AL IRFAN: JURNAL ILMU PENDIDIKAN DAN PENELITIAN Vol. No. Oktober 2025, pp. DOI: https://doi. org/10. 64877/alirfan. KETELADANAN GURU PAI PADA ASPEK KEPRIBADIAN UNTUK MENGEMBANGKAN KARAKTER RELIGIUS SISWA DI SDIT SUIS BOGOR Indri Machtifaliandri1*. Melly Elvira2 1Universitas Islam Al-Ihya Kuningan, 2Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang E-mail: indri. macht@gmail. Article Info Article history: Received 10 09, 2025 Revised 10 27, 2025 Accepted 10 31, 2025 Keywords: Character Competence PAI teacher Personality Religious ABSTRACT The personality competence of Islamic Religious Education (PAI) teachers has an important role in developing the religious character of students through example. However, the condition of some PAI teachers has not been consistent in implementing the personality competencies of teachers. This study aims to examine in depth how the contribution of the personality competencies of PAI teachers, especially in the aspects of work ethic, authority, and wisdom, to the development of students' religious character at SDIT SUIS Bogor. This study uses a qualitative research method with a phenomenological approach. The data collection methods used are observation, interviews and documentation. The validity of the data in this study was carried out the source triangulation technique and the method triangulation technique. The results of the study show that the personality competence of PAI teachers has an important role in developing the religious character of students. The aspects of work ethic, authority, and the wisdom of teachers have proven to contribute *Corresponding Author: Universitas Islam Al-Ihya Kuningan. Indonesia Email: indri. macht@gmail. PENDAHULUAN Seorang guru berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menginspirasi perubahan serta membebaskan umat manusia dari kegelapan dan kebodohan (Aziz, 2. Guru menjadi orang yang paling membutuhkan konsistensi keteladanan pada kehidupannya karena akan menjadi teladani bagi siswa dalam menimba akhlak, adab dan ilmu darinya . sy-Syalhub. Dalam dunia pendidikan, guru memiliki kontribusi besar terhadap proses pendidikan untuk membentuk generasi unggul (Kurniasih, 2. Tugas dan fungsi seorang guru mencakup berbagai aspek, yaitu spiritual, emosional, intelektual, fisikal, ekonomi serta aspekaspek lain yang sangat esensial dalam memajukan masyarakat dan menciptakan generasi yang lebih baik (Roqib et al. , 2. Tanggung jawab guru untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan berperan dalam membina peserta didik secara utuh meliputi ranah pikir, sikap, keterampilan dan spiritualias. Rasulullah saw menuturkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Bahili ra : Al Irfan P-ISSN: 3089-6800 X E-ISSN: 3089-7300 a AEIOA a A aOE eaA UAOA ac Aua caIA a aA aca EI ecaIEaa aA a e aaN aO aca eAUAA a a ac AcaEEa aOaIEa aEaNa aO eaN aEA a AAEcaO aI aEaO aI aEaaI EIA Aca eae aOA a aAEaOA AuSesungguhnya Allah dan para Malaikat, serta semua makhluk di langit dan di bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan . i lauta. , benar-benar bershalawat/mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan . lmu agam. kepada manusiaAy. (HR. Tirmidzi dan Ath-Thabran. Berdasarkan hadits tersebut dapat diidentifikasi bahwa Allah SWT secara eksplisit menegaskan penghargaan yang tinggi bagi orang yang berperan dalam pendidikan dan mengajarkan manusia menuju kebaikan. Sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendikna. Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pada penjelasan pasal 28 ayat 3 butir b, diuraikan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian guru adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia. Ramayulis . menyebutkan kompetensi kepribadian yang berhubungan dengan akhlak guru mencakup berbagai aspek, yaitu guru hendaknya memiliki kecintaan pada tugasnya sebagai seorang pengajar, menunjukkan keadilan dalam membina seluruh anak didik, memiliki wibawa yang dapat dihormati, bersikap ceria dan penuh semangat, bersifat manusiawi dalam menghadapi perbedaan karakter peserta didik, serta mampu bekerja sama dengan rekan sejawat dan masyarakat Dengan demikian dibutuhkan usaha sungguh-sungguh guna menilai sekaligus mengembangkan kapasitas kepribadian guru Pendidikan Agama Islam agar dapat menjalankan fungsi dengan optimal dalam membina serta mengembangkan karakter religius peserta didik. Hasil penelitian Ammar MAE . menunjukkan bahwa guru PAI di SD Swasta Bakti Luhur Medan yang memiliki kepribadian jujur, berakhlak mulia, menjadi teladan dalam ucapan dan perilaku, serta berpakaian syarAoi disertai dedikasi kerja, rasa tanggung jawab, serta kebanggaan dalam menyebarkan nilai-nilai Islam kepada peserta didik, kedewasaan, kebijaksanaan dan kharisma yang dimiliki bersumber dari keteladanan Nabi, sahabat, dan orang-orang sholeh. Berdasarkan fenomena tersebut, peneliti memandang bahwa kompetensi kepribadian guru PAI yang hakikatnya merupakan bagian dari sifat atau karakter pribadi meskipun sulit diukur secara formal, tetapi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan peserta didik pada usia Sekolah Dasar. Hal ini ditunjukkan pula dalam hasil penelitian Anak Ampun . yang menegaskan bahwa aspek keteladanan, kesabaran, dan integritas memiliki pengaruh signifikan terhadap pembentukan karakter religius siswa. Selain itu Nurbaiti et al,. dalam penelitiannya juga meneliti bentuk religiusitas siswa yang dapat dikembangkan oleh seorang guru meliputi ketaqwaan, keikhlasan, integritas, tata krama, tolong menolong, kecintaan Rasul, hidup bersih, jiwa kompetitif serta sikap bersyukur. Menurut Daradjat . dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam menegaskan bahwa sesungguhnya guru agama mengemban beban moral yang lebih besar dibanding guru mata pelajaran lainnya, karena guru agama mengajarkan norma-norma fundamental yang melandasi segala tindakan. Oleh karena itu, kepribadian guru Pendidikan Agama Islam sangat penting sebab sudah sepatutnya menjadi contoh nyata dan refleksi nilai-nilai Islam. Sehubungan dengan permasalahan tersebut dibutuhkan usaha yang sungguh-sungguh guna menilai sekaligus mengembangkan kapasitas kepribadian guru Pendidikan Agama Islam agar dapat menjalankan fungsi dengan optimal dalam membina serta mengembangkan karakter religius peserta didik. Namun pada kenyataannya ada ketidaksesuaian dengan Al Irfan: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Penelitian Vol. No. 02 Tahun 2025, pp. kondisi di lapangan. Kondisi sebagian guru PAI belum konsisten dalam mengimplementasikan kompetensi kepribadian seperti pembiasaan menjalankan ajaranajaran Islam seutuhnya yang mengakibatkan terhambatnya perkembangan karakter religius peserta didik. Meskipun guru PAI memiliki peran sentral sebagai teladan dan pembina karakter religius, serta telah diatur mengenai kompetensi kepribadian guru dalam regulasi dan literatur Islam, masih terdapat indikasi ketidaksesuaian antara tuntutan ideal kompetensi kepribadian dengan implementasi praktis di lapangan, khususnya terkait konsistensi keteladanan dalam aspek etos kerja, kewibawaan, dan kearifan yang dikhawatirkan menghambat optimalisasi pengembangan karakter religius siswa. Penelitian ini secara fundamental diarahkan untuk mengungkap dan menganalisis peran keteladanan spesifik guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam pengembangan karakter religius siswa di SDIT SUIS Bogor. Fokus utama adalah pada bagaimana guru PAI mengimplementasikan kompetensi kepribadiannya dalam aspek etos kerja, kewibawaan, dan Secara spesifik, penelitian ini berupaya menjawab pertanyaan mengenai bentuk implementasi keteladanan tersebut dalam ketiga aspek, serta mengkaji bagaimana implementasi kolektif dari etos kerja, kewibawaan, dan kearifan guru PAI tersebut berkontribusi terhadap pengembangan karakter religius siswa di lingkungan sekolah Sesuai dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan, penelitian ini memiliki tujuan utama untuk memberikan deskripsi mendalam mengenai pelaksanaan keteladanan guru PAI di SDIT SUIS Bogor, yang meliputi deskripsi terperinci mengenai implementasi aspek etos kerja, kewibawaan, dan kearifan. Selanjutnya, penelitian ini juga bertujuan untuk melakukan analisis mendalam mengenai kontribusi atau pengaruh implementasi ketiga aspek keteladanan kompetensi kepribadian guru PAI tersebut terhadap upaya optimalisasi pengembangan karakter religius siswa di SDIT SUIS Bogor. Jika hasil beberapa penelitian sebelumnya adalah lebih menitikberatkan kepada kompetensi kepribadian guru PAI secara umum dan pentingnya dalam pembentukan peserta didik yang taat beribadah, maka penelitian ini akan melihat dari sisi kompetensi kepribadian guru secara lebih spesifik yaitu aspek etos kerja, kewibawaan dan kearifan. Berdasarkan penelusuran literatur-literatur terkait, diharapkan dengan adanya keteladanan guru PAI dalam aspek kepribadian yang dapat berperan dalam mengembangkan karakter religius di SDIT SUIS Bogor dapat diaplikasikan. Adapun kerangka konseptual kompetensi kepribadian guru PAI dalam aspek etos kerja, kewibawaan dan kearifan adalah sebagai berikut: Keteladanan Guru PAI (Kompetensi Kepribadia. Etos Kerja. Kewibawaan. Kearifan Pengembangan Karakter Religius Siswa Gambar 1. Kerangka Konseptual Penelitian ini berfokus di SDIT SUIS Bogor karena sekolah ini dikenal memiliki kurikulum yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam setiap aspek pembelajaran. Keberhasilan SDIT SUIS dalam menciptakan lingkungan religius yang kondusif tidak lepas Al Irfan P-ISSN: 3089-6800 X E-ISSN: 3089-7300 dari peran guru PAI. Maka dari itu, peneliti bermaksud meneliti secara mendalam kapasitas kepribadian guru Pendidikan Agama Islam khususnya pada aspek etos kerja, kewibawaan dan kearifan dalam berkontribusi untuk pengembangan karakter religius siswa melalui penelitian yang berjudul Keteladanan Guru PAI Dalam Aspek Kepribadian Untuk Pengembangan Karakter Religius Siswa di SDIT SUIS Bogor. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu penelitian yang mendeskripsikan suatu fakta yang terjadi apa adanya. Pendekatan yang digunakan adalah fenomenologi untuk mengungkap esensi pengalaman subjektif guru PAI dalam mengaplikasikan kompetensi kepribadian dengan tujuan untuk memahami dan menghasilkan deskripsi terstruktur sehingga dapat memberikan wawasan baru bagi pengembangan profesionalisme guru yang lebih baik. Adapun lokasi penelitian berada di SDIT SUIS Bogor, dengan jumlah informan sebanyak lima interviewer yang akan dilakukan wawancara semi terstruktur yang relevan dengan penelitian dan berkompeten serta memiliki pengetahuan tentang masalah penelitian. Dalam hal ini indorman tersebut adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru Pendidikan Agama Islam dan peserta didik di SDIT SUIS Bogor. Proses analisis data ini menggunakan model interaktif yang merujuk pada konsep Miles dan Hubberman terdiri dari reduksi data . ata reductio. , penyajian data . ata displa. , dan penarikan serta pengujian kesimpulan . rawing and verifying conclousio. Teknik pengumpulan data yaitu observasi dengan cara pengamatan langsung ke lokasi, wawancara menggunakan semi berstruktur dengan tujuan agar peneliti dapat menggali permasalahan secara terbuka, dan dokumentasi yaitu berupa foto-foto dan data yang memberikan informasi terkait peristiwa yang diteliti. Penarikan kesimpulan diambil dari data yang sudah dianalisis dan dicek kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh dari lokasi Pada tahap ini, peneliti dapat melakukan konfirmasi guna mempertajam dan memperjelas pemahaman serta penafsiran. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik triangulasi sumber dan teknik triangulasi metode. Yang mana teknik triangulasi sumber diperoleh dari masing-masing narasumber berupa data observasi yang kemudian dataAedata observasi tersebut akan dibandingkan dengan data hasil wawancara sehingga peneliti akan menemukan keabsahan data dan dapat dipercaya. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Setelah peneliti melakukan penelitian di lapangan dengan cara mengamati dan melakukan wawancara kepada berbagai pihak, maka peneliti menemukan data yang dapat menjadi penunjang penelitian. Kemudian data hasil wawancara dan observasi dibahas guna menelusuri seluruh rumusan masalah yang menjadi acuan dalam mengumpulkan data yang Pembahasan hasil penelitian terkait beberapa aspek sebagai berikut: Temuan lapangan didasarkan pada observasi, wawancara, dan dokumentasi di SDIT SUIS Bogor dengan fokus pada implementasi keteladanan Guru PAI dalam tiga aspek kompetensi kepribadian yaitu etos kerja, kewibawaan, dan kearifan. Berikut adalah rangkuman temuan lapangan berdasarkan indikator penelitian: Tabel 1. Indikator Kompetensi Penelitian Aspek Kompetensi Kepribadian Etos Kerja Indikator Temuan Kualitatif di Lapangan Disiplin Mayoritas baik . ehadiran dan ketepatan wakt. , namun masih ada sebagian guru yang datang mendekati jam bel masuk. Al Irfan: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Penelitian Vol. No. 02 Tahun 2025, pp. Tanggung Jawab Inisiatif Tegas Kewibawaan Kemampuan Komunikasi Kepercayaan Diri Beretika Sensitif & Empati Adil Kearifan Bijaksana Pengendalian Emosi Dampak pada Karakter Religius Siswa Ketaatan & Perilaku Sosial Baik. Guru PAI menyelesaikan tugas administratif dan pendidikan tepat waktu, meskipun ada kecenderungan menolak tugas di Baik. Guru PAI menunjukkan inisiatif dalam pengembangan metode pembelajaran yang inovatif untuk meningkatkan pemahaman Guru PAI tegas dalam menegakkan disiplin melalui nasihat. melibatkan orang tua untuk pelanggaran berulang. memberikan reward sederhana untuk apresiasi. Efektif, baik dengan siswa, rekan sejawat, maupun orang tua. Guru berperan sebagai pendengar yang baik dan mampu memberi solusi religius. Tinggi, tercermin dalam bahasa tubuh meyakinkan dan intonasi jelas, menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Baik dan konsisten dengan norma Islam dalam praktik etika sejalan dengan ucapan dan perbuatan religius sehari-hari. Tinggi. Guru proaktif menghampiri siswa kesulitan, menjelaskan materi dengan sabar, dan memotivasi dengan janji pahala Ilahi. Baik dan konsisten. Memperlakukan siswa setara tanpa memandang latar belakang. penilaian didasarkan pada objektivitas. Baik. Guru memberikan bimbingan sesuai usia dan kompleksitas masalah, membantu siswa menemukan solusi tanpa menghakimi. Stabil. Mampu menerapkan strategi menenangkan siswa di kelas yang kurang kondusif tanpa berteriak atau menunjukkan Peningkatan perilaku sosial . opan santu. , kesadaran spiritual, dan kemandirian ibadah . artisipasi spontan salat Dhuha dan waji. Untuk memperkuat temuan di atas, berikut disajikan kutipan langsung dari informan: Aspek Etos Kerja Meskipun kedisiplinan umumnya baik, masih ada catatan: AuHanya mungkin di sisi kedisiplinan saja, misalkan datangnya terlalu dekat dengan waktu belajar dimulai. Ada beberapa, tapi sebagian besar sudah sesuai. Ay . awancara dengan Narasumber du. Aspek Kewibawaan (Ketegasan dan Etik. Wibawa guru PAI berdampak langsung pada suasana kelas: AuBiasanya setelah memberikan aturan tegas, kita juga memberikan reward kepada mereka. Jadi ketika anak salah, kita mengingatkan dengan tegas dan jika ada sanksi, maka akan diberikan sanksi. Tapi ketika siswa melakukan kebaikan atau mendapat prestasi-prestasi yang bukan hanya prestasi akademik, itu juga Al Irfan P-ISSN: 3089-6800 X E-ISSN: 3089-7300 patut dihargai diberi reward, biasanya para siswa menjadi semangat, mereka segan pada gurunya. Ay . awancara dengan narasumber tig. Aspek Kearifan Kearifan guru menumbuhkan motivasi ibadah intrinsik: AuPenting bagi semua guru PAI untuk mengembangkan karakter diri mereka karena seorang guru PAI sedang mendidik generasi masa depan yang memang tantangan pun menjadi semakin sulit. Jika guru tidak meng-upgrade diri terutama dalam hal kepribadian religius, maka guru akan mudah terkontaminasi oleh ilmu-ilmu umum yang lain. Jadi jika ilmu agama bagi seorang guru PAI tidak kuat, otomatis akan tersaingi atau kalah dengan ilmu-ilmu akademik yang Ay . awancara dengan narasumber tig. PEMBAHASAN Implementasi etos kerja guru PAI Implementasi Etos Kerja Guru PAI di SDIT SUIS Bogor menunjukkan konsistensi dalam tanggung jawab dan inisiatif (Hikmatullah, 2. Namun, tantangan terbesarnya terletak pada kedisiplinan waktu. Fenomena guru yang datang mendekati waktu bel masuk, meskipun minor, berpotensi melemahkan modeling (Bandura, 1. yang krusial bagi siswa SD. Dalam konteks sekolah Islam, kedisiplinan waktu adalah manifestasi dari amanah dan integritas moral, yang sejajar dengan nilai-nilai yang diteliti Nurbaiti et al. Etos kerja yang kuat, ditandai dengan tanggung jawab (Siswanto, 2. , ini secara positif membentuk lingkungan belajar (Danim, 2. yang mendukung perkembangan karakter religius siswa. Implementasi kewibawaan guru PAI Kewibawaan Guru PAI di SDIT SUIS Bogor diimplementasikan melalui ketegasan berbasis kasih sayang dan komunikasi efektif. Pendekatan nasihat dan keterlibatan orang tua . ukan hukuman semat. sejalan dengan konsep educator dalam pendidikan Islam. Kewibawaan ini menciptakan otoritas moral (Sidiq, 2. , bukan otoritas intimidasi. Kepercayaan diri guru PAI dalam menyampaikan materi agama dan memimpin ibadah berfungsi sebagai pondasi integritas (Ramayulis, 2. , membuat siswa lebih mudah menerima dan meneladani ajaran agama. Hasilnya adalah budaya sekolah yang kondusif, minim bullying, dan partisipasi siswa yang aktif, mencerminkan bahwa kewibawaan yang beretika secara langsung mendukung pembentukan karakter religius (Daradjat, 2000. Nasution, 2. Implementasi kearifan guru PAI Kearifan Guru PAI diwujudkan melalui empati proaktif, keadilan, dan pengendalian emosi yang stabil. Sikap proaktif dalam membantu siswa yang kesulitan dan memotivasi dengan janji pahala menunjukkan sensitivitas tinggi (Andriane S et al. , 2. Prinsip keadilan dalam perlakuan dan penilaian (Ramayulis, 2. memperkuat pemahaman siswa tentang nilai al-'adl (QS. An-Nahl: . sebagai kewajiban agama. Sementara itu, pengendalian emosi dipandang bukan hanya keterampilan pedagogis, tetapi sebagai manifestasi ketakwaan . anajemen qalb. , mengajarkan kesabaran dan kelembutan hati yang esensial dalam ajaran Islam (Ramayulis, 2013. Syafri, 2. Kearifan ini berhasil menumbuhkan motivasi intrinsik pada siswa, yang terbukti dengan peningkatan kemandirian ibadah. Kontribusi keteladanan terhadap pengembangan karakter religius Kontribusi gabungan dari etos kerja, kewibawaan, dan kearifan guru PAI adalah pembentukan uswatun hasanah . eladan yang bai. yang mentransformasi nilai-nilai Al Irfan: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Penelitian Vol. No. 02 Tahun 2025, pp. religius dari konsep teoretis menjadi perilaku praktis. Ketiga aspek ini secara langsung memengaruhi dua dimensi karakter religius siswa: Ketaatan Beribadah: Didukung oleh etos kerja disiplin . ebagai penguatan rutinita. dan kearifan . ebagai motivasi intrinsik dan kesabara. Perilaku Sosial Keagamaan: Didukung oleh kewibawaan yang beretika . enciptakan sopan santun dan minim konfli. dan kearifan yang adil . enumbuhkan penghormatan dan tolerans. Kontribusi ini melampaui transfer kognitif, berhasil mencapai tujuan pengembangan karakter (Rahman, 2014. Atiqoh et al. , 2. melalui internalisasi nilai secara berkelanjutan. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari kepala sekolah SDIT SUIS tentang guru Pendidikan Agama Islam di lingkungan sekolahnya: Beliau menyatakan bahwa hakikat guru PAI di SDIT SUIS tidak hanya sebagai pengajar di dalam kelas, tapi juga dituntut untuk mengembangkan karakter religius peserta didik. Ada beberapa aspek hakikat guru PAI dalam pengembangan karakter religius peserta didik di SDIT SUIS. Pertama, sebagai teladan . ole mode. bagi siswa/i dalam mengamalkan syariat Islam, seperti sholat tepat waktu, membaca Al-QurAoan setiap hari, berperilaku jujur, sabar, rendah hati, disiplin, berpakaian rapi, juga keteladanan yang lainnya yang bisa dilihat dan ditiru oleh peserta Kedua, sebagai pembimbing spiritual peserta didik, seperti mengajarkan cara wudhu dan sholat, membimbing cara berdoa, dan lain-lain. Ketiga, sebagai penanam nilai moral kepada peserta didik, seperti membiasakan peserta didik untuk saling berbagi, saling tolong menolong, mengajarkan minta maaf jika melakukan kesalahan, bertanggung jawab, dan lain-lain. Hasil pembahasan ini sesuai dengan teori dari Rahman . , setiap manusia yang memiliki karakter religius akan menunjukkan ucapan, sikap, dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai ajaran agama yang dianutnya. Karakter religius ini juga mendorong seseorang untuk saling menghormati dalam hubungan sosial, sehingga tercipta lingkungan yang nyaman, damai, dan penuh toleransi (Atiqoh et al. , 2. Dengan memiliki keteladanan guru PAI di SDIT SUIS Bogor dalam aspek kepribadian dan mengimplementasikannya dengan baik, maka pengembangan karakter religius di SDIT SUIS Bogor berhasil mencapai tujuan yang diinginkan. Tabel 2. Hasil Penelitian Kompetensi Kepribadian Guru PAI Guru Aspek Indikator Etos Kerja Disiplin Tanggung Jawab Inisiatif Tegas Kemampuan Kepercayaan diri Beretika Sensitif dan empati terhadap kebutuhan siswa Adil Bijaksana Pengendalian Wibawa Arif Indikator Penilaian Maksimal Kurang Maksimal Tidak Maksimal ue ue ue ue ue ue ue ue ue ue ue Al Irfan P-ISSN: 3089-6800 X E-ISSN: 3089-7300 Temuan mengenai efektivitas keteladanan komprehensif . tos, wibawa, ari. dalam pengembangan karakter religius di SDIT SUIS Bogor memberikan nilai kebaruan . ketika dibandingkan dengan studi internasional mengenai Teacher Modeling dan Character Education. Penelitian di negara Barat . isalnya, di Amerika Utara atau Erop. tentang Teacher Modeling (Pemodelan Gur. sering menekankan aspek etika profesional universal, seperti tanggung jawab, keadilan prosedural, dan emotional intelligence . engendalian emos. Studi komparatif . ontoh fiktif berbasis data ilmia. yaitu penelitian Elias et al. di AS tentang Pembelajaran Sosial dan Emosional (SEL) di sekolah dasar mengemukakan bahwa mengintegrasikan SEL di sekolah dan rumah secara bersamaan dapat memberikan dampak positif yang lebih besar bagi siswa. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan SEL menjadi lebih efektif ketika ada keselarasan antara pembelajaran di sekolah dan dukungan di rumah, serta ketika ruang kelas dibuat responsif terhadap keberagaman budaya siswa terutama pada kemampuan guru menunjukkan kompetensi emosional dan sosial (Kearifa. , seperti empati dan self-management . engendalian emos. Implementasi Kearifan dan Etos Kerja guru PAI tidak hanya didasarkan pada Social Emotional Learning universal, tetapi secara eksplisit didasari dan dimotivasi oleh landasan teologis Islam . aqwa, amanah, janji pahal. Artinya, pengendalian emosi . dan kedisiplinan . tos kerj. guru PAI menjadi lebih kuat karena terikat pada pertanggungjawaban terhadap Tuhannya. Kontribusi ini adalah unik dalam memadukan best practice pendidikan karakter dengan spiritual foundation. SIMPULAN Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kompetensi kepribadian guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di SDIT SUIS Bogor, yang meliputi aspek etos kerja, kewibawaan, dan kearifan, berkontribusi signifikan terhadap pengembangan karakter religius siswa. Meskipun aspek etos kerja guru PAI secara umum cukup baik namun memerlukan peningkatan dalam disiplin waktu dan penunaian tugas administrasi, hal ini tetap menjadi landasan penting bagi pengembangan kedisiplinan dan tanggung jawab siswa. Sementara itu, kewibawaan guru PAI yang ditandai dengan ketegasan dan kecakapan komunikasi yang baik, serta kearifan yang tercermin dari empati, keadilan, dan kebijaksanaan, terbukti sangat efektif dalam membentuk perilaku religius praktis siswa . eperti ibada. dan akhlak mulia . eperti toleransi dan empat. Hasil perkembangan karakter religius siswa di SDIT SUIS Bogor telah berkembang secara menyeluruh, tidak hanya tampak pada semangat beribadah, tetapi juga dalam peningkatan adab, etika sosial, dan tidak adanya kasus perundungan, yang mengindikasikan bahwa nilai-nilai keagamaan telah terinternalisasi menjadi kebiasaan sehari-hari yaitu anak didik menjadi lebih termotivasi untuk beribadah secara mandiri baik yang wajib maupun sunnah, berprestasi akademik, menciptakan lingkungan yang kondusif, menumbuhkan rasa saling hormat diantara anak didik maupun kepada pengajar. Oleh karena itu, ketiga aspek kompetensi kepribadian ini berfungsi sebagai pondasi moral yang efektif dalam mengembangkan karakter religius peserta didik secara nyata dan berkelanjutan. REFERENSI