Journal Julika: Jurnal ilmu Komunikasi Volume 1. No. Desember 2024, pp. x-xx SIMBOL-SIMBOL KOMUNIKASI PADA KAPAL MOTOR PENYEBERANGAN (KMP) BRR Nur. Hamdani AG. Lerry Haryono Program Studi Ilmu Komunikasi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Iskandar Muda. Banda Aceh. Indonesia Gmail: mnur910@gmail. Gmail : hamdani_ag71@gmail. Abstrack Nonverbal communication through symbols plays an important role in the operation of passenger ships, including KMP BRR. These symbols are used to convey information to passengers in various situations, such as during departure preparation, during the voyage, and the docking process. This study aims to identify and analyze the effectiveness of communication symbols used on the ship and to understand the extent to which these symbols are understood by passengers. Using a qualitative approach, data were collected through participatory observation, in-depth interviews with six informants, and documentation, which were analyzed using an interactive model from Matthew B. Miles and Michael Huberman. The results of the study indicate that nonverbal communication on KMP BRR is still not optimal. Some passengers have difficulty understanding the communication symbols used, such as visual signs, crew gestures, and codes based on lights, sirens, and flags. These symbols are not yet fully effective due to the lack of understanding among passengers and minimal socialization regarding the meaning of the symbols. Therefore, efforts are needed to improve the nonverbal communication system on the ship, including strengthening socialization, improving symbols, and using other supporting media so that messages can be conveyed more clearly and effectively. Keywords: Communication Symbols. KMP BRR. Nonverbal Communication Abstrak Komunikasi nonverbal melalui simbol memegang peran penting dalam operasional kapal penumpang, termasuk KMP BRR. Simbol-simbol ini digunakan untuk menyampaikan informasi kepada penumpang dalam berbagai situasi, seperti saat persiapan keberangkatan, selama pelayaran, hingga proses sandar. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis efektivitas simbol-simbol komunikasi yang digunakan di kapal serta memahami sejauh mana simbol-simbol tersebut dipahami oleh Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan enam informan, dan dokumentasi, yang dianalisis menggunakan model interaktif dari Matthew B. Miles dan Michael Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi nonverbal di KMP BRR masih belum optimal. Beberapa penumpang mengalami kesulitan dalam memahami simbol-simbol komunikasi yang digunakan, seperti tanda-tanda visual, gestur awak kapal, serta kode berbasis lampu, sirene, dan bendera. Simbol-simbol tersebut belum sepenuhnya efektif karena kurangnya pemahaman di kalangan penumpang dan minimnya sosialisasi mengenai makna simbol. Oleh karena itu, diperlukan upaya perbaikan dalam sistem komunikasi nonverbal di kapal, termasuk penguatan sosialisasi, penyempurnaan simbol, serta penggunaan media pendukung lainnya agar pesan dapat tersampaikan dengan lebih jelas dan efektif. Kata kunci: Simbol-Simbol Komunikasi. KMP BRR. Komunikasi Nonverbal PENDAHULUAN Aceh, yang terletak di ujung Pulau Sumatera dan dikelilingi oleh Samudera Hindia serta Selat Malaka, memiliki banyak wilayah kepulauan yang membutuhkan transportasi laut sebagai penghubung utama. JULIKA: Jurnal Ilmu Komunikasi. Volume 1. No. Desember 2024, hal. Kapal penumpang menjadi sarana transportasi vital bagi masyarakat yang ingin berpindah dari satu pulau ke pulau lainnya. Salah satu kapal yang beroperasi dalam rute penyeberangan adalah Kapal Motor Penyeberangan (KMP) BRR. Dalam operasionalnya, kapal ini menggunakan berbagai simbol komunikasi nonverbal untuk menyampaikan informasi kepada penumpang, terutama dalam konteks keselamatan dan kelancaran perjalanan. Sebagai makhluk sosial, manusia menggunakan berbagai simbol dalam kehidupan sehari-hari untuk Simbol, menurut Inah . , membantu manusia mengatasi batasan jarak dan waktu dalam komunikasi. Dalam kajian semiotika. Ferdinand de Saussure menjelaskan bahwa simbol memiliki hubungan arbitrer antara penanda dan petanda yang dipengaruhi oleh sejarah serta pengalaman manusia. Oleh karena itu, pemahaman terhadap simbol sangat penting, terutama dalam konteks transportasi laut, di mana komunikasi verbal sering kali tidak memungkinkan. Dalam pelayaran KMP BRR, simbol komunikasi yang digunakan meliputi bunyi klakson, lampulampu navigasi, dan bendera isyarat. Misalnya, bunyi klakson pertama memberi tanda bahwa penumpang dapat mulai memasuki kapal, sementara bunyi klakson kedua menandakan persiapan Namun, dalam praktiknya, tidak semua penumpang memahami simbol-simbol ini dengan baik. Kurangnya pemahaman terhadap simbol komunikasi dapat menyebabkan kebingungan, bahkan berpotensi mengancam keselamatan dalam situasi darurat. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi simbol-simbol komunikasi yang digunakan pada KMP BRR serta mengidentifikasi sejauh mana simbol-simbol tersebut dipahami oleh penumpang. Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan sistem komunikasi nonverbal dalam transportasi laut, sehingga dapat meningkatkan keselamatan dan efisiensi perjalanan. Landasan Teori Simbol Simbol atau lambang adalah sesuatu yang digunakan untuk mewakili makna lain berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Simbol mencakup kata-kata . esan verba. , perilaku nonverbal, dan objek dengan makna yang disepakati (Mulyana, 2012: . Menurut Harusatoto . , simbol adalah perantara pemahaman antara subjek dan objek, berasal dari kata Yunani Sumballo yang berarti Simbol dapat dipahami dari dua perspektif: sebagai sesuatu yang imanen dalam dimensi horisontal dan sebagai sesuatu yang transenden dengan dimensi vertikal-metafisik (Daeng, 2010: . Media, berasal dari kata Latin medium, berarti saluran atau alat penghantar (Mudjiono, 2012: . Media berfungsi sebagai sarana dalam proses penyampaian lambang-lambang atau simbol. Susanto . menjelaskan bahwa media adalah alat perantara yang digunakan dalam komunikasi, baik itu bahasa, benda, warna, suara, atau tindakan yang merupakan simbol-simbol budaya. Dalam konteks budaya Aceh, yang telah terbina selama berabad-abad, simbol-simbol budaya SIMBOL-SIMBOL KOMUNIKASI PADA KAPAL MOTOR PENYEBERANGAN (KMP) BRR Nur. Hamdani AG. Lerry Haryono digunakan sebagai alat penghantar untuk menyampaikan nilai-nilai yang adi luhung. Alat penghantar ini mencakup berbagai bentuk simbol yang secara mendalam dipahami oleh masyarakat Aceh sebagai bagian integral dari kehidupan dan komunikasi budaya mereka (Mudjiono, 2012: . Komunikasi Komunikasi adalah inti dari semua hubungan sosial, karena melalui sistem komunikasi, orang dapat mempererat hubungan, mengurangi ketegangan, atau menyelesaikan persengketaan. Definisi komunikasi bervariasi tergantung pada sudut pandang. Menurut Sutaryo . , komunikasi adalah proses interaksi sosial di mana orang menyusun makna dan bertukar cerita melalui simbol-simbol. Carey menambahkan bahwa komunikasi juga bisa dipahami sebagai proses ritual yang mengelola masyarakat melalui pertukaran keyakinan. Menurut Saundra Hybels dan Richard L. Weafer II . alam Liliweri, 2. , komunikasi adalah proses pertukaran informasi, gagasan, dan perasaan, yang dapat dilakukan secara lisan, tulisan, bahasa tubuh, gaya, penampilan diri, atau menggunakan alat bantu. Proses ini bukan hanya sekedar pengiriman pesan, tetapi juga cara memperkaya pesan melalui berbagai simbol dan alat bantu yang ada di sekeliling kita. Proses komunikasi bersifat terus-menerus dan berkesinambungan, terbagi menjadi dua yaitu komunikasi primer dan sekunder. Komunikasi primer terjadi tanpa alat bantu, biasanya dalam bentuk komunikasi antar personal di mana dua orang saling berhadapan dan berinteraksi langsung. Komunikasi sekunder, di sisi lain, melibatkan penggunaan alat atau media sebagai sarana tambahan setelah lambang atau bahasa digunakan sebagai media pertama. Proses ini bertujuan untuk mengatasi hambatan geografis dan memungkinkan penyampaian pesan yang lebih luas dan efektif. Komunikasi Nonverbal Semua orang secara alami melakukan komunikasi nonverbal, sering kali tanpa disadari. Isyarat seperti gerakan tangan, kontak mata, dan perubahan posisi tubuh sering dianggap acak, namun sebenarnya memiliki makna. Komunikasi nonverbal ini melibatkan penciptaan dan pertukaran pesan tanpa katakata, menggunakan gerakan tubuh, sikap, ekspresi wajah, dan kontak mata. Menurut Hariandja . , komunikasi nonverbal melengkapi pesan verbal dan membantu memperjelas makna yang Penelitian menunjukkan bahwa gerakan tubuh memiliki makna dalam konteks tertentu dan dapat menjadi sistem isyarat yang hampir sekomprehensif bahasa. Setiap budaya memiliki bahasa tubuhnya sendiri, yang diserap sejak kecil bersama bahasa verbal. Bahasa tubuh ini sering kali melengkapi komunikasi verbal, mengekspresikan sisi emosional dari pesan. Salah satu aspek penting dari bahasa tubuh adalah perilaku mata, yang dapat memberi makna tertentu melalui gerakan atau tatapan. JULIKA: Jurnal Ilmu Komunikasi. Volume 1. No. Desember 2024, hal. Menurut Ekman dalam Maulana . , ada enam fungsi utama komunikasi nonverbal: menekankan, melengkapi, menunjukkan kontradiksi, mengatur, mengulangi, dan menggantikan pesan verbal. Misalnya, tersenyum untuk menekankan sebuah pesan, atau menggelengkan kepala untuk menunjukkan ketidaksetujuan. Semiotika Komunikasi Semiotika, atau semiologi menurut Roland Barthes, mempelajari bagaimana manusia memberikan makna pada berbagai hal. Memaknai berbeda dari mengkomunikasikan, di mana objek tidak hanya menyampaikan informasi tetapi juga membentuk sistem tanda yang terstruktur. Semiotika merupakan ilmu atau metode untuk menganalisis tanda, yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dan memahami dunia. Kajian semiotika dibagi menjadi dua jenis: semiotika komunikasi dan semiotika signifikasi. Semiotika komunikasi menekankan produksi tanda, sementara semiotika signifikasi fokus pada pemahaman tanda dalam konteks tertentu. Dalam semiotika, tanda memiliki makna yang berhubungan dengan objek atau ide yang direpresentasikan. Strukturalisme melihat dunia sebagai realitas yang berstruktur. Tokoh-tokoh seperti Claude Levy Strauss. Sigmund Freud. Karl Marx, dan Ferdinand de Saussure memainkan peran penting dalam mengembangkan strukturalisme. Metode utama strukturalisme adalah semiotika, yang menganggap setiap ekspresi budaya sebagai bagian dari sistem yang lebih luas. Teori Interaksi Simbolik Teori interaksionisme simbolik mencoba memahami perilaku manusia dari perspektif subjek. Menurut teori ini, kehidupan sosial adalah interaksi manusia menggunakan simbol-simbol, dan makna yang muncul dari interaksi tersebut mempengaruhi perilaku. Interaksi dianggap sebagai variabel penting yang menentukan perilaku manusia, dengan individu mengembangkan potensi melalui interaksi sosial, terutama melalui pengambilan peran orang lain. Model komunikasi satu tahap . ne step flo. menjelaskan komunikasi langsung dengan komunikan tanpa perantara, namun pesan tersebut tidak selalu mencapai semua komunikan atau menghasilkan efek yang sama pada setiap individu. Pembahasan Penelitian yang Relevan Dasrita. Efektivitas Penggunaan Simbol Komunikasi Nonverbal Dalam Tradisi Perkawinan (Studi di Gampong Paya Laba Kec. Kluet Timur Kab. Aceh Selata. Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh. Asih Saputri. Komunikasi Simbolik dalam Upacara Pernikahan Adat Suku Rejang di Desa Rimbo Pengadang Kabupaten Lebong. Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Jurusan SIMBOL-SIMBOL KOMUNIKASI PADA KAPAL MOTOR PENYEBERANGAN (KMP) BRR Nur. Hamdani AG. Lerry Haryono Dakwah Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu. Hurhaliah. Makna Simbol-Simbol Komunikasi Budaya pada Prosesi Pernikahan Keluarga Bangsawan Bugis di Kabupaten Wajo. Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Makassar. Dengan memahami teori dan penelitian yang relevan, kita dapat menggali lebih dalam tentang bagaimana simbol-simbol komunikasi diterapkan dalam konteks KMP BRRA. Studi lebih lanjut dapat mengeksplorasi bagaimana simbol digunakan untuk komunikasi antara kru, penumpang, dan pihak terkait dalam operasional kapal penyeberangan. METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Pendekatan ini bertujuan untuk menggambarkan secara faktual dan akurat penggunaan simbol komunikasi dalam kegiatan pelayaran di Kapal Motor Penyeberangan (KMP) BRR. Dengan pendekatan ini, penelitian dapat melukiskan karakteristik komunikasi yang terjadi di kapal secara sistematis dan mendalam. Metode deskriptif dipilih karena memungkinkan peneliti untuk menginterpretasikan data secara kualitatif berdasarkan observasi langsung, wawancara, dan dokumentasi. Fokus Penelitian Fokus penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis simbol-simbol komunikasi yang digunakan di KMP BRR. Simbol-simbol ini mencakup komunikasi non-verbal seperti isyarat tangan, ekspresi wajah, serta semiotika yang melibatkan lampu navigasi, sirine, bendera, dan bunyi klakson Selain itu, penelitian juga menyoroti interaksi simbolik antara awak kapal dan penumpang dalam berbagai situasi selama pelayaran, termasuk saat kapal berlabuh, berlayar, dan melakukan prosedur keselamatan. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di KMP BRR yang beroperasi sebagai kapal penyeberangan di wilayah Lokasi ini dipilih karena belum banyak penelitian yang secara khusus meneliti simbol komunikasi yang digunakan dalam aktivitas pelayaran kapal penyeberangan di daerah tersebut. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi dalam mengisi kesenjangan penelitian mengenai komunikasi simbolik dalam konteks maritim. Jenis dan Sumber Data JULIKA: Jurnal Ilmu Komunikasi. Volume 1. No. Desember 2024, hal. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif yang diperoleh dari dua sumber utama, yaitu: Data Primer Ae Data yang diperoleh langsung dari informan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif. Informan terdiri dari awak kapal dan penumpang yang memiliki pengalaman langsung terkait simbol komunikasi di kapal. Data Sekunder Ae Data yang diperoleh dari dokumen terkait, seperti prosedur operasional kapal, buku panduan navigasi, dan referensi akademik tentang simbol komunikasi dalam dunia maritim. Teknik Penentuan Informan Informan dalam penelitian ini dipilih menggunakan teknik purposive sampling, di mana peneliti menentukan individu yang dianggap memiliki pemahaman mendalam mengenai simbol komunikasi di Informan terdiri dari enam orang yang terbagi dalam dua kelompok, yaitu: Tiga awak kapal, yang meliputi kapten, petugas navigasi, dan petugas keselamatan. Mereka dipilih karena memiliki pemahaman yang lebih teknis mengenai simbol-simbol komunikasi di kapal. Tiga penumpang, yang memiliki pengalaman dalam menggunakan jasa kapal penyeberangan dan memahami interaksi simbolik yang terjadi selama perjalanan. Teknik Pengumpulan Data Data dikumpulkan menggunakan beberapa teknik berikut: Observasi Partisipatif Ae Peneliti secara langsung mengamati penggunaan simbol komunikasi selama pelayaran, seperti bagaimana awak kapal berkomunikasi menggunakan isyarat tangan atau bunyi sirine dalam situasi tertentu. Wawancara Mendalam Ae Dilakukan kepada awak kapal dan penumpang untuk memperoleh informasi tentang makna simbol yang digunakan serta bagaimana simbol tersebut dipahami oleh berbagai pihak. Dokumentasi Ae Mengumpulkan berbagai dokumen yang berkaitan dengan aturan dan simbol komunikasi di kapal, termasuk literatur, peraturan maritim, dan referensi akademik. Teknik Analisis Data Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman . , yang terdiri dari tiga tahap utama: Reduksi Data Ae Menyeleksi, menyederhanakan, dan mengorganisasi data agar lebih mudah dianalisis. Hanya data yang relevan dengan simbol komunikasi yang akan digunakan dalam penelitian ini. Penyajian Data Ae Data yang telah direduksi disajikan dalam bentuk deskripsi naratif, tabel, atau diagram untuk memperjelas hubungan antara simbol komunikasi dan maknanya dalam konteks SIMBOL-SIMBOL KOMUNIKASI PADA KAPAL MOTOR PENYEBERANGAN (KMP) BRR Nur. Hamdani AG. Lerry Haryono Penarikan Kesimpulan Ae Setelah data dianalisis, penelitian akan menarik kesimpulan berdasarkan temuan yang telah diperoleh, termasuk bagaimana simbol komunikasi mempengaruhi interaksi di KMP BRR. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data Untuk memastikan validitas dan reliabilitas data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi, yang Triangulasi Sumber Ae Membandingkan informasi dari berbagai informan untuk mendapatkan data yang lebih akurat dan objektif. Triangulasi Metode Ae Menggunakan berbagai metode pengumpulan data . bservasi, wawancara, dan dokumentas. untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif. Triangulasi Waktu Ae Melakukan observasi dan wawancara dalam beberapa tahap waktu yang berbeda untuk melihat konsistensi data yang diperoleh. Dengan metode yang sistematis dan triangulasi yang ketat, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam tentang simbol komunikasi yang digunakan di KMP BRR serta bagaimana simbol tersebut mempengaruhi dinamika komunikasi selama pelayaran. HASIL PENELITIAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian Sejarah KMP BRR Setelah bencana tsunami Aceh 2004, pemerintah melalui Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias melaksanakan berbagai pembangunan kembali infrastruktur, termasuk sektor transportasi. Salah satu proyek penting dalam upaya pemulihan ini adalah pembangunan Kapal Motor Penyeberangan (KMP) BRR yang diperuntukkan bagi rute Ulee Lheue Ae Balohan. Kapal ini dibangun dengan anggaran tahun 2007-2008 sebesar Rp26,4 miliar dan diresmikan pada 23 Februari 2009 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Setelah aset kapal diserahkan kepada Pemerintah Aceh. KMP BRR telah berkontribusi secara signifikan dalam sektor transportasi, perekonomian, dan pariwisata. Kapal ini juga memberikan dampak positif terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Aceh. Visi dan Misi KMP BRR Visi: Menjadi pelopor dalam pelayaran yang mengutamakan keselamatan, kualitas, serta sumber daya manusia (SDM) yang profesional untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. JULIKA: Jurnal Ilmu Komunikasi. Volume 1. No. Desember 2024, hal. Misi: Memberikan pelayanan penyeberangan yang nyaman dan aman bagi penumpang. Memastikan efisiensi operasional kapal dalam mendukung mobilitas masyarakat. Mengembangkan dan meningkatkan kompetensi SDM dalam industri pelayaran. Menjalin kemitraan dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kualitas layanan. Hasil Penelitian Proses Komunikasi yang Dilakukan oleh KMP BRR saat Pelayaran Komunikasi Nonverbal KMP BRR memanfaatkan komunikasi nonverbal untuk menyampaikan informasi kepada penumpang, terutama melalui simbol dan lambang yang mudah dipahami. Namun, efektivitas komunikasi ini belum optimal, karena masih banyak penumpang yang belum memahami pesan yang disampaikan melalui simbol dan isyarat. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan penggunaan dan pemahaman komunikasi nonverbal agar lebih efektif dan dapat diakses oleh semua penumpang. Semiotika Komunikasi Semiotika komunikasi di KMP BRR diterapkan melalui berbagai tanda, seperti bendera, sirene, dan lampu navigasi. Simbol-simbol ini berfungsi untuk memberikan petunjuk kepada penumpang dan kru kapal mengenai berbagai kondisi selama pelayaran. Namun, kurangnya pemahaman masyarakat terhadap makna simbol-simbol ini menyebabkan efektivitas komunikasi menjadi berkurang. Oleh sebab itu, perlu adanya sosialisasi yang lebih baik mengenai makna simbol-simbol ini agar pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik oleh seluruh penumpang. Interaksi Simbolik Interaksi simbolik di KMP BRR melibatkan penggunaan simbol dan lambang untuk menyampaikan informasi kepada penumpang. Namun, masih banyak penumpang yang mengalami kesulitan dalam memahami simbol-simbol ini, yang menunjukkan bahwa efektivitas komunikasi simbolik masih perlu Pemahaman yang lebih baik terhadap simbol-simbol komunikasi dapat membantu penumpang dalam menavigasi perjalanan mereka dengan lebih mudah dan nyaman. Simbol-Simbol Komunikasi yang Digunakan oleh KMP BRR Selama Pelayaran Lampu Navigasi Lampu navigasi digunakan sebagai alat komunikasi antara kapal dengan kapal lain serta dengan Namun, dengan adanya kemajuan teknologi seperti GPS, penggunaan lampu navigasi semakin berkurang. Meskipun demikian, lampu masih tetap digunakan dalam situasi darurat atau dalam kondisi visibilitas rendah. Oleh karena itu, pemahaman kru kapal dan penumpang tentang makna dan fungsi lampu navigasi perlu ditingkatkan agar tetap efektif sebagai alat komunikasi. Sirene Kapal SIMBOL-SIMBOL KOMUNIKASI PADA KAPAL MOTOR PENYEBERANGAN (KMP) BRR Nur. Hamdani AG. Lerry Haryono Sirene digunakan untuk memberikan tanda keberangkatan dan peringatan kepada penumpang serta kru Namun, masih banyak penumpang yang belum memahami arti dari setiap jenis bunyi sirene. Hal ini menyebabkan beberapa penumpang tertinggal kapal atau mengalami kebingungan saat sirene Oleh karena itu, diperlukan sosialisasi mengenai makna dan fungsi sirene kapal agar dapat digunakan dengan lebih efektif. Bendera Navigasi Bendera di KMP BRR digunakan untuk memberikan informasi tentang identitas kapal dan kondisi Namun, masih banyak penumpang yang belum memahami makna bendera tersebut. Padahal, bendera memiliki peran penting dalam komunikasi maritim, terutama dalam memberikan sinyal kepada kapal lain dan pelabuhan. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi bagi penumpang mengenai arti dan fungsi bendera navigasi. Pembahasan Hasil Penelitian Evaluasi Proses Komunikasi di KMP BRR Efektivitas Komunikasi Nonverbal Komunikasi nonverbal di KMP BRR masih belum sepenuhnya efektif dalam menyampaikan informasi kepada penumpang. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman penumpang terhadap simbolsimbol yang digunakan. Oleh karena itu, komunikasi nonverbal harus didukung dengan sosialisasi yang lebih baik agar lebih mudah dipahami oleh semua penumpang. Penerapan Semiotika Komunikasi Semiotika komunikasi yang diterapkan di KMP BRR belum efektif dalam menyampaikan informasi kepada penumpang. Oleh karena itu, simbol-simbol yang digunakan di kapal perlu lebih jelas dan mudah dimengerti agar dapat meningkatkan efektivitas komunikasi selama pelayaran. Interaksi Simbolik dalam Komunikasi Interaksi simbolik dalam komunikasi di KMP BRR belum berjalan optimal. Banyak penumpang yang tidak memahami simbol dan gerak tubuh yang digunakan oleh kru kapal dalam menyampaikan Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih sistematis dalam penyampaian informasi melalui simbol dan lambang di kapal. Evaluasi Simbol-Simbol Komunikasi di KMP BRR Penggunaan Lampu sebagai Simbol Komunikasi Lampu navigasi memiliki peran penting dalam komunikasi maritim. Namun, efektivitas penggunaannya semakin berkurang karena perkembangan teknologi yang lebih modern. Meskipun demikian, lampu tetap memiliki fungsi dalam situasi darurat. Oleh karena itu, penggunaannya perlu JULIKA: Jurnal Ilmu Komunikasi. Volume 1. No. Desember 2024, hal. tetap dipertahankan dengan memastikan bahwa semua pihak yang berkepentingan memahami makna dari sinyal yang diberikan. Peran Sirene dalam Komunikasi Kapal Sirene memiliki peran vital dalam memberikan peringatan dan informasi kepada penumpang. Namun, pemahaman penumpang terhadap makna sirene masih rendah. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi agar sirene dapat berfungsi secara efektif dalam menyampaikan pesan selama pelayaran. Signifikansi Bendera dalam Komunikasi Maritim Bendera memiliki peran penting dalam komunikasi kapal, tetapi masih kurang dipahami oleh Oleh karena itu, diperlukan edukasi yang lebih baik mengenai makna bendera agar penggunaannya lebih efektif dalam komunikasi maritim. KESIMPULAN Kesimpulan Proses komunikasi non-verbal di Kapal KMP BRR, seperti penggunaan simbol dan lambang, masih belum efektif dalam menyampaikan informasi kepada penumpang. Banyak penumpang yang kesulitan memahami simbol dan lambang yang digunakan, sehingga informasi yang disampaikan melalui komunikasi non-verbal tidak diterima dengan baik. Interaksi simbolik di kapal juga belum mampu memberikan informasi secara akurat, meskipun berbagai lambang dan gerak tubuh telah diterapkan untuk mempermudah pemahaman. Penggunaan simbol komunikasi seperti lampu, sirene, dan bendera di Kapal KMP BRR juga belum optimal. Penumpang masih mengalami kesulitan dalam memahami isyarat dari sirene, yang menyebabkan beberapa penumpang tertinggal. Selain itu, simbol bendera yang dipasang di kapal belum cukup diperhatikan oleh penumpang, sehingga tidak efektif sebagai sarana penyampaian informasi. Faktor lain yang mempengaruhi efektivitas komunikasi simbolik adalah kurangnya edukasi kepada penumpang mengenai makna simbol-simbol yang digunakan dalam Minimnya sosialisasi membuat sebagian besar penumpang tidak memiliki pemahaman yang cukup terhadap berbagai tanda yang digunakan dalam komunikasi Hal ini dapat berdampak pada keselamatan dan kenyamanan selama SIMBOL-SIMBOL KOMUNIKASI PADA KAPAL MOTOR PENYEBERANGAN (KMP) BRR Nur. Hamdani AG. Lerry Haryono Selain itu, desain simbol yang digunakan di kapal masih kurang menarik dan sulit dipahami oleh sebagian besar penumpang. Banyak simbol yang tidak dilengkapi membingungkan bagi mereka yang tidak terbiasa dengan simbol-simbol komunikasi Komunikasi antara kru kapal dan penumpang juga perlu ditingkatkan, terutama dalam hal pemberian informasi secara langsung kepada penumpang yang mungkin kesulitan memahami simbol dan isyarat non-verbal. Penggunaan media lain, seperti pengumuman suara atau papan informasi digital, dapat membantu meningkatkan efektivitas komunikasi. Saran