SOSFILKOM Volume Xi Nomor 01 Januari-Juni 2019 INTEGRASI TEORI KONSEPTUAL DAN PENGALAMAN SOSIAL DARI SUDUT PANDANG PEMBELAJARAN ISLAM Syuaeb Kurdie Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon Email: syuaeb. kurdi@yahoo. ABSTRAK Kegiatan perkuliahan/pembelajaran keislaman yang dilaksanakan oleh mahasiswa dengan dosen sebagai pengampunya merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi bidang pendidikan dan pengajaran. Hal yang mutlak dikuasai oleh seorang dosen dalam perannya sebagai pengajar tentu saja penguasaan teori-teori konseptual mata kuliah keislaman beserta pengalaman-pengalaman sosial yang secara faktual dialaminya sendiri dalam Di sisi lain, baik dosen maupun mahasiswa dalam kesehariannya tentu saja memperoleh skemata-skemata kehidupan dari perannya sebagai umat muslim dan anggota masyarakat umum sekaligus akademisi. Secara bersamaan, mereka yang mendapati hal tersebut dalam peranan-peranan lainnya melampaui argumentasi teori konseptual dan sinerginya dengan pengalaman sosial itulah yang seyogyanya diharapkan memperoleh pemahaman agama yang paripurna. Kata Kunci: Pembelajaran. Teori Konseptual. Sinergi. Pengalaman Sosial ABSTRACT The lecture/Islamic learning activities carried out by students with lecturers as the driver are part of the Tri Dharma of Higher Education in the field of education and teaching. The absolute thing mastered by a lecturer in his role as a teacher is of course the mastery of conceptual theories of Islamic courses along with the social experiences that he has factually experienced in life. On the other hand, both lecturers and students in their daily lives naturally obtain life schemes from their roles as Muslims and members of the general public as well as academics. Simultaneously, those who find this in other roles go beyond conceptual theory and synergy with social experience that should be expected to obtain a complete religious understanding. Keywords: Learning. Conceptual Theory. Synergy. Social Experience Diterbitkan oleh FISIP-UMC SOSFILKOM Volume Xi Nomor 01 Januari-Juni 2019 berkembang adalah kesiapsiagaan dalam PENDAHULUAN Keunggulan dan kemajuan suatu bergulat untuk dapat menguasai Ilmu negara diindikasikan oleh meningkatnya Pengetahuan Teknologi (IPTEK) serta Sumber Daya Manusianya (SDM). Untuk mewujudkan SDM yang berkualitas merupakan tanggungjawab Keduanya Sang Khalik. Allah adalah hal (IMTAK) SWT. penting yang berkehidupan berbangsa dan bernegara. dalam meningkatkan daya saing SDM Satu diantara sekian sektor tersebut yakni menghadapi persaingan dalam semua sektor pendidikan. Baik pendidikan di bidang kehidupan di era global yang level bawah semisal Pendidikan Anak terjadi sekarang ini bahkan kedepannya Usia Dini (PAUD) maupun pendidikan hingga level atas semisal Perguruan Tinggi (PT). Hal di atas sebagaimana yang Pendidikan juga dapat dikatakan Undang-Undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003 yang sebagai sebuah katalisator utama dalam berperan mengembangkan kemampuan berbagai negara. Dengan kata lain, negara dan membentuk watak serta peradaban yang maju akan senantiasa diiringi oleh bangsa yang bermartabat dalam rangka kapasitas SDM yang unggul sesuai mencerdaskan kehidupan berbangsa dan dengan kapasitas pendidikannya. Hal ini berarti semakin banyak dan tingginya disebut pula Auuntuk mengembangkan SDM potensi anak didik agar menjadi manusia berpendidikan, maka semakin banyak dan yang beriman dan bertaqwa kepada tinggi pula kesadaran mereka untuk Tuhan Yang Maha Esa. Allah SWTAy. SDM IndonesiaAy. Aupendidikan berkembang dan maju. Hal ini dapat Pendidikan yang berlandaskan pada dicermati pada pencapaian mereka dalam tujuan membentuk SDM yang ber-IPTEK sekaligus ber-IMTAK akan senantiasa Khususnya dalam ranah kehidupan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, sosial masyarakat muslim, kesadaran mandiri, kreatif dalam perannya sebagai bagian warga negara Indonesia yang Diterbitkan oleh FISIP-UMC SOSFILKOM Volume Xi Nomor 01 Januari-Juni 2019 Tentu saja semua itu Dengan pengajar . sebagai model bagi para menghasilkan manusia yang bukan saja pembelajar . saleh secara individual namun juga saleh Dalam ranah Pendidikan Tinggi secara sosial. pada umumnya dan Perguruan Tinggi Islam pada khususnya, dosen tentu saja dituntut untuk menjadi pengajar sekaligus teladan bagi para mahasiswanya. Pada prakteknya, dosen bersama mahasiswa pembelajaran dalam upaya mereka untuk semakin mengenal dirinya sekaligus Sang Pencipta. Allah SWT. Dosen bersama mahasiswa diharapkan agar senantiasa menggali potensi lahir . ard skil. dan bathin . oft skil. dirinya secara terus Demikian kedua hal tersebut di atas optimal bersama dengan proses belajar kemampuannya dapat digunakan untuk Zuchdi tantangan-tantangan bersifat lokal, nasional bahkan global. sedemikian sehingga dapat menjadi satu ancangan dalam ikhtiar meningkatkan SDM bahwa Auproses pembelajaran seharusnya masalah-masalah yang timbul dalam kehidupanAy. Ini artinya, lembaga pendidikan di mana terdapat para pembelajar dan semua perangkat yang ada di dalamnya mesti secara sadar menjalani proses belajar dan disiplin ilmu pendidikan dengan Indonesia dalam pembelajaran ilmu pada Diterbitkan oleh FISIP-UMC kecakapan sikap dalam menyelesaikan berbagai jenis permasalahan yang dialami oleh dirinya sendiri beserta problematika masyarakat di lingkungan sekelilingnya. Kaitannya dengan hal di atas, dosen Makalah ini membahas integrasi teori . mengajar dalam pendidikan disiplin ilmu menerus sepanjang hayat. PEMBAHASAN kepentingan dalam proses pembelajaran Perguruan Tinggi menguasai teori konseptual dari berbagai mata kuliah yang dipelajari. Baik teori | SOSFILKOM Volume Xi Nomor 01 Januari-Juni 2019 konseptual yang sifatnya diikuti oleh bagaimana dosen dan mahasiswa digali banyak pegiat ilmu kekinian semisal kepemahamannya tentang perkara yang Melalui penguasaan teori keberadaannya tidak banyak digiati oleh konseptual tentang kedua disebut tadi secara mendalam, maka modern, perihal hal ihwal ilmu keislaman dapat dipastikan baik dosen sebagai pengajar maupun mahasiswa sebagai Selain pembelajar dapat memberikan umpan konseptual sebuah disiplin ilmu akan Dengan secara otomatis menambah keyakinan mendudukkan baik perkara yang halal ataupun perkara yang haram pada posisi Terlebih kaitannya akan berbagai hal ihwal ilmu yang berasal dari pemahaman dogma- Tidak dogma keagamaan (Isla. Misalnya saja surga atau neraka, pahala atau dosa, halal kepentingan pribadi ataupun golongannya atau haram, sunnah atau bidAah, kanan atau kiri, laki-laki atau perempuan dan sesaat pada waktu dibutuhkannya saja. masing-masing. Tentu saja beberapa hal yang Ihwal term AukepentinganAy inilah disebutkan tadi sedapat mungkin dikuasai lalu sekiranya juga perlu didalami lebih secara mendalam oleh para sarjana pembelajar nilai-nilai keislaman. Dalam konseptual dan secara praktis dapat suasana interaksi pembelajaran yang dua segera disinergikan di lingkungan sosial arah, dosen dan mahasiswa pembelajar kemasyarakatan tempatnya beraktivitas. dogma keislaman diharapkan untuk dapat Jika penguasaan para pembelajar terhadap teori konseptual dapat dicapai, peristilahannya secara utuh. Apalagi, maka niscaya proses sinergitas dengan sekaitan dengan peran-peran keilmuan yang dijalaninya, sosok dosen tentu saja Ambil saja contoh tentang Diterbitkan oleh FISIP-UMC mentransformasikan ilmu pengetahuan | SOSFILKOM Volume Xi Nomor 01 Januari-Juni 2019 serta amal-amal sosial yang faktual Indonesia kepada mahasiswanya. Pada gilirannya menampakkan berbagai modus semangat dalam mengamalkan dogma keislaman. Padahal, didapatkannya serta secara sadar mampu dangkal dan tidak utuh secara sepihak. sehari-hari. Selanjutnya, selain dari pendalaman Maka dari itulah kemudian secara teori konseptual terhadap materi-materi teori konseptual, baik perkara yang halal dogma keislaman misalnya, diperlukan ataupun haram dalam dogma keislaman misalnya saja tentu mutlak tidak dapat sosial yang didapat oleh pembelajarnya secara faktual. Dalam hal ini, menjadi suatu yang terverifikasi secara valid perjalanan masa bisa saja secara insting misalnya perihal halal ataupun haram jika syahwati manusia, keduanya bercampur di kemudian hari baik para pembelajar atas adanya kepentingan yang secara serta pengajarnya dapat mengaplikasikan pengetahuannya tersebut dalam aktivitas AumenungganginyaAy akal budi serta hati sosial kesehariannya dengan masyarakat Hanya Sebagai Sebagai ilustrasi, teori konseptual perkara halal ataupun haram dalam pandangan Islam hendaklah diajarkan secara lebih mendalam terlebih dahulu. Baru kemudian disenergikan dengan pengalaman sosial mengenai kedua hal berpangkal dari bauran antara perkara yang telah halal dan haram beserta dengan berbagai hal yang mengiringinya. Yang disebut terakhir misalnya kasus kekerasan bom niscaya baik perkara yang halal ataupun bunuh diri dan juga berbagai kasus korupsi pada lembaga-lembaga serta tercampuradukkan satu sama lain yang organisasi massa berlatar keislaman di Diterbitkan oleh FISIP-UMC Jika | SOSFILKOM Volume Xi Nomor 01 Januari-Juni 2019 permasalahan sosial di masyarakat umum pendidikan non-formal keagamaan Islam. dan juga tentu saja kesesatan berpikir Harapannya, tentang pandangan-pandangan Islam. Bukankah Susanto adalah Auberhubungan dengan perubahan masyarakat, nilai-nilai keislaman yang telah dipahami dapat bersinergi langsung dengan sendirinya secara faktual. tingkah laku seseorang terhadap situasi Hal tersebut sebagaimana yang dikatakan oleh Subhan . bahwa sosialnya yang berulang-ulang dalam Audimensi teori konseptual dan aplikasi situasi ituAy. Dengan kata lain, sebagai Pendidikan Agama Islam dapat dibahas pembelajar dan pengajar, baik dosen maupun juga mahasiswa niscaya dapat praktis, kedua dimensi tersebut tidak bisa dilepaskan satu sama lainAy. Ini dapat juga terhadap suatu materi disiplin ilmu pada diartikan, antara teori konseptual perihal dogma keislaman dengan sinergitasnya ilmu-ilmu sendiri-sendiri, terhadap pengalaman sosialnya masing- seksama dan bertanggungjawab. Sebagai masing tersebut oleh seorang pembelajar muslim adalah suatu hal yang niscaya mendapatkan teori konseptual dalam berwujud manunggal. pembelajaran keislaman, mereka secara Sebagai pengalaman-pengalaman sosialnya dalam memahami secara mendalam konseptual tentang perkara halal pada saat bersamaan pula dirinya secara berkehidupan sebagai seorang individu faktual tidak akan melakukan perbuatan dan bagian dari masyarakat muslim. yang termasuk dalam perkara haram. Hal Mereka dibebani . untuk dapat Utamanya konseptual perihal Islam secara holistik, mendalam tentang perkara yang halal tidak parsial. Baik melalui pembelajaran secara bersamaan menampakkan duduk di lembaga-lembaga pendidikan formal perkara yang haram beserta sekaligus keagamaan maupun di lembaga-lembaga Diterbitkan oleh FISIP-UMC SOSFILKOM Volume Xi Nomor 01 Januari-Juni 2019 nalar hikmah yang ada di dalam masing- pengajar maupun mahasiswa sebagai masing perkara tersebut. Demikian sehingga berbagai hasil mengintegrasikannya dengan berbagai pembelajaran sinergis antara pendalaman teori konseptual dengan pengalaman dengan masyarakat di mana mereka sosialnya dapat secara gamblang teruji. Hanya kemudian yang menjadi catatan ketercerapan materi perkuliahan yang bersama yakni seperti yang dikatakan ditempuh, prosesnya dapat dievaluasi dari Kirna Kaitannya sebagaimana pandangan dari kebanyakan mahasiswa secara periodik baik dalam bahwa. Aypembelajaran teori konseptual hal-hal dalam aktivitas keseharian hidupnya. hanya dapat efektif bilamana pembelajar Lebih dari itu, baik mahasiswa dan dihadapkan kepadanyaAy. Dengan kata mensinergiskan berbagai hal sekaitan antara teori konseptual keislaman yang diperoleh dengan berbagai pengalaman pengalaman sosial pembelajar tidak akan sosialnya sebagai individu juga bagian dapat terealisasi apabila pembelajarnya Dalam hal ini berarti, tidak akan Sebagai misal, sebutlah ada hikmah yang didapat oleh orang yang ihwal teori konseptual mengenai halal pasif dalam belajar dan begitupun juga atau haram dalam pembelajaran dogma sebaliknya . ice vers. Baik teori konseptual serta Islam pengalaman sosial dari dosen maupun SIMPULAN Islam secara dogmatik memandang pembelajaran keislaman bagi seorang muslim pada berbagai jenjang pada umumnya serta di jenjang Perguruan Tinggi penguasaan teori konseptual secara utuh. perbuatan di alam pikiran, perasaan dan tentu saja kenyataan. Hingga akhirnya mereka, dosen dan mahasiswa dalam proses belajar mengajar ihwal keislaman Selain itu, baik bagi dosen sebagai Diterbitkan oleh FISIP-UMC SOSFILKOM Volume Xi Nomor 01 Januari-Juni 2019 dapat memproleh apa yang disebut sebagai AuhikmahAy. Dalam hal ini, istilah tersebut Aupengetahuan tentang kebenaranAy. Pengetahuan yang niscaya membawa para peraihnya pada raihan-raihan yang berimplikasi pada halhal solutif yang berdimensi transenden. Transendensitas inilah yang kemudian menambah keyakinan pembelajar dalam menjawab berbagai problematika yang Utamanya keagamaan di masyarakat dalam ranah Sedemikian sehingga mereka tentunya dapat meraih bukan saja kesalehan individual namun juga kesalehan sosial. DAFTAR PUSTAKA