Analisis Perlakuan Akuntansi Penyusutan Aset Tetap Pada PT Jakarta Intiland Samarinda Square Menurut PSAK No. Selvi Putri Wulandari 1. Imam Nazarudin Latif 2. Nurfitriani 3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda Email : selviputriwulandari03@gmail. Keywords : ABSTRACT Fixed Assets. Measurement SELVI PUTRI WULANDARI. Faculty of Economics. After Recognition. PSAK No. University of August 17, 1945. Samarinda. Analysis of depreciation accounting treatment of fixed assets at PT Jakarta Intiland Samarinda Square, under the guidance of Dr. Nazaruddin Imam Latif as the first mentor and Mrs. Nurfitri as the second mentor. The purpose of this research is to determine and analyze the suitability of depreciation of fixed assets at PT Jakarta Intiland according to PSAK No. The theoretical basis used is a theoretical basis concerning financial accounting, fixed assets, deprections of fixed assets and PSAK No. The analytical tool used in this study is to compare PSAK No. 16 with PT Jakarta Intiland Samarinda Square regarding the depreciation of fixed assets using the straight line depreciation method and calculating the percentage comparison with the champion method. The results of the analysis of this study can be concluded that the hypothesis testing in the analysis og the depreciation of fixed assets at PT Jakarta Intiland Samarinda Square is rejected because the measurement after the recognition of fixed assets of company is applied based on the measuring instrument PSAK No. 16 regarding fixed assets in accordance with PSAK No. PENDAHULUAN Permasalahan dalam pengukuran penyusutan aset tetap sering terjadi didalam perusahaan karena untuk melakukan perhitungan aset tetap harus dicatat pada biaya perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan mulai disusutkan ketika aset tersebut siap untuk digunakan. Faizal Gunawan . dalam penelitian AuPerlakuan Akuntansi Aset Tetap Berdasarkan PSAK No. 16 Pada Glory Futsal SukowonoAy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perlakuan akuntansi aset tetap dan apakah sudah sesuai dengan PSAK No. Penelitian tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa dalam Pengukuran harga perolehan aset tetap, kebijakan pencatatan nilai buku, dan penyajian aset tetap pada laporan keuangan belum sesuai dengan PSAK No. Alasan yang melatar belakangi penulis ingin melakukan penelitian tentang Analisis Perlakuan Penyusutan Aset Tetap pada PT Jakarta Intiland adalah karena PT Jakarta Intiland Samarinda Square bergerak dibidang Real Estate dan Property dimana perusahaan tersebut memiliki cukup banyak aset tetap dan besarnya dana yang dibutuhkan untuk memperoleh aset tersebut, dapat mempengaruhi posisi kekayaan dalam laporan keuangan sebagai informasi untuk pihak-pihak yang berkepentingan. Oleh karena itu, peranan penyusutan aset tetap sangat penting untuk memerlukan perlakuan khusus dan perhitungan yang baik dan Fenomena yang terjadi pada PT Jakarta Intiland Samarinda Square menyangkut dalam hal perlakuan penyusutan atas aset tetap yang dimiliki perusahaan memerlukan perlakuan kembali atas penyusutan aset tetap berwujudnya, yaitu karena adanya kekeliruan pencatatan aset tetap yang pemakaiannya tidak pada awal tahun, namun penyusutannya dialokasikan selama satu tahun. Akuntansi Keuangan menurut Lili M. Sadeli . adalah AuAkuntansi keuangan berhubungan dengan pencatatan transaksi-transaksi dalam suatu perusahaan, dan penyusunan laporan keuangan secara periodic dari catatan tersebutAy. Aset Tetap menurut Hery . adalah AuAset jangka Panjang atau aset yang relative permanen, memiliki bentuk fisik, dimiliki dan digunakan oleh perusahaan serta tidak dimaksudkan untuk dijual sebagai bagian dari kegiatan operasi normal perusahaan. Besarnya beban penyusutan periodic secara tepat dari pemakaian suatu aset, ada tiga factor yang perlu dipertimbangkan. Menurut Hery . yaitu sebagai berikut: Nilai Perolehan Aset (Asset Cos. Yaitu nilai perolehan suatu aset mencakup seluruh pengeluaran yang terkait dengan perolehannya dan persiapannya sampai aset dapat digunakan. Nilai perolehan ini dikatakan obyektif karena sifatnya dapat diuji oleh siapapun dan menghasilkan nilai yang sama. Nilai Residu/Sisa (Residual or Salvage Valu. Yaitu merupakan estimasi nilai realisasi pada saat aset tidak terpakai lagi. Dengan kata lain, nilai sisa ini mencerminkan nilai estimasi dimana aset dapat dijual kembali ketika aset tetap tersebut dihentikan dari pemakaiannya . ada saat estimasi masa manfaat aset Umur Ekonomis (Economic Lif. Yaitu aset dapat dinyatakan baik berdasarkan factor estimasi waktu ataupun factor estimasi penggunaan. Factor waktu dapat berupa periode bulanan dan tahunan, sedangkan factor pemakaian sering berupa jumlah jam operasional atau jumlah unit produksi . yang dihasilkan dari aset tetap. Penyusutan Aset Tetap menurut Hery . adalah Alokasi secara periodic dan sistematis dari harga perolehan aset selama periode-periode berbeda yang memperoleh manfaat dari penggunaan aset yang bersangkutan. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 16 adalah mengatur tentang penyajian aset tetap. Pengukuran Setelah Pengakuan. Paragraf 29 yang menyatakan bahwa Entitas memilih model biaya atau model revaluasian sebagai kebijakannya dan menerapkan kebijakan tersebut terhadap seluruh aset tetap dalam kelas yang sama. Paragraf 50 menyatakan jumlah tersusutkan dari suatu aset tetap dialokasikan secara sistematis sepanjang umur manfaatnya. Paragraf 55 menyatakan bahwa penyusutan aset tetap dimulai ketika aset siap untuk digunakan yaitu pada lokasi dan kondisi yang diperlukan supaya aset siap digunakan sesuai dengan intensi manajemen. Paragraf 60 metode penyusutan yang digunakan mencerminkan pola pemakaian manfaat ekonomi masa depan aset yang diharapkan oleh entitas. METODE Data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah Gambaran umum perusahaan. Struktur Organisasi Perusahaan. Kebijakan perusahaan tentang aset tetap, dan Daftar Aset Tetap dan Penyusutannya tahun 2019. menghitung besarnya beban penyusutan. Ada beberapa metode yang berbeda untuk Menurut Hery . mengungkapkan metode-metode dalam penyusutan yaitu : Berdasarkan waktu: Metode Garis Lurus (Straight Line Metho. Metode ini menghubungkan alokasi biaya dengan berlalunya waktu, dan mengakui pembebanan periodic yang sama sepanjang umur aset. Asumsi yang mendasari metode garis lurus ini adalah bahwa aset yang bersangkutan akan memberikan manfaat yang sama untuk setiap periodenya sepanjang umur aset, dan pembebanannya tidak dipengaruhi oleh perubahan produktivitas maupun efisiensi aset. Estimasi umur ekonomis dibuat dalam periode bulanan atau tahunan. Selisih antara harga perolehan aset dengan nilai residunya dibagi dengan masa manfaat aset akan menghasilkan beban penyusutan periodic. Metode ini biasanya digunakan untuk menghitung beban penyusutan gedung dan alat-alat kantor. Metode Pembebanan yang menurun (Dipercepa. Metode jumlah angka Metode ini menghasilkan beban penyusutan yang menurun dalam setiap tahun Perhitungannya dilakukan dengan mengalihkan suatu seri pecahan kenilai perolehan aset yang dapat disusutkan. Besarnya nilai perolehan aset yang dapat disusutkan adalah selisih antara harga perolehan aset dengan estimasi nilai Metode Saldo Menurun Ganda Metode ini menghasilkan suatu beban penyusutan periodic yang menurun selama estimasi umur ekonomis aset. Jadi, metode ini pada hakekatnya sama dengan metode jumlah angka tahun di mana besarnya beban penyusutan akan menurun setiap tahunnya. Beban penyusutan periodic dihitung dengan cara mengalikan suatu tarif prosentase . kenilai buku aset yang kian menurun. Besarnya tarif penyusutan yang umum dipakai adalah dua kali tarif penyusutan garis lurus, sehingga dinamakan sebagai metode saldo menurun ganda. Berdasarkan penggunaan: Metode Jam Jasa Teori yang mendasari metode ini adalah bahwa pembelian suatu aset menunjukan pembelian sejumlah jam jasa langsung. Dalam menghitung besarnya beban penyusutan, metode ini membutuhkan estimasi umur berupa jumlah jam jasa yang diberikan oleh aset yang bersangkutan. Harga perolehan yang dapat disusutkan . arga perolehan dikurangi dengan estimasi nilai resid. dibagi dengan estimasi total jam jasa, menghasilkan besarnya tarif penyusutan untuk setiap jam pemakaian aset. Metode Unit Produksi Metode unit produksi didasarkan pada anggapan bahwa aset yang diperoleh diharapkan dapat memberikan jasa dalam bentuk hasil unit produksi tertentu. Metode ini memerlukan suatu estimasi mengenai total unit output yang dapat dihasilkan aset. Harga perolehan yang dapat disusutkan (Harga Perolehan dikurangi dengan estimasi nilai resid. dibagi dengan estimasi total output, menghasilkan besarnya tarif penyusutan aset untuk setiap unit produksinya. Rumus yang digunakan untuk menghitung penyusutan aset tetap yaitu sebagai berikut. Baridwan . Penyusutan Per tahun Penyusutan Per bulan Harga PerolehanOeNilai Sisa Umur Ekonomis Penyusutan Per Tahun 12 bulan Tarif penyusutan ditentukan sebagai berikut: Tabel1. : Penyusutan Aset Tetap Berdasarkan Peraturan UU Perpajakan Kelompok Harta Berwujud Tarif Penyusutan Masa Manfaat Garis Lurus Saldo Menurun 12,5% Bukan Bangunan Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Kelompok 4 4 Tahun 8 Tahun 16 Tahun 20 Tahun 12,5% 6,25% Bangunan Permanen Tidak Permanen 20 Tahun 10 Tahun Sumber: Djoko Muljono, dan Baruni Wicaksono . Penelitian ini menggunakan metode garis lurus, metode ini menghubungkan alokasi biaya dengan berlalunya waktu, dan mengakui pembebanan periodic yang sama sepanjang umur manfaat. Kemudian, untuk keseluruhan menggunakan alat analisis perbandingan yaitu membandingkan pernyataan PSAK No. 16 dengan PT Jakarta Intiland. Alat ukur yang digunakan untuk hasil perbandingan antara PSAK No. 16 dan PT Jakarta Intiland adalah menggunakan rumus Dean J. Champion dengan perhitungan sebagai Oc Jumlah Jawaban AuSesuaiAy Persentase = x 100% Oc Jumlah Poin Pembanding Hasil jawaban yang diperoleh dengan cara perhitungan diatas berguna untuk pengambilan simpulan, seperti yang telah dikemukakan dalam buku Basic Statistic For SocialResearch. Tabel 2. : Klasifikasi Kriteria Penyajian Laporan Keuangan (Ukuranny. Persentase Kriteria 0% - 25% Dikategorikan tidak sesuai 26% - 50% Dikategorikan kurang sesuai 51% - 75% Dikategorikan cukup sesuai 76% - 100% Dikategorikan sesuai Sumber: Dean J. Champion, 1990 HASIL DAN PEMBAHASAN Pengukuran Setelah Pengakuan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 16 tentang aset tetap: Paragraf 29 pada PSAK No. 16 menyatakan bahwa perusahaan dapat memilih model biaya sebagai kebijakan akuntansinya dan menerapkan kebijakan akuntansi tersebut terhadap seluruh aset tetap perusahaan dalam kelas yang sama. Sesuai dengan kebijakan Perusahaan yang menerapkan model biaya dengan metode garis lurus dan menyesuaikan setiap aset tetap pada jenis kelompok yang sama. Paragraf 50 pada PSAK No. 16 menyatakan jumlah tersusutkan dari suatu aset dialokasikan secara sistematis sepanjang umur manfaatnya yaitu Jumlah tersusutkan dari suatu aset apakah dialokasikan secara terstruktur ataupun Terarah selama masa manfaatnya. Sesuai dengan kebijakan Perusahaan. Perusahaan menyusutkan jumlah dari suatu aset tetap secara sistematis selama umur Paragraf 55 pada PSAK No. 16 Menyatakan bahwa penyusutan aset tetap dimulai ketika aset siap untuk digunakan, yaitu ketika aset berada pada lokasi dan kondisi yang diperlukan supaya aset siap digunakan sesuai dengan intensi manajemen. Kebijakan Perusahaan Kurang Sesuai dengan PSAK No. 16 yaitu karena Perusahaan mencatat aset tetap pada saat aset tetap siap untuk digunakan/dioperasikan dan menyusutkannya pada tahun perolehan aset tersebut. Paragraf 60 pada PSAK No. 16 Menyatakan metode penyusutan yang digunakan mencerminkan pola pemakaian manfaat ekonomi masa depan aset yang diharapkan oleh - Metode Garis Lurus Menghasilkan pembebanan tetap atau sama selama umur manfaat aset jika nilai residu tidak berubah - Metode Saldo Menurun Menghasilkan pembebanan berdasarkan pada penggunaan atau output yang diperkirakan dari aset. Sesuai dengan Perusahaan menerapkan metode penyusutan Garis Lurus Berikut pengujian J. Champion adalah sebagai berikut: Persentase: Nilai Persentase (Rumus Champion. Persentase = yu ycycycoycoycaEa ycycaycycaycaycaycu "ycyceycycycaycn" yu ycNycuycycayco ycEyceycoycaycaycuyccycnycuyci Persentase = 4 y 100% y 100% = 300 = 75% (Cukup Sesua. Hasil analisis diatas, dapat disimpulkan bahwa pengujian hipotesis pada Analisis Perlakuan Akuntansi Penyusutan Aset Tetap pada PT Jakarta Intiland di tolak karena Pengukuran setelah pengakuan aset tetap perusahaan yang diterapkan berdasarkan dengan alat ukur pernyataan standard akuntansi keuangan (PSAK) Nomor 16 tentang aset tetap sudah sesuai dengan PSAK No. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan analisis dan pembahasan yang penulis lakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Perhitungan beban penyusutan aset tetap pada PT Jakarta Intiland Samarinda Square disusutkan sebesar satu tahun penuh pada awal perolehan, pihak perusahaan tidak memperhitungkan penyusutan pada saat aset tetap siap dioperasikan atau sesuai tanggal perolehan aset tetap sehingga berpengaruh terhadap laporan keuangan. Saran Saran bagi pihak perusahaan dalam perlakuan akuntansi penyusutan aset tetap maka penulis mengajukan saran sebagai berikut: Perlakuan akuntansi penyusutan aset tetap sebaiknya pengukuran penyusutannya benarbenar dilaksanakan sesuai dengan prinsip akuntansi aset tetap yang berlaku umum yaitu. PSAK No. 16 tentang aset tetap. Perhitungan aset tetap PT Jakarta Intiland Samarinda Square hendaknya memperhitungkan penyusutan sesuai tanggal perolehan aset tetap. REFERENCES