118 JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Juni 2025, p. ANALISIS SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL PROSEDUR PENGELUARAN KAS PADA PUSAT KOPERASI UNIT DESA (PUSKUD) Roza Eka Putri1*. Norra Isnasia Rahayu2 1,2Universitas Muhammadiyah Riau. Indonesia *rozaekaputri061@gmail. ABSTRACT This study aims to analyze the effectiveness of the internal control system in the cash disbursement procedures at the Village Unit Cooperative Center (PUSKUD) using the COSO Internal Control Ae Integrated Framework (ICIF) 2013 approach. The research adopts a qualitative descriptive-evaluative method with data collected through interviews, observations, and documentation. The results indicate that PUSKUD has implemented several internal control components fairly well, such as clear segregation of duties between the cashier and the recorder, employee training, and adequate transaction documentation. However, weaknesses remain in the authorization of small-value transactions that do not involve the Furthermore, internal supervision of disbursements has not been conducted routinely, with monitoring still relying on annual external audits, which are less effective in detecting errors early. These findings suggest that although the internal control system is in place, its effectiveness needs improvement, particularly in the areas of small transaction approvals, interdepartmental communication, and continuous internal monitoring. This study is expected to serve as a reference for other cooperatives in strengthening financial governance through a more structured and comprehensive internal control system. Keywords: Internal Control. Cash Disbursement Procedures. COSO ICIF. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas sistem pengendalian internal dalam prosedur pengeluaran kas pada Pusat Koperasi Unit Desa (PUSKUD) dengan menggunakan pendekatan kerangka kerja COSO Internal Control Ae Integrated Framework (ICIF) 2013. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif-evaluatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa PUSKUD telah menerapkan beberapa komponen pengendalian internal dengan cukup baik, seperti pembagian tugas yang jelas antara pemegang kas dan pencatat, pelatihan karyawan, serta dokumentasi transaksi yang memadai. Namun, masih terdapat kelemahan dalam aspek otorisasi transaksi bernilai kecil yang tidak melibatkan bendahara. Selain itu, pengawasan internal terhadap transaksi pengeluaran belum dilakukan secara rutin. Pemantauan masih bergantung pada audit eksternal tahunan, sehingga kurang efektif dalam mendeteksi kesalahan secara dini. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun sistem pengendalian telah berjalan, efektivitasnya masih perlu ditingkatkan, khususnya dalam aspek persetujuan transaksi kecil, komunikasi antar bagian, dan pemantauan internal yang berkelanjutan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi koperasi lain dalam memperkuat tata kelola keuangan melalui sistem pengendalian internal yang lebih terstruktur dan menyeluruh. Kata Kunci : Pengendalian Internal. Prosedur Pengeluaran Kas. COSO PENDAHULUAN ISSN: 1412 - 3681 . ISSN: 2442 - 4617 . , https://journal. id/index. php/jakpi JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Juni 2025, p. Pesatnya perkembangan dunia bisnis di Indonesia mendorong banyak perusahaan dari berbagai sektor untuk bersaing dalam memberikan produk dan layanan terbaik kepada konsumen. Persaingan ini menjadi bentuk nyata dari upaya perusahaan dalam memenuhi kebutuhan pasar. Namun, seiring dengan pertumbuhan perusahaan, pelaksanaan fungsi pengendalian sering kali mengalami kendala. Hal ini disebabkan oleh semakin kompleks dan luasnya aktivitas operasional yang harus diawasi, sementara kapasitas manajemen memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, perusahaan perlu menetapkan tujuan yang terarah serta merumuskan strategi yang tepat guna mencapai tujuan tersebut secara efektif. Secara umum, aktivitas operasional merupakan kegiatan utama yang menghasilkan pendapatan bagi suatu entitas bisnis, dan juga menjadi sumber arus kas. Arus kas yang berasal dari aktivitas ini memiliki peran penting karena dapat digunakan untuk menilai kemampuan entitas dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam proses pengeluaran kas, diperlukan adanya prosedur pengawasan guna memastikan bahwa dana yang dikeluarkan sesuai dengan tujuan entitas. Hal ini penting karena kas merupakan instrumen keuangan yang sangat likuid dan mudah dialihkan (Muanas & Prakoso, 2. Pengeluaran kas merupakan bagian penting dari siklus keuangan yang berkaitan langsung dengan aktivitas operasional sebuah organisasi, termasuk koperasi. Pengeluaran kas yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan kerugian finansial, keterlambatan kegiatan operasional, serta risiko penyalahgunaan dana. Oleh karena itu, diperlukan sistem pengendalian internal yang efektif untuk memastikan bahwa setiap transaksi pengeluaran kas dilakukan secara sah, tercatat dengan benar, dan sesuai dengan peruntukannya. Adanya prosedur pengendalian dalam pengeluaran kas bertujuan untuk memastikan bahwa penggunaan kas dilakukan secara tepat sesuai dengan peruntukannya, serta untuk menjaga keamanan kas perusahaan. Hal ini penting karena sebagian besar transaksi yang dilakukan oleh organisasi, instansi, atau perusahaan melibatkan kas. Prosedur tersebut merupakan bagian dari sistem pengendalian internal yang berfungsi sebagai pedoman, sekaligus untuk meminimalkan risiko terjadinya kesalahan maupun penyelewengan. Oleh sebab itu, pengawasan terhadap aktivitas siklus kas dalam operasional perusahaan menjadi hal yang sangat diperlukan. (Muanas & Prakoso, 2. Pengendalian internal adalah suatu proses yang dirancang, diimplementasikan, dan dijalankan oleh manajemen dan seluruh pihak dalam organisasi untuk memberikan keyakinan memadai bahwa tujuan organisasi dapat tercapai, terutama terkait efektivitas dan efisiensi operasi, keandalan pelaporan keuangan, dan kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku(COSO, 2. Dalam konteks prosedur pengeluaran kas, pengendalian internal berfungsi sebagai alat untuk memastikan bahwa setiap pengeluaran kas didukung oleh dokumen yang lengkap, telah mendapatkan otorisasi yang tepat, serta dilakukan sesuai prosedur yang berlaku. Salah satu kerangka kerja yang sering digunakan untuk melakukan evaluasi pengendalian internal adalah Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission (COSO) Internal Control Integrated Framework (ICIF) 2013. Kerangka COSO ICIF 2013 dipilih karena memiliki fokus pada pengendalian internal secara menyeluruh dalam organisasi, terutama dalam aspek kepatuhan, efektivitas operasional, dan akuntabilitas, serta dinilai sesuai untuk perusahaan dengan skala yang tidak terlalu besar. COSO mencakup lima komponen utama, yaitu lingkungan pengendalian, penilaian risiko, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi, serta Dengan menggunakan standar COSO dalam menilai pengendalian internal. ANALISIS SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL PROSEDUR PENGELUARAN KAS PADA PUSAT KOPERASI UNIT DESA (PUSKUD) Roza Eka Putri. Norra Isnasia Rahayu JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Juni 2025, p. khususnya pada pengeluaran kas, perusahaan dapat lebih efektif dalam mengidentifikasi dan mengendalikan potensi penyimpangan. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan pentingnya pengendalian internal dalam prosedur pengeluaran kas. (Zahara et al. , 2. menemukan bahwa meskipun perusahaan telah memiliki prosedur formal, pelaksanaannya di lapangan masih belum konsisten, terutama pada aspek dokumentasi dan pemantauan. Sementara itu, (Fitryani et al. , 2. menyatakan bahwa pemisahan tugas, sistem otorisasi berjenjang, dan audit internal dapat meningkatkan akuntabilitas dan efektivitas pengeluaran kas. Penelitian oleh (Zulkarnain, 2. juga menunjukkan bahwa koperasi yang belum memiliki prosedur pengeluaran kas yang terdokumentasi cenderung mengalami ketidakteraturan dalam pencatatan dan pengawasan penggunaan dana. Minimnya kajian mendalam mengenai efektivitas sistem pengendalian prosedur pengeluaran kas di koperasi skala menengah menjadi celah penting yang coba diisi oleh penelitian ini. Dinamika dunia usaha yang terus berkembang menuntut pengelolaan keuangan yang efisien dan efektif sebagai faktor utama dalam menjamin keberlangsungan dan pertumbuhan lembaga, termasuk koperasi. Dalam konteks PUSKUD yang bergerak sebagai distributor pupuk bersubsidi, pengelolaan dana yang baik menjadi sangat penting untuk menjaga likuiditas serta mencegah terjadinya kecurangan maupun penyimpangan. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan bagian administrasi dan keuangan. Pusat Koperasi Unit Desa (PUSKUD) menghadapi tantangan dalam sistem pengendalian internalnya, khususnya terkait prosedur pengeluaran kas. Meskipun beberapa prinsip pengendalian telah dijalankan seperti dokumentasi dan pelatihan karyawan, masih ditemukan kelemahan pada aspek otorisasi transaksi kecil dan minimnya monitoring internal yang dilakukan secara rutin. Kondisi ini berisiko menimbulkan kesalahan maupun praktik penyelewengan, sehingga diperlukan evaluasi menyeluruh terhadap efektivitas pengendalian internal yang diterapkan. Dengan menggunakan kerangka kerja COSO Internal ControlAiIntegrated Framework (ICIF) 2013, penelitian ini diharapkan tidak hanya relevan untuk PUSKUD, tetapi juga memberikan kontribusi bagi koperasi lain yang mengalami permasalahan serupa dalam upaya memperkuat sistem pengendalian internal dan meningkatkan efisiensi Minimnya kajian yang secara khusus mengkaji efektivitas sistem pengendalian internal prosedur pengeluaran kas di koperasi skala menengah seperti PUSKUD masih menjadi celah dalam penelitian terdahulu. Beberapa studi sebelumnya (Zahara et al. , 2. lebih berfokus pada perusahaan swasta maupun institusi dengan struktur formal yang sudah mapan dan sistem Sementara itu. PUSKUD sebagai koperasi yang belum sepenuhnya terdigitalisasi masih menghadapi tantangan dalam hal otorisasi transaksi kecil dan minimnya monitoring internal yang dilakukan secara rutin. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk memberikan gambaran empirik mengenai bagaimana sistem pengendalian internal diterapkan pada koperasi dengan keterbatasan sumber daya, serta untuk mengevaluasi kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip COSO ICIF 2013. KAJIAN PUSTAKA Sistem Pengendalian Internal Sistem pengendalian internal merupakan suatu kerangka kerja yang berperan penting dalam mengelola risiko, menjaga keamanan aset, dan memastikan operasional organisasi berjalan dengan integritas (Zahara et al. , 2. Berdasarkan Committee of Sponsoring Organizations of the ANALISIS SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL PROSEDUR PENGELUARAN KAS PADA PUSAT KOPERASI UNIT DESA (PUSKUD) Roza Eka Putri. Norra Isnasia Rahayu JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Juni 2025, p. Treadway Commission (COSO), pengendalian internal bertujuan untuk mendukung tercapainya efektivitas dan efisiensi kegiatan operasional, keandalan pelaporan keuangan, serta kepatuhan terhadap peraturan dan kebijakan yang berlaku. Dalam kerangka ini, terdapat lima komponen utama yang membentuk sistem pengendalian internal, yaitu lingkungan pengendalian, penilaian risiko, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi, serta kegiatan pemantauan (COSO, (Suarsa & Mujiman, 2. menegaskan bahwa sistem pengendalian internal tidak hanya berlaku untuk perusahaan besar dan bank, tetapi juga sangat relevan untuk koperasi. Dalam konteks koperasi Indonesia, studi (Aulia, 2. tentang Koperasi Kartika Cipta Wira Yudha menyimpulkan bahwa sistem pengendalian internal berbasis COSO meningkatkan keberlangsungan usaha . oing concer. Prosedur Pengeluaran Kas Pengeluaran kas adalah proses transaksi yang berkaitan dengan pembayaran kewajiban perusahaan atau lembaga, baik untuk operasional rutin maupun kebutuhan investasi (Istiqomah et al. , 2. Dalam pengelolaannya, diperlukan prosedur yang jelas dan terdokumentasi untuk menjamin setiap transaksi dilakukan secara legal, akurat, dan bertanggung jawab. Prosedur pengeluaran kas adalah serangkaian langkah administratif dan teknis yang dirancang untuk mengatur pengeluaran dana perusahaan atau organisasi, termasuk pengajuan permintaan dana, otorisasi, pembayaran, hingga pencatatan. Tujuan utama dari prosedur ini adalah untuk memastikan bahwa dana dikeluarkan secara sah, tepat sasaran, dan terdokumentasi secara lengkap. Menurut (Zahara et al. , 2. , pengeluaran kas yang tidak disertai dengan pengendalian yang baik dapat menyebabkan inkonsistensi dalam pencatatan, tidak adanya bukti pendukung yang lengkap, dan rendahnya akuntabilitas keuangan. Oleh karena itu, keberadaan prosedur tertulis dan pelaksanaan yang konsisten sangat diperlukan. Menurut (Ismail et al. , 2. , prosedur pengeluaran kas adalah rangkaian tahapan yang dimulai dari persetujuan, pendebetan rekening, hingga penyaluran dana kepada pihak ketiga, yang harus dijalankan sesuai peraturan teknis seperti Permendagri No. 77/2020 untuk memastikan legalitas, transparansi, dan akuntabilitas. Selanjutnya, (Pradana et al. , 2. menjelaskan bahwa di koperasi, prosedur ini mencakup penerbitan bukti kas keluar, otorisasi oleh pejabat yang berwenang, serta pencatatan transaksi yang sistematis sesuai dengan norma audit internal yang berlaku (SPAP/PSA No. Lebih lanjut, prosedur pengeluaran kas idealnya mencakup: pengajuan dana oleh pihak pemohon, verifikasi oleh bagian keuangan, otorisasi dari atasan, pencairan dana oleh bendahara, hingga pencatatan dan pelaporan oleh bagian akuntansi. Setiap langkah tersebut harus terdokumentasi secara tertulis dan dilengkapi dengan bukti kas keluar. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif-evaluatif. Penelitian deskriptif-evaluatif bertujuan untuk mengevaluasi suatu program, kegiatan, atau temuan tertentu dengan cara membandingkan hasil-hasil yang diperoleh di lapangan dengan teori, standar, atau temuan sebelumnya. Pendekatan ini digunakan untuk menilai sejauh mana pelaksanaan suatu sistem berjalan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan, sekaligus memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi aktual yang terjadi. Penelitian kualitatif memuat informasi tentang ANALISIS SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL PROSEDUR PENGELUARAN KAS PADA PUSAT KOPERASI UNIT DESA (PUSKUD) Roza Eka Putri. Norra Isnasia Rahayu JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Juni 2025, p. fenomena utama yang sedang di eksplorasi dalam suatu penelitian, partisipan penelitian, dan lokasi Penelitian deskriptif Ae evaluatif dengan pendekatan kualitatif adalah suatu pendekatan yang menggabungkan analisis deskriptif dan evaluatif untuk memahami suatu fenomena, penelitian ini tidak hanya memberikan gambaran lengkap tentang fenomena, tetapi juga melakukan penilaian terhadap kualitas, efektivitas, atau dampaknya. Data yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah rekaman transaksi keuangan milik Pusat Koperasi Unit Desa (PUSKUD), khususnya yang berkaitan dengan aktivitas pengeluaran kas. Informasi ini mencakup rincian pengeluaran yang dapat menggambarkan bagaimana alur dan mekanisme kas keluar diterapkan di lingkungan koperasi. Selain itu, peneliti juga mengkaji dokumen operasional yang tersedia guna memahami keterkaitan antara pengeluaran kas dengan kegiatan operasional dan fungsi distribusi yang dijalankan oleh PUSKUD. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan informan kunci yang terkait langsung dengan proses pengeluaran kas, seperti staf bagian keuangan, staf administrasi perusahaan, direktur operasional. Selain itu, dilakukan observasi terhadap dokumen keuangan, bukti pengeluaran, dan prosedur operasional standar yang digunakan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara sistematis untuk menilai sejauh mana sistem pengendalian internal berkontribusi dalam prosedur pengeluaran kas di Pusat Koperasi Unit Desa (PUSKUD) dan apakah penerapannya telah berjalan secara efektif. Proses analisis ini mencakup evaluasi terhadap kepatuhan pelaksanaan terhadap prosedur yang berlaku, identifikasi potensi kelemahan atau risiko dalam sistem yang ada, serta penyusunan rekomendasi yang dapat diterapkan guna meningkatkan efektivitas pengendalian internal dalam pengelolaan kas keluar. Melalui pendekatan ini, penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai permasalahan yang dihadapi PUSKUD dalam proses pengeluaran kas dan menyajikan solusi yang konstruktif untuk perbaikannya. HASIL DAN PEMBAHASAN Untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai peran sistem informasi akuntansi pengeluaran kas dalam memperkuat pengendalian internal, peneliti melakukan evaluasi terhadap implementasi sistem pengendalian internal di perusahaan. Evaluasi ini bertujuan untuk menilai apakah sistem yang diterapkan telah berjalan sebagaimana mestinya dan sesuai dengan standar yang berlaku. Proses penilaian dilakukan dengan membandingkan kondisi aktual di lapangan dengan 17 prinsip yang terdapat dalam lima komponen utama kerangka kerja COSO Internal Control Integrated Framework 2013. Evaluasi ini tidak hanya berfokus pada keberadaan sistem pengendalian internal, tetapi juga mengukur tingkat efektivitasnya dalam mencapai tujuan organisasi, melindungi aset, menjamin akuntabilitas, serta meminimalkan potensi risiko. Tabel 1. Evaluasi Kepatuhan Sistem Pengendalian Internal Prosedur Pengeluaran Kas PUSKUD Berdasarkan COSO ICIF 2013 Komponen COSO Lingkungan Pengendalian Prinsip Pengendalian Temuan Lapangan (PUSKUD) Komitmen terhadap Sudah diterapkan. tercermin dalam pembagian integritas dan nilai etika tugas dan tanggung jawab. ANALISIS SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL PROSEDUR PENGELUARAN KAS PADA PUSAT KOPERASI UNIT DESA (PUSKUD) Roza Eka Putri. Norra Isnasia Rahayu JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Juni 2025, p. Komponen COSO Prinsip Pengendalian Temuan Lapangan (PUSKUD) Komitmen terhadap kompetensi individu Pegawai diberdayakan sesuai tugas, dan juga telah menyediakan pelatihan bagi karyawan, meskipun pelaksanaannya belum dilakukan secara rutin atau terjadwal secara berkala. Independensi dewan Terdapat pengawasan eksternal tahunan, namun pengawas terhadap tidak ada audit internal secara rutin. Struktur organisasi. Sudah diterapkan. terdapat pemisahan tugas antara wewenang, dan tanggung pencatat dan pemegang kas. jawab jelas Akuntabilitas individu Akuntabilitas belum sepenuhnya formal, terutama terhadap sistem dalam pengeluaran < Rp5 juta tanpa otorisasi pengendalian internal Penilaian Penetapan tujuan yang Tujuan organisasi jelas namun belum tertuang Risiko secara formal dalam sistem pengendalian kas. Identifikasi dan Belum dilakukan secara terstruktur dan analisis risiko Pertimbangan risiko Tidak ada mekanisme khusus untuk mendeteksi risiko kecurangan transaksi kecil. Identifikasi perubahan Belum ada sistem adaptif terhadap perubahan signifikan dalam kebijakan atau regulasi. Aktivitas Pengembangan Sudah ada, namun otorisasi belum berlaku untuk Pengendalian aktivitas pengendalian semua nominal transaksi. Pengembangan Proses pencatatan masih dilakukan secara manual kontrol atas teknologi menggunakan Excel. Informasi keuangan Data pengeluaran terdokumentasi namun belum Informasi dan dan operasional relevan disampaikan secara rutin ke bendahara untuk Komunikasi pengeluaran kecil. Komunikasi internal Belum berjalan rutin. laporan tidak disusun antar bagian terkait Komunikasi dengan Dilakukan melalui audit eksternal tahunan. pihak eksternal Pemantauan Belum ada pemantauan rutin internal, hanya Pemantauan pengendalian dilakukan dilakukan auditor eksternal setiap tahun. secara berkelanjutan ANALISIS SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL PROSEDUR PENGELUARAN KAS PADA PUSAT KOPERASI UNIT DESA (PUSKUD) Roza Eka Putri. Norra Isnasia Rahayu JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Juni 2025, p. Komponen COSO Prinsip Pengendalian Evaluasi pengendalian dilakukan secara berkala Tindakan korektif atas temuan Temuan Lapangan (PUSKUD) Tidak ada audit internal atau evaluasi bulanan dari bendahara/kepala keuangan. Belum diketahui apakah ada mekanisme untuk tindak lanjut hasil temuan audit. Evaluasi Pengendalian Internal dengan Perbandingan COSO ICIF 2013 Penerapan Lingkungan Pengendalian Penerapan lingkungan pengendalian PUSKUD menunjukkan komitmen yang cukup baik terhadap nilai integritas dan etika. Hal ini tercermin dari adanya pembagian tugas yang jelas antara pemegang kas dan pencatat transaksi. Pimpinan juga menunjukkan kepercayaan penuh terhadap pelaksanaan tugas oleh bawahan, yang menunjukkan kultur kerja yang mendukung integritas. Hal ini sejalan dengan prinsip COSO yang menekankan pentingnya budaya organisasi yang etis dan bertanggung jawab (COSO, 2. Selain itu. PUSKUD juga telah memberikan pelatihan kepada karyawan untuk meningkatkan kompetensi mereka dalam menjalankan tugas, baik dari segi teknis keuangan maupun pemahaman terhadap prosedur internal. Adanya pelatihan ini mencerminkan komitmen terhadap pengembangan sumber daya manusia yang merupakan salah satu aspek penting dalam komponen lingkungan pengendalian (Muanas & Prakoso, 2. Struktur organisasi di PUSKUD sudah cukup terdefinisi dengan baik, dan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas dilakukan oleh bendahara serta kepala keuangan, meskipun belum dilakukan secara rutin bulanan. Untuk pengeluaran kas di bawah Rp5 juta, masih terdapat kebijakan bahwa tidak perlu otorisasi bendahara, yang dapat membuka celah untuk penyimpangan dana dalam jumlah kecil tetapi dengan frekuensi tinggi. Penerapan Komponen Penilaian Resiko Penilaian risiko di PUSKUD belum sepenuhnya diterapkan secara formal dan terdokumentasi. Walaupun risiko disadari secara umum oleh pengelola, tidak terdapat mekanisme tertulis atau evaluasi rutin untuk mengidentifikasi potensi risiko pengeluaran kas, terutama yang berkaitan dengan transaksi non-rutin atau pengeluaran mendadak. Ini menunjukkan kelemahan dalam mengelola ancaman operasional yang mungkin timbul dari ketidakteraturan prosedural Pertimbangan terhadap risiko kecurangan atau fraud juga belum dibakukan dalam prosedur Meski secara umum terdapat kepercayaan antar bagian, ketiadaan dokumen tertulis sebagai kontrol dapat menurunkan akuntabilitas dalam pelaksanaan transaksi keuangan. Penerapan Komponen Aktivitas Pengendalian Aktivitas pengendalian seperti pemisahan fungsi antara pencatat dan pemegang kas telah dilakukan dengan baik di PUSKUD. Hal ini merupakan langkah positif yang mendukung penerapan pengendalian internal yang efektif. Namun, kelemahan utama terletak pada tidak diwajibkannya otorisasi bendahara untuk pengeluaran dengan nominal kecil. Padahal, prinsip ANALISIS SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL PROSEDUR PENGELUARAN KAS PADA PUSAT KOPERASI UNIT DESA (PUSKUD) Roza Eka Putri. Norra Isnasia Rahayu JURNAL AKUNTANSI. KEUANGAN. PAJAK DAN INFORMASI (JAKPI) Volume 5. No. Juni 2025, p. COSO menyatakan bahwa seluruh pengeluaran, tanpa memperhatikan jumlah nominalnya, tetap harus melalui proses otorisasi untuk menjamin validitas dan keabsahan transaksi (COSO, 2. Prosedur pengeluaran kas memang masih dilakukan secara manual melalui Excel, namun dokumentasi terhadap transaksi kas keluar di PUSKUD sudah cukup memadai. Setiap pengeluaran disertai bukti fisik dan laporan yang disimpan sebagai arsip keuangan. Ini menunjukkan adanya kesadaran akan pentingnya dokumentasi sebagai dasar transparansi dan akuntabilitas. Penerapan Komponen Informasi dan Komunikasi Komunikasi antar bagian terkait pengendalian pengeluaran kas belum berjalan secara optimal. Belum adanya laporan rutin kepada bendahara mengenai seluruh transaksi kas keluar, khususnya yang kecil, menyebabkan berkurangnya transparansi. Informasi keuangan juga belum sepenuhnya dikomunikasikan secara formal, sehingga potensi miskomunikasi dan duplikasi wewenang menjadi lebih tinggi. Padahal, komunikasi yang efektif menjadi pilar penting dalam menjamin pengendalian internal yang kuat (Istiqomah et al. , 2. Penerapan Komponen Aktivitas Pengawasan Pemantauan sistem pengendalian internal di PUSKUD belum dilakukan secara berkelanjutan. Tidak ada pemeriksaan secara periodik yang dilakukan oleh bendahara. Monitoring hanya dilakukan oleh auditor eksternal satu kali dalam setahun. Akibatnya, kemungkinan terjadinya penyimpangan transaksi atau pelanggaran prosedur baru terdeteksi setelah waktu yang cukup Padahal, pemantauan internal secara berkala merupakan komponen utama dalam model pengendalian internal berbasis COSO yang dapat mengurangi risiko kesalahan sejak dini (Fitryani et al. , 2. SIMPULAN Secara keseluruhan. Pusat Koperasi Unit Desa (PUSKUD) telah menerapkan prinsip-prinsip pengendalian internal berdasarkan kerangka COSO ICIF 2013 dengan cukup baik, terutama dalam hal pembagian tugas, pelatihan karyawan, serta dokumentasi kas. Namun, masih terdapat kelemahan seperti belum diwajibkannya otorisasi bendahara untuk pengeluaran di bawah Rp5 juta, belum adanya dokumentasi formal terkait penilaian risiko, komunikasi yang belum optimal antar bagian, serta belum dilaksanakannya pemantauan internal secara rutin. Oleh karena itu. PUSKUD disarankan untuk memperkuat lingkungan pengendalian melalui pelatihan berkelanjutan, menyusun dokumen formal penilaian risiko, serta memastikan seluruh pengeluaran kas melalui proses otorisasi. Selain itu, peningkatan komunikasi antar bagian dan pelaksanaan pemantauan rutin, seperti audit internal atau pengawasan bulanan, juga penting dilakukan untuk mendeteksi potensi penyimpangan sejak dini dan menjaga efisiensi serta keberlanjutan operasional koperasi. DAFTAR PUSTAKA