22 HEME : Health and Medical Journal pISSN : 2685 Ae 2772 eISSN : 2685 Ae 404x Available Online at :https://jurnal. id/index. php/heme/issue/view/80 Karakteristik Pasien Gizi Buruk Pada Balita di Puskesmas Gilireng Kabupaten Wajo 2024 Sri Purnamasari1. AA A rmanto Makmum2*. Sri Wahyuni Gayatri3. Andi Husni Esa Darussalam4. ANesyana Nurmadilla5 Program Studi Pendidikan Dokter. Fakultas Kedokteran. Universitas Muslim Indonesia Departemen Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kedokteran. Universitas Muslim Indonesia Departemen Biokimia. Fakultas Kedokteran UMI. RSP Ibnu Sina YW-UMI Departemen Anak. Fakultas Kedokteran UMI. RSP Ibnu Sina YW-UMI Departemen Ilmu Gizi. Fakultas Kedokteran UMI. RSP Ibnu sina YW-UMI Email: armanto. makmun@umi. Abstrak Latar Belakang: Gizi buruk pada balita merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, dengan prevalensi yang tinggi. Data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menunjukkan prevalensi kekurangan gizi . sebesar 19,6%. Di Puskesmas Gilireng Kabupaten Wajo, masalah gizi buruk masih menjadi tantangan yang kompleks, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kondisi ekonomi, sanitasi, dan pengetahuan ibu. Penelitian ini dilakukan untuk memahami karakteristik pasien gizi buruk dan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap masalah ini. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik kasus gizi buruk pada balita, meliputi usia, jenis kelamin, riwayat kelahiran, pemberian ASI, kejadian infeksi, sanitasi lingkungan, pengetahuan ibu, kondisi ekonomi, dan riwayat imunisasi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 44 balita yang mengalami gizi buruk di Puskesmas Gilireng Kabupaten Wajo. Data dikumpulkan melalui rekam medis dan wawancara, kemudian dianalisis secara univariat untuk mengidentifikasi hubungan antara variabel independen dan dependen. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas balita dengan gizi buruk berusia 13-59 bulan . ,4%), dengan proporsi lebih tinggi pada jenis kelamin perempuan . ,45%). Sebanyak 68,2% balita lahir prematur, dan hanya 20,5% yang mendapatkan ASI eksklusif. Kejadian infeksi berulang juga menjadi masalah, dengan 45,5% balita sedang mengalami infeksi. Dari segi sanitasi, 54,5% balita menggunakan air sungai sebagai sumber utama. Selain itu, 75% ibu tidak memiliki pengetahuan gizi yang memadai, dan 63,6% balita tidak mendapatkan imunisasi lengkap. Kesimpulan: Penelitian ini mengindikasikan perlunya peningkatan edukasi gizi untuk ibu, peningkatan cakupan imunisasi, dan intervensi pada balita berisiko tinggi. Penguatan peran posyandu dalam pemantauan pertumbuhan juga sangat diperlukan untuk mengatasi masalah gizi buruk. Kata kunci -- Gizi buruk. Balita. Imunisasi. Abstract Background: Malnutrition in toddlers is a significant public health problem in Indonesia, with a high The 2018 Basic Health Research data shows a prevalence of malnutrition . At the Gilireng Community Health Center in Wajo Regency, the problem of malnutrition is still a complex challenge, influenced by various factors such as economic conditions, sanitation, and maternal knowledge. This study was conducted to understand the characteristics of malnourished patients and the factors that contribute to this problem. Objective: This study aims to identify the characteristics of malnutrition cases in toddlers. Email : heme@unbrah. Heme. Vol Vi No 1 January 2026 including age, gender, birth history, breastfeeding, incidence of infection, environmental sanitation, mother's knowledge, economic conditions, and immunization history. Method: This study used a descriptive method with a cross-sectional approach. The sample consisted of 44 toddlers who suffered from malnutrition at the Gilireng Community Health Center in Wajo Regency. Data was collected through medical records and interviews, then analyzed univariately to identify the relationship between the independent and dependent variables. Results: The results showed that the majority of malnourished toddlers were aged 13-59 months . 4%), with a higher proportion of females . 45%). A total of 68. 2% of toddlers were born prematurely, and only 20. 5% were exclusively breastfed. Recurrent infections were also a problem, with 45. 5% of toddlers experiencing infections. In terms of sanitation, 54. 5% of toddlers use river water as their main source. In addition, 75% of mothers do not have adequate nutritional knowledge, and 63. 6% of toddlers do not receive complete immunization. Conclusion: This study indicates the need to improve nutrition education for mothers, increase immunization coverage, and intervene in high-risk toddlers. Strengthening the role of integrated health posts . in growth monitoring is also essential to address the problem of malnutrition. Keywords -- Malnutrition. Toddlers. Immunization. Health and Medical Journal HEME. Vol Vi No 1 January 2026 PENDAHULUAN Masalah gizi buruk pada balita merupakan isu kesehatan masyarakat yang sangat penting, terutama di Indonesia, di mana prevalensinya tetap tinggi dan menjadi tantangan yang kompleks. Data dari World Health Organization (WHO) pada tahun 2015 menunjukkan bahwa prevalensi kurang gizi pada anak usia 0-5 tahun di dunia mencapai 14,3%, dengan 95,2 juta anak mengalami kekurusan. 1 Di Indonesia. Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 mencatat prevalensi kekurangan gizi . sebesar 19,6%. Di Kota Makassar, prevalensi status gizi balita underweight mencapai 13,7%, stunting 18,8%, dan wasting 4,9%. 2Ae4 Gizi buruk pada anak berdampak negatif pada pertumbuhan, perkembangan, dan meningkatkan kerentanan terhadap berbagai penyakit dan kematian dini. Oleh karena itu, intervensi yang tepat menjadi sangat mendesak untuk mencegah dampak lebih lanjut dari keadaan ini. 5Ae7 Puskesmas Gilireng di Kabupaten Wajo menjadi lokasi studi yang relevan untuk memahami karakteristik kasus gizi buruk. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa faktorfaktor seperti pendidikan orang tua, pola asuh, dan kondisi ekonomi berkontribusi signifikan terhadap status gizi anak. Masyarakat yang terlibat dalam pertanian sering kali lebih rentan terhadap masalah ini akibat penghasilan yang tidak tetap dan keterbatasan akses terhadap makanan 10Ae12 Selain itu, infeksi seperti diare dan pneumonia yang sering menyerang anakanak di bawah lima tahun juga berkontribusi terhadap malnutrisi. 13,14 Berbagai faktor-faktor mempengaruhi gizi buruk pada balita, namun masih terdapat gap dalam pemahaman karakteristik spesifik pasien gizi buruk di Puskesmas Gilireng. Misalnya, meskipun telah ada penelitian mengenai hubungan Email : heme@unbrah. antara status gizi anak dan pengetahuan ibu15, serta faktor lingkungan dan sanitasi16, mengintegrasikan semua faktor tersebut dalam konteks lokal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik kasus gizi buruk pada anak di Puskesmas Gilireng Kabupaten Wajo, dengan fokus pada berbagai aspek seperti usia, jenis kelamin, riwayat kelahiran, pemberian ASI lingkungan, pengetahuan ibu, ekonomi, dan riwayat imunisasi. Manfaat penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna bagi akademisi, masyarakat, dan peneliti. II. BAHAN DAN METODE Penelitian deskriptif dengan cross17,18 karakteristik kasus gizi buruk pada anak di Puskesmas Gilireng. Kabupaten Wajo, pada Populasi target terdiri dari anakanak yang mengalami gizi buruk di Puskesmas Gilireng dari Januari hingga Desember 2024, dengan sampel penelitian diambil dari anak yang menderita gizi buruk. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Gilireng. Sulawesi Selatan, pada bulan Juli 2024 hingga selesai. Kriteria inklusi mencakup anak berusia 6 hingga 59 bulan yang mengalami gizi buruk dan memiliki rekam medis yang relevan, sedangkan kriteria eksklusi mencakup pasien dengan Kriteria responde yang dianalisis meliputi: umur, jenis kelamin, kelahiran prematur, pemberian ASI eksklusif, kejadian infeksi berulang, sanitasi lingkungan, ekonomi, pengetahuan ibu, dan riwayat imunisasi, sedangkan variabel dependen Data kemudian dianalisis secara deskriptif. Perizinan etika diperoleh dari Komisi Etik Penelitian Universitas Muslim Indonesia Heme. Vol Vi No 1 January 2026 dengan nomor rekomendasi 639/A. 1/KEPUMI/XII/2024. KARAKTERISTIK JENIS KELAMIN HASIL DAN PEMBAHASAN TABEL 2. HASIL DISTRIBUSI KARAKTERISTIK PASIEN BERDASARKAN JENIS KELAMIN Jenis Kelamin Persentase (%) Laki-Laki 29,55 Perempuan 70,45 Total 100,00 KARAKTERISTIK USIA PASIEN BERDASARKAN TABEL 1. HASIL DISTRIBUSI KARAKTERISTIK PASIEN BERDASARKAN USIA Usia Persentase(%) 6-12 bulan 13-59 bulan Total 100,00 Tabel 1 menunjukkan distribusi karakteristik pasien gizi buruk pada balita di Puskesmas Gilireng Kabupaten Wajo berdasarkan usia. Dari total 44 pasien yang diteliti, mayoritas, yaitu 38 balita . ,4%), berada dalam kelompok usia 13-59 bulan, sementara hanya 6 balita . ,6%) yang termasuk dalam kelompok usia 6-12 bulan. Hasil tersebut sejalan dengan temuan yang menyatakan balita usia 6-59 bulan sebagai kelompok paling rentan terhadap gizi buruk. 19 Faktor seperti pendidikan, pendapatan keluarga, dan pola asuh berperan penting dalam menentukan status gizi anak. Penelitian sebelumnya menekankan bahwa intervensi mempertimbangkan kondisi lingkungan dan kebiasaan masyarakat. 20 Peran Posyandu dalam pemantauan status gizi, terutama pada 000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), sangat penting untuk deteksi dini dan intervensi tepat. 21 Pemenuhan gizi yang adekuat pada balita usia lebih tua juga dipengaruhi oleh pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat. Meskipun kelompok usia 6-12 bulan memiliki proporsi lebih rendah . ,6%), risiko gizi buruk pada fase kritis ini tidak boleh diabaikan. 22 Edukasi dan dukungan bagi orang tua dalam pemberian nutrisi yang baik sangat diperlukan untuk mencegah gizi PASIEN BERDASARKAN Tabel 2 menyajikan distribusi karakteristik pasien gizi buruk pada balita di Puskesmas Gilireng Kabupaten Wajo berdasarkan jenis Dari total 44 pasien yang diteliti, terdapat 31 balita perempuan, yang mencakup 70,45% dari keseluruhan, sementara 13 balita laki-laki hanya mencakup 29,55%. Temuan mengenai malnutrisi dan kesenjangan berdasarkan jenis kelamin di antara anak-anak di bawah usia lima tahun telah didukung oleh berbagai Anak-anak perempuan sering kali terkena dampak malnutrisi secara tidak proporsional, defisit pertumbuhan signifikan terkait dengan faktor demografi, termasuk jenis kelamin. 23 Kesenjangan gender ini juga terlihat di Puskesmas Gilireng, di mana pendidikan ibu dan status sosioekonomi malnutrisi yang lebih tinggi di antara jenis kelamin tertentu. 24 Pengetahuan dan sumber daya ibu dapat membantu mengurangi kesenjangan ini. Praktik budaya dan sikap masyarakat juga memengaruhi prevalensi malnutrisi, di mana norma-norma sosial memprioritaskan status gizi anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. KARAKTERISTIK PASIEN RIWAYAT KELAHIRAN BERDASARKAN TABEL 3. HASIL DISTRIBUSI KARAKTERISTIK PASIEN BERDASARKAN RIWAYAT KELAHIRAN Riwayat Kelahiran Persentase (%) Prematur Aterm Postterm Total Tabel karakteristik pasien gizi buruk pada balita di Health and Medical Journal HEME. Vol Vi No 1 January 2026 Puskesmas Gilireng Kabupaten Wajo berdasarkan riwayat kelahiran. Dari total 44 pasien yang diteliti, mayoritas, yaitu 30 balita . ,2%), memiliki riwayat kelahiran prematur . ahir sebelum usia kehamilan 36 Sebanyak 11 balita . ,0%) lahir aterm . sia kehamilan 37-41 mingg. , dan hanya 3 balita . ,8%) yang lahir postterm . sia kehamilan lebih dari 42 mingg. Analisis karakteristik pasien gizi buruk pada balita di Puskesmas Gilireng Kabupaten Wajo menunjukkan bahwa 68,2% kasus terjadi pada balita dengan riwayat kelahiran prematur, menandakan masalah serius. Penelitian lain menemukan bahwa 72% kasus malnutrisi akut parah terjadi pada bayi prematur, yang menghadapi tantangan nutrisi Studi mengaitkan berat badan lahir rendah (BBLR) dengan risiko gizi buruk yang lebih tinggi. Di Inggris, meskipun hanya 8% kelahiran prematur, balita prematur lebih rentan terhadap masalah kesehatan dan gizi buruk. Penelitian di Australia menunjukkan bahwa anak-anak yang lahir sangat prematur (<32 mingg. memiliki risiko lebih tinggi mengalami kesulitan perkembangan, yang dapat memengaruhi status gizi. KARAKTERISTIK PEMBERIAN ASI PASIEN BERDASARKAN TABEL 4. HASIL DISTRIBUSI KARAKTERISTIK PASIEN BERDASARKAN PEMBERIAN ASI Pemberian ASI Persentase (%) Asi Eksklusif Mix feeding susu formula Total 100,00 Tabel 4 menyajikan distribusi karakteristik pasien gizi buruk pada balita di Puskesmas Gilireng Kabupaten Wajo berdasarkan pemberian ASI. Dari total 44 pasien yang diteliti, hanya 9 balita . ,5%) yang menerima ASI eksklusif, sementara 10 balita . ,7%) mendapatkan pola pemberian makanan mix feeding, yang terdiri dari ASI dan susu formula. Sebagian besar, yaitu 25 balita . ,8%), mengonsumsi susu formula Email : heme@unbrah. sebagai sumber nutrisi utama mereka. Karakterisasi anak-anak yang mengalami kekurangan gizi, terutama gizi buruk, menunjukkan praktik pemberian makan yang pemberian ASI. Data dari Puskesmas Gilireng menunjukkan bahwa hanya 20,5% balita gizi buruk yang diberi ASI eksklusif, sementara 56,8% bergantung pada susu Temuan ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa bayi tanpa ASI eksklusif memiliki risiko stunting lebih tinggi. 29 Hubungan antara praktik pemberian ASI yang tidak memadai dan prevalensi stunting di Indonesia. 30 Hubungan langsung antara kegagalan pemberian ASI eksklusif dan stunting, dengan faktor-faktor seperti pengetahuan gizi ibu dan status sosioekonomi keluarga berkontribusi pada masalah ini. KARAKTERISTIK PASIEN KEJADIAN INFEKSI BERDASARKAN TABEL 5. HASIL DISTRIBUSI KARAKTERISTIK PASIEN BERDASARKAN KEJADIAN INFEKSI Kejadian Infeksi Persentase (%) Belum pernah sedang terinfeksi pernah terinfeksi Total 100,00 Tabel 5 menunjukkan distribusi karakteristik pasien gizi buruk pada balita di Puskesmas Gilireng Kabupaten Wajo berdasarkan kejadian infeksi. Dari total 44 pasien yang diteliti, sebanyak 20 balita . ,5%) sedang mengalami infeksi pada saat penelitian dilakukan, sementara 16 balita . ,4%) memiliki riwayat pernah terinfeksi. Hanya 8 balita . ,2%) yang tidak pernah mengalami Karakteristik gizi buruk pada balita sering kali terkait erat dengan kejadian infeksi, yang berdampak signifikan terhadap kesehatan dan pemulihan status gizi anak. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa malnutrisi dapat meningkatkan kerentanan memperburuk kondisi gizi anak. 23 Infeksi seperti sitomegalovirus dapat memperparah Heme. Vol Vi No 1 January 2026 malnutrisi, terutama ketika bersamaan dengan penyakit seperti diare yang merusak penyerapan nutrisi. 32 Balita malnutrisi memiliki risiko kematian lebih tinggi akibat infeksi saluran pernapasan dan diare. 33 Status meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa infeksi malaria dan anemia memperburuk masalah malnutrisi. 34 Analisis data dari Puskesmas Gilireng kesesuaian antara karakteristik pasien gizi buruk dan kejadian infeksi, mendukung temuan bahwa infeksi menyebabkan gangguan signifikan terhadap status gizi. KARAKTERISTIK PASIEN SANITASI LINGKUNGAN BERDASARKAN TABEL 6. HASIL DISTRIBUSI KARAKTERISTIK PASIEN BERDASARKAN SANITASI LINGKUNGAN Sanitasi Persentase (%) PDAM Air Sumur Air sungai Total 100,00 Tabel 6 menyajikan distribusi karakteristik pasien gizi buruk pada balita di Puskesmas Gilireng Kabupaten Wajo berdasarkan sanitasi lingkungan. Dari total 44 pasien yang diteliti, mayoritas, yaitu 24 balita . ,5%), menggunakan air sungai sebagai sumber air utama, diikuti oleh 15 balita . ,1%) yang mengandalkan air sumur. Hanya 5 balita . ,4%) yang mendapatkan akses ke air dari PDAM. Karakteristik pasien gizi buruk pada balita sangat dipengaruhi oleh sanitasi lingkungan. Data dari Puskesmas Gilireng Kabupaten Wajo menunjukkan bahwa mayoritas pasien menggunakan sumber air yang kurang optimal, seperti air sungai dan sumur, yang mencerminkan sanitasi yang tidak memadai. Penelitian di Mozambik menemukan bahwa kurangnya akses ke fasilitas sanitasi yang memadai meningkatkan risiko penyakit gastrointestinal, yang memperburuk status gizi anak. 35 Studi di Pakistan juga menunjukkan bahwa kondisi air dan sanitasi yang buruk berkontribusi signifikan terhadap risiko kesehatan anak. KARAKTERISTIK PASIEN KONDISI EKONOMI BERDASARKAN TABEL 7. HASIL DISTRIBUSI KARAKTERISTIK PASIEN BERDASARKAN KONDISI EKONOMI Kondisi Ekonomi Persentase (%) Kurang 40,91 Menengah 45,45 Tinggi 13,64 Total 100,00 Tabel karakteristik pasien gizi buruk pada balita di Puskesmas Gilireng Kabupaten Wajo berdasarkan kondisi ekonomi keluarga. Dari total 44 pasien yang diteliti, sebanyak 20 balita . ,45%) berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi menengah, diikuti oleh 18 balita . ,91%) yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi kurang. Hanya 6 balita . ,64%) yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi tinggi. Penelitian mengenai karakteristik pasien gizi buruk pada balita di Puskesmas Gilireng Kabupaten Wajo menunjukkan bahwa mayoritas pasien berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah, menyoroti pentingnya aspek ekonomi dalam status gizi Hubungan kuat antara pendapatan keluarga dan status gizi, di mana rendahnya pendapatan terkait dengan peningkatan risiko gizi buruk. 36 Pendidikan orang tua berpengaruh besar terhadap nutrisi anak. KARAKTERISTIK PASIEN PENGETAHUAN IBU BERDASARKAN TABEL 8. HASIL DISTRIBUSI KARAKTERISTIK PASIEN BERDASARKAN PENGETAHUAN IBU Pengetahuan Ibu Persentase (%) Tidak Mengetahui Mengetahui Total 100,00 Tabel 8 menyajikan distribusi karakteristik pasien gizi buruk pada balita di Puskesmas Gilireng Kabupaten Wajo berdasarkan pengetahuan ibu mengenai gizi. Dari total 44 Health and Medical Journal HEME. Vol Vi No 1 January 2026 pasien yang diteliti, sebanyak 33 ibu . ,0%) tidak mengetahui tentang gizi yang baik untuk anak, sementara hanya 11 ibu . ,0%) yang memiliki pengetahuan mengenai gizi. Berdasarkan penelitian di Puskesmas Gilireng Kabupaten Wajo, hubungan signifikan antara pengetahuan gizi ibu dan status gizi anak balita, di mana 75% dari 44 ibu menunjukkan pemahaman rendah tentang nutrisi. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang menekankan pentingnya edukasi gizi kepada ibu, terutama dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), untuk mencegah gizi buruk. 37 Terdapat 58,8% ibu memiliki pengetahuan gizi yang cukup. KARAKTERISTIK PASIEN RIWAYAT IMUNISASI BERDASARKAN TABEL 9. HASIL DISTRIBUSI KARAKTERISTIK PASIEN BERDASARKAN RIWAYAT IMUNISASI Riwayat Imunisasi Persentase (%) Tidak lengkap Lengkap Total 100,00 Tabel 9 menunjukkan distribusi karakteristik pasien gizi buruk pada balita di Puskesmas Gilireng Kabupaten Wajo berdasarkan riwayat imunisasi. Dari total 44 pasien yang diteliti, sebanyak 28 balita . ,6%) tidak mendapatkan imunisasi lengkap, sementara 16 balita . ,4%) telah menerima imunisasi Penelitian di Puskesmas Gilireng Kabupaten Wajo menunjukkan bahwa sebagian besar balita dengan status gizi buruk memiliki riwayat imunisasi yang tidak Imunisasi yang tidak lengkap meningkatkan risiko infeksi, yang dapat memperburuk status gizi anak. Malnutrisi akut parah pada anak di bawah lima tahun sangat dipengaruhi oleh riwayat imunisasi dan edukasi ibu tentang nutrisi. 39 Malnutrisi sosioekonomi dan pengasuhan, di mana rendahnya pendidikan ibu dan akses terbatas terhadap layanan kesehatan meningkatkan prevalensi gizi buruk. Email : heme@unbrah. IV. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas kasus gizi buruk pada balita terjadi pada kelompok usia 13-59 bulan . ,4%), dengan proporsi lebih tinggi pada jenis kelamin perempuan . ,45%). Sebagian besar balita dengan gizi buruk memiliki riwayat kelahiran prematur . ,2%) dan hanya 20,5% yang mendapatkan ASI eksklusif, sementara 56,8% mengonsumsi susu formula. Kejadian infeksi berulang juga menjadi masalah, di mana 45,5% balita sedang mengalami infeksi. Dari segi sanitasi, banyak yang menggunakan air sungai sebagai sumber utama . ,5%), dan sebagian besar berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi menengah . ,45%). Pengetahuan ibu tentang gizi juga rendah, dengan 75,0% tidak mengetahui tentang gizi, dan 63,6% balita tidak mendapatkan imunisasi lengkap. Saran yang diberikan mencakup peningkatan edukasi gizi untuk ibu, peningkatan cakupan imunisasi, intervensi pada balita dengan risiko tinggi, penguatan peran posyandu dalam pemantauan pertumbuhan. UCAPAN TERIMAKASIH