Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 274-287 Email: nurasjournal@gmail. PELATIHAN PEMBUATAN LILIN AROMATERAPI DARI MINYAK JELANTAH SEBAGAI INOVASI EKONOMI KREATIF GENERASI MUDA DUSUN LILIN Ida Bagus Putu Suardana1*. I Ketut Putu Suardana2. Ida Ayu Nyoman Widya Laksmi3, & I Komang Widya Purnama Yasa4 1,2,3,&4 Program Studi Ekonomi Hindu. Fakultas Dharma Duta. Institut Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram. Jalan Pancaka Nomor 7B. Mataram. Nusa Tenggara Barat 83126. Indonesia *Email: debagus. 2207@gmail. Submit: 14-10-2025. Revised: 29-10-2025. Accepted: 30-10-2025. Published: 31-10-2025 ABSTRAK: Pengembangan ekonomi kreatif melalui pelatihan pemanfaatan limbah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi dilaksanakan di Dusun Lilin. Desa Giri Tembesi, dari tanggal 25 Juni hingga 9 Agustus 2025. Program pengabdian kepada masyarakat ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan generasi muda berusia 12-22 tahun dalam mengelola limbah agar bernilai ekonomi melalui pendekatan berbasis pelatihan. Metode yang diterapkan meliputi observasi, ceramah, dan praktik langsung yang melibatkan 22 peserta. Program pelatihan ini terdiri dari empat tahap utama, yaitu: . pengenalan program dan konsep ekonomi kreatif. pemberian materi mengenai limbah minyak jelantah. pelatihan pembuatan lilin aromaterapi. teknik pengemasan dan pemasaran produk. Evaluasi dilakukan melalui observasi langsung terhadap keterampilan praktik peserta dan diskusi interaktif untuk mengukur pemahaman materi serta minat Hasil kegiatan menunjukkan bahwa 85% peserta mampu memahami proses produksi lilin, 80% menguasai konsep dasar pengemasan, dan 70% menyatakan minat untuk mengembangkan usaha sendiri. Produk yang dihasilkan adalah empat lilin aromaterapi beraroma lavender dengan waktu pembakaran 4-6 jam dan aroma yang tahan lama. Dari perspektif analisis ekonomi, potensi keuntungan mencapai Rp 45. 000 dari investasi sebesar Rp 35. 000 untuk empat Pelaksanaan program ini terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran lingkungan, menumbuhkan semangat kewirausahaan, dan memperkuat keterampilan ekonomi kreatif pemuda pedesaan, sekaligus menawarkan solusi alternatif untuk pengelolaan limbah yang berkelanjutan. Kata Kunci: Ekonomi Kreatif. Kesadaran Lingkungan. Lilin Aromaterapi. Minyak Jelantah. Pemberdayaan Generasi Muda. ABSTRACT: The development of the creative economy through training on converting used cooking oil waste into aromatherapy candles was conducted in Dusun Lilin. Giri Tembesi Village, from June 25 to August 9, 2025. This community service program was designed to enhance the ability of youth aged 12-22 to manage waste into economically valuable products through a training-based approach. The methods applied included observation, lectures, and hands-on practice involving 22 participants. The training program consisted of four main stages: . introduction to the program and the concept of the creative economy. delivery of material regarding used cooking oil waste. training in aromatherapy candle production. techniques for product packaging and marketing. Evaluation was conducted through direct observation of participantsAo practical skills and interactive discussions to assess their understanding of the material and entrepreneurial interest. The results indicated that 85% of participants were able to understand the candle production process, 80% mastered basic packaging concepts, and 70% expressed interest in developing their own business. The products produced were four lavender-scented aromatherapy candles with a burning time of 4-6 hours and a long-lasting fragrance. From an economic analysis perspective, the potential profit reached IDR 45,000 from an investment of IDR 35,000 for four candles. The program proved effective in raising environmental awareness, fostering entrepreneurial spirit, and strengthening the creative economic skills of rural youth, while also offering an alternative solution for sustainable waste Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 274-287 Email: nurasjournal@gmail. Keywords: Creative Economy. Environmental Awareness. Aromatherapy Candles. Waste Cooking Oil. Youth Empowerment. How to Cite: Suardana. Suardana. Laksmi. , & Yasa. Pelatihan Pembuatan Lilin Aromaterapi dari Minyak Jelantah sebagai Inovasi Ekonomi Kreatif Generasi Muda Dusun Lilin. Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 5. , 274287. https://doi. org/10. 36312/nuras. Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat is Licensed Under a CC BY-SA Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. PENDAHULUAN Ekonomi kreatif merupakan sektor yang berperan penting untuk meningkatkan kemandirian dan ketahanan perekonomian masyarakat, khususnya di pedesaan (Putri & Wahyuningsih, 2. Ekonomi kreatif tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, tetapi juga meningkatkan jiwa kewirausahaan sejak usia muda (Patimah et al. , 2. Anak-anak dan remaja yang merupakan generasi muda memiliki kreativitas dan kemampuan adaptasi teknologi yang tinggi, yang dapat menjadi peluang produksi kreatif dan pemasaran melalui digitalisasi (Manullang, 2024. Wijaya, 2. Menurut Syaipudin . , pengembangan ekonomi kreatif pada generasi muda di desa mampu meningkatkan inovasi serta usaha yang berdampak positif pada kesejahteraan masyarakat setempat, sekaligus menjaga lingkungan dari limbah minyak jelantah melalui produk-produk ekonomi kreatif. Menurut Azahra et al. , pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah merupakan inovasi strategis dalam memanfaatkan limbah minyak secara optimal, mendukung pelestarian lingkungan, sekaligus menciptakan produk yang bernilai Jika minyak jelantah dibuang sembarangan, hal ini dapat menyebabkan pencemaran lingkungan yang serius dan kerusakan lingkungan sekitar. Seiring perkembangan teknologi, berbagai penelitian terbaru, seperti penelitian Kurniawan et al. , menunjukkan bahwa minyak jelantah dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif dalam pembuatan lilin aromaterapi dengan menggabungkan stearic acid sebagai pengeras dan minyak esensial sebagai pemberi aroma terapeutik. Penelitian terbaru dari Hasyim et al. menjelaskan bahwa lilin aromaterapi yang dihasilkan dari minyak jelantah memiliki kualitas pembakaran yang bagus dan stabil, serta aroma yang kuat. Hal ini dapat dimanfaatkan sebagai peluang usaha bagi masyarakat pedesaan melalui pelatihan pengelolaan limbah Selain itu, penelitian Permadi et al. menunjukkan bahwa pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku lilin tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan tetapi juga menghasilkan lilin berkualitas, dengan durasi nyala lebih lama dibandingkan lilin dari bahan baku minyak goreng baru. Oleh karena itu, pelatihan ini menjadi solusi yang tepat dalam menggabungkan aspek lingkungan dan ekonomi melalui produk lilin aromaterapi berkualitas tinggi. Namun, warga Dusun Lilin hingga kini masih belum memiliki kemampuan untuk mengolah minyak bekas pakai menjadi barang yang bisa dijual Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 274-287 Email: nurasjournal@gmail. dan menghasilkan uang. Program pelatihan kali ini menarik karena tidak hanya mengajarkan cara membuat lilin aromaterapi, tetapi juga langsung praktik sambil belajar cara menjualnya melalui media sosial, khususnya bagi anak-anak muda di desa, sehingga mereka dapat lebih mandiri. Pelatihan pengelolaan limbah minyak menjadi lilin aromaterapi ini merupakan program pengembangan ekonomi kreatif di Desa. Hal ini sejalan dengan penemuan pelatihan kewirausahaan berbasis digital di Desa Kadumaneuh yang menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan pemuda melalui pembekalan digital dan praktik langsung memiliki potensi pemasaran produk lokal yang besar. Pelatihan seperti ini tidak hanya memberikan pengetahuan tentang pemanfaatan limbah, tetapi juga memperluas keterampilan dalam produksi dan pemasaran digital yang dapat menjangkau pasar lebih luas, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan (Juni et al. , 2. Pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah bertujuan untuk membantu memfasilitasi anak-anak dan remaja di Dusun Lilin melalui penggabungan pengetahuan, keterampilan produksi, pengelolaan limbah, serta strategi pemasaran digital. Program ini bertujuan untuk menciptakan produk kreatif dengan nilai ekonomi, membentuk mindset wirausaha, dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini. Dengan demikian, pelatihan ini diharapkan mampu menjadi platform pemberdayaan ekonomi kreatif yang inklusif dan berkelanjutan di komunitas pedesaan. METODE Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini meliputi observasi, ceramah, dan pelatihan langsung yang dilakukan di Dusun Lilin, dengan generasi muda sebagai peserta utama dalam proses pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah. Metode pelatihan partisipatif dipilih karena mampu meningkatkan keterlibatan peserta secara aktif dalam proses pembelajaran berbasis pengalaman, sehingga lebih efektif dalam membangun keterampilan praktis dan menumbuhkan jiwa kewirausahaan (Sulistiyani, 2. Pendekatan ini juga memungkinkan penyampaian pengetahuan yang lebih bermakna karena peserta tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi terlibat langsung dalam setiap tahapan kegiatan (Mardikanto & Soebianto, 2. Kegiatan dilaksanakan di Dusun Lilin. Desa Giri Tembesi, pada tanggal 25 Juni hingga 9 Agustus 2025. Lokasi ini dipilih karena memiliki potensi yang mendukung pengembangan ekonomi kreatif, ketersediaan limbah minyak jelantah yang melimpah, serta semangat tinggi dari anak-anak dan remaja dalam mengikuti kegiatan kreatif. Peserta berjumlah 22 orang, terdiri dari anak-anak dan remaja berusia 12-22 tahun. Kriteria pemilihan peserta meliputi: . berdomisili di Dusun Lilin. memiliki minat terhadap kegiatan kreatif dan kewirausahaan. bersedia mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dari awal hingga akhir. mampu berpartisipasi aktif dalam kegiatan praktik. Proses kegiatan dimulai dengan tahap persiapan, yang mencakup koordinasi dengan pihak dusun, survei lokasi, identifikasi peserta, serta penyusunan materi edukasi dan pelatihan. Pada tahap ini juga dilakukan persiapan alat dan bahan yang akan digunakan, seperti stearic acid, minyak esensial, kompor, panci, gelas, dan alat pendukung lainnya. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 274-287 Email: nurasjournal@gmail. Tahap pelaksanaan terdiri dari beberapa sesi: . sesi pertama yaitu pengenalan program dan pengertian ekonomi kreatif, di mana pemateri memberikan pemahaman kepada peserta tentang konsep ekonomi kreatif dan pentingnya mengembangkan keterampilan kreatif. sesi kedua berupa edukasi limbah minyak jelantah dan pengumpulan minyak, termasuk proses perendaman minyak dengan arang. Pada sesi ini, peserta diberikan penjelasan mengenai dampak negatif pembuangan minyak jelantah bagi lingkungan dan pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai jual tinggi. sesi ketiga adalah praktik pembuatan lilin aromaterapi. Pemateri mendemonstrasikan langsung langkahlangkah pembuatan lilin, mulai dari penyaringan minyak jelantah, pencampuran bahan seperti stearic acid, pemberian warna dan minyak esensial, hingga pencetakan lilin. sesi keempat mencakup pengemasan produk dan pemasaran, di mana pemateri menjelaskan teknik pengemasan agar terlihat menarik serta strategi pemasaran yang efektif di era digital. Setelah pelatihan, dilakukan tahap evaluasi untuk mengukur sejauh mana peserta memahami pentingnya ekonomi kreatif dalam kehidupan sehari-hari dan materi yang telah diberikan. Evaluasi dilakukan melalui beberapa cara: . Evaluasi kualitatif melalui diskusi interaktif dan tanya jawab untuk menilai pemahaman peserta mengenai konsep ekonomi kreatif, proses produksi, dan teknik pemasaran (Aryanti et al. , 2. evaluasi keterampilan praktik melalui observasi langsung terhadap kemampuan peserta dalam melakukan setiap tahapan pembuatan lilin aromaterapi. evaluasi minat kewirausahaan berdasarkan antusiasme peserta terhadap pertanyaan biaya produksi dan harga jual, serta pernyataan minat untuk membangun usaha sendiri (Sulistiyani, 2. Secara keseluruhan, metode yang digunakan tidak hanya bertujuan menambah wawasan dan keterampilan, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan semangat kewirausahaan sejak dini (Mardikanto & Soebianto, 2. Melalui pendekatan partisipatif, peserta belajar bahwa limbah dapat diolah menjadi produk bernilai jual, sehingga mendorong terciptanya mindset ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Diharapkan keterampilan dan wawasan ini dapat terus dikembangkan bahkan setelah kegiatan pengabdian masyarakat selesai. Kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga menjadi fondasi bagi pembangunan masyarakat yang mandiri dan berorientasi pada keberlanjutan. Observasi Evaluasi Ceramah Praktek Gambar 1. Diagram Alur Metode Kegiatan. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 274-287 Email: nurasjournal@gmail. HASIL DAN DISKUSI Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan dari tanggal 25 Juni 2025 hingga 9 Agustus 2025 di Dusun Lilin. Desa Giri Tembesi, berjalan dengan lancar dan mendapat respons positif dari masyarakat, baik anak-anak, remaja, maupun orang tua. Generasi muda menjadi sasaran utama dalam pelaksanaan program kerja ini. Pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah menarik minat generasi muda karena memanfaatkan limbah minyak menjadi produk yang menarik, bernilai jual tinggi, dan memiliki proses pembuatan yang relatif sederhana. Kegiatan pelatihan ini diikuti oleh 22 peserta, terdiri dari anak-anak dan remaja berusia 12-22 tahun. Hasil kegiatan dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu tahap observasi, tahap pemberian materi, tahap praktik, dan tahap evaluasi. Tahap Observasi Pada tahap ini, tim pelaksana melakukan observasi untuk melihat kondisi lapangan secara langsung. Observasi tidak hanya sekadar menghadiri kegiatan, tetapi juga memperhatikan aktivitas anak-anak dan remaja di Dusun Lilin saat waktu senggang, interaksi mereka dengan lingkungan sekitar, serta keterlibatan dalam kegiatan produktif. Menurut Creswell . , observasi memungkinkan peneliti mengumpulkan data tanpa mengandalkan pernyataan subjektif responden, sehingga mengurangi kemungkinan bias yang muncul pada metode penelitian lain seperti wawancara atau kuesioner. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa generasi muda kurang memperhatikan peluang ekonomi kreatif yang ada di lingkungan sekitar, seperti pemanfaatan limbah minyak jelantah. Menurut Listyorini et al. , observasi ini membantu peneliti memahami karakter peserta serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat melalui analisis Strengths. Weaknesses. Opportunities. Threats (SWOT). Strengths (Kekuata. Peserta memiliki antusiasme tinggi terhadap hal baru yang berbau kreatif, cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi, dan memiliki kreativitas yang Weaknesses (Kelemaha. Belum adanya wadah atau kegiatan rutin untuk menyalurkan potensi ekonomi kreatif, serta keterbatasan pengetahuan mengenai pengelolaan limbah. Opportunities (Peluan. Ketersediaan bahan baku limbah minyak jelantah yang melimpah dan peluang pengembangan produk lilin aromaterapi menjadi produk bernilai ekonomi (Vuspitasari et al. , 2. Threats (Ancama. Risiko rendahnya keberlanjutan program jika tidak ada pendampingan lanjutan atau dukungan dari pihak setempat. Berdasarkan hasil observasi ini, tim pelaksana menyimpulkan bahwa pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah tepat dilaksanakan, karena dapat memanfaatkan potensi yang ada, mengatasi kelemahan, dan memaksimalkan peluang untuk mengembangkan ekonomi kreatif berbasis limbah minyak jelantah secara berkelanjutan. Kegiatan ini meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan limbah rumah tangga. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 274-287 Email: nurasjournal@gmail. Tahap Ceramah Tahap ceramah merupakan bagian penting sebelum peserta masuk ke proses praktik. Pada tahap ini, peneliti tidak langsung meminta peserta membuat lilin aromaterapi, tetapi mengajak mereka memahami konsep dasar ekonomi kreatif serta pengenalan alat dan bahan yang akan digunakan. Menurut Sit et al. , pengenalan ini penting agar peserta tidak bingung saat praktik dan memiliki gambaran awal mengenai apa yang akan dibuat. Gambar 2. Pengenalan Program dan Pemahaman Mengenai Ekonomi Kreatif. Pertemuan pertama menunjukkan antusiasme yang luar biasa dari peserta dalam pengenalan program kerja dan pemahaman ekonomi kreatif. Materi disampaikan secara sederhana dan interaktif. Pada pertemuan ini dijelaskan konsep ekonomi kreatif sebagai pemanfaatan kreativitas untuk mengubah bahanbahan sederhana atau limbah menjadi produk bernilai jual (Putri & Wahyuningsih. Peserta diperkenalkan pada potensi limbah minyak jelantah yang selama ini hanya dibuang, padahal dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomis. Tingkat pemahaman awal peserta terhadap konsep ekonomi kreatif mencapai 75%, yang diukur melalui kemampuan mereka menjawab pertanyaan sederhana terkait definisi dan contoh ekonomi kreatif. Gambar 3. Edukasi Limbah Minyak Jelantah dan Merendam Minyak dengan Arang. Pada pertemuan kedua mengenai edukasi limbah minyak jelantah, kegiatan ini berhasil meningkatkan kesadaran peserta terhadap masalah lingkungan, khususnya pencemaran akibat pembuangan minyak jelantah secara sembarangan. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 274-287 Email: nurasjournal@gmail. Peserta diberikan pemahaman mengenai dampak negatif pembuangan minyak jelantah bagi lingkungan dan bagaimana pemanfaatan limbah dapat menjadi produk bernilai jual tinggi. Menurut Azahra et al. , pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah merupakan inovasi strategis dalam memanfaatkan limbah minyak secara optimal serta mendukung pelestarian lingkungan, sekaligus menciptakan produk bernilai jual. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 90% peserta mampu memahami dampak negatif minyak jelantah terhadap lingkungan, dan 85% menyatakan kesediaan untuk mengumpulkan minyak jelantah dari rumah masing-masing. Tahap Praktik Dalam sesi praktik, pemateri mendemonstrasikan langkah-langkah pembuatan lilin aromaterapi di depan peserta. Metode demonstrasi dipilih karena terbukti efektif dalam pembelajaran keterampilan teknis, di mana peserta dapat mengamati secara langsung setiap tahapan proses sebelum mempraktikkannya sendiri (Mardikanto & Soebianto, 2012. Safnowandi & Efendi, 2. Gambar 4. Praktik Pembuatan Lilin. Hasil observasi menunjukkan bahwa 85% peserta memperhatikan dengan seksama dan mampu memahami setiap tahapan proses yang didemonstrasikan, di Penyaringan Minyak Jelantah Peserta mengamati cara pemateri menyaring minyak dari rendaman arang aktif untuk menghilangkan kotoran dan bau tidak sedap. Pencampuran Bahan Peserta melihat langsung dan ikut berpartisipasi dalam proses pencampuran minyak jelantah dengan stearic acid dengan perbandingan 1:1 untuk menghasilkan tekstur lilin yang padat. Penambahan Aroma dan Warna Peserta memperhatikan teknik penambahan minyak esensial dan pewarna dari krayon bekas untuk menghasilkan lilin dengan aroma dan warna yang Proses Pencetakan Peserta mengamati cara memasang sumbu dan menuangkan campuran lilin ke dalam cetakan gelas. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 274-287 Email: nurasjournal@gmail. Gambar 5. Hasil Praktik Pembuatan Lilin Aromaterapi. Dari demonstrasi yang dilakukan, dihasilkan empat lilin aromaterapi dengan aroma lavender yang menunjukkan kualitas baik, antara lain durasi nyala rata-rata 4-6 jam, aroma kuat dan tahan lama, warna menarik, serta tidak mengeluarkan asap berlebihan saat dinyalakan. Hasil ini sejalan dengan Hasyim et . , yang menjelaskan bahwa lilin aromaterapi yang dihasilkan dari minyak jelantah memiliki kualitas pembakaran yang baik dan stabil, serta aroma yang Selain itu, penelitian Permadi et al. menunjukkan bahwa pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku lilin tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga menghasilkan lilin berkualitas dari segi durasi nyala yang lebih lama dibandingkan lilin dari minyak goreng baru. Aspek paling menarik dari kegiatan ini adalah munculnya kreativitas spontan peserta dalam memilih kombinasi warna dan aroma sesuai preferensi masing-masing. Perkembangan pengetahuan peserta mengalami kemajuan yang signifikan, yang sebelumnya tidak memahami pengelolaan limbah, kini mampu memanfaatkan minyak jelantah menjadi produk bernilai jual. Tingkat keberhasilan praktik mencapai 95%, yang diukur dari kemampuan peserta menyelesaikan seluruh tahapan pembuatan lilin dengan hasil produk yang memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan. Tahap Pengemasan dan Pemasaran Gambar 6. Tahap Pengemasan dan Pemasaran Produk. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 274-287 Email: nurasjournal@gmail. Pertemuan keempat mengenai pengemasan dan pemasaran produk menunjukkan antusiasme tinggi peserta ketika pemateri menjelaskan teknik pembuatan nama produk yang menarik, desain logo yang mudah diingat, serta stiker sebagai identitas visual untuk pengemasan menggunakan kardus bekas, kertas kado, dan pita. Sebanyak 80% peserta mampu memahami konsep pengemasan sederhana yang dijelaskan secara teoritis untuk meningkatkan nilai jual produk melalui branding dasar tersebut. Menurut Juni et al. , pelatihan kewirausahaan yang mengintegrasikan pembekalan digital dan praktik langsung memiliki potensi pemasaran produk lokal yang besar dan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan. Pada sesi pemasaran digital, peserta diberikan penjelasan lengkap mengenai strategi memasarkan produk melalui media sosial seperti Instagram dan WhatsApp, dengan memanfaatkan nama, logo, dan stiker yang telah dibuat sebagai konten visual, meskipun belum dipraktikkan secara langsung. Melalui demonstrasi dan edukasi yang diberikan, pelatihan ini berhasil menumbuhkan minat kewirausahaan pada peserta, di mana sebanyak 70% peserta menyatakan tertarik untuk mencoba membuat lilin aromaterapi sendiri di rumah. Beberapa peserta mulai bertanya mengenai biaya produksi dan cara menetapkan harga jual. Berdasarkan perhitungan yang disampaikan oleh pemateri, dengan modal Rp 35. 000 untuk membuat empat lilin, produk dapat dijual dengan harga Rp 000 per buah sehingga memperoleh keuntungan Rp 45. 000 atau tingkat keuntungan sebesar 128,6%. Analisis ekonomi ini menunjukkan bahwa usaha lilin aromaterapi dari minyak jelantah memiliki potensi keuntungan yang menjanjikan dengan margin yang cukup tinggi. Hal ini sejalan dengan temuan El Hasanah, . yang menyatakan bahwa pengembangan wirausaha muda ekonomi kreatif berbasis budaya dan potensi lokal mampu meningkatkan kemandirian ekonomi Tahap Evaluasi Dokumentasi dalam kegiatan ini berperan penting sebagai bentuk pelaporan sekaligus bukti keterlibatan aktif peserta selama proses pelatihan Setiap foto yang diambil tidak hanya merekam aktivitas teknis, tetapi juga menunjukkan ekspresi antusias dan kebersamaan antar peserta. Hal ini menjadi indikator bahwa metode pendekatan partisipatif yang digunakan berjalan dengan baik. Gambar 7. Evaluasi Kegiatan. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 274-287 Email: nurasjournal@gmail. Setelah tahap pelatihan selesai, dilakukan tahap evaluasi untuk menilai pemahaman peserta mengenai pentingnya ekonomi kreatif dalam aktivitas seharihari serta kemampuan mereka dalam mengingat materi yang disampaikan sejak awal program. Evaluasi dilakukan secara kualitatif melalui komunikasi langsung dan diskusi dengan peserta. Penilaian berfokus pada kemampuan peserta untuk menjelaskan proses pembuatan lilin, mengekspresikan ide kreatif, dan menunjukkan pemahaman mereka mengenai peran ekonomi kreatif dalam mengoptimalkan penggunaan minyak goreng bekas (El Hasanah, 2. Program pelatihan pembuatan lilin aromaterapi menggunakan minyak goreng bekas sebagai bahan dasar di Dusun Lilin. Desa Giri Tembesi, berhasil dilaksanakan dengan melibatkan 22 peserta yang terdiri dari anak-anak hingga remaja berusia 12-22 tahun. Tingkat partisipasi peserta dalam program ini berkisar antara 80% hingga 100% dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Evaluasi keberhasilan program dapat diukur melalui beberapa indikator kuantitatif, seperti yang tertera pada Tabel 1. Tabel 1. Indikator Keberhasilan Program Pelatihan. No. Indikator Keberhasilan Persentase Pemahaman konsep ekonomi Kesadaran dampak lingkungan. Kesediaan mengumpulkan minyak jelantah. Pemahaman proses produksi. Keberhasilan praktik pembuatan Pemahaman konsep Minat berwirausaha. Tingkat partisipasi keseluruhan. 80-100% Keterangan Diukur melalui kemampuan menjawab Diukur melalui diskusi dan tanya Dinyatakan secara verbal oleh peserta. Diukur melalui observasi praktik. Diukur melalui kualitas produk yang Diukur melalui diskusi dan tanya Dinyatakan melalui pernyataan minat Kehadiran dalam seluruh rangkaian Tantangan dan Solusi Beberapa tantangan dan solusi yang dihadapi dalam melaksanakan program pembuatan lilin aromaterapi ini meliputi: Keterbatasan Penguasaan Konsep Dasar Peserta dari kelompok usia muda . -14 tahu. mengalami kesulitan memahami konsep ekonomi kreatif dari perspektif teoritis. Solusi yang diterapkan adalah menerapkan strategi pembelajaran berbasis visual dengan ilustrasi yang jelas dan menyesuaikan metode penyampaian sesuai dengan kemampuan pemahaman masing-masing kelompok usia. Kesulitan Teknis Selama Produksi Beberapa peserta kesulitan mengontrol suhu pencampuran dan menentukan perbandingan bahan yang tepat. Solusi yang diterapkan adalah sistem bimbingan intensif dengan rasio 1 instruktur untuk 3-4 peserta, serta menyediakan panduan implementasi yang sistematis dan mudah diikuti. Pendekatan ini membantu peserta memahami proses secara lebih mendalam dan meminimalkan Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 274-287 Email: nurasjournal@gmail. kesalahan selama praktik. Evaluasi berkala dilakukan untuk memastikan setiap peserta mencapai standar kompetensi yang ditetapkan. Aspek Keselamatan dalam Penggunaan Peralatan Penggunaan kompor dan peralatan bertekanan tinggi memerlukan pengawasan tambahan. Langkah-langkah yang diambil meliputi demonstrasi protokol keselamatan di awal sesi, penyediaan peralatan pelindung, dan pengawasan berkelanjutan sepanjang proses. Dampak dan Manfaat Program Pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah berhasil menumbuhkan minat kewirausahaan pada peserta, di mana 70% peserta menyatakan tertarik untuk mencoba membuat lilin aromaterapi sendiri di rumah. Beberapa peserta mulai bertanya mengenai biaya produksi dan cara menetapkan harga jual. Berdasarkan perhitungan pemateri, dengan modal Rp 35. 000 untuk membuat 4 buah lilin, produk dapat dijual dengan harga Rp 20. 000 per buah sehingga diperoleh keuntungan Rp 45. 000, atau margin keuntungan sebesar 128,6%. Pelatihan memberikan dampak positif berupa peningkatan kesadaran lingkungan dan kepercayaan diri peserta. Peserta yang sebelumnya tidak mengetahui dampak limbah minyak jelantah menjadi lebih peduli terhadap pengelolaan limbah dan melihat peluang ekonomi dari bahan-bahan yang sebelumnya dianggap tidak berharga. Peningkatan ini terlihat dari partisipasi aktif dalam diskusi dan keberanian mencoba teknik baru dalam pembuatan lilin Dokumentasi kegiatan memberikan gambaran visual tentang proses belajar peserta yang berlangsung secara bertahap, mulai dari pengenalan konsep, edukasi lingkungan, praktik produksi, hingga strategi pemasaran. Dokumentasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi program sejenis di masa mendatang dan referensi bagi mahasiswa yang akan melanjutkan program pelatihan ekonomi kreatif dengan karakteristik serupa. SIMPULAN Program pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah di Dusun Lilin. Desa Giri Tembesi, telah berhasil mencapai tujuan utama yaitu meningkatkan pengetahuan generasi muda dalam mengelola limbah agar bernilai ekonomi melalui pendekatan ekonomi Keberhasilan program ini dapat dilihat dari beberapa pencapaian terukur sebagai berikut: . meningkatkan kesadaran lingkungan terhadap pengelolaan limbah minyak jelantah. menumbuhkan semangat kewirausahaan generasi . memperkuat keterampilan ekonomi kreatif pemuda pedesaan. menawarkan solusi alternatif untuk pengelolaan limbah yang berkelanjutan. Tingkat partisipasi peserta mencapai 80-100% dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan menunjukkan antusiasme tinggi relevansi program bagi masyarakat sasaran. Kontribusi akademis dari kegiatan ini adalah mengembangan pelatihan model ekonomi kreatif yang mengintegrasikan aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial secara keberlanjutan melalui pendekatan partisipatif. Model ini dapat di replikasi untuk program pemberdayaan masyarakat sejenis di wilayah Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 274-287 Email: nurasjournal@gmail. lain dengan karakteristik serupa, khususnya daerah pedesaan yang memiliki limbah minyak jelantah melimpah namun belum dimanfaatkan secara optimal. SARAN Pelaksanaan pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah di Dusun Lilin telah memberikan hasil positif, namun keberlanjutannya perlu mendapat perhatian lebih lanjut dari beberapa kalangan, diantaranya: . masyarakat, kegiatan pelatihan ini diharapkan dapat terus dikembangkan secara Mandiri dengan membentuk kelompok usaha kreatif berbasis sampah rumah tangga untuk memastikan manfaat ekonomi dan lingkungan yang berkelanjutan. pemerintah desa dan tokoh masyarakat disarankan untuk memberikan dukungan berupa fasilitas, pendampingan, dan promosi produk lokal agar hasil pelatihan berdaya saing dan dapat dipasarkan lebih luas. bagi lembaga pendidikan, khususnya Institut Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram, kegiatan serupa perlu dilaksanakan secara berkelanjutan, dengan inovasi teknologi produksi dan pemasaran digital. bagi peneliti dan penyedia layanan masyarakat di masa mendatang, diharapkan dapat mengembangkan penelitian lebih lanjut tentang analisis kelayakan usaha atau dampak sosial ekonomi pengelolaan sampah menjadi produk kreatif. UCAPAN TERIMA KASIH