Calvina Natania Komala. Elisabeth Isti Daryati. Paramitha Wirdani Ningsih Marlina Hubungan Toxic Parents Dengan Perilaku Seks Pra Nikah HUBUNGAN TOXIC PARENTS DENGAN PERILAKU SEKS PRA NIKAH Calvina Natania Komala1. Elisabeth Isti Daryati2. Paramitha Wirdani Ningsih Marlina3 STIK Sint Carolus. Jl. Salemba Raya No. RT. 3/RW. Paseban. Kec. Senen. Kota Jakarta Pusat. Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10440. Indonesia. Email: vinacnk@gmail. STIK Sint Carolus. Jl. Salemba Raya No. RT. 3/RW. Paseban. Kec. Senen. Kota Jakarta Pusat. Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10440. Indonesia. Email:isti@stiksintcarolus. STIK Sint Carolus. Jl. Salemba Raya No. RT. 3/RW. Paseban. Kec. Senen. Kota Jakarta Pusat. Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10440, . Indonesia. Email: isti@stiksintcarolus. ABSTRAK Latar belakang: Toxic parents merupakan perilaku orang tua yang memperlakukan anak secara tidak baik dan tidak hormat serta menimbulkan perasaan bersalah, ketakutan dan perasaan over patuh pada Sikap toxic yang berkepanjangan akan membentuk sebuah pola yang berdampak negatif seperti perilaku seks pranikah. Kurangnya perhatian orang tua dan banyaknya aturan dan perintah terhadap anak meningkatkan perilaku seksual remaja yang berisiko. Tujuan : Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan toxic parents dengan perilaku seks pranikah pada remaja. Metode: Jenis penelitian kuantitatif dengan desain deskritif korelatif melalui pendekatakan cross Penelitian dilakukan terhadap 71 responden. Instrumen penelitian berupa kuesioner. Hasil: Gambaran responden 70,4% pernah berpacaran, 66,2% melakukan sexting dan berfantasi seks, dan 47,9% memiliki pola toxic parents dominan. Analisis data menggunakan uji KendallAos Tau-C menunjukan nilai p = 0. = <0. tidak adanya hubungan toxic parent terhadap perilaku seks pra nikah pada remaja. Simpulan: Tidak ada hubungan antara toxic parents dengan perilaku seks pra nikah pada remaja. Terdapat faktor lainnya yang memungkinkan terjadinya perilaku seks pranikah pada remaja contohnya peran teman sebaya, paparan media pornografi, dan pengetahuan remaja. Kata Kunci: toxic parents, sex pranikah ABSTRACT Background: Toxic parents are parental behavior that treats children badly and disrespectfully and causes feelings of guilt, fear and over-obedience in children. Prolonged toxic attitudes will form a pattern that has a negative impact such as premarital sexual behavior. Lack of parental attention and many rules and orders to children increase risky adolescent sexual behavior. Objective : This study aims to determine the relationship between toxic parents and premarital sexual behavior in adolescents. Methods: This type of research is quantitative research with a descriptive correlative design through a cross-sectional approach. The study was conducted on 71 respondents. The research instrument was a Results: The results showed that 70. 4% of respondents had dated, 66. 2% did sexting and fantasized about sex, and 47. 9% had a dominant toxic parent pattern. Data analysis using the Kendall's Tau-C test showed no relationship between toxic parents and premarital sexual behavior in adolescents with a p value of 0. = <0. Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 5 No. 2 Tahun 2024 Conclusion: There is no relationship between toxic parents and premarital sexual behavior in There are other factors that can lead to premarital sexual behavior in adolescents, for example the role of peers, exposure to pornographic media, and adolescent knowledge. Keywords: Toxic parents, sex premarital PENDAHULUAN Banyak remaja menunjukkan perilaku seks pranikah. Survei Komisi Perlindungan perilaku sexting cenderung berisiko dalam perilaku sexual (Mori et al. , 2. Anak Indonesia (KPAI) di tahun 2018 Banyak orangtua yang beranggapan menunjukkan setidaknya 97% dari 4500 bahwa mereka telah menerapkan bentuk remaja SMP dan SMA di 12 kota, sudah pola asuh yang benar, tetapi kenyataannya terpapar konten pornografi dan pada tahun merusak mental anak. Sikap tersebut disebut 2019 menunjukkan 62,7% remaja sudah toxic (Forward and Buck, 2010. Al Ubaidi, melakukan hubungan seks (Kemenko PMK. Toxic parents dapat didefinisikan Fenomena ini diungkapkan juga oleh penelitian lainnya, terdapat 51% dari 306 memperlakukan anak secara tidak baik dan remaja memiliki perilaku seksual berisiko tidak hormat serta menimbulkan perasaan (Jagadita dan Daryati, 2. bersalah, ketakutan dan perasaan over patuh Tingginya pada anak. Sikap toxic yang berkepanjangan pranikah pada remaja didasari oleh beberapa Faktor yang mendasari perilaku berdampak negatif. seksual remaja meliputi pengaruh pola asuh . , toxic parents dibagi menjadi tiga, orang tua sebanyak 18,9%, pengaruh teman yaitu ketidakpedulian terhadap anak, suka sebaya sebanyak 32,2%, paparan media membandingkan anak, dan pembuat trauma. 25,6%, Menurut Oktariani 14,4% Perilaku anak yang dapat timbul dalam lingkungan tersebut antara lain kecemasan perilaku seksual (Padut et al. , 2. tinggi, kesepian, tidak konsisten, kesulitan Penggunaan membangun prinsip hidup, dorongan agresif, menjadi peluang dalam seks online . menentang aturan sosial, menutup diri, sulit karena remaja menggunakannya sebagai mengekspresikan emosi, tergantung pada orang lain, gangguan fisik dan depresi Seringnya penggunaan media (Oktariani, 2. sosial memiliki hubungan erat dengan Komunikasi, keterlibatan dalam sexting (Tito et al. , 2. psikologis dan pengawasan orangtua yang Faktanya sebanyak 24,9% remaja dengan konsisten ditemukan sebagai bagian penting Calvina Natania Komala. Elisabeth Isti Daryati. Paramitha Wirdani Ningsih Marlina Hubungan Toxic Parents Dengan Perilaku Seks Pra Nikah (Norman, disebarkan melalui google form. Analisis Kurangnya data menggunakan uji KendallAos Tau-C. perhatian orang tua dan banyaknya aturan Pada vaiebel toxic parents ditentukan dan perintah terhadap anak meningkatkan dengan menggunakan 3 indikator ciri orang kerentanan perilaku seksual berisiko. Tanpa tua yaitu komunikasi yang baik, remaja beranggapan menuntut/memaksa bahwa aturan merupakan suatu bentuk keinginan orang tua, dismissive parents sehingga remaja cenderung mengeksplorasi merendahkan, mengkiritk sampai melakukan pergaulannya (Maulida et al. , 2. pageant parents cenderung kekerasan secara fisik (Dunham, 2. Dengan demikian, orang tua sebagai Penilaian skor sangat setuju = 4, setuju= 3, komunitas terdekat anak idealnya menjadi tidak setuju= 2, sangat tidak setuju=1. Hasil kendali utama untuk mencegah terjadinya kategori yaitu: Penelitian ini bertujuan untuk menemukan adanya hubungan toxic parents terhadap Toxic parents sangat dominan (Mi 1,5 Sdi < . perilaku seks pranikah pada remaja. Toxic parents dominan (Mi O x O Sdi 1,5 Sd. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian 1,5 Sdi O x < M. kuantitatif korelatif dengan desain cross Teknik Toxic parents tidak dominan . < Mi Ae 1,5 Sd. Sedangkan pada variabel perilaku seks parents dan perilaku seks pranikah remaja pra nikah dengan skor penilaian Tidak=1, masing-masing ada 18 item pernyataan. Ya=2. Hasil akhir penilaian dikatakan Penelitian ini dilakukan di SMA X pada perilaku seks berisiko jika total skor > 28 siswa kelas 10 dan 11. Jumlah populasi dan tidak berisiko jika total skor x O 28 (Jagadita. Daryati, 2. Toxic parents cukup dominan (Mi Ae Sesuai penghitungan sampel dengan rumus slovin. HASIL DAN PEMBAHASAN 71 siswa berpartisipasi dalam penelitian ini. Instrumen penelitian kuesioner digunakan Dalam hasil ini peneliti menyajikan untuk gambaran dan frekuensi toxic parents analisis data pada setiap variabel penelitian dan perilaku seks pranikah pada remaja yang Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 5 No. 2 Tahun 2024 yaitu variabel toxic parents dan variabel perilaku seks Tabel 1 Distribusi Total Toxic parents Toxic parents Sangat dominan Dominan Cukup dominan Tidak dominan Total Sumber: data primer. Tabel 1 di atas memaparkan hasil melibatkan hubungan emosional antara anak keempat kategori toxic parents yaitu sangat dominan, dominan, cukup dominan dan merupakan tipe orang tua yang menghina, tidak dominan secara keseluruhan. Hasil seperti meremehkan, mengkritik, mengutuk 6% responden sangat dominan, dan memeras secara emosional (Dunham et 9% responden dominan, 29% responden , 2. Toxic parents mengarah pada cukup dominan dan 5. 6% responden tidak pola hubungan orang tua yang tidak sehat Data ini menggambarkan bahwa seperti pengabaian emosional, manipulasi, tingkat kecenderungan toxic parents lebih dan/atau kekerasan fisik maupun verbal. banyak mengarah ke arah dominan. Sedangkan perilaku seks pranikah, merujuk Toxic parents ada pada ketiga dimensi Contemptuous pada perilaku seksual yang biasa dilakukan pola asuh yaitu pageant parents, dismissive parents, dan contemptuous parents. Pageant Remaja parents adalah kondisi di mana orang tua menganggap keberhasilan anak merupakan komunikasi yang tidak baik dengan orang tua hal ini membuat anak menutup diri cenderung memaksa dan/atau menuntut anak sehingga anak tidak mempunyai pegangan untuk melakukan apa yang diinginkan orang dalam berperilaku, termasuk perilaku seks Dismissive parents adalah kondisi di Perasaan diabaikan dan tidak mana hubungan orang tua dan anak tidak dekat, di mana orang tua tidak melibatkan berperilaku seks pranikah dengan alasan peran dalam pengasuhan anak baik secara mencari perhatian dan mengisi kekosongan emosional (Dunham et al. , 2. Dismissive dan/atau Calvina Natania Komala. Elisabeth Isti Daryati. Paramitha Wirdani Ningsih Marlina Hubungan Toxic Parents Dengan Perilaku Seks Pra Nikah Tabel 2. Distribusi Perilaku Seks Pranikah Perilaku seks Seks Berisiko Seks Tidak Berisiko Total Sumber: data primer. Berdasarkan mendorong rangsangan seksual dari teks, perilaku seks berisiko lebih tinggi dengan foto ataupun video menjadi menyentuh alat 1% dibandingkan perilaku seks kelamin, seks oral, seks anal bahkan tidak berisiko sebanyak 47. Dalam 18 hubungan seks (Houck et al. , 2. butir kuesioner perilaku seks ini didapatkan Dampak 70,4% pernah memiliki pacar, 19,7% pernah terjadinya kekerasan seksual dan gangguan melakukan hubungan seks, 67,6 % suka kesehatan mental pada remaja (Kusuma, berfantasi tentang seks. Pada perilaku Menurut Mansor et al. , ada sexting mayoritas remaja melakukan berupa banyak faktor yang memicu perilaku sexting, mengirim/meminta pesan teks/tulisan, foto dan video berbau pornografi sebesar 66,2%. Penemuan ini menjawab penelitian faktor psikososial, teman sebaya, keluarga, sebelumnya Jagadita & Daryati . , penggunaan internet dan aktivitas terkait bentuk-bentuk seksual remaja di dunia maya. Sexting berdampak negatif bagi remaja seperti Tabel 3. Hubungan Toxic parents dengan Perilaku Seks Sangat dominan Dominan Perilaku seks Perilaku seks tidak berisiko Cukup Dominan Tidak Dominan Total Sumber: data primer. Berdasarkan tabel 3 diatas, hasil p<0. 05, didapatkan Ha ditolak bahwa tidak penelitian yang diuji melalui uji statistik adanya hubungan antara toxic parents dengan perilaku seks . dengan hasil KendallAos Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 5 No. 2 Tahun 2024 p = 0. Tabel 3 memaparkan adanya perbedaan angka yang kurang signifikan antara keempat kategori toxic parents mengirim/menerima informasi yang berbau dengan perilaku seks pranikah menjadi pornografi . Hal-hal tersebut dapat alasan Ha ditolak. Sejalan dengan penelitian Jagadita dan Daryati . , menunjukkan remaja untuk melakukan seks pranikah. tidak ada hubungan yang signifikan antara Alasan pola asuh orang tua dengan perilaku seks adalah sampel yang minim sehingga angka berisiko pada remaja sekolah menengah atas tidak tampak secara signifikan. Jumlah . = 0. sampel dalam penelitian yang mampu Toxic parents dapat berdampak negatif merepresentatifkan kejadian toxic parents secara psikologis dan emosional secara tidak dapat memberikan peluang keakuratan hasil. langsung terhadap perilaku remaja. Pola pengabaian dan rendahnya penghargaan orang tua pada remaja dapat menjadi salah satu alasan yang mendorong lemahnya batasan-batasan Ditambah, merupakan fase perkembangan emosional dan eksplorasi dalam menentukan jati diri mereka sehingga lingkungan eksternal akan mempengaruhi terbentuknya perilaku. Maka kondisi lain yang memungkinkan lemahnya korelasi antara toxic parents dengan perilaku seks pranikah pada remaja antara lain pengaruh teman sebaya, paparan media pornografi, dan terhadap risiko perilaku seksual (Padut et al. Meskipun orang tua bukan faktor utama dalam perilaku seks pranikah pada remaja, peran orang tua dibutuhkan dalam memberikan pendidikan seks, menetapkan nilai dan norma, pembentukan identitas SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kategori toxic parents lebih cenderung pada dominan . 9%) dan . %). Perilaku pranikah berisiko lebih tinggi dengan nilai 9% sedangkan perilaku seks pranikah Hasil analisis diperoleh bahwa tidak ada hubungan antara toxic parents dengan perilaku seks pranikah pada remaja dengan nilai p=213 (> Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut dengan memperluas variabel menggunakan metode kualitatif misalnya latar belakang orang tua yang toxic parents . ntuk menggali variabel toxic parent. dan alasan perilaku seks dari remaja itu sendiri. DAFTAR PUSTAKA