1351 J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 ECOBOO: INOVASI PRODUK BAMBU MELALUI WORKSHOP BERBASIS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SEBAGAI PILAR BRANDING EKOWISATA BAMBOE WANADESA BALIKPAPAN Oleh Eko Agung Syaputra1. Supratiwi Amir2. Ramadhan Paninggalih3 1,2Desain Komunikasi Visual. Fakultas Pembangunan Berkelanjutan. Institut Teknologi Kalimantan 3Informatika. Fakultas Sains dan Teknologi Informasi. Institut Teknologi Kalimantan E-mail:1eko. agung@lecturer. id, 2supratiwi. amir@lecturer. 3ramadhanpaninggalih@lecturer. Article History: Received: 19-08-2025 Revised: 20-09-2025 Accepted: 22-09-2025 Keywords: Bambu. Branding. Ekowisata. Masyarakat. Pemberdayaan. Workshop Abstract: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilatarbelakangi oleh belum optimalnya pemanfaatan bambu sebagai produk unggulan yang dapat memperkuat identitas Ekowisata Bamboe Wanadesa. Tujuannya adalah meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah bambu menjadi produk kreatif yang bernilai jual dan mendukung branding Workshop yang diselenggarakan mencakup pelatihan keterampilan dasar pengolahan bambu, mulai dari pemilihan bahan, pembelahan, perakitan, finishing, hingga strategi branding dan pemasaran digital. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, pelatihan, simulasi, pendampingan, dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan lahirnya produk bambu inovatif sebagai cenderamata, peningkatan keterampilan masyarakat, serta keterlibatan wisatawan dalam pengalaman kreatif. Program ini berkontribusi terhadap penguatan ekonomi kreatif lokal dan mendukung terwujudnya ekowisata berkelanjutan. PENDAHULUAN Balikpapan sebagai kota strategis penyangga Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, memegang peran vital dalam mendukung pembangunan yang berwawasan lingkungan, inklusif, dan berkelanjutan (Syaputra et al. , 2. Di tengah dinamika percepatan pembangunan IKN, muncul sebuah tantangan besar mengenai bagaimana memastikan masyarakat lokal turut berdaya dan tidak hanya menjadi figuran dalam proses transformasi ini (Amri et al. , 2. Salah satu peluang yang dapat dimanfaatkan adalah pengembangan potensi bambu sebagai sumber daya lokal yang ramah lingkungan, bernilai ekonomis, dan selaras dengan visi hijau IKN (Jordan et al. , 2. Ekowisata Bamboe Wanadesa merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di Balikpapan. Destinasi wisata ini terletak di Jalan Giri Rejo I Km 15 RT. 26 Karang Joang. Balikpapan Utara. Ekowisata ini menawarkan pengalaman unik melalui hutan bambu yang rindang dan keindahan Waduk Manggar (Yendra et al. , 2. Selain itu, pengunjung dapat menikmati berbagai fasilitas seperti gazebo, area camping, dan wahana rekreasi air seperti perahu keliling waduk. Bamboe Wanadesa juga dikenal atas upayanya dalam konservasi alam dan pemberdayaan masyarakat lokal. Inisiatif ini bermula dari Kelompok Tani Hutan http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 (KTH) yang mengubah hutan bambu menjadi destinasi wisata edukatif dan ramah lingkungan (Miswayt et al. , 2. Pada Mei 2021. Bamboe Wanadesa dibuka untuk umum dan seiring berjalannya waktu, destinasi ini berhasil menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara. Seiring berjalannya waktu. KTH terus berkembang hingga pada tahun 2022 terbentuklah Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) dengan jumlah keanggotaan sebanyak 63 orang. Keterlibatan masyarakat setempat terlihat dari kegiatan gotong royong yang rutin dilakukan. untuk menjaga kebersihan dan keindahan area wisata. Keberhasilan Ekowisata Bamboe Wanadesa bahkan mendapatkan pengakuan dari Presiden Joko Widodo, yang mengunjunginya pada Februari 2023. Destinasi ini tidak hanya menawarkan keindahan alam tetapi juga memberikan edukasi tentang pentingnya pelestarian lingkungan dan kearifan lokal (Febrian, 2. Namun, berdasarkan hasil observasi. Ekowisata Bamboe Wanadesa menghadapi sejumlah tantangan khususnya dalam hal pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengembangan produk lokal, yang meliputi permasalahan pada aspek produksi, manajemen usaha dan pemasaran (Septyanto et al. , 2. Salah satu area yang belum digali secara optimal adalah pengembangan produk khas berbahan bambu yang ramah lingkungan, yang dapat memperkuat branding ekowisata Bamboe Wanadesa. Dalam menciptakan kawasan wisata yang keberlanjutan serta lebih optimalkan dapat dilakukan dengan meningkatkan keterlibatan wisatawan dalam kegiatan kreatif, sekaligus memberikan mereka pengalaman yang lebih mendalam mengenai proses produksi dan nilai keberlanjutan (Sanggarwati et al. Sehingga, dalam rangka mengoptimalkan potensi yang ada dan memperkaya pengalaman wisatawan. EcoBoo hadir sebagai sebuah inisiatif untuk memperkenalkan workshop pembuatan produk bambu. Proyek ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat lokal melalui pelatihan keterampilan pembuatan produk yang tidak hanya bernilai ekonomis, tetapi juga mengandung pesan keberlanjutan . Lebih dari sekedar ajang pembelajaran, workshop ini akan memberi kesempatan bagi wisatawan untuk terlibat langsung dalam proses kreatif pembuatan produk bambu. Melalui partisipasi ini, wisatawan tidak hanya memperoleh hasil workshop berupa produk, tetapi juga pemahaman mendalam tentang budaya lokal serta nilai-nilai keberlanjutan yang menjadi dasar dari setiap produk bambu yang dihasilkan. Workshop bambu ini dirancang untuk menambah dimensi baru dalam pengalaman wisatawan, menghubungkan mereka dengan kearifan lokal sekaligus mengedukasi mereka tentang pentingnya menjaga alam. produk bambu yang dihasilkan dari workshop ini nantinya akan menjadi simbol dari identitas dan citra Bamboe Wanadesa, memperkuat posisi kawasan ini sebagai destinasi ekowisata yang mengedepankan prinsip ramah lingkungan dan Dengan melibatkan masyarakat dalam setiap tahap pembuatan produk dan memberi kesempatan kepada wisatawan untuk berpartisipasi. EcoBoo bertujuan untuk membuka peluang ekonomi baru yang berkelanjutan bagi warga sekitar, serta memperkenalkan lebih banyak orang pada pentingnya kearifan lokal dan pengelolaan alam yang bijaksana. Melalui kegiatan ini. Bamboe Wanadesa bukan hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga menjadi tempat di mana nilai-nilai kolaborasi, kreativitas, dan keberlanjutan berpadu dalam harmoni yang menginspirasi. Hal ini sejalan dengan visi IKN yang mengutamakan pembangunan yang berkelanjutan, berbasis teknologi, dan inklusif. Selain itu, pengembangan produk ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 bambu inovatif yang dihasilkan dari workshop ini dapat memperkaya produk lokal yang dapat dipasarkan secara luas, mendukung sektor ekonomi kreatif di IKN, dan memperkuat branding kawasan ekowisata di Kalimantan Timur. Dengan mengoptimalkan potensi sumber daya alam dan budaya lokal. Bamboe Wanadesa dapat menjadi contoh sukses dalam menciptakan industri berbasis potensi lokal yang berkelanjutan, selaras dengan tujuan pembangunan IKN yang mengutamakan keberlanjutan, kualitas hidup, dan keterlibatan masyarakat dalam setiap aspek pembangunan. METODE Pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan potensi lokal menuntut pendekatan yang tidak hanya bersifat top-down, tetapi juga kolaboratif dan berkelanjutan (Handini et al. , 2. Dalam konteks pengembangan ekowisata berbasis bambu, keterlibatan aktif masyarakat menjadi kunci utama agar nilai-nilai kearifan lokal dapat diolah menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang autentik (Vuspitasari et al. , 2. Oleh karena itu, diperlukan suatu metode pelaksanaan kegiatan yang terstruktur, bertahap, dan responsif terhadap kebutuhan serta kapasitas masyarakat. Metode yang digunakan dalam program ini adalah metode demonstrasi dan workshop, yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan praktis. Mendorong partisipasi aktif, dan membangun kolaborasi antar masyarakat (Zunaidi, 2. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dalam tiga tahap utama, meliputi: . analisis situasi untuk memetakan permasalahan yang dihadapi mitra, . penyelenggaraan program pelatihan sebagai solusi terhadap permasalahan tersebut, dan . evaluasi untuk menilai capaian serta dampak kegiatan. Waktu dan tempat Program pengabdian kepada masyarakat dengan judul EcoBoo: Inovasi Produk Bambu melalui Workshop Berbasis Pemberdayaan Masyarakat sebagai Pilar Branding dilaksanakan di wilayah Ekowisata Bamboe Wanadesa Balikpapan pada bulan AprilSeptember 2025. Sasaran Utama Kegiatan EcoBoo bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat sekitar Ekowisata Bamboe Wanadesa Balikpapan melalui pelatihan pengolahan bambu, fotografi dan branding produk, serta manajemen usaha sehingga mereka mampu menghasilkan produk bambu berkualitas yang memiliki nilai jual dan memperkuat identitas kawasan sebagai destinasi ekowisata berkelanjutan. Kegiatan ini juga bertujuan menciptakan pengalaman wisata berbasis edukasi dengan melibatkan pengunjung secara langsung dalam proses pembuatan produk bambu, sehingga nilai budaya dan kearifan lokal dapat tersampaikan secara lebih efektif. Sasaran utama kegiatan ini adalah kelompok sadar wisata (Pokdarwi. dan masyarakat sekitar ekowisata yang berpotensi menjadi pelaku usaha kreatif, fasilitator workshop, dan penggerak branding Bamboe Wanadesa, sehingga mampu menciptakan dampak ekonomi, sosial, dan budaya yang berkelanjutan. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data pada program EcoBoo dilaksanakan secara sistematis melalui beberapa tahapan yang disesuaikan dengan tujuan kegiatan, yaitu: Analisis Kebutuhan Mitra Pada tahap awal dilakukan pemetaan kebutuhan melalui wawancara dan diskusi kelompok terarah (FGD) dengan mitra utama, yaitu Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwi. dan http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 perwakilan masyarakat. Tujuannya adalah mengidentifikasi potensi bambu, tingkat pengetahuan awal, permasalahan yang dihadapi, serta harapan mitra terhadap pengembangan ekowisata. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif untuk menjadi dasar perancangan program pelatihan. Pelatihan Pengembangan Produk Bambu Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, catatan lapangan, dan dokumentasi proses pelatihan. Selain itu dilakukan pengukuran ketercapaian pemahaman teknis peserta melalui kuesioner pre-test dan post-test yang mencakup pengetahuan tentang pemilihan bambu, teknik pembelahan, pengawetan, perakitan, dan evaluasi kualitas produk yang . Pelatihan Foto dan Branding Produk Selama pelatihan, data dikumpulkan melalui hasil praktik foto produk, penugasan pembuatan identitas visual sederhana, dan penyusunan katalog produk digital. Evaluasi pengetahuan dilakukan menggunakan kuesioner post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman tentang prinsip fotografi produk, elemen branding, dan storytelling produk. Pelatihan Manajemen Usaha Pada tahap ini data dikumpulkan melalui observasi diskusi, hasil latihan pencatatan keuangan sederhana, rencana produksi yang disusun peserta, serta strategi pemasaran digital yang dihasilkan. Selain itu, wawancara singkat dilakukan untuk mengetahui kesiapan peserta dalam menerapkan materi pelatihan secara mandiri. Metode Pelaksanaan Pelaksanaan program ini dirancang secara sistematis melalui enam tahapan utama, yang saling berkaitan dan membentuk alur kegiatan yang berkesinambungan. Tahapantahapan ini tidak hanya bersifat linier, tetapi juga mengakomodasi ruang refleksi dan penyesuaian berdasarkan dinamika di lapangan. Tahap persiapan dan perencanaan Tahapan awal ini berfokus pada pemetaan kebutuhan dan potensi masyarakat, khususnya kelompok sadar wisata (Pokdarwi. di lokasi kegiatan. Proses identifikasi peserta dilakukan melalui koordinasi dengan pihak desa, dilanjutkan dengan diskusi untuk menggali ide produk bambu yang relevan dengan karakter lokal. Selain itu, tim pelaksana juga menyiapkan bahan, alat, serta menyusun rencana teknis secara rinci untuk memastikan kelancaran tahap-tahap berikutnya. Identifikasi kebutuhan mitra dalam pengolahan produk bambu Memanfaatkan pendekatan partisipatif (FGD / diskusi kelompo. dengan mitra masyarakat dan pelaku usaha kreatif di sekitar Bamboe Wanadesa untuk menggali: teknik pengolahan bambu yang sudah dimiliki, kendala, keinginan inovasi produk, dan aspek branding/manajemen usaha. Pengembangan Solusi Inovasi Produk Bambu Berdasarkan kebutuhan mitra, desain produk bambu dikembangkan: prototipe produk baru yang estetis dan fungsional, variasi bentuk dan finishing, penggunaan pewarna atau teknik inovatif yang cocok secara lokal. Juga termasuk pengembangan identitas visual . , packaging, dan strategi penyajian produk. Pelaksanaan Workshop dan Pelatihan Membagi pelatihan dalam modul yang mencakup: teknik pengolahan bambu, fotografi produk dan branding, manajemen usaha . encatatan keuangan, rencana produksi. ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 pemasaran digita. Diselenggarakan melalui workshop langsung, praktik lapangan, mentoring dan simulasi. dan dokumentasi praktik sebagai teknik pengumpulan data dan . Tahap evaluasi Evaluasi pelaksanaan program dilakukan secara menyeluruh untuk mengukur efektivitas setiap tahapan kegiatan serta dampak yang ditimbulkan terhadap peserta dan Evaluasi ini dilakukan melalui beberapa pendekatan, antara lain: observasi langsung selama kegiatan berlangsung, pengisian kuesioner oleh peserta, serta sesi diskusi reflektif bersama masyarakat dan tim pelaksana. Keberlanjutan Program di Lapangan Untuk memastikan keberlanjutan program setelah kegiatan selesai, beberapa langkah strategis diterapkan. Pertama, masyarakatAikhususnya PokdarwisAidiberdayakan sejak awal melalui pelatihan yang menekankan pada keterampilan praktis dan kemandirian. Kedua, konsep EcoBoo dirancang sebagai model kegiatan wisata yang dapat direplikasi secara mandiri oleh masyarakat tanpa ketergantungan pada tim pelaksana. Ketiga, materi pelatihan dan dokumentasi kegiatan disusun dalam bentuk panduan sederhana yang dapat digunakan sebagai referensi ke depannya. Terakhir, promosi berkelanjutan melalui media sosial yang dikelola oleh komunitas lokal didorong sebagai upaya memperkuat branding dan menarik wisatawan secara konsisten. Dengan strategi ini. EcoBoo tidak hanya menjadi sebuah program sesaat, tetapi sebuah inisiatif yang tumbuh dan berkembang dalam struktur sosial dan ekonomi masyarakat setempat. HASIL Pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat ini berlangsung selama delapan bulan dengan melibatkan kelompok sadar wisata (Pokdarwi. sebagai mitra utama. Pada tahap persiapan dan perencanaan, dilakukan identifikasi kebutuhan, pemetaan potensi bambu, dan penyusunan rencana teknis yang disepakati bersama mitra. Hasil tahap ini adalah terbentuknya kelompok peserta berjumlah keseluruhan 25 anggota yang siap mengikuti pelatihan serta rencana produk bambu yang relevan dengan identitas lokal Bamboe Wanadesa. Gambar 1. Proses koordinasi bersama stakeholder Program ini menggunakan pendekatan partisipatif dengan metode demonstrasi dan workshop, yang dirancang untuk meningkatkan keterampilan praktis, mendorong http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 partisipasi aktif, dan membangun kolaborasi antaranggota masyarakat. Penyusunan metode berangkat dari identifikasi permasalahan prioritas yang mencakup tiga aspek utama: produksi, manajemen usaha, dan pemasaran (Gambar . Gambar 2. Skema Aspek Permasalahan Prioritas Pelatihan Pengembangan Produk Bambu Tahap awal pelatihan berfokus pada keterampilan teknis pengolahan bambu. Peserta dilatih mulai dari pemilihan bambu berkualitas, teknik pembelahan, pengawetan, penyerutan, hingga perakitan produk sederhana. Hasil kegiatan ini berupa kemampuan peserta memproduksi beberapa jenis produk fungsional seperti tatakan gelas, vas mini, dan gantungan kunci. Produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang cukup baik dan siap digunakan sebagai cenderamata di kawasan ekowisata. Selain itu, pelatihan ini meningkatkan rasa percaya diri peserta dalam memanfaatkan potensi bambu sebagai sumber pendapatan baru. Pemaparan materi . Demonstrasi produk . Praktik pembuatan produk Gambar 3. Proses pelatihan pengambangan produk bambu ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 . Keranjang . Mangkuk . Klakat . Wadah sendok Gambar 4. Produk pelatihan anyaman bambu Pelatihan Foto dan Branding Produk Tahap berikutnya adalah pelatihan foto produk dan strategi branding visual. Peserta dikenalkan pada teknik fotografi sederhana menggunakan smartphone untuk menghasilkan dokumentasi produk yang menarik. Selain itu, mereka juga belajar tentang prinsip dasar branding, termasuk pembuatan logo sederhana dan storytelling produk yang menonjolkan nilai keberlanjutan. Hasil dari tahap ini adalah tersusunnya identitas visual dasar untuk produk bambu dan pembuatan katalog produk digital sederhana yang dapat dipublikasikan melalui media sosial. Pemaparan materi branding . Workshop foto produk . Workshop Editing Canva Gambar 5. Proses pelatihan foto dan branding produk Pelatihan Manajemen Usaha Tahap terakhir difokuskan pada peningkatan kapasitas manajerial peserta. Materi yang diberikan meliputi perencanaan produksi, pencatatan keuangan sederhana, hingga strategi pemasaran digital. Hasilnya, masyarakat mulai menerapkan sistem pencatatan transaksi dan mampu membuat perencanaan produksi untuk memenuhi permintaan Selain itu, peserta memahami pentingnya konsistensi kualitas produk dan manajemen stok agar usaha dapat berjalan secara berkelanjutan. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 Gambar 6. Proses pelatihan manajemen usaha Untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta, tim pelaksana melaksanakan pengumpulan data melalui penyebaran kuesioner kepada seluruh peserta pelatihan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan pendekatan statistik deskriptif untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai perubahan tingkat pemahaman. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan yang cukup signifikan antara hasil pre-test yang dilakukan sebelum kegiatan dan post-test setelah pelatihan berakhir. Penggunaan instrumen kuesioner memungkinkan penilaian yang objektif terhadap efektivitas program dalam meningkatkan kapasitas peserta. Ringkasan hasil evaluasi disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Rekapitulasi hasil pre-test tingkat pemahaman peserta pelatihan STS Indikator Budidaya dan SS (Sangat No Pengolahan Produk Lebah (Sangat (Cukup (Tidak (Setuj. Tidak Kelulut Setuj. Setuj. Setuj. Setuj. Peserta bambu berkualitas. Peserta dapat menjelaskan tahapan dasar pengolahan Peserta produk bambu sederhana. Peserta menjelaskan teknik dasar foto produk. Peserta menjelaskan arti identitas visual produk. Peserta menyebutkan manfaat dan contoh katalog produk. ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 Peserta Peserta perencanaan produksi. Peserta pemasaran digital produk. Tabel 2. Rekapitulasi hasil post-test tingkat pemahaman peserta pelatihan STS Indikator Budidaya dan SS (Sangat No Pengolahan Produk Lebah (Sangat (Cukup (Tidak (Setuj. Tidak Kelulut Setuj. Setuj. Setuj. Setuj. Peserta dapat menyebutkan kriteria bambu berkualitas. Peserta Peserta dapat menyebutkan contoh produk bambu sederhana. Peserta mampu menjelaskan teknik dasar foto produk. Peserta mampu menjelaskan arti identitas visual produk. Peserta dapat menyebutkan 21 manfaat dan contoh katalog Peserta mampu menjelaskan manfaat pencatatan keuangan Peserta mampu menjelaskan Peserta dapat menyebutkan Berdasarkan hasil analisis statistik, pada tahap pre-test ditemukan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang rendah terkait pengolahan bambu, fotografi dan branding produk, serta manajemen usaha. Sebanyak 72% peserta berada pada kategori pengetahuan sangat rendah, sementara 20% tidak memiliki pengetahuan sama sekali mengenai topik yang dilatihkan. Hanya 8% peserta yang menunjukkan pemahaman http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 yang cukup terhadap materi tersebut. Temuan ini mengindikasikan bahwa sebelum pelatihan dilaksanakan, tingkat pemahaman masyarakat sasaran masih sangat terbatas pada ketiga aspek yang menjadi fokus kegiatan. TINGKAT PENGETAHUAN PESERTA TERKAIT WORKSHOP INOVASI PRODUK BAMBU Memiliki pengetahuan rendah Tidak mengetahui sama sekali Memiliki pemahaman yang cukup Gambar 7. Diagram tingkat pengetahuan peserta terkait workshop inovasi produk bambu Setelah pelatihan dilaksanakan, terjadi peningkatan yang signifikan pada tingkat pemahaman peserta. Hasil analisis statistik pada tahap post-test menunjukkan kenaikan rata-rata skor sebesar 84% dibandingkan dengan hasil pre-test. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa peserta berhasil menguasai materi pelatihan dengan lebih baik, mencakup aspek pengembangan produk bambu, fotografi dan branding produk, serta manajemen usaha. Hasil ini juga menunjukkan keberhasilan program dalam memperkuat kapasitas masyarakat, terutama dalam mengembangkan strategi pemasaran yang mendukung branding Ekowisata Bamboe Wanadesa Balikpapan. DISKUSI