ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 3 SEPTEMBER 2024 ANALISIS FAKTOR RIWAYAT KELUARGA DAN IMT DENGAN KEJADIAN STRIAE DISTANSAE PADA SISWI SMA Rusdani1. Andi Ipaljri2. Brahyuna Lazdyana3 1Fakultas Kedokteran Universitas Batam, rusdan@univbatam. 2Fakultas Kedokteran Universitas Batam, andiipaljri@univbatam. 3Fakultas Kedokteran Universitas Batam, 61120026@univbatam. ABSTRACT Background: Striae distensae (SD) has been reported as a skin problem that is often experienced by women and is an aesthetic problem that can have an impact on psychological problems and affect the quality of life. Many different risk factors have been claimed to cause the development of striae distensae, including family history and body mass index. Variants of the elastin gene in family history can affect skin integrity by disrupting the formation of elastin fibers, causing stiffness in the skin, making the formation of striae distensae inevitable. Method: This research design is an observational analytic study, with a cross-sectional approach conducted. The sampling technique was probability random sampling with a population of 757 female students, resulting in 264 high school students were selected as research samples. The data analysis used univariate analysis and analysis bivariate analysis with the Chi-Square test. Result: The results of the Chi-Square analysis showed a relationship between family history and the incidence of striae distensae in respondents with a p-value=0. <0,. , and there was no relationship between body mass index (BMI) and the incidence of striae distensae in respondents with a p-value=0. >0,. Conclusion: Based on the results of this study, it was found that there is a relationship between family history and the occurrence of striae distensae in female students. And there is no relationship between body mass index (BMI) and the occurrence of striae distensae in female students. Keyword: Striae distensae. Family history. BMI ABSTRAK Latar Belakang: Striae distensae (SD) selama ini dilaporkan sebagai masalah kulit yang sering dialami oleh perempuan dan menjadi masalah estetika yang dapat berdampak pada masalah psikologi serta mempengaruhi kualitas hidupnya. Banyak faktor risiko berbeda yang diklaim menjadi penyebab perkembangan striae distensae, salah satunya adalah riwayat keluarga dan indeks masa tubuh (IMT). Varian gen elastin pada riwayat keluarga dapat mempengaruhi integritas kulit dengan menggangu pembentukan serat elastin yang menyebabkan kekakuan pada kulit sehingga pembentukan striae distensae tidak dapat Metode: Desain penelitian ini merupakan penelitian observasional yang bersifat analatik, dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel yaitu probability random sampling pada populasi sebanyak 757 siswi sma sehingga didapati jumlah sampel sebanyak 264 siswi sma menjadi sampel penelitian. Analisis data yang digunakan analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji Chi-Square. Hasil: Hasil analisis Chi-Square didapatkan hubungan riwayat keluarga dengan kejadian striae distensae pada responden dengan nilai p = 0,0001 . <0,. , dan tidak didapatkan hubungan antara IMT dengan kejadian striae distensae pada responden dengan nilai p = 0,081 . >0,. Universitas Batam Page 191 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 3 SEPTEMBER 2024 Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh bahwa terdapat hubungan riwayat keluarga dengan kejadian striae distensae pada siswi. Dan tidak terdapat hubungan antara IMT dengan kejadian striae distensae pada siswi. Kata Kunci : Striae distensae. Riwayat Keluarga. IMT PENDAHULUAN Striae distensae (SD) selama ini dilaporkan sebagai masalah kulit yang sering dialami oleh perempuan dan menjadi masalah estetika yang dapat berdampak mempengaruhi kualitas hidupnya. Striae Distensae dua kali lebih umum pada wanita dan dilaporkan pada kelompok usia 5-50 Striae Distensae tidak hanya terjadi pada wanita yang sedang hamil, pada remaja di masa pubertas juga dijumpai banyak mengalami striae distensae. Striae Distensae atau yang dikenal dengan stretch mark adalah bekas luka linier yang terlihat berkembang di area kerusakan kulit akibat peregangan kulit yang berlebihan (Bogdan C et al, 2017. Putra et al, 2020. Lovell et al. Striae Distensae atau stretch mark dihasilkan dari jaringan parut kulit dan atrofi epidermal. Komponen matriks ekstraseluler, yang terdiri dari kolagen, fibronektin, fibrilin, dan elastin, telah menurun dalam dermis tipis yang tidak memiliki papilla dermal dan rete ridges. Dalam fibril kolagen kulit normal di atur dalam bundel padat yang memberikan Dengan berkembangnya striae distensae, bundel kolagen terpisah dan fibril kolagen gagal membentuk bundel. Serat elastis terganggu dan fibril kaya tropoelastin (Coondoo. Stamatas et al, 2015. Wang F, 2. Prevalensi striae distensae pada populasi remaja dilaporkan berkisar antara 6% sampai 86%. Pada remaja perempuan didapati perkiraan sekitar 70% dan pada remaja laki-laki sekitar 40%. Menurut Universitas Batam Depkes . kejadian striae distensae di Indonesia terjadi sebanyak 95%. Pada remaja perempuan biasanya lebih sering dijumpai pada daerah pantat, paha dan Ada tiga teori utama yang mendasari striae distensae: peregangan mekanis pada kulit, perubahan hormonal, dan gangguan struktural bawaan pada kulit (Oakley AM. Depkes, 2015. Al-Himdani et al. Banyak faktor risiko berbeda yang diklaim menjadi penyebab perkembangan striae distensae. Penyebab paling umum timbulnya striae distensae yaitu etnis, penggunaan kortikosteroid, kehamilan, sindrom cushing, kenaikan berat badan, obesitas, pubertas pada masa remaja, dan riwayat keluarga (Sobzack, 2015. Ud-din. Striae distensae dapat terlihat setelah the larche pada masa peningkatan pertumbuhan selama pubertas. Striae distensae secara fisiologis pada remaja terjadi pada individu yang sehat dan tidak obesitas pada masa pubertas seiring dengan lonjakan pertumbuhan . row spur. Perkembangan striae bersamaan dengan tanda-tanda pubertas lainnya seperti pembesaran testis, pertumbuhan payudara, pertumbuhan rambut kemaluan, dan Onset dari striae biasanya antara usia 10-16 tahun pada perempuan (Lokhande dan Mysore, 2019. Elsedfy. Terdapat penelitian retrospektif yang menunjukkan adanya pengaruh faktor genetik, seperti riwayat terjadinya striae distensae pada keluarga, etnis dan latar belakang, yang menjadi penyebab penting Page 192 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 3 SEPTEMBER 2024 untuk awal terjadinya striae distensae. Penelitian Tung mengidentifikasi hubungan antara striae distensae dan varian gen ELN . yang mengkodekan protein elastin. Varian gen ELN dapat mempengaruhi integritas kulit dengan mengganggu pembentukan serat elastin yang menyebabkan kekakuan pada kulit. Akibat terganggunya komponen matriks ekstraseluler, akan terbentuk striae distensae jika terjadi regangan yang tidak dapat ditoleransi (Corderio dan Moraes. Tung et al. , 2. Obesitas juga menjadi salah satu faktor risiko striae distensae. Penambahan berat badan menyebabkan penumpukan lemak tubuh yang berlebih, akibatnya terjadi peregangan pada kulit. Peningkatan jumlah sel lemak menyebabkan striae distensae yang mengakibatkan peregangan Obesitas pada masa kanak-kanak, dan IMT yang tinggi pada remaja dikaitkan dengan dengan perkembangan striae (Sonthalia et al. , 2019. Elsedfy. Periode pertumbuhan yang cepat seperti pubertas, kehamilan, latihan angkat beban, penambahan berat badan yang cepat, dan pertumbuhan remaja merupakan pemicu umum yang terjadinya striae Dari hasil wawancara yang dilakukan pada siswi sma, ditemukan hampir seluruh siswi mempunyai striae Hal ini dapat meningkatkan prevalensi pada remaja yang mempunyai striae distensae, sehingga kualitas hidup mereka terganggu karna masalah psikologi yang di timbulkan (Yanes et al. , 2. Berdasarkan fakta dan penjabaran teori di atas, serta masih sedikit penelitian terkait kejadian striae distensae pada siswi sma, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai analisis faktor riwayat keluarga dan indeks massa tubuh (IMT) dengan kejadian striae distensae pada siswi sma. Universitas Batam METODE PENELITIAN Metode penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui analisis faktor riwayat keluarga dan IMT dengan kejadian striae distansae pada siswi sma (Notoatmodjo, 2. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data primer berupa pengisian g-form serta pemeriksaan fisik. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswi sma sebanyak 757 siswi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik probability sampling dengan jumlah sampel minimum 262 responden disertai teknik stratified random sampling pada tingkatan kelas sehingga mendapatkan jumlah tetap sampel sebanyak 264 Analisis data menggunakan uji Chi-Square (Sugiyono,2018. Notoatmodjo. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univariat Distribusi Frekuensi Berdasarkan Karakteristik Responden Tabel 1. Usia responden Usia . Total Frekuensi Persentase . (%) Berdasarkan tabel 1 diperoleh hasil bahwa responden terbanyak dijumpai pada usia 17 tahun yaitu sebanyak 90 responden . ,1%) dan pada usia 18 tahun hanya ditemukan sebanyak 40 responden . ,2%). Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Cho et al yang menujukkan gambaran remaja dengan rentang usia 15-17 tahun yang memiliki striae distansae sebesar 83,4%. Angka kejadian striae distansae sering terjadi pada kelompok usia remaja dikarenakan terjadinya peregangan jaringan yang Page 193 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 3 SEPTEMBER 2024 berhubungan dengan faktor pubertas (Lokhande dan Mysore, 2. Tabel 2. Lokasi yang terdapat striae Lokasi striae Frekuensi Persentase . (%) Lengan Atas Dada Perut Pinggul Paha Lutut Betis Pantat Total Berdasarkan tabel 2 diperoleh hasil dari 185 responden yang mengalami striae distansae terdapat 1-9 lokasi yang terkena, dengan predileksi terbanyak ditemukan pada regio paha yaitu sebanyak 84 responden . %) dan predileksi paling sedikit pada regio dada yaitu sebanyak 17 responden . %). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Ni Wayan Evita . pada subjek wanita yang memiliki striae dengan menunjukkan hasil mayoritas lokasi lesi striae distansae ditemukan pada regio paha . ,1%). Striae distansae biasanya muncul pada distribusi simetris dan umumnya muncul di area perut, pinggang, payudara, lengan atas dalam, paha, lutut, dan pantat. Pada remaja Perempuan umumnya pada area pantat, paha, dan betis lebih sering terkena (Oakley AM, 2023. Al-Himdani et , 2. Table 3. Warna striae distensae Frekuensi Persentase Striae Distensae . (%) Rubrae Albae Total Berdasarkan tabel 3 diperoleh hasil bahwa dari 185 responden yang memiliki striae distensae ditemukan striae distensae yang berwarna rubrae sebanyak 53 lesi . %) dan berwarna albae sebanyak 291 lesi . %). Universitas Batam Mayoritas lesi striae distansae pada responden berwarna albae menjelaskan bahwa lesi striae distansae telah berubah menjadi garis atrofi dengan kematangan lebih lanjut berwarna pucat, tidak teratur dengan permukaan keriput halus (Lovell et al, 2. Distribusi Frekuensi Riwayat Keluarga Responden Tabel 4. Riwayat Keluarga Frekuensi Persentase Riwayat Keluarga . (%) Ada Tidak Total Berdasarkan tabel 4 diperoleh hasil bahwa responden yang memiliki riwayat keluarga mengalami striae distensae sebanyak 142 responden . ,8%) dan yang tidak memiliki riwayat keluarga mengalami striae distensae sebanyak 122 responden . ,2%). Salah satu fakor yang menjadi penyebab awal terjadinya striae distansae yaitu bisa disebabkan oleh riwayat striae distansae dalam keluarga, etnis, dan latar belakang keluarga (Corderio dan Moraes. Distribusi Frekuensi Berdasarkan IMT Responden Table 5. IMT Responden IMT Frekuensi Persentase . (%) Berat badan Normal Berat badan Obesitas Total Berdasarkan tabel 5 diperoleh hasil bahwa responden paling banyak ditemukan dengan kategori IMT normal yaitu sebanyak 209 responden . ,2%) dan kategori IMT obesitas hanya ditemukan sebanyak 3 responden . ,1%). Page 194 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 3 SEPTEMBER 2024 Dalam didapatkan dengan mengukur Berat Badan (BB) dan Tinggi Badan (TB) responden melalui timbangan dan stature meter yang hasilnya akan di hitung berdasarkan klasifikasi IMT menurut CDC . Reponden dalam penelitian ini memiliki IMT normal dengan nilai persentil 5-84 yang di ukur pada grafik CDC. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Striae Distensae Responden Tabel 6. Striae Distansae Frekuensi Persentase Striae Distensae . (%) Tidak Total Berdasarkan tabel 6 diperoleh hasil bahwa responden yang memiliki striae distensae sebanyak 185 responden . ,1%) dan tidak memiliki striae distensae sebanyak 79 responden . ,9%). Striae distansae tidak hanya terjadi pada wanita yang sedang hamil, ada remaja di masa pubertas juga dijumpai banyak mengalami striae distansae. Secara fisiologis pada remaja striae distansae terjadi pada individu yang sehat dan tidak obesitas pada masa pubertas seiring dengan lonjakan pertumbuhan . row spur. (Lovell et al, 2016. Basak P, 1. Analisis Bivariat Hubungan Riwayat Keluarga dengan Striae Distansae Tabel 7. Hubungan Riwayat Riwayat Keluarga Ada Tidak Total Striae Distensae Ya Tidak Total Pvalue 0,001 Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 7 didapatkan hasil responden dengan riwayat keluarga yang memiliki striae Universitas Batam distensae sebanyak 142 responden dengan responden yang memiliki striae distensae sebanyak 136 responden . ,8%) dan responden yang tidak memiliki striae distensae sebanyak 6 responden . ,2%), serta responden dengan tidak terdapat riwayat keluarga yang memiliki striae distensae sebanyak 122 responden dengan responden yang memiliki striae distensae sebanyak 49 responden . ,2%) dan responden yang tidak memiliki striae distensae sebanyak 73 responden . ,8%). Hasil analisis statistik menunjukkan dengan keputusan uji adalah H0 ditolak . value 0,0001 . <0,. ), disimpulkan terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat keluarga dengan kejadian striae distensae pada siswi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ellysa. TO . dengan uji penelitian chi square diperoleh hasil terdapat hubungan antara riwayat keluarga dengan striae distensae yaitu sebesar nilai 0,0001 . value O 0,. Penelitian lain yang dilakukan oleh Ni Wayan Evita Pradnya Dharmesti . mendapatkan 87,9% subjek penelitian memiliki keluarga dengan striae distensae. Serta terdapat penelitian secara retrospektif yang menunjukkan adanya pengaruh faktor genetik, seperti riwayat terjadinya striae distensae pada keluarga, etnis dan latar belakang, yang menjadi penyebab penting untuk awal terjadinya striae distensae. Penelitian Tung et al. , mengidentifikasi hubungan antara striae distensae dan varian gen ELN . yang mengkodekan protein elastin. Varian gen ELN dapat mempengaruhi integritas kulit dengan mengganggu menyebabkan kekakuan pada kulit. Akibat ekstraseluler, akan terbentuk striae distensae jika terjadi regangan yang tidak dapat ditoleransi. Hal ini menunjukkan bahwa faktor genetik dan riwayat keluarga menjadi salah satu faktor risiko lain dari kejadi striae distensae (Corderio dan Moraes, 2009. Tung et al. , 2. Page 195 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 3 SEPTEMBER 2024 Responden yang riwayat keluarga tidak memiliki striae distensae tetapi responden memiliki striae distensae dapat terjadi karna faktor lain seperti terjadinya peregangan jaringan yang berhubungan pertumbuhan payudara, pertumbuhan rambut kemaluan, dan menarche. Sindrom cushing juga dapat menimbulkan striae distensae karna terdapat peningkatan kadar kortisol yang menyebabkan terjadinya peningkatan degradasi kolagen sehingga terjadinya gangguan matriks ekstraseluler pada dermis (Lokhande dan Mysore, 2019. Raff et al, 2. Hubungan IMT dengan Striae Distansae Tabel 8. Hubungan IMT dengan Striae distansae IMT Berat lebih Ae Obesitas Berat kurang Normal Total Striae Distensae Ya Tidak Total Pvalue 0,081 Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 8 didapatkan hasil responden dengan berat badan lebih Ae obesitas dan memiliki striae distensae sebanyak 19 responden . ,4%), responden dengan berat badan lebih Ae obesitas dan tidak memiliki striae distensae sebanyak 3 responden . ,6%), responden dengan berat badan kurang Ae normal dan memiliki striae distensae sebanyak 166 responden . ,6%), responden dengan berat badan kurang Ae normal dan tidak memiliki striae distensae sebanyak 76 responden . ,4%). Hasil analisis statistik menunjukkan dengan keputusan uji adalah H0 diterima . -value 0,081 . >0,. ), sehingga disimpulkan tidak terdapat hubungan yang Universitas Batam bermakna antara IMT dengan kejadian striae distensae pada siswi. Hal ini mungkin dikarenakan jumlah responden penelitian yang didapat lebih dominan pada IMT dengan kategori normal dimana kejadian striae distensae paling sering dijumpai pada kategori tersebut bukan pada IMT dengan kategori yang lebih berat. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Firdha Khairani Lubis . menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara IMT dengan stretch mark yaitu sebesar 0,077 . value > 0,. Sama halnya dengan penelitian Ellysa. TO . dengan uji penelitian chi square diperoleh hasil tidak terdapat hubungan antara obesitas dengan striae distensae yaitu sebesar 0,687. Pada penelitian oleh Putra et al . mendapatkan hasil sebesar 0,098 . value > 0,. yang menjelaskan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara IMT dengan stretch mark. Berbeda dengan penelitian yang Lesmana menampilkan hasil sebesar 0,000 . value <0,. yang menjelaskan bahwa ditemukan hubungan status nutrisi dengan stretch mark pada wanita usia 17-25 tahun. Penambahan berat badan menyebabkan penumpukan lemak tubuh yang berlebih, akibatnya terjadi peregangan pada kulit. Peregangan kulit yang berlebihan dapat mengakibatkan bundel kolagen terspidah dan fibril kolagen gagal membentuk Serat elastis terganggu dan fibril kaya tropoelastin yang menyebabkan berkembangnya striae distensae (Wang F. Perbedaan ini dikarenakan striae distensae yang terjadi akibat ada perbedaan IMT diawali dengan adanya peregangan. Pada hipotesis ini, munculnya striae distensae disebabkan oleh peregangan mekanis berlebih pada kulit hingga menyebabkan robeknya serat elastis dermis dan sel fibroblast lokal yang tidak mampu memperbaiki atau mengganti komponen ECM secara memadai (Mitts TF, 2. Page 196 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 3 SEPTEMBER 2024 Perubahan yang terjadi pada serat ekstraseluler kulit berkontribusi pada Berkurangnya jumlah kolagen, elastin, dan fibronektin pada matriks . ekstraseluler kulit menyebabkan kehilangan jaringan elastik Striae terbentuk akibat cedera pada dermis dan tekanan mekanik. Radang dan edema pada dermis menghasilkan deposisi kolagen di daerah tekanan mekanik. Peregangan dan striae distensae adalah proses adaptasi yang berkelanjutan terhadap kebutuhan pertumbuhan remaja dan perubahan massa tubuh di awal masa dewasa (Tung et al. , 2013. Coondoo, 2. SIMPULAN Hasil penelitian mengenai Analisis Faktor Riwayat Keluarga dan IMT dengan Kejadian Striae Distensae pada Siswi menunjukkan bahwa hubungan riwayat keluarga yang mengalami striae distensae pada responden ditemukan sebanyak 53,2%, serta IMT terbanyak ditemukan dalam kategori normal sebanyak 79,2%. Analisis statistik menunjukkan terdapat hubungan antara riwayat keluarga dan kejadian striae distensae pada responden dengan didapatkan nilai P= 0,001 (P < 0,. Tetapi, analisis statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan antara IMT dan kejadian striae distensae pada responden kategori usia remaja dengan didapatkan nilai P= 0,081 (P > 0,. Penelitian selanjutnya disarankan untuk meneliti faktor dan variabel berbeda untuk lebih mengetahui faktor lain yang dapat berhubungan dengan kejadian striae DAFTAR PUSTAKA