Education. Social Sciences, and Linguistics: Conference Series https://journal. id/index. php/ecs Vol. 1 No. Februari 2025, pp. Investigasi Strategi Pelayanan Bimbingan Konseling terhadap Penanganan Kasus Bulliying pada Siswa di Sekolah Menengah Wahyu Azwar1. Rihal Jayadi2. Zulkifli3 1,2,3Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Universitas Muhammadiyah Mataram. Indonesia 1Wahyuazwar339@gmail. com, 2rihaljayadi291201@gmail. com, 3zulkifliamzm@gmail. ABSTRACT Keywords: Counseling Bullying Cases. Bullying Management. Anti-Bullying Education Abstract: This study aims to investigate the counseling service strategies in handling bullying cases at secondary schools, with a focus on SMPN 2 Praya Timur. Lombok Tengah. The research adopts a descriptive qualitative approach with a case study method. Data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation, involving school counselors, school principals, students, and parents. Data analysis was conducted using Miles and Huberman's analysis model. The findings reveal that bullying negatively impacts victims emotionally, socially, and academically, causing depression, anxiety, and a decrease in self-confidence. The school has attempted to address this issue by providing emotional support through counseling and taking firm action against perpetrators. However, the limited counseling facilities make bullying management reliant on the initiative of teachers and school principals. This study recommends the implementation of a comprehensive bullying prevention strategy, including anti-bullying education, social-emotional learning, and parental involvement, to create a safe and supportive environment for student Kata Kunci: Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi strategi pelayanan bimbingan konseling (BK) dalam penanganan kasus bullying di sekolah menengah, dengan fokus pada SMPN 2 Praya Timur. Lombok Tengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, yang melibatkan guru BK, kepala sekolah, siswa, dan orang tua. Analisis data dilakukan menggunakan model analisis Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku bullying memberikan dampak negatif terhadap korban, baik secara emosional, sosial, maupun akademis, seperti depresi, kecemasan, dan penurunan rasa percaya diri. Sekolah telah berupaya mengatasi masalah ini dengan memberikan dukungan emosional melalui bimbingan konseling dan tindakan tegas terhadap pelaku bullying. Namun, fasilitas bimbingan konseling yang masih terbatas menjadikan penanganan kasus bullying bergantung pada inisiatif guru dan kepala sekolah. Penelitian ini menyarankan pentingnya penerapan strategi pencegahan bullying yang komprehensif, meliputi edukasi anti-bullying, pembelajaran sosialemosional, serta keterlibatan orang tua, untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung perkembangan siswa. Bimbingan Konseling. Kasus Bullying. Edukasi Anti-Bullying Article History: Received : 26-01-2025 Accepted : 25-02-2025 This is an open access article under the CCAeBY-SA license AiAiAiAiAiAiAiAiAiAi AA AiAiAiAiAiAiAiAiAiAi LATAR BELAKANG Kasus bully sudah tidak asing terdengar di telinga para pengamat media massa. Sudah banyak berita tentang berbagai macam kekerasan baik non fisik atau fisik yang dilakukan oleh siswa ataupun guru kepada korbannya di lingkungan sekolah (Noer et al. , 2. Bully atau biasa didengar bullying Wahyu Azwar. Inestigasi Strategi Pelayanan. adalah merupakan suatu tindakan negatif yang dilakukan seseorang atau lebih yang dilakukan secara berulang, dari waktu ke waktu (Ulfah et al. , 2. Pada umumnya, anak laki-laki lebih banyak menggunakan bullying secara fisik dan anak wanita banyak menggunakan bullying relasional atau emosional, namun keduanya sama-sama menggunakan bullying verbal. Perbedaan ini, lebih berkaitan dengan pola sosialisasi yang terjadi antara anak laki-laki dan Perempuan (Ramadhanti & Hidayat, 2. Munculnya perilaku bullying di lingkungan sekolah dapat menciptakan atmosfer lingkungan yang kurang mendukung terhadap perkembangan peserta didik, baik dalam bidang akademik maupun bidang non akademik (Asyifah et al. , 2. Penindasan dapat menyakiti peserta didik sehingga mereka merasa tidak diinginkan dan ditolak oleh lingkungannya. Hal ini tentunya akan membawa efek kepada berbagai kegiatan peserta didik di sekolah. Bagi pelaku penindasan jika dibiarkan tanpa ada intervensi, maka mereka akan beranggapan bahwa mereka memiliki kekuasaan di sekolah (Najwa et al. , 2. Apabila perilaku bullying di diamkan atau masih saja terjadi, maka dampak yang akan ditimbulkan terhadap peserta didik yang menjadi korban disekolah akan mengalami pelecehan-pelecehan atau tindakan kekerasan secara terus menerus dan akibatnya secara psikologis mengalami trauma dan korban dapat menderita seumur hidupnya (BuAoulolo et al. Maka seharusnya pihak sekolah bertanggunag jawab dan aktif dalam melakukan sosialisasi terkait pencegahan perilaku bullying yang ada di lingkungan sekolah. Salah satunya adalah Bimbingan dan Konseling (BK) yang merupakan komponen penting dalam sistem pendidikan yang bertujuan mendukung perkembangan peserta didik secara optimal, baik dari segi akademik, pribadi, sosial, maupun karier (Yeni Karneli, 2. BK membantu peserta didik dalam memahami dirinya, mengatasi permasalahan, dan membuat keputusan yang tepat. Dalam konteks pendidikan saat ini, peran BK semakin krusial karena kompleksitas tantangan yang dihadapi oleh peserta didik, seperti tekanan akademik, konflik sosial, dan perubahan teknologi (Arsini et al. , 2. Hal ini menuntut adanya strategi pelayanan BK yang efektif, relevan, dan inovatif terutama dalam mengatasi perilaku bullying (Lestari et al. , 2. Berdasarkan beberapa pencarian literatur terkait penelitian yang relevan dengan topik yang di teliti, banyak peneliti sebelumnya yang telah meneliti di antaranya adalah Pratama, . menjelaskan dalam penelitiannya bahwa peran guru bimbingan konseling ini sangatlah penting dalam pencegahan maupun penanganan perilaku bullying ini. guru bimbingan dapat mempelajari melalui faktor faktor penyebab bullying dan memilih strategi yang tepat untuk menangani permasalahan tersebut. Mursidi et al. , . menyebutkan bahwa guru BK memiliki peran yang sangat penting dalam mengatasi perundungan di sekolah dengan menerapkan strategi konseling yang tepat. Sedangkan menurut hasil penelitian Astuti, . menunjukan bahwa guru BK memiliki peran penting dalam memberikan layanan konseling individu dan mediasi antara korban dan pelaku bullying, sehingga membantu meningkatkan kepercayaan diri siswa yang menjadi korban bullying. Tetapi hambatan yang dihadapi guru BK antara lain kurangnya waktu untuk konseling dan minimnya keterbukaan siswa dalam menyampaikan masalahnya. Dini, . Menyatakan bahwa pelayanan BK yang strategis harus mampu menjawab kebutuhan peserta didik yang beragam terutama dalam mengatasi kasus kekerasan bullying. Jenis Kekerasan ini tidak hanya terkait dengan latar belakang sosial dan lingkungan, tetapi juga dengan perbedaan perilaku siswa. Sehingga perlunya strategi pelayanan BK yang dirancang berdasarkan hasil asesmen kebutuhan yang komprehensif agar dapat memberikan dampak penyelesaian terhadap kasus bullying di sekolah. Azizah et al. , . dalam penelitiannya menerangkan bahwa Efektivitas dampak dari layanan bimbingan konseling individu dengan teknik Reality Therapy menunjukkan hasil yang baik dan signifikan terhadap siswa yang menjadi perilaku dan korban Bullying. Pentingnya 16 | Pendekar : Jurnal Pendidikan Berkarakter | Vol. No. Februari 2025. Hal 14-21 keberhasilan layanan bimbingan konseling pastinya juga dipengaruhi dari kerjasama antara guru, kepala sekolah dan orang tua. Mardiah, . dan Amni & Lestari, . Perencanaan strategi pelayanan BK yang efektif memerlukan pendekatan yang sistematis. Langkah-langkah yang meliputi analisis kebutuhan, penyusunan program, pelaksanaan layanan, serta evaluasi dan tindak lanjut menjadi kunci keberhasilan program BK. Tanpa perencanaan yang matang, pelayanan BK berpotensi tidak relevan dan kurang memberikan manfaat yang signifikan bagi peserta didik. Tidak hanya sekedar pelayanan di dalam lingkungan sekolah namun BK harus mampu memberikan edukasi kepada orang tua siswa, seperti dalam penelitian yang dilakukan oleh Tohari et al. , . menyebutkan bahwa keterampilan orang tua dalam mendidik anak yang berpotensi akan tumbuhnya menjadi sesuai dengan karakter orang tuanya. Diantaranya pola asuh overprotective, pola asuh otoriter, kurangnya pemberian apresiasi dan komunikasi. membangun mental. memberikan kepercayaan kepada anak untuk mengerjakan tanggung jawab yang mampu membuatnya belajar dan meng-upgrade diri, sehingga anak merasa berkontribusi dan merasa berharga. kelekatan antara orangtua dengan anak. melatih anak untuk mengambil keputusan. selalu memahami kondisi anak. menanamkan growth mindset. Berdasarkan hasil dari penelitian terdahulu terkait strategi pelayanan BK terhadap penyelesaian kasus kekerasan bullying, ditemukan banyak penelitian sebelumnya yang mengungkap peran penting guru bimbingan konseling (BK) dalam penanganan perilaku bullying, penelitian ini masih memiliki beberapa keterbatasan. Sebagian besar penelitian fokus pada pendekatan umum tanpa mendalami variasi strategi pelayanan BK berdasarkan kondisi spesifik sekolah atau karakteristik siswa yang menjadi korban dan pelaku bullying. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk berupaya mengisi celah dengan melakukan investigasi komprehensif terhadap strategi pelayanan BK yang lebih terfokus dan kontekstual. Penelitian ini juga menawarkan kontribusi baru berupa eksplorasi strategi pelayanan BK berbasis asesmen kebutuhan mendalam, dengan mempertimbangkan aspek sosial, psikologis, dan lingkungan siswa, serta integrasi kolaboratif antar pemangku kepentingan sekolah untuk menciptakan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menggali secara mendalam strategi pelayanan bimbingan konseling dalam penanganan kasus bullying di sekolah menengah. Metode yang digunakan adalah studi kasus, dengan fokus disalah satau sekolah SMPN 2 Praya Timur. Lombok Tengah sebagai unit analisis. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama: wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi (Pahkeviannur, 2. Wawancara mendalam melibatkan guru BK, kepala sekolah, siswa, dan orang tua untuk memperoleh perspektif yang beragam terkait implementasi strategi BK. Observasi digunakan untuk memantau secara langsung pelaksanaan program konseling, seperti sesi konseling individu, kelompok, serta kegiatan pencegahan bullying. Sementara itu, teknik dokumentasi mencakup pengumpulan dokumendokumen seperti laporan kasus bullying, program kerja BK, dan catatan hasil konseling. Kemudian analisis data yang digunakan dalam penelitian ini Miles da Huberman seperti pada Gambar 1. Wahyu Azwar. Inestigasi Strategi Pelayanan. Gambar 1. Analisis Miles dan Huberman . Gambar 1 menjelaskan bahwa analisis data yang dilakukan dengan menggunakan kerangka pendekatan Miles dan Huberman, yang terdiri atas empat tahapan utama: Pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penarikan Kesimpulan/verifikasi (Azwar et al. , 2. Tahap pengumpulan data dilakukan secara literatur dengan pencarian refrensi dari penelitian terkait, kemudian peneliti juga melakukan observasi di sekolah SMPN 2 Praya Timur untuk memastikan pelayanan dan strategi kasus bullying, peneliti juga melakukan wawancara dengan informan serta mengambil dokumentasi pelaksanaan sosialisasi terkait strategi pelayanan BK di SMPN 2 Praya Timur. Tahap reduksi data dilakukan dengan menyederhanakan dan memusatkan perhatian pada informasi yang relevan, sedangkan penyajian data dilakukan melalui narasi deskriptif, untuk mempermudah Kesimpulan kemudian ditarik dengan mengidentifikasi pola dan temuan utama, serta diverifikasi melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik guna memastikan keabsahan data. HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi Dampak Perilaku Bullying Berdasarkan hasil dari observasi yang dilakukan oleh peneliti menemukan ada beberapa peserta didik banyak mengalami perlakuan tidak menyenangkan yang dilakukan oleh beberapa siswa. Peserta didik yang mengalami bullying mengalami berbagai dampak, baik secara emosional, sosial, maupun akademis. Siswa yang menjadi korban seringkali menunjukkan gejala depresi, kecemasan, dan menurun dalam prestasi akademik. Mereka juga cenderung menghindari interaksi sosial dan mengalami penurunan rasa percaya diri. Siswa Kelas 9 . menjadi subjek dalam penelitian ini, ada Sebagian mereka menyatakan bahwa Au ketika adanya perlakuan kekerasan bullying perserta didik lebih sering diam dan tidak berani untuk melaporkan Tindakan itu kepada guruAy Dengan adanya perlakuan tersebut secara emosional, peserta didik sering menunjukkan gejala depresi dan kecemasan takut untuk dibully secara terus menerus . Mereka mungkin merasa tertekan dan khawatir akan rasa takut yang mereka alami. Rasa cemas ini dapat mengganggu konsentrasi dan membuat mereka sulit untuk mengikuti pelajaran dengan baik. Korban perilaku bullying dapat mengalami berbagai macam gangguan yaitu meliputi kesejahteraan psikologis yang rendah . ow psychological well-bein. di mana terjadinya rasa tidak nyaman pada korban, rendah diri, terjadi penyesuaian sosial yang buruk dengan adanya rasa takut ke sekolah bahkan tidak mau sekolah, jauh dari pergaulan, bahkan mempunyai keinginan untuk bunuh diri daripada harus menghadapi tekanan dan hinaan. Dari dampak yang di timbulkan oleh perilaku kekerasan bullying hal ini membuat pihak sekolah melakukan beberapa penanganan melalui peran pendampingan atau pelayanan bimbingan konseling untuk memberikan dukungan emosional dan pendekatan untuk menyelesaikan perundungan yang dialami oleh peserta didik yang menjadi korban bullying. 18 | Pendekar : Jurnal Pendidikan Berkarakter | Vol. No. Februari 2025. Hal 14-21 Berdasarkan hasil temuan dan observasi yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa sarna dan prasaran BK tidak cukup memadai dan terkesan tidak begitu menonjol digunakan di SMPN 3 Praya Timur. Sehingga setiap guru memainkan peran dalam mengatasi perlakukan bullying secara perkelas dan arahan yang dilakukan oleh kepala sekolah. Adanya dukungan emosional. Guru BK menciptakan ruang yang aman bagi siswa untuk berbagi pengalaman dan perasaan mereka. Dengan mendengarkan secara aktif dan menunjukkan empati dan menindak secara tegas pelaku bullying, dapat membantu siswa merasa dihargai dan dipahami, yang sangat penting dalam proses penyembuhan emosional. Seperti yang dijelaskan dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada siswa dimana ia mengatakan AuDengan marakanya tindakan kekrasan bullying baik secara fisik atau non fisik membuat kami juga sebagai guru bertanggung jawab atas tindakan, sehingga berbagai strategi yang kami lakukan utuk memberikan efek kepada pelaku dan memberikan trauma healing kepada korban dengan pendekatan secara emosional melalui peran bimbingan konseling di setiap guruAy. Pernyatan yang diungkapkan oleh kepala sekolah menandakan Bahwa adanya Tindakan secara tegas dan strategi-strategi yang dilkaukan untuk meminimalisir terjadinya Tindakan kekerasan antara siswa. Strategi Pelayanan Bimbingan Konseling Terhadap Korban Bullying Mencegah kekerasan bullying secara efektif, terdapat beberapa strategi yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah. Penting untuk mengembangkan kesadaran dan pendidikan anti-bullying dengan melibatkan siswa, guru, dan orang tua. Program sosialisasi yang menjelaskan dampak negatif dari bullying-baik dalam bentuk fisik, verbal, maupun cyberbullying perlu dilaksanakan secara berkala melalui seminar, diskusi, dan kampanye di sekolah. Selain itu, pelatihan bagi guru dalam mengenali tanda-tanda bullying dan cara penanganannya sangat diperlukan, serta melibatkan orang tua untuk memperkuat komunikasi dan pencegahan bullying di rumah. Sosialisasi yang dilakukan seperti pada Gambar 2. Gambar 2. Kegiatan Sabtu Sosialisasi Anti Bullying Menciptakan lingkungan sekolah yang inklusif dan aman merupakan langkah penting dalam pencegahan bullying. Penerapan kebijakan tanpa toleransi terhadap segala bentuk kekerasan harus dilaksanakan dengan konsekuensi yang jelas dan adil. Sekolah juga perlu menyediakan ruang aman, seperti ruang konseling, di mana siswa dapat berbagi pengalaman dan mendapatkan dukungan. Selain itu, kegiatan yang mendorong kerjasama dan empati antar siswa, seperti kelompok belajar atau mentoring, dapat mempererat hubungan sosial dan mengurangi potensi bullying. Wahyu Azwar. Inestigasi Strategi Pelayanan. Pendekatan berbasis pembelajaran sosial-emosional (Social-Emotional Learning/SEL) juga memiliki peranan yang signifikan dalam mencegah bullying. Pengembangan empati dan keterampilan sosial perlu dimasukkan dalam kurikulum, meliputi pembelajaran tentang manajemen emosi dan penyelesaian konflik. Selain itu, simulasi peran dan diskusi kasus bullying dapat membantu siswa untuk memahami dampak perbuatan tersebut serta mengajarkan mereka bagaimana merespons dengan bijaksana. Pengawasan yang aktif di area-area rawan bullying, seperti kantin dan lapangan, perlu ditingkatkan melalui patroli guru, serta menyediakan mekanisme pelaporan yang mudah dan aman bagi siswa. Peran Bimbingan Konseling (BK) harus diperkuat dengan pendekatan yang bersifat preventif dan responsif. Guru BK dapat mengenali potensi masalah sejak dini dan memberikan bimbingan sebelum masalah bullying berkembang lebih lanjut. Untuk korban bullying, pendampingan psikologis diperlukan untuk membantu pemulihan emosional dan memperkuat rasa percaya diri mereka. Bagi pelaku bullying, program pembinaan yang menekankan pada peningkatan empati dan perbaikan perilaku sangat penting agar mereka dapat memahami kesalahan mereka dan tidak mengulanginya. Dengan penerapan strategistrategi tersebut secara komprehensif, sekolah dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan mendukung bagi seluruh siswa. Efektifitas strategis dalam menangani dan menurunkan kasus bullying di lingkungan Pendidikan terutama pada jenjang sekolah menengah dibagi ke beberapa cara diantaranya adalah. konseling individual Sesi konseling yang dilakukan secara tatap muka antara konselor dengan siswa, baik korban maupun pelaku bullying. Strategi ini memberikan ruang aman bagi siswa untuk mengungkapkan perasaan dan pengalaman mereka tanpa rasa takut atau malu. Konseling individual efektif dalam membantu korban mengatasi trauma serta membimbing pelaku untuk memahami dampak perilaku mereka terhadap orang lain. Meski demikian, tantangan utama dari pendekatan ini adalah waktu yang diperlukan untuk menjangkau setiap individu, terutama jika kasus bullying terjadi secara massif. Konseling Secara Berkelompok Guru memfasilitasi diskusi bersama beberapa siswa dalam satu sesi. Pendekatan ini bertujuan menciptakan suasana yang mendukung komunikasi terbuka, sehingga siswa dapat saling berbagi pengalaman dan memahami perspektif satu sama lain. Konseling kelompok mampu memperkuat hubungan sosial antar siswa serta mendorong sikap saling pengertian antara korban dan pelaku. Melibatkan Peran Evaluasi Orang Tua Orang tua memiliki peran penting dalam mencegah dan menurunkan kasus bullying dengan membangun karakter anak, memantau perilaku mereka, dan menjaga komunikasi yang baik. Upaya ini meliputi penanaman nilai empati dan rasa hormat sejak dini, pengawasan terhadap aktivitas anak di sekolah dan media sosial, serta memberikan ruang aman bagi anak untuk berbagi pengalaman. Keteladanan sikap positif dari orang tua juga menjadi kunci dalam membentuk perilaku anak yang mendukung hubungan sosial yang sehat. Selain itu, kolaborasi antara orang tua dan pihak sekolah diperlukan untuk memastikan keberhasilan program pencegahan bullying. Dukungan emosional kepada anak, terutama bagi korban, sangat penting untuk memulihkan kepercayaan diri dan mendorong mereka merasa aman. Keterlibatan aktif ini membantu menciptakan lingkungan yang kondusif untuk perkembangan anak. 20 | Pendekar : Jurnal Pendidikan Berkarakter | Vol. No. Februari 2025. Hal 14-21 SIMPULAN DAN SARAN Peneliti dapat menyimpulkan bahwa perilaku bullying sangat berdampak serius terhadap korban, baik secara emosional, sosial, maupun akademis. Korban bullying sering mengalami depresi, kecemasan, serta penurunan rasa percaya diri, yang berdampak pada prestasi akademik dan motivasi belajar mereka. Sekolah telah mengambil langkah dengan memberikan dukungan emosional melalui bimbingan konseling dan tindakan tegas terhadap pelaku bullying. Namun, fasilitas bimbingan konseling yang belum memadai membuat penanganan masih bergantung pada inisiatif guru dan kepala sekolah. Untuk itu, strategi pencegahan yang komprehensif, seperti edukasi anti-bullying, pembelajaran sosial-emosional, dan keterlibatan orang tua, sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi seluruh siswa. REFERENSI