SIBA WAIH DALAM LINTASAN LINGUISTIK ARAB Oleh: Drs. Fuady Aziz I Kalau orang membicarakan linguistik, biasanya tokoh utama yang paling banyak dikenal dan disebutkan dalam pembicaraan adalah MonginFerdinand De Saussure. Sepanjang masa, nama Saussure tidak akan terhapus dari dunia linguistik. Dalam dunia linguistik umum, dialah orangnya yang dianggap sebagai Bapak Linguistik Modem dan Pelopor Strukturalisme. Sibawaih, walaupun bukan orang yang pertama kalinya menciptakan ilmu bahasa, namun dalam teori-teori kebahasaan dia telah menunjukkan kemarnpuannya sebagai seorang linguis di antaranya dalam pem buatan deskripsi Fonetik yang maju dan sistimatis. Karya Sibawaih yang terkenal dengan nama "al-Kitab" yang mencuat pada akhir abad ke 8, membuktikan kehidupan dan perkembangan linguistik Arab, terutama di bidang ilmu Nahwu. Dari penelaahannya tentang bahasa Arab, dia telah menghasilkan sejumlah asumsi, hipotesis dan teori tentang bahasa Arab. Sehingga walaupun karya pemikiran Sibawaih itu lahir pada abad Renaissance, tetapi dalam perkembangan sejarah linguistik Arab, tetap merupakan tumpuan bagi para ahli bahasa Arab. Lebih dari lima puluh sarjana periode yang silam dari kalangan Arab sendiri, telah melakukan kegiatan ilmiyah mereka dengan objek karya besar tersebut; dengan jalan memberikan syarah, interpretasi syawahidnya, penjelasan berbagai problematikanya, pembuatan isi ringkasannya dan sebagainya. Kegiatan ilmiyah para ahli tersebut, boleh dikatakan tidak pemah meninggalkan teoriteori yang telah dihasilkan Sibawaih. Asumsi, hipotesis yang mereka peroleh diuji, diuji ulang, diverivikasi; kadang-kadang ditolak, diperbaharui, diperhalus, dikembangkan atau tidak diberlakukan sesuai dengan data dan fakta bahasa. Karya Sibawaih, tidak memperoleh perhatian dari kalangan Arab; akan tetapi juga perhatian dari kalangan Arab; akan tetapi juga perhatian yang sangat besar datang dari kalangan para sarjana Barat. Orientalis Jerman pernah menterjemahkannya ke dalam bahasa Jerman. Bahkan penerbitan di Jerman ini, merupakan terjemah ilmiyah yang sangat teliti; dikarenakan metode Filologi sudah mulai diterapkan terhadap manuskrip-manuskrip yang terdapat diberbagai perpustakaan. 47 Dalam lintasan sejarah linguistik, di samping para linguis sering memunculkan tokoh-tokoh linguistik utamanya pada abad ke 19 seperti Grimm, Whitney, Meyer-Lubke, Maz Mulier, Brugmann dan Sweet, ditambah lagi diterimanya Ferdinand De Saussure dari Perancis sebagai Bapak linguistik modern; maka sewajarnya kita lebih mengenal siapa Sibawaih, apa karyanya dan: mengenal pula istilah-istilah yang diciptakannya. II Sibawaih ~dalah laqab dari nama diri 'Amr bin Usman bin Qanbar. 1 Dia dilahirkan di Baida salah satu kota terbesar di Istahar Persia dan ada yang mengatakan bahwa tempat kelahirannya adalah di Ahwaz. Setelah dia pindah ke kota Basrah, di sinilah dia dibesarkan dan menuntut ilmu pengetahuan. Perpindahan ke kota-kota yang berpenduduk muslim pada masa itu; merupakan kebiasaan umum dan berjalan dengan lancar. Tempat perpindahan ke kota-kota lain yang terdekat adalah Basrah, Kufah dan Bagdad di Irak. Ketika usianya mencapai 40 tahun, dia kembali ke Ahwaz kota kelahirannya di Persi dan di kota inilah dia wafat. Mengenai tahun wafatnya para ahli sejarah menuliskanberbagai versi, tetapi ada pendapat yang paling dapat dipercaya bahwa Sibawaih wafat pada tahun 180. 2 Tentang kronologi kelahiran dan wa(atnya, demikian juga mengenai tempat kelahiran Sibawaih yang sebenarnya; kebanyakan para ahli tidak dapat memastikan. 3 Oleh karena itu tidak aneh, kalau para penulis biografi Sibawaih tidak mencantumkan tahun berapa sebenarnya dia lahir. Mengenai tokoh Sibawaih ini, tidak saja para ahli mempersoalkan kronologis kelahiran dan wafatnya yang berbeda-beda itu, akan tetapi juga semenjak abad pertengahan sampai pacta abad yang sesudahnya, mereka memperbincangkan pula tentang arti dari nama diri Sibawaih itu sendiri, dengan berbagai versi; an tara lain sebagai berikut: 1 . Sibawaih adalah Arabisasi dari kata "Seboe" yang berarti ape! kecil (little apple). 4 2. Dr. 'Abd al-Mahdi, dalam suatu seminar di Universitas Pahlevi mengatakan bahwa Sibawaih adalah laqab (pen-name) yang mempunyai makna tufah Allah yang mengandung makna seba~ai lakdaki tampan, cerdas dan yang mempunyai pipi sebagus buah ape!. 1Yaqut al-Hamawi. Mu]am al-Udab;;;, p. 127-214, lihat 'Abd as-Salam Muhammad Haniil, al-Kitab p. 3. 2' Abd as-Salam Muhammad Hirun, al-Kiulb, p. 3-18. 3First Encyclopaedia of Islam, ed. M.TH. Houtsma, et al. Vol. Vll (Leiden: E.J. Brill, 1987). pp. 397-398. 41bid, p. 397. 5Bakallli, Muhammad Hasan, Arabic. Linguistic, (London, Mansell Publishing Limited) 1982, p. 673. 48 3. Sibawaih adalah seiupa dengan arti kata "al-'abi(' artinya baru harum parfum, juga sama dengan arti kata "zahrah at-tuf3h" yang bermakna keindahan buah apel. 6 Dari segi bacaan,lbnu Khallikan n'engatakan bahwa orang asing mengucapkannya dengan "Sibuyah". Mc.rcka tidak suka meletakkan kata "waih" di akhir kata, karena ia berfungsi sebagai nudbah. 6 Begitu tenarnya nama Sibawaih, terutama karena keahliannya dalam teori-teori kebahasaan tradisional bahasa Arab seperti yang tercermin dalam karyanya "al-Kitab", sehingga dalam sejarah linguistik dia tidak pemah absen dari pembicaraail, walaupun dalam pembicaraan linguistik umum hanya memperoleh porsi yang amat sedikit. Meskipun dalam linguistik urrium pembicaraan Sibawaih kurang memperoleh porsi, namun dalam dunia linguistik Arab, dialah orangnya y~g banyak dibicarakan karena kealimannya di bidang Nahwu setelah al-Khalil. Karyanya yang sangat besar, sehingga para budayawan Arab memberikannya julukan dengan "Qur'an-nahw", sesuai dengan pengakuan seorang linguis Arab Abu a-Tayyib Abd al-Wahid bin 'Ali dalam bukunya "Maratib annahwiyyin? Sibawaih sebagai seorang tokoh besar, telah mampu menurunkan generasi penerus yang menjadi ahli di bidang Na~wu. Atas jasanya pula terciptalah Sibawai-Sibawaih baru dengan predikat Sibawaih. as-Sayuti dalam bukunya "Bugyah al-Wii"' menyebutkan tiga orang tokoh berpredikat Sibawaih sebagai berikut: 1. Abu Bakar Muhammad bin Musa bin 'Abd al-'Aziz al-Kindi (284-358 H) berkebangsaan Mesir, memperoleh predikat Sibawaih; karena kearifan dan keahliannya dalam ilmu Nahwu, di samping Semantik, ilmu hukum, ilmu Hadis dll. 2. Abu Nasr Muhammad bin 'Abd al-'A:riz bin Muhammad at-Taimi alAsbihani, hidup sekitar abad IV H. Dia adalah seorang tokoh tumpuhan berbagai disiplin ilmu, disamping keahliannya di bidang linguistik dan ilmu Nahwu. 3. Ibrahim asy-Syabastari an-Naqsyabandi, tokoh Nahwu abad ke X H. Dia memperoleh julukan Sibawaih ke II karena karyanya yang terkenal bemarna "Nihayah al-Bahjah". 8 Sebagai seorang tokoh yang tangguh, Sibawaih pernah terlibat dalam suatu perdebatan sengit yang terjadi pacta tahun 170 H masa Khilafah ar6sibawaih, al·Kitab, Tahqiq wa syarh 'Abd as-Salam Muhammad Hiinin (Kairo, Dar alQalam), p: 5 7 'Abd as-Salam Muhammad Hani'n, al-Kitah, p. 23. Diceriterakan pula, bahwa 'Abdullah Muhamad bin 'Isa salah seorang ahli Nahwu Andalus, membaca K.itab Sibawaih, tamat setiap lima belas hari sekali, seperti menamatkan bacaan al-Quran. 8Ibid, hal. pp. 6-7. 49 'I RasYld dan kementerian Yahya bin Khalid al-Barmaki. Pada waktu itu Sibawaih minta kepada Yahya al-~aki untuk dipertemukan dengan tokoh utarna aliran Kufi yaitu al-Kasa'i, tentang masalah yang terkenal dengan AzZunbiiriyyah (lebah).9 Yahya al-Barmaki menasihatkan agar Sibawaih tidak melakukan perdebatan itu, akan tetapi Sibawaih tetap in gin melakukannya. · Akhirnya dia dipertemukan terlebih dahulu dengan anak buah al-Kasa'i di antaranya: al-Ahmar, Hisyam dan al-Fan:a'. Perdebatan berlangsung dengan mereka itu seolah-olah mereka ingin mengebarkan duri sebelum dipertemuk!ln dengan al-Kasa'i. Selanjutnya Sibawaih berhadapan juga dengan tokoh utama Kufi tersebut, perdebatanpun berlangsung dengan topik Azzunburiyyah: "Alcu kira bahwa sengatan kalajengking itu lebih keras dari pada sengatan lebah", kalau begitu "huwa hiya" atau "huwa iyyii'lia". 10 Disebutkan bahwa Sibawaih menundukkan sejumlah opini orang-orang Kufi yang dibuat-buat; yang dinilai sebagai penggalan demonstrasi ilmiyah yang tidak mempunyai nilai kebenaran ataupun ada aspek kebenaran itu, akan tetapi aspek kebenaran Kufi itu bertentangan dengan aspek kebenaran aliran Basrah. Sebagai bukti akan kecemerlangan berfikir Sibawaih, maka Yahya alBarmaki dalam peristiwa itu memberikan hadiyah sebanyak sepuluh ribu dirham.11 Metode berfikir rasional Sibawaih nampaknya berpengaruh pula terhadap mereka yang mempunyai disiplin ilmu yang lain. Salah satu contoh adalah apa yang dipaparkan oleh Abu Ja'far at-Taban yang mengutip kata-kata alJarmi; seorang ahli Fiqih yang mengaku bahwa dia memberikan fatwa Fiqih kepada orang lain berdasarkan Kitab Sibawaih. 12 III Sibawaih dan Karyanya. Bidang linguistik akan menganalisis setiap unit bahasa secara cermat, tepat dan terperinci. Maka dibidangkanlah telaah linguistik dalam beberapa sub bidang telaah dengan pelbagai penyebutan. Kita dapat membedakannya dalam sistem sebagai berikut: 1. Fonetik (a) Fonetik Akustik (b) Fonetik Fisiologi 9at-Qifti, Inbah ar-Ruwaii 'ali" anbih an:Nuh'ib (Kairo, Dar al-Fikr, 1986, p. 348. 10Yaqut -- al-Hamawi, - Mu'jam al-Udaba', - (Beirut, Dar Ihya'- at-Turas . al-'Arabi), 1986, p. 199, 11 'Stbawaih, a1-Kitab, p. 17 12Ibid p.6 50 J_ 2. Mikrolinguistik a. Fonetik Fisiologi b. Fonemik c. Morfofonemik d. Morfologi e. Fraseologi f. Sintaksis g. Leksikologi Bidang (1) -- (3) dikatakan pula Bidang Makrolinguistik. Sedangkan Bidang (2a) dan {2b) dikatakan pula Bidang Fonorogi. Di samping pembidangan tersebut, ada lagi cara pembidangan yang lain yang mengacu kepada analisis keseluruhan bahasa dan ingin menekankan bahwa bahasa tidak dapat dibahas secara penggalan dan terlepas. Bidang~bidang yang dimaksud adillah: 1. Makrosintaksis, 2. Sintaksis Khusus, 3. Morfosintaksis, 4. Mikrosintaksis.l3 Karya Sibawaih yang terkenal dengan nama "al-Kitab" atau "Kitab Sibawaih" di samping membahas Sintaksis, juga di dalamnya dibahas bidang fonetik. Sebagian ahli linguistik menempatkan Bidang Ponetik di luar linguistik. · Sebelum memasuki isi al~Kitab, maka sebaiknya kita mengenal terlebih dahulu apa-apa yang berhubungan dengan aspek historiografi Kitab Sibawaih itu sendiri. Menurut catatan sejarah, bahwa Sibawaih tidak memberi nama tertentu bagi karyanya; sementara orang sejak dahulu sampai sekarang memberinya nama dengan "al-Kitab" atau "Kitab Sibawaih". Berbeda dengan para ahli, baik mereka yang sezaman dengannya maupun generasi yang sebelumnya, mereka memberikan nama-nama tertentu bagi karya mereka seperti: al-Jami' dan al-Ikmal karya 'Isa bin 'Umar dan al-'Ain bagi karya al-Khalil. Al-Kitab sebagai karya agung Sibawaih ini, di dalamnya tidak ada mukaddimah maupun penutup; akan tetapi isinya menggambarkan ketinggian tingkat kemampuan berfikimya yang rasional dan sistematis. Barangkali ini pula para budayawan dahulu, memberinyajulukan sebagai "Qur'an an-Nahwi". 14 ~. Timbulnya Nahwu 'Arabi se"ara historiografis · dianggap sebagai. permulaan timbulnya linguistik Arab yang ditandai dengan munculnya pemikiran Abu al-Aswad ad-Du'ali. Bahkan ada yang berpendapat bahwa permulaan timbulnya linguistik Arab adalah sejak 'Ali bin Abi Talib RA. Buku-buku sejarab Nahwu banyak memuat kisah Abu al-Aswad dengan seorang putrinya atau kisah dengan 'Ali bin Abi Talib Karramallah Wajhaq. Ibmi an-Nadim menyebutkan dalam tulisannya tentang slstematika sebahagian 13 Jos. Daniel Parera, Studi Linguistik Umum dan Historis Bandingan, (Jakarta, Erlangga), 1986, pp; 38-39. 14sfbawaih, al,Kitab, p. 23. 51 biilrbab Nahwu Abilaswad itu. Referensi yang dipergunakari adalah dua buah · Kitab karya "Isa bin 'Umar (w. th. 149 H.) "aHkma:l" dan "al.Jmni'" yang · kedua-duanya lenyap pada a'bad ke II H.15 · Sibawaih sendiri pernah menerangkan bahwa karya 'lsa bin Umaradalah sebanyak 70 buah buku yang semuanya telah sirna, kecuaiHlua buah yaitu al-Ikmal dan ai~Jami'. Buku yang terakhir yaitu al-Jami' adalah salah satu buku yang paling banyak ditekuni oleh Sibawaih. Tentang k.elangkaan buku~buku tersebut, pemah al-Khalil berucap melalui bait puisinya sebagai . . . · berikut: 16 \~ ~- -'! i / ·.. / . . ':, / { . i\ . . ,.,. , . - ~I.Y.~u;.b. ~·:·~~~,~~ .· .J ·. ~ · . 9 . · • \ . HI • .:. · ·.ti 1 \ • .@'I / . · .I . •- ~-A.Ju"4-·\_,.~~~ ·:· L~~.,u~~lJ\;. "Selurub Nahwu tefuh sima Kecuali dua yang ditinggalkan Isa bin Umar Ikmai dari Jami' 'Bagi umat ked~ya bak matahari dan rerribulan." ) . Al-Kitab disusun oleh Sibawaih setelah wafatnyaal-Khalil (th. 160 H.). Manuskrip-nianuskrip al-Kitah menunjukkan bahwa Sibawaih sangat menghormati al-Khalil sebagai gurunya. Di dalam naskahnya itu, hila Sibawaih menyebutkan nama al-Khalil, keluarlah ungkapan doa "Rahimahullah". Sewaktu dia menuliskan naskahnya, senantiasa dia .mengajak teman seperguruannya di antaranya Ali bin Nasr al-Hadm1; dengan ajakan untuk menghidupkan ilmu al-Khalll.Dengan demikian tidak diragukan lagi bahwa Sibawaih sungguh-sungguhbanyak memanfaatkan ilmu al-Khalil ini semaksimal mungkin.17 Oleh karena itu, tidak aneh kalau karya Sibawaih ini, merupakan karya yang amat bermutu yang timbul pada abad renaissance, walaupun di sana-sini, masih memerlukan pemahaman-pemahaman istilah-istilah yang dipergunakannya waktu itu. Sebagai contoh adalah judul mengenai: ~.·.' ·. ~~l.,t~u~'~ · ~t\ ~W\~~\u ~ ~.. ..~~ .. ... / •~-;~L.~ . ~\,...L~~Uu. ~ ~ <.,.; u-- , Makna judul itu,. menurut pandangan Nahwu sekarang adalah sangat sederhana; yaitu bab yang termasuk "At-tarr.rzu' ". Namun demikian, sesuai dengan pengakuan 'Abd as-Salam Muhamad Harun; seorang editor "al-Kitab" abad ini nienyatakan bahwa al-Kitab adalah 15Bakalla, Arabic Linguistics, p. 731. l6al-Qifti, Jnbih ar-Ruwah, pp. 346-347. 17Sfuawaih, al-Kitab, pp. Z3-24. 52 '.::. '. ·"· merupakan konstit.usi awal bagi Nahwu masa lalu dan masa kini. 18 Michael Carter dari Universitas Sidney memberikan komentar bahwa al-Kitab karya Sibawaih, dinilai sebagai buku yang telah mempunyai metode rasional dan deskriptif tentang sintaksis dan fonologi.19 Sementara itu Abu Hatim mengatakan bahwa karya tulis Sibawaih sesungguhnya: lebih tajam daripada lisannya.2° Al-Mubarrid berkomentar, bahwa orang yang membaca Kitab Sibawaih sama dengan orang yang mengarungi lautan luas. Komentar ini rupanya dima:ksudkan sebagai penghargaan dan rasa bormatnya kepada Sibawaih dan penilaian terhadap isi yang terkandurig dalam karya tersebut. Dalam pada itu al-Madini mengatakan bahwa jika ada orang yang ingin berkarya menyusun suatu Kitab yang besar di bidang Nahwu setelah periode Kitab Sibawaih, ma:ka henda:klah ia JTierasa malu.21 Kegiatan-kegiatan iimiah sekitar masalah Nahwu semasa periode Sibawaih dan 'yang sesudahnya rupanya sema:kin hidup. Orang-orang Kufi yang banya:k menentang orang"orang Basrah yang diwa:kili oleh Sibawaih, ternyata diam-diam mempelajari Al-Kitab seperti yang dilakukan oleh a:l-Kasa'i, Dia membaca:kan karya Sibawaih kepada Imam al-Ahfasy, justru setela:h wafatnya Sibawaih. Diriwayatkan pula bahwa ketika al-Farra wafat, maka di bawah bantalnya didapati Kitab Sibawaih, pada:hal dia adalah sa:lah seorang penentang aliran Sibawaih seperti dalam masalah i'rab dan tentang penamaan huruf. Tampa:knya kedua tokoh penentang aliran Sibawaih itu, banya:k mengambil manfaat dari al-Kitab dalam kegiatan ilmia:h tersebut.22 Pengaruh Sibawaih, tida:k saja terbatas sampai lra:k; a:kan tetapi juga menyebar sampai Andalus dan Marokko. Di antara tokoh yang terkenal ada:lah Muhamad bin Musa bin Hasyim al-Qurtub1 (w.th. 307 H.), Yiisuf bin Sulaiman Asy-Syantamarl (w.th. 476 H), sebagai pensyarah al-Kitab dan 'Abdullah bin Siraj al-QurtubT (w.th . .489 H) yang pernah menekuni al-Kitab selama sepuiuh ta:hun. 23 Metodologi Nahwu Sibawaih dari abad ke abad senantiasa menjadi topik pembicaraan linguistik Arab. Setiap abad yang dilaluinya melahirkan tokoh-tokoh andal, seperti: Aba Usman al-Mazlni (abad III H.), Aba 'Ali a:l-Fansi dan Ibnu Jinnl (abad IV H.), Az-Zama:khsyail (abad VI H.), Ibnu Hisyam al-Ansar1 (w.th. 761 H:) dan Ibnu Mu'u dengan alfiya:hnya (w.th. 18lbid, p. 448. 19Bakalla, Arabic Linguistics, pp. 671-673. 20al-Qifti, Inbah a-Ruwah, p. 349. 21 Al-Qifti, Inbah ar-Ruwah, p. 348. 22sibawaih, al-Kitab, 34. 23 Ibid, pp. 34-35. 53 627) di samping Ibnu .Malik (w.th. 672 H.).24 Menurut 'Abd as-Salam Muhamad Harun, bahwa jumlah pemuka Arab dahulu yang telah ambil bagian secara aktif dalam melestarikan karya Sibawaih ini adalah lebih dari 50 orang. 25 Cara pelestarian itu bermacam-macam, di antaranya secara deskriptif, penafsiran syawahid, penjelasan-penjelasan berbagai problematikanya, komentar-komentar tentang yang dianggap samar, abstraksi dan atau dengan cara penolakan. Ratusan judul yang berhubungan dengan karya Sibawaih ini mencuat ke permukaan sebagai karya-karya ilmiah yang bermutu. Di antara pensyarah kitab · Sibawaih kontemporer adalah Abu Sa'id as-Sairafi yang banyak diirikan oleh kawan semasanya karena kecemerlangan uraiannya. 26 Karya Abu Bakar Muhamad bin ai-Hasan az-Zubaidi pensyarah permasalahan Kitab Sibawaih dan strukturnya yang berjudul "al-Istidrak 'ala Sibawaih Fi Kitabah al-'Abniyah wa az-Ziyadat" pernah dicetak di Roma atas fasilitas seorang orientalis bernama Ignazio Gwidi, pacta tahun 1890. 27 Sebagian buku-buku tersebut, kini referensinya terdapat dan tersimpan di Perpusta.lcaan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kitab Sibawaih yang kini menjadi bahan koleksi perpustakaan lAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta adalah Kitab Sibawaih yang telah diedit oleh 'Abd as-Salam Muhamad Harun yang dalam penulisan makalah ini merupakan bahan acuan yang paling pokok. Kitab Sibawaih tersebar keberbagai negara di dunia, rupa-mpanya adalah berkat berperannya metode Filologi. Naskah-naskah manuskrip temyata banyak tersimpan di berbagai negara yang oleh Abd As-Salam diidentifikasikan sebagai berikut: 1. Naskah (A) manuskrip yang berada di Paris. 2. Naskah (B) manuskrip yang tersimpan di Musium Asia bagian ilmu-ilmu Akademi Imperium di Santpettersburg. 3. Naskah (C) idem, bedanya dia tersimpan di Perpustakaan Umum Imperium. 4. Naskah (D) tersimpan di Perpustakaan Wina. 5. Naskah (E), (F) dan (G) tersimpan di Perpustakaan Khadiwiyah Kairo yang sekarang menjadi Dar al-Kutub al-Misriyah. Termasuk Syarah al-Kitab karya As-Sairafi. 6. Naskah (M) dan (L) merupakan manuskrip syarah Kitab Sibawaih tersimpan di Iskorial. Cetakan pertama untuk al-Kitab adalah di Paris, atas jasa seorang Perancis Hartuig Derenbourg; Orientalis bahasa Arab fusha pada jurusan 24Bakalla, p. 729. 25sibawaih, pp. 36-41. 26Ibid. 27Ibid. 54 bahasa timur tengah Paris, tahun 1881. Cetakan pertama ini berjudul: Kitao SibawaTh al-masyhiii' F1 an-nahwi Wasmuhu al-Kitab". Terbitan ke II adalah cetakan Kalkutta pacta tahun 1887, dengan judul: "Haza al-Kitab Ismuhu al-Kitab". Cetakan ke III merupakan tarjamah lengkap ke dalam bahasa Jerman oleh Dr. D. Gustave Jahn dan selesai pacta tahun 1900. Cetakan ke IV terbit di Bulaq antara tahun 1898-1900, dilengkapi dengan apendiks, oleh Asy-Syantamari. Cetakan ini berdasarkan naskah Paris. Cetakan ke V terbit di Irak, sedangkan yang ke VI merupakan penerbitan berdasarkan manuskrip Dar al-Kutub, cetakan tahun 1966 dengan editor Abd As-Salam Muhamad :frarun.28 Cetakan terakhir ini sudah dilengkapi dengan daftar isi yang sudah modem, eli samping kelengkapan indeksnya. N Secara garis besar Nahwu Sibawaih memuat tiga materi pokok pembahasan, meliputi: i. Komposisi jumlah (sentence) 2, Pembentukan kata (ascSarf) 3. Fonologi (al-Aswat). Sistematika Kitab Sibawaih itu sesuai dengan teori linguistik yang dipelopori oleh Chomsky. 29 Noam Chomsky adalah tokoh utama teori-teori kebahasaan transformasi generatif. Dengan bukunya Syntactic Structure (1957) dan Aspect of the Theory of Syntax (1965) dia memperkenalkan satu gagasan ke arai1 teori-teori kebahasaan yang kelak kemudian dikenal dengan teori-teori transformasi. Teori dan gagasannya ini tentu berdasarkan atas asumsi dan hipotesis ten tang bahasa sebagai satu gejala alamiah dan manusia.30 Sudut pandang semacam ini dimiliki oleh Sibawaih, seperti yang akan terlihat nanti dalam deskripsinya tentang articulatory phonetics. Menurut Michael Carter dari Universitas Sydney, bahwa Sibawaih memandang bahasa sebagai peristiwa sosial masyarakat (as social act). Sebagai basil studinya tent~ng Sibawaih, dia menilai bahwa morphological-Syntactical Sibawaih adalah sangat maju. Ini berarti Sibawaih telah memberikan sinar penerang bagi sejarah umum tata bahasa Arab serta melenyapkan assumsi orang bahwa Nahwu 'Arab berasal dari Nahwu Yunani atau setidak-tidaknya terpengaruh mantiq Aresto. Carter menafsirkan kata "Nahwu" sebagai (at-Tariqah al-lati yatakallam biha an-nas) = Jalan yang dipergunakan bicara oleh manusia, atau jalan yang ditempuh oleh manusia (arab), atau juga mazhab di mana di dalamnya mempergunakan terminologi 28 Ibid. pp. 42-57. 29Bakalla, Arabic linguistics, p. 730. 30Jos. Daniel Parera, p. 14. 55 teologi. Suatu hal yang mengagumkan ialah bahwa Sibawaih dalam analisis linguistiknya mempergunakan metodologi ethical rearch, seperti istilah-istilah: mustaqim, ja'iz, hasan, qabih dan muhaJ.31 Contoh-contoh dalam penggunaan istilah-istilah itu sebagai berikut: 1. Mustaqim Hasan; seperti: L-~··s ~l.. :rc~ t~ t~ .. t 2. Muhal, seperti: 3. Mustaqim kazib, seperti: 4. Mustaqim Qabih, seperti: 5. Majal kazib, seperti: Tentang struktur, Sibawaih mempergunakan terminologi seperti "bana" = membina dan "bina'an" = gedung, hal ini menunjukkan adanya pergeseran dari fonologi ke sintaks melalui morfologi; yang berarti pergeseran dari fonem ke jumlah (sentence). Dia membicarakan juga tentang lafal, ucapan, frasa dan jumlah. Pendek kata, Sibawaih dengan karyanya itu, mempunyai kekayaan gagasan ide di samping materi-materi linguistik. 32 Dalam materi-materi yang berhubungan dengan fonetik, tingkat akkurasi Sibawaih di dalam mendeskripsikannya sampai sekarang tidak ada orang lain yang dapat menandinginya. Tanpa mengesampingkan aspek akustik, dia sangat teliti mencatat produksi bunyi-bunyi oleh alat bunyi (laring, mulut dan lain-lain). Tindakan ini, menurut pandangan F. deS. merupakan metode yang dapat dibenarkan. Tokoh Sibawaih, dengan demikian telah memberikan contoh yang baik dalam penelitian fonetik, meskipun mungkin dalam pandangan linguistik modem; fonetik itu tidak merupakan cabang linguistik. Fonetik sebagai ilmu memiliki otonomi tersendiri. Bunyi bahasa dalam pandangan fonetikus adalah merupakan dunianya yang tersendiri yang harus dijelajahi dengan pertanyaan-pertanyaan dalam setiap langkahnya. Ilmu itu memiliki cabang atau jenisnya pula. salah satunya adalah fonetik artikular (articulatory phonetics).3 3 Fonetik itu meneliti bagaimana terjadinya, dihasilkannya atau diartikulasikannya bunyi-bunyi bahasa itu oleh organ mulut dalam "terusan/saluran bicara", sehingga dengan fonetik artikuler itu dapat diketahui secara seksama segala bunyi yang mungkin dihasilkan oleh organ tersebut; sehingga dengan pengetahuan tentang fonetik itu dapat 31 Bakalla, . p. 670. 3 2/bid. 3 3Dalam bahasa Arab dikenal dengan nama " 'ilmu al-Aswat an-Nutqi". 56 diramalkan jenis bunyi apa saja yang mungkin untuk alat membentuk kata-kata sekalian bahasa di dunia. 34 Sebagai illustrasi akkurasi analisis Sibawaih, di bawah ini adalah perbandingan antara analisis Sibawaih dan Graidner-Jones, sebagai berikut: Klasifikasi Sibawaih Graidrier-Jones Glottal /'/ /h/ /'/ /h/ sama sama Pharingal sama sama Uvular ;q; sam a Velar sam a /k/ Palatal sam a /kh/ sama /gh/ Aveolar sama /sh/ sam a In/ Velar-Alveolar sam a /t/ sama /d/ sama Is/ sama /zl Dental sam a /t/ sama /d/ sama Ill sama Is/ sama /z/ Labio-Dental sama If/ Labial sam a /b/ sam a /m/ Dari perbandingan tersebut di atas, menunjukkan bahwa pengetahuan Sibawaih tentang artikulator fonetik sangat maju, di samping kecermatannya yang cukup baik pula tentang konsonan-konsonan Arab. Bahkan dengan pengetahuannya yang tinggi, dia telah menggunakan pendekatan pemikiran fonemiks, yaitu dengan memandang adanya dua kategori bunyi yakni bunyi dasar dan derivasi. Sebagai contoh adalah tentang nasalisasi "Nun Gunnah" dan "Alif Imalah" masing-masing berasal dari fonem /n/ dan glottal stop /'/.35 Sibawaih secara tepat membedakan bunyi velarisasi dan palatalisasi bunyi-bunyi vokal. Hanya satu kontras yang belum dibicarakannya ialah antara bunyi bersuara dan bunyi tak bersuara. Deskripsinya tentang fonetik dia lakukan secara bebas dari pengaruh Yunani. 36 34 Sudaryanto, Linguistik, (Yogyakarta, Gadjah Mada University Press, 1985), Cet. ke- 2, p. 52. . 35Bakalla, p. 670:671. 36Jos. Daniel Parera, p. 58. 57 .·._· ~ .. ;. .;.~ v .....·. ·~ Cukup ban yak pembicaraan para ahli tentangasal~usul Niiliwu AraK Di .· .antara mereka ada yangberpendapat bahwa Nahwu adalah berasal dari orang. Arab asli; Ia tumbuh dan berkembang bagaikan pohon yang tumbuh pada • tanahnya, Sebahagian mereka ada yang berpendapat, bahwa Nahwu Arab merupakan hasil transfer dan Iridia atau Yunani atau dari Syria.37 Persoal!in. lain yang timbul adalah ada tidaknya pengaruh mantiq Aresto terhadapNahwu Arab; dipandang dari sisi asas metode; Sebagaimana diketahui bahwa mantiq Arestoteles bertumpu lebih banyak pada:form daripada materi (maddah). Studi linguistik itu mestinya berfokus pada iriateri, bukan pada bentuk. Sehingga kalau. memang benar adanya · pengaruh mantiq atas Nahwu; ini berarti menjauhkan nahwu dari realitas kebahasaan. 38 · •· Dr. 'Abduh Ar~Ra:jihi seorang guru besar Linguistik Fakultas Sastera Universitas Iskandariyah berJ)endapat bahwa, yang jelas sejarah tidak menyajikan sesuatu materi yangkuat ten tang adanyahubuqgan ahli sintaksis Arab tradisional dengan mantiq Aresto secara langsung. Riwayat~riwayatyang menyatakan terjadinya ltlasa perhubungan ini, kurang dapat diandalkan; walimpun tidak sampai mereduksi tentang adanya mantiq pada suatu tempat yang terjadi pada waktu itu. Kita tidak tahu secara pasti kapan karya-karya Aresto beserta metodenya itu sampai kepada pemikiran Arab pada periodenya yang pertama. 39 Apa yang dicatat oleh para peneliti ialah bahwa orang-orang Arab berhubungan denga:n mantiq Aresto, melalui dua cara~ Pertama melalui apa · · yang disajikan oleh ahli sitaksis Syria, dan kedua melalui penterjema:han mantiq ke dalam bahasa Arab. Dikatakan bahwa orang-orang Syria menterjemahkan kepada bahasa mereka, di sam ping mentransfer pula kata-kata dan istilah-istilah nahwu Yunani. Yusuf al-Ahwazi (570 M) pernah menterjemah karya aliran lskandariyah Dionysius Thrax yang kemudian diberi nama "As-Sina'ah an-nahwiyah". Disebutkan juga bahwa ahli nahwu Yang pertama pada abad ke VI adalah seorang Uskup di Tikrit bernaltla Akhu Zummah atau Akhu Ummah (w .th. 575 M.). Adapun orang yang paling penting menyusun nahwu Syria sesuat dengan model nahwu Yunani adalah Ya'qubar-Rahawi (w~807M.).40 Sesllrlgguhnyabanyak bukti"bukti sejarah 37'Abduh At•Ra}ilii,