DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam AnakIslam Usia Anak Dini Usia Dini e-ISSN DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan e-ISSN2987-128X 2987-128X http://ejournal. id/index. php/dzurriyat http://ejournal. id/index. php/dzurriyat p-ISSN p-ISSN3026-2909 Volume 3 Nomor 2,32025 Volume Nomor 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 61104/dz. Implementasi Kurikulum PAUD Berbasis Karakter dalam Pembentukan Kebiasaan Shalat Anak di TK IQRAAo Malang Nur Hana Azizah1. Iftidatul Nurul Maiyah2. Ahmad Samawi3. Yudithia Dian Putra4 Universitas Negeri Malang. Indonesia1-4 Email Korespondensi: nur. 2501548@student. 2501548@student. fip@um. fip@um. Article received: 14 November 2025. Review process: 18 November 2025 Article Accepted: 01 Desember 2015. Article published: 07 Desember 2025 ABSTRACT Early childhood education plays a strategic role in strengthening childrenAos religious character, which becomes the foundation for shaping prayer habits through consistent and meaningful daily practices. This study aims to describe the implementation of a characterbased curriculum in developing childrenAos prayer habits at TK IQRAAo Malang. Using a qualitative descriptive design, data were collected through observation, interviews, and documentation to obtain a comprehensive picture of religious routines integrated into learning activities. The results show that prayer habituation is carried out through Dhuha prayer in congregation, daily supplications, and short surah memorization supported by joyful learning, teacher modeling, and collaboration with parents at home. These practices cultivate discipline, spiritual awareness, and self-regulation in early learners. The study concludes that integrating prayer habituation within a character-based curriculum effectively embeds religious and moral values from an early age and strengthens the holistic development of children. Keywords: Early childhood, character curriculum, prayer habituation, religious values. ABSTRAK Pendidikan anak usia dini memiliki peran strategis dalam memperkuat karakter religius anak, yang menjadi dasar bagi pembentukan kebiasaan shalat melalui praktik harian yang konsisten dan bermakna. Penelitian ini bertujuan mengembangkan kebiasaan shalat anak di TK IQRAAo Malang. Penelitian menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai rutinitas keagamaan yang terintegrasi dalam pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembiasaan shalat dilakukan melalui kegiatan shalat Dhuha berjamaah, doa harian, dan hafalan surah pendek yang diperkuat dengan pembelajaran menyenangkan, keteladanan guru, dan kolaborasi orang tua di rumah. Praktik tersebut menumbuhkan disiplin, kesadaran spiritual, dan regulasi diri pada anak usia dini. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi pembiasaan shalat dalam kurikulum berbasis karakter efektif menanamkan nilai religius dan moral sejak dini serta memperkuat perkembangan holistik anak. Kata Kunci: PAUD. Kurikulum Karakter. Pembiasaan Shalat. Nilai Religius. Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Copyright. Nur Hana Azizah. Iftidatul Nurul Maiyah. Ahmad Samawi. Yudithia Dian Putra DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini http://ejournal. id/index. php/dzurriyat Volume 3 Nomor 2, 2025 e-ISSN 2987-128X p-ISSN 3026-2909 PENDAHULUAN Pendidikan Pendidikan anak usia dini merupakan fondasi utama dalam pembentukan kepribadian, moral, dan karakter anak. Pada tahap ini, anak cenderung meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya sehingga proses pembentukan karakter harus dimulai sedini mungkin. Hal ini sejalan dengan pendapat Salam et al. yang menegaskan bahwa pendidikan karakter berfungsi sebagai landasan moral agar anak mampu menyaring pengaruh negatif dari lingkungan dan membangun perilaku yang bijaksana. Salah satu nilai karakter yang penting ditanamkan adalah nilai religius, yaitu kesadaran beragama yang tampak dalam perilaku ibadah, sopan santun, dan kebiasaan melaksanakan shalat (Nurlaela et al. , 2. Penanaman nilai religius pada jenjang PAUD menjadi krusial karena dapat membentuk kepribadian anak secara menyeluruh (Utami et al. , 2. Kegiatan pembiasaan shalat di lembaga PAUD merupakan bentuk implementasi nyata pendidikan karakter religius, di mana anak tidak hanya belajar praktik ibadah tetapi juga dilatih disiplin, tanggung jawab, dan kebersamaan. Hal ini selaras dengan amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3 yang menekankan bahwa pendidikan bertujuan mengembangkan manusia beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan efektivitas pembiasaan dalam membangun karakter religius. Sari et al. menemukan bahwa program full day school mampu menanamkan karakter religius melalui kegiatan pembiasaan dan penguatan perilaku positif. Yuliana et al. juga menunjukkan bahwa program keagamaan di TK Aisyiyah Bungkal melalui shalat Dhuha, mengaji, berwudhu, bersedekah, dan menjaga kebersihan berhasil memperkuat nilai religius melalui kegiatan rutin yang melibatkan dukungan orang tua. Lebih lanjut. Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018 menekankan pentingnya integrasi pendidikan karakter dalam kegiatan intra-, ko-, dan ekstrakurikuler. Hal ini juga diperkuat oleh pendapat Puspita et al. yang menyatakan bahwa kurikulum memiliki peran fundamental dalam proses pembelajaran, sehingga pengembangannya harus mengikuti kebutuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan (Chaudhary, 2015. Thompson et al. , 2. Dalam konteks pendidikan karakter, pemerintah menekankan pembelajaran bermakna . eep learnin. yang tidak hanya menekankan hafalan nilai, tetapi penerapannya dalam kehidupan sehari-hari (Fitri et al. , 2. Pada jenjang PAUD, penguatan nilai religius umumnya dilakukan melalui pembiasaan kegiatan ibadah seperti shalat dan doa harian. Pembiasaan merupakan proses yang dilakukan secara berulang hingga melekat menjadi kebiasaan (Paujiah et al. , 2. Keberhasilan pembiasaan ini tidak lepas dari peran guru, kepala sekolah, dan dukungan orang tua (Raka et al. , 2011. Setiawan, 2013. Berkowitz et , 2000. Esih, 2. Integrasi kegiatan religius dalam pembelajaran juga telah terbukti efektif berdasarkan berbagai penelitian kontemporer. Sepiani . menegaskan bahwa pembiasaan shalat berkontribusi penting dalam membentuk regulasi diri anak, termasuk pengendalian emosi, fokus perhatian, motivasi, dan perilaku. Temuan Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Copyright. Nur Hana Azizah. Iftidatul Nurul Maiyah. Ahmad Samawi. Yudithia Dian Putra DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini http://ejournal. id/index. php/dzurriyat Volume 3 Nomor 2, 2025 e-ISSN 2987-128X p-ISSN 3026-2909 Wardana dan Mustofa . menunjukkan bahwa kurikulum berbasis Al-QurAoan melalui konsep Ibuku Guruku efektif membentuk karakter anak melalui keterlibatan guru dan orang tua. Pitri et al. menambahkan bahwa pembelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di PAUD berhasil melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang berkesinambungan. Namun demikian, penelitian-penelitian yang ada umumnya menekankan pembiasaan ibadah dalam konteks kurikulum umum atau program keagamaan sekolah tanpa mengulas secara spesifik kekhasan implementasi pembiasaan shalat di satuan PAUD tertentu. Di sinilah letak gap penelitian ini. TK IQRAAo Kota Malang memiliki ciri khas berupa integrasi kegiatan shalat Dhuha, doa harian, dan pembiasaan ibadah lain secara terpadu dalam tema pembelajaran, bukan hanya sebagai rutinitas ibadah. Pembiasaan dilakukan melalui pendekatan bermain, pengalaman langsung, serta pendampingan guru secara intensif, sehingga membentuk proses belajar yang lebih kontekstual dan bermakna. Kekhasan praktik ini belum banyak diungkap dalam penelitian terdahulu. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan secara mendalam implementasi kurikulum PAUD berbasis karakter dalam membangun kebiasaan shalat anak usia dini di TK IQRAAo Kota Malang, serta menjelaskan bentuk-bentuk pembiasaan ibadah yang terintegrasi dalam pembelajaran sebagai upaya penguatan nilai religius pada anak. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif untuk memahami pelaksanaan kurikulum PAUD berbasis karakter dalam membangun kebiasaan shalat anak usia dini di TK IQRAAo Kota Malang. Peneliti bertindak sebagai instrumen utama yang hadir langsung di lokasi penelitian untuk melakukan observasi partisipatif dan berinteraksi dengan subjek penelitian. Informan penelitian terdiri atas kepala sekolah dan dua guru kelompok B, sedangkan subjeknya adalah anak usia 5-6 tahun. Data penelitian mencakup data primer yang diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam, serta data sekunder berupa KOSP, perangkat pembelajaran, dan dokumentasi kegiatan Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang saling melengkapi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan (Putri et al. , 2. Hasil analisis disajikan secara deskriptif untuk memberikan gambaran komprehensif tentang implementasi pembiasaan shalat dalam konteks kurikulum PAUD berbasis HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa TK IQRAAo Kota Malang mengimplementasikan kurikulum PAUD berbasis karakter religius secara konsisten melalui serangkaian kegiatan pembiasaan. Secara empiris, kegiatan shalat dhuha berjamaah menjadi praktik utama yang dilakukan setiap pagi. Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Copyright. Nur Hana Azizah. Iftidatul Nurul Maiyah. Ahmad Samawi. Yudithia Dian Putra DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini http://ejournal. id/index. php/dzurriyat Volume 3 Nomor 2, 2025 e-ISSN 2987-128X p-ISSN 3026-2909 Temuan ini sejalan dengan konsep pembiasaan yang dikemukakan Ulwan . , bahwa anak usia dini cenderung meniru dan mengikuti perilaku yang diberikan secara berulang. Selain sebagai ibadah, shalat dhuha juga dipercaya memberi dampak pada pembentukan energi positif seperti optimisme, keberanian, dan kepercayaan diri (Octaviana et al. , 2. , yang tampak dari antusias anak mempersiapkan diri mengikuti kegiatan ibadah setiap hari. Pelaksanaan shalat diawali dengan antre berwudhu, di mana anak menunjukkan kemampuan mandiri dalam mengikuti urutan wudhu tanpa bantuan Kemandirian ini menguatkan bahwa pembiasaan ibadah bukan hanya membentuk aspek spiritual, tetapi juga menumbuhkan disiplin dan tanggung jawab anak terhadap kewajibannya. Di sisi analitis, praktik ini mengonfirmasi bahwa kegiatan ibadah dapat menjadi sarana internalisasi nilai moral melalui aktivitas terstruktur yang mudah diikuti oleh anak usia dini. Hal tersebut relevan dengan tujuan pendidikan karakter yang menekankan pembentukan kebiasaan positif melalui contoh dan latihan berulang. Kegiatan shalat dipimpin secara bergantian oleh seorang anak laki-laki, yang berfungsi melatih keberanian dan kepemimpinan. Guru tetap mendampingi dan memberi koreksi bacaan atau gerakan yang kurang tepat. Temuan ini menunjukkan bahwa guru berperan sebagai model sekaligus scaffolder, memperkuat teori belajar sosial bahwa anak belajar melalui observasi dan bimbingan langsung. Di sinilah nilai karakter religius tidak hanya diajarkan, tetapi dihidupkan dalam interaksi sehari-hari. Selain shalat, pembiasaan doa harian dan hafalan surah pendek dilakukan melalui metode bernyanyi dan permainan. Penggunaan metode yang menyenangkan menunjukkan bahwa pembiasaan karakter di PAUD harus sesuai dengan tahap perkembangan anak. Guru tampil sebagai teladan dengan memperlihatkan perilaku religius seperti berwudhu bersama, bersikap lembut, dan menjaga adab berbicara. Hal ini mendukung gagasan bahwa pendidikan karakter memerlukan keteladanan konkret, bukan sekadar instruksi verbal. Rangkaian kegiatan ini memperlihatkan bahwa nilai religius diinternalisasi secara alami melalui pengalaman langsung anak. Nilai religius juga diintegrasikan dalam pembelajaran tematik, misalnya tema AuAku Anak SholehAy atau AuTempat IbadahkuAy. Anak-anak meniru gerakan shalat melalui permainan peran, sebuah pendekatan yang menguatkan hasil penelitian sebelumnya bahwa learning through play dapat meningkatkan pemaknaan nilai keagamaan secara lebih efektif. Kolaborasi sekolahAeorang tua melalui buku penghubung harian memastikan kesinambungan kebiasaan shalat di rumah, memperkuat pendapat bahwa pendidikan karakter memerlukan sinergi antara sekolah dan keluarga. Refleksi nilai setelah pembelajaran menjadi bagian penting lainnya. Guru mengajak anak berdiskusi tentang perilaku baik seperti jujur, membantu teman, atau bersyukur. Analisis ini menunjukkan bahwa pembiasaan religius tidak berhenti pada kegiatan ibadah, tetapi berkembang menjadi kesadaran moral yang lebih luas. Pendekatan reflektif ini membangun kemampuan anak memahami Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Copyright. Nur Hana Azizah. Iftidatul Nurul Maiyah. Ahmad Samawi. Yudithia Dian Putra DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini http://ejournal. id/index. php/dzurriyat Volume 3 Nomor 2, 2025 e-ISSN 2987-128X p-ISSN 3026-2909 makna perilaku yang dilakukan, sehingga internalisasi nilai karakter berlangsung lebih mendalam. Secara keseluruhan, kegiatan pembiasaan religius tersebut berdampak positif terhadap perkembangan anak. Anak menunjukkan kemajuan dalam aspek kognitif religius . enghafal surah pendek, doa harian, asmaul husn. , sosial emosional . isiplin, percaya diri, pedul. , dan spiritual . emampuan shalat, menjadi imam, memahami adab ibada. Temuan ini konsisten dengan pendapat Sepiani . yang menekankan bahwa pembiasaan shalat berperan penting dalam pembentukan regulasi diri anak. Gambar 1 memperlihatkan pelaksanaan wudhu dan shalat berjamaah di TK IQRA` Malang. Gambar 1: Pelaksanaan Wudhu dan Shalat Berjamaah Nilai religius juga diintegrasikan ke dalam pembelajaran tematik, seperti pada tema AuAku Anak SholehAy dan AuTempat IbadahkuAy. Dalam kegiatan tersebut, anak-anak dilibatkan dalam permainan peran sebagai imam dan makmum untuk meniru gerakan shalat dengan cara yang menyenangkan. Sekolah juga membangun kolaborasi dengan orang tua melalui buku penghubung harian untuk memantau kebiasaan shalat anak di rumah. Cara ini terbukti efektif menjaga kesinambungan antara pembiasaan di sekolah dan di lingkungan keluarga. Selain melalui kegiatan tematik, nilai religius juga diperkuat dengan kegiatan refleksi setelah pembelajaran. Guru mengajak anak berdiskusi ringan mengenai makna perilaku baik yang telah dilakukan selama kegiatan berlangsung, seperti kejujuran, tolong-menolong, atau bersyukur atas nikmat Allah. Kegiatan refleksi ini membantu anak memahami bahwa nilai religius tidak hanya diterapkan saat beribadah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, anak belajar menumbuhkan kesadaran moral dan spiritual secara menyeluruh melalui pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna. Pelaksanaan kurikulum PAUD berbasis karakter religius di TK IQRAAo Kota Malang berdampak positif terhadap pembentukan kebiasaan shalat anak usia dini. Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Copyright. Nur Hana Azizah. Iftidatul Nurul Maiyah. Ahmad Samawi. Yudithia Dian Putra DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini http://ejournal. id/index. php/dzurriyat Volume 3 Nomor 2, 2025 e-ISSN 2987-128X p-ISSN 3026-2909 Anak-anak menunjukkan perkembangan signifikan, seperti kemampuan menjadi imam shalat secara bergantian, membaca surah-surah pendek, menghafal hadits, asmaul husna, nama keluarga dan sahabat Nabi, serta 25 nabi dan rasul. Pembiasaan yang dilakukan secara rutin ini memperlihatkan bahwa pendekatan religius yang terintegrasi dalam kegiatan belajar mampu menanamkan nilai spiritual dan kedisiplinan sejak dini. Gambar 2 berikut ini. memperlihatkan jadwal shalat harian di TK IQRA` Malang. Gambar 2: Jadwal Shalat Harian TK IQRA` Integrasi kegiatan religius ke dalam tema pembelajaran menunjukkan bahwa sekolah menerapkan pendekatan holistik dalam pendidikan karakter. Nilainilai spiritual tidak disampaikan secara verbal semata, melainkan melalui kegiatan bermain, pengalaman nyata, dan pembiasaan langsung. Pendekatan ini memungkinkan anak belajar melalui aktivitas yang kontekstual dan bermakna sesuai tahap perkembangannya. Hal ini sejalan dengan pendapat Sepiani . yang menjelaskan bahwa pembiasaan shalat berperan penting dalam membentuk regulasi diri anak, termasuk aspek fokus perhatian, kontrol perilaku, motivasi, dan kontrol emosi. Hasil penelitian ini juga menguatkan temuan Wardana & Mustofa . bahwa kurikulum berbasis Al-QurAoan efektif menanamkan nilai religius apabila Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Copyright. Nur Hana Azizah. Iftidatul Nurul Maiyah. Ahmad Samawi. Yudithia Dian Putra DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini http://ejournal. id/index. php/dzurriyat Volume 3 Nomor 2, 2025 e-ISSN 2987-128X p-ISSN 3026-2909 dikombinasikan dengan kegiatan hands-on dan keterlibatan orang tua. Selain itu, temuan Pitri et al. mengenai pentingnya perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran keagamaan juga tercermin dalam praktik guru di TK IQRAAo yang merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembiasaan ibadah secara Dengan demikian, penelitian ini mempertegas bahwa pembiasaan shalat sebagai bagian dari kurikulum PAUD berbasis karakter menjadi strategi efektif dalam menumbuhkan kedisiplinan, tanggung jawab sosial, dan fondasi spiritual anak sejak usia dini. Hasil penelitian di TK IQRAAo Kota Malang memperkuat temuan-temuan sebelumnya bahwa pembiasaan kegiatan religius, khususnya shalat, merupakan strategi efektif dalam mengimplementasikan kurikulum PAUD berbasis karakter. Kegiatan ini tidak hanya membangun kedisiplinan dan tanggung jawab sosial anak, tetapi juga menjadi fondasi pembentukan regulasi diri, spiritualitas, dan akhlak mulia sejak usia dini. SIMPULAN Pelaksanaan kurikulum PAUD berbasis karakter religius di TK IQRAAo Kota Malang menunjukkan adanya model implementasi pembiasaan yang efektif melalui pola pembiasaan rutin, keteladanan guru, integrasi nilai ke dalam pembelajaran tematik, serta kolaborasi antara sekolah dan keluarga. Temuan ini menjadi kontribusi ilmiah utama penelitian karena memberikan gambaran bagaimana nilai-nilai religius dapat diinternalisasikan bukan hanya melalui kegiatan ibadah formal, tetapi juga melalui interaksi sehari-hari, permainan, dan kegiatan belajar yang kontekstual sesuai tahap perkembangan anak usia dini. Kegiatan seperti shalat dhuha, doa harian, dan hafalan surah pendek yang dilakukan secara konsisten terbukti membentuk regulasi diri, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kesadaran spiritual anak. Peran guru sebagai teladan dalam praktik ibadah dan perilaku keseharian memperkuat proses internalisasi nilai, sementara integrasi nilai religius dalam aktivitas bermain dan pembelajaran tematik menjadikan pendidikan karakter lebih menyenangkan dan bermakna bagi Keberhasilan implementasi kurikulum ini juga dipengaruhi oleh adanya hubungan yang kuat antara sekolah dan keluarga, terutama melalui komunikasi rutin dan pembiasaan yang dilanjutkan di rumah. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan agar lembaga PAUD mengembangkan model pembiasaan religius yang terstruktur dan berkelanjutan dengan tetap mempertimbangkan karakteristik perkembangan anak. Guru perlu terus menguatkan keteladanan serta menerapkan metode pembelajaran yang kreatif agar nilai religius dapat dihayati secara alami oleh anak. Sekolah juga perlu menjaga komunikasi dan kerja sama dengan orang tua sebagai bagian dari kesinambungan pendidikan karakter di lingkungan rumah. Untuk penelitian selanjutnya, kajian serupa dapat diperluas pada lebih banyak lembaga PAUD dengan konteks sosial yang berbeda untuk memperkaya pemahaman tentang implementasi kurikulum religius berbasis karakter secara lebih komprehensif dan mendalam. Lisensi: Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International License (CC BY SA 4. Copyright. Nur Hana Azizah. Iftidatul Nurul Maiyah. Ahmad Samawi. Yudithia Dian Putra DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini http://ejournal. id/index. php/dzurriyat Volume 3 Nomor 2, 2025 e-ISSN 2987-128X p-ISSN 3026-2909 UCAPAN TERIMAKASIH