JURNAL AWILARAS ISSN Daring: 2407-6627 | E-ISSN 2988-4098 | Beranda Jurnal: https://jurnal. id/index. php/awilaras/index Desember 2024 Volume 11 Nomor 2 AuTene Simah KuetAy Reinterpretasi Kesenian Musik Tradisional Didong Ke dalam Komposisi Musik Karawitan Windi Simah Bengi1. Surya Rahman2. Rico Gusmanto3 Rizki Mona Dwi Putra4 Program Studi Karawitan. Jurusan Pertunjukan Institut Seni Budaya Indonesia Aceh Jl. Transmigrasi. Gampong Bukit Musara. Kec. Kota Jantho. Kabupaten Aceh Besar windikarawitan20@gmail. ABSTRAK AuTene Simah KuetAy adalah karya komposisi musik karawitan yang bersumber dari unsur musik regum/kode dalam kesenian Didong. Dalam kesenian didong, regum memiliki peran penting sebagai penanda berakhirnya permainan dalam pertunjukan. AuTene Simah KuetAy dapat diartikan sebagai tanda/penanda yang membawa kekuatan dalam bentuk perubahan tempo dan dinamika sebuah permainan. Dalam hal ini pengkarya menafsirkan regum pada kesenian Didong melalui pengembangan ke dalam bentuk ritme dan vokal. Karya AuTene Simah KuetAy terdiri atas satu kesatuan bagian karya yang mengaktualisasikan regum/kode dinamika forte dalam bagian karya. AuTene Simah KuetAy diaktualisasikan dengan menggunakan materi garap serta teknik atau istilah musik unison, call and respons, hocketing, dan dinamika. Karya ini digarap dengan menggunakan pendekatan garap reinterpretasi, dengan menjadikan regum dinamika keras dalam Didong ke dalam media bantal, vokal, body percussion dan stik kayu. Kata kunci: Didong. Dinamika. Forte, regum. Tene Simah Kuet ABSTRACT AuTene Simah KuetAy is a karawitan musical composition that originates from the regum/code music element in Didong art. In Didong art, regum plays an important role as a marker for the end of the game. AuTene Simah KuetAy can be interpreted as a sign/marker that carries power in the form of changes in tempo and dynamics of a game. In this case, the artist interprets Regum in Didong art through development into rhythm and vocal forms. The work AuTene Simah KuetAy consists of a single part of the work that actualizes the regum/code of forte dynamics in the work section. AuTene Simah KuetAy is actualized using the work material and techniques or musical terms of unison, call and response, hocketing, and This work is worked on using a reinterpretation work approach, by making the Jurnal Awilaras | 1 hard dynamic regum in Didong into pillows, vocals, body percussion and wooden sticks. Keywords: Didong. Dynamic. Forte, regum. Tene Simah Kuet PENDAHULUAN Didong adalah salah satu kesenian tradisional yang dimiliki oleh masyarakat suku Gayo Aceh Tengah, kata didong itu sendiri berasal dari kata AuDonangAy atau dalam bahasa gayo disebut dengan dendang. Kesenian didong dahulu dijadikan sebagai media dakwah dan pendidikan islam, pemikiran unsur islam dalam kesenian ini dapat ditinjau dari gerakan, syair, dan simbol-simbol yang terdapat dalam kesenian tersebut. Gerakan didong tersebut memiliki filosofi seperti orang yang sedang berdzikir dan dari segi lirik lagu yang banyak mengandung pengetahuan tentang ajaran agama islam (Melalatoa 1981, . Dalam hal ini dapat disimpulakan didong merupakan kesenian yang meyangkut dengan media untuk meyampaikan dakwah atau amanah yang bisa dapat dilihat dari syair, serta gerakan yang memiliki filosofi seperti orang yang sedang berzikir. Pelaku kesenian didong biasanya itu tidak ada batas maksimalnya. Jumlah pada umumnya itu sekitar 25 sampai 30 orang, semakin banyak yang memainkan maka hasilnya itu semakin indah. Pemain didong terdiri dari ceh, peningkah, kretek, tingkah bantal yang masing-masing berjumlah satu orang, sedangkan pemain yang lain tergabung dalam satu kelompok yang disebut dengan penunung. Ceh adalah bahasa Gayo yang memiliki arti sebagai vokalis. Ceh memiliki karakter suara yang indah (Mahdalena 1980, . Karakter suara ini tidak hanya bergantung kepada warna suara, namun juga harus menguasai bahasa Gayo dan ciri khas irama termasuk cengkok dan Selain ceh, terdapat juga peningkah dan kretek yang berperan dalam memainkan pola tepuk didong. Peningkah memainkan tepuk tangan dengan dua teknik, pertama yaitu seperti tepuk tangan biasa yang menghasilkan bunyi AutakAy, kedua tepuk tangan dengan cara satu tangan dikepal sehingga menghasilkan bunyi AububAy. Kretek memainkan Jurnal Awilaras | 2 tepuk tangan dengan cara menepuk seperti biasa yang menghasilkan bunyi AutakAy, namun berfungsi sebagai AupengisiAy dari pola yang dimainkan peningkah. Pemain selanjutnya disebut dengan tingkah bantal dan penunung yang memainkan tepukan pada suatu media berupa bantal kecil. Bantal kecil ini dipegang dan dipukul secara langsung dengan menggunakan tangan sehingga menghasilkan bunyi AubumAy. Seluruh tepukan yang dimainkan oleh peningkah, kretek, dan tingkah bantal dilakukan secara bersamaan namun dengan pola ritme yang berbeda-beda. Ritme yang berbeda, adalah pola tepukan yang dimainkan berbeda antara satu dengan yang lain dan dimainkan secara bersamaan. Menurut Anshari Jamal dan Muhammad Saleh, struktur didong pada umumnya terdiri dari sarek, tingkah awal, persalamen, lagu, dan penutup. Sarek merupakan bahasa Gayo yang memiliki arti jeritan perasaan lewat lengkingan-lengkingan suara yang Bagian sarek dilantunkan oleh ceh sebagai penanda bahwa permainan didong telah dimulai . awancara, 20 Desember 2. Setelah sarek selesai dilantunkan, dilanjutkan dengan tingkah awal. Tingkah awal adalah permainan yang memaikan empat pola yang berbeda yang dimaikan secara Permainan tingkah awal terdiri dari tingkah pumu, kretek, tingkah bantal, dan penunung. Bagian selanjutnya adalah persalamen atau salam ialah hal yang dilakukan oleh seorang ceh untuk meminta izin kepada reje kampung, masyarakat, dan para penonton. Pada bagian persalamen ini hanya menggunakan syair dan ayunan tangan yang diayunkan ke kiri dan ke kanan secara bersamaan tanpa terdapat tepukan. Setelah persalamen selesai dilanjutkan dengan lagu. Lagu pada didong berisikan tentang amanah, pantun, atau pesan-pesan yang sudah disusun sebelumnya oleh seorang ceh didong sebelum pertunjukkan dimulai. Pada bagian ini merupakan hal yang paling dinantikan oleh para penonton, seorang ceh didong akan memberikan lagu-lagu terbaik dengan ciri khas suara masing-masing pada setiap ceh didong, lagu yang dilantunkan diiringi oleh tepukan didong. Tingkah onom merupakan permainan tepukan yang sama dengan tepukan didong Jurnal Awilaras | 3 saat mengiringi lagu, namun dimainkan dengan dinamika yang berbeda. Saat mengiringi lagu, tepukan dimainkan dengan dinamika lembut, sedangkan pada tingkah onom dimainkan dengan dinamika keras. Bagian terakhir dari struktur permainan didong adalah penutup, yang merupakan bagian akhir dari lagu-lagu yang dilantunkan. Bagian ini berisikan pola tingkah onom yang dimainkan sebagai penanda berakhirnya permainan Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa permainan didong diakhiri dari tingkah onom pada bagian akhir lagu. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam bagian lagu, terdapat beberapa syair . yang dilantunkan. Dengan demikian, jika dalam satu pertunjukan didong terdapat empat lagu, maka tingkah onom akan hadir sebanyak empat kali, yaitu di setiap akhir lagu. Dari analisa ini dapat disimpulkan bahwa tingkah onom juga berfungsi sebagai perpindahan antar lagu selain sebagai penutup pertunjukan didong. Berdasarkan analisa yang dilakukan terhadap tepukan didong, khususnya tingkah onom, terdapat kesamaan pola antara tepukan saat mengiringi lagu dan tingkah onom. Setelah lagu selesai dinyayikan oleh seorang ceh, peningkah pumu akan memainkan Regum ialah bahasa gayo yang memiliki arti kode atau AupancinganAy sebagai penanda lagu telah selesai. Kode ini berupa permainan aksentuasi yang dimainkan secara keras pada akhir pola tepukan didong. Regum juga sebagai penanda untuk masuk menuju tingkah onom. Permainan tepukan didong yang dimaksud dapat dilihat pada notasi berikut. Jurnal Awilaras | 4 Notasi 1. Pukulan Tepuk Didong (Sumber: Transkrip notasi pribadi, 2. Regum menjadi keunikan dalam permainan tepukan didong. Hal ini dapat ditinjau bahwa permainan tepukan didong merupakan pola yang dimainkan secara berulang . , jika tidak terdapatnya pola regum maka permainan tepukan didong tersebut tidak akan pernah berakhir, dalam artian tingkah onom tidak akan Ketika regum dimainkan, seluruh dinamika berubah dari lembut menjadi keras secara bersamaan. Permainan dengan dinamika keras ini dimainkan sebanyak dua kali pengulangan . sekaligus mengakhiri permainan didong. Tidak hanya itu, keunikan lainnya di dalam regum adalah terdapatnya perubahan dinamika seperti dinamika forte, terdapatnya aksentuasi kuat yang muncul pada pola regum tersebut, dan terdapat permainan responsorial yang terbangun dengan sendirinya oleh pemain tanpa harus diberikannya suatu pemberitahuan. METODE Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan komposisi AuTene Simah KuetAy. Terdapat dua teknik pengumpulan data yang dilakukan, yaitu studi pustaka dan wawancara. Studi pustaka dilakukan dengan cara meninjau litaratur yang berisi informasi terkait didong. Beberapa literatur yang dimaksud berupa buku-buku baik dalam bentuk cetak maupun elektronik. Studi pustaka yang dilakukan menghasilkan informasi terkait definisi, sejarah, dan struktur didong secara umum. Pengumpulan data kedua adalah wawancara. Wawancara dilakukan kepada dua orang narasumber, yaitu Anshari Jamal dan Muhammad Saleh yang merupakan pelaku kesenian didong. Wawancara dilakukan dalam dua bentuk, yaitu wawancara Jurnal Awilaras | 5 secara langsung yang dilaksanakan di Bener Meriah dan dilanjutkan diskusi melalui sosial media WhatsApp. Wawancara menghasilkan informasi dan data terkait didong lebih rinci, khususnya terkait regum sebagai ide penciptaan karya ini. Dari wawancara dapat diketahui bahwa regum merupakan esensi yang terdapat pada tepukan didong, dimana jika tidak terdapat regum, maka tepukan didong tidak akan pernah berhenti. Data-data yang didapat dari pengumpulan data diolah dan dianalisis hingga menghasilkan ide penciptaan komposisi karawitan. Proses analisis data dilakukan dengan melakukan analisis musikal guna menemukan fenomena yang menarik dari Dari proses ini ditemukan bahwa regum terdiri dari permainan ritme dan aksentuasi yang memengaruhi perubahan dinamika secara drastis. Eksplorasi Tahapan ini adalah penelusuran terhadap eksplorasi warna bunyi pada instrumen dengan alat bantu berupa stik kayu, lidi dan body percussion untuk mendapatkan variasi warna bunyi yang akan diaktualisasikan menjadi materi garap Dalam hal ini dilakukan untuk mendapatkan materi tambahan yang akan digarap, untuk mewujudkan AuTene Simah KuetAy ini. Perwujudan Karya Seni Perwujudan adalah tahapan yang dilakukan oleh pengkarya dalam mewujudkan materi-materi garap yang telah didapatkan untuk diaktualisasikan menjadi karya seni. Pada tahapan ini ada beberapa tahapan dalam perwujudan Tahapan rekruitmen atau pembentukan musisi dalam tahapan rekruitmen tentunya hal yang penting dengan beberapa pertimbangan terhadap beberapa orang yang akan dijadikan sebagai musisi dalam karya. Dalam hal ini musisi merupakan pendukung kekuatan dalam mewujudkan karya nantinya dengan materi-materi garap yang diberikan oleh seorang komposer. Tahapan latihan teknis dalam proses latihan juga merupakan hal penting Jurnal Awilaras | 6 dalam perwujudan karya. Hal yang menentukan dalam perwujudan karya ditentukan dengan jumlah latihan, waktu, dan keseriusan didalam berproses akan menetukan karya nantinya. Pergelaran Karya Seni Pergelaran karya seni merupakan presentasi hasil riset dalam wujud karya Pergelaran dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu terdiri dari pra-produksi. Produksi, dan Pasca-Produksi agar pergelaran dapat terwujud dengan baik. Tahap pra-produksi ialah persiapan oleh tim produksi dalam segala aspek keperluan di dalam pertunjukkan dimulai dari peminjaman gedung, sound, publikasi dan promosi dalam bentuk video trailer dan fitting kostum musisi. Produksi dalam tahapan ini tim produksi berperan penting dalam megatur teknis di dalam acara pertunjukkan sebelum dimulai. Dalam hal ini tim memberikan arahan tentang peraturan di dalam sebuah pertunjukkan serta mengatur tempat posisi penonton dengan posisi dewan penguji dan dewan pembimbing dalam acara. Pasca-produksi dalam tahapan ini setelah pertunjukkan selesai seluruh tim produksi akan mempersiapkan tempat untuk komprehensif. Pada tahapan ini pengkarya akan disidang oleh dewan penguji dan didampingi oleh dewan Pada tahapan ini timproduksi akan berbagi tugas, sebagian tim mempersiapkan tempat sidang dan sebagian lagi melakukan pembersihan dan pembongkaran panggung dan pegumpulan barang-barang peminjaman untuk HASIL DAN PEMBAHASAN Regum memiliki peran yang sangat penting dalam permainan didong. Berdasarkan dari penjelasan tersebut, regum inilah yang akan menjadi ide dasar dalam penciptaan karya komposisi musik karawitan. Gagasan ini menarik untuk diungkapkan melalui pendekatan reinterpretasi. Perwujudan ide ini diaktualisasikan dalam karya komposisi musik karawitan yang berjudul AuTene Simah KuetAy. Judul ini Jurnal Awilaras | 7 berasal dari bahasa Gayo yang terbentuk dari tiga suku kata yaitu Tene. Simah dan Kuet. Tene diambil dari istilah regum yang memiliki arti tanda atau penanda, sedangkan kata simah memiliki arti membawa, dan kata kuet memiliki arti kuat atau Dengan demikian dapat ditafsirkan bahwa AuTene Simah KuetAy di dalam karya ini adalah tanda yang membawa kekuatan yang merujuk kepada ide penciptaan yaitu regum dan digarap ke dalam karya komposisi musik karawitan dengan menggunakan pendekatan reinterpretasi. Reinterpretasi adalah sebuah penggarapan karya yang bersumber pada suatu bagian kecil dari sebuah kesenian tradisi yang diolah ke dalam wajah yang berbeda dengan kesenian aslinya (Waridi, 2. Berdasarkan pernyataan Waridi tersebut. Regum ditafsirkan sebagai permainan ritme dalam bentuk aksentuasi berdinamika keras yang kemudian ditafsirkan kembali sebagai AupancinganAy yang berfungsi merubah permainan tempo dan/atau dinamika suatu pola ritme. Berdasarkan gagasan ini, maka pendekatan reinterpretasi sangat tepat digunakan dalam perwujudan karya AuTene Simah KuetAy. Gagasan di atas diaktualisasikan menggunakan beberapa teknik garap yang mampu mewujudkan ide ke dalam karya seni. Teknik garapan tersebut diantaranya unison, call and respons, hocketing, dan interlocking. Unison dalam karya akan hadir pada penggarapan regum. Untuk dapat melihat perbedaan antara materi dasar dengan regum, digunakan bentuk pola ritme yang berbeda, misalnya pola dasar dimainkan secara chaos sesuai dengan interpretasi musisi, sedangkan regum dimainkan secara unison dalam permainan ritme panjang atau pendek. Hal ini dilakukan dengan tujuan menghadirkan perbedaan yang lebih jelas antara regum dengan materi dasarnya. Karya ini akan diaktualisasikan menggunakan instrumen musik yang dapat membantu dalam mewujudkan gagasan menjadi karya seni. Adapun instrumen yang digunakan ialah tiga buah bantal panjang, vokal, dan body percussion. Melalui instrumen ini regum dapat diaktualisasikan ke dalam karya seni yang berbeda Jurnal Awilaras | 8 dengan bentuk asalnya. Gambar 1. Pertunjukan Karya (Sumber: Dokumentasi Suhadi, 2. Gambar 2. Pertunjukan Karya (Sumber Dokumentasi Suhadi, 2. Jurnal Awilaras | 9 Gambar 3. Pertunjukan Karya (Sumber: Dokumentasi Suhadi, 2. KESIMPULAN AuTene Simah KuetAy merupakan sebuah karya komposisi yang bersumber dari regum/kode sebagai penanda berakhirnya sebuah permainan dalam kesenian Didong. Dalam penggarapan ini pengkarya menghadirkan regum/kode dalam setiap perubahan dinamika, tempo, dan perpindahan materi vokal/ritme. Karya ini digarap dengan menggunakan pendekatan garap reinterpretasi yang bersumber pada bagian terkecil dari sebuah kesenian tradisi. Karya AuTene Simah KuetAy dimainkan dengan menggunakan alat berupa bantal panjang, lidi, dan stik kayu. Dalam karya ini digarap dalam bentuk satu kesatuan dan karya ini berbeda dengan bentuk asalnya baik secara alat yang digunakan dan teknik-teknik dalam bentuk permainanya. Jurnal Awilaras | 10 DAFTAR PUSTAKA