EDUMANDIRI: JURNAL ILMU PENDIDIKAN DASAR Vol 01. No. Juli-Desember 2025 ISSN 3089-9575 https://ojs. id/index. php/edumandiri Pengaruh Model Pembelajaran Cooperatif Tipe Group Investigation (GI) Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran IPAS Mesi Julianti1. Septian Peterianus2. Akip3 1Mahasiswa Program Studi PGSD STKIP Melawi 2,3Dosen STKIP Melawi A E-mail: mesijulianti7@gmail. Abstract This research explores the effect of the Group Investigation (GI) cooperative learning model on the academic performance of fifth-grade students in the Natural and Social Sciences (IPAS) subject at SDN 13 Popai. The study was driven by students' low academic achievement, which did not meet the Minimum Competency Criteria (KKM), minimal classroom participation, and the continued use of teacher-centered teaching methods that proved less effective. Using a quantitative research approach, the study adopted a one-group pretest-posttest experimental design involving all 22 fifth-grade students. Data were gathered through cognitive tests conducted before and after the intervention, along with documentation of the research process. The analysis included normality testing and hypothesis testing using the Wilcoxon signed-rank test. The results demonstrated that the Group Investigation model significantly improved student learning outcomes. The Wilcoxon test produced a significance value of 0. 000, which is below the 0. 05 level, indicating a rejection of the null hypothesis (HCA) in favor of the alternative hypothesis (HCA). In conclusion, implementing the Group Investigation cooperative learning model significantly enhances IPAS learning outcomes for fifth-grade students at SDN 13 Popai by increasing student participation, promoting critical thinking, and encouraging collaborative learning. Keywords: Group Investigation, learning outcomes, cooperative learning. IPAS Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) terhadap peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di kelas V SDN 13 Popai. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada rendahnya capaian hasil belajar siswa yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), kurangnya partisipasi siswa selama proses pembelajaran, serta dominannya metode pembelajaran yang berpusat pada guru dan kurang efektif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen one group pretest-posttest. Seluruh siswa kelas V yang berjumlah 22 orang menjadi subjek dalam penelitian ini. Instrumen pengumpulan data meliputi tes kognitif . retest dan posttes. serta dokumentasi kegiatan selama penelitian berlangsung. Analisis data dilakukan melalui uji normalitas dan uji Wilcoxon untuk menguji hipotesis yang diajukan. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan model Group Investigation memberikan dampak positif yang signifikan terhadap hasil belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji Wilcoxon yang menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000, lebih kecil dari batas signifikan 0,05. Dengan demikian, hipotesis nol (HCA) ditolak dan hipotesis alternatif (HCA) diterima. Dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe GI efektif dalam meningkatkan hasil belajar IPAS siswa kelas V di SDN 13 Popai, karena mampu meningkatkan keaktifan, pemikiran kritis, serta kerja sama antar siswa selama proses Kata Kunci: Group Investigation, hasil belajar, pembelajaran kooperatif. IPAS Mesi Julianti. Septian Peterianus dan M. Akip / Edumandiri: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar . : 96 - 102 PENDAHULUAN Menurut Adesemowo . , pendidikan merupakan sebuah proses menyeluruh dalam perkembangan manusia yang melibatkan lebih dari sekadar berada di dalam ruang kelas atau lembaga formal seperti sekolah. Pendidikan adalah suatu proses yang bertujuan untuk mengembangkan, memperbaiki, dan mentransformasi pengetahuan serta perilaku seseorang atau kelompok, dengan tujuan mencerdaskan kehidupan melalui aktivitas belajar. Selain itu, pendidikan juga merupakan tindakan yang disengaja untuk menghasilkan perubahan sikap dan perilaku yang diharapkan, yakni menjadikan manusia lebih cerdas, terampil, mandiri, disiplin, dan berakhlak mulia. Pada abad ke-21 kita semakin dihadapkan pada tuntutan akan pentingnya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas serta mampu berkompetisi. Tuntutan ini dikarenakan kemajuan zaman pada abad ke-21 sudah semakin pesat dan telah menimbulkan persaingan yang keras untuk dapat bertahan hidup (Azman et al. , 2. Perubahan juga tampak pada semua aspek kehidupan terutama dalam bidang pendidikan. Pendidikan di abad 21 menekankan pada pengembangan intelektual. Pengembangan intelektual adalah tentang memecahkan masalah pada dunia nyata atau kontekstual yang melibatkan diri dalam berbagai jalan untuk mengetahui dan belajar (Dakhi et al. , 2. Pemerintah Indonesia telah mengupayakan percepatan dan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, salah satunya adalah dengan menyusun kurikulum pendidikan, kurikulum yang berlaku adalah kurikulum 2013, di mana pada kurikulum ini siswa lebih di tuntut aktif (Fajra et al. , 2. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, telah muncul perdebatan tentang pengganti Kurikulum 2013 dengan Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka adalah gagasan kurikulum baru yang mengutamakan kebebasan, inovasi, dan kemampuan siswa untuk menyesuaikan diri. Kurikulum Merdeka berusaha untuk membentuk siswa yang tangguh, mandiri, dan kreatif melalui pendekatan yang lebih terbuka dan inklusif. Dengan menerapkan kurikulum merdeka, sekolah diharapkan menghasilkan output yang sesuai dengan perkembangan zaman (Anisimov, 2. Kurikulum merdeka memberikan kesempatan penuh kepada guru untuk menggunakan ide-ide inovatif mereka dalam mengajar, dan siswa memiliki kesempatan penuh untuk berkembang. (Suryaman et al. , 2. Kurikulum ini dirancang untuk menjadi sesuai mungkin dengan perkembangan zaman, sehingga dapat memberikan kebebasan penuh kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan mereka sesuai dengan bakat mereka masing-masing (Abidah et al. Natalia et al. , menjelaskan bahwa Hasil belajar merupakan perubahan perilaku siswa yang muncul sebagai akibat dari keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran, mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Menurut Pratiwi (Musfikaningrum, 2020:. Hasil belajar merupakan bentuk Mesi Julianti. Septian Peterianus dan M. Akip / Edumandiri: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar . : 96 - 102 perubahan dalam diri siswa yang mencakup peningkatan pengetahuan, sikap yang lebih baik, serta keterampilan yang berkembang setelah mengikuti kegiatan Hasil belajar ini kerap digunakan sebagai indikator untuk menilai apakah proses pembelajaran berhasil atau tidak. Seperti yang diungkapkan oleh Lestari. , hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku yang terjadi pada seseorang setelah menjalani proses pembelajaran sesuai dengan tujuan yang ingin Hal ini juga didukung oleh pernyataan Saputri. dan rekan-rekannya . , yang menyatakan bahwa hasil belajar mencakup perubahan dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik pada diri siswa. Hasil observasi yang telah dilakukan pada hari Senin, 29 juli 2024 di SDN 13 POPAI menunjukkan bahwa sebagian besar kegiatan pembelajaran telah dilaksanakan dengan baik. Guru mampu membuka dan menutup pembelajaran secara efektif, serta melaksanakan eksplorasi dan konfirmasi hasil. Guru juga menunjukkan penguasaan materi dan mampu mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari. Namun, masih terdapat dua aspek yang belum terlaksana, yaitu kegiatan elaborasi dan pemanfaatan media atau alat bantu pembelajaran dan Siswa kelas V menunjukkan partisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Mereka memperhatikan penjelasan guru, mencatat materi, dan menyelesaikan tugas individu. Siswa juga mampu menjawab pertanyaan dari guru. Namun, mereka belum aktif dalam menanyakan hal-hal yang belum dipahami, yang menunjukkan perlunya peningkatan keberanian siswa dalam mengajukan pertanyaan untuk memperdalam pemahaman materi. Serta hasil wawancara dengan wali kelas V. Ibu Eka Maya Sari, diketahui bahwa hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPAS masih di bawah standar KKM. Rendahnya hasil belajar ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain kurangnya pemahaman siswa selama proses pembelajaran, minimnya keterlibatan siswa, serta penggunaan model pembelajaran yang kurang efektif dan masih berpusat pada guru dengan metode ceramah. Kondisi ini membuat proses belajar menjadi membosankan dan berdampak negatif pada hasil belajar siswa, yang juga terlihat dari kurangnya semangat siswa saat pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu, masalah ini perlu dicari solusi dan pemecahannya. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya hasil belajar, sangat penting untuk menerapkan model pembelajaran yang tepat agar dapat memotivasi siswa agar lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran. Salah satu pendekatan yang diyakini dapat meningkatkan hasil belajar siswa adalah model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif telah banyak diteliti dan terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Di antara berbagai jenis model pembelajaran kooperatif, peneliti memilih model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) karena memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja dalam kelompok kecil untuk menginvestigasi suatu topik Mesi Julianti. Septian Peterianus dan M. Akip / Edumandiri: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar . : 96 - 102 Dalam model ini, siswa berperan aktif dalam merencanakan, melaksanakan, dan melaporkan hasil investigasi mereka. Model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) Menurut Natsir & Taufik . Group Investigation diyakini dapat meningkatkan keterlibatan aktivitas dan kemampuan peserta didik secara Model pembelajaran Group Investigation dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berpikir secara analitis, kritis, kreatif, reflektif dan Sehingga siswa dapat menemukan konsep yang dipelajari (Fauzi et al. Oleh karena itu Group Investigation tidak hanya menekankan pada aspek akademik, tetapi juga aspek sosial seperti kerjasama, tanggung jawab, dan Melalui proses ini, siswa diharapkan dapat mengembangkan sikap saling membantu dan menghargai pendapat orang lain. Implementasi Group Investigation dalam pembelajaran IPAS di sekolah dasar berpotensi menciptakan lingkungan belajar yang lebih interaktif dan kolaboratif. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen tipe Pre-Experimental Designs, yang menerapkan desain one group pretest-posttest. Penelitian dilaksanakan di SDN 13 Popai pada tahun ajaran 2024/2025. Populasi dalam penelitian ini terdiri dari seluruh siswa kelas V yang berjumlah 22 orang, dan semua anggota populasi tersebut dijadikan sampel melalui Teknik sampling jenuh. Instrumen yang digunakan berupa soal tes kognitif sebanyak 15 butir yang telah divalidasi oleh ahli menggunakan metode I-CVI (Item-Content Validity Inde. Uji reliabilitas dilakukan dengan teknik test-retest dan hasilnya menunjukkan bahwa instrumen reliabel. Teknik analisis data menggunakan SPSS 27 dengan uji normalitas (Kolmogorov-Smirno. dan uji Wilcoxon sebagai uji hipotesis karena data tidak berdistribusi normal. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum memulai penelitian, peneliti melakukan pengujian terhadap validitas dan reliabilitas instrumen yang direncanakan untuk digunakan. Berdasarkan hasil uji validitas isi yang dilakukan terhadap tujuh butir instrumen, diperoleh bahwa enam item memiliki tingkat kesepakatan penuh dari para ahli (I-CVI = 1,. , sedangkan satu item memiliki tingkat kesepakatan rendah (I-CVI = 0,. Nilai ratarata S-CVI/Ave sebesar 0,93 menunjukkan bahwa secara keseluruhan instrumen memiliki validitas isi yang sangat baik. Dalam penelitian ini, uji reliabilitas menggunakan metode test-retest, yaitu dengan membandingkan hasil pretest (X) dan posttest (Y) yang diberikan kepada 22 responden (Siswa kelas V SDN 13 Popa. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi Pearson Product Moment, dan diperoleh nilai korelasi . sebesar 0,999819. Berdasarkan kriteria Mesi Julianti. Septian Peterianus dan M. Akip / Edumandiri: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar . : 96 - 102 interpretasi: Nilai r Ou 0,70 dikategorikan reliable atau sangat reliabel. Nilai yang diperoleh, yaitu 0,999819, jauh melampaui batas minimum reliabilitas. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian memiliki tingkat reliabilitas yang sangat kuat. Hasil Analisis Data ) Uji Normalitas Berdasarkan hasil uji normalitas terhadap data hasil belajar IPAS pada pretest dan posttest, diperoleh nilai signifikansi (Sig. ) yang seluruhnya melebihi 0,05. Pada uji Shapiro-Wilk, yang digunakan sebagai acuan utama untuk sampel kecil . < . , nilai signifikansi pretest adalah 0,538 dan posttest sebesar 0,954. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa data hasil belajar IPAS dari pretest dan posttest memiliki distribusi yang ) Uji Hipotesis Berdasarkan hasil uji hipotesis menggunakan Wilcoxon Signed Ranks Test, diperoleh nilai Asymp. Sig. -taile. sebesar 0,000. Nilai tersebut lebih kecil dari 0,05, yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa sebelum dan sesudah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation. Dari hasil uji hipotesis ini maka dapat disimpulkan : C HCA (Hipotesis no. : Tidak ada perbedaan yang signifikan pada hasil belajar IPAS sebelum dan sesudah diberi perlakuan. C HCA (Hipotesis alternati. : Ada perbedaan yang signifikan pada hasil belajar IPAS sebelum dan sesudah diberi perlakuan. Karena nilai p-value sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05, maka hipotesis nol (HCA) ditolak dan hipotesis alternatif (HCA) diterima. Tabel 1. Hasil Uji Normalitas Variabel KolmogorovShapiroSmirnov (Si. Wilk (Si. Hasil Belajar 0,200 IPAS Pretest Hasil Belajar 0,200 0,538 0,954 IPAS Posttest Tabel 2. Hasil Uji Wilcoxon Variabel Asymp. Mesi Julianti. Septian Peterianus dan M. Akip / Edumandiri: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar . : 96 - 102 Sig Hasil IPAS Pretest Belajar -4,112 Posttest- 0,000 Hasil penelitian mengungkapkan bahwa terdapat kenaikan yang signifikan pada nilai posttest dibandingkan pretest setelah model pembelajaran Group Investigation Hal ini membuktikan bahwa model pembelajaran tersebut berhasil meningkatkan hasil belajar siswa. Keterlibatan aktif siswa dalam proses penyelidikan serta adanya diskusi kelompok memungkinkan siswa untuk saling bertukar informasi, menjelaskan pemahaman, dan memperkuat konsep yang Peningkatan hasil belajar ini juga sejalan dengan temuan penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation mampu meningkatkan hasil belajar, keaktifan, serta keterampilan berpikir kritis siswa. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya olehKarina . dan Ningtyas . , yang menunjukkan bahwa model GI mampu meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran lain seperti Matematika dan Tematema di Kurikulum SD. KESIMPULAN Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) terbukti memiliki dampak yang signifikan terhadap hasil belajar IPAS siswa kelas V di SDN 13 Popai. Model ini mampu meningkatkan keaktifan, keterlibatan, dan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Dengan demikian, model GI dapat menjadi alternatif yang tepat untuk digunakan oleh guru dalam menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna dan menyenangkan, khususnya dalam mata pelajaran IPAS yang menuntut pemahaman lintas. REFERENSI