ISSN 2581-2319 ANALISIS AMONIAK (NHCE) DAN HIDROGEN SULFIDA (HCCS) DI UDARA AMBIEN DI SEKITAR TPA CIPEUCANG Sindy Octafioni1. Rofiq Sunaryanto2 Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Satya Negara Indonesia coresspondent author: 1sindyuntukdunia@gmail. rofiqsn@gmail. Tgl. Diterima 26 Agustus 2025 Tgl. Revisi 8 Januari 2026 Tgl. Disetujui 23 Januari 2026 Tgl. Terbit 31 Januari 2026 Abstrak Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang merupakan salah satu fasilitas pengelolaan sampah yang menampung ratusan ton sampah setiap hari, sebagian besar berupa sampah organik. Proses dekomposisi anaerob dari sampah organik menghasilkan gas-gas yang berpotensi mencemari udara, di antaranya Amoniak (NHCE) dan Hidrogen Sulfida (HCCS). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsentrasi NHCE dan HCCS di udara ambien di sekitar TPA Cipeucang berdasarkan jarak . m, 100 m, 300 m, 900 . dan waktu pengamatan . agi, siang, sor. Metode yang digunakan adalah pengukuran langsung dengan spektrofotometri indofenol untuk NHCE dan metode biru metilen untuk HCCS. Faktor meteorologi seperti suhu, kelembaban, dan kecepatan angin juga dicatat untuk mendukung analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi NHCE tertinggi adalah 0,981 ppm yang terukur pada pagi hari di pusat TPA, sedangkan konsentrasi HCCS tertinggi adalah 0,273 ppm di lokasi yang sama. Konsentrasi kedua gas menurun seiring bertambahnya jarak dan menunjukkan variasi temporal, di mana konsentrasi lebih tinggi pada pagi dan sore hari dibanding siang hari. Analisis regresi menunjukkan bahwa jarak memiliki pengaruh kuat terhadap konsentrasi HCCS, sementara suhu dan kelembaban hanya berpengaruh lemah. Secara keseluruhan, konsentrasi NHCE dan HCCS masih berada di bawah baku mutu udara ambien nasional, namun keberadaannya tetap berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan masyarakat serta kualitas lingkungan sekitar TPA. Kata Kunci: Amoniak. Hidrogen Sulfida. Udara Ambien. TPA Cipeucang. Pencemaran Udara Abstract The Cipeucang Landfill receives hundreds of tons of waste daily, mostly organic, and produces gases from anaerobic decomposition, mainly Ammonia (NHCE) and Hydrogen Sulfide (HCCS). This study aims to analyze NHCE and HCCS concentrations in ambient air around Cipeucang Landfill based on distance . m, 100 m, 300 m, 900 . and time . orning, afternoon, evenin. Gas concentrations were measured using the indophenol method for NHCE and the methylene blue method for HCCS. Meteorological factors including temperature, humidity, and wind speed were also recorded. Results showed that the highest NHCE concentration was 0. 981 ppm measured in the morning at the landfill center, while the highest HCCS concentration was 0. 273 ppm. Both gases decreased with distance and varied temporally, with higher levels in the morning and evening. Regression analysis revealed that distance had a strong influence on HCCS concentration, while temperature and humidity had weaker effects. Although concentrations remained below the national ambient air quality standards, the presence of these gases poses potential health and environmental risks. Keywords: Ammonia. Hydrogen Sulfide. Ambient Air. Landfill. Air Pollution PENDAHULUAN Peningkatan jumlah sampah di wilayah perkotaan menimbulkan tantangan besar dalam pengelolaan lingkungan. Kota Tangerang Selatan sebagai salah satu kota penyangga DKI Jakarta menghadapi masalah serius dalam pengelolaan sampah, dengan produksi sampah harian lebih Jurnal TechLINK Vol. 9 No. Oktober 2025 ISSN 2581-2319 dari 400 ton. Sebagian besar sampah tersebut merupakan sampah organik yang berpotensi menghasilkan emisi gas ketika mengalami proses dekomposisi. TPA Cipeucang merupakan lokasi utama pembuangan sampah di Kota Tangerang Selatan. Aktivitas pembuangan dan penimbunan sampah di TPA ini memicu terbentuknya gas-gas pencemar, khususnya NHCE dan HCCS. NHCE bersumber dari dekomposisi bahan organik yang kaya nitrogen, sedangkan HCCS dihasilkan dari material yang mengandung sulfur dalam kondisi Kedua gas ini tidak hanya menimbulkan bau tidak sedap, tetapi juga dapat menimbulkan dampak kesehatan seperti iritasi pernapasan, sakit kepala, hingga risiko toksisitas pada paparan jangka panjang. Penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui tingkat konsentrasi NHCE dan HCCS di sekitar TPA Cipeucang serta hubungannya dengan jarak dan waktu pengukuran. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi kualitas udara ambien di sekitar TPA serta menjadi dasar rekomendasi pengendalian pencemaran udara. METODOLOGI Penelitian ini dilaksanakan pada 18 November 2024 di TPA Cipeucang. Kota Tangerang Selatan. Lokasi pengambilan sampel: Pusat TPA . Radius 100 m dari TPA. Radius 300 m dari TPA. Pemukiman warga di radius 900 m. Waktu pengambilan sampel: Pagi . :00Ae09:. Siang . :00Ae13:. Sore . :00Ae18:. Parameter yang diukur: Konsentrasi NHCE . etode spektrofotometri indofeno. Konsentrasi HCCS . etode spektrofotometri biru metile. Suhu udara, kelembaban relative dan kecepatan angin. Analisis data: Analisis deskriptif . ata-rata, nilai tertinggi, nilai terenda. Analisis regresi linier sederhana untuk melihat hubungan antara faktor jarak & meteorologi dengan konsentrasi gas. Penumpukan Sampah di TPA Gas NH3 dan H2S berasal dari Kerusakan Lingkungan Suhu & Kelembaban Kecepatan Angin Arah angin Udara Ambien Pengambilan dan Analisis Sampel Udara Ambien yang Tercemar Gambar 1. Kerangka Berpikir HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengukuran konsentrasi Amoniak (NHCE) dan Hidrogen Sulfida (HCCS) di udara ambien sekitar TPA Cipeucang menunjukkan adanya variasi yang dipengaruhi oleh jarak, waktu, dan kondisi meteorologi. Konsentrasi NHCE tertinggi terdeteksi di pusat TPA pada pagi hari sebesar 0,981 ppm dan terendah di permukiman berjarak A900 m pada siang hari sebesar 0,101 ppm. Jurnal TechLINK Vol. 9 No. Oktober 2025 ISSN 2581-2319 Nilai rata-rata NHCE di pusat TPA mencapai 0,908 ppm, sedangkan pada permukiman hanya 0,145 Data lengkap konsentrasi NHCE dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1. Konsentrasi NHCE di Sekitar TPA Cipeucang Pagi Siang Sore Rata-rata Baku Mutu Lokasi * Pusat TPA . 0,981 0,814 0,929 0,908 Radius 100 m 0,454 0,307 0,421 0,394 Radius 300 m 0,384 0,247 0,291 0,307 Permukiman . 0,187 0,101 0,146 0,145 *Sumber: Kepmen LH No. 50 Tahun 1996 Semua hasil pengukuran NHCE masih berada di bawah ambang batas baku mutu udara ambien nasional, yaitu 2,0 ppm. Meskipun demikian, kadar NHCE di pusat TPA yang mencapai hampir 1 ppm dapat menimbulkan gangguan kenyamanan karena bau menyengat dan potensi iritasi bagi pekerja yang beraktivitas di area tersebut. Pola sebaran menunjukkan konsentrasi menurun seiring bertambahnya jarak dari pusat TPA, dengan penurunan tajam pada jarak 0Ae300 Konsentrasi NHCE juga menunjukkan fluktuasi harian, di mana kadar lebih tinggi pada pagi dan sore hari dibandingkan siang hari. Hal ini dipengaruhi oleh suhu dan kecepatan angin yang lebih tinggi pada siang hari, sehingga mempercepat proses pengenceran gas. Untuk parameter HCCS, hasil pengukuran menunjukkan kisaran 0,004Ae0,052 ppm dengan nilai tertinggi di pusat TPA pada pagi hari dan terendah di permukiman saat siang hari. Nilai ratarata HCCS di pusat TPA adalah 0,043 ppm, sedangkan di permukiman hanya 0,005 ppm. Data pengukuran HCCS ditampilkan pada tabel berikut: Tabel 2. Konsentrasi HCCS di Sekitar TPA Cipeucang Pagi Siang Sore Rata-rata Baku Mutu Lokasi * Pusat TPA . 0,052 0,037 0,041 0,043 Radius 100 m 0,029 0,017 0,021 0,022 Radius 300 m 0,014 0,009 0,011 0,011 Permukiman . 0,007 0,004 0,005 0,005 *Sumber: Kepmen LH No. 50 Tahun 1996 Seluruh hasil pengukuran HCCS masih berada di bawah baku mutu udara ambien nasional sebesar 0,1 ppm. Namun, meskipun konsentrasinya rendah, bau khas HCCS dapat tercium bahkan pada konsentrasi <0,01 ppm sehingga tetap menurunkan kualitas udara dan kenyamanan masyarakat sekitar. Konsentrasi HCCS juga menunjukkan hubungan yang sangat kuat dengan jarak (RA = 0,8. dan pola fluktuasi harian yang mirip dengan NHCE, yaitu tinggi pada pagi dan sore serta menurun pada siang hari. Kondisi meteorologi berpengaruh terhadap konsentrasi gas yang terukur. Selama penelitian, suhu udara tercatat antara 27,1Ae34,2 AC dengan rata-rata 30,6 AC, kelembaban 59,5Ae 82,3% dengan rata-rata 70,9%, serta kecepatan angin 0,2Ae1,4 m/s dengan rata-rata 0,7 m/s. Suhu tinggi pada siang hari berperan mempercepat dispersi gas, sedangkan kelembaban tinggi pada pagi dan sore cenderung menahan gas dekat permukaan tanah. Kecepatan angin yang rendah juga memperlambat pengenceran gas, sehingga konsentrasi tetap tinggi di sekitar TPA. Jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya di TPA lain di Indonesia, hasil di TPA Cipeucang relatif lebih tinggi untuk parameter NHCE. Di TPA Supit Urang Malang tercatat 0,85 Jurnal TechLINK Vol. 9 No. Oktober 2025 ISSN 2581-2319 TPA Sarimukti Bandung Barat 0,77 ppm, dan TPA Piyungan Yogyakarta 0,28Ae0,42 ppm, sedangkan penelitian ini menemukan nilai hingga 0,981 ppm. Untuk HCCS, nilai tertinggi di TPA Cipeucang adalah 0,052 ppm, lebih tinggi daripada TPA Piyungan . ,016 pp. , tetapi masih di bawah ambang batas. Perbedaan antar lokasi dipengaruhi oleh komposisi sampah, sistem pengelolaan, serta kondisi meteorologi lokal. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi NHCE dan HCCS di sekitar TPA Cipeucang masih di bawah ambang batas kualitas udara ambien nasional, namun tetap berpotensi menimbulkan gangguan kenyamanan terutama bagi masyarakat yang tinggal dekat TPA. Faktor jarak terbukti berpengaruh signifikan terhadap penurunan konsentrasi, sedangkan suhu, kelembaban, dan kecepatan angin lebih berperan terhadap fluktuasi harian. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan TPA yang lebih baik, seperti penerapan sanitary landfill dengan penutup harian, serta penetapan buffer zone minimal 300Ae500 meter dari pusat TPA untuk melindungi masyarakat dari paparan gas berbahaya. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsentrasi NHCE dan HCCS di sekitar TPA Cipeucang masih berada di bawah ambang batas baku mutu udara ambien nasional. Namun demikian, keberadaan gas ini tetap terdeteksi hingga jarak 900 m dan lebih tinggi pada pagi serta sore hari. Saran: Perlu dilakukan pemantauan rutin kualitas udara ambien di sekitar TPA. Diperlukan penerapan penutupan sampah harian . aily cove. untuk mengurangi emisi gas. Perlu penelitian lanjutan dengan cakupan waktu lebih panjang dan melibatkan lebih banyak variabel Sosialisasi kepada masyarakat sekitar mengenai risiko paparan gas TPA dan langkah mitigasi yang bisa dilakukan. DAFTAR PUSTAKA