Jurnal Siti Rufaidah Vol. No. 4 November 2023 e-ISSN :3032-1344. p-ISSN :3032-1336. Hal 60-66 DOI: https://doi. org/10. 57214/jasira. Available online at : https://journal. org/index. php/JASIRA Gambaran Penyakit Periodontal pada Pasien Diabetes Melitus di Puskesmas Bara - Barayya Zahrawi Astrie Ahkam1*. Hasrini2. Amirah Maritsa3. Arfiah Jauharuddin4. Dewi Sartika5 1,2,3,4,5 STIKes Amanah Makassar. Indonesia aulyahrezky@gmail. com 1* Alamat: Jl. Inspeksi Kanal Jembatan II Hertasning Baru Ae Aroepala Makassar Korespondensi penulis: aulyahrezky@gmail. Abstract. Diabetes Mellitus (DM) is a group of metabolic diseases characterized by hyperglycemia that occurs due to insulin secretion, insulin action or both. This disease is a disease that is widely suffered by the community and continues to grow in Indonesia. Periodontal disease is a dental and oral health problem that has a fairly high prevalence in the community where periodontal disease occurs in all age groups in Indonesia. The purpose of this study was to determine periodontal disease in patients with diabetes mellitus at the Bara-Barayya Health Center. This type of research is a descriptive study with a sample of 60 people taken using the total sampling technique. Samples were examined using the gingival index and CPITN index assessment criteria. The results showed that those who experienced periodontitis with a score of 4 were the highest, namely 18 people . %), and subjects who experienced a score of 2 were the fewest, namely 8 people . 5%). While those who experienced gingivitis were the highest, namely severe gingivitis, as many as 10 people . 6%) and the fewest were those who experienced mild gingivitis, as many as 5 people . 3%). Based on the results of this study, it can be concluded that the most common periodontal disease found in diabetes mellitus patients at the Bara-Barayya Health Center is periodontitis, namely 41 people . 3%) and the least is gingivitis, namely 19 people . 7%). Keywords: diabetes mellitus, periodontitis, gingivitis, periodontal Abstrak. :Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Penyakit ini merupakan penyakit yang banyak diderita kalangan masyarakat dan terus berkembang di Indonesia. Penyakit periodontal merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang memiliki prevalensi cukup tinggi di masyarakat dimana penyakit periodontal pada semua kelompok umur di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penyakit periodontal pada penderita diabetes mellitus di Puskesmas Bara-Barayya. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan jumlah sampel 60 orang yang diambil dengan teknik total sampling. Sampel diperiksa dengan menggunakan kriteria penilaian indeks gingiva dan indeks CPITN. Hasil menunjukkan bahwa yang mengalami periodontitis dengan skor 4 adalah yang paling tinggi yaitu sebanyak 18 orang . %), dan subjek yang mengalami skor 2 adalah yang yang paling sedikit yaitu sebanyak 8 orang . 5%). Sedangkan yang mengalami gingivitis yang paling tinggi yaitu gingivitis buruk sebanyak 10 orang . 6%) dan yang paling sedikit adalah yang mengalami gingivitis ringan yaitu sebanyak 5 orang . 3%). Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penyakit periodontal yang paling banyak ditemui pada penderita diabetes melitus di Puskesmas Bara-Barayya adalah penyakit periodontitis yaitu sebanyak 41 orang . 3%) dan yang paling sedikit adalah gingivitis yaitu sebanyak 19 orang . Kata kunci: diabetes melitus, periodontitis, gingivitis, periodontal Received Juni 01, 2023. Revised Juli 15, 2023. Accepted Juli 28, 2023. Published November 30, 2023 e-ISSN :3032-1344. p-ISSN :3032-1336. Hal 60-66 LATAR BELAKANG Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya (PB. PERKINI, 2. Menurut World Health Organization (WHO) sebelumnya telah merumuskan bahwa DM merupakan sesuatu yang tidak dapat dituangkan dalam satu jawaban yang jelas dan singkat tetapi secara umum dapat dikatakan sebagai suatu kumpulan problema anatomik dan kimiawi akibat dari sejumlah faktor dimana didapat defisiensi insulin absolut atau relatif dan gangguan fungsi insulin (Barung,2. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi kenaikan jumlah penyandang diabetes di Indonesia dari pada tahun 2030 akan mencapai 8,4 juta jiwa pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta jiwa. Berdasarkan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007 oleh Departemen Kesehatan, menunjukan bahwa prevalensi DM di daerah urban Indonesia untuk usia diatas 15 tahun sebesar 5,7%. Prevalensi diabetes terkait usia, meningkat dari 5,9%-7,1% . -380 juta jiw. di seluruh dunia pada kelompok usia 20-79 tahun yang kejadiannya meningkat 55% (PB. PERKINI, 2. KAJIAN TEORITIS Penyakit periodontal merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang memiliki prevalensi cukup tinggi di masyarakat dimana penyakit periodontal pada semua kelompok umur di Indonesia adalah 96,58% (RISKESDAS, 2. Berdasarkan RISKESDAS juga prevalensi penduduk yang mempunyai masalah gigi dan mulut di Indonesia mencapai 25,9%. (Tampubolon, 2. Salah satu komplikasi DM yang cukup serius di bidang kedokteran gigi ialah oral diabetic, yang meliputi mulut kering, gingiva mudah berdarah . , kalkulus, resorbsi tulang alveolaris, periodontitis dan lain sebagainya (Iwanda. Beberapa penelitian sebelumnya menyatakan bahwa diabetes menjadi salah satu faktor prevalensi gingivitis. 6 Pasien dengan diabetes melitus terkontrol memiliki penyakit periodontal yang lebih rendah dibandingkan pasien dengan diabetes melitus yang tidak terkontrol (Indrasari, 2. Seiring dengan meningkatnya penderita DM serta pentingnya kesehatan gigi dan mulut khususnya penyakit periodontal pada penderita DM, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang gambaran penyakit periodontal pada penderita diabetes mellitus di Puskesmas Bara-Barayya Kota Makassar. GAMBARAN PENYAKIT PERIODONTAL PADA PASIEN DIABETES MELITUS DI PUSKESMAS BARA - BARAYYA METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross -sectional. Bertempat di Puskesmas Bara Ae Barayya pada bulan September 2023. Populasi ini adalah seluruh pasien Diabetes Melitus yang datang berkunjung di Puskesmas Bara Ae Barayya. Sampel penelitian adalah 60 orang pasien yang memenuhi kriteria inklusi, dengan mengeksklusikan pasien yang sudah tidak memiliki seluruh gigi geligi dan pasien dalam kondisi hamil. Pengambilan sampel dilakukan dengan total sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan probe periodontal untuk mengukur status gingiva dengan menggunakan indeks Probe periodontal dimasukkan ke dalam gingiva pasien dan status gingiva serta status periodontal diukur menggunakan indeks gingiva dan indeks CPITN. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Sampel penelitian berjumlah 60 orang yang merupakan penderita DM yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Karakteristik responden berdasarkan umur yaitu kelompok umur 61-70 tahun yang mengalami gingivitis buruk memiliki jumlah lebih banyak yaitu 5 orang . ,3%). Distribusi subjek penelitian berdasarkan lama menderita DM menunjukkan bahwa yang mengalami gingivitis buruk paling banyak ditemui pada penderita yang sudah menderita DM selama lebih dari 10 tahun yaitu sebanyak 9 orang . ,4%). Distribusi subjek penelitian berdasarkan kontrol gula darah (HbA1. menunjukkan bahwa penderita yang mengalami gingivitis buruk paling tinggi terdapat pada yang memiliki kontrol gula darah buruk yaitu sebanyak 10 orang . ,6%). Karakteristik responden berdasarkan umur yaitu kelompok umur 51-60 tahun yang mengalami periodontitis skor 4 memiliki jumlah lebih banyak yaitu 9 orang . %). Distribusi status periodontal berdasarkan kontrol gula darah (HbA1. menunjukkan bahwa yang mengalami skor 4 paling banyak pada penderita DM dengan kontrol gula darah buruk yaitu sebanyak 20 orang . ,8%). Pembahasan Ditribusi status gingiva berdasarkan Distribusi status periodontal berdasarkan lama menderita DM menunjukkan yang mengalami periodontitis dengan skor 4 paling banyak ditemui pada yang menderita DM selama 5-10 tahun yaitu sebanyak 8 orang . ,5%)umur terbanyak terdapat pada kelompok umur 61-70 tahun yang memiliki gingivitis berat dan sebanyak 5 orang . ,3%). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kartika yang juga mendapatkan responden DM yang mengalami gingivitis berat, namun lebih banyak yaitu Jurnal Siti Rufaidah - Vol. No. 4 November 2023 e-ISSN :3032-1344. p-ISSN :3032-1336. Hal 60-66 sebanyak 7 responden (Kartika, 2. Hal ini sebabkan karena kategori gingivitis berat lebih rentan terjadi pada umur > 40 tahun. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Awad pada tahun 2012 yang juga mendapatkan status gingiva dengan kategori berat banyak ditemui pada umur lebih dari 40 tahun (Awad, 2. Distribusi status gingiva berdasarkan lamanya menderita DM paling banyak terdapat pada kelompok lebih dari 10 tahun yang memiliki gingivitis berat yaitu sebanyak 9 orang . ,4%). Sedangkan subjek penelitian dengan lama menderita < 5 tahun adalah yang paling sedikiti yaitu sebanyak 1 orang . ,3%). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Maliya pada tahun 2011 di RS PKU Muhamadiyah Yogyakarta dimana hasilnya menunjukkan bahwa status gingiva berdasarkan lamanya menderita pada pasien DM paling banyak dijumpai pada penderita yang menderita selama lebih dari 10 tahun (Maliya, 2. Distribusi status gingiva berdasarkan kontrol gula darah menunjukkan subjek yang memiliki status gingiva berat paling banyak ditemukan pada kontrol gula darah buruk yakni sebanyak 10 orang . ,6%). Hal ini disebakan karena kontrol gula darah buruk sangat berpengaruh terhadap kesehatan jaringan gingiva pada penderita DM. Penyakit DM yang tidak terkontrol merusak sel-sel darah putih pada pasien diabetes, sehingga gigi lebih rentan dan dapat menyebabkan infeksi pada gingiva (Monoarfa, 2. Subjek penelitian berdasarkan status periodontal dengan menggunakan pengukuran CPITN menunjukkan subjek yang mengalami periodontitis dengan skor 4 adalah yang terbanyak yaitu sebanyak 18 orang . %) dan subjek yang mengalami periodontitis dengan skor 2 adalah yang paling sedikit yaitu sebanyak 8 orang . ,5%) hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Ulipe tahun 2010 yang juga mendapatkan bahwa penyakit periodontal dengan stadium lanjut lebih banyak pada penderita DM dibandingkan non DM. Faktor-faktor yang menyebabkan prevalensi penyakit periodontal yang lebih tinggi, lebih berat, dan berlangsung lebih cepat, adanya perubahan metabolisme pada penderita DM akan menimbulkan serangkaian perubahan pada jaringan periodontium yang mengarah kepada destruksi periodontal (Hidayati dkk, 2. Distribusi status periodontal berdasarkan umur menunjukan subjek penelitian yang memiliki status periodontal kategori skor 4 atau memiliki poket > 6 mm terdapat pada kelompok umur 51-60 tahun sebanyak 9 orang . %). Hal ini sesuai dengan penelitian Brennan DS dkk . di Australia juga menunjukkan bahwa yang memiliki periodontal poket > 6 mm terbanyak pada umur 55 Ae 64 tahun sedangkan pada kelompok umur 15-24 tahun memiliki periodontal sehat (Brennan dkk, 2. GAMBARAN PENYAKIT PERIODONTAL PADA PASIEN DIABETES MELITUS DI PUSKESMAS BARA - BARAYYA Distribusi status periodontal berdasarkan lamanya menderita paling banyak terdapat pada kelompok dengan lama menderita 5-10 tahun yang memiliki periodontal poket > 6 mm yaitu sebanyak 8 orang . ,1%). Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Sri Hidayati tahun 2008 bahwa keparahan periodontitis bukanlah dipengaruhi oleh lamanya menderita tetapi dipengaruhi oleh kadar glukosa darah penderita DM sendiri. Sri Hidayati berpendapat meskipun lama menderita DM tapi kadar glukosa darah penderita tetap terkontrol dengan baik, maka tingkat keparahan penyakit periodontalnya juga baik. (Hidayati dkk, 2. Distribusi status periodontal berdasarkan kontrol gula darah (HbA1. paling banyak terdapat pada kelompok kontrol gula darah buruk atau > 9 % yang memiliki periodontal poket > 6 mm yaitu sebanyak 20 orang . ,8%). Hal ini sesuai dengan penelitian Sri Hidayati tahun 2008 yang menunjukkan bahwa kadar gula darah menunjukkan hasil yang bermakna pada penderita DM. Hal ini disebabkan karena resiko perkembangan peridontitis lebih besar pada pasien dengan diabetes kontrol gula darah buruk dibandingkan dengan kontrol gula darah yang terkendali atau baik (Nandya dkk, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Status penyakit periodontal pada penderita Diabetes Melitus di Puskesmas Bara- Barayya paling banyak yaitu periodontitis dengan jumlah 41 orang dibandingkan gingivitis yang hanya sebanyak 19 orang. Status gingiva pada penderita Diabetes Melitus di Puskesmas Bara Ae Barayya yang dihitung berdasarkan indeks gingiva paling banyak menunjukan gingivitis berat yaitu dengan jumlah 10 orang . ,6%). Dan status periodontal pada penderita Diabetes Melitus di Puskesmas Bara Ae Baryya yang dihitung berdasarkan indeks CPITN paling banyak memiliki periodontal poket > 6 mm yaitu sebanyak 18 orang . %). Status gingiva pada penderita Diabetes Melitus berdasarkan umur yang memiliki gingivitis berat paling banyak ditemui pada umur 61-70 tahun sebanyak 5 orang . %). Dan status periodontal berdasarkan umur yang memiliki periodontal poket > 6 mm paling banyak ditemui 51-60 tahun sebanyak 9 orrang . %). Status gingiva berdasarkan lamanya menderita DM yang memiliki gingivitis berat paling banyak ditemui pada yang menderita selama > 10 tahun sebanyak 9 orang . %). Status periodontal berdasarkan lamanya menderita DM yang memiliki poket periodontal > 6 mm paling banyak ditemui pada kategori 5-10 tahun lama menderita dan sebanyak 8 orang . ,1%). Jurnal Siti Rufaidah - Vol. No. 4 November 2023 e-ISSN :3032-1344. p-ISSN :3032-1336. Hal 60-66 Status gingiva berdasarkan kontrol gula darah (HbA1. yang memiliki gingivitis berat paling banyak ditemui pada kontrol gula darah buruk ( >9%) sebanyak 10 orang . %). Dan status periodontal berdasarkan kontrol gula darah (HbA1. yang memiliki poket periodontal > 6 mm paling banyak ditemui pada kategori kontrol gula darah buruk (> 9%) yaitu sebanyak 20 orang . %). Adapun saran pada penelitian ini yaitu bagi petugas kesehatan di Puskesmas terkait, diharapkan lebih meningkatkan upaya promosi secara keseluruhan serta memantau dan melakukan pemeriksaan secara teliti status kesehatan gigi dan mulut pada penderita DM yang membutuhkan perawatan yang lebih komplek seperti membersihkan karang gigi, kuretase, dan bedah periodontal. Bagi penderita DM agar lebih meningkatkan pola hidup sehat guna menormalkan control gula darah sehingga dapat mengurangi terjadinya diabetes, serta lebih memperhatikan dan menjaga kebersihan gigi dan mulut terutama kesehatan jaringan periodontalnya dan perlu adanya kerjasama antara dokter ahli penyakit dalam dengan dokter gigi dalam menangani masalah gigi dan mulut pada penderita DM. Diharapkan dapat menjadi acuan dalam penelitian selanjutnya dengan variable yang sesuai. DAFTAR REFERENSI Awad N. Gambaran Faktor Resiko Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Poliklinik Endokrin RSU Prof. Dr. Kandou Manado. Ejournal UNSRAT. Barung NA. Gambaran status periodontal pada pasien diabetes melitus tipe II yang berkunjung di Badan Layanan Umum Rumah Sakit Umum Pusat Prof. Dr. Kandou Manado. Skripsi. Manado: Universitas Sam Ratulangi. Brennan DS. Spencer AJ. Slade GD. Prevalence of Periodontal Conditions Among PublicFunded Dental Patients in Australia . erial onlin. ited 2015 Okt . : 114121. Available from URL: digital. au/ A/Bre_pre_v46 Dencheva. Maria. Research of Periodontal Status and Treatment Needs by CPITN in Patient on Haemodialysis and Renal Transplanted Patient. Gehring JSN. RDH. MA. Willman DE. DDS. MS. Foundations of Periodontics for the Dental Hygienist 2nd edition. Hidayati S. MuAoafiro Adin. Suwito J. Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Keparhn Periodontitis pada Penderita DM tipe 2 di Poli Diabetes RSU Dr. Soetomo Surabaya. erial onlin. ited 2 Okt 2. Available from URL: id/admin/jurnal/10208 4954. Indrasari S D. Hubungan antara Diabetes Melitus dengan Penyakit Periodontal . kripsi onlin. ited 2015 April . Iwanda. Hubungan Diabetes Melitus dengan Karies Gigi. Universitas Diponegoro. GAMBARAN PENYAKIT PERIODONTAL PADA PASIEN DIABETES MELITUS DI PUSKESMAS BARA - BARAYYA Kartika K. Gambaran Status Gingiva pada Pasien DM Tipe 2 di Rumah Sakit Semarang. Gigi Jurnal. Maliya A. Gambaran Status Gingiva pada Pasien Diabetes Melitus tipe 2 di RS PKU Muhamadiyah Yogyakarta. UMS Publikasi Ilmiah. Monoarfa O O. Gambaran Status Gingiva pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di Rumah Sakit Umum GMIM Pancaran Kasih Manado. Manado: Univesitas Sam Ratulangi. Nandya. Maduratna E. Agustina EF. Status Kesehatan Jaringan Periodontal pada Pasien Diabetes Melitus tipe II Dibandingkan dengan Pasien Non Diabetes Melitus Berdasarkan GPI. erial onlin. ited 2 Okt 2. Available from URL: http://journal. id/filerPDF/eJournal Status kesehatan j aringan periodontal. Pengurus Besar Perkumpulan Endrokinologi Indonesia (PB. PERKINI). Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2011. 1-4, Putri MH. Herijulianti E. Nurjannah N. Ilmu pencegahan penyakit jaringan keras dan jaringan pendukung gigi. Jakarta: EGC. 2013: h. 25-26, 39, 43,49, 196-97 Riset Kesehatan Dasar (RIESKESDAS) 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Indonesia. ited 2015 April . Available from URL: http://w. id/resources/do wnload/general/Hasil Riskesdas% Tampubolon SN. Dampak Karies dan Penyakit Periodontal Terhadap Kualitas Hidup. Universitas Sumatera Utara. Jurnal Siti Rufaidah - Vol. No. 4 November 2023