Amran, dkk / Tropical Animal Science 7. :289-299 pISSN 2541-7215 eISSN 2541-7223 Tropical Animal Science. November 2025, 7. :289-299 DOI: 10. 36596/tas. Tersedia online pada https://ejournal. id/index. php/tas PENGARUH FERMENTASI KULIT KOPI DENGAN KAPANG Pleurotus ostreatus DAN Lentinus edodes TERHADAP PROTEIN KASAR DAN SERAT KASAR EFFECT OF COFFEE SKIN FERMENTATION WITH MOLDS Pleurotus ostreatus AND Lentinus edodes ON CRUDE PROTEIN AND CRUDE FIBER Muhammad Amran1*. Mustafa Kamal2. Ade Trisna1. Meli Rajina2. Firdaus Husein Situmorang3. Fajri Maulana4 Program Studi Peternakan. Universitas Sumatera Utara. Medan Program Studi Peternakan. Universitas Islam Kebangsaan Indonesia. Bireuen Program Studi Teknologi Produksi Ternak. Politeknik Lamandau. Lamandau Program Studi Teknologi Pakan Ternak. Politeknik Negeri Tanah Laut. Tanah Laut *Corresponding author: muhammadamran@usu. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fermentasi kulit kopi dengan kapang Pleurotus ostreatus dan Lentinus edodes terhadap protein kasar dan serat kasar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap Pola Faktorial (RALF), terdiri dari Faktor A: Perbedaan Mikroorganisme, yaitu A1: Lentinus edodes dan A2: Pleurotus ostreatus, sedangkan Faktor B: Perbedaan lama Hari fermentasi, yaitu B1: 3 hari. B2: 6 hari dan B3: 9 hari. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Peubah yang diamati adalah kualitas protein kasar (%) dan serat kasar (%). Hasil dari penelitian ini adalah tidak adanya interaksi (P>0,. antara jenis mikroorganisme dan lama hari fermentasi. Sedangkan setiap faktor memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,. dalam peningkatan kualitas kulit kopi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kulit kopi fermentasi menggunakan kapang Lentinus edodes dengan lama fermentasi 9 hari memberikan peningkatan protein kasar tertinggi dan penurunan serat kasar Nilai kandungan protein kasar didapatkan 19,86% sedangkan protein kasar kulit kopi sebelum fermentasi sebesar 11,16%. Kandungan serat kasar kulit kopi setelah difermentasi dengan Lentinus edodes sebesar 15,42% sedangkan kandungan serat kasar kulit kopi sebelum fermentasi sebesar 26,31%. Kata kunci : Fermentasi. Kulit kopi. Protein kasar. Serat kasar ABSTRACT This research aims to determine the effect of coffee skin fermentation with the molds Pleurotus ostreatus and Lentinus edodes on crude protein and crude fiber. The research method used was an experimental method with a Completely Randomized Factorial Design (CRDF), consisting of Factor A: Differences in Microorganisms, namely A1: Lentinus edodes and A2: Pleurotus ostreatus, while Factor B: Difference in length of fermentation days, namely B1: 3 days. B2: 6 days and B3: 9 days. Each treatment was repeated 3 times. The variables observed were the quality of crude protein (%) and crude fiber (%). The results of this research were that there was no interaction (P>0. between the type of microorganism and the length of fermentation days. Meanwhile, each factor had a very significant influence (P<0. in improving the Amran, dkk / Tropical Animal Science 7. :289-299 quality of coffee skin. The conclusion of this research is that fermented coffee skins using Lentinus edodes mold with a fermentation time of 9 days provide the highest increase in crude protein and the lowest decrease in crude fiber. The crude protein content value was found to be 19. 86%, while the crude protein of the coffee skin before fermentation was 11. The crude fiber content of the coffee skin after fermentation with Lentinus edodes was 15. 42%, while the crude fiber content of the coffee skin before fermentation was 26. Keywords: Fermentation. Coffee skin. Crude protein. Crude fiber PENDAHULUAN Limbah kulit kopi mengandung 6,67% protein kasar, dengan serat kasar 18,28%, lemak 1,0%, kalsium 0,21% dan fosfor 0,03% (Khalil. Nilai nutrisi yang terdapat pada kulit kopi masih dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak karena masih memiliki nilai nutrisi yang dibutuhkan oleh ternak. Kendala yang didapatkan pada kulit kopi adalah serat kasar yang tinggi sekitar 32,36%. Serat kasar yang tinggi tentunya akan mengurangi kecernaan pakan pada unggas sehingga perlu adanya pengolahan terlebih dahulu apabila dijadikan pada ternak unggas. Pengolahan kulit kopi dapat dilakukan dengan sentuhan fermentasi. Fermentasi merupakan salah satu alternatif dalam upaya meningkatkan nilai nutrisi pada kulit kopi dengan memanfaatkan bantuan mikroorganisme ataupun kapang (Sahara. Kapang yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pleurotus ostreatus dan Lentinus edodes. Jamur Pleurotus ostreatus . amur tira. bersifat lignoselulolitik karena mampu mendegradasi selulosa dan lignin yang merupakan komponen dari serat kasar. Pleurotus ostreatus digolongkan white rot fungi dari kelompok Basidiomycetes yang dapat mendegradasi lignin lebih ektensif karena menghasilkan enzim ligninolitik ekstraseluler yang terdiri dari lignin peroxidase (LiP) mangan peroxidase (MnP) dan laccase (Trisna et al, 2. , selain itu Jamur Pleurotus ostreatus juga menghasilkan enzim amylase dan enzim selulase serta enzim protease (Ade, 2. Menurut Laoli et al. kelebihan dari fermentasi menggunakan jamur Pleurotus ostreatus adalah dapat menghasilkan senyawa terbentuknya mevalonat, yang akhirnya menghambat terbentuk kolesterol. Diharapkan dengan adanya fermentasi dengan kapang Pleurotus ostreatus dapat meningkatkan nilai nutrisi kulit kopi. Adanya aktivitas enzim ligninase dari Pleurotus ostreatus dilaporkan oleh Badarina et al. bahwa limbah kopi yang difermentasi dengan Pleurotus ostreatus dapat meningkatkan kandungan protein kasar sebesar 17,2% dan menurunkan lignin sebesar 31,12%. Fermentasi substrat campuran lumpur sawit dan dedak dengan perbandingan . : . yang diinkubasi Pleurotus ostreatus sudah dicobakan oleh Nuraini et al. dapat menurunkan serat kasar substrat sebesar 41,10% yaitu dari 23,84% menjadi 14,04%. Lentinus edodes juga dapat digunakan dalam penurunan serat kasar pada bahan pakan dan dapat meningkatkan kadar Lentinus menghasilkan enzim selulase yang bisa menurunkan kandungan serat kasar dari kulit buah kopi, sehingga dapat meningkatkan kecernaan serat kasar. Lentinus edodes dapat tumbuh pada substrat yang mengandung lignin dan selulosa karena merupakan fungi pelapuk putih yang dapat mendegradasi lignin dan selulosa (Fajri, 2. Menurut Oklerina . Lentinus edodes juga menghasilkan enzim protease yang berfungsi untuk memecah protein menjadi peptida atau ikatan asam amino yang lebih sederhana supaya mudah dicerna oleh tubuh. Amran, dkk / Tropical Animal Science 7. :289-299 Fermentasi kulit buah coklat dengan Lentinus edodes dengan dosis inokulum 10% dan lama fermentasi 9 hari dapat menurunkan serat kasar sebanyak 32,50% . ari 27,75% sebelum fermentasi menjadi 18,73%) setelah fermentas. serta diperoleh kecernaan serat kasar sebanyak 54,57% (Yedi, 2. Hasil penelitian tentang kulit buah kopi telah dilakukan oleh Oklerina . bahwa fermentasi menggunakan kapang Phanerochaete chrysosporium dengan komposisi 70% kulit buah kopi dan 30% ampas tahu dapat menurunkan serat kasar sebesar 20,49% . ,08 menjadi 19,94%). Akan tetapi penurunan serat kasar pada penelitian ini tidak terlalu signifikan sehingga perlu mencari mikroorganisme yang lain saperti halnya kapang Lentinus edodes dan Pleurotus ostreatus yang diharapkan dapat meningkatkan protein kasar dan dapat menurunkan secara signifikan serat kasar dan lemak kasar yang terdapat pada kulit kopi sehingga limbah kopi berupa kulit kopi dapat dimanfaatkan menjadi alternatif bahan pakan dalam ransum unggas sebagai sumber protein MATERI DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari-Februari laboratorium Nutrisi dan Teknologi Pakan. Universitas Sumatera Utara. Alat dan Bahan Bahan penelitian ini antara lain kulit kopi yang didapatkan dari Takengon, jenis kapang yang digunakan Pleurotus ostreatus dan Lentinus edodes dari media online. Bahan penunjang fermentasi didapatkan dari penjualan komersil. Peralatan penelitian ini adalah timbangan analitik dengan merek ohause kapasitas 2610 g, seperangkat alat fermentasi . adah fermentasi, plastik dan laminar flow sederhan. menggunakan wadah plastik persegi panjang dengan ukuran 60 x 30 x 10 cm dan seperangkat peralatan untuk analisis protein kasar serta serat kasar. Rancangan Penelitian Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap Pola Faktorial (RAL Faktoria. dengan 2 kali 3 dan 3 ulangan. Faktor A adalah perbedaan jenis mikroorganisme dan faktor B adalah Perbedaan dosis yang dilakukan. Faktor A : Jenis Kapang A1 = Lentinus edodes A2 = Pleurotus ostreatus Faktor B : Perbedaan lama hari fermentasi B1 = 3 hari B2 = 6 hari B3 = 9 hari Model matematika dan rancangan yang digunakan dalam penelitian ini menurut Steel and Torrie . Data penelitian yang diperoleh diolah secara statistik dengan analisis ragam sesuai rancangan acak lengkap pola faktorial. Perbedaan antar perlakuan di uji dengan uji Duncans Multiple Range Test (DMRT). Prosedur Penelitian Persiapan Kulit Kopi Fermentasi Kulit kopi diambil di Takengan dari petani kopi. Kulit kopi terlebih dahulu di keringkan dibawah sinar matahari, setelah melalui tahap pengeringan lalu di tepungkan menggunakan alat penggiling tepung. Cara fermentasi menggunakan metode Nuraini et , . yaitu kulit kopi terlebih dahulu di ditambahkan dedak 20% sebagai porositas pada biakan. Kulit kopi 80% dan dedak 20% Lalu dimasukkan kedalam plastik yang berukuran 1 kg dan ditambahkan 90 ml aquades, lalu disterilkan dengan cara dikukus selama 30 menit selanjutnya dibiarkan suhu turun mencapai suhu kamar setelah itu diinokulasi dengan inokulasi kapang Pleurotus ostreatus dan Lentinus edodes dengan persentase 8% dari jumlah substrat, lalu diaduk secara merata dan diratakan dengan ketebalan 2 cm, kemudian diinkubasi sesuai perlakuan . hari, 6 hari dan 9 har. , setelah panen dilanjutkan pengeringan pada suhu 60AC sampai kering, setelah itu digiling halus dan dianalisa di laboratorium. Amran, dkk / Tropical Animal Science 7. :289-299 Diagram dapat dilihat pada gambar 1. Kulit Kopi 80% Dedak Penambahan aquades 90ml dan Disterilisasi dengan cara dikukus selama 30 menit setelah itu didinginkan mencapai suhu kamar H2SO4 0,1 N dan 3 tetes indicator metal merah lalu didestilasi sehingga tertampung destilat sebanyak 75 ml, . Isi labu Erlenmeyer dititrasi dengan NaOH 0,1 N sampai diperoleh warna larut kuning dan . Kadar protein dihitung berdasarkan kadar N dalam bahan dengan dikalikan factor konversi. Adapun rumus Association Of Official Agricurtural Chemist . adalah sebagai berikut : %N= %Protein Dosis Inokulum Substrat steril dalam laminar air flow Inkubasi 3, 6 dan 9 hari Uji Pengamatan Protein Kasar dan Serat Kasar Perameter Yang Diamati Analisa Kadar Protein Kasar Prinsip kadar protein adalah proses pembebasan nitrogen dari protein dalam bahan dengan menggunakan asam sulfat yang dilakukan dengan pemanasan. penentuan total menggunakan metode mikrokjeldahl. Prosedur analisa kadar protein adalah sebagai berikut : . Sampel ditimbang sebanyak 2gr, dihaluskan dan dimasukan dalam labu kjedahl 30 ml, ditambah 7,5 g K2SO4 , 0,3 g HgO dan 15 ml H2SO4 pekat, . Destruksi dilakukan sampai diperoleh warna hijau jernih setelah labu kjedahl dingin dan dimasukan kedalam labu suling, . Sebelum dipindahkan kelabu destilasi bahan didinginkan lalu ditambah 60 ml aquadest dan 20 ml larutan NaOH 50%, . Destilat ditampung di dalam labu Erlenmeyer yang sebelumnya telah diisi dengan 20 ml ycoyco yayayco ycu ycAyayayco ycu . ycAyci ycIycaycoycyyceyco ycU 100 = % Faktor Konversi . Analisa Kadar Serat Kasar (%) Serat kasar adalah semua zat organik yang tidak dapat larut dalam H2SO4 0,3 N dan dalam NaOH 1,5 N yang berturut- turut dimasak selama 30 menit . elulosa, lignin, sebagian dari pentosan- pentosa. Analisa bahan makanan terhadap kadar serat kasarnya dilakukan sebagai berikut (AOAC, 2. : 1. sampel ditimbang kira- kira sebanyak 0,5 -1 gram ( x gra. , dimasukkan ke dalam gelas piala 600 ml dan ditambahkan H2SO4 0,3 N lalu dipanaskan di atas pemanas listrik selama 30 Selanjutnya ditambahkan 25 ml NaOH 1,5 Ndan terus dimasak selama 30 menit. Cairan disaring melalui kertas saring yang bobotnya telah diketahui . serta sudah dikeringkan dalam alat pengering pada suhu 105- 110O C selama satu jam, kemudian dimasukkan ke dalam corong Buchner. Penyaringan dilakukan dalam penghisap yang dihubungkan dengan pompa vakum. Selama penyaringan endapan dicuci berturut- turut dengan aquades panas secukupnya, 50 ml H2SO4 0,3 N, aquades panas secukupnya dan terakhir dengan 25 ml acetone. Kertas saring dan isinya dimasukkan ke dalam cawan porselen dan dikeringkan selama satu jam dalam oven pada suhu 105 oC, kemudian didinginkan dalam eksikator dan ditimbang . Selanjutnya cawan porselen serta isinya dibakar atau diabukan dalam tanur listrik pada suhu 400- 600 0C sampai menjadi abu putih seluruhnya, kemudian diangkat dan Amran, dkk / Tropical Animal Science 7. :289-299 didinginkan dalam desikator dan ditimbang . Kadar serat kasar dihitung dengan menggunakan rumus : Kadar Serat Kasar (%) = ycaOeycaOeyca ycu 100% ycu x = bobot contoh a = bobot kertas saring b = bobot kertas saring sampel setelah dioven c = bobot kertas saring sampel setelah ditanur HASIL DAN PEMBAHASAN Protein kasar dari kulit kopi yang difermentasi dengan jenis mikroorganisme dan lama fermentasi berbeda disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Pengaruh Perlakuan Terhadap Kualitas Protein Kasar Kulit Kopi Faktor A Faktor B Rataa (Jenis (Lama Fermentas. Mikroorganis 15,6 16,0 19,8 17,19a 13,8 14,9 16,5 15,10b 14,7 15,5 18,1 Rataan Keterangan: Superskrip yang berbeda pada baris atau kolom yang sama menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata (P<0,. A1 = Lentinus edodes. A2 = Pleurotus . B1 = 3 Hari. B2 = 6 Hari. B3 = 9 hari Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi yang berbeda nyata (P>0,. antara jenis mikroorganisme dengan lama fermentasi. Sedangkan pada setiap faktor yaitu jenis mikroorganisme . aktor A) dan lama fermentasi . aktor B) menunjukkan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0,. terhadap protein kasar kulit kopi. Hasil uji DMRT ditinjau dari jenis mikroorganisme . aktor A) menunjukkan bahwa protein kasar kulit kopi pada perlakuan A1 (Lentinus edode. nyata (P<0,. lebih tinggi dari perlakuan A2 (Pleurotus ostreatu. Jika ditinjau dari lama fermentasi . aktor B) protein kasar kulit kopi pada perlakuan B3 . nyata (P<0,. lebih tinggi dari perlakuan B2 . dan perlakuan B1 . Protein kasar pada perlakuan B2 . berbeda tidak nyata (P>0,. dengan perlakuan B1 . Jenis mikroorganisme (Faktor A) menunjukkan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0,. terhadap protein kasar kulit kopi. Jenis mikroorganisme pada perlakuan A1 (Lentinus Edode. memiliki kadar protein kasar lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan A2 (Pleurotus ostreatu. Pada perlakuan A1 protein kasar meningkat dari 11,16% menjadi 19,86%, sedangkan pada perlakuan A2 meningkat dari 11,16% menjadi 15,10%. Tingginya peningkatan kadar protein kasar kulit kopi pada perlakuan A1 (Lentinus Edode. disebabkan oleh enzim yang diproduksi oleh kapang Lentinus edodes. Lentinus edodes menghasilkan enzim protease, enzim selulase, enzim ligninase dan enzim xylanase (Fonseca, 2. Naiknya protein kasar bukan hanya dari enzim yang dihasilkan oleh Lentinus edodes, tetapi juga dari asam nukleat tubuh mikroba tersebut. perlakuan lainnya disebabkan oleh suburnya pertumbuhan Lentinus edodes yang terbukti dari miselium yang tumbuh semakin banyak berwarna putih dan merata. Pertumbuhan miselium Lentinus edodes yang subur dipengaruhi oleh ketersediaan komposisi substrat yang cocok untuk pertumbuhan Lentinus edodes. Menurut Trisna et al. bahwa komposisi subtrat terutama imbangan C:N penting untuk pertumbuhan kapang karena rasio unsur karbon dan nitrogen akan menjadi faktor pembatas dalam metabolisme mikroba jika tidak seimbang. Ditambahkan oleh Nuraini et al. bahwa imbangan C:N yang cocok untuk pertumbuhan Lentinus edodes adalah 13:1 sampai 18:1, sehingga dapat menunjang pertumbuhan Lentinus edodes. Menurut Wang et al. bahwa substrat yang mengandung karbon, nitrogen, dan berbagai unsur mineral (K. Amran, dkk / Tropical Animal Science 7. :289-299 diperlukan untuk mendorong pertumbuhan kapang dan produksi enzim. Lentinus edodes mengandung protein kasar, serat kasar, polisakarida, vitamin B1, vitamin B2, vitamin C, niasin, folat dan mineral. Menurut Nalage et al. dan Sharma dan Jaipur . bahwa fungi . apang dan jamu. mengandung protein . -50%) dan asam nukleat . -14%). Bakteri mengandung protein . -78%) dan asam nukleat . -16%). Perlakuan A2 (Pleurotus ostreatu. memiliki peningkatan protein kasar yang lebih rendah yaitu dari 11,16% menjadi 15,10% diduga kemampuan kapang menghasilkan enzim protease lebih sedikit dibandingkan dengan Lentinus edodes. Pleurotus ostreatus merupakan kapang selaput putih yang sering digunakan dalam proses fermentasi serat, namun pada penelitian ini kapang ini memiliki kemampuan yang lebih rendah dibandingkan dengan kapang Pleurotus ostreatus. Menurut Mega . bahwa kemampuan kapang menghasilkan enzim protease merupakan dasar peningkatan protein, semakin meningkat enzim yang dihasilkan maka protein kasar akan meningkat hal ini karena enzim yang dihasilkan mikroba juga merupakan protein. Peningkatan kandungan protein kasar terjadi karena adanya sumbangan dari protein sel mikroba akibat pertumbuhannya yang subur dalam substrat. Menurut Mirzah et al. bahwa peningkatan protein kasar terjadi karena disumbangkan oleh sel mikroba akibat pertumbuhannya yang menghasilkan protein sel tunggal. Peningkatan kandungan protein setelah proses fermentasi disebabkan karena mikroorganisme yang terdapat pada jamur tiram putih walaupun masih lebih rendah dibandingkan oleh Lentinus edodes. Hasil penelitian ini tidak jauh berbeda dibandingkan dengan penelitian Ningsih . bahwa campuran 20% ampas tahu dan 80% limbah buah durian yang difermentasi dengan Lentinus edodes dapat meningkatkan protein kasar sebesar 60,43% . ari 11,83% sebelum fermentasi menjadi 18,98% setelah fermentas. Namun lebih rendah dari penelitian Syafitri . bahwa komposisi substrat dengan penambahan ampas tahu yang difermentasi dengan Lentinus edodes yaitu campuran 80% limbah buah nenas dan 20% ampas tahu merupakan komposisi substrat yang cocok dilihat dari peningkatan protein kasar sebesar 73, 99% . ,23% sebelum fermentasi menjadi 19,54% setelah fermentas. Perlakuan pada faktor B dilihat dari lama fermentasi kulit kopi perlakuan B3 . lebih tinggi peningkatan protein kasar dibandingkan dengan perlakuan B1 . dan B2 . Tingginya peningkatan protein kasar pada perlakuan B3 . disebabkan membutuhakn waktu agar menjadi ikatan Pada penelitian ini perlakuan B3 . merupakan lama hari fermentasi terbaik dalam meningkatakan nilai nutrisi kulit kopi. Menurut Amran et al. bahwa cepat lambatnya fermentasi sangat menentukan jumlah enzim yang dihasilkan, semakin lama waktu fermentasi yang digunakan akan semakin banyak bahan yang akan dirombak oleh enzim tetapi dengan bertambahnya waktu fementasi maka ketersediaan nutrien didalam media berkurang sehingga kapang lama kelamaan akan mati. Serat kasar dari kulit kopi yang difermentasi dengan jenis mikroorganisme dan lama fermentasi berbeda disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Pengaruh Perlakuan Terhadap Kualitas Serat Kasar Kulit Kopi Faktor A Faktor B (Jenis (Lama Fermentas. Rataa Mikroorganis 20,5 18,4 15,4 18,15a 21,0 20,2 18,0 19,76a 20,7 19,3 16,7 Rataan Amran, dkk / Tropical Animal Science 7. :289-299 Keterangan: Superskrip yang berbeda pada baris atau kolom yang sama menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata (P<0,. A1 = Lentinus edodes. A2 = Pleurotus . B1 = 3 Hari. B2 = 6 Hari. B3 = 9 hari Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi yang berbeda nyata (P>0,. antara jenis mikroorganisme dengan lama fermentasi. Sedangkan pada setiap faktor yaitu jenis mikroorganisme . aktor A) dan lama fermentasi . aktor B) menunjukkan pengaruh berbeda nyata (P<0,. terhadap serat kasar kulit kopi. Hasil uji DMRT ditinjau dari jenis mikroorganisme . aktor A) menunjukkan bahwa serat kasar kulit kopi pada perlakuan A1 (Lentinus edode. berbeda tidak nyata (P>0,. dari perlakuan A2 (Pleurotus ostreatu. Jika ditinjau dari lama fermentasi . aktor B) serat kasar kulit kopi pada perlakuan B3 . nyata (P<0,. lebih rendah dari perlakuan B2 . dan perlakuan B1 . Serat kasar pada perlakuan B2 . berbeda tidak nyata (P>0,. dengan perlakuan B1 . Jenis mikroorganisme pada perlakuan A1 (Lentinus Edode. memiliki kadar serat kasar lebih rendah secara angka dibandingkan dengan perlakuan A2 (Pleurotus ostreatu. tapi secara statistika tidak menunjukkan pengaruh yang nyata. Rendahnya kadar serat kasar kulit kopi pada perlakuan A1 (Lentinus Edode. diduga disebabkan oleh substrat yang telah didegradasi oleh enzim selulosa yang dihasilkan oleh kapang. Aktivitas enzim selulase pada perlakuan A1 (Lentinus Edode. diduga lebih tinggi dibandingkan dengan aktivitas enzim selulase yang terdapat pada perlakuan A2 (Pleurotus ostreatu. Serat kasar pada perlakuan A1 (Lentinus Edode. turun dari 26,31% menjadi 18,15% sedangkan pada perlakuan A2 Pleurotus ostreatu. turun dari 26,31% menjadi 19,76% perbedaan penurunan antara kedua perlakuan tidak signifikan. Hendri et al. menyatakan bahwa enzim selulase mampu mendegradasi selulosa melalui proses katalis untuk melepaskan gula . Rendahnya serat kasar juga disebabkan Lentinus edodes menghasilkan enzim ligninase yang merombak lignin sehingga serat kasar setelah fermentasi rendah. Hal ini didukung oleh Ismail et al. bahwa kemampuan Lentinus edodes dalam proses biodegradasi lignin disebabkan jamur ini menghasilkan enzim ligninase. Enzim ligninase terbagi atas tiga yaitu lignin peroksidase (LiP), mangan dependen peroxidase (MnP) dan Penurunan kandungan serat kasar setelah fermentasi disebabkan oleh enzim ekstraseluler terutama selulase yang dihasilkan oleh Lentinus edodes mengakibatkan degaradasi pada komponen dinding sel serat kasar. Mirnawati et al. menyatakan bahwa enzim selulase dapat memecah selulosa menjadi glukosa di dalam substrat untuk menghasilkan energi sehingga kandungan serat kasarnya berkurang. Lentinus edodes mampu menghasilkan enzim pendegradasi selulosa meliputi: enzim exo--1,3-glukanase, endo- 1,3-glukanase, -glucosidase cellobiohydrolase (Sibanda et al. , 2. Menurut Liu et al. bahwa enzim selulase mampu mendegradasi selulosa melalui proses katalis untuk melepaskan gula . Penurunan fermentasi juga disebabkan oleh adanya enzim ligninase yang dihasilkan oleh Lentinus edodes yang dapat mendegradasi lignin. Menurut Liu et al. bahwa enzim ligninase dan selulase memiliki arti penting bagi pertumbuhan Lentinus edodes, enzim ini dapat mendegradasi lignin dan menghancurkan struktur biomassa lignoselulosa sedangkan selulase dapat mengkatalisis hidrolisis selulosa untuk mendapatkan glukosa, proses degradasi lignoselulosa adalah pendegradasian lignin, degradasi lignin akan membebaskan selulosa sehingga meningkatkan ketersediaan selulosa kemudian akan di sekresikan enzim selulase untuk mengkatalisis hidrolisis selulosa, mendapatkan glukosa. Lentinus edodes mampu mendegradasi lignin dan selulosa karena jamur ini bisa menghasilkan enzim pendegradasi Amran, dkk / Tropical Animal Science 7. :289-299 lignin seperti lignin peroksidase (LiP), mangan peroksidase (MnP) dan lakase (Sibanda et al. Penurunan kandungan serat kasar yang rendah pada perlakuan A2 (Pleurotus ostreatu. juga dapat disebabkan juga oleh populasi mikroba yang tumbuh lebih sedikit. Hendri et , . menyatakan bahwa mikroba yang banyak pada substrat akan mempercepat fase adaptasi sehingga pertumbuhannya juga semakin cepat dan semakin banyak mikroba yang menghasilkan enzim selulase dan komponen serat yang dipecah semakin banyak menghasilkan produk fermentasi yang lebih baik kualitasnya begitu juga sebaliknya, jika mikroba pada substrat sedikit makan akan mengahasilkan enzim selulase yang rendah sehingga kemampuan dalam mendegradasi serat kasar akan semakin rendah. Sama halnya menurut Barde et al. bahwa penurunan kadar serat kasar disebabkan adanya hidrolisa dari spesies jamur Pleurotus ostreatus yang dapat memecah dinding sel dan meningkatkan degradasi dari serat kasar. Rendahnya aktivitas enzim selulase pada perlakuan A2 juga dapat mengakibatkan hanya sedikit proses degradasi serat kasar yang Menurut Mirnawati et al. bahwa penurunan kandungan serat kasar akibat aktivitas enzim yang dihasilkan mikroba selama proses fermentasi akan mendegradasi komponen serat kasar. Hidrolisis enzimatik yang sempurna diperlukan aksi sinergis dari 3 tipe enzim selulase, pertama yaitu Endo-1,4-D-glucanase . ndoselulase, carboxymethylcellulase atau CMCas. , yang mengurai polimer selulosa secara random pada ikatan internal -1,4glikosida untuk menghasilkan oligodekstrin dengan panjang rantai yang bervariasi. Kedua Exo-1,4--D glucanase 14 . , yang mengurai selulosa dari ujung pereduksi dan non pereduksi untuk menghasilkan selobiosa dan glukosa. Ketiga glucosidase . , yang mengurai selobiosa untuk Didapati penelitian ini tidak jauh berbeda dengan penelitian Sutri . bahwa fermentasi limbah durian . % kulit buah 25% biji duria. dan ampas tahu dengan Lentinus edodes dapat menurunkan serat kasar sebesar 28,81% . ebelum fermentasi 15,19% menjadi 21,34%). Pada Faktor B pada lama fermentasi didapatkan perlakuan B3 . lebih rendah penurunan serat kasar kulit kopi dibandingkan dengan perlakuan B1 . dan B2 . Penurunan serat kasar pada lama hari fermentasi berkaitan dengan enzim yang akan dihasilkan, semakin panjang waktu fermentasi yang diberikan mengakibatkan Lentinus edodes dan Pleurotus ostreatus yang menghasilkan enzim selulase semakin optimal merombak selulosa sehingga serat kasar setelah fermentasi menjadi rendah. Sesuai dengan pendapat Trisna et al. yang menyatakan bahwa semakin lama fermentasi mengakibatkan kesempatan yang lebih panjang dari enzim selulase untuk dapat merombak serat kasar lebih optimal. Tingginya aktivitas enzim selulase yang dihasilkan pada perlakuan B3 . dibandingakn dengan perlakuan lainnya mengakibatkan kandungan selulosa menjadi turun sehingga kandungan serat kasar menjadi Ini terbukti dengan terjadinya penurunan selulosa pada perlakuan B3 yaitu kandungan serat kasar 26,31% turun menjadi 16,74%. KESIMPULAN Penelitian fermentasi kulit kopi 80% dan dedak 20% dengan menggunakan jenis kapang berbeda dan lama hari fermentasi yang berbeda disimpulkan bahwa tidak adanya interaksi antara kapang dengan lama hari Sedangkan memberikan pengaruh sangat nyata. Penelitian kulit kopi fermentasi menggunakan kapang Lentinus edodes dengan lama fermentasi 9 hari memberikan peningkatan protein kasar tertinggi dan penurunan serat kasar terendah. Nilai kandungan protein kasar didapatkan 19,86% dari sebelum fermentasi kandungan kulit kopi sebesar 11,16%. Sedangkant kandungan serat kasar setelah difermentasi Amran, dkk / Tropical Animal Science 7. :289-299 dengan kapang Lentinus edodes sebesar 15,42% lebih rendah dibanding perlakuan lainnya dan kandungan serat kasar sebelum fermentasi sebesar 26,31%. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terimakasih membantu pada pembuatan artikel ini. DAFTAR PUSTAKA