawardhani. Andriyanto (Perjuangan dan Kegigihan Nyai Ageng Serang dalam Perang Diponegoro Tahun 1825-1. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . itu saja. Belanda ketika itu ikut campur permasalahan di keraton, contohnya adalah penobatan sultan Yogyakarta. Setelah Sultan Hamengkubuwono IV meninggal dunia. Belanda mengangkat seorang putra mahkota bernama Jarot untuk dijadikan sebagai Sultan Yogyakarta. Meskipun jarot ketika pada saat itu baru berusia tiga tahun. Sultan disini hanya digunakan untuk simbol pemerintahan saja. Kemudian didalam pemerintahan keraton Yogyakarta diatur Residen Smissert. Jawa dilanda perang besar di tahun 1825 dengan sasaran dan target utamanyaa adalah sekumpulan Kolonialisme asing, sekumpulan Feodalisme keraton, serta orang Jawa yang ProBelanda. Pemberontakan tersebut merupakan salah satu perang besar yang pernah dialami Belanda selama masa penjajahannya di Nusantara. Kondisi nyata seperti ini menyebabkan meletusnya perang Jawa ialah jika masyarakat Jawa ketika waktu tersebut mengalami kemrosotan, terutama pada kelompok bangsawan keraton. Bangsawan-bangsawan keraton yang bersatu dan diam-diam bekerjasama dengan Belanda menimbulkan rasa kecewa dan luka yang mendalam di hati masyarakat Jawa. Jatuhnya martabat dan harga diri keraton dibawah kekuasaan penjajah dalam pandangan masyarakat Jawa dinilai, sebab istana tidak bisa melawan pengaruh Belanda sehingga menyebabkan masyarakat menjadi hidup menderita dan menurunkan kepercayaan masyarakat Jawa kepada (Muhammad Muhibbudin, 2018:. Pendidikan lingkungan sekitar keluarga Nyai Ageng Serang yang dikenal tidak pro dengan penjajah serta pengaruh asing membuat terbentuknya pribadi Nyai Ageng Serang yang cerdas, lincah, dan terarah pandangan hidupnya, serta sangat peka kepada keadaan masyarakat yang sedang mengalami penderitaan dan kesengsaraan karena aturan-aturan yang telah dibuat Belanda. (Putu Lasminah, 2007:. Ketika setelah melihat secara langsung banyak rakyat yang menyerah untuk menghadapi hari kedepan bagi mereka akan bagaimana. Selama ini mereka bekerja keras hanya untuk kesejahteraan dan memperkaya bangsa asing saja, mereka merasakan jika tidak akan memiliki masa depan setelah Sama sekali tidak menikmati hasil kerja keras dan usaha mereka sendiri, yang hanya mereka rasakan semakin hari tanggungan beban bertambah berat. Nyai Ageng Serang yang mewarisi darah juang dan kepahlawanan dari ayah serta leluhurnya beranjak berfikir, dia akan menemukan kesulitan mengabulkan cita-citanya untuk melawan Penjajah jika hanya menjadi puteri di keraton saja. Ketika itu ia meminta izin kepada para keluarga keraton, supaya diizinkan mempelajari dan berbaur dengan masyarakat diluar lingkungan keraton. Kemudian keluarga keraton memperbolehkan dan memenuhi permintaannya, kemudian menempatkannya di Desa Demangan. (Mashoed Haka, 1976:. Rasa kecewa yang dialaminya membuat dia terjun langsung ketika peperangan dikobarkan, dengan Raden Mas Papak cucunya yang juga memihak Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro mempercayainya agar menjadi pemimpin perang, tidak hanya itu ia juga dijadikan sebagai penasehat Pangeran Diponegoro didalam Perang Jawa. perjuangan Pangeran Diponegoro yang luhur bertujuan untuk membebaskan bangsanya dari penderitaan akibat penjajahan bangsa Pangeran Diponegoro juga memperoleh dukungan dari masyarakat dan penduduk sekitar. Semua rakyat bangkit dan berjuang membantu perjuangan Pangeran Diponegoro dengan penuh (Putu Lasminah, 2007:. Penulis mempunyai pandangan tentang pendidikan dan lingkungan keluarga Nyai Ageng Serang yang banyak di kenal masyarakat tidak pro terhadap penjajah serta pengaruh asing membuatnya menjadi pribadi yang cerdas, lincah, dan tajam pandangan hidupnya, dan juga lebih memahami keadaan masyarakat yang sedang menderita dan juga mengalami kesengsaraan karena banyak aturan yang dibuat oleh Belanda. Rasa kecewa yang mendalam ini menyebakan Nyai Ageng Serang geram dengan sikap Belanda yang semana-mena terhadap rakyat. Ia turut membantu Pangeran Diponegoro Wulan Dari. Ira Pramudawardhani. Andriyanto (Perjuangan dan Kegigihan Nyai Ageng Serang dalam Perang Diponegoro Tahun 1825-1. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . dalam berperang mengusir penjajah dari tanah air agar bangsanya bisa hidup tanpa adanya 2 Sebagai Strateeg dalam Perang di Sektor Utara Nyai Ageng Serang terkenal sebagai seorang taktikus, seorang strateeg. Keberaniannya di medan perang membuat terkejut pihak musuh, dalam seragam serta berkuda putih tidak pernah meninggalkan pasukan semut ireng, suatu barisan yang selalu diatur posisinya supaya dapat bersiap siaga dalam keadaan apapun. Dan di dampingi oleh cucunya seorang pemuda yang gagah berani yaitu Raden Mas Papak, tidak ketinggalan pula bendera pusaka AuGula KelapaAy berwarna merah putih dan AuSelendang PusakaAy lambang keperwiraannya selulau diselipkan pada tombak pusakannya, bersama dengan bendera nasional yang di libatkan jadi satu. Sifat-sifat Nyai Ageng Serang yang patriotik, pantang mundur dalam perjuangannya, yang memiliki sifat mobilitas, militan, watak keras, cerdas, cerdang keperwiraan Nyai Ageng Serang yang selalu diselipkan pada tombak pusakanya, bersama dengan bendera nasional yang dilibatkan jadi Sifat-sifat Nyai Ageng Serang yang patriotik, pantang mundur dalam perjuangannya, yang memiliki sifat mobilitas, militan, watak keras, cerdas, cerdik, budi pekerti yang lembut, dan halus. Semua itu diperoleh dari didikan orang tuanya yang terkenal berdarah patriot, anti penjajah, dan anti pengaruh asing. Tetapi dengan semangat juang Nyai Ageng Serang berpandangan tajam, mengenal arah dan tujuan Sultan Hamengku Buwana II untuk mengangkat mutu nasional di antara rakyat melalui kebijaksanaan keraton. Di sejumlah pemberontakan yang dipimpin oleh Nyai Ageng Serang dan Raden Mas Papak mampu membuat kalah Belanda, dengan taktik jitunya yang banyak dikenal adalah AuKamuflase dan LumbuAy . aun kelad. Para pengikutnya diperintah agar membuat daun keladi menjadi kerudung untuk mereka, sehingga dari jauh akan terlihat seakan-akan itu adalah sebuah kebun keladi. Namun, jika dari dekat serta dalam jarak sasaran maka musuh bisa langsung diserang dan dihancurkan. (Y. Sudarmanto, 1992:. Taktik lumbu adalah pikiran Nyai Ageng Serang, yang dimana setiap prajuritnya diwajibkan membawa daun keladi untuk dipergunakan atau dimanfaatkan, baik sebagai pelindung, maupun sebagai payung. Setelah mengadakan serbuan AuSerangan HanomanAy, taktik lumbu itu segera Prajurit bersembuyi di ladang bawah daun keladi. Musuh hanya akan mengira pasukan taktik lumbu telah menghilang tanpa meninggalkan jejak. Sebab apa yang dihadapi dikiranya sawah atau tegalan lumbu belaka, bukan prajurit-prajurit yang sedang mereka cari. Taktik lumbu serta taktik alon-alon waton kelakon bagi Nyai Ageng Serang lebih mempermudah runtuhnya dominasi Belanda di Nusantara, karena seluruh strategi pemberontakan kilat Jendral De Kock tidak digunakan. Memang Belanda mampu menguasai berbagai senjata namun rakyat lebih mampu menguasai dan menghancurkan senjata milik Belanda. Pangeran Diponegoro menilai bahwa Nyai Ageng Serang merupakan ahli strateeg atau ahli kemiliteran. (Mashoed Haka, 1976:. Selama perjuangannya melawan Belanda Nyai Ageng Serang dan Pangera Diponegoro banyak menggunakan taktik AuBenteng PendemAy atau Perang Gerilya dari pada perang terbuka. Dengan cara berikut menyebabkan sulitnya lawan dalam menemukan incaran yang pas serta membuat kerugian besar bagi Belanda, terlalu banyak persenjataan yang keluar, tenaga, biaya perang serta waktu yang sia-sia dengan percuma. Sedangkan bekal yang dibawa oleh Nyai Ageng Serang dan Pangeran Wulan Dari. Ira Pramudawardhani. Andriyanto (Perjuangan dan Kegigihan Nyai Ageng Serang dalam Perang Diponegoro Tahun 1825-1. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Diponegoro adalah semangat dan tekad yang membara untuk mengusir penjajah dari tanah air. Semangat nasionalisme inilah yang akhirnya dapat mengalahkan musuh. Demikian kelincahan dan kecerdikan Nyai Ageng Serang sebagai wanita pejuang yang pandai mengatur siasat perang melawan Belanda bersama Pangeran Diponegoro. Penulis mempunyai pandangan bahwa Nyai Ageng Serang mempunyai kepandaian dan berbagai macam taktik dalam memimpin perang dan ia disebut sebagai strateeg perang di sektor utara. 3 Sebagai Komando Lapangan di Sektor Utara Pada tahun 1811 kekuasaan Belanda di Indonesia jatuh ke tangan Kolonial Inggris. Serangan tentara Inggris atas Yogyakarta dilakukan karena Sultan Hamengku Buwana II tidak mau tunduk terhadap peraturan-peraturan yang dibuat oleh Kolonial Inggris. Setelah peperangan usai. Yogyakarta mengalami kekalahan dan sultan diasingkan ke Penang. Salah satu yang ikut dalam pengasingan itu adalah menantu Nyai Ageng Serang yaitu R. Mangkudiningrat. Mendengar tentang situasi di keraton. Nyai Ageng Serang segera pergi ke Yogyakarta, mengabarkan keadaan puterinya Kustinah yang ditinggalkan suaminya ke pengasingan. Nyai Ageng Serang berusaha menyadarkan puterinya agar tidak larut dalam kesedihan. Kustinah harus bangga mempunyai suami yang berani berkorban demi menegakkan kebenaran. Peristiwa yang membuat krisis karena kekuasaan Inggris semakin memperkuat semangat dan keyakinan Nyai Ageng Serang akan munculnya pahlawan-pahlawan bangsa yang lebih berani tekadnya untuk berkorban demi nusa dan bangsa. (Mashoed Haka, 1976:. Pada saat itulah Nyai Ageng Serang mempunyai kesempatan untuk bergaul dekat dengan pemuda dan pemudi keraton yang sepaham dengan pemikiran dan tekadnya untuk berjuang melawan penjajah. Mereka itu antara lain adalah Ontowiryo (Pangeran Diponegor. Tom Alapalap. Joyokusumo. Hadiwijoyo, dan Dewi Ratih . stri Pangeran Diponegor. (Putu Lasminah, 2007:. Kesedihan Kustinah karena ditinggal suaminya masih tetap menyelimuti dirinya, walaupun Nyai Ageng Serang berusaha keras membujuknya. Melihat hal itu. Nyai Ageng Serang memtuskan untuk membawa anak dan cucunya R. Papak ke Serang. Tidak lama berada di Serang. Kustinah meninggal dunia. Pada tahun 1822. Pangeran Menol yang baru saja berusia 3 tahun diangkat menjadi Sultan dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwana V. karena masih kanak-kanak kemudian dibentuklah Dewan Perwakilan yang salah satu anggotanya adalah Pangeran Diponegoro. Pembentukan Dewan Perwakilan itu sifatnya hanya formalitas saja, sebab pada kenyataannya urusan pemerintahan dilaksanakan sepenuhnya oleh Belanda melalui orang-orang yang menduduki jabatan di dalam Usul dan saran dewan perwakilan sama sekali tidak diperhitungkan. Merasa pendapat-pendapatnya tidak pernah di hiraukan maka Pangeran Diponegoro keluar dari anggota dewan perwakilan tersebut. Dia memilih tinggal di luar keraton, karena melihat keraton lebih banyak di campur tangani oleh penjajah. Kemudian Pangeran Diponegoro keluar dan di ikuti oleh para pengikutnya, memilih Tegalrejo sebagai tempat tinggalnya. Belanda mencium gelagat kurang baik atas sikap Pangeran Diponegoro, mereka membujuk agar mau kembali ke keraton. Namun Pangeran Diponegoro tetap berpegang teguh pada pendiriannya. Selama tuntutan yang dikemukakan tidak dipenuhi oleh Belanda, dia tidak mau memenuhi permintaan mereka untuk ke Tuntutannya adalah agar Danurejo diturunkan dari jabatannya sebagai Patih. (Sagimun D, 1960:. Wulan Dari. Ira Pramudawardhani. Andriyanto (Perjuangan dan Kegigihan Nyai Ageng Serang dalam Perang Diponegoro Tahun 1825-1. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. Belanda tidak mau memenuhi permintaan tersebut, karena Patih Danurejo IV adalah orang kepercayaan mereka. Belanda sengaja mengangkat pejabat-pejabat pemerintahan yang mempunyai kedudukan tinggi dari orang-orang yang tidak sependapat dengan para kerabat Sultan yang menjadi Hal itu bertujuan untuk memecah belah keutuhan kerabat keraton untuk menghapuskan simpati masyarakat untuk Pangeran Diponegoro. Belanda menyebar fitnah lewat antek-anteknya, bahwa keluarnya Diponegoro dari keraton itu dikarenakan dia ingin menjadi Raja. (Sagimun M. Isu yang disebarkan oleh Belanda itu tidak membawa hasil apa-apa, sebab kenyataannya Pangeran Diponegoro adalah orang yang berhati mulia suka berbuat kebaikan tanpa pamrih, selalu memikirkan nasib rakyat kecil, serta pemeluk agama Islam. Semakin hari pengikut Diponegoro semakin bertambah banyak, sehingga Tegalrejo bertambah ramai pula. Berdasarkan laporan dari para mata-mata. Belanda mengetahui bahwa Pangeran Diponegoro akan mengadakan suatu gerakan pemberontakan terhadap Belanda. Segala upaya dilakukan mereka untuk membujuk Pangeran Diponegoro agar mau kembali ke keraton. Terkahir Belanda mengutus Mangkubumi . aman Pangeran Diponegor. untuk ke Tegalrejo, untuk membujuk kemenakannya supaya kembali ke keraton saja dan membatalkan rencananya memimpin pemberontakan. Mereka mengirim Mangkubumi karena mereka tahu bahwa orang yang paling dekat dan disegani oleh Diponegoro adalah Mangkubumi. Kedatangan pamannya itu, diharapkan dapat meluluhkan hati Pangeran Diponegoro. Ternyata Belanda salah pilih dalam mengirim utusannya itu. Apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Sejak meninggalkan keraton menuju Tegalrejo Mangkubumi telah berniat untuk tidak kembali ke keraton dan bertekad sepenuhnya mendukung gerakan Diponegoro. (Bambang Sukawati, 1982:. Setelah ditunggu berhari-hari Mangkubumi tidak kembali juga. Belanda segera megutus utusannya untuk memanggil Mangkubumi dan menyerahkan surat ke Diponegoro. Baru saja Diponegoro dan Mangkubumi membicarakan balasan surat untuk Belanda, tiba-tiba dari luar terdengar dentuman meriam, pertanda Belanda telah memulai menyerang Tegalrejo. Serentak pasukan rakyat menyambut datangnya serangan itu, dan mereka berhasil memukul mundur tentara Belanda. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 20 Juli 1825. (Sagimun M. D, 1960:. Setelah kejadian itu Pangeran Diponegoro menghimbau seluruh pengikutnya untuk meninggalkan Tegalrejo menuju Gua Selarong. Suatu tempat yang aman dan disana menyusun strategi kekuatan yang lebih tangguh. Berita tentang dimulainya Perang Diponegoro tersebar dengan cepat ke berbagai daerah. Tiga hari setelah perang berkobar. Nyai Ageng Serang didatangi oleh pemuka-pemuka masyarakat dari tanah Demak. Gundih. Grobogan. Purwodadi. Sragen. Boyolali, dan Kudus (Bambang Sukawati, 1982:. Mereka yang hadir itu di antaranya adalah Diah Ayu Pulangyun (Janda Patih Danurejo II) bersama anak-anaknya yaitu Gondokusumo dan Mertonegoro. Maksud kedatangan mereka adalah meminta kepada Nyai Ageng Serang agar memberikan saran-sarannya tentang apa yang harus mereka lakukan sehubungan dengan melustusnya Perang Diponegoro. Saat itu yang menjadi Adipati di Serang adalah putera Nyai Ageng Serang yang bernama Pangeran Serang. Walaupun yang menjadi pemimpin adalah puteranya, namun dalam permasalahan yang berkenaan dengan perjuangan orang-orang selalu meminta pertimbangan kepada Nyai Ageng Serang. Ketika pertemuan di Serang sedang berlangsung, tiba-tiba datang utusan dari Yogyakarta Wulan Dari. Ira Pramudawardhani. Andriyanto (Perjuangan dan Kegigihan Nyai Ageng Serang dalam Perang Diponegoro Tahun 1825-1. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . membawa surat dari Pangeran Diponegoro, mengabarkan perang telah dimulai. Untuk itu Pangeran Diponegoro mohon doa restu serta bantuan Nyai Ageng Serang. (Bambang Sukawati, 1982:. Setelah membaca surat tersebut. Nyai Ageng Serang mengatakan kepada semua yang hadir dalam pertemuan itu bahwa mereka harus ikut bergabung dalam peperangan, dan Nyai Ageng Serang akan memimpin pasukan didampingi oleh Pangeran Serang dan Raden Mas Papak. Pernyataan tersebut disambut oleh para pengikutnya karena kesempatan itu yang mereka tunggu-tunggu selama Kemudian utusan tersebut menyerahkan peta medan tempur yang harus dilalui barisan Nyai Ageng Serang, supaya jangan terbentur dengan barisan lain yang sudah diatur oleh Pangeran Diponegoro dan Sentot Ali Basah. Medan pertempuran yang harus dilalui Nyai Ageng Serang adalah Serang. Gambringan. Purwodadi. Grobogan. Jakenan. Yuana. Pati. Kudus. Demak. Semarang. Ungaran. Bawen. Salatiga. Ampel. Boyolali. Klaten. Prambanan. Peta lokasi itu arahnya melingkar untuk mengecohkan musuh dalam pengejaran. Dalam Perang Diponegoro ini dapat di katakan bahwa Nyai Ageng Serang berperan menjadi pemimpin pasukan pada bagian wilayah utara dan bergelar AuLonjong MimisAy dan AuDiraja MetaAy . entuman senjat. (Putu Lasminah, 2007:. Kondisi di atas dapat disimpulkan bahwa Pangeran Diponegoro tidak menyukai adanya campur tangan Belanda pada sistem pemerintahan di keraton. Yang membuat Pangeran Diponegoro keluar dari keraton dan membentuk strategi untuk bertempur melawan Belanda bersama pengikutnya dan Nyai Ageng Serang diangkat menjadi komando Perang Diponegoro pada bagian wilayah utara. 3 Perjuangan dan Kegigihan Nyai Ageng Serang dalam Perang Diponegoro tahun 18251830 1 Pergerakan Mistisisme Nyai Ageng Serang Mistik ialah suatu bentuk dari proses pembentukan budaya religious di Jawa. Berasal dari bahasa Yunani yakni AumyeinAy artinya memperkenalkan suatu dasar-dasar di bidang ilmu pengetahuan atau dapat juga mempunyai arti menutup. Jadi, mistisisme Jawa ialah perwujudan aliran agama di Jawa. Agama Jawa merupakan gabungan dari pelaksanaan kepercayaan masyarakat di Jawa. (Suwardi Endraswara, 2004:. Memiliki sikap yang terpuji kepada masyarakat dalam adab berperilaku, dalam bentuk usaha dan pertolongannya didasarkan pada falsafah dan pedoman hidupnya yaikni tepaselira . ntro-speks. yang berarti telaah atau teliti. Sebab itu perilakunya lebih hati-hati kepada manusia lainnya, sehingga tidak memunculkan rasa tidak sengang terhadap orang lain. Di dalam hal tersebut. Nyai Ageng Serang mempunyai arahan jika penjajahan yang Belanda lakukan bukan hanya untuk menguasai politik dan ekonomi di keraton saja, namun mereka juga ingin menyamarkan tentang tepa-selira kebudayaan, kepribadian dan spiritual, kepercayaan dan aliran keagamaan. Nyai Ageng Serang melakukan sembahyang dan semedi untuk menyatukan dirinya dengan Sang Pencipta, menyerahkan diri, tawakal dan ikhlas pada kehendak Sang Pencipta. Nyai Ageng Serang memiliki sikap hidup sebagai seseorang yang menganut Ilmu Kejawen, ia selalu berusahamenyerahkan diri dan tawakal kepada Gusti Ingkang Murbeng Dumadi (Tuhan Yang Maha Es. , melakukan semedi untuk meminta arahan dengan memohon ampun atas segala kesalahan beserta kekuatan dan tuntutan dalam menangani semua pengaruh burukyang bisa membuat kerusakan pada jagad raya, dan yang paling utamanya adalah negara dan juga bangsanya. (Putu Lasminah, 2007:. Wulan Dari. Ira Pramudawardhani. Andriyanto (Perjuangan dan Kegigihan Nyai Ageng Serang dalam Perang Diponegoro Tahun 1825-1. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. Nyai Ageng Serang memiliki keyakinan serta kepercayaan yang penuh kepada Sang Pencipta sehingga ia diakui sebagai sosok guru, kyai dan pemimpin. Manusia diberi karunia akal serta budi pekerti, oleh sebab itu manusia bisa mengetahui kewajiban serta pertanggung jawaban atas dirinya Bentuk kepribadian yang dimilikinya dapat dijadikan sebagai modal utama yang harus tetep dijaga agar dapat menjadi kunci dalam memperjuangkan hidup. Sifat halus serta jujur dalam bersembahyang dan bersemedi akan dapat menimbulkan kebijaksanaan serta kepribadian hingga mampu menemukan pengertian dan pengetahuan yang Besarnya keyakinan kepada Sang Pencipta, jika manusia adalah ciptaan Tuhan. Nyai Ageng Serang menundukkan kepala serta menyerahkan seluruh isi hatinya di setiap pagi sebelum matahari terbit, dan sore sebelum matahari tenggelam kepada Sang Pencipta. Didalam Ilmu Kejawen, matahari memiliki arti sebagai salah satu perwujudan dari Tuhan Yang Maha Esa. Nyai Ageng Serang berserah diri kepada Tuhan dengan bersujud dan berdoAoa serta berterimakasih kepada Tuhan atas wahyu dan karunia yang telah diberikan kepadanya. Nasehat dan pesan-pesan Nyai Ageng Serang selalu didengarkan oleh Raden Mas Papak, pangeran-pangeran ataupun pengikutnya, kerabat dekatnyanya yang ikut berjuang melawan penjajah (Putu Lasminah, 2007:. Pergerakan mistisisme Nyai Ageng Serang dilakukan dengan bersemedi, menyepi dan berpuasa hingga penderitaan yang telah ia lalui membentuknya menjadi sosok yang ikhlas serta memiliki iman yang kuat. Menurut babad Diponegoro terdapat pergerakan mistisisme, dengan tidak lagi mendatangi pesantren serta menjauhi wilayah yang berpenduduk guna memperoleh kehidupan menyepi dan Pada saat itu dimulainya sebuah proses yang menentukan didalam perkenalan Diponegoro ketika sedang mencari tempat keramat dan suci yang berhubungan dengan Mataram. Ketika melakukan nyepi dan tawakal diri memiliki persamaan yang banyak dengan tirakat, yang berarti pengunduran diri dari keduniawian seseorang untuk sebuah tujuan penting di dalam mempersiapkan diri. Tirakat berarti mensucikan diri dari kepamrihan serta membenarkan jalan hidupnya dengan melalui penampakan roh leluhur serta pelindung rohani Jawa. Inti tirakat, riyaldhoh, semedi, nyepi, atau olah rohani untuk orang Jawa ialah mengasah serta membersihkan mata batin. Jika seseorang memiliki ketajaman mata batin, berarti ia dapat melihat kenyataan yang tidak bisa diterima oleh penglihatan seseorang pada umumnya. (Muhammad Muhibbuddin, 2018:. Ketika Diponegoro melakukan semedi di Gua Sorong Kamal di daerah Jejeran arah selatan Yogya ia melihat penampakan untuk pertama kalinya. Di situ ia bertemu sosok wali yakni Sunan Kalijaga, yang muncul dalam wujud yang bersinar bagai bulan purnama. Sunan Kalijaga merupakan salah satu walisanga diantara sembilan wali yang pernah muncul dihadapan Pangeran Diponegoro. Dari pergerakan mistisisme yang dilakukan ada suatu kemiripan antara Nyai Ageng Serang dan Pangeran Diponegoro dalam bersemedi dan nyepi yang dilakukan keduanya. Kondisi di atas dapat di simpulkan bahwa pergerakam mistisisme yang dilakukan Nyai Ageng Serang serang ini mempunyai persamaan dengan Pangeran Diponegoro yaitu dengan bertapa dan memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa. 2 Nyai Ageng Serang Seorang Keturunan Wali yang Dianggap Sakti Pangeran Diponegoro melihat penampakan yang memberitahunya ketika sedang melakukan semedi, jika suatu hari nanti Pangeran Diponegoro akan menjadi seorang raja. Seusai ramalan tersebut disampaikan, kemudian penampakan itu tiba-tiba menghilang. Pangeran Diponegoro menganggap penting penampakan Sunan Kalijaga serta ramalannya mengenai kerajaan. Sunan Wulan Dari. Ira Pramudawardhani. Andriyanto (Perjuangan dan Kegigihan Nyai Ageng Serang dalam Perang Diponegoro Tahun 1825-1. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Kalijaga tidak hanya diagungkan di wilayah Jawa tengah-selatan, namun ia juga dianggap sebagai penasihat raja-raja serta guru agama di Mataram, yang muncul melalui penampakan di anggota kerajaan ataupun rakyat biasa. Kalijaga dianggap sebagai seseorang yang menjadi pemimpin peristiwa pembagian Jawa di Giyanti . , peristiwa tersebut tidak begitu menjadi beban Diponegoro yang memperlihatkan diri sebagai tokoh yang bisa menyelesaikan masalah perpecahan politik dengan memiliki cita-cita agar memerintah seluruh Jawa yang dijadikan sebagai sosok pandita ratu. (Peter Carey, 2011:154-. Dari segi keturunan. Nyai Ageng Serang merupakan seorang wanita yang diangkat menjadi penasehat spiritual perang Diponegoro yang merupakan keturunan walisongo yakni Sunan Kalijaga. Secara garis besar Nyai Ageng Serang merupakan keturunan kedelapan Sunan Kalijaga yang bernama Panembahan Notoprojo yang bergelar Kanjeng Pangeran Adipati, namun ayah Nyai Ageng Serang lebih suka dipanggil dengan nama Panembahan dikarenakan lebih berkesan merakyat. Nyai Ageng Serang adalah anak kedua dari Penembahan Notoprojo yang ikut terjun dalam perang Diponegoro dengan selalu memperkuat iman dan keyakinannya dengan cara melakukan semedi guna lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. (Putu Lasminah, 2007:. Sunan Kalijaga mempunyai peranan penting untuk para raja di Jawa dalam menjaga serta mengayomi kerajaan sama halnya Nyai Ageng Serang yang juga keturunan Kalijaga, dianggap memiliki peran penting untuk Pangeran Diponegoro serta para pengikutnya. Dikarenakan Nyai Ageng Serang mempunyai posisi terhormat sehingga diangkat serta dipercaya Pangeran Diponegoro untuk menjadi Penasehat Spiritualnya pada Perang Jawa. 1 Hubungan Sunan Kalijaga dengan Nyai Ageng Serang Sunan Kalijaga dianggap menjadi seorang wali yang secara spriritual untuk dijadikan tumpuan alasan berdirinya kerajaan di Jawa Tengah. Terbentuknya kerajaan Mataram oleh Sutawijaya dulu tidak terlepas dari peranan Sunan Kalijga. Sehingga Sunan Kalijaga terkenal sebagai sosok penasehat spiritual terbentuknya kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah. Salah satunya adalah keraton Yogyakarta yang merupakan kelanjutan dari kerajaan Mataram. (Muhammad Muhibbuddin, 2018:. Secara keturunannya Nyai Ageng Serang merupakan keturunan Sunan Kalijaga yang berasal dari ayahnya yakni Panembahan Notoprojo. Kemudian ketika Sunan Kalijaga wafat dan di makamkan di daerah Demak tepatnya di Desa Kadilangu. Makam serta masjid Agung Demak merupakan dua pusaka terpenting bagi para raja di Jawa. Ketika terjadinya perang Jawa, keturunan dari Walisanga tersebut sangat dihormati oleh para pengikutnya dan mereka percaya bahwa Nyai Ageng Serang mempunyai kesaktian batin yang hebat. 2 Nyai Ageng Serang sebagai Penasehat Spiritual Tidak hanya kelebihannya di dalam perang saja. Nyai Ageng Serang juga sangat dikagumi karena pergerakan spiritualnya. Perang Jawa . dalam buku Perempuan-Perempun Perkasa di Jawa Abad XVi-XIX yang diteliti oleh Peter Carey dan Vincent Houben menerangkan jika pergerakan tirakat yang dilakukan Nyai Ageng Serang membuat Pangeran Diponegoro mengangkatnya sebagai sosok penasehat spiritual. (Carey, pater dan vincent houben, 2018:. Nasihat/wasiat Nyai Ageng Serang : AuDemi keamanan serta kesentausaan jiwa, kita harus mendekatkan diri kira kepada Tuhan Yang Maha Esa, orang yang mendekatkan diri kepada Tuhan, tidak akan terperosok hidupnya, dan tidak akan takut menghadapi cobaan hidup, karena Tuhan akan terus menuntun serta memberikan anugerahnya yang tidak bisa kita nilai harganyaAy. Rumangsa melu handarbeni . erasa ikut memilik. Wulan Dari. Ira Pramudawardhani. Andriyanto (Perjuangan dan Kegigihan Nyai Ageng Serang dalam Perang Diponegoro Tahun 1825-1. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. wajib melu hangrungkebi . ajib ikut mempertahanka. , dan mulat salira hangrasa wani . awas diri dan berani bertanggung jawa. Nasihat tersebut disampaikan Nyai Ageng Serang ketika ia sedang mendengarkan keluh kesah dari para pengikutnya dan juga rakyat, karena perlakuan yang kejih dan kejam yang dilakukan oleh kaum penjajah, yakni Belanda. Beberapa latar belakang bahwa Nyai Ageng Serang dijadikan sebagai penasehat spiritual oleh Pangeran Diponegoro. Selain itu Nyai Ageng Serang juga merupakan keturunan dari Walisanga (Sunan Kalijag. yang dianggap mempunyai kesaktian. 3 Darah Juang Nyai Ageng Serang Menurut pepatah Jawa Aukacang ora ninggal lanjaranAy yang berarti tingkahlak serta kepribadian anak tidak jauh berbeda dengan tingkahlaku dan kepribadian orang tuanya. Demikian juga dengan darah juang serta kepahlawanan Nyai Ageng Serang hamper sama dengan ayahnya, yakni Panembahan Notoprojo yang lebih dikenal sebagai seorang patriot yang anti penjajah serta anti pengaruh asing. Darah juang yang diturunkan dari leluhurnya mengalir di dalam diri Nyai Ageng Serang yang menggugah dirinya untuk berjuang dan bangkit melawan penjajah. Lingkungan pendidikan keluarga Nyai Ageng Serang yang berdarah patriot mampu membuat pribadi Nyi Ageng Serang menjadi cerdas lincah dan tajam pandangan hidupnya sehingga membuatnya sangat mengerti terhadap kondisi masyarakat yang sedang mengalami menderita dan sengsaraan karena peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh Belanda. Kondisi seperti itu membuat nurani Nyai Ageng Serang mempunyai pemikiran untuk menemukan penyebab, mengapa dapat terjadidan bagaimana cara yang digunkaan supya tidak terjadi peristiwa hidup yang tidak diinginkan. (Masud. Harja Kusuma, 1974:. Gadis Kustiah mulai bertambah dewasa perlahan mulai membentuk usaha serta tekadnya untuk berjuang dengan berbagai macam cara. Semangat Nyai Ageng Serang mulai berkobar serta pandangan hidupnya semakin terarah guna meraih cita-citanya. Dengan terus berjuang demi membela rakyatnya dan menegakkan keadilan. Berjuang demi negaranya dengan cara mengusir serta melakukan perlawanan terhadap Belanda yang menyebabkan kesengsaraan masyarakat. Semangat Patriotik semakin menggelora di dalam jiwa Nyai Ageng Serang dengan semboyannya AuBiarkan aku mati dengan sukarela untuk kepentingan bangsaku seribu tahun nantiAy. Nyai Ageng Serang percaya atas semua hal berasal dari Sang Pencipta. Setiap orang mempunyai hak mempunyai cita-cita serta berusaha, akan tetapi Tuhan lah yang menentukan. Dengan cara lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Dengan lebih banyak melakukan bertapa dan berpuasa, berprihatin ditempat-tempat tertentu guna menenangkan diri serta pikirannya guna memohon petunjuk kepada Sang Pencipta supaya keinginan dan cita-cita dapat tercapai(Mashoed. Haka, 1976:. Upaya-upaya yang telah dilakukan di lingkungannya yakni golongan masyarakat Desa Serang. Harus lebih mengutamakan usahanya dan meningkatkan semangat perjuangan yakni dengan membangkitkan semangat patriotik pada golongan masyarakat. Nyai Ageng Serang mengetahui jika perjuangannya harus dimulai dari bawah maupun dari atas, yakni dimulai dari masyarakat sampai kalangan keraton, dimulai dari keturunan keraton yang berkepribadian memiliki serta mendapat kuasa yang bisa mengarahkan jalannya perjuangan tersebut. Sang Pancipta telah menggariskan jika Nyai Ageng Serang akan menjadi sosok perempuan yang mengemban tugasnya sebagai misi rakyatnya di waktu tersebut. Menjadi pemimpin dalam melawan Wulan Dari. Ira Pramudawardhani. Andriyanto (Perjuangan dan Kegigihan Nyai Ageng Serang dalam Perang Diponegoro Tahun 1825-1. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . penjajah dilain sisi ia juga menjadi pionir bangsanya, sebagai seorang perempuan yang memiliki jiwa pahlawan demi meraih kemerdekaan serta menentang segala bentuk penjajahan. Melihat kondisi rakyat yang telah lama menderita membuat Nyi Ageng Serang menjadi semangat dalam menyerang pasukan Belanda yang semena-mena kepada rakyat di Tegalrejo. Hal tersebut membuat pecahnya Perang Diponegoro. Masyarakat tetap memepertahankan pimpinan yang merka cintai serta hormati yang melawan dengan gagah berani. Peristiwa tersebut dimulai oleh Belanda dengan memaksa Pangeran Diponegoro untuk berperang memimpin melawan Belanda. Sejak peristiwa di Tegalrejo tersebut terjadi di tanggal 20 Juli 1825. Pangeran Diponegoro memimpin rakyatnya dalam melawan penjajahan Belanda. Hal tersebut membuat gembira hati Nyai Ageng Serang dan membakar semangat juang Nyai Ageng Serang untuk membantu Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajahan Belanda. (Putu Lasminah, 2007:. Dapat disimpulkan bahwa darah juang Nyai Ageng Serang merupakan berasal dari lelulurnya. Dengan semangat patriotik ia membantu Pangeran Diponegoro untuk berperang mengangkat senjata melawan penjajahan Belanda. 4 Corak Perjuangan Nyai Ageng Serang Pada Masa Akhir Hidupnya Pada akhir tahun 1829 Nyai Ageng Serang ada di tengah-tengah keluarga besar Notoprojo. Tempat yang ditinggal tersebut ialah adalah kepemilikan dari Pangeran Mangkubumi, dibawah kekuasaan keraton. Memiliki halaman rumah yang lumayan luas, meskipun panas kurangnya pohon yang tumbuh. Akan tetapi bila dilihat pohon-pohon yang tumbuh disana mempunyai makna yang cukup dalam menurut pandangan orang Jawa. Di sana tumbuh beberapa pohon, anatara lain pohon tanjung, sawo kecik, pohon kepel, pohon pakel, dan kuweni. Kepel memiliki arti sebagai tekat hidup serta semangat, apabila menghadapi sesuatu harus bisa mengatasinya. Bagi masyarakat timur sebuah symbol bermakna penting. Ditambah lagi Nyai Ageng Serang keturunan keraton serta dari kecil ia mempelajari ilmu kejawen atau filsafat hidup. Ketika di masa muda, memasuki usia remaja, ia mempelajari ilmu kefilsafatan serta mempunyai keinginan untuk meneruskan perjuangan dari leluhurnya, melawan kejahatan, memperjuangkan hak-hak rakyat yang selama ini dirampas oleh Orang lain mengira ketika di masa remaja, saat Nyai Ageng Serang tidur di keraton, ia sambil membawa sebuah keris yang seakan-akan ia ingin bersatu pada kekuatan yang terdapat Jasi saat Sultan Hamengku Buwono II menghampiri Nyai Ageng Serang guna membuktikan berita akan tersebut. Ia terbangun langsung mengangkat kerisnya. Dari kecil Nyai Ageng Serang terbiasa hidup bersatu dengan lingkungan alamnya, oleh sebab itu tidak heran apanila ketika tidur Nyai Ageng Serang tidak pernah menggunakan alas kasur hanya dengan menggunakan selembar daun pisang walaupun ia tinggal di lingkungan keraton yang serba kecukupan. (Mashoed. Haka, 1976:. Berita wafatnya Sultan Hamengku Buwono II dan putra Sultan Sepuh, yakni Pangeran Mangkudiningrat, masih teringat dalam ingatannya. Nyai Ageng Serang masih merasakan kesedihan karena ia kehilangan orang seperti Sultan Sepuh yang baik hati serta bijaksana, selain itu ia juga merasa kehilangan Pangeran Mangkudiningrat putra menantunya setelah kepergian anak Kemudian Nyi Ageng Serang menggunakan sisa hidupnya untuk berdoa kepada sang pencipta dengan memohon ampun serta memohon keselamatan bagi kerabat pahlawan yang masih berjuang. Terkadang Nyai Ageng Serang tiba-tiba mengingat Pangeran Diponegoro yang merupakan seorang pejuang yang gigih dalam berperang, mampu bertahan hidup didalam hutan, tana henti Wulan Dari. Ira Pramudawardhani. Andriyanto (Perjuangan dan Kegigihan Nyai Ageng Serang dalam Perang Diponegoro Tahun 1825-1. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. mengomando dengan naik turun gunung, hal tersebut membuat Nyi Ageng Serang meneteskan air mata jika mengingat perjuangan yang begitu besar sambil ia berjalan memasuki kamar, berdoa kepada Sang Pencipta supaya Pangeran Diponegoro selalu diberi kekuatan dalam melakukan perlawanan demi memperjuangkan hak-hak rakyatnya. Sebab itu, tak heran apabila saat Nyai Ageng Serang mendengar berita jika Pangeran Diponegoro terkena perangkap Belanda, ia lagsung menangis serta ketika itu pula ia berdoa dan bersujud di dalam kamar sambil membayangkan nasib yang ditimpa oleh sosok pahlawan yang selama ini ia kagumi. Dengan cara itulah Nyai Ageng Serang memanfaatkan sisa waktu hidupnya, meskipun secara fisik bisa lagi berperang di medan perang dalam memimpin pasukan, namun dengan kondisi jasmaninya tersebut ia selalu berdoa kepada Sang Pencipta untuk keselamatan serta kesejahteraan rakyatnya, pahlawanannya, dan kerabatnya. Disisi lain disetiap ada waktu ia memberikan masukan, nasihat serta pelajaran hidup kepada siapa saja yang ditemuinya. Hal tersebut berarti memberikan nilai-nilai perjuangan untuk kepada generasi muda selanjutnya. Apbila selama masa mudanya Nyai Ageng Serang memperjuangkan hak-hak rakyat dengan melawan penjajah secara fisik, kemudian ketiaka ia tua berjuang secara moral. Kewajiban kemanusiaan muncul saat Raden Mas Papak cucu semata wayangnya yang selalu berada semasa perjuangan Nyi Ageng Serang akan tetapi cucunya itu dijebak oleh Belanda dan dijadikan tawanan yang berlokasi di Magelang. Salatiga. Ungaran, dan Semarang, kembali ke Nataprajan dengan penuh kesedihan. Baginya, peristiwa tersebut menjadi sebuah hal mengharukan, sebab cucu yang ia sayangi dan ia cintai diangkap oleh Belanda dan ditahan selama beberapa tahun, meskipun dapat berjumpa untuk sementara waktu. Raden Mas Papak dihadapi dengan dua pilihan yaitu memilih dibebaskan namun tidak lepas dari hubungan dengan keraton atau diasingkan ke daerah lain yang jauh. Dalam kesempatan ini Nyai Ageng Serang memperolah tugas berat guna mengarahkan cucunya agar dapat memilih pilihan yang baik. Ia mempunyai kewajiban gemblengan modal mental untuk cucunya, supaya bisa melanjtkan perjuangan meskipun sementara waktu (Putu Lasminah, 2007:49-. Penulis mempunyai pandangan bahwa Nyai Ageng Serang menggunakan sisa hidupnya, walaupun secara fisik tidak lagi bertempur di medan laga memimpin pasukan, tetapi sesuai dengan kondisi jasmaninya ia terus berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa demi keselamatan dan kesejahteraan bangsanya, pahlawanannya, dan kerabatnya. Simpulan Perjuangan dan Kegigihan Nyai Ageng Serang dalam Perang Diponegoro Tahun 1825-1830 dapat disempulkan sebagai berikut. Dari pergerakan mistisisme yang dilakukan ada suatu kemiripan antara Nyai Ageng Serang dan Pangeran Diponegoro dalam bersemedi dan nyepi yang dilakukan Kondisi di atas dapat di simpulkan bahwa pergerakam mistisisme yang dilakukan Nyai Ageng Serang serang ini mempunyai persamaan dengan Pangeran Diponegoro yaitu dengan bertapa dan memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa. Beberapa latar belakang bahwa Nyai Ageng Serang dijadikan sebagai penasehat spiritual oleh Pangeran Diponegoro. Selain itu Nyai Ageng Serang juga merupakan keturunan dari Walisanga (Sunan Kalijag. yang dianggap mempunyai kesaktian. Darah juang Nyai Ageng Serang merupakan berasal dari lelulurnya. Dengan semangat patriotik ia membantu Pangeran Diponegoro untuk berperang mengangkat senjata melawan penjajahan Belanda. Nyai Ageng Serang menggunakan sisa hidupnya, walaupun secara fisik tidak lagi bertempur di medan laga memimpin pasukan, tetapi sesuai dengan kondisi jasmaninya ia terus berdoa kepada Wulan Dari. Ira Pramudawardhani. Andriyanto (Perjuangan dan Kegigihan Nyai Ageng Serang dalam Perang Diponegoro Tahun 1825-1. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Tuhan Yang Maha Esa demi keselamatan dan kesejahteraan bangsanya, pahlawanannya, dan References