Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 18. Nomor 1. Mei 2026 RISIKO LEPTOSPIROSIS PADA AKTIVITAS KERJA PETUGAS KEBERSIHAN DI KOTA SEMARANG: STUDI KUALITATIF Meita Fransiska Dara Antindi1. Aliya Rachma Tingka Pitatan1. Adellia Retno Sulistyana1. Crishtopher Arthur Fernando1. Michael Benedict Sanjaya1. KAerrosa Murenda Mayadilanuari1 Program Studi Manajemen Informasi Kesehatan. Universitas Nasional Karangturi. Jl. Raden Patah No. 182-183 Semarang. Jawa Tengah. Indonesia, 50227 Info Artikel: Disubmit: 10-02-2026 Direvisi: 09-04-2026 Diterima: 16-04-2026 Dipublikasi: 26-05- 2026 Penulis Korespondensi: Email: murenda@unkartur. Kata kunci: Kesehatan kerja. Leptospirosis. Petugas kebersihan. Studi kualitatif DOI: 10. 47539/gk. ABSTRAK Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, khususnya pada kelompok pekerja dengan paparan lingkungan berisiko tinggi seperti petugas Tingginya kasus leptospirosis di Kota Semarang menunjukkan adanya potensi risiko yang signifikan pada kelompok pekerja ini, terutama di wilayah yang sering banjir dan memiliki sanitasi lingkungan yang kurang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko leptospirosis berdasarkan kondisi lingkungan kerja, aktivitas kerja, pemahaman, persepsi risiko, perilaku pencegahan, serta dukungan yang diterima petugas Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam terhadap tujuh petugas kebersihan, serta triangulasi sumber untuk meningkatkan validitas data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan kerja didominasi oleh kondisi berisiko seperti genangan air, lingkungan lembap, drainase terbuka, dan keberadaan tikus, serta aktivitas kerja yang melibatkan kontak langsung dengan sampah basah dan air kotor yang dilakukan secara berulang. Penggunaan alat pelindung diri belum dilakukan secara konsisten, dan pemahaman responden mengenai leptospirosis masih terbatas meskipun terdapat kesadaran terhadap risiko pekerjaan. Selain itu, keterbatasan edukasi kesehatan dan dukungan institusi turut memengaruhi upaya pencegahan. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa petugas kebersihan memiliki risiko tinggi terhadap leptospirosis sehingga diperlukan penguatan edukasi kesehatan, peningkatan kepatuhan penggunaan alat pelindung diri, serta perbaikan sistem keselamatan dan kesehatan kerja sebagai upaya pencegahan yang berkelanjutan. ABSTRACT Leptospirosis is a zoonotic disease that remains a significant public health problem, particularly among workers exposed to high-risk environmental conditions, such as sanitation workers. The high incidence of leptospirosis in Semarang City indicates a substantial risk for this occupational group, especially in flood-prone areas with inadequate environmental sanitation. This study aimed to analyze the risk of leptospirosis based on working environmental conditions, work activities, knowledge, risk perception, preventive behavior, and institutional support among sanitation workers. This study employed a descriptive qualitative approach. Data were collected through field observations and in-depth interviews with seven sanitation workers. Source triangulation was applied to enhance data validity. The findings revealed that the working environment was dominated by high-risk conditions, including standing water, humid environments, open drainage systems, and the presence of rodents, as well as routine activities involving direct contact with wet waste and contaminated water. The use of personal protective equipment (PPE) was not consistently practiced, and respondentsAo knowledge of leptospirosis remained Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 18. Nomor 1. Mei 2026 limited despite their awareness of occupational health risks. In addition, limited health education and institutional support contributed to inadequate preventive practices. In conclusion, sanitation workers are at high risk of leptospirosis, highlighting the need for strengthened health education, improved compliance with PPE use, and enhanced occupational health and safety systems as sustainable preventive measures. Keywords: Leptospirosis. Occupational Health. Qualitative Study. Sanitation Workers PENDAHULUAN Leptospirosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Leptospira dan menjadi masalah kesehatan global, terutama di wilayah tropis dan subtropis (Heydari. Tirbandpay and Ghasemishayan, 2. Secara global, diperkirakan terjadi lebih dari 1 juta kasus leptospirosis setiap tahun dengan jumlah kematian yang tinggi sekitar A58,900 orang per tahun, serta total beban penyakit mencapai 2,90 juta disability-adjusted life years (DALY. (International Leptospirosis Society, 2. Penularan leptospirosis erat kaitannya dengan faktor lingkungan seperti banjir, genangan air, paparan urin hewan reservoir, serta aktivitas pekerjaan yang melibatkan kontak dengan lingkungan tercemar (World Health Organization, 2. Di Indonesia, leptospirosis masih menjadi penyakit endemis, khususnya di wilayah dengan sanitasi lingkungan yang kurang memadai dan sering mengalami genangan air. Kondisi ini diperparah oleh sistem drainase yang belum merata, banyaknya populasi tikus yang ada di permukiman, serta rendahnya kesadaran masyarakat terhadap faktor risiko lingkungan dan perilaku pencegahan (Sari et al. Kota Semarang merupakan salah satu wilayah yang memiliki kerentanan tinggi terhadap banjir akibat curah hujan yang tinggi, luapan sungai, serta sistem drainase yang belum optimal (Setiyono et , 2. Kondisi tersebut menyebabkan terbentuknya lingkungan lembap dan tergenang yang berpotensi meningkatkan paparan bakteri Leptospira melalui air yang terkontaminasi urin hewan reservoir (Nova and Herdhianta, 2. Data surveilans dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah menunjukkan bahwa setelah banjir di Kota Semarang, kasus leptospirosis meningkat sebanyak 685 di Jawa Tengah dengan 108 kematian (JatengProv, 2. Dalam konteks kesehatan kerja, petugas kebersihan merupakan kelompok pekerja yang memiliki risiko tinggi terhadap paparan leptospirosis karena aktivitas kerja yang melibatkan kontak langsung dengan sampah, air kotor, serta lingkungan yang lembab dan berpotensi terkontaminasi (Rasyid et al. , 2. Risiko tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, tetapi juga oleh tingkat pengetahuan, persepsi risiko, serta perilaku pencegahan yang dimiliki oleh pekerja. Penelitian sebelumnya umumnya berfokus pada faktor risiko lingkungan dan perilaku masyarakat secara umum terhadap kejadian leptospirosis (Ginting and Indarjo, 2. Beberapa studi juga menunjukkan bahwa pekerja sektor layanan kota memiliki risiko infeksi yang lebih tinggi, yang dipengaruhi oleh paparan lingkungan kerja serta perilaku pencegahan. Penelitian di Sabah. Malaysia, melaporkan bahwa pekerja layanan kota seperti penyapu jalan memiliki prevalensi lepstospirosispertugas positif yang lebih tinggi Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 18. Nomor 1. Mei 2026 (Atil et al. , 2. Studi lain di Medan, menunjukkan bahwa petugas sampah memiliki risiko infeksi leptospirosis yang dipengaruhi oleh pengetahuan serta perilaku pencegahan (Ramadhani. Pudiyanti and Murlina, 2. Namun, belum banyak penelitian yang secara spesifik dan komprehensif mengeksplorasi persepsi risiko, pengalaman kerja, hambatan, serta praktik pencegahan leptospirosis pada petugas kebersihan di wilayah rawan banjir. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan pendekatan analisis tematik untuk menggali secara mendalam pengalaman kerja, persepsi risiko, serta strategi pencegahan leptospirosis pada petugas kebersihan di Kota Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi risiko, mengidentifikasi pengalaman kerja dan hambatan, serta mengkaji faktor lingkungan dan upaya pencegahan leptospirosis sebagai dasar penyusunan rekomendasi perlindungan kesehatan kerja yang lebih efektif dan kontekstual. METODE Penelitian ini menggunakan desain kualitatif deskriptif dengan pendekatan eksploratif untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai pengetahuan, persepsi risiko, pengalaman kerja, serta perilaku pencegahan leptospirosis pada petugas kebersihan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga Februari 2026 di lokasi kerja yang memiliki risiko tinggi terhadap paparan Leptospira, yaitu Tempat Pembuangan Sementara (TPS), area pembersihan jalan umum, lingkungan kampus, dan unit pengangkutan sampah. Subjek penelitian terdiri dari 7 informan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, dengan mempertimbangkan variasi jenis pekerjaan, lama bekerja, dan tingkat paparan risiko di lingkungan kerja. Informan terdiri dari 1 petugas TPS, 2 petugas pembersih jalan, 2 petugas kebersihan kampus, dan 2 petugas pengangkut sampah. Kriteria inklusi meliputi usia Ou18 tahun, masa kerja minimal 1 tahun, terlibat langsung dalam aktivitas yang berisiko kontak dengan sampah, genangan air, lumpur, dan hewan pengerat, serta bersedia menjadi responden dengan menandatangani lembar persetujuan setelah penjelasan penelitian . nformed consen. Instrumen penelitian berupa pedoman wawancara semi-terstruktur yang disusun berdasarkan tujuan penelitian, meliputi aspek pemahaman tentang leptospirosis, pengalaman kerja, persepsi risiko, perilaku pencegahan, akses informasi, serta harapan dan saran responden. Selain itu, digunakan lembar observasi untuk mencatat kondisi lingkungan kerja, praktik kerja, serta penggunaan alat pelindung diri (APD) oleh petugas kebersihan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi lapangan. Untuk menjaga validitas data, penelitian ini menerapkan triangulasi sumber dengan membandingkan informasi antar informan dari jenis pekerjaan yang berbeda, serta triangulasi metode melalui perbandingan hasil wawancara dan observasi. Selain itu, dilakukan proses member check dengan mengonfirmasi kembali hasil wawancara kepada informan untuk memastikan kesesuaian Penelitian ini telah memperhatikan aspek etika penelitian dengan menjamin kerahasiaan identitas responden, penggunaan data hanya untuk kepentingan penelitian, serta memperoleh persetujuan Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 18. Nomor 1. Mei 2026 partisipasi secara sukarela melalui informed consent sebelum pengumpulan data dilakukan. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik melalui beberapa tahapan. Data hasil wawancara terlebih dahulu ditranskripsi secara lengkap, kemudian dibaca berulang untuk memahami isi secara menyeluruh. Selanjutnya, peneliti mengidentifikasi bagian-bagian penting dari data dan memberikan kode sesuai dengan makna yang muncul. Kode-kode tersebut kemudian dikelompokkan berdasarkan kesamaan untuk membentuk kategori. Dari kategori tersebut, selanjutnya disusun tema-tema utama yang menggambarkan hasil penelitian. Tema yang telah terbentuk kemudian ditinjau kembali agar sesuai dengan data, sebelum digunakan sebagai dasar dalam penarikan kesimpulan. HASIL Hasil penelitian ini disajikan untuk menggambarkan karakteristik responden serta temuan utama yang diperoleh dari wawancara mendalam dan observasi lapangan. Karakteristik responden ditampilkan pada tabel 1 sebagai gambaran umum latar belakang informan yang meliputi jenis kelamin, usia, jenis pekerjaan, lokasi kerja, dan lama kerja. Tabel 1. Hasil Demografi Responden Nama Jenis Perempuan Perempuan Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Usia Pekerjaan Lokasi 42 tahun 52 tahun 48 tahun 52 tahun 35 tahun 55 tahun 41 tahun Petugas kebersihan Petugas kebersihan jalan Petugas TPS Angkut sampah Angkut sampah Angkut sampah Petugas kebersihan Universitas di area banjir Bangkong Tlogomulyo Genuk Genuk Plamongan hijau Universitas di area banjir Lama 4 tahun 8 tahun 12 tahun 8 tahun 1 tahun 8 tahun 3 tahun Berdasarkan tabel 1, responden penelitian berjumlah 7 orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan dengan rentang usia 35Ae55 tahun. Seluruh responden bekerja sebagai petugas kebersihan dengan penugasan di berbagai lokasi, baik wilayah permukiman maupun universitas yang berada di area rawan banjir. Seluruh responden memiliki masa kerja minimal 1 tahun. Variasi usia, lokasi kerja, dan lama bekerja tersebut memberikan gambaran pengalaman kerja yang beragam sehingga memperkaya data penelitian. Berdasarkan hasil wawancara mendalam, diperoleh informasi mengenai tingkat pengetahuan leptospirosis, persepsi risiko kerja, perilaku pencegahan, akses informasi dan dukungan institusi, serta harapan responden. Berdasarkan hasil wawancara . , temuan penelitian disusun ke dalam beberapa tema Pengetahuan petugas kebersihan mengenai leptospirosis masih tergolong rendah, di mana sebagian besar responden belum memahami penyakit, gejala, maupun penyebabnya secara spesifik. Pengetahuan yang dimiliki umumnya terbatas pada anggapan bahwa penyakit tersebut berkaitan dengan tikus dan lingkungan kotor. Meskipun demikian, responden memiliki persepsi bahwa pekerjaannya berisiko terhadap kesehatan, terutama karena paparan sampah dan air kotor dalam aktivitas kerja seharihari. Namun, risiko tersebut belum secara spesifik dikaitkan dengan leptospirosis. Responden telah melakukan upaya pencegahan seperti menjaga kesehatan dan menggunakan APD, meskipun dalam Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 18. Nomor 1. Mei 2026 praktiknya belum dilakukan secara konsisten. Selain itu, dukungan institusi dan akses terhadap informasi kesehatan masih terbatas, ditandai dengan belum adanya edukasi khusus terkait leptospirosis. Oleh karena itu, responden menyampaikan harapan adanya peningkatan edukasi, pemeriksaan kesehatan rutin, serta dukungan berkelanjutan dari instansi untuk meminimalkan risiko penyakit akibat kerja. Tabel 2. Rekapitulasi Hasil Wawancara Responden Tema Deskripsi temuan Pengetahuan leptospirosis masih Sebagian besar responden belum memahami leptospirosis secara spesifik, termasuk gejala dan Pengetahuan yang dimiliki masih terbatas pada kaitannya dengan tikus dan lingkungan kotor. Responden menyadari bahwa pekerjaan mereka memiliki risiko terhadap penyakit karena sering terpapar sampah dan air kotor, meskipun tidak secara spesifik mengaitkan dengan leptospirosis. Responden telah melakukan upaya menjaga kesehatan dan menggunakan APD, tetapi penggunaannya belum konsisten dan masih terbatas pada jenis Presepsi risiko pekerjaan tinggi Perilaku pencegahan sedang dilakukan namun belum konsisten Dukungan institusi dan akses informasi masih terbatas Harapan terhadap kesehatan kerja Edukasi terkait leptospirosis belum pernah diberikan, dan dukungan instansi masih terbatas pada penyediaan APD. Responden mengharapkan adanya edukasi, pemeriksaan kesehatan rutin, dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan Ringkasan Kutipan representatif Mayoritas responden tidak penyakit, gejala, dan penyebab AuAsaya pernah dengar leptospirosis, tapi kurang paham itu penyakit apa masAAy(R. Seluruh responden berisiko terhadap AuAkalau kerja kayak gini pasti ada risikonya mbay(R. Seluruh responden menggunakan APD, namun sebagian belum konsisten. AuABiasanya pakai sepatu boot, tapi kadang dilepasAAy(R. Sebagian besar responden belum edukasi kesehatan. Seluruh responden adanya edukasi dan AuABelum pernah ada penyuluhan soal penyakit itu mbay (R. AuAya kalau bisa ada penyulihan dan cek kesehatan rutinAAy(R. Berdasarkan hasil observasi lapangan . , kondisi lingkungan kerja petugas kebersihan menunjukkan tingkat risiko yang tinggi terhadap paparan leptospirosis. Lingkungan kerja didominasi oleh kondisi lembap, genangan air, serta adanya tanda keberadaan tikus yang berpotensi menjadi sumber Selain itu, aktivitas kerja seperti mengangkut sampah basah dan kontak dengan air kotor masih sering dilakukan, sehingga meningkatkan peluang terjadinya paparan. Meskipun penggunaan alat pelindung diri telah dilakukan, penerapannya belum optimal dan belum didukung oleh sistem keselamatan kerja yang memadai. Di sisi lain, praktik hygiene personal telah diterapkan dengan baik oleh petugas, seperti mencuci tangan dan mandi setelah bekerja. Namun demikian, keterbatasan dukungan organisasi, seperti kurangnya pelatihan K3 dan SOP, menunjukkan bahwa pengendalian risiko belum berjalan secara maksimal. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 18. Nomor 1. Mei 2026 Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Observasi Lingkungan Tema Lingkungan kerja berisiko tinggi Aktivitas kerja berisiko masih Penggunaan APD belum optimal Hygiene personal sudah baik Dukungan organisasi masih Deskripsi Temuan Lingkungan kerja didominasi kondisi lembab, terdapat genangan air, bau tidak sedap, serta tanda keberadaan tikus di sebagian besar Aktivitas seperti mengangkut sampah basah, kontak dengan air kotor, dan pembersihan saluran masih dilakukan oleh petugas. Sebagian besar petugas menggunakan APD, namun belum lengkap dan tidak selalu konsisten dalam penggunaannya. Petugas telah menerapkan kebiasaan mencuci tangan, mandi setelah bekerja, dan menjaga kebersihan diri. Ketersediaan SOP, pelatihan K3, dan fasilitas pendukung belum merata di seluruh lokasi kerja. Interpretasi Kondisi ini meningkatkan potensi paparan penyakit leptospirosis. Aktivitas kerja berkontribusi terhadap paparan langsung terhadap sumber infeksi. Perlindungan terhadap risiko belum maksimal. Upaya ini menjadi faktor protektif terhadap risiko infeksi. Keterbatasan ini menghambat pengendalian risiko secara BAHASAN Pengetahuan petugas kebersihan tentang leptospirosis Hasil wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar petugas kebersihan memiliki tingkat pengetahuan yang rendah mengenai leptospirosis, mencakup pengertian, gejala, dan penyebab penyakit. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Pujiyanti et al. , 2. yang melaporkan rendahnya pemahaman petugas kebersihan di Kabupaten Klaten terhadap karakteristik leptospirosis meskipun bekerja di lingkungan berisiko. Beberapa responden mengatakan : AuA. Saya tau mba, suami saya pernah kena. Awalnya demam sampai matanya merah terus tiba-tiba badannya kuning-kuning gitu mba. Ay(R. Au. Saya pernah dengar leptospirosis, tapi kurang paham itu penyakit apa, taunya dari tikus sama air Ay (R. Rendahnya pengetahuan ini berpotensi menghambat deteksi dini dan meningkatkan risiko keterlambatan penanganan, sebagaimana dinyatakan oleh (Pujiyanti et al. , 2. Pengalaman kerja dan persepsi risiko Mayoritas responden menyadari bahwa pekerjaan mereka memiliki risiko kesehatan, meskipun tidak ada yang pernah mengalami leptospirosis sebelumnya, hal ini menunjukkan adanya kesadaran risiko secara konseptual tanpa pengalaman langsung. Beberapa resonden juga mengatakan bahwa : Au. Kalau kerja begini pasti ada risikonya, tiap hari pegang sampah basah sama got. Ay (R. AuA. Kalau pas hujan gitu banyak genangan air kadang takut mas soalnya kan gak tahu ya di airnya ada apaA. Ay (R. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 18. Nomor 1. Mei 2026 Temuan ini serupa dengan studi pada pekerja layanan kota di Malaysia yang menunjukkan persepsi risiko leptospirosis meskipun sebagian besar belum pernah terdiagnosis penyakit tersebut (Samsudin et al. , 2. Di sisi lain, rasa nyaman bekerja di lingkungan kotor dan basah mengindikasikan adanya habituasi terhadap kondisi berisiko yang dapat menurunkan persepsi bahaya secara subjektif meskipun risiko epidemiologis tetap tinggi (Rahim et al. , 2. Perilaku pencegahan dan penggunaan APD Berdasarkan tabel 3, seluruh responden menyatakan telah melakukan upaya menjaga kesehatan dan menggunakan APD, namun konsistensi dan kelengkapan penggunaannya masih belum optimal. Tercermin dari pernyataan responden yang menyebutkan bahwa : AuA. Biasanya pakai sepatu sama sarung tangan saja mbak, kalau yang lain jarang karena nggak selalu adaA. Ay (R. AuA. Sarung tangan saya pakai terus mas, kalau masker biasanya saat membersihkan toilet sajaA. Ay (R. Temuan ini sejalan dengan Rahim et al. yang menegaskan bahwa penggunaan APD yang tidak lengkap tetap meninggalkan risiko paparan patogen, serta dipengaruhi oleh rendahnya tingkat pengetahuan pekerja (Rahim et al. , 2. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa rendahnya kepatuhan terhadap penggunaan alat pelindung diri serta belum optimalnya penerapan sistem keselamatan dan kesehatan kerja dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit akibat kerja. Oleh karena itu, pelatihan pekerja secara berkala dan penerapan SOP yang ketat menjadi faktor penting dalam upaya pengendalian risiko (Mayadilanuari. Nurvita and Kurniawan, 2. Akses informasi dan dukungan institusi Berdasarkan tabel 3, seluruh responden belum pernah memperoleh edukasi kesehatan khusus terkait leptospirosis dan hanya sebagian responden yang merasakan dukungan institusional tetapi hanya awal masuk kerja saja, hal ini menunjukkan adanya kesenjangan dalam sistem perlindungan kesehatan Responden menyampaikan bahwa : AuA. Selama ini belum pernah ada penjelasan khusus soal penyakit tikus atau leptospirosisA. Ay (R. Au. Belum pernah ada penyuluhan soal penyakit itu, paling cuma arahan kerja saja. Ay (R. Berdasarkan penelitian tentang edukasi kesehatan berkelanjutan berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan dan praktik pencegahan pada kelompok berisiko (Budiarti. Yahya and Anward, 2. Selain itu, meskipun mekanisme pelaporan kerja melalui grup WhatsApp dan formulir manual telah tersedia, sistem tersebut belum terintegrasi secara optimal dengan pemantauan kesehatan kerja dan tindak lanjut preventif sebagaimana direkomendasikan oleh (World Health Organization. Harapan dan implikasi dalam kesehatan kerja Mayoritas responden mengharapkan adanya pemeriksaan kesehatan rutin, peningkatan edukasi risiko pekerjaan, serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan. AuA. Kalau bisa ada cek kesehatan rutin, jadi ketahuan kalau ada sakit dari kerjaA. Ay (R. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 18. Nomor 1. Mei 2026 AuA. Semoga ada penyuluhan agar tahu risiko dari kerja saya itu apa sajay (R. Harapan ini sejalan dengan rekomendasi penelitian yang menekankan pentingnya pendekatan promotif dan preventif dalam pengendalian leptospirosis pada kelompok pekerja dengan paparan risiko lingkungan tinggi (Rahim et al. , 2. Secara keseluruhan, temuan wawancara menunjukkan bahwa meskipun terdapat kesadaran risiko dan perilaku pencegahan dasar, keterbatasan pengetahuan, minimnya edukasi, dan lemahnya dukungan institusional masih menjadi hambatan utama dalam pencegahan leptospirosis secara optimal. Hasil Observasi Hasil observasi menunjukkan bahwa lingkungan kerja petugas kebersihan didominasi oleh kondisi yang mendukung keberlangsungan bakteri Leptospira, terutama pada musim hujan, seperti adanya genangan air, lingkungan lembap, saluran limbah terbuka, serta sistem drainase yang belum Kondisi lingkungan yang lembap, adanya genangan air, serta sistem drainase yang tidak optimal merupakan karakteristik umum wilayah rawan banjir dan berpotensi menimbulkan berbagai risiko kesehatan (Atil et al. , 2. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa bencana banjir tidak hanya berdampak pada kerusakan lingkungan, tetapi juga meningkatkan kebutuhan pelayanan kesehatan akibat paparan lingkungan yang tidak higienis (Karmanto et al. , 2. Keberadaan tanda-tanda tikus dan bau urin hewan semakin memperkuat potensi risiko biologis akibat kontaminasi lingkungan oleh reservoir utama leptospirosis (Neiroukh et al. , 2025. Ngwira et al. , 2. Kondisi tersebut mencerminkan tingkat risiko biologis sedang hingga tinggi yang memerlukan pengendalian lingkungan secara sistematis dan berkelanjutan (Atil et al. , 2020. Tolera et al. , 2. Selain faktor lingkungan, aktivitas kerja berisiko seperti mengangkut sampah basah, membersihkan saluran air, dan penggunaan metode sapu kering masih dilakukan secara rutin dan berpotensi meningkatkan kontak langsung dengan material terkontaminasi, khususnya pada lingkungan lembab (Atil et al. , 2020. Neiroukh et al. , 2. Meskipun penggunaan sarung tangan dan sepatu boot karet relatif tinggi, ketidakkonsistenan penggunaan APD menunjukkan kepatuhan yang masih parsial dan dapat menurunkan efektivitas perlindungan terhadap paparan agen biologis (Tolera et al. , 2024. Bulafu et al. , 2025. Neiroukh et al. , 2. Di sisi lain, praktik higiene dan sanitasi personal seperti mencuci tangan, mandi setelah bekerja, menutup luka, dan menyimpan makanan di area bersih telah diterapkan dengan baik dan berperan sebagai faktor protektif penting dalam memutus rantai penularan, meskipun paparan berulang tetap berpotensi meningkatkan risiko infeksi leptospirosis secara kumulatif (Samsudin et al. , 2020. Hilton et al. , 2. Berdasarkan temuan tersebut, diperlukan peningkatan tidak hanya pada sisi personal dan kondisi tempat kerja, tetapi juga pada kebijakan, sistem kesehatan, dan strategi lintas sektor dalam pengelolaan leptospirosis (Zuhra. Irma and Azim, 2. Pekerjaan petugas kebersihan yang terlibat langsung dengan limbah, air kotor, dan kondisi lingkungan yang lembap tegolong dalam jenis pekerjaan yang sangat berisiko tinggi terhadap timbulnya penyakit akibat kerja (Mawaddah. Fairuz and Kalsum, 2. Temuan penelitian mendukung hal ini dengan mengindikasikan bahwa lingkungan kerja yang tidak Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 18. Nomor 1. Mei 2026 bersih merupakan faktor utama penyebab leptospirosis di kalangan pekerja. Oleh karena itu, penegakan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja (K. yang menyeluruh, yang mencakup penyediaan alat pelindung, pelatihan rutin, serta penerapan prosedur standar operasional (SOP), adalah langkah krusial untuk melindungi tenaga kerja dari kemungkinan infeksi (Wahyudi et al. , 2. Selain itu, pencegahan leptospirosis juga membutuhkan dukungan dari sistem pengawasan kesehatan yang efektif (Sulistiyawatin and Siyam, 2. Pengawasan bertugas untuk deteksi awal, pemantauan kasus, serta pengambilan keputusan yang berdasarkan data dalam upaya menanggulangi Penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa penguatan sistem pengawasan dan deteksi awal sangat penting untuk mengurangi jumlah kasus leptospirosis di Indonesia (Yuniasih et al. , 2. Namun, di dalam penelitian ini belum ditemukan adanya integrasi antara sistem pelaporan kerja dengan pemantauan kesehatan bagi petugas, sehingga perlu dilakukan pengembangan pengawasan yang berbasis di tempat kerja. Leptospirosis merupakan penyakit yang dapat menular dari hewan kepada manusia dan sebaliknya, melibatkan interaksi antara manusia, hewan, dan lingkungan (Nugroho et al. , 2. Kondisi di tempat kerja yang ditemukan dalam penelitian ini, adanya air tergenang, sanitasi yang tidak memadai, serta keberadaan tikus, merupakan faktor risiko utama dalam penyebaran leptospirosis (Bakari. Jusuf and Karim, 2. Oleh karena itu, langkah pencegahan harus diambil secara menyeluruh melalui pengendalian populasi hewan, perbaikan sanitasi lingkungan, dan peningkatan perlindungan bagi manusia sebagai kelompok yang berisiko (Pratiwi, 2. Pendekatan ini menyoroti pentingnya kerjasama antar sektor dalam mengendalikan penyakit yang berhubungan dengan lingkungan. Keterbatasan pada aspek organisasi, seperti rendahnya ketersediaan SOP area berisiko dan minimnya pelatihan terkait kesehatan kerja, berpotensi melemahkan sistem pengendalian risiko dan meningkatkan ketergantungan pada perilaku individu (Baransano. Windiyaningsih and Ulfa, 2. Meskipun supervisi rutin dan fasilitas pendukung telah tersedia di sebagian besar area kerja, ketidakmerataan implementasi menunjukkan adanya celah dalam manajemen keselamatan kerja (Neiroukh et al. , 2. Oleh karena itu, penguatan aspek administratif melalui penyusunan SOP berbasis risiko dan pelatihan kesehatan kerja berkelanjutan menjadi strategi kunci dalam menurunkan risiko penyakit akibat kerja pada sektor sanitasi (Hamsiati. Apriani and Arif, 2. Penelitian ini memiliki keunggulan pada penggunaan pendekatan komprehensif melalui integrasi wawancara dan observasi langsung, sehingga mampu menggambarkan risiko leptospirosis secara kontekstual dan relevan bagi kesehatan kerja. Namun, keterbatasan penelitian mencakup jumlah sampel yang relatif terbatas, desain deskriptif tanpa analisis inferensial, serta tidak tersedianya data klinis dan pemeriksaan laboratorium. Keterbatasan tersebut membatasi generalisasi temuan dan tidak memungkinkan penarikan hubungan kausal secara langsung antara paparan lingkungan kerja dan kejadian penyakit. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 18. Nomor 1. Mei 2026 SIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menunjukkan bahwa petugas kebersihan di Kota Semarang memiliki risiko tinggi terhadap leptospirosis yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan kerja yang lembap, tergenang air, serta adanya paparan dari hewan reservoir. Meskipun terdapat kesadaran terhadap risiko dan praktik higiene personal yang cukup baik, tingkat pengetahuan tentang leptospirosis masih terbatas dan penggunaan APD yang belum konsisten. Temuan ini mengindikasikan bahwa perlindungan kesehatan kerja pada petugas kebersihan masih belum optimal dan memerlukan penguatan pada aspek edukasi, perilaku pencegahan, serta dukungan sistem kerja. Oleh karena itu, disarankan agar instansi terkait meningkatkan edukasi kesehatan dan pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja secara berkala, serta memastikan ketersediaan dan kepatuhan penggunaan alat pelindung diri sebagai upaya pencegahan leptospirosis. UCAPAN TERIMA KASIH Para penulis mengucapkan terima kasih kepada Universitas Nasional Karangturi. Semarang atas pendanaan yang diberikan sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik. RUJUKAN