Provitae Jurnal Psikologi Pendidikan 2016. Vol. No. 2, 20 - 39 PENERAPAN PENDIDIKAN SEKSUAL OLEH GURU DAN ORANG TUA BAGI REMAJA BERKEBUTUHAN KHUSUS Niken Widi Astuti dan Noeratri Andanwerti Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Abstract Sex education for adolescent with special needs becomes a necessity. In term of it, besides based on philosophical a juridical, sex education is the preventive efforts in order that every child with special needs can recognize, understand in handle biological development and change. In addition sex education for adolescent with special needs also aims at guiding them to appreciate others peopleAos sexual behavior and not to make them being stuck on deviate sex conduct as well as not getting violence and sexual abuse from others. This is because their physical and psychological condition, which has some problems, enables them to be easily manipulated and courted so that many of them are often stuck to be an object of sexual harassment of irresponsible person. The method used is qualitative method in form of case study, data collection, using interviews and observation. Subjects in this research were two teachers and three parents. This research specifically is going to explain the concept of sexual education for adolescent with special needs, the anvil of sex education, as well as material, method, parents and teacher competencies in the implementation of sex education for them. Keywords: sex education, the adolescent with special needs Pendahuluan Jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia Niken Widi Astuti adalah Dosen Fakultas Psikologi UNTAR Jakarta. Noeratri Andanwerti adalah dosen Fakultas Seni Rupa dan Disain. Korespondensi artikel dialamatkan ke e-mail nikenw@fpsi. bertambah jumlahnya. Data sensus nasional oleh Biro Pusat Statistik menyatakan tahun 2003 penyandang Niken Widi Astuti. Noeratri Andanwerti cacat di Indonesia 0,7% dari jumlah maka remaja berkebutuhan khusus 572 atau sebanyak juga akan mengalami masa pubertas. 000 jiwa. Jumlahnya semakin Pada masa ini, remaja mengalami bertambah pada tahun 2009 hingga kematangan seksual (Santrock, 2. , 998 jiwa. Data tersebut sehingga pendidikan seksual dalam kemungkinan besar terus mengalami hal ini sangatlah diperlukan. Masalah peningkatan hingga sekarang . alam pendidikan seksual ini menjadi suatu Depdiknas, 2. Anak berkebutuhan hal yang penting untuk diperhatikan, khusus tersebut terdiri dari beberapa jenis gangguan, misalnya Attention keterbatasan dalam hal-hal tertentu. Deficit Hyperactivity Disorder Pendidikan (ADHD). Autism Spectrum Disorder (ASD). Conduct Disorder. Depression. Anxiety. Post Traumatic Stress Obsessive memahami diri mereka sendiri, nilai- Intellectual nilai dan perilaku yang diharapkan Compulsive Disorder. Disorder. Disorder dan Learning Disabilities (Kring. Johnson. Davison, & Neale, berkebutuhan khusus ini memang Apapun jenis gangguannya, anak Walau berkebutuhan khusus tersebut lambat- mengingat masih harus dilakukan laun akan menjadi seorang remaja. perbaikan kurikulum dan sumberdaya Selayaknya remaja pada umumnya, manusia/para guru/pendidik, pelatihan Penerapan pendidikan seksual oleh guru dan orang tua bagi remaja berkebutuhan khusus guru-guru. Penelitian ini diawali dengan pengukuran dampak pengajaran, dan berkebutuhan khusus yang saat ini pendidikan seksual itu sendiri. Masalah-masalah sebuah universitas di Jakarta Barat. berhubungan dengan seksual remaja Secara fisik dan kognitif remaja ini mampu mengikuti kuliah dengan baik khusus yang melakukan masturbasi, dan lancar meskipun pendampingan terutama para prianya. Selain itu selalu diberikan. Hanya saja dari segi adanya masalah pelecehan seksual, emosi dan sosial masih mengalami Menurut Hastuti . , tidak hanya di dalam negeri, setiap tahunnya 1400 remaja Remaja berkebutuhan khusus di negara Inggris memahami fungsi seksual dirinya, sehingga seringkali menanyakan suatu Begitu pula kasus kekerasan hal yang berkaitan dengan seks pada orang lain, secara terbuka dan sedikit Amerika Serikat Kondisi dinyatakan 1,5 kali lebih rentan mengganggu orang lain di sekitarnya, menjadi korban seksual dibandingkan karena menanyakan suatu hal yang masyarakat umum. berkaitan dengan fungsi seksual yang Niken Widi Astuti. Noeratri Andanwerti sudah diketahui para remaja pada biologis yang terjadi pada diri remaja. Maka peneliti ingin memberikan intervensi psikoedukasi pendidikan Kajian Pustaka seksual bagi remaja berkebutuhan Pengertian remaja berkebutuhan Peran yang paling penting adalah guru dan orang tua karena Remaja diberikan dengan kondisi remaja yang perbedaan dalam keadaan dimensi unik sangat perlu penanganan dari penting dari fungsi kemanusiaannya. Mereka remaja mengatasi masalah perubahan kognitif, atau sosial terhambat dalam tubuh dan keterkaitan dengan perilaku Tujuan lain penelitian ini potensinya secara maksimal, sehingga adalah agar remaja lebih memahami memerlukan penanganan yang terlatih mengenai fungsi tubuh mereka secara umum dan fungsi seksual secara Smiley & Richards, 2. Disamping tujuan/kebutuhan (Taylor, seksual remaja berkebutuhan khusus Autism spectrum disorder berjalan sebagaimana remaja lain pada Penyebab Autism Spectrum Disorder (ASD) bermanfaat agar remaja tidak terkejut neurologis atau brain-based. Setiap Penerapan pendidikan seksual oleh guru dan orang tua bagi remaja berkebutuhan khusus social impairments. Karakteristiknya perbedaan dari gangguan komunikasi, adalah sebagai berikut: . kesulitan lemahnya interaksi sosial, repetitive, untuk berinteraksi dengan orang lain atau perilaku stereotype. Para peneliti sesuai konteks sosial. kesulitan mengindentifikasi bahwa mutasi dari untuk berkomunikasi dengan orang gen spesifik, yakni MeCP-2 menjadi lain, baik secara verbal maupun non penyebab dari timbulnya sindrom ini dan . perilaku yang kaku dan (Heward. Penyebab membatasi yang berulang. Perlu diingat bahwa remaja- lingkungan dapat berinteraksi dengan remaja dengan ASD tidak selalu faktor genetik selama masa yang rentan pada perkembangan. Beberapa faktor seperti masalah selama masa Sindrom Asperger mungkin memiliki . eperti kemampuan berkomunikasi yang baik, kekurangan oksigen saat melahirka. , sedangkan remaja dengan Autism infeksi virus, dan proses metabolism yang tidak seimbang dapat menjadi penyebab remaja menjadi ASD. Menurut Remaja tunarungu adalah individu beberapa hal mengenai karakter ASD yang pendengarannya tidak berfungsi DSM-IV-TR Tunarungu tumpang-tindih, namun ada beberapa karakteristik utama yang dikenal sebagai triad of (Mangunsong, 1. Menurut Salim Niken Widi Astuti. Noeratri Andanwerti . alam Solicha & Phill, 2. , remaja Faktor penyebab tunarungu Menurut penyebab terjadinya ketunarunguan kehilangan kemampuan mendengar. yaitu ketika sebelum ibu melahirkan. Hal Somantri . kerusakan atau tidak berfungsinya Faktor pertama yaitu pada saat belum melahirkan, yaitu salah satu orangtua atau kedua orangtua remaja yang menderita tunarungu atau bahasanya (Somantri, 2. Menurut mempunyai gen sel pembawa sifat Telfrod . alam Ketunarunguan juga dapat Mangunsong, 1. , tunarungu dapat terjadi ketika ibu sedang mengandung kemudian terserang suatu penyakit. Sarwey simptom-simptom seperti ketidakmampuan memusatkan diderita saat kehamilan tri semester kegagalan dalam merespon apabila pertama yaitu pada saat pembentukan diajak berbicara, terlambat berbicara atau melakukan kesalahan artikulasi, adalah rubella, morbili, dan penyakit dan mengalami keterbelakangan di lain yang belum diketahui. Kemudian, penyebab ketunarunguan juga dapat penyakit-penyakit Penyakit terjadi karena kekurangan vitamin atau kelebihan zat besi. Kemudian, obat-obatan Penerapan pendidikan seksual oleh guru dan orang tua bagi remaja berkebutuhan khusus meminum obat-obatan terlalu banyak. Dampak ketunarunguan pecandu alkohol, atau ibu tidak Penderita akan mengalami berbagai hambatan dalam perkembangannya, sehingga ia meminum obat penggugur kandungan (Somantri, 2. kecerdasan, dan penyesuaian sosial. Faktor yang kedua yaitu pada saat . Maka dari itu, untuk mengembangkan Ketunarunguan dapat terjadi karena optimal akan dibutuhkan layanan atau prematuritas, yaitu bayi yang lahir bantuan secara khusus (Efendi, 2. sebelum waktunya. Faktor yang ketiga adalah saat setelah melahirkan . ost Intervensi nata. , ketunarunguan yang terjadi berkebutuhan khusus karena infeksi yaitu peradangan pada Menentukan intervensi yang sesuai selaput otak . atau infeksi bagi remaja dengan ASD masih umum seperti difteri, morbili, dan merupakan isu yang kompleks, tidak Lalu. Ketunarunguan juga disebabkan oleh pemakaian obat-obatan ototoksi pada setiap remaja dengan ASD. Intervensi remaja-remaja. Setelah itu, kecelakaan yang efektif harus dapat divalidasi dapat mengakibatkan kerusakan alat secara ilmiah dan sesuai dengan pendengaran bagian dalam seperti jatuh (Somantri, 2. Terdapat 6 element yang biasanya sama, ditemukan pada setiap Niken Widi Astuti. Noeratri Andanwerti intervensi yang efektif, yaitu: . namun juga tidak lantas dibicarakan dukungan individual terhadap murid secara vulgar di tempat umum. dan keluarga, . instruksi yang . Pendapat terstruktur, . kurikulum khusus yang pemberian pengetahuan yang benar dan menyiapkan untuk beradaptasi . masalah perilaku, dan . keterlibatan memperoleh pengetahuan yang benar mengenai masalah-masalah seksual dan reproduksi (Madani, 2. Pengertian pendidikan seks Menurut Drever . , seks adalah Perkembangan seksual remaja Perkembangan remaja tidak hanya terjadi pada remaja dalam satu jenis yang membagi jenis normal, tapi juga dialami oleh remaja- ini menjadi dua bagian yaitu sperma remaja dengan kebutuhan khusus. untuk jantan dan sel telur untuk betina Maka mengajarkan seksualitas pada yang diproduksi. Menurut Wuryani remaja berkebutuhan khusus tentu . bukan hal yang mudah karena mereka pembicaraan yang peka, disatu sisi kurang memiliki fleksibilitas dalam sangat dibutuhkan, namun disisi lain menutup-nutupi, (Heward, 2. Penerapan pendidikan seksual oleh guru dan orang tua bagi remaja berkebutuhan khusus Menurut John Mortlock . alam Ashman & Elkins, 1. , tentang jenis kelamin dirinya sendiri dan orang lain. Etika sosial. berkebutuhan khusus dapat diberikan Mereka diajarkan untuk mengerti dan dengan beberapa cara: . Perilaku mampu bertindak sesuai dengan etika yang diperbolehkan. Kita melatih atau sopan santun. model-model Metode berupa kontak fisik yang bisa diterima Partisipan penelitian . ebagai Penelitian ini melibatkan enam orang tindakan orang dewas. Di sini subyek yang memiliki kriteria sebagai remaja diharapkan tahu mengenai berikut: . dua orang guru yang perilaku . erupa kontak fisi. yang mengajar di sekolah SLB (Tuna Rung. dan sekolah Autis, . Pengelompokan orang ibu yang memiliki remaja berkebutuhan khusus . ua orang ibu Mengajarkan pada remaja untuk betul- memiliki remaja autis dan satu ibu betul menyadari bahwa ia masuk pada memiliki remaja tuna rung. , . ibu satu jenis kelamin tertentu, dan kita perlu melatihnya agar ia tahu benar minimal pendidikan tamat SMA, . aktivitas yang merupakan respon yang usia remajanya 17-20 tahun, dan . berdomisili Jakarta dan Jawa Tengah. Hal yang menjadi dasar 35Ae50 . Niken Widi Astuti. Noeratri Andanwerti Jenis penelitian peneliti memberikan informed consent Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang melibatkan merekam proses wawancara. Setelah enam subyek. Desain penelitian yang selesai wawancara dengan para guru digunakan dalam penelitian ini adalah dan ibu anak berkebutuhan khusus, metode wawancara dan observasi. Metode wawancara penelitian ini berdasarkan wawancara yang telah memperoleh informasi yang sedalamdalamnya dari subyek, namun tetap Hasil temuan penelitian dan analisis data . ua orang gur. Subyek Pertama (SL) Menurut SL. Setting dan peralatan penelitian seksualitas pada remaja berkebutuhan Penelitian dilakukan di Sekolah X di khusus tentu bukan hal yang mudah. Jakarta Barat dan Sekolah Luar Biasa Pemberian Negeri Y di Semarang. Menurut SL materi yang umum dilakukan adalah sikap dan perilaku Prosedur penelitian yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Peneliti mendapatkan enam subyek Remaja autis biasanya akan menolak terdiri dari tiga guru dan tiga orang ketika dielus atau disentuh. Jadi pujian diberikan dengan mengacungkan ibu jari, atau tepuk tangan sebagai tanda Sebelum Penerapan pendidikan seksual oleh guru dan orang tua bagi remaja berkebutuhan khusus Guru perlu melatih agar anak atau remaja tahu benar aktivitas Pendidikan seks bagi remaja autis yang merupakan respon yang tepat memerlukan pola pembiasaan dan dalam situasi sosial orang dewasa. Hal modelling yang baik. Subyek Kedua (FN) kelamin dirinya sendiri dan orang lain. pemahaman identifikasi tentang jenis Remaja Mengajarkan seksualitas pada remaja berkebutuhan khusus tentu mengerti dan mampu bertindak sesuai tidak sulit tetapi juga tidak mudah, dengan etika atau sopan santun. Metode yang digunakan selama ini fleksibel dalam berpikir juga dalam adalah dengan menggunakan beberapa pemahamannya sangat terbatas. Maka metode yaitu: metode berkomunikasi pendidik perlu melatih remaja secara melalui gambar, metode pembelajaran perilaku melalui komunikasi secara tingkah laku yang baik, misalnya Metode Keteladanan perlu berupa kontak fisik yang bisa diterima diberikan karena remaja autis sering belajar melalui pengamatan terhadap tindakan orang dewas. Terlebih perilaku orang lain. Sikap keteladanan misalnya: bertutur kata baik, tidak pemberian pelukan, ciuman, sehingga bergurau dengan kata-kata kotor, tidak harus lebih berhati-hati. Remaja sudah memaki teman, tidak menampilkan harus mengetahui dengan siapa boleh anggota tubuh secara vulgar, berteman memeluk orang dewasa. Secara etika model-model . ebagai Niken Widi Astuti. Noeratri Andanwerti ajarkan agar dapat memilih toilet yang sesuai dengannya, remaja harus tahu Misalnya, ketika remaja menanyakan bagian tubuh yang mana yang biasa tentang payudara maka orang tua disentuh, baik tubuhnya sendiri mau tidak hanya sebatas menunjukkan pun orang lain. bentuk tetapi orang tua dapat pula Menurut Subyek menjelaskan secara singkat tentang beberapa metode edukasi seksual yang fungsinya, serta menasehati remaja baik untuk diterapkan secara umum agar wajib untuk menutupinya agar yang sudah diterapkan pula oleh tidak terlihat orang lain. subyek, yaitu metode bahasa isyarat Selain dan bahasa tubuh. Komunikasi remaja mengajarkan tentang seksual melalui bercerita tentang pengalaman atau cerita dari kasus-kasus yang ada. pengajaran pendidikan seks dapat Tujuannya adalah memberikan contoh Kemudian, memberikan mana yang boleh dilakukan dan yang materi pendidikan seks harus dimulai tidak boleh dilakukan. Tata kesopanan dari sesuatu yang sangat sederhana bertutur kata, berpakaian dan bersikap dan bersifat konkrit. Pengajaran dapat baik dengan teman harus selalu di diberikan dengan metode ceramah, ingatkan kepada siswa. Mengingatkan metode pengulangan, dan metode dan melarang siswa menyentuh atau memegang alat vital teman meskipun Proses pengajaran langsung dapat dilakukan dengan maksud bergurau. oleh guru ataupun orang tua misalnya. Penerapan pendidikan seksual oleh guru dan orang tua bagi remaja berkebutuhan khusus Metode selama ini oleh pendidik adalah Hasil temuan penelitian dan analisis (Tiga berkebutuhan khusu. menggunakan metode berkomunikasi melalui gambar. Selain itu dengan Subyek Pertama (Ibu EK) Ibu EK berusia 41 tahun memiliki misalnya memberikan stimulus agar remaja memberikan respons yang berusia 18 tahun dan saat ini duduk di Selanjutnya, dengan metode kelas 1 SMA dan bersekolah di sekolah umum. B di diagnosa autis sering belajar melalui pengamatan sejak usia 4 tahun ketika B belum terhadap perilaku orang lain. Sikap dapat berbicara. Namun konsultasi keteladanan misalnya. bertutur kata dan terapi tidak rutin dilakukan karena baik, tidak bergurau dengan kata-kata terbatasnya biaya. B memiliki postur kotor, tidak boleh memaki teman, tubuh tinggi tegap, rambut ikal dan tidak menampilkan anggota tubuh gemar memakai topi. Ibu EK tidak secara langsung, berteman harus baik bekerja di luar rumah, hanya sebagai sopan dan sebagainya. Pendidikan ibu rumah tangga saja dan menjaga seks bagi remaja autis memerlukan warung sembako yang ada di rumah pola pembiasaan dan terus menerus Ibu EK. Kehidupan sangat sederhana dan modelling yang baik. dengan kondisi rumah yang sederhana berkebutuhan khusus (B), harmonis dan selalu di isi dengan canda dan tawa. Niken Widi Astuti. Noeratri Andanwerti Subyek Kedua (Ibu DW) Jakarta. Subyek ER memiliki postur Ibu DW seorang ibu berusia 38 tubuh mungil dengan kulit agak tahun, seorang ibu yang bekerja coklat, berambut ikal dan berkaca sebagai buruh cuci. Ibu DW memiliki ER seorang ibu yang ramah remaja perempuan berusia 18 tahun dengan logat jawa yang kental ketika bernama S. Saat ini S bersekolah di K adalah remaja tuna sekolah umum kelas 1 SMA. memiliki postur tubuh mungil, rambut didiagnosa tidak dapat mendengar. lurus, berkulit kuning langsat, dan Akibatnya perkembangan K sejak dimasukkan ke saku baju. S adalah Berbahasa dilakukan karena anak bungsu dari dua bersaudara yang pendengarannya yang terbatas. K juga juga perempuan. S di diagnosa autis sangat pendiam dan mudah marah sejak kecil, sejak usia 6 tahun. Ibu ketika keinginannya tidak dimengerti DW terlambat membawa S ke dokter orang tuanya. Sejak usia 4 tahun K karena biaya untuk ke dokter spesialis mengikuti terapi wicara agar teratasi remaja sangat mahal. permasalahannya dalam hal bicara. Tetapi K sering menolak ketika terapi. Subyek Ketiga (Ibu ER) Subyek K sekolah di SLB sejak usia 6 tahun sampai saat ini. K menggunakan alat bantu dengar dan biasanya tidak memiliki seorang remaja tuna rungu digunakan ketika di rumah. (K) berusia 18 tahun dan tinggal di Penerapan pendidikan seksual oleh guru dan orang tua bagi remaja berkebutuhan khusus Rangkuman hasil wawancara dan analisa (Ibu EK. Ibu DW. Ibu ER) tidak pada waktu melakukan. Pada laki-laki terkait dengan pendidikan seksual perilaku seksual seperti memegang yang telah diberikan Para ibu yang diteliti ini menjelaskan perkembangan seksual yang mulai tumbuhnya bulu-bulu di kemaluan, tumbuhnya kumis bagi remaja lakilaki dan kadang saat tidur memeluk dan badan tumbuh besar. Pada remaja perempuan mulai ada ketertarikan kepada lawan jenis, payudara dan pinggul membesar dan badan tumbuh laki-laki berkebutuhan khusus yang tidak ada Pada remaja perempuan menggesek-gesekkan bantal/guling ke vagina saat mau haid. Menurut orang tua sebaiknya bagaimana membedakan anatomi dan fungsi-fungsi anatomi dan reproduksi laki-laki berpakaian, tidak boleh membuka dan Perilaku seksual pada remaja tidak menunjukkan gangguan perilaku seksual dan masih wajar-wajar saja ataupun perempuan tetapi ada remaja sendiri, ketertarikan kepada lawan jenis, payudara dan pinggul membesar Tetapi terkadang remaja ini tidak dapat membedakan tempat yang baik atau memakai pakaian di tempat terbuka. Mengarahkan menyalurkan hasratnya di tempat tertutup seperti di kamar tidur, di kamar mandi. Bagi remaja perempuan Niken Widi Astuti. Noeratri Andanwerti materi tentang menghadapi dan apa wawancara yang dilakukan terhadap guru dan orang tua yang memiliki Apa saja yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh tentang pendidikan seksual sangat Pemecahan Remaja solusi yang dilakukan orang tua yaitu khusus harus diberikan contoh yang membiarkan remaja melakukan hal- baik tentang pemahaman pendidikan hal yang disukai berkaitan dengan Mulai yang paling sederhana perilaku seksualnya, dialihkan kepada mereka laki-laki atau perempuan, akan remaja selalu sibuk dengan aktifitas terjadi perubahan di organ tubuh dan yang positif dan disukai, memberikan peringatan melakukan jangan di depan berubah serta menghindari diri dari terjadinya pelecehan seksual. Peran melakukan perilaku seksual. Perlu dalam memberikan psikoedukasi ini seseorang, dan peran tidak hanya kepada remaja. dilakukan oleh guru saja tetapi peran orang tua adalah peran yang paling Kesimpulan Karena sebagian besar waktu Berdasarkan hasil penelitian, baik adalah dilakukan di rumah. Metode Penerapan pendidikan seksual oleh guru dan orang tua bagi remaja berkebutuhan khusus yang diberikan di sekolah harus seimbang dengan metode orang tua di pengetahuan dan pendidikan seksual. dalam memberikan dan mendampingi Tetapi aspek yang paling penting dan adalah melakukan tindakan untuk perubahan tubuh dan perilaku yang mengatasi ketika terjadi gangguan baik terhadap perubahan tersebut. perilaku seksual dengan menegur dan Metode memberi reaksi langsung ketika beberapa metode karena pendidikan remaja melakukan hal-hal yang tidak seksual bagi remaja berkebutuhan sopan di tempat umum. khusus tidak dapat diberikan hanya Menurut dengan satu metode saja. Erikson . alam Wuryani, 2. , bahwa remaja adalah usia menemukan jati diri. Oleh karena Diskusi itu secara psikologis remaja memiliki Menurut hasil wawancara dengan para kecenderungan mencoba sesuatu yang guru di dapatkan hasil bahwa metode dianggapnya menyenangkan. Maka yang diterapkan adalah. Sikap dan dari itu materi pendidikan seks pada perilaku yang boleh dan yang tidak remaja berkebutuhan khusus harus boleh dilakukan, pengetahuan dan disesuaikan dengan kematangan dan pembahasan tentang jenis kelamin. Dan menurut Aziz . , bahwa materi pendidikan seks bagi Kemudian, remaja berkebutuhan khusus harus menurut hasil wawancara orang tua, diberikan dengan cara yang benar dan Materi seks yang harus sosial/masyarakat. Niken Widi Astuti. Noeratri Andanwerti berkebutuhan khusus ada beberapa pengajaran langsung dan keteladanan, hal, yaitu pendidikan menutup aurat, pengetahuan tentang organ seksual. Metode ini diberikan sesuai dengan kekerasan dan pelecehan seksual, masing siswa. perilaku seks bebas dan dampaknya, proses pembuahan dalam penciptaan Saran manusia, dan perlindungan hukum Saran bagi orang tua agar lebih terhadap tindakan kekerasan seksual. Begitu remaja dan memperhatikan setiap pembelajaran yang digunakan tidak perkembangan seksual sehingga orang dapat dilakukan hanya dengan satu tua dapat memberikan pendidikan metode saja. Harus terintegrasi dari Orang tua lebih terbuka berkebutuhan khusus sangat spesifik terhadap informasi-informasi lewat dan memiliki gaya belajar yang mengikuti seminar-seminar. Orang tua Metode yang digunakan adalah metode bahasa isyarat dan pendidikan seksual sebagai sesuatu yang sangat berharga dan penting Penerapan pendidikan seksual oleh guru dan orang tua bagi remaja berkebutuhan khusus dalam perkembangan remaja. Serta atas penyampaian kurikulum hindari remaja dari pelecehan seksual. penerimaan, sikap dari guru, teman Saran remaja di sekolah dan Guru dapat remaja berkebutuhan khusus di sekolah. Guru sangat perlu mengkomunikasikan setiap tindakan yang tidak sesuai kepada orang tua pemecahan dari setiap permasalahan. Saran bagi sekolah yaitu strategi untuk menciptakan lingkungan yang administrasi yang mendukung, sikap Melakukan evaluasi yang menentukan kekuatan dan kelemahan dan para guru lainnya. Daftar Pustaka